BAB III TINJAUAN KHUSUS

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III TINJAUAN KHUSUS

BAB I GALERI SENI RUPA DI YOGYAKARTA

PAMERAN (EKSPRESI DAN APRESIASI SENI KRIYA)

Fungsi Teknologi Estetika 6/1/2010

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

TEORI & STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 1

SOLO FINE ART SPACE BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PERSEPSI BENTUK. Fungsi Bentuk Modul 4. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. [1]

BAB VI KONSEP PERANCANGAN

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Latar Belakang Pengadaan Proyek Gambar 1.1. Diagram Kebutuhan Maslow

pentingnya sebuah gedung pameran seni rupa yang permanen dan dapat mewadahi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang GALERI SENI RUPA SINGARAJA

PUSAT SENI RUPA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN Kusrianto, Adi Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi Offset halaman

BAB II TINJAUAN OBJEK RANCANGAN. Judul Perancangan yang terpilih adalah Gorontalo Art Gallery Centre, dengan

Mereka pun sering mewakili Indonesia sebagai duta negara ke mancanegara untuk memamerkan karya dan keahlian seni pahat mereka. 1 Dalam membuat suatu M

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Judul

BAB IV ANALISIS. Diagram 6 : skema hubungan fasilitas

Format Proposal Pengadaan Pameran Seni Rupa PAMERAN SENI RUPA. Disusun oleh Nama :. NIS :. Kelas:. Kompetensi Keahlian :.

GALERI SENI UKIR BATU PUTIH. BAB I.

BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami

Galeri Seni Lukis Yogyakarta

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang.

PENYELENGGARAAN PAMERAN DI SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

I.1 LATAR BELAKANG I.1.1

04FDSK. Persepsi Bentuk. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN INTERIOR ART SHOP YANA ART GALLERY DI GIANYAR, BALI

BAB 3 SRIWIJAYA ARCHAEOLOGY MUSEUM

MUSEUM SENI RUPA DI YOGYAKARTA

menciptakan sesuatu yang bemilai tinggi (luar biasa)1. Di dalam seni ada

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Auditorium Universitas Diponegoro 2016

BAB I PENDAHULLUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Sragen Convention Centre. : Kabupaten yang berada di bagian Timur Provinsi Jawa Tengah. (id.wikipedia.org/wiki/kabupaten_sragen)

BAB I PENDAHULUAN. Kampus Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bina Nusantara. yang Berhubungan dengan Arsitektur.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PUSAT PAGELARAN SENI KONTEMPORER INDONESIA DI YOGYAKARTA

Gedung Pameran Seni Rupa di Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

PENDAHULUAN BAB I. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN Potensi Kota Yogyakarta Sebagai Kota Budaya Dan Seni

Penjelasan Skema : Konsep Citra yang diangkat merupakan representasi dari filosofi kehidupan suku Asmat yang berpusat pada 3 hal yaitu : Asmat sebagai

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KOMPLEK GALERI SENI LUKIS di DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB IV ANALISIS 4.1 Analisis Kegiatan Kegiatan Utama

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi bentuk kesenian keramik sampai saat ini. 1. Menurut The Concise Colombia Encyclopedia (1995) kata keramik berasal

BAB I PENDAHULUAN. Seni atau art berasal dari kata dalam bahasa latin yaitu ars, yang memiliki arti

BAB III TINJAUAN KHUSUS

BAB IV PERANCANGAN MUSEUM ETNOBOTANI INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

I. 1. Latar Belakang I Latar Belakang Pengadaan Proyek

GEDUNG PAMERAN SENI RUPA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

STRUKTUR KURIKULUM TAHUN 2012 SENI RUPA (KONS. DESAIN KOMUNIKASI VISUAL) S1

PUSAT KESENIAN JAWA TENGAH DI SEMARANG

1.2 Tinjauan D.I Jogjakarta. 1.4 Kontemporer pada penampilan bangunan dan interior

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SOAL UAS SENI BUDAYA KLS XI TH Kegiatan seseorang atau sekelompok dalam upaya mempertunjukan suatu hasil karya atau produknya kepada

BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK

Modul Pameran Seni Rupa Kelas XI (Sebelas)

GELAR SENI MAHASISWA GUNADARMA (GSMG) 2018 KETENTUAN TANGKAI LOMBA LUKIS, DESAIN, KOMIK STRIP, FOTOGRAFI, FILM PENDEK

MEDAN TRADITIONAL HANDICRAFT CENTER (ARSITEKTUR METAFORA)

BAB 3 METODE PERANCANGAN. Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan Convention and

Universitas Sumatera Utara

GALERI SENI RUPA KONTEMPORER DI YOGYAKARTA

PASAR SENI DI DJOGDJAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Tahun 2013

BAB 2 DATA AWAL PROYEK

BAB I PENDAHULUAN. Pusat Seni Rupa di Yogyakarta dengan Analogi Bentuk Page 1

DATTA SAGALA WIDYA PRASONGKO, 2016 PERSEPSI PENGGUNA TERHADAP SISTEM SIRKULASI GEDUNG FPTK UPI

PERANCANGAN INTERIOR PADA PUSAT KEBUDAYAAN BETAWI DIJAKARTA PROPOSAL PENGAJUAN PROYEK TUGAS AKHIR YULI HELVINA

3.6. Analisa Program Kegiatan Sifat Kegiatan Konsep Rancangan Konsep Perancangan Tapak Konsep Tata Ruang 75

PUSAT INFORMASI BATIK di BANDUNG BAB I PENDAHULUAN

BAB III ELABORASI TEMA

BAB I PENDAHULUAN. GambarI.1 Teknik pembuatan batik Sumber: <

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Nur Muladica Gedung Fotografi di kota Semarang

TUGAS AKHIR 131/ BAB I PENDAHULUAN

ISLAMIC CENTER DI TUBAN PENDEKATAN ARSITEKTUR SIMBOLISM YANG BERFILOSOFI ISLAM LAPORAN TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

SEKOLAH TINGGI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DI YOGYAKARTA Penekanan Desain Konsep Arsitektur Modern

BAB I PENDAHULUAN. yang perlu dipelajari, baik secara formal maupun nonformal/otodidak), benda angkasa. Penemuan lain, ilmu informasi dan komunikasi,

BAB III TINJAUAN TATA PAMER MUSEUM KONPERENSI ASIA AFRIKA BANDUNG. Museum Konperensi Asia Afrika merupakan sarana edukasi serta

BAB II DATA DAN ANALISA. Sumber data-data untuk menunjang studi Desain Komunikasi Visual diperoleh. 3. Pengamatan langsung / observasi

BAB 2 DATA DAN ANALISA

GALERI NASIONAL AANWIJZING SAYEMBARA DESAIN ARSITEKTUR. Penyelenggara : Badan Penghargaan dan Sayembara IAI Jakarta DESEMBER 2012.

BAB V LANDASAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

Redesain Taman Budaya Raden Saleh Semarang 1

Transkripsi:

BAB III TINJAUAN KHUSUS 3.1. Tema Tema yang diambil menyangkut hal yang berkaitan dengan bentuk mengikuti fungsi, tema ini menjadi dasar ekspresi bentuk yang informatif dan disesuaikan kepada fungsi karena tema ini sangat berkaitan erat dengan judul yang diangkat oleh penulis. seperti yang diuraikan pada tinjauan umum, yaitu : Form Follow Function. 3.1.1. Pengertian Form Form adalah Bentuk. Bentuk berarti wujud, rupa. 5 Bentuk dapat memiliki nilai seni bila bentuk itu menjadi hasil dari sebuah pemikiran yang unik. Menurut Ching (1979:50), Wujud/Ujud merupakan hasil dari konfigurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi-sisi bentuk. Menurut Abecrombie (1984:37), Obyek-obyek dalam persepsi kita memiliki wujud/ujud. 3.1.2. Pengertian Function Function adalah Fungsi. 6 Fungsi berarti kuanti yang berhubungan. Dalam pengertian lain adalah sesuatu yang berguna dalam hal. 3.2. Alasan Pemilihan Tema Pemilihan tema ini berdasarkan dari setiap fungsi ruang yang dibutuhkan, peralatan dan kebutuhan serta fungsinya sebagai sebuah Pusat Data & Informasi Bencana Alam pada akhirnya mempengaruhi 5 Ali, Muhammad. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen, Pustaka Amani, Jakarta 6 Idem., hal 98 III-1

bentuk bangunannya, karena setiap kegiatan dan fungsinya memiliki peran yang berbeda-beda, namun untuk mengetahui apa saja peran dan fungsinya masing-masing tentunya ditarik kesimpulan dengan cara pengamatan, wawancara, studi literatur, dan lain-lain. Fungsi yang dimaksud adalah: 1. Alat-alat penyedia informasi seperti komputer yang berfungsi untuk menyimpan seluruh data hasil pengamatan, perletakan komputer ini harus disesuaikan dengan fungsi dan posisi serta keamanan serta temperatur suhu yang harus selalu stabil, Karena, dampak yang terjadi adalah kekacauan seluruh sistem yang sedang berjalan. 2. Penataan sebuah ruang display pengamatan yang efektif, dan bagaimana penerapannya terhadap alat-alat sesuai fungsinya. 3. Sebuah tempat untuk perletakkan alat-alat seperti; penangkap signal, radio, dan perletakkan untuk setiap alat-alat intrumentasi informasi bencana alam. 4. Diperlukan sebuah ruangan dengan spesifikasi khusus untuk ruang audiovisual. 5. Ruang simulasi haruslah sesuai dengan kapasitas dan persyaratan untuk sebuah simulator. 6. Fungsi sebuah ruang sinema untuk pemutaran film dokumenter juga disesuaikan dengan bentuk yang nyaman, aman, dan baik secara akustik. Maka dalam penulisan skripsi ini tema Form Follows Function sebagai salah satu tema yang dianggap sesuai. Oleh sebab itu, studi dan analisa pembahasan mengenai bentuk dari fungsi lebih ditekankan sebagai aspek yang paling mempengaruhi ekspresi konsep dan desain perencanaan bangunan yang akan dibuat. III-2

3.3. Tinjauan Teoritis Form Follows Function Menurut para Modernis, fungsi dapat dikategorikan sebagai penentu bentuk atau panduan menuju bentuk. Menurut Yuswadi Saliya (1999), fungsi menunjukan kearah mana bentuk akan ditentukan. Bentuk dan ekspresi dapat menentukan bagaimana secara arsitektur dapat meninggikan nilai suatu karya, dan dapat memperoleh tanggapan atau mengungkapkan suatu makna. Bentuk-bentuk yang terjadi timbul dari sebuah nilai-nilai emosi hasil kerjasama antara benda dan ukurannya. Setiap perancangan dalam memenuhi sebuah kebutuhan harus dapat memiliki fungsi. Kebutuhan tersebut dapat berupa kenyamanan, pencahayaan, pengudaraan, kebutuhan akan kegiatan dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sifat kegiatan yang diinginkan. Fungsi timbul akibat dari adanya sebuah kebutuhan manusia dalam usaha mempertahankan dan untuk mengembangkan hidupnya. Fungsi akan menimbulkan sebuah bentuk dan fungsi merupakan suatu pertimbangan utama dalam sebuah perancangan bentuk. Suatu fungsi memiliki bermacam-macam bentuk hal ini tergantung pada bagaimanan keadaan dan lingkungan sekitarnya. Dari beberapa dasar inilah maka timbul suatu teori yang menyatakan bentuk mengikuti fungsi, ditafsirkan sebagai sebuah wadah bagi manusia dalam menjalankan segala macam kegiatan atas dasar kekuatan yang dimilikinya. 3.4. Fungsi Dalam Arsitektur Menurut Para Tokoh Arsitektur Fungsi menurut para tokoh arsitektur adalah fungsi yang dapat memiliki dampak positif terhadap bangunan yang akan dirancang. Jika fungsi dari alat-alat bermacam-macam kegunaan, maka fungsi yang dibahas oleh penulis berkaitan dengan arsitektur, jadi bagaimana agar memperoleh bentuk optimal sehingga dapat mengakomodasikan segala kegiatan maupun aktifitas manusianya yang disesuaikan pada alat-alat yang digunakan. III-3

Fungsi dalam arsitektur menurut Geoffrey Broadbent memiliki 6 kriteria, yaitu : - Environmental filter, bangunan bisa mengontrol iklim. - Container of activities, bangunan sebagai wadah kegiatankegiatan yang menempatkannya pada tempat yang khusus dan tertentu. - Capital investment, bangunan dapat memberikan nilai lebih pada tapak. - Behavior modifier, bangunan dapat mengubah kebiasaan dan perilaku. - Aesthetic function, bangunan akan menyenangkan bila bangunan tampak bagus/cantik, sesuai dengan imajinasi yang fashionable atau trend. 7 Jadi Broadbent memahami fungsi sebagai apa saja yang dipancarkan dan diinformasikan oleh arsitektur melalui panca indera kita. Menurut Larry L. Ligo, fungsi dapat dijalankan oleh arsitektur untuk menjawab fungsi sebagai konsep. Kelima fungsi menurut Larry L. Ligo yang diambil dari (Concept of Function of the Twentieth Century Architecture) adalah : - Structural articulation, menunjuk baik pada pengupasan, dalam desain, dan material struktur serta metode sebuah bangunan. - Physical function, meliputi kontrol dari faktor lingkungan (environmental factors) dan akomodasi bangunan terhadap aspek-aspek fisik dari tujuan yang diinginkan. - Psychological function, mengacu kepada feelings (perasaan/rasa) dimana bangunan itu berbaur dengan para pengamatnya. - Social function, mengacu pada konkritisasi dan institusi social dan karakteristik yang bernilai dari budaya atau masa tertentu. 7 Buku ajar teori arsitektur III-4

- Cultural/existensial function, (fungsi Budaya/Keberadaan) mengacu kepada konkritisasi dari nilai-nilai universal atau struktur subconcious dari spatial dan orientasi psikologis yang berhubungan lebih kepada esensi kemanusiaan daripada kepada hidup manusia dalam satu waktu dan tempat tertentu. 8 Jadi Larry L. Ligo memaparkan fungsi sebagai tugas/pekerjaan ataupun efek-efek yang dapat ditimbulkan oleh arsitektur. Jan Mukarowsky mengatakan bahwa, fungsi bangunan ditentukan oleh tujuan langsung dalam konteks penggunanya dan memiliki tujuan historis yaitu dimana fungsionalitas tidak hanya ditentukan oleh suatu anggapan praktis secara langsung tetapi juga oleh peraturan-peraturan yang tidak berubah (seperangkat normanorma). 9 Arsitektur tidak hanya memiliki dan memerankan satu macam fungsi, melainkan mampu melaksanakan sejumlah fungsi, menurut Josef Prijotomo dalam teorinya. Beberapa pendapat dari para tokoh arsitektur diatas tentang peran fungsi dalam arsitektur maka fungsi menjadikan bangunan arsitektur menjadi bermakna dan berwarna. Dengan keragaman makna inilah fungsi menjadikan hal yang sangat erat kaitannya dalam arsitektur khususnya dalam bentuk-bentuk arsitektur yang terjadi. 3.5. Latar Belakang Perencanaan 3.5.1. Kejelasan Sebuah Bentuk Dan Fungsi Dalam Mengarahkan Bangunan Bermacam-macam bentuk bangunan arsitektur adalah cerminan dari peradaban, suku, adat dan budaya yang berbedabeda, berbeda pula dengan budaya barat tetapi dengan segala perbedaan itu arsitektur justru mampu menunjukkan kekayaan khasanah arsitekturnya yang natural. Banyak arsitektur di Indonesia khususnya yang mencerminkan arsitektur vernakular 8 Idem, hal III-7 9 Idem, hal III-9 III-5

tetapi juga banyak arsitektur di Indonesia yang latah kebaratbaratan, tentunya ini mengarah kepada kebudayaan. Menggunakan bentuk yang menyesuaikan fungsi dan kebutuhan dalam desain Pusat Data & Informasi Bencana Alam ini tentunya tak lepas dari jiwa sensitifitas kebutuhan akan media yang digunakan. Oleh karena itu, fungsi disini tidak hanya sebagai tempat / wadah. Fungsi yang dimaksud berarti mengarahkan sebuah bangunan kepada maksud tertentu, fungsi yang dimaksud adalah Countainer of Aktivities artinya bangunan sebagai wadah kegiatan yang dapat menempatkannya pada tempat yang khusus dan tertentu, Capital infestment yaitu bangunan dapat memberikan nilai lebih pada tapak, Aesthetic Function yaitu bangunan akan menyenangkan bila bangunan tampak bagus / cantik, sesuai dengan imajinasi yang fashionable. 3.5.2. Bentuk Dan Fungsi Dalam Arsitektur Dari beberapa teori yang telah dijelaskan sebelumnya, bentuk dan fungsi dalam arsitektur merupakan perwujudan fisik sebagai suatu wadah bagi aktifitas / kegiatan yang menempatkannya pada tempat yang khusus dan tertentu yaitu Container of activities. Oleh karena itu, hasil proses dari keduanya akan dapat menghasilkan sebuah penyajian seperti sarana untuk memecahkan suatu masalah dalam lingkungannya sebagai respon atas segala kondisi ruang lingkupnya secara arsitektural. Menurut Vitruvius, bila mau dikaitkan dengan fungsi tentunya merupakan gabungan antara technic dengan beauty/delight (Saliya,1999). Bentuk dalam arsitektur meliputi permukaan luar dan ruang dalam. Pada saat yang sama, bentuk maupun ruang mengakomodasi fungsi-fungsi baik berupa fisik maupun nonfisik. Fungsi dikomunikasikan kepada pengamat melalui bentuk. Kaitan antara fungsi dan bentuk menghasilkan ekspresi III-6

bentuk 10. bentuk adalah perwujudan dari organisasi ruang yang merupakan hasil dari proses pemikiran, didasarkan atas pertimbangan fungsi dan usaha pernyataan diri, menurut Hugo Haring. 3.5.3. Konsep Form Follow Function Tema yang diambil adalah Form Follow Function, ini berarti bentuk dibuat berasal dari sebuah fungsi yang melatarbelakangi proses berfikir menuju ke arsitekturalnya. Dalam arsitektur, kita banyak mengenal tentang teori-teori berfikir bagaimana konsep dasar arsitektur dibuat begitu pun tema Form Follow Function, tema ini dirasakan memiliki hubungan yang kuat dengan arsitektur. Berbagai kemajuan teknologi, penemuan-penemuan baru tentang bahan-bahan bangunan, bermacam perkembangan kebudayaan, menjadi awal pengaruh yang besar pada hasil sebuah karya terbaik menciptakan kreasi yang lebih baru. Ciri-ciri yang dimiliki arsitektur moderen pada konsep form follow function adalah : a. Pemakaian bahan-bahan yang terbuat dari pabrik diperlihatkan secara jujur. b. Pada interior dan eksterior bentuk terjadi secara vertikal dan horizontal. c. Bersifat fungsional, bangunan dapat menjadi baik dan mencapai tujuan apabila bentuk yang terjadi sesuai dengan fungsinya. d. Perencanaan dan perancangannya menggunakan skala manusia. e. Dapat menyesuaikan terhadap lingkungan di sekitarnya. f. Memperlihatkan konstruksinya. g. Bentuk simpel, sederhana, dan bersih dari ornamen berasal dari bentuk-bentuk. 10 Buku Ajar Teori Arsitektur III-7

Sudah menjadi hukum dan aturan bahwa semua hal, organik dan non organik Semua hal yang bersifat fisik dan nonfisik Semua hal yang biasa dan luar biasa Dari semua perwujudan yang ada Dari hati, dan jiwa Bahwa kehidupan dapat dikenali melalui ekspresi Bahwa bentuk selalu mengikuti fungsi. Begitulah hukumnya 11 Pada beberapa konsep arsitektur di dunia ini memang ada yang mengagungkan sebuah ornamen dalam perencanaan dan perancangan dalam sebuah design arsitektur, tapi masih dapat ditoleransi bahwa ornamen pada bangunan dapat memiliki kegunaan seperti penunjuk arah, identitas bangunan, atau sebagai penarik sesuatu, maka ornamen dapat dianggap sebagai hal yang fungsional. 3.6. Studi Banding 3.6.1. Galeri Nasional Indonesia PENGERTIAN DAN JENIS PAMERAN Pengertian Pameran Pengertian pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Jenis-jenis Pameran Jenis pameran yang dimaksud adalah: Pameran Tetap (Permanent Exhibition) Pameran Temporer (Temporary Exhibition) Pameran Keliling (Traveling Exhibition) 11 http://en.wikipedia.org/wiki/horatio_greenough III-8

Ruang pameran Penjelasan Jenis-Jenis Pameran Pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia umumnya menampilkan karya seni rupa modern dan kontemporer (lukisan, patung, grafis, kriya, desain, photografi, arsitektur, dll) dari Indonesia dan mancanegara. Pelaksanaan pameran meliputi: PAMERAN TETAP Pameran yang menyajikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia secara periodik yang ditata berdasarkan konsep kuratorial dan diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia. Waktu penyelenggraan Pameran Tetap berlangsung minimal 1 kali dalam satu tahun Ruang pameran tetap III-9

PAMERAN TEMPORER Pameran tunggal atau pameran bersama yang menyajikan karya-karya seni rupa dalam jangka waktu tertentu yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia atau kerjasama dengan pihak lain. Waktu penyelenggaraan Pameran Temporer berlangsung minimal selama 10 hari, maksimal berlangsung selama 30 hari. Ruang pameran PAMERAN KELILING Pameran yang menyajikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia maupun karya di luar koleksi Galeri Nasional Indonesia ke berbagai daerah di Indonesia dan atau di luar negeri yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia atau kerjasama dengan pihak lain. Waktu penyelenggaraan Pameran Keliling minimal berlangsung selama 10 hari. III-10

Pola Pameran Temporer meliputi : PAMERAN TUNGGAL / PAMERAN BERSAMA Materi yang dipamerkan pada pameran bersama merupakan karya-karya lebih dari satu seniman. Biaya pameran ditanggung oleh seniman yang bersangkutan. Peminjaman gedung dilakukan dengan cara mengajukan permohonan disertai porposal kepada Galeri Nasional Indonesia, selanjutnya permohonan tersebut akan dipertimbangkan oleh Tim Kurator. Fasilitas pokok yang disediakan gedung pameran berupa panel, lampu, bantuan teknis tata pameran dan fasilitas keamanan. Penyelenggaraan pameran dapat dilangsungkan antara 1 minggu sampai 3 minggu. Selama satu tahun pameran yang diselenggarakan di gedung ini dapat mencapai 15 pameran. PAMERAN KERJA SAMA Pola pameran ini dilaksanakan berdasarkan kerjasama antara Galeri Nasional Indonesia, dengan pihak lain. Pihak lain tersebut dapat merupakan III-11

lembaga/organisasi kebudayaan/kesenian, museum, galeri, dan Pusat-Pusat Kebudayaan negara sahabat. Biaya penyelenggaraan ditanggung bersama. Pameran Kerja sama ini dapat dilaksanakan selama 10 kali dalam 1 tahun, tiap-tiap pameran dapat dilaksanakan antara 2 minggu sampai 1 bulan. PAMERAN KHUSUS Pameran khusus adalah pameran yang biaya penyelenggaraannya sepenuhnya ditanggung oleh Galeri Nasional Indonesia. Materi yang dipamerkan dapat merupakan koleksi Galeri Nasional Indonesia atau milik seniman atau kolektor lainnya. Penyelenggaraan pameran khusus mencapai 2 atau 3 kali dalam setahun. NAMA GEDUNG PAMERAN DAN FUNGSI Nama Gedung Pameran Galeri Nasional Indonesia memiliki empat (4) gedung pameran, yakni: Gedung A Gedung B Gedung C Gedung D Ruang pameran Fungsi Gedung Pameran Fungsi gedung pameran seperti dimaksud, adalah sebagai berikut: Gedung A berfungsi sebagai ruang pameran temporer yang menyajikan karyakarya seni rupa Indonesia atau,mancanegara melalui proses seleksi atas dasar pertimbangan reputasi, kualitas konseptual dan visual. III-12

Gedung B lantai 1, gedung C dan gedung D berfungsi sebagai ruang pameran temporer yang menyajikan karya-karya seni rupa Indonesia atau mancanegara melalui proses seleksi atas dasar pertimbangan kualitas konseptual dan visual. Gedung B lantai 2, berfungsi sebagai ruang pameran tetap yang menyajikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia. KOLEKSI TETAP Galeri Nasional Indonesia selain mengkoleksi karya senirupa yang merukapan ekspresi budaya modern, seperti lukisan, sketsa, grafis, patung, dan fotografi, juga mengkoleksi karya seni kriya (kerajinan) dan seni etnik yang memiliki estetika tertentu, seperti keramik, batik dan wayang. Saat ini Galeri Nasional Indonesia memiliki sekitar 1700 koleksi karya seniman Indonesia dan manca Negara, antara lain: Raden Saleh, Hendra Gunawan, Affandi, S. Sudjojono, Basuki Abdullah, Barli Sasmitawinata, Trubus, Popo Iskandar, Sudjana Kerton, Dede Eri Supria, Iva Sagito, Lucia Martini, Iriantine Karnaya, Hendrawan Riyanto, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Ida Bagus Made, I Ketut Soki, Wassily Kandinsky (Rusia), Hans Hartung (Jerman), Victor Vassarely (Hongaria), Sonia Delauney (Ukraina), Piere Soulages (Perancis), Zao Wou Ki (China). Selain itu terdapat karya-karya dari Negara-negara Gerakan Non-Blok, seperti dari Sudan, India, Peru, Cuba, Vietnam, Myanmar, dan lain-lain. KETENTUAN PELAKSANAAN PAMERAN Penyelenggara Penyelenggara pameran adalah tim kerja pengelola yang dibentuk oleh pihak Galeri Nasional Indonesia, pihak lain atau merupakan hasil gabungan III-13

kerjasama antara kedua belah pihak, namun dalam pelaksanaannya pihak Galeri Nasional Indonesia tetap menjadi bagian dari penyelenggaraan. Proposal dan Evaluasi Setiap bentuk penyelenggaraan pameran harus didahului dengan penyusunan proposal oleh pihak penyelenggara yang berisi mengenai konsep pameran, biodata seniman, dan repro karya yang akan dipamerkan, selambat-lambatnya enam (6) bulan sebelum pelaksanaan pameran. Pelaksana pameran temporer (event organizer) wajib menyerahkan deskripsi atau uraian materi pameran sebelum waktu pelaksanaan untuk kepentingan publikasi agenda pameran (calendar of event), baik cetak maupun eletronik. Kurator atau pelaksana pameran diharuskan menyiapkan materi informasi dan publikasi seperti: catalog, spanduk, baligo, poster, label karya dan label pengantar kuratorial, untuk menunjang pemahaman apresian (publik). Pelaksana pameran (event organizer) diharuskan melakukan koordinasi dengan pihak galeri, khususnya hal-hal yang bersifat teknis antara lain: a. Penyimpanan karya b. Desain/layout pameran c. Penataan ruangan dan pemasangan karya (display) d. Sarana dan perlengkapan yang akan dipergunakan e. Pemasangan sarana publikasi di area Galeri Nasional Indonesia f. Acara kegiatan lain sebagai penunjang pameran 3.6.2. Pusat Peragaan Iptek TMII Ilmu pengetahuan merupakan fondasi bagi teknologi, sedangkan teknologi adalah tulang punggung pembangunan. Ilmu pengetahuan dan teknologi III-14

atau IPTEK merupakan segi yang tidak dapat dikesampingkan dari kehidupan dan kesejahteraan manusia. Gedung ini diresmikan pada tanggal 10 November 1995 diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia. 3.6.3. PERASTEN ( Pertemuan, Peragaan Sains dan Teknologi ) Foto Gedung PERASTEN Peta Lokasi PERASTEN III-15

Adalah gedung yang gunakan oleh masyarakat untuk melihat, mengetahui, dan merasakan manfaat hasil penelitian pengembangan BATAN. Disajikan secara visual dalam bentuk foto, diagram, alat peraga, dan lain-lain. Gedung yang diresmikan tahun 1991 oleh Direktur Jenderal BATAN ini dapat dikunjungi oleh masyarakat umum, kalangan pelajar, kalangan profesi, dan organisasi masyarakat Fasilitas Gedung Gedung menjulang menempati 4 lantai dengan ruang-ruang, yaitu: Ruang Audio Visual: digunakan untuk pemutaran film, video, dan slide Ruang Positron: digunakan untuk memperagakan berbagai hasil penelitian BATAN Ruang Elektron: digunakan untuk berbagai pertemuan dan rapat dengan kapasitas ± 60 orang Ruang Proton: digunakan untuk perkantoran Pusat Pemasyarakatan Iptek Nuklir dan Kerjasama (PPINK) Ruang Konferensi Utama: digunakan untuk pertemuan dengan kapasitas lebih besar. Di ruang ini tersedia ± 170 tempat duduk, sesuai untuk keperluan seminar, lokakarya baik bertaraf nasional maupun III-16

internasional. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti slide proyektor kompatibel, mikropon meja, peralatan alih bahasa, dan peralatan multimedia. Ruang Kantin: digunakan untuk keperluan makan bersama ungan Ada 4 tahapan/sesi yang akan diikuti oleh para pengunjung, yaitu: 1. Introduksi/Pengenalan Pengunjung akan diberikan penjelasan tentang sejarah dan perkembangan struktur organisasi BATAN termasuk kegiatan yang dilakukan baik yang bersifat jangka pendek dan angka panjang. Agar pengunjung mudah memahami materi pameran, pada sesi ini akan dijelaskan istilah teknis yang sering digunakan pada penjelasan berikutnya di ruang pameran. 2. Pemutaran Film Pengunjung akan menyaksikan satu judul film/video/slide yang berisi tentang kegiatan pemanfaatan fasilitas BATAN. Masa putar film 20-25 menit. 3. Kunjungan ke Ruang Peragaan Pengunjung diperkenankan untuk melihat stan-stan di ruang peragaan, didampingi para pemandu yang ahli di bidangnya. Diharapkan pengunjung dapat melakukan tanya jawab secara aktif bila ada hal yang tidak diketahuinya. 4. Diskusi Setelah melihat stan-stan pengunjung diberi kesempatan untuk bertanya halhal yang belum sempat ditanyakan pada sesi sebelumnya. Diskusi diharapkan dapat menambah cakarawala pengetahuan tantang iptek nuklir. III-17