ASPEK IMPLEMENTASI WIRELESS SENSOR NETWORK PADA TAMAN NASIONAL TESSO NILO

dokumen-dokumen yang mirip
Evaluasi Pervormance Dari AODV Routing Protokol Pada Jaringan Ad Hoc Dengan Testbed

DESAIN DAN ANALISA MANAJEMEN KONSUMSI DAYA PADA WSN UNTUK SISTEM MONITORING KESEHATAN STRUKTUR (SMKS) JEMBATAN

Analisis dan Simulasi Clustering Node Menggunakan Algoritma LEACH Node Clustering Analysis and Simulation Using LEACH Algorithm

IMPLEMENTASI KOLABORASI NODE PADA SISTEM KOMUNIKASI AD HOC MULTIHOP BERBASIS JARINGAN SENSOR NIRKABEL

Dosen Pengampu : Dr. Deris Stiawan, S.Kom., M.T

Implementasi Kolaborasi Node Pada Sistem Komunikasi Ad Hoc Multihop Berbasis Jaringan Sensor Nirkabel

Protokol Routing Power Efficient Gathering in Sensor Information Systems pada Wireless Sensor Network

ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMANSI PROTOKOL ROUTING AODV DAN DSDV PADA WIRELESS SENSOR NETWORK

ANALISIS PROTOCOL LOW ENERGY ADAPTIVE CLUSTERING HIERARCHY PADA WIRELESS SENSOR NETWORK

Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor

1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 3 ANALISIS. Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi sistem pelacakan (tracking) dengan

DESAIN TOPOLOGI KOMUNIKASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) PADA APLIKASI SISTEM STRUCTURAL HEALTH MONITORING (SHM) JEMBATAN ABSTRAK

Analisa Simulasi Routing Protokol pada WSN dengan Metode Geographic Based Approach

PENGARUH DENSITAS WIRELESS MOBILE NODE DAN JUMLAH WIRELESS MOBILE NODE SUMBER TERHADAP PATH DISCOVERY TIME PADA PROTOKOL ROUTING AODV

KINERJA LEACH PROTOCOL PADA WSN YANG BEKERJA DI LINGKUNGAN DENGAN TEMPERATUR YANG TINGGI

Analisa Efisiensi Energi Algoritma Routing Low-Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) Pada Wireless Sensor Network (WSN) Menggunakan MATLAB

1 BAB I PENDAHULUAN ULUAN

BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang dikerahkan di daerah pemantauan dengan jumlah besar node sensor mikro.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor

RANCANG BANGUN SISTEM MANAJEMEN POWER SUPPLY PORTABLE PADA NODE EARLY WARNING SYSTEM MITIGASI BENCANA KEBAKARAN LAHAN GAMBUT

1 BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1-1. Hybrid Ad Hoc Wireless Topology

SIMULASI ROUTING PROTOKOL PADA JARINGAN SENSOR NIRKABEL DENGAN MENGGUNAKAN METODE CLUSTER BASED

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGUKURAN JANGKAUAN JARINGAN SENSOR NIRKABEL MULTIHOP PADA PEMANTAUAN SUHU DAN KELEMBABAN

BAB I PENDAHULUAN. nirkabel dan merupakan turunan dari MANET (Mobile Ad hoc Network). Tujuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISA KINERJA AD-HOC ON DEMAND DISTANCE VECTOR (AODV) PADA KOMUNIKASI VMES

Analisa Kinerja Routing Protokol pada Jaringan Sensor Nirkabel dengan Metode Gradient Based Approach

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

WIRELESS SENSOR NETWORKS SERVER FOR SMART CITY APPLICATIONS

PENGUKURAN KINERJA PROTOKOL ROUTING HIERARCHICAL LOW ENERGY ADAPTIVE CLUSTERING HIERARCHY PADA WIRELESS SENSOR NETWORK

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. aplikasi-aplikasi jaringan memerlukan sejumlah node-node sensor terutama untuk

Pengantar Wireless Sensor Network

Gambar 1. Hop multi komunikasi antara sumber dan tujuan

ANALISIS KINERJA PROTOKOL ROUTING AODV DAN OLSR PADA JARINGAN MOBILE AD-HOC

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK. Kata kunci: DSR, Manet, OLSR, OPNET, Routing. v Universitas Kristen Maranatha

SISTEM CLUSTERING UNTUK EFISIENSI ENERGI PADA JARINGAN SENSOR NIRKABEL

ISSN : e-proceeding of Engineering : Vol.2, No.1 April 2015 Page 169

Analisa Kinerja Ad-Hoc On Demand Distance Vector (AODV) Pada Komunikasi VMeS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Studi Kinerja Multipath AODV dengan Menggunakan Network simulator 2 (NS-2)

ANALISIS KINERJA POLA-POLA TRAFIK PADA BEBERAPA PROTOKOL ROUTING DALAM JARINGAN MANET

ANALISA PERFORMANSI DYNAMIC SOURCE ROUTING (DSR) PADA WIRELESS AD HOC NETWORK

PENGARUH JARAK DAN OBSTACLE PADA RSSI JARINGAN ZIGBEE ( ) Reza Febrialdy Yuwono 1, Novian Anggis S. 2

ANALISIS PERFORMANSI ROUTING HYBRID WIRELESS MESH PROTOCOL (HWMP) PADA WIRELESS MESH NETWORK (WMN) BERDASARKAN STANDAR IEEE 802.

Analisis Ketahanan Energi Oleh Low Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) Pada Cluster Head Wireless Sensor Network (WSN) Artikel Ilmiah

ANALISA ALGORITMA LEACH (Low-Energy Adaptive Clustering Hierarchy) PADA JARINGAN SENSOR NIRKABEL

BAB I PENDAHULUAN. penyakit saluran pernapasan atau pneumokoniosis yang merupakan penyakit

BAB II LANDASAN TEORI

Adaptasi Dinamis Protokol Routing AODV Menggunakan Distributed Routing pada Mobile Ad Hoc Networks untuk Sistem Komunikasi Kapal Perang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pencemaran udara dapat mempengaruhi kesejahteraan manusia, baik secara

Analisis Pengalokasian Ukuran Guaranteed Time Slot Pada Wireless Body Area Network Berbasis IEEE

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Rancangan Mobile Ad-Hoc Networks untuk Solusi Jaringan Komunikasi Antar Armada Bergerak menggunakan Simulasi NS

BAB I PENDAHULUAN. Kebakaran hutan menjadi masalah serius yang dihadapi dewasa ini (Yanuar H,

Perbandingan Topologi WSN (Wireless Sensor Network) Untuk Sistem Pemantauan Jembatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ROUTING. Budhi Irawan, S.Si, M.T

SISTEM PEMANTAUAN LINGKUNGAN BERBASIS WSN DENGAN LAJU SAMPLING YANG ADAPTIF

Desain Wireless Sensor Network dan Webserver untuk Pemetaan Titik Api pada Kasus Kebakaran Hutan

IMPLEMENTASI MODEL ROUTING AD HOC DENGAN ALGHORITMA PROTOKOL AODV (AD HOC ON DEMAND DISTANCE VEKTOR ) MENGGUNAKAN PROGRAM NETWORK SIMULATOR (NS2)

Kata kunci : WSN, OLSR, DSR, delay, throughput, packet loss, energy consumption, Zigbee, IEEE

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISA KINERJA MODE GATEWAY PROTOKOL ROUTING AODV-UU PADA JARINGAN AD HOC HIBRIDA FUAD ZULFIAN

Implementasi Protokol Optimized Link State Routing (OLSR) pada Sistem Wireless Sensor Network (WSN) untuk Pengukuran Temperatur Udara

Analisa Algoritma LEACH Pada Jaringan Sensor Nirkabel

Rancangan Mobile Ad-Hoc Networks untuk Solusi Jaringan Komunikasi Antar Armada Bergerak menggunakan Simulasi NS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Analisis Perbandingan Performasi Protokol Routing AODV Dan DSR Pada Mobile Ad-Hoc Network (MANET)

Analisis Kinerja Jaringan VANET dengan Model Propagasi Free Space dan Two Ray Ground Pada Routing AODV TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS KINERJA PROTOKOL REAKTIF PADA JARINGAN MANET DALAM SIMULASI JARINGAN MENGGUNAKAN NETWORK SIMULATOR DAN TRACEGRAPH

ANALISIS DAN SIMULASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) UNTUK KOMUNIKASI DATA MENGGUNAKAN PROTOKOL ZIGBEE

Kampus ITS, Surabaya

Analisis Kinerja Reactive Routing Protocol dalam Mobile Ad-Hoc Network (MANET) Menggunakan NS-2 (Network Simulator)

TUGAS AKHIR. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Informatika. Oleh

ANALISA KINERJA MANET (Mobile Ad Hoc Network) PADA LAYANAN VIDEO CONFERENCE DENGAN RESOLUSI YANG BERBEDA

KOMUNIKASI DATA ST014 Komunikasi data nirkabel dan topologi jaringan

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS KINERJA PROTOKOL DESTINATION-SEQUENCED DISTANCE-VECTOR (DSDV) PADA JARINGAN WIRELESS AD HOC

PEMBANGUNAN JARINGAN SENSOR NIRKABEL BERPROTOKOL ZIGBEE UNTUK MONITORING SUHU PADA RUANGAN SERVER

Transkripsi:

ASPEK IMPLEMENTASI WIRELESS SENSOR NETWORK PADA TAMAN NASIONAL TESSO NILO Indah Kurniati*, Indra Yasri** *Alumni Teknik Elektro Universitas Riau **Jurusan Teknik Elektro Universitas Riau Kampus Binawidya Km 12,5 Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 Jurusan Teknik Elektro Universitas Riau Email: indah.kurniati@student.unri.ac.id ABSTRACT Forest fires in Indonesia every year always happen that a national disaster. To overcome this problem have wireless sensor network as a solution. But the sensor node has limited ability in terms of memory capacity, bandwidth and energy. Among the issues, energy consumption is a concern of many researchers because the sensor nodes using the battery as energy. Therefore, in this paper will be the implementation strategy of wireless sensor networks in Tesso Nilo National Park to prevent fires. The results obtained by the network topology and routing protocols are appropriate for the location of Tesso Nilo National Park is a mesh topology and routing protocols directed diffusion. Keywords : Wireless Sensor Networks, Mesh, Directed Diffusion I. Pendahuluan Musim kemarau panjang yang melanda Indonesia setiap tahun menjadi bencana nasional yang harus dicegah. Menurut pantauan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Riau penyumbang titik api terbanyak di Provinsi Riau yaitu berada di Kabupaten Pelalawan tepatnya di Taman Nasional Tesso Nilo. Begitu pula dengan pantauan Balai Taman Nasional Tesso Nilo yang khusus memantau Taman Nasional tersebut membenarkan bahwa setiap tahunnya mengalami kebakaran lahan dan hutan. Pada saat ini Taman Nasional tersebut hanya memiliki tutupan hutan 24.581 Ha dari yang sebelumnya 72.720 Ha dari keseluruhan luas 83.068 Ha sejak perluasan tahun 2009. Taman Nasional Tesso Nilo ini terletak pada dua kabupaten di Provinsi Riau, yaitu Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu. Namun sebagian besar berada di Kabupaten Pelalawan yaitu seluas 36.870 Ha dan seluas 1.706 Ha di Kabupaten Indragiri Hulu. Secara geografis terletak pada LU LS dan BT - BT. (Arifin A.R. Manurung et al., 2015) Untuk mengatasi hal tersebut para peneliti memilih wireless sensor network (WSN) sebagai solusinya. WSN adalah suatu jaringan nirkabel yang terdiri dari sekumpulan node sensor yang saling bekerja sama satu sama lain, dimana setiap sensor node memiliki kemampuan untuk mengirim, menerima dan mendeteksi suatu area. Sensor node memiliki kemampuan terbatas dalam hal kapasitas memori, bandwidth dan energi (Arrossy et al., 2011). Penggunaan energi terbesar pada jaringan sensor adalah pada saat pengiriman data. Dengan mengurangi proses pengiriman data yang tidak penting, konsumsi energi dapat dikurangi. (Arrozaqi et al., 2011) Beberapa pendekatan telah dilakukan untuk memperpanjang lifetime wireless Jom FTEKNIK Volume 3 No. 2 Oktober 2016 1

sensor network, mulai dari teknik pengolahan data, hasil pembacaan sensor menggunakan mining data stream, melakukan pengelompokan data pada sensor node berdasarkan kedekatan data, dan algoritma pendistribusian data dari sensor node ke base station menggunakan algoritma protokol routing (Syarif dkk, 2011). Oleh karena itu, pada jurnal ini akan menjelaskan pengimplementasian wireless sensor network pada Taman Nasional Tesso Nilo. II. Komponen Pada WSN 2.1 Hardware A. Baterai Pada penelitian ini diasumsikan bahwa power source yang digunakan adalah baterai Lithium Polymer dengan kapasitas 1500 mah dan tegangan 7,4 volt. Baterai Lithium Polymer (LiPo) adalah jenis baru dari baterai yang sekarang banyak digunakan pada perangkat elektronik. (Brian Schneider, n.d.) Baterai LiPo memiliki tiga keunggulan dari kandungan yang dimilikinya yaitu Nickel-Metal Hydride (NiMH) atau Nickel Cadmium (NiCd) : 1. Baterai LiPo memiliki berat yang lebih ringan. 2. Baterai LiPo memiliki kapasitas yang lebih tinggi. 3. Baterai LiPo memiliki tingkat discharge yang tinggi. Gambar 2.1 Baterai LiPo (www.google.com) B. Sensor Sensor suhu adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan. Pada penelitian ini diasumsikan menggunakan IC LM 35 sebagai sensor suhu yang teliti dan terkemas dalam bentuk Integrated Circuit (IC), dimana output tegangan keluaran sangat linear berpadanan dengan perubahan suhu. Sensor ini berfungsi sebagai pengubah dari besaran fisis suhu ke besaran tegangan yang memiliki koefisien sebesar 10 mv / C yang berarti bahwa kenaikan suhu 1 C maka akan terjadi kenaikan tegangan sebesar 10 mv. Jangka sensor mulai dari 55 C sampai dengan 150 C. Meskipun tegangan sensor ini dapat mencapai 30 volt akan tetapi yang diberikan kesensor adalah sebesar 5 volt, sehingga dapat digunakan dengan catu daya tunggal dengan ketentuan bahwa LM35 hanya membutuhkan arus sebesar 60 µa. Hal ini berarti LM35 mempunyai kemampuan menghasilkan panas (self-heating) dari sensor yang dapat menyebabkan kesalahan pembacaan yang rendah yaitu kurang dari 0,5 ºC pada suhu 25 ºC. Gambar 2.4 Sensor Suhu LM35 (National Semiconductor, 2000) Tegangan keluaran atau Vout dengan jangkauan kerja dari 0 Volt sampai dengan 1,5 Volt dengan tegangan operasi sensor LM35 yang dapat digunakan antar 4 Volt sampai 30 Volt. 2.2 Topologi Jaringan Topologi jaringan adalah suatu pola yang menempatkan node- node sensor pada Jom FTEKNIK Volume 3 No. 2 Oktober 2016 2

jaringan sehingga node- node tersebut saling berkomunikasi. Ada beberapa macam topologi wireless sensor network yaitu topologi star, topologi tree dan topologi mesh atau peer to peer. Topologi star merupakan topologi yang paling dasar dan sederhana. Pada topologi ini semua sensor berkomunikasi langsung dengan sink node. Topologi tree merupakan topologi yang lebih kompleks dibandingkan dengan topologi star. Karena pada topologi ini setiap node masih mempertahankan satu jalur komunikasi ke sink, perbedaannya topologi ini menggunakan node-node lain dalam mengirimkan data, namun masih dalam satu jalur tersebut. Topologi mesh merupakan topologi yang mana masingmasing node dapat berkomunikasi dengan node yang lainnya. Pada sebuah jaringan mesh, node mempertahankan jalur komunikasi untuk kembali ke sink, sehingga apabila salah satu jalur tersebut down, secara otomatis data akan melalui jalur yang berbeda. (Amalina et al., 2013) 2.3 Protokol Routing A. Directed Diffusion Protokol routing directed diffusion adalah protokol routing yang berbasis data sentrik. Directed diffusion memilih jalur yang baik secara empiris dan menggunakan teknik caching dan pengolahan data pada jaringan untuk meminimalkan penggunaan energi. Ada beberapa elemen pada directed diffusion yaitu penamaan, interest propagasi, pengaturan gradient awal, dan penguatan jalur pengiriman data. (Pantazis et al., 2013) Keuntungan Directed Diffusion Directed diffusion memiliki banyak keuntungan karena berbasis data sentrik, semua komunikasi adalah neighbor to neighbor tanpa melakukan mekanisme pengalamatan node. Setiap node dapat melakukan agregasi dan caching selain sensing. Caching memiliki keuntungan yang besar dalam efisiensi energi dan delay. (Pantazis et al., 2013) B. LEACH LEACH merupakan protokol routing yang berbasis cluster atau kelompok. Hal ini yang menjadikan konsumsi energi yang efisien, kesederhanaan dan mempunyai beban yang seimbang. Jumlah cluster head dan anggota cluster yang dihasilkan menjadi parameter penting untuk mencapai kinerja yang lebih baik. LEACH merupakan clustering adaptif protokol yang menggunakan pengacakan untuk mendistribusikan beban energi secara merata antara sensor dalam jaringan. (Arrozaqi et al., 2011) Keuntungan Protokol LEACH Protokol LEACH memiliki fungsi yang relatif baik dalam konsumsi energi melalui clustering yang dinamis, menjaga transmisi data dalam cluster yang mengurangi konsumsi energi dengan berkomunikasi secara langsung antara cluster head dan base station. C. AODV (Ad hoc On-demand Distance Vector) Pada awalnya AODV merupakan metode routing yang ditujukan untuk jaringan Ad Hoc yang bersifat mobile. Namun, sudah diadaptasi untuk digunakan dalam jaringan Zigbee oleh C. E. Perkins, E.M. Belding-Royer dan S. Das pada RFC 3561. AODV adalah distance vector routing yang termasuk dalam klasifikasi reactive routing protocol, yang hanya me-request sebuah rute saat dibutuhkan. (Riri Fitri Sari et al., 2008) Keuntungan Protokol AODV Adapun keuntungan dari protokol AODV adalah bebas terjadi loop dalam pencarian rutenya karena menggunakan sequence number. Selain itu routing Jom FTEKNIK Volume 3 No. 2 Oktober 2016 3

distance vector cukup sederhana dan tidak memerlukan banyak alokasi memori untuk kalkulasi routing sehingga sesuai dengan yang dibutuhkan oleh WSN yaitu penggunaan energi dan juga memori yang efisien. Selain itu dengan menggunakan AODV maka dapat membuat jaringan mesh pada sisi node router yang memungkinkan tiap zigbee router dapat saling berkomunikasi. (Kari Septiana Dewi et al., 2011) III. STATEGI IMPLEMENTASI A. Topologi yang Digunakan Pada penelitian ini menggunakan topologi peer to peer atau mesh karena setiap node dapat berkomunikasi dengan node lainnya selama masih dalam jangkauan. Dan topologi ini memiliki satu pusat pengendali yaitu sink node. B. Protokol Routing yang Digunakan Protokol routing yang digunakan adalah directed diffusion karena berbasis data sentrik yang memiliki kemampuan dalam efisiensi energi. Efisiensi energi sangat dibutuhkan dalam jaringan sensor node. Mengingat area TN Tesso Nilo yang luas maka membutuhkan node sensor yang banyak pula, sehingga membutuhkan energi yang lebih. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan protokol routing directed diffusion. C. Efisiensi Baterai Pemilihan baterai ini dikarenakan sensor suhu LM35 bekerja pada tegangan 4 sampai 30 volt dan baterai ini memiliki tegangan 7.4 volt, sehingga terpenuhi tegangannya. Diasumsikan apabila menggunakan 100 node sensor, arus yang mengalir pada satu node sensor 60 µa sama dengan 0.06 ma dan dibutuhkan 6 ma untuk mengoperasikan 100 node sensor. Baterai ini memiliki 1500 mah, sehingga daya yang dimiliki baterai ini adalah 1500 mah x (7.4/1000) = 11.1 watt hour. Energi yang dimiliki 11.1 watt hour x 3600 sekon = 39.960 Joule. IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari analisa yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa topologi yang digunakan adalah peer to peer untuk area yang luas dengan koneksi yang baik dan protokol routing yang digunakan pada TN Tesso nilo adalah directed diffusion karena memiliki kemampuan dalam efisiensi energi mengingat area cakupan yang cukup luas. B. Saran Untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan jumlah node sensor yang lebih banyak sehingga analisa lebih mendalam. Membuat hardware dan menerapkannya pada area yang sering terdapat hot spot atau titik api. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak Dr. Indra Yasri, ST., MT selaku pembimbing yang telah mengarahkan dan membimbing selama penelitian ini. Terima kasih kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan, semangat dan motivasi selama ini. Terima kasih kepada para sahabat dan teman- teman Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Riau yang banyak membantu penulis dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA. Amalina, E.N., Setijadi, E., others, 2013. Perbandingan Topologi WSN (Wireless Sensor Network) Untuk Sistem Pemantauan Jembatan. Pros. CSGTEIS 2013. Arifin A.R. Manurung, M. Mardhiansyah, Rudianda Sulaeman, 2015. Peranan Kebijakan Negara Terhadap Perlindungan Hutan Untuk Menekan Jom FTEKNIK Volume 3 No. 2 Oktober 2016 4

Laju Deforestasi Taman Nasional Tesso Nilo. Arrossy, K.M., Santoso, T.B., Kristalina, P., 2011. Analisa Kinerja Routing Protokol pada Jaringan Sensor Nirkabel dengan Metode Gradient Based Approach. Arrozaqi, U.A., Santoso, T.B., Kristalina, P., 2011. Simulasi Routing Protokol Pada Jaringan Sensor Nirkabel Dengan Menggunakan Metode Cluster Based. EEPIS Final Proj. Brian Schneider, n.d. A Guide to LiPo Batteries. Diakses pada 30 April 2016 Kari Septiana Dewi, Rendy Munadi, Arief Suryadi, 2011. Analisis Penggunaan Protocol Routing Ad Hoc On Demand Distance Vektor (Aodv) Pada Wireless Sensor Network. Tugas Akhir S1 Tek. Telekomun. Univ. Telkom. National Semiconductor, 2000. LM35 Precision Centigrade Temperature Sensors. Diakses pada 30 April 2016 Pantazis, N., Nikolidakis, S.A., Vergados, D.D., 2013. Energy-efficient routing protocols in wireless sensor networks: A survey. Commun. Surv. Tutor. IEEE 15, 551 591. Riri Fitri Sari, Abdusy Syarif, Bagio Budiardjo, 2008. Analisis Kinerja Protokol Routing Ad Hoc On- Demand Distance Vector (Aodv) Pada Jaringan Ad Hoc Hybrid: Perbandingan Hasil Simulasi Dengan NS-2 Dan Implementasi Pada Testbed Dengan PDA. Jom FTEKNIK Volume 3 No. 2 Oktober 2016 5