SIAPA MENCARI MOKSA?

dokumen-dokumen yang mirip
Nirwana dan Cara Pencapaiannya dalam Agama Hindu

From Everything to Nothing (Filipi 2:5-11) Casthelia Kartika

Mengapa memberitakan Injil? Kis.14:15-18 Ev. Jimmy Pardede, M.A.

Tujuan: Jemaat menyadari keberadaannya sebagai orang yang berdosa. Jemaat memahami bahwa Allah-lah yang berinisiatif menguduskan umat-nya.

Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #11 oleh Chris McCann

Oleh: D. Tiala CARA PANDANG KONSEP AGAMA (RELIGION) MENURUT SIGMUD FREUD DAN AJARAN (DOKTRIN) BUDDHISME

BAB V PENUTUP. 1. Konsep Tuhan Dalam Perspektif Agama Islam, Kristen, Dan Hindu. berbilang tidak bergantung pada siapa-siapa melainkan ciptaan-nyalah

Hati ke Hati Andreas Pratama

BHAKTI MARGA JALAN MENCAPAI KEBAHAGIAAN. Om Swastyastu, Om Anobadrah Krtavoyantu visvatah, (Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru)

Dhamma Inside. Bersikap Ramah. Standar. Berada di luar Kata-kata : Alamilah Sendiri. Vol Oktober 2015

BAB II PEMBAHASAN. Kamajaya,Karkono,Kebudayaan jawa:perpaduannya dengan islam,ikapi,yogja,1995 2

Rangkuman Kata Mutiara Tentang Waktu

DALAM AGAMA BUDDHA AGAMA DIKENAL DENGAN:

UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya

KEBENARAN SEDERHANA untuk yang BARU PERCAYA. (Pertanyaan dan Jawaban)

Agama dan Tujuan Hidup Umat Buddha Pengertian Agama

BAB I PENDAHULUAN. B. Pokok Permasalahan.

Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika

TATA IBADAH MINGGU PASKAH V

GKI MENGALAMI PEMBARUAN BUDI Roma 12:1-2

MISTERI TUHAN ANTARA ADA DAN TIADA

E. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA

Sutta Kalama: Kepada Para Kalama (Kalama Sutta: To the Kalamas)

21. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB - E)

CINTA TANPA DEFINISI 1 Agustus 2010

Man of God Transformation 2 Transformasi Manusia Allah 2 Holy Spirit Measures

MUNCULNYA AGAMA HINDU

Revelation 11, Study No. 22 in Indonesian Language. Seri Kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 22,oleh Chris McCann

Babel sudah Rubuh: Keluarlah dari Padanya, hai umat-ku!

SUTRA 42 BAGIAN. B. Nyanabhadra

148 JURNAL JAFFRAY, Vol. 15, No. 1, April 2017

LANDASAN PENDIDIKAN PENDIDIKAN YANG BERLANDASKAN CATUR PURUSA ARTHA DALAM MEMBENTUK KARAKTER PESERTA DIDIK

Kemanakah jiwa manusia setelah tubuhnya binasa?

Surat Petrus yang kedua

Buddha berkata keinginan itu seperti air asin. Makin banyak diminum, semakin haus

MODUL PENGANTAR FILSAFAT (PSI 113) MODUL 1 PENGERTIAN DAN PERENUNGAN KEFILSAFATAN DISUSUN OLEH. Drs. MULYO WIHARTO, MM, MHA UNIVERSITAS ESA UNGGUL

Akhir Jaman Menurut Ajaran Gereja Katolik (Bagian Ke-2): THE SECOND COMING. Intro. Kita mendoakannya setiap hari Minggu dalam Syahadat kita:

CHARLES KUMAR. Fakir Sang Pencari

Level 2 Pelajaran 5. PELEPASAN Oleh Don Krow

KEJADIAN 12:1-3, 13:14-17

Dhamma Inside. Kematian Yang Indah. Orang-orang. Akhir dari Keragu-raguan. Vol September 2015

Agama Buddha. i. Ia berasal dari negara India pada kurun ke-6 SM dan diasaskan oleh Gautama Buddha sebagai salah satu interpretasi agama Hindu.

Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS

Someone! Susi Retno Juwita. Penerbit Nulisbuku.com

Pengembara yang Tersesat

NOVEL SIDDHARTHA KARYA HERMANN HESSE: PENCARIAN CHIFFER-CHIFFER TRANSENDENSI

SPIRITUAL HUNGER 4 - KELAPARAN ROH 4 ADDICTED TO HIS LOVE - KETAGIHAN AKAN KASIHNYA

Perayaan Dwiabad Agama Baha i: Pentingnya Persatuan Manusia. Musdah Mulia

Risalah tentang Kebangkitan (The Treatise on Resurrection)

17. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

2. "Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. " Kolose 4:5.

En-Publishing Refleksi-refleksi mengenai Rumah Sakit. Perenungan buat dokter, perawat, pasien, keluarga

Belajar dari Kristus

HIDUP DALAM KEKUDUSAN 1 Petrus 1:14-19 Herman Yeremia

Seri Kedewasaan Kristen (3/6)

MENCARI KEBENARAN SEJATI BERSAMA ROH KUDUS-ROH KEBENARAN Belajar dari Santo Yustinus

KUMPULAN KATA-KATA BIJAK

Pikirlah tentang Allah Bila. Saudara Berdoa

Dimana hati? Ia mati ketika itu juga..

28. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI SD

Siapakah Yesus Kristus? (4/6)

Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.

Doa yang Menghasilkan Mujizat #2 Breaking Down Prayer Barriers - Mematahkan Penghalang Doa

BAB IV RESPON MASYARAKAT MUSLIM TERHADAP TRADISI RUWATAN BULAN PURNAMA. A. Masyarakat Umum di Komplek Candi Brahu

Hubungan Kita Dengan Allah

REFORMASI KESEHATAN PERLU DILAKSANAKAN

Studi Perbandingan Katolik Roma (5) API PENYUCIAN

Baru-baru ini seseorang bertanya kepada saya mengapa gereja-gereja baptis yang lain begitu

PL1 : terhadap kaum yang tidak saleh! U : Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang!

Indonesia merupakan masyarakat majemuk dengan beragam etnis, Bahasa dan budaya Suku 300 Etnik Bahasa pulau

"Ia [kasih]tidak melakukan yang tidak sopan."

I NEED YOU. oh baby don t you know how much i love you. oh baby don t you know how much i miss you. oh baby don t you know it s true

Lesson 01: Self-Introduction (Part I) Pelajaran 01: Perkenalan Diri (Bagian I)

Revelation 11, Study No. 39 in Indonesian Language. Seri Kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 39, oleh Chris McCann

Bab 5. Ringkasan. Temari adalah simbol perfeksionisme di Jepang. Temari kerap diberikan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Negara menjamin setiap warga untuk memeluk agama masing-masing dan

PROFESIONALISME GURU PAK DALAM PERSPEKTIF ALKITAB PERJANJIAN BARU. Yulia Citra

Para rasul dan orang-orang Kristen yang mula-mula menganggap kedatangan Kristus kedua kali adalah pengharapan yang penuh bahagia (Tit.

SYAIR KERINDUAN. Genre: Puisi-puisi cinta, sahabat, keluarga semuanya tentang CINTA dan CITA-CITA.

62 PANDANGAN SALAH (3) Dhammavihārī Buddhist Studies

Adam Smith Sebuah Primer Bagian 4: Tentang Wealth of Nations. Upah bergantung pada pertumbuhan ekonomi

Transkrip Video Modul 2.2. Kursus Membaca Cepat Online

Roh Kudus. Penolong dan Penghibur HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Tuhan Hadir Dalam Kebuntuan Hidup 1 Raja-raja 19:9-18

MINGGU XiiI SESUDAH PENTAKOSTA

KESENJANGAN SOSIAL PADA NASKAH DRAMA BILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYA

[ Indonesia Indonesian

Lampiran 1 Lirik lagu

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! POKOK ANGGUR YANG BENAR. Yoh 15:1-8

PENGAKUAN IMAN RASULI. Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi

ABSTRAK KONFLIK DALAM NOVEL DAUN PUN BERZIKIR KARYA TAUFIQURRAHMAN AL AZIZY DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

Pratityasamutpada: Sebuah Pujian Buddha (Dependent Arising: A Praise of the Buddha) oleh Je Tsongkhapa

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.1

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dan masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan pada abad ke-16. Masyarakat

BAB IV PANDANGAN WARGA JEMAAT GBI BANDUNGAN TERHADAP PSK BANDUNGAN. A. Pandangan Warga Jemaat GBI Bandungan Terhadap PSK Bandungan

Kebahagiaan Berdana. Diposkan pada 02 Desember 2015

S. H. E. Single. Happy. Excellent. - Marcella Flaorenzia -

Kalender Doa Oktober 2016

BAB IV HATI NURANI. 2. KOMPETENSI DASAR Mengenal suara hati, sehingga dapat bertindak secara benar dan tepat

Transkripsi:

SIAPA MENCARI MOKSA? Chusnul Chotimah* Judul Buku : Siddhartha Penulis : Hermann Hesse Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan : 2014 Penerjemah : Gita Yuliani Tebal : 168 hlm; 20 cm Siddhartha, sebuah nama yang mengingatkan kita kepada sang Sakyamuni Siddhartha Gautama dari India. Sosok yang dianggap sebagai manifestasi Dewa Wishnu sebagaimana Rama dan Krishna dalam agama Hindu. Ia muncul pada sekitar abad ke 5 SM dan hingga saat ini masih diteladani dan dipertuhankan oleh sebagian penganut Buddhisme. Namun ternyata, Siddhartha dalam bukunya Hermann Hesse ini bukanlah Siddhartha Gautama sebagaimana saya kira pada mulanya, melainkan sosok lain yang memiliki nama sama kendati kemudian mereka berdua dipertemukan. Jika maksud penulis adalah untuk mengecoh pembaca, maka ia telah berhasil dengan teramat, sebab latar belakang tokoh begitu mirip dengan Siddhartha dari Sakya, -Seorang anak bangsawan keturunan raja yang memutuskan untuk menjadi samana. Sebuah pergulatan pencarian terus menerus yang dialami tokoh itulah yang membuat novel ini hidup dan menarik untuk di baca. Meski mungkin, akan sedikit kesulitan memahami isinya bagi yang tidak mengerti konsepkonsep teologi Hindu serta filsafat India. Terutama sekali mengenai Atman dan Brahman yang pada mulanya membuat Siddhartha gelisah hingga memutuskan untuk menjadi Samana, demi menemukan hakikat sang Atman. Diri (Atman) bukan ini, bukan itu, (neti, neti). Diri ini tak tertangkap, karena tidak bisa ditangkap; tidak rusak, karena tidak bisa dirusak; tak tersentuh, karena tidak menyentuh dirinya; tidak terbalut, tidak bergetar, dan tidak terluka. 1 1 Bhadaranyaka Upanishad 4.5.15 (Hume, op.cit., hal. 147) dalam bukunya Henrich Zimmer, Sejarah Filsafat India (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 350. 133

..pembersihan diri memang baik, tapi itu hanya air, tidak mencuci dosa, tidak meluruhkan kehausan roh, tidak mengangkat ketakutan dalam hatinya. Persembahan-persembahan dan doa-doa para dewa bagus sekali-tetapi apakah hanya itu? Apakah persembahan-persembahan memberikan masa depan yang bahagia? Dan bagaimana tentang para dewa? Apa betul Prajapati yang menciptakan dunia? Bukankah Atman, Dia, satu-satunya yang tunggal? Bukankah para dewa juga ciptaan seperti aku dan kau, terikat pada waktu, bersifat fana? Apakah dengan demikian sudah baik, sudah benar, apakah memang bermakna dan menjadi tugas paling utama, untuk memberikan persembahan untuk para dewa? Untuk siapa lagi perlu dilakukan persembahan, siapa lagi yang harus dipuji selain Dia, yang satu, Atman? Dan di mana Atman bisa ditemukan, di mana Dia bermukim, di mana jantung abadinya berdetak, di mana lagi kalau bukan di dalam diri sendiri, di bagian paling dalam, bagian yang tak bisa dihancurkan, yang dipunyai setiap orang dalam diri masing-masing? Tetapi Dia di mana, di manakah diri ini, bagian paling dalam, bagian paling utama? Bukan daging dan tulang, bukan pikiran ataupun kesadaran, begitu bunyi ajaran para bijak. Jadi, di manakah itu? Untuk mencapai tempat ini, diri sejati, diri sendiri, Atman, adakah jalan lain yang pantas dicari?... 2 Setiap agama memiliki makna mengenai hidup, bagi Islam hidup adalah keselamatan, bagi Kristen hidup adalah dosa, bagi Hindu hidup adalah keterperangkapan, lalu kemudian Buddha memaknai hidup sebagai penderitaan. Hindu menganggap bahwa setiap individu memiliki Atman sebagai mikrokosmos yang kemudian menuntun mereka untuk menyatukannya dengan makrokosmos, sang Brahman. Ketika Atman telah menyatu dengan Brahman, maka saat itulah terjadi apa yang disebut dengan Moksa yang merupakan tujuan tertinggi, bukan sebuah tempat indah sebagaimana yang oleh agama Smith dikenal dengan surga. Bagi Hindu, surga hanyalah tempat sementara dan bukan merupakan tujuan tertinggi. Konsep surga dan neraka bagi mereka seperti halnya Islam menganggap kehidupan di dunia hanya sebatas mampir ngombe. Selain itu, perlu pula kita ketahui konsep sansara dalam filsafat India tentang kehidupan yang membelenggu sebab adanya reinkarnasi, mati, lahir dan menjadi untuk kesekian kali hingga hidup yang terakhir ketika telah menemukan kedamaian dalam moksa; pelepasan dari keterperangkapan dan memanunggaling kawula lan gusti. Konsep ini perlu diketahui untuk bisa memahami alasan di balik pencarian terus menerus si tokoh, sebab jika tokoh tidak mendapat kebebasan dan pencerahan maka konsekuensi kemudian tokoh harus mengalami siklus sansara, untuk hidup kembali dan mencari pencerahan dan 2 Hermann Hesse, Siddharta (Jakarta: Gramedia, 2014), 10. 134 Religi, Vol. XI, No. 1, Januari 2015: 133-137

seterusnya hingga mencapai tujuan tertinggi: Moksa, satu di antara empat tujuan hidup setelah Artha, Kama dan Dharma. Pada mulanya Siddhartha adalah anak bangsawan keturunan raja dari kasta Brahmana yang merupakan kasta tertinggi dalam tatanan masyarakatnya, namun modal sosial yang ia miliki nyatanya tidak membuat ia bahagia. Ia terus mempunyai pertanyaan yang membuat hidupnya terus gelisah dan membutuhkan jawaban. Pergulatan batin yang kian menjadi itu menuntunnya untuk keluar dari zona nyaman dan memutuskan untuk menjadi samana. Tapi menjadi samana pun ternyata tidak pula memberinya jawaban, maka tatkala ia dan Govinda-sahabatnya- mendengar tentang Gotama, sang Buddha yang telah mencapai pencerahan, maka pergilah mereka berdua ke tempat di mana Buddha berada untuk melihat sendiri apa yang selama ini mereka dengar dan kemudian berhenti mengikuti guru yang memberinya ajaran beberapa tahun. Begitulah kemudian mereka berdua bertemu dengan sang Buddha dan terpesona setelah mendengarkan ajaran-ajarannya tentang empat jalan mulia dan delapan jalan kebenaran, namun lagi-lagi keterpesonaan itu tak juga memberi Siddhartha sebuah jawaban. Ia pun pergi mencari jawaban ke tempat lain meski berat hati harus berpisah dengan Govinda, sahabat yang selama ini menjadi bayangannya. Namun, di dalam langkah Siddhartha menuju pengembaraan selanjutnya, ia dipertemukan langsung dengan Gautama hingga terjadi percakapan: Dikau sudah menemukan jalan keluar dari kematian. Itu kau temukan dalam perjalanan pencarianmu sendiri, melalui pikiran-pikiran, melalui meditasi, melalui penyadaran, melalui pencerahan. Bukan datang kepadamu melalui ajaran-ajaran! Maka-demikianlah pemikiranku, dikau yang mulia, tak ada yang akan memperoleh keselamatan melalui ajaran! Dikau takkan mampu menyampaikan dan mengucapkan kepada siapapun, oh dikau yang mulia, dalam kata dan melalui ajaran, apa yang sudah terjadi kepadamu pada saat pencerahan! 3 Begitulah ucap Siddhartha kepada Gautama sang Buddha bahwa apa yang diajarkannya tidak memberikan jawaban. Bagi Siddhartha, ajarannya tak mampu memberinya penjelasan, bahwa pencerahan datang bukan dari ajaran, melainkan dari pengalaman diri sendiri. Karena itu ia melanjutkan pengembaraan spiritual, namun bukan untuk mencari ajaran yang lebih baik dari ajaran Buddha, namun untuk melepaskan diri dari ajaran-ajaran dan semua guru lalu ia akan mencapai pencerahannya sendiri atau mati. 3 Hermann Hesse, Siddharta, 43. 135

Ia kembali menanyai diri di manakah Atman, di manakah Brahman? Di manakah diri yang sejati? Ia ingin bebas namun ia tak mampu menguasai, ia justru merasa terus melarikan diri dan bersembunyi. Karena hal itulah ketika kemudian ia dipertemukan dengan Kamala si pelacur kelas tinggi yang begitu memikat ia memutuskan untuk menceburkan diri ke lembah hitam, ia belajar segala hal yang Kamala ajarkan termasuk strategi untuk menjadi pedagang sebuah profesi yang membuatnya di kemudian hari terikat terhadap keduniawian. Pada mulanya, Siddhartha selalu menganggap orang-orang di luar kastanya sebagai orang yang kekanak-kanakan, mereka berbisnis, mereka bercinta, mereka terikat dengan dunia, kerenanya ia selalu mencemooh mereka, namun kemudian ia mencemburui dan menginginkan dunia yang kekanakkanakan itu, ia ingin memiliki kemelekatan terhadap dunia, ia ingin hidup penuh ambisi dan merasa penting serta ketakutan-ketakutan sebagaimana yang dimiliki oleh manusia yang kekanak-kanakan itu. Hingga waktu berselang ia serupa halnya dengan manusia kekanakan, ia menjadi terbiasa diladeni, yang marah jika ada yang salah, dan berasa pada posisi nyaman untuk kedua kalinya lalu merasakan hal yang sama seperti awal mula ia memutuskan untuk menjadi samana. Sadar akan kekeliruannya, ia kemudian mengutuki diri karena telah terjerembab ke dalam hidup yang bodoh, merasa begitu hampa dan belum pula memperoleh jawaban tentang Atman. Dan untuk kesekian kalinya, ia pergi mengembara, meninggalkan segala kenyamanan dan kembali memutuskan menjadi musafir. Setelah mengalami beberapa transformasi spiritual kini ia merasakan adanya kebahagiaan yang murni. Ia pernah menjadi Brahmana, seorang pandita yang sombong, lalu mematikannya dengan merubah diri menjadi pertapa, lalu mematikannya lagi dengan melebur ke dunia sansara yang penuh nafsu di mana ia menjadi saudagar kaya dan dipenuhi segala kemewahan dunia, lalu ia mematikannya lagi. Kini ia merasa kembali seperti anak kecil yang bahagia dan tak memiliki ketakutan-ketakutan. Ia kembali menyeru kata OM (AUM) ; satu suku kata yang dianggap paling suci, yang menjadi simpul misteri Brahman. OM! Suara yang abadi ini adalah keseluruhan alam semesta yang kasat mata. Apa yang telah menjadi, apa yang sedang menjadi, apa yang akan menjadi sungguh semua ini adalah suara OM. Dan apa yang di luar ketiga keadaan dunia juga suara OM 4 4 Henrich Zimmer, Sejarah Filsafat India (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 358. 136 Religi, Vol. XI, No. 1, Januari 2015: 133-137

Siddharta kembali belajar kepada alam, kepada air sungai yang ia temui, yang selalu turun ke bawah, tenggelam dan mencari kedalaman. Ia merasa selalu diperdengarkan kata OM dalam aliran deras sungai. Sungai itu tak mati, ia hidup. Sungai; kata benda yang mampu menjadi Subjek. Begitulah orangorang Hindu memaknai segala benda, Tat Twam Asi; Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku. Sebagaimana saya singgung di awal paragraf bahwa, akan sulit memahami novel ini ketika pembaca tidak memahami konsep-konsep teologi Hindu terutama konsep Atman-Brahman dan filsafat India yang rumit, khususnya mengenai sansara; kehidupan yang berulang-ulang. Hal tersebutlah yang menjadikan novel ini terkesan eksklusif sebab tidak semua kalangan bisa menikmati dan memahami. Namun meski begitu, novel ini merupakan karya sastra yang berhasil sebab isinya tidak sekedar mengisahkan perjalanan spiritual, namun lebih dari itu, novel ini disajikan dengan bahasa yang penuh estetika, mengalir, dan sarat akan makna filosofis. Maka tidak heran ketika karya Hermann Hesse ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Saya pikir para intelektual sosial dan studi agama khususnya, akan sangat tertarik dan mampu menikmati novel ini karena isinya merupakan implementasi dari teori pendekatan agama, karenanya sangat layak untuk dibaca dan menghiasi rak buku pembaca. Salam. What am I really? In your inner self, replies the Hindu, you are part of God. What is my life? The Hindu answers that it is a search of whatever length necessary to find God in your self. How can I be happy? Only be coming to know God, replies the Hindu. How can I know God? He who knows himself will know God. Which way of worship is best? Hindus have said: Cattle are o different colors, but all milk is alike;... system of faith are different, but God is one. 5 *Chusnul Chotimah adalah mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2011. Lahir di Kebumen 10 Februari 1993 dan kini sedang berproses di Lembaga Pers Mahasiswa ARENA. Email: dhelotus@gmail.com. 5 Floyd H. Ross and Tynette Hills, The Great Religions by Which Men Live (America: The Beacon Press, 1956), 46. 137