BAB 3. PENGOLAHAN DATA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PENGOLAHAN DATA

BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV METODE PENELITIAN

PEMETAAN DISTRIBUSI PROBABILITAS HIDROKARBON DENGAN APLIKASI AVO FLUID INVERSION (STUDI KASUS LAPANGAN BLACKFOOT) TESIS

Analisis dan Pembahasan

KARAKTERISASI RESERVOIR BATU PASIR FORMASI KEUTAPANG MENGGUNAKAN ANALISIS AVO (AMPLITUDE VERSUS OFFSET) PADA STRUKTUR X SUMATERA BAGIAN UTARA

BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA. Penelitian yang mengambil judul Analisis Seismik dengan

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI

BAB 2. TEORI DASAR DAN METODE PENELITIAN

AVO FLUID INVERSION (AFI) UNTUK ANALISA KANDUNGAN HIDROKARBON DALAM RESEVOAR

menentukan sudut optimum dibawah sudut kritis yang masih relevan digunakan

BAB V INVERSI ATRIBUT AVO

BAB IV PERMODELAN POISSON S RATIO. Berikut ini adalah diagram alir dalam mengerjakan permodelan poisson s ratio.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data seismik 3D PSTM Non

BAB 3 TEORI DASAR. Seismik refleksi merupakan salah satu metode geofisika yang digunakan untuk

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Cadzow filtering adalah salah satu cara untuk menghilangkan bising dan

BAB I PENDAHULUAN. Lapangan TERRA adalah salah satu lapangan yang dikelola oleh PT.

Jurusan Fisika FMIPA Universitas Brawijaya 2) Pertamina Asset 3

Jurnal OFFSHORE, Volume 1 No. 1 Juni 2017 : ; e -ISSN :

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Interpretasi Reservoar Menggunakan. Seismik Multiatribut Linear Regresion

KARAKTERISASI RESERVOAR BATUPASIR PADA LAPANGAN SG MENGGUNAKAN INVERSI ACOUSTIC IMPEDANCE (AI) DAN ELASTIC IMPEDANCE (EI)

BAB IV PENGOLAHAN DATA

BAB IV UNIT RESERVOIR

Data dan Pengolan Data

BAB IV METODE DAN PENELITIAN

Analisa AVO dan Model Based Inversion Untuk Memetakan Penyebaran Hidrokarbon: Studi Kasus Struktur S, Cekungan Sumatera Selatan

BAB III METODE PENELITIAN. Objek yang dikaji adalah Formasi Gumai, khususnya interval Intra GUF a sebagai

Youngster Physics Journal ISSN: Vol. 6, No. 2, April 2017, Hal

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

INVERSI IMPEDANSI ELASTIK UNTUK MENGESTIMASI KANDUNGAN RESERVOIR BATUPASIR LAPANGAN Ve FORMASI CIBULAKAN CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA

INTEGRASI INVERSI SEISMIK DENGAN ATRIBUT AMPLITUDO SEISMIK UNTUK MEMETAKAN DISTRIBUSI RESERVOAR PADA LAPANGAN BLACKFOOT SKRIPSI

INTERPRETASI DATA PENAMPANG SEISMIK 2D DAN DATA SUMUR PEMBORAN AREA X CEKUNGAN JAWA TIMUR

BAB V INTERPRETASI DATA. batuan dengan menggunakan hasil perekaman karakteristik dari batuan yang ada

APLIKASI INVERSI SEISMIK UNTUK KARAKTERISASI RESERVOIR

KARAKTERISASI RESERVOAR FEBRI-UNILA FIELD

Klasifikasi Fasies pada Reservoir Menggunakan Crossplot Data Log P-Wave dan Data Log Density

IDENTIFIKASI FLUIDA MENGGUNAKAN PARAMETER LAMBDA-MU RHO STUDI KASUS LAPANGAN BLACKFOOT

APLIKASI INVERSI-AVO UNTUK INTERPRETASI SEISMIK DIBAWAH KETEBALAN TUNING THICKNEES STUDI KASUS LAPANGAN HD

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitan dilaksanakan mulai tanggal 7 Juli September 2014 dan

RANGGA MASDAR FAHRIZAL FISIKA FMIPA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011

KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT DENGAN MENGGUNAKAN METODE AVO INVERSISTUDI KASUS LAPANGAN NGAWEN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Analisis Reservoar Pada Lapangan

IDENTIFIKASI PERSEBARAN HIDROKARBON PADA KONGLOMERAT FORMASI JATIBARANG MENGGUNAKAN ANALISIS INVERSI AVO (Amplitude Versus Offset)

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH

BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB V ANALISA. dapat memisahkan litologi dan atau kandungan fluida pada daerah target.

Aplikasi Metode Dekomposisi Spektral Dalam Interpretasi Paleogeografi Daerah Penelitian

BAB III STUDI KASUS 1 : Model Geologi dengan Struktur Lipatan

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 17 November 2014 sampai dengan

BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA. Pada penelitian ini data seismik yang digunakan adalah data migrasi poststack 3D

DAFTAR GAMBAR. Gambar 2.1 Peta Lokasi Penelitian Gambar 2.2 Elemen Tektonik Kepala Burung... 6

BAB III TEORI DASAR. Metode seismik refleksi merupakan suatu metode yang banyak digunakan dalam

BAB III TEORI DASAR. Metode seismik refleksi adalah metoda geofisika dengan menggunakan

BAB III TEORI DASAR Tinjauan Umum Seismik Eksplorasi

INTEGRASI SEISMIK INVERSI ACOUSTIC IMPEDANCE (AI) DAN ELASTIC IMPEDANCE (EI) UNTUK KARAKTERISASI RESERVOIR STUDI KASUS LAPANGAN MUON

Nugroho Budi Raharjo * Widya Utama * Labolatorium Geofisika Jurusan Fisika FMIPA ITS ABSTRAK

BAB IV PEMAPARAN DATA Ketersediaan Data Data Seismik Data Sumur Interpretasi

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 2, No. 1, Januari 2014, Hal 31-38

INVERSI BERSAMA GELOMBANG PP DAN PS (JOINT PP AND PS INVERSION) UNTUK MENGANALISA LITOLOGI RESERVOIR

Analisis Atribut Seismik dan Seismic Coloured Inversion (SCI) pada Lapangan F3 Laut Utara, Belanda

Aplikasi Inversi AI dan EI Dalam Penentuan Daerah Prospek Hidrokarbon

Survei Seismik Refleksi Untuk Identifikasi Formasi Pembawa Batubara Daerah Ampah, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah

KARAKTERISASI RESERVOIR MENGGUNAKAN METODE INVERSI LAMBDA MU RHO (LMR) DAN ELASTIC IMPEDANCE PADA LAPANGAN X

Identifikasi Sebaran Reservoar Hidrokarbon dengan Metode Inversi Simultan dan Analisis AVO Studi Kasus Lapangan A Cekungan Sumatera Selatan

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah lapangan gas telah berhasil ditemukan di bagian darat Sub-

ANALISIS INDEPENDENT INVERSION GELOMBANG PP DAN PS DENGAN MENGGUNAKAN INVERSI POST-STACK UNTUK MENDAPATKAN NILAI Vp/Vs

Bab I. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB IV STUDI KASUS II : Model Geologi dengan Stuktur Sesar

I. PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang

Aplikasi Inversi Seismik untuk Karakterisasi Reservoir lapangan Y, Cekungan Kutai, Kalimantan Timur

DAFTAR ISI. Lembar Pengesahan... Abstrak... Abstract... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Gambar... Daftar Tabel...

Survei Seismik Refleksi Untuk Identifikasi Formasi Pembawa Batubara Daerah Tabak, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah

BAB IV RESERVOIR KUJUNG I

Bab III Pengolahan dan Analisis Data

3.3. Pengikatan Data Sumur pada Seismik-3D (Well Seismic Tie)

III. TEORI DASAR. gelombang akustik yang dihasilkan oleh sumber gelombang (dapat berupa

BAB V PEMBAHASAN. 5.1 Peta Kontur Isopach

BAB IV METODE PENELITIAN. Tugas Akhir ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan pada 13 April 10 Juli 2015

BAB I PENDAHULUAN I-1

PEMODELAN ATRIBUT POISSON IMPEDANCE

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam eksplorasi dan eksploitasi hidrokarbon, seismik pantul merupakan metoda

Gambar 3.1 Peta lintasan akuisisi data seismik Perairan Alor

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA RESPON SEISMIK SINTETIK PP DAN PS BERDASARKAN PEMODELAN SUBSTITUSI FLUIDA PADA SUMUR

Analisis preservasi amplitudo dan resolusi seismik pada data hasil reconvolution lapangan X Cekungan Sumatera Tengah

Estimasi Porositas pada Reservoir KarbonatMenggunakan Multi Atribut Seismik

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. V.1 Penentuan Zona Reservoar dan Zona Produksi

DAFTAR ISI. BAB IV METODE PENELITIAN IV.1. Pengumpulan Data viii

Tinjauan Pustaka. Gambar II.1. a). Geometri AVO b). Perubahan respon amplitudo yang ditimbulkan, modifikasi dari Russell (2008).

BAB III TEORI DASAR. dimensi pergerakan partikel batuan tersebut. Meskipun demikian penjalaran

KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT DENGAN APLIKASI SEISMIK ATRIBUT DAN INVERSI SEISMIK IMPEDANSI AKUSTIK

V. PEMBAHASAN. dapat teresolusi dengan baik oleh wavelet secara perhitungan teoritis, dimana pada

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Transkripsi:

27 BAB 3. PENGOLAHAN DATA 3.1 Daerah Studi Kasus Data yang digunakan sebagai studi kasus dalam tesis ini adalah data dari lapangan di area Blackfoot, Alberta, Canada (gambar 3.1). Data-data tersebut meliputi data seismik 3D pre-stack CDP gather dan data log dari 3 Sumur yakni 8-8, 1-17 dan 9-8 (gambar 3.2). Gambar 3.1. Lokasi area studi, Blackfoot field, Alberta, Canada (Lawton, 1995)

28 Gambar 3.2. Base Map seismik 3D dan sumur yang digunakan dalam studi 3.1.1 Geologi dan Sistem Hidrokarbon Daerah Studi Target reservoir di daerah studi tertuju utamanya pada batuan Glauconitic incised valley. Glauconitic ini (Miller dkk, 1995 dalam Potter, 1996) terdiri atas batupasir kuarsa berbutir medium hingga sangat halus di bagian timur Alberta dan glauconit hanya muncul di bagian tengah Alberta ke utara. Sedimen dari channel di area studi ini tersusun oleh tiga unit yang berhubungan dengan tiga fase valley incision, namun semua fase tersebut tidak terlihat di semua tempat. Anggota bagian bawah dan atas dari unit ini terbentuk dari batupasir kuarsa dengan porositas rata-rata sekitar 18%, sementara di anggota bagian tengah batu pasir lithik yang secara relative lebih padat. Kehadiran sand di channel menipis pada beberapa lokasi seperti di sumur 12-16. Kisaran ketebalan dari tiap anggota dari 5 hingga 20 m. Hidrokarbon yang hadir di reservoir ini utamanya adalah minyak,

29 walau gas juga hadir di anggota bagian atas. Dari Wood dan Hopkins (1992) dalam Margrave (1997), disebutkan bahwa formasi yang mengandung Hidrokarbon adalah cemented channel sand (Lower Cretaceous Glauconitic) yang terendapkan sebagai incised valley-fill sedimen langsung di atas Mississippian Carbonates. Glauconitic sandstone menebal hingga 35 m dan berada kira-kira 1550 m di bawah permukaan di area Blackfoot. Incised valley memotong kedalaman yang bervariasi melewati lapisan di bawah dan dapat ditemukan menutupi langsung salah satu dari berbagai formasi lainnya (Potter, dkk, 1996). Ostracod beds mengalasi Glauconitic dan terbentuk oleh shale air asin, argillaceous, fossiliferous limestones dan batupasir kuarsa tipis dan batulanau (Layer dkk, 1949 dalam Potter 1996). Sunburst Member mengandung ribbon dan batupasir yang terbentuk dari sublitharenites dan quartzarenites. Detrital Beds menjadi bagian terbawah dari Grup Mannville. Unit ini memiliki keragaman litologi yang ekstrim dengan mengandung chert, batupasir lithik, batulanau dan lempung. Distribusi ini dikontrol secara utama oleh depresi di permukaan erosional pre-cretaceous dan ketebalannya pun beragam sangat tinggi pada jarak yang dekat. Grup Mannvile berada tidak selaras di atas Mississippian carbonates di Formasi Shunda. Permukaan erosional memiliki topografi yang irregular. Dari tinjauan sistem hidrokarbon di atas, target penelitian difokuskan pada batuan reservoir yang merupakan batupasir Glauconitic incised valley. Formasi ini terbukti terisi oleh hidrokarbon pada sumur 8-8, 9-8 dan 1-17.

30 Gambar 3.3. Kolom Stratigrafi area Blackfoot (Lawton, C. Don dkk, 1995 modifikasi dari Wood dan Hopkins, 1992). 3.2 Data Seismik Data seismik yang digunakan adalah prestack seismik 3D dari CDP gather. Data ini merupakan data utama yang diperlukan dalam analisa AVO, karena refleksi amplitudo dari kondisi subsurface lebih valid, belum mengalami gangguan, dibandingkan dengan data synthetic seismik yang sudah di stacking

31 karena amplitudonya menjadi terreduksi karena proses stacking tersebut. Dari sini kita dapat melihat apakah terdapat anomali amplitudo atau tidak. 3.2.1 Data Seismik Daerah Studi Data seismik yang tersedia berupa data 3D pre-stack dari CDP gather (gambar 3.4.), yang merupakan bagian dari survai seismic lapangan Blackfoot dengan parameter xline dari 1 s.d 111, inline 1 s.d 102, offset dari 590 hingga 4850 meter. Data ini kemudian diproses kedalam bentuk pre-stack seismic super gathers, untuk mengurangi noise, di mana apabila dibandingkan dengan data awal, tidak terdapat perbedaan signifikan, hanya noisenya saja yang berkurang (gambar 3.5.). Selain itu, data seismic ini juga diproses ke dalam bentuk CDP stack, near angle stack dan far angle stack, untuk melihat dan memudahkan dalam interpretasi horizon (gambar 3.6). Target terletak pada kedalaman 1500-1520 ms, yang ditandai sebagai bagian atas / top Glauconite sand. Gambar 3.4. Seismik 3D pre-stack dari CDP gather

32 Gambar 3.5. Seismik Super Gather hasil dari proses trim static untuk mengurangi noise Gambar 3.6. Arbitrary line CDP stack melintasi ketiga sumur

33 3.2.2 Gradien Analysis Di dalam melakukan analisa AVO, Intercept dan Gradient merupakan istilah yang penting. R (θ) A+ B Sin 2 θ + C Sin 2 θ Tan 2 θ (3-1) Jika melihat persamaan AVO dari Aki dan Richards (1980) di atas, maka terlihat bahwa besaran Amplitudo gelombang seismik (R) merupakan fungsi dari sudut tembak(θ), di mana besaran A dan B menunjukkan Intercept dan Gradient, sedangkan C menunjukkan curvature atau derajat kelengkungan dari kurva AVO (Abdullah, 2009). Secara grafis besaran A dan B diperoleh dengan cara sebagai berikut (gambar 3.7): Gambar 3.7. Gradien analysis, hubungan antara amplitude dan offset, modifikasi dari Russel (2002) (Abdullah, 2009) Pada gambar diatas terlihat bahwa jika memasang nilai-nilai amplitudo (baik peak-merah maupun trough-biru pada CDP gather) sebagai fungsi dari offset atau sudut tembak sin 2 θ, maka akan diperoleh nilai Intercept A (titik potong

34 antara garis biru atau merah dengan sumbu vertikal) dan Gradient B (kemiringan garis biru atau merah). Titik-titik hitam yang diinterpolasi dengan garis biru dan merah pada gambar b merupakan titik-titik sampel amplitudo dengan offset (sudut) tertentu pada gambar a. Jika top sand direpresentasikan sebagai zero-phase trough (biru), maka akan didapatkan sebuah nilai Intercept dan Gradient yang negatif. Dan pada zerophase peak (merah), akan diperoleh nilai Intercept dan Gradien yang positif. Untuk mengetahui apakah amplitudo pada horison target memiliki anomali AVO, maka dilakukan gradien analysis seperti di atas. Agar sesuai dengan data sumur, maka gradien analysis dilakukan pada lokasi inline dan xline yang pas dengan posisi sumur. Pada posisi inline 39 dan xline 50, di mana terdapat sumur 1-17 yang berisi gas, didapatkan gradien analysis seperti pada gambar 3.8. Gambar 3.8. a. Pick amplitude pada trough (horizon 1) dan peak (horizon 2) di inline 39 dan xline 50 Gambar 3.8. b. Gradien analysis pada trough (merah) dan peak (biru) di inline 39 dan xline 50

35 Pada posisi inline 21 dan xline 41, di mana terdapat sumur 8-8 dan 9-8 yang berisi oil, didapatkan gradien analysis seperti pada gambar 3.9. Gambar 3.9. a. Pick amplitude pada trough (horizon 1)dan peak (horizon 2) di inline 21 dan xline 41 Gambar 3.9. b. Gradien analysis pada trough (merah) dan peak (biru) dan inline 21 dan xline 41 Dari hasil gradient analysis pada inline 39 dan xline 50 menunjukkan adanya anomali AVO, di mana harga amplitudo membesar saat pertambahan offset. Sedangkan pada inline 21 dan xline 41, menunjukkan adanya kenaikan harga amplitudo hingga offset 1500 m, namun setelah itu harga amplitudo kembali menurun sehingga tren gradient yang ditunjukkan cenderung turun.

36 3.3 Data Sumur Data sumur yang digunakan berupa data koreksi check shoot, log Gamma ray, log resistivitas, log densitas, log porositas, log sonic (log Kecepatan gelombang P / Vp), dan log kecepatan gelombang S (Vs). Dari interpretasi semua data tersebut, dapat diketahui kedudukan dan ketebalan reservoir secara vertikal. Data log sumur berupa log density, log kecepatan gelombang-p/ log Sonic,dan log kecepatan gelombang S/ Shear wave log sangat berperan penting dalam menginterpretasi parameter petrofisika dan juga kandungan fluida (Sudarmono,2002). Dari hubungan antara log kecepatan gelombang P dan S sangat berguna dalam menghitung nilai Poissons ratio, berguna untuk mengetahui zona target yang mengandung hidrokarbon dan dan juga data well log yang diubah kedalam bentuk synthetic seismogram untuk diikatkan dengan data seismik, satuan keduanya dalam bentuk waktu mili sekon. Data sumur digunakan pada waktu dilakukan cross check antara hasil analisis AVO dengan hasil analisis dari well. 3.3.1 Data Sumur Daerah Studi Data sumur yang digunakan adalah sumur 1-17, sumur 8-8 dan sumur 9-8. Target reservoir di sumur 1-17 ini berada pada kedalaman 1570 m dan kandungan yang ada di sumur ini adalah gas. Untuk sumur 8-8, target reservoir berada di kedalaman 1560 m dan kandungan yang terdapat di sumur ini adalah oil. Pada sumur 9-8 target reservoir berada di kedalaman 1565 m dan kandungan yang terdapat di sumur ini adalah oil. Sebagian besar log-log yang diperlukan untuk analisis AFI sudah terdapat pada sumur-sumur ini, namun ada sejumlah log yang belum ada dan untuk mengatasinya dapat dengan perhitungan yang diproses dalam perangkat lunak Hampson-Russel, semisal untuk mendapatkan S-wave dengan menggunakan persamaan Castagna. Vs = 0.8 x Vp + (- 855.9) m/s (3-2)

37 Persamaan di atas digunakan untuk mendapatkan harga Vs dari harga Vp yang sudah ada bila data Vs tidak tersedia. Dari perhitungan tersebut ditambahkan ±10% eror. 3.3.2 Sumur 1-17 Sumur 1-17 adalah sumur gas yang terletak di inline 39 dan xline 50. Total kedalaman sumur ini hingga 1610 m, menembus Formasi Mississippian. Target reservoir di sumur ini adalah Formasi Glauconite. Pada zona target ini saat dilakukan gradien analysis pada amplitudo hasil synthetic memperlihatkan adanya kenaikan harga amplitudo saat pertambahan offset (gambar 3.10). Gambar 3.10. a. Pick amplitude pada trough (horizon 1) dan peak (horizon 2) synthethic trace sumur 1-17 Gambar 3.10. b. Gradien analysis pada trough (merah) dan peak (biru) synthethic trace sumur 1-17

38 3.3.3 Sumur 8-8 Sumur 8-8 adalah sumur oil yang terletak di inline 21 dan xline 41. Total kedalaman sumur ini hingga 1620 m, menembus Formasi Mississippian. Target reservoir di sumur ini adalah Formasi Glauconite. Pada formasi ini, saat dilakukan gradien analysis pada amplitudo hasil synthetic memperlihatkan harga amplitudo yang relatif stabil, terlihat adanya kenaikan harga amplitudo saat pertambahan offset tidak signifikan (gambar 3.11). Gambar 3.11. a. Pick amplitude pada trough (horizon 1)dan peak (horizon 2) synthethic trace sumur 8-8 Gambar 3.11. b. Gradien analysis pada trough (biru) dan peak (ungu) synthethic trace sumur 8-8

39 3.3.4 Sumur 9-8 Sumur 9-8 adalah sumur oil yang terletak di inline 21 dan xline 41. Total kedalaman sumur ini hingga 1640 m, menembus Formasi Mississippian. Target reservoir di sumur ini adalah Formasi Glauconite. Pada formasi ini, saat dilakukan gradien analysis pada amplitude hasil synthetic memperlihatkan harga amplitude yang relatif lebih stabil, tidak terlihat dengan signifikan adanya kenaikan harga amplitudo saat pertambahan offset (gambar 3.12). Horizon 1 Horizon 2 Gambar 3.12. a. Pick amplitude pada trough (horizon 1)dan peak (horizon 2) synthethic trace sumur 9-8 Gambar 3.12. b. Gradien analysis pada trough (biru) dan peak ungu) synthethic trace sumur 9-8

40 3.4 Seismik Well Tie Sebelum memulai analisa, terlebih dahulu melakukan pengikatan antara seismik dan sumur agar mendapatkan posisi horizon yang akurat (gambar 3.13.). Untuk itu diperlukan adanya koreksi check shot pada sumur. Data koreksi check shoot adalah data rekaman kecepatan rata-rata terhadap waktu tempuh gelombang dari shoot point ke geophone. Check shot digunakan untuk mengkoreksi letak kedudukan sumur yang sebenarnya dalam satuan waktu (gambar 3.14). Gambar 3.13.a. Posisi sebelum seismic-well tie pada salah satu sumur

41 Gambar 3.13.b. Posisi sesudah seismic-well tie pada salah satu sumur Gambar 3.14. Koreksi check shot pada salah satu sumur