Jurnal Pendidikan IPA Indonesia

dokumen-dokumen yang mirip
PENGEMBANGAN LKS IPA TERPADU MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI SISTEM PERNAFASAN KELAS VIII SMP N 6 TAMBUSAI

Rahma Ditasari, Endah Peniati, Kasmui. Prodi Pendidikan IPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang, Indonesia

PENERAPAN STRATEGI KONFLIK KOGNITIF DISERTAI TEKNIK PETA KONSEP DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA

Erniwati, Rosliana Eso, Sitti Rahmia Jurusan PMIPA Program Studi Pend. Fisika FKIP UHO, Kendari

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN AJAR BROSUR TERHADAP AKTIVITAS DAN PENGUASAAN MATERI OLEH SISWA. (Artikel) Oleh: Ely Fitri Astuti

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA

Pemanfaatan Media Animasi Dalam Pembelajaran Kimia Untuk meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Di SMAN 12 Pekanbaru

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS SCIENTIFIC APPROACH PADA POKOK BAHASAN BESARAN DAN SATUAN DI SMA

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

Unnes Physics Education Journal

I. PENDAHULUAN. Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1988 tentang GBHN berbunyi : Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DISERTAI METODE DEMONSTRASI DALAM PEMBELAJARAN IPA-FISIKA DI SMP

PENGARUH MEDIA KARTU BERGAMBAR TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI POKOK JAMUR. (Artikel) Oleh Wulan Sari Irawati

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI MENGGUNAKAN MEDIA SLIDE POWER POINT TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA. (Artikel) Oleh MADE DEWI LESTARI

Automotive Science and Education Journal

Unnes Journal of Biology Education

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN MAKE A MATCH

PERBANDINGAN PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI DENGAN METODE PRAKTIKUM TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

PENGARUH AUDIO VISUAL TERHADAP PENGUASAAN KONSEP PADA MATERI PERISTIWA ALAM DAN DAMPAKNYA. (Artikel) Oleh IMRON ROSADI

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KOMIK BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI SEGIEMPAT

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

PENGARUH PENGGUNAAN KARTU BERGAMBAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STAD TERHADAP AKTIVITAS DAN PENGUASAAN MATERI SISWA

PENGARARUH PENGGUNAAN MEDIA ANIMASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA SUB POKOK BAHASAN LAS LISTRIK KOMPETENSI KEAHLIAN PEKERJAAN LAS DASAR

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN GEOBOARD BANGUN DATAR DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Laela Ngasarotur Risfiqi Khotimah Partono Pendidikan Fisika FKIP Universitas Muhammadiyah Metro

PENGEMBANGAN KARTU BERGAMBAR TIGA DIMENSI SEBAGAI MEDIA DISKUSI KELOMPOK PADA PEMBELAJARAN IPA TERPADU TEMA KEHIDUPAN

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 05 No. 02, Mei 2016, 1-5 ISSN:

JPPMS, Vol. 1, No. 1, 2017 Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika dan Sains

Journal of Innovative Science Education

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2, No. 2, pp , May 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat,

MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DAN GROUP TERHADAP PRESTASI BELAJAR

Abstrak. Kata kunci :Eksperimen Inkuiri, Eksperimen Verifikasi, Tingkat Keaktifan, Hasil Belajar.

Edu Geography 3 (1) (2014) Edu Geography.

PERBEDAAN MEDIA AUDIO VISUAL DAN BUKAN AUDIO VISUAL TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia

PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK PENGAWAS DALAM UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MENERAPKAN MODEL STAD

PENGGUNAAN TEKNIK PEMETAAN KONSEP TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN KONSEP ORGANISASI KEHIDUPAN. (Artikel) Oleh: Dian Yustie Anggraeni

2015 PEMBELAJARAN IPA TERPADU TIPE WEBBED TEMA TEKANAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA SMP

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL GROUP INVESTIGATION TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA

Diterima: 8 Maret Disetujui: 26 Juli Diterbitkan: Desember 2016

PENGGUNAAN MEDIA VIDEO TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA. (Artikel) Oleh EVA FEBRIYANTI R.

PENGARUH BAHAN AJAR MODUL REMEDIAL TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA. (Artikel) Oleh DEWI CITRA HANDAYANI

PERBEDAAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DAN MEDIA CHART PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU

Santi Helmi et al., Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA (Fisika)...

Unnes Physics Education Journal

Inna Sakinah Manik dan Nurdin Bukit Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA Unimed

PENGARUH METODE SOCRATIC CIRCLES DISERTAI MEDIA GAMBAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS. (Artikel) Oleh NURMALA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN EXPOSITORY BERBANTUAN ALAT PERAGA TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII SMPN 21 MATARAM TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Pancasakti Science Education Journal

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April 2015 di SMA Negeri 1. Tumijajar semester genap tahun pelajaran 2014/2015.

MODEL KOOPERATIF STAD BERBASIS PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA ARTIKEL. Oleh

PENERAPAN METODE INKUIRI PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP KARTIKA 1-7 PADANG ARTIKEL OLEH: ZUMRATUN HASANAH

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DISERTAI DENGAN KEGIATAN DEMONSTRASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR ASAM, BASA, DAN GARAM

MODEL INKUIRI DENGAN TIPE INTEGRATED PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP ARTIKEL. Oleh. Etik Khoirun Nisa NIM

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI OLEH SISWA

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING BERBANTUAN MACROMEDIA FLASH TERHADAP HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA PELAJARAN FISIKA

p-issn : e-issn :

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR TEMATIK SISWA JURNAL. Oleh

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI OLEH SISWA

PENGARUH PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN PRAKTIKUM IPA DI SD PADA MAHASISWA PGSD UNIVERSITAS TERBUKA

Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol. 15, No. 2, Desember 2015 (59-63)

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING BERBANTUAN LEMBAR KEGIATAN SISWA. Abstrak. Abstract. Gallant Alim Purbowo, Mashuri, Putriaji Hendikawati

Unnes Physics Education Journal

PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI KARANGJATI

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK BESARAN DAN SATUAN

Indonesian Journal of History Education

PENERAPAN MACROMEDIA FLASH UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN IKATAN KIMIA DI KELAS X SMA NEGERI 2 SIAK

Kelas Jumlah Siswa Nilai Tertinggi Nilai Terendah Nilai Rata-rata X GB A X GB B X KB X KK

Muhammad Habibi Rio Andika*,Hendar sudrajat**, M. Rahmad** ABSTRACT

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 05 No. 03, September 2016, ISSN:

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE

PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS HANDS-ON TEKNIK GUIDED WORKSHEET ACTIVITY TERHADAP HASIL BELAJAR IPA DI SMP

Ema Yesha Sinaga dan Abd. Hakim Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan ABSTRACT

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN

Scaffolding 4 (1) (2015) Scaffolding.

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA BERBASIS MAJALAH SISWA PINTAR FISIKA (MSPF) PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP (Pokok Bahasan Gerak Pada Benda)

Fitria Sakinah dan Purwanto Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING BERBANTUAN MEDIA PEMBELAJARAN RODA LOGIKA

Unnes Science Education Journal

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah pada bulan Mei semester genap Tahun Pelajaran

PENGARUH PENDEKATAN PROBLEM POSING TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA

I. PENDAHULUAN. menjelaskan bahwa pendidikan dalam pembangunan nasional berupa. seutuhnya. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia

Nur Anisabitah dan Titin Sunarti Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE KASUS MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO-VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA

THE USAGE OF ENVIRONMENT TO INCREASE THE STUDENTS ACHIEVEMENT IN NATURAL SCIENCE SUBJECT FOR THE

Siva Fauziah, Purwati Kuswarini Suprapto, Endang Surahman

Key Word: media, material of acid base solution.

Unnes Science Education Journal

PENGARUH PENGGUNAAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA. (Artikel) Oleh Wana Ginandi Putra

Citra Yunita dan Khairul Amdani Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan

Nizar Soramiranda 1, Kurnia Ningsih 2, Ruqiah Ganda Putri Panjaitan 3 Universitas Tanjungpura 3 ABSTRACT

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia

PENGGUNAAN POSTER MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR

Pendahuluan. Meliana et al., Penerapan Metode Permainan... 1

Transkripsi:

JPII 2 (2) (2013) 149-155 Jurnal Pendidikan IPA Indonesia http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jpii IMPLEMENTASI METODE PENUGASAN ANALISIS VIDEO PADA MATERI PERKEMBANGAN KOGNITIF, SOSIAL, DAN MORAL A. Kurniawati 1 *, W. Isnaeni 2, N.R. Dewi 1 1 Prodi Pendidikan IPA, FMIPA Universitas Negeri Semarang 2 Prodi Pendidikan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Semarang Diterima: 12 Juli 2013. Disetujui: 4 September 2013. Dipublikasikan: Oktober 2013 ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan media clue in puzzle yang digunakan dalam pembelajaran IPA pada tema bunyi serta pengaruh penggunaan clue in puzzle terhadap aktivitas belajar siswa. Metode penelitian ini adalah Research and Development (R & D). Hasil penelitian pengembangan meliputi hasil validasi pakar materi dan pakar media, aktivitas siswa dan hasil belajar. Validasi dari pakar media mencapai skor 97,5% dan validasi pakar meteri mencapai skor 93,75% dengan pencapaian kriteria masing-masing sangat baik. Hasil belajar kelas eksperimen juga lebih baik dari kelas control. Hasil penelitian menunjukkan pengembangan media clue in puzzle layak digunakan dalam pembelajaran IPA pada tema Bunyi dan dapat meningkatkan akivitas siswa. ABSTRACT The purpose of this study is to determine the feasibility of media clue in the puzzle that used in science teaching on the theme of sound and to determine the effect of the use of clue in the puzzle in the students learning activities. The metode of this research is Research and Development (R & D).The research and development outcomes include the validation results of matter and media expert, student activities and learning outcomes. The validation of media experts reach score 97.5% and validation of matter reach score 93.75% and include in very well criteria. The learning outcomes of experimental class also better than the control class. The results shows that development of clue in the puzzle media is feasible to use in science teaching on the theme of sound and to increase the learning activity of students. Keywords: media, clue in the puzzle, activity 2013 Prodi Pendidikan IPA FMIPA UNNES Semarang PENDAHULUAN Tugas guru dalam mewujudkan tujuan pembelajaran di sekolah adalah untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif dan inovatif. Pembelajaran adalah proses untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan baik. Subjek belajar dalam proses pembelajaran adalah siswa atau disebut juga pembelajar yang menjadi pusat kegiatan belajar. Pembelajaran merupakan kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang *Alamat korespondensi: Email: anitakurniawati@yahoo.com diinginkan. Kemampuan berinteraksi dengan seluruh sumber belajar yang digunakan dapat menciptakan kondisi yang kondusif serta menjadikan siswa sebagai pusat dalam kegiatan belajar dan siswa menjadi aktif. Cara belajar siswa aktif adalah siswa aktif mengembangkan ketrampilan dalam proses pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar. Pengembangan keterampilan proses dapat terjadi dengan menemukan dan mengembangkan sendiri fakta tentang ilmu pengetahuan alam. Ilmu Pengetahuan Alam atau sains merupakan ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala alam yang meliputi makhluk hidup dan makhluk tak

150 A. Kurniawati, W. Isnaeni, N.R. Dewi / JPII 2 (2) (2013) 149-155 hidup. (Rahayu, 2012). Sifat dan ciri Ilmu Pengetahuan adalah memiliki objek, menggunakan metode, sistematis, universal, objektif, analitis, dan verifikatif. IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berfikir kritis bagi siswa. Pembelajaran IPA memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk mencari tahu konsep-konsep baru tentang IPA dengan menggunakan akalnya. Mereka dapat melakukan hal ini dengan jalan terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan seperti diskusi kelas, percobaan menggunakan objek, serta pemecahan soal-soal. Pembelajaran IPA yang diterapkan pada sekolah menengah pertama adalah IPA Terpadu. Hadisubroto (dalam Trianto, 2011) menyebutkan bahwa jika pembelajaran dilaksanakan secara terpadu maka dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakana, karena diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan dan direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar siswa. Pembelajaran IPA terpadu membuat siswa terlatih untuk menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh, bermakna dan aktif. Pembelajaran IPA terpadu memiliki kelebihan, yaitu dengan menggabungkan berbagai bidang kajian maka akan terjadi penghematan waktu, keterampilan berpikir anak menjadi berkembang, dan keterampilan sosial anak menjadi berkembang (Lestari, 2012). Dalam penyampaian IPA secara terpadu diperlukan suatu sarana berupa media pembelajaran yang sesuai. Media merupakan komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional dan dapat merangsang siswa untuk belajar (Arsyad, 2003). Media dapat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan efisiensi, kreatifitas, efektifitas dan kualitas pembelajaran. Media memiliki fungsi untuk menghadirkan sesuatu yang konkrit, meskipun tidak berbentuk fisik (Sutiarso, 2009). Berdasarkan pernyataan tersebut maka media memiliki fungsi sebagai sarana untuk menghadirkan objek studi kepada siswa. Bunyi merupakan suatu materi pelajaran yang diajarkan pada siswa SMP kelas VIII semester 2. Materi ini mempunyai keterkaitan dengan materi sistem koordinasi khususnya telinga. Beberapa konsep dalam tema bunyi merupakan konsep yang tidak dapat diamati secara langsung, hal ini menyebabkan tema bunyi sulit dipahami dan siswa kurang antusias dalam belajar. Untuk menyampaikan konsep yang abstrak dan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran IPA terpadu khususnya pada tema bunyi, maka puzzle digunakan media pembelajaran. Pemilihan puzzle sebagai media juga dapat menarik perhatian siswa karena puzzle memadukan gambar dan tulisan, sehingga informasi lebih mudah diserap dan awet. Penggunaan media clue in puzzle juga dapat mengoptimalkan pembelajaran karena dapat memvisualisasikan bagian materi yang tidak dapat diamati secara langsung. Selain itu dapat mempermudah penyampaian konsep bunyi yang sukar diperoleh secara realita karena keterbatasan indera khususnya telinga. Berdasarkan uraian yang dikemukakan dalam latar belakang, pokok permasalah dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah media clue in puzzle layak digunakan dalam pembelajaran IPA pada tema bunyi?, 2) Apakah media clue in puzzle dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa?. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui kelayakan media clue in puzzle yang digunakan dalam pembelajaran IPA pada tema bunyi, 2) Mengetahui pengaruh penggunaan media clue in puzzle terhadap aktivitas belajar siswa SMP pada pembelajaran IPA dengan tema bunyi. Mengingat karakteristik anak usia SMP yang masih senang bermain maka suasana pembelajaran perlu dibuat semenarik mungkin yaitu penggunaan media pembelajaran puzzle dengan modifikasi penambahn clue pada puzzle tersebut. Media clue in puzzle dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yang meliputi: a) timbulnya rasa ingin tahu dengan memanfaatkan alat indera, b) kemampuan membentuk konsep, c) berkomunikasi, dan d) penyimpulan kejadian. Clue in puzzle merupakan media pembelajaran yang dimodifikasi dari permainan puzzle biasa. Situmorang (2012) mendefinisikan puzzle sebagai permainan yang terdiri dari potongan gambar-gambar, kotak-kotak, huruf-huruf atau angka-angka yang disusun dalam sebuah permainan yang akhirnya membentuk sebuah pola tertentu sehingga membuat siswa menjadi termotivasi untuk menyelesaikan puzzle secara tepat dan cepat. Puzzle pada umumnya hanya menyusun gambar supaya terbentuk suatu pola yang utuh, namum pada kali ini ada perbedaan. Penggunaan clue in puzzle dilakukan dengan cara menyusun potongan-potongan gambar sehingga membentuk sebuah puzzle yang utuh. Puzzle yang telah tersusun secara tepat kemudian dibalik puzzle tersebut terdapat clue (kata kunci) yang terdiri dari beberapa kata. Pada media clue in puzzle

A. Kurniawati, W. Isnaeni, N.R. Dewi / JPII 2 (2) (2013) 149-155 151 Berdasarkan Tabel 1, menunjukkan bahwa penilaian validasi tahap 1 oleh pakar media mencapai skor 55% dengan kriteria cukup baik. Perolehan skor yang rendah pada saat penilaian tahap 1 disebabkan oleh kualitas media yang kurang baik, sehingga media harus diperbaiki. Revisi dilakukan berdasarkan masukan dari pakar media. Bagian dari media clue in puzzle yang direvisi, yaitu: 1) mengganti bahan puzzle dengan bahan yang lebih mudah dibongkar pasang, 2) ukuran judul media disesuaikan dengan ruang dalam media, serta menghilangkan kata proses pada judul, 3) gunakan warna yang lebih cerah, 4) gambar diperjelas, dan 5) Presisi atau keakuratan pemotongan diperbaiki. Media kemudian direvisi sesuai saran dari pakar media pada tahap 1. Setelah media direvisi, maka dilakukan penilaian tahap 2. Hasi penilaian tahap 2 memperoleh persentase sebesar 97,5% dengan kriteria sangat baik. Hasil penilaian pakar pada tahap kedua menunjukkan bahwa media sudah sangat layak digunakan. Media dikatakan layak karena media sesuai dengan kriteria memilih media. memilih media yaitu, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, tepat untuk mendukung isi pembelajaran yang sifatnya fakta, bertahan lama, dapat digunakan dengan terampil, serta memiliki mutu yang baik (Arsyad, 2003). Tujuan penggunaan media clue in puzzle dalam pembelajaran IPA adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Wali (2008) yang menyatakan bahwa aktivitas merupakan suatu tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mencapai hasil sesuai yang diinginkan, melalui penggunaan alat (media). Disamping peterdapat pertanyaan-pertanyaan yang dapat diselesaikan berdasarkan susunan gambar pada puzzle. Penggunaan media clue in puzzle dalam pembelajaran IPA dapat membuat siswa termotivasi untuk belajar. METODE Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau Research and Development (R & D). Lokasi penelitian di SMP N 2 Jekulo Kudus. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan metode Quasi Eksperimen. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-A sebanyak 35 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-C sebanyak 35 sebagai kelas kontrol. Uji coba produk dalam skala kecil dilakukan pada 12 siswa kelas VIII. Uji coba produk dalam skala besar dilakukan pada siswa kelas VIII B sebanyak 36 siswa. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode dokumentasi, metode angket, dan metode tes. Data yang diperoleh pada penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Teknik analisis data yang dilakukan meliputi: (1) analisis kelayakan media berdasarkan penilaian dari pakar media dan pakar materi, (2) tanggapan guru IPA SMP 2 Jekulo, dan tanggapan siswa, (3) analisis aktivitas siswa dengan uji-t data selisih pre test dan post test kemudian untuk mengetahui peningkatan aktivitasnya digunakan n-gain dari Meltzer (2002), (4) analisis hasil belajar siswa dengan uji t data selisih nilai pre test dan post test siswa. Analisis kelayakan media clue in puzzle menggunakan angket yang telah disiapkan oleh peneliti. Media dikatakan layak apabila persentase penilaian validasi 63%. Siswa kelas VIII dipilih karena pada usia ini siswa masih senang bermain-main dalam kelompok dan permainan disesuaikan dengan tingkat kecerdasan mereka. Penerapan produk dilakukan dengan cara berikut: 1) membagi 35 siswa menjadi 8 kelompok (1 kelompok 4-5 siswa), 2) setiap kelompok mendapatkan 1 set clue in puzzle yang berupa potongan-potongan puzzle, 3) setiap kelompok harus menyelesaikan puzzle yang telah diberikan, 4) clue in puzzle yang telah selesai dengan baik akan membentuk gambar yang berhubungan dengan tema bunyi yang sedang dipelajari, 5) siswa bertugas menyelesaikan pertanyaan yang terdapat pada puzzle, dan 6) kelompok yang mendapatkan skor tertinggi dalam permainan ini akan mendapatkan penghargaan dan dinobatkan sebagai peserta terbaik. Setelah pembelajaran selesai, siswa diberikan lembar penilaian terhadap media pembelajaran clue in puzz- le pada tema bunyi. HASIL DAN PEMBAHASAN Media clue in puzzle dinilai berdasarkan angket yang telah ditentukan oleh peneliti dan diberikan kepada pakar. Media clue in puzzle yang dikembangkan dalam penelitian ini dinilai oleh pakar ahli media dan pakar ahli materi. Hasil penilaian pakar media tahap 1 dan 2 disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Penilaian Pakar Media Tahap 1 dan 2 Data Penilaian Rata- Rata Persentase (%) Tahap 1 0.55 55 Cukup baik Tahap 2 0,975 97,5 Sangat Baik

152 A. Kurniawati, W. Isnaeni, N.R. Dewi / JPII 2 (2) (2013) 149-155 nilaian dari pakar media, clue in puzzle juga dinilai oleh pakar materi. Hasil validasi tahap 1 dan 2 oleh pakar materi disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Penilaian Pakar Materi pada tahap 1 dan 2 Data Penilaian Rata- Rata Persentase (%) Tahap 1 0,8125 81,25% Cukup baik Tahap 2 0,9375 93,75 Sangat Baik Hasil penilaian media dari segi materi menunjukkan bahwa media memperoleh skor diatas skor minimal. Skor yang diperoleh pada tahap 1 (81,25%) mencapai kriteria sangat baik, akan tetapi terdapat bagian dari materi yang perlu diperbaiki atau direvisi. Perbaikan yang dilakukan berdasarkan masukan dari pakar materi tahap 1 yaitu penambahan materi pada konsep Macam- Macam Bunyi dengan menambahkan simbol < pada konsep infrasonik. Media clue in puzzle terdiri dari 3 konsep bunyi antara lain yaitu proses mendengar, macam-macam bunyi, dan penyakit pada telinga. Setelah media diperbaiki, maka dilakukan penilaian tahap 2. Hasil penilaian tahap 2 oleh pakar materi menunjukkan persentase yang lebih baik dibandingan pada tahap 1. Dilihat dari skor penilaian pakar maka dapat diketahui bahwa media clue in puzzle layak diterapkan dalam pembelajaran sebagai media pembelajaran IPA dengan tema bunyi. Berikut ini merupakan uraian keadaan media clue in puzzle selama proses pembuatan. Hasil perbaikan media clue in puzzle disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 menunjukkan bahwa media clue in puzzle telah melalui 2 kali tahap validasi dan menghasilkan media yang layak digunakan dalam pembelajaran IPA. Bagian clue in puzzle, baik dari segi ukuran judul, bahan media, warna background, kejelasan tulisan dan gambar, presisi potongan dan bingkai telah sesuai dengan kriteria pengembangan media yaitu praktis, luwes dan bertahan lama (awet). Media clue in puzzle yang telah layak dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan sehingga dapat merangsang perasaan, perhatian, minat, serta pikiran siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Dengan demikian, media pembelajaran dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Disamping penilaian media dari pakar media dan pakar materi, media juga dinilai dari tanggapan guru dan tanggapan siswa mengenai penggunaan media clue in puzzle. Tanggapan guru terhadap media clue in puzzle menunjukkan bahwa media layak digunakan dalam pembelajaran IPA pada tema bunyi. Hasil tanggapan guru mencapai skor 81,25% dengan criteria baik atau layak. Guru memberikan respon positif terhadap media clue in puzzle karena media memadukan antara telinga dan bunyi. Pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu maka dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakana, karena mengaitkan antar konsep Ilmu Pengetahuan Alam. Guru menyatakan bahwa pembelajaran menggunakan clue in puzzle dapat membuat siswa termotivasi dan aktif selama proses pembelajaran. Hasil tanggapan siswa pada uji skala kecil diperoleh respon yang positif terhadap media clue in puzzle yaitu dengan persentase sebesar 91,05% dengan kriteria sangat menarik. Tanggapan siswa pada uji skala besar menunjukkan bahwa media menarik, dengan persentase pada kelas VIII B sebesar 90,83% dengan kriteria sangat menarik. Besarnya persentase yang diperoleh dapat menunjukkan bahwa siswa merasa tertarik dan senang dengan penggunaan media clue in puzzle serta media clue in puzzle dapat membantu siswa lebih mengetahui konsep tentang bunyi yang tidak dapat dilihat oleh mata. Penggunaan puzzle sebagai media pembelajaran dapat membuat materi yang Tabel 3. Keadaan Media Clue in Puzzle Selama Proses Pembuatan Bagian Clue in Puzzle Ukuran judul Keadaan Clue in Puzzle pada Awal Pembuatan Validasi Tahap 1 Validasi Tahap 2 20, jenis huruf Harrington 20, jenis huruf Harrington 20, jenis huruf Harrington Bahan media Kertas foto Busa Papan serbuk kayu Warna background Hijau tua Hijau tua Hijau muda Presisi potongan Ada Ada Tidak ada Kejelasan gambar Kurang jelas Kurang jelas Jelas Bingkai Hitam, dari karton Merah dari kayu Hitam, dari kayu

A. Kurniawati, W. Isnaeni, N.R. Dewi / JPII 2 (2) (2013) 149-155 153 Gambar 1. Peningkatan Aktivitas Kelas Kontrol dan Eksperimen abstrak menjadi lebih konkret (Muhson, 2010). Selain itu siswa menjadi lebih termotivasi dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran yang diikutinya terasa lebih menyenangkan. Berdasarkan hasil tanggapan pada uji skala kecil dan uji skala besar maka media clue in puzzle layak digunakan dalam pembelajaran IPA pada tema bunyi serta dapat menarik perhatian siswa. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa menggunakan puzzle sebagai media pembelajaran dapat membuat materi yang abstrak menjadi lebih konkret (Muhson, 2010). Penilaian hasil aktivitas siswa diperoleh dari kegiatan observasi selama 4 kali pertemuan dalam pembelajaran IPA tema bunyi. Kegiatan pembelajaran pada saat pertemuan pertama belum menggunakan media clue in puzzle, sehingga pertemuan pertama diajadikan tolak ukur aktivitas siswa sebelum menggunakan media clue in puzzle (pre test). Kegiatan pembelajaran pada saat pertemuan 4 dijadikan tolak ukur untuk post test. Peningkatan aktivitas siswa kelas kontrol dan eksperimen selama 4 kali disajikan dalam Gambar 1. Peningkatan aktivitas siswa selanjutnya dihitung menggunakan data selisih antara pre test dan post test aktivitas siswa selama pembelajaran. Data yang telah dianalisis diuji-t. Hasil analisis uji-t disajikan pada Tabel 4. Hasil uji-t data aktivitas ekperimen dan kontrol menunjukkan bahwa t hitung -8,409 dan t tabel sebesar 1,68. Besarnya t hitung < t tabel sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara aktivitas kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen. Perbedaan aktivitas siswa sebelum menggunakan media clue in puzzle dengan pada saat menggunakan media clue in puzzle dihitung menggunakan N-gain. N-gain digunakan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan aktivitas siswa sebelum dilakukan pembelajaran menggunakan media clue in puzzle dengan aktivitas siswa setelah pembelajaran. Hasil N-gain disajikan pada Tabel 5. Tabel 4. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Aktivitas Kelompok Eksperimen dan Kontrol Kelompok Dk t hitung t tabel Kontrol 10,35 68-8,409 1,68 Eksperimen 9,58 Tabel 5. Hasil N-gain Aktivitas Belajar Siswa Kelas Rerata Nilai Pretes Rerata Nilai Postes N- gain Berbeda secara Ratarata signifikan Kontrol 58 56,25 0.04 Rendah Eksperimen 62,375 84,125 0.58 Sedang Hasil uji N-gain dapat disimpulkan bahwa peningkatan rerata aktivitas belajar siswa pada kelas kontrol sebesar 0,04 dan hanya mencapai kriteria rendah, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 0,58 dan mencapai kriteria sedang. Peningkatan aktivitas kelas eksperimen lebih baik dan lebih meningkat daripada kelas kontrol. Tingginya aktivitas siswa pada kelas eksperimen juga disebabkan karena penerapan media clue in

154 A. Kurniawati, W. Isnaeni, N.R. Dewi / JPII 2 (2) (2013) 149-155 puzzle, sehingga mendorong siswa untuk menemukan sendiri konsep yang dipelajarinya. Media memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajaran IPA. Hal tersebut karena media dapat menghadirkan sesuatu yang konkrit, meskipun tidak berbentuk fisik (Sutiarso, 2009). Berdasarkan pernyataan tersebut maka media memiliki fungsi sebagai sarana untuk menghadirkan objek studi kepada siswa. Hal ini sesuai dengan penelitian Chalmers (2011) yang menyatakan bahwa untuk memahami suatu objek, tidak perlu menghadirkan objek nyata namun dapat digantikan dengan benda-benda yang dapat mewakili peran objek tersebut. Penggunaan clue in puzzle sebagai media belajar memiliki peran penting terhadap aktivitas siswa. Clue in puzzle sangat membantu siswa dalam memahami tema bunyi secara visual yang faktanya tidak dapat diamati secara langsung. Siswa kelas VIII masih tergolong anak-anak yang menyukai belajar sambil bermain. Hal ini membuat siswa aktif untuk menemukan sendiri konsep tentang bunyi, sehingga siswa tidak hanya menerima konsep jadi yang diberikan guru. Berdasarkan uraian tersebut, maka media clue in puzzle dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data yang berasal dari pengamatan objek secara langsung, serta dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa. Peningkatan aktivitas siswa dapat terlihat dari cara siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri konsep tentang Ilmu Pengetahuan Alam. Siswa perlu bekerja dengan objek-objek yang kongkret dan tidak sekedar menghafal,untuk meningkatkan aktivitas siswa. Peningkatan aktivitas siswa disebabkan karena: 1) para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri, 2) siswa berbuat sendiri sehingga siswa dapat mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral, 3) memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa, 4) para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri, 5) memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis, 6) mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru, 7) pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalistis, 8) pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat Hasil belajar pada penelitian ini berupa selisih nilai pre test dan post test. Kelompok kontrol dan eksperimen sebelum mendapatkan pembelajaran, dikenai pre test untuk mengetahui bahwa kedua kelompok tersebut berangkat dari kondisi yang sama, kemudian setelah pembelajaran dilakukan post test untuk mengetahui hasil belajar siswa. Hasil analisis uji-t disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil Uji-t Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan Kontrol Kelompok Ratarata Dk t hitung t tabel Kontrol 10,51 68 6,062 1,995 Berbeda secara Eksperimen 23,085 Signifikan Hasil analisis data selisih pre test dan post test menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik dari pada kelompok kontrol. Berdasarkan pada Tabel 6. t hitung yang dihasilkan sebesar 6,062 dan t tabel sebesar 1,995, sehingga t tabel < t hitung dan Ho ditolak. Karena t hitung berada pada daerah penolakan Ho maka dapat disimpukan bahwa rata-rata selisih pre test dan post test kelompok eksperimen lebih baik dari pada kelompok kontrol. Perbedaan yang signifikan pada hasil kognitif siswa disebabkan karena adanya perbedaan proses pembelajaran yang dilakukan pada kelompok kontrol dengan eksperimen. Siswa kelas eksperimen lebih berminat dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran, sehingga pemahaman terhadap tema bunyi meningkat, hal tersebut menyebabkan rata-rata nilai kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Pembelajaran pada kelas kontrol meskipun sama-sama menggunakan metode diskusi, tetapi tidak menggunakan media clue in puzzle. Siswa mengerjakan LDS dengan bntuan LKS yang dimiliki siswa dengan gambar yang terdapat pada LKS tidak berwarna, berukuran kecil dan tidak begitu jelas. Hal ini membuat siswa semakin kurang tertarik mengerjakan LDS, ditambah buku acuan yang dimiliki juga kurang menarik perhatian siswa. Adanya fakta tersebut berakibat siswa dalam memahami materi dan mengerjakan LDS kurang maksimal. Hal ini yang membuat hasil belajar kelas kontrol lebih kecil dibandingkan kelas eksperimen. Penggunaan media clue in puzzle pada saat pembelajaran dengan model STAD mampu meningkatkan hasil belajar siswa, karena hasil belajar yang diperoleh melalui hasil diskusi akan lebih melekat kuat pada ingatan siswa. Pembelajaran menggunakan metode STAD pada kelas eksperimen mendorong siswa untuk lebih bekerjasama dengan anggota kelompoknya. Siswa antar

A. Kurniawati, W. Isnaeni, N.R. Dewi / JPII 2 (2) (2013) 149-155 155 kelompok berkompetensi untuk menyelesaikan puzzle dan menjawab soal dalam LDS. Media clue in puzzle dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menyampaikan informasi dalam bentuk yang menarik dan mudah dimengerti. Pada akhirnya pengalaman belajar yang didapat dapat melekat dalam memori siswa untuk waktu yang lama, sehingga siswa akan lebih mudah untuk mengingat kembali saat mengerjakan tes. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, dapat diambil simpulan yaitu hasil penilaian pakar materi dan pakar media mencapai kriteria sangat baik dan layak digunakan dalam pembelajaran pada tema bunyi. Keaktifan peserta didik yang memperoleh pembelajaran menggunakan media clue in puzzle lebih baik dan lebih meningkat dibandingkan keaktifan peserta didik yang tidak memperoleh pembelajaran menggunakan media clue in puzzle. Saran dalam penelitian ini yaitu pada saat pemilihan gambar sebaiknya memilih gambar yang memiliki warna cerah dan tidak terlalu rumit. Ketika melakukan pemotongan puzzle sebaiknya memperhatikan presisi tulisan, agar tidak menghalangi kata. Pada saat aplikasi media di sekolah sebaiknya guru lebih memperhatikan waktu pembelajaran agar media dapat digunakan semaksimal mungkin. DAFTAR PUSTAKA Arsyad, A. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Chalmers, D. J. 2011. Frege s Puzzle and the Objects of Credence. Australian National University Journal, 120 (479): 1-49. Lestari, A.W. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA SMP Berbasis Kooperatif Tipe STAD pada Tema Metamorfosis di SMP Giki 3 Surabaya. Jurnal Pendidikan Sains, 1 (1): 1-8. Meltzer, D. E. 2002. The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gain in Physics: hidden variable in Diagnostic Pretest Scores. American Journal of Physics, 70 (12): 1259-1267. Muhson, A. 2010. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indosesia, 8 (2): 1-10. Rahayu, P. 2012. Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Base Melalui Lesson Study. JPII, 1 (1): 63-70. Situmorang, M.A. 2012. Meningkatkan Kemampuan Memahami Wacana Melalui Media Pembelajaran Puzzle. Jurnal Bahasa, 1(1): 5-6. Sutiarso, S. 2009. Komputer sebagai Media Pembelajaran Matematika. JPMIPA, 10 (1): 1-10. Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka. Wali, E. 2008. Maintaining, Changing and Crossing Contex: on Activity theoretic Renterpretation of Mobile Learning. ALT-J, 16 (1): 41-57.