BAB 2 ARAH PENGEMBANGAN SEKTOR SANITASI Bagian ini akan menjelaskan secara singkat tentang gambaran umum situasi sanitasi Kabupaten Gunungkidul saat ini, Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten yang akan memberikan arahan tentang pembangunan sanitasi kabupaten lima tahun kedepan, Kebijakan umum sanitasi kabupaten saat ini dan arah ke depan serta tujuan dan sasaran pembangunan sektor sanitasi. 2.1. GAMBARAN UMUM KABUPATEN GUNUNGKIDUL 2.1.1. Kondisi Geografis Secara administratif, Kabupaten Gunungkidul masuk di dalam Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah di sebelah utara, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah di sebelah timur, Samudera Indonesia di sebelah selatan dan Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta di sebelah barat. Kabupaten Gunungkidul mempunyai 18 kecamatan dan 144 desa/kelurahan, 1431 dusun/padukuhan, 1583 RW, dan 6844 RT. Kecamatan Semanu merupakan kecamatan terluas dengan luas sekitar 108,39 km 2 atau sekitar 7,30 persen luas Kabupaten Gunungkidul. Berikut ini pembagian administrasi wilayah Kabupaten Gunungkidul. Tabel 2.1 Pembagian Administratif Wilayah Kabupaten Gunungkidul No Kecamatan Luas Wilayah (Km 2 ) Jumlah Desa Jumlah Dusun/Padukuhan 1. Panggang 99,80 6 44 2. Paliyan 58,07 7 50 3. Tepus 104,91 5 85 4. Rongkop 83,46 8 101 5. Semanu 108,39 5 106 6. Ponjong 104,49 11 119 7. Karangmojo 80,12 9 104 8. Wonosari 75,51 14 104 9. Playen 105,26 13 101 10. Patuk 72,04 11 72 11. Nglipar 73,87 7 53 12. Ngawen 46,59 6 66 13. Semin 78,92 10 116 14. Gedangsari 68,14 7 60 15. Saptosari 87,83 7 67 16. Girisubo 94,57 8 82 17. Tanjungsari 71,63 5 71 18. Purwosari 71,76 5 32 Total 1.485,36 144 1.431
2.1.2 Kependudukan Jumlah penduduk Kabupaten Gunungkidul menurut hasil perhitungan sementara Sensus Penduduk (SP) 2010 berjumlah 674,4 ribu jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 326,2 ribu jiwa dan perempuan sebanyak 348,2 ribu jiwa. Dari hasil SP 2010 tersebut, hampir separuh penduduk Kabupaten Gunungkidul berada di 6 Kecamatan yaitu Wonosari (11,67 %), Playen (8,06 %), Semanu (7,66 %), Ponjong (7,37 %), Semin (7,25 %) dan Karangmojo (7,22 %). Sex Rasio penduduk Kabupaten Gunungkidul hasil SP 2010 adalah sebesar 93,69 yang berarti jumlah penduduk laki-laki 6,3 persen lebih sedikit di bandingkan jumlah penduduk perempuan. Kecamatan dengan sex ratio paling tinggi adalah kecamatan Gedangsari yaitu sebesar 96,14 sedangkan yang paling rendah adalah kecamatan Tepus yaitu sebesar 90,92. Tabel 2.2 Struktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2010 No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Panggang 12.746 13.757 26.503 2 Purwosari 9.246 10.071 19.317 3 Paliyan 13.983 15.108 29.091 4 Saptosari 16.523 17.728 34.251 5 Tepus 15.181 16.697 31.878 6 Tanjungsari 12.330 13.315 25.645 7 Rongkop 12.964 13.915 26.879 8 Girisubo 10.511 11.610 22.121 9 Semanu 24.920 26.751 51.671 10 Ponjong 24.057 25.625 49.682 11 Karangmojo 23.477 25.200 48.677 12 Wonosari 38.476 40.247 78.723 13 Playen 26.301 28.083 54.384 14 Patuk 14.820 15.553 30.373 15 Gedangsari 17.228 17.920 35.148 16 Nglipar 14.422 15.268 29.690 17 Ngawen 15.345 16.159 31.504 18 Semin 23.697 25.174 48.871 Kabupaten Gunungkidul 326.227 348.181 674.408 Sumber : BPS Kabupaten Gunungkidul, 2010 2.1.3 Laju Pertambahan dan Kepadatan Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Gunungkidul hasil SP 2010 sebanyak 674,4 ribu jiwa, sedangkan jumlah penduduk hasil SP 2000 sebesar 670,4 ribu jiwa. Dengan demikian, dalam kurun waktu tahun 2000 2010, laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Gunungkidul sebesar 0,06 persen per tahun. Pertumbuhan penduduk ini tergolong rendah.
Tabel 2.3 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Gunungkidul No Kecamatan Jumlah Penduduk Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 1980 1990 2000 2010 1 Panggang 29.034 25.626 26.203 26.503 2 Purwosari 18.950 17.673 18.074 19.317 3 Paliyan 28.339 27.768 29.291 29.091 4 Saptosari 34.683 36.844 34.666 34.251 5 Tepus 34.431 32.440 33.135 31.878 6 Tanjungsari 25.156 25.134 25.674 25.645 7 Rongkop 27.651 26.766 28.406 26.879 8 Girisubo 25.284 21.803 23.141 22.121 9 Semanu 48.245 48.957 52.454 51.671 10 Ponjong 51.237 49.227 50.038 49.682 11 Karangmojo 52.185 50.519 48.709 48.677 12 Wonosari 65.474 70.753 73.886 78.723 13 Playen 52.271 51.302 52.244 54.384 14 Patuk 27.572 27.258 28.211 30.373 15 Gedangsari 35.075 35.371 36.158 35.148 16 Nglipar 30.277 30.189 29.146 29.690 17 Ngawen 27.579 28.895 30.768 31.504 18 Semin 48.046 48.844 50.229 48.871 Kab. Gunungkidul 661.489 655.369 670.433 674.408 Sumber: Gunung Kidul dalam Angka tahun 2009 Laporan Eksekutif Hasil Sensus Penduduk 2010 Kabupaten Gunungkidul Jika dilihat laju pertumbuhan penduduk per kecamatan yang tertinggi adalah Kecamatan Patuk yaitu sebesar 0,75 persen per tahun sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Rongkop yaitu sebesar -0,51 persen per tahun. Tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Patuk dikarenakan kecamatan Patuk berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan wilayah tersebut paling dekat dengan Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, sedangkan Kecamatan Rongkop yang laju pertumbuhannya -0,51 persen per tahun dikarenakan banyaknya penduduk yang keluar dari Kecamatan Rongkop untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan di daerah lain. Dengan luas wilayah 1.485,36 kilometer persegi yang didiami 674,4 ribu jiwa maka rata-rata kepadatan penduduk Gunungkidul adalah sebesar 454 jiwa/km2. Kecamatan yang paling tinggi kepadatannya adalah Kecamatan Wonosari sebesar 1.042 jiwa/km2 sedangkan Kecamatan yang paling rendah kepadatannya adalah Kecamatan Girisubo sebesar 234 jiwa/km2. Kecamatan Tabel 2.4 Kepadatan Penduduk Kabupaten Gunungkidul Luas Wilayah (km2) Banyaknya Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk per km2 Panggang 99.80 26503 266 Purwosari 71.76 19317 269 Paliyan 58.07 29091 501 Saptosari 87.83 34251 390
Tepus 104.91 31878 304 Tanjungsari 71.63 25645 358 Rongkop 83.46 26879 322 Girisubo 94.57 22121 234 Semanu 108.39 51671 477 Ponjong 104.49 49682 475 Karangmojo 80.12 48677 608 Wonosari 75.51 78723 1043 Playen 105.26 54384 517 Patuk 72.04 30373 422 Gedangsari 68.14 35148 516 Nglipar 73.87 29690 402 Ngawen 46.59 31504 676 Semin 78.92 48871 619 Kab.Gunungkidul 1485.36 674408 454 Sumber: BPS Kabupaten Gunungkidul, 2010 2.2. SKENARIO PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL 2.2.1 Visi dan Misi Visi pembangunan Kabupaten Gunungkidul adalah: Mewujudkan Gunungkidul yang lebih maju, makmur dan sejahtera. Sedangkan Misi Kabupaten Gunungkidul adalah : 1. Peningkatan pemanfaatan air sebagai sumber kemakmuran 2. Pemanfaatan sumber daya alam untuk menggerakan perekonomian daerah secara lestari. 3. Peningkatan pengelolaan pariwisata. 4. Pengembangan sumber daya manusia yang terampil, profesional dan peduli. 5. Peningkatan iklim usaha yang kondusif. 6. Peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan bebas dari KKN. 7. Peningkatan peluang investasi dan penggalangan sumber-sumber pendanaan. 2.2.2. Fungsi dan Peran Kota Berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam kebijakan Pembangunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DIY dan Program Pembangunan Daerah (Propeda) Provinsi DIY; wilayah Provinsi DIY dibagi menjadi 4 (empat) kawasan pengembangan, yaitu Kawasan Pengembangan Wilayah Barat, Wilayah Tengah, Wilayah Timur dan Pesisir. Dalam hal ini Kabupaten Gunungkidul termasuk dalam sebagian Kawasan Pengembangan Wilayah Timur. Kota Wonosari berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) untuk mendorong pertumbuhan wilayah belakangnya. Peran kota Wonosari adalah
sebagai pusat pelayanan, pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi untuk mendorong pertumbuhan wilayah belakangnya. Konsekuensi logis yang terjadi dalam sistem pusat pelayanan pengembangan dari alternatif Struktur Tata Ruang (terpilih) yang dapat dikembangkan, maka sistem pusat pelayanan yang diarahkan untuk kota-kota di Kabupaten Gunungkidul sebagai berikut: Tabel 2.5 Herarkhi dan Fungsi Kota No. Kota Hierarki Fungsi 1 Wonosari, I PKL I untuk regional Kabupaten Gunungkidul 2 Semin Playen Nglipar 3 Rongkop Karangmojo Semanu 4 Gedangsari Patuk Ngawen Ponjong Girisubo Tepus Saptosari Paliyan Purwosari Panggang Tanjungsari Sumber: RTRW Kabupaten Gunungkidul II II PKL II pengembangan simpul pelayanan perkotaan untuk Gunungkidul bagian barat dan timur. PKL II pengembangan pusat pelayanan perdesaan dan wilayah untuk Gunungkidul bagian selatan-barat, selatan-tengah dan selatan-timur. PKL pengembangan wilayah perdesaan
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH PROVINSI DIY KARTOMANTUL Greater Jogja Metropolitan area. fungsi dan peran sbg Pusat Kegiatan Nasional (PKN) 5 4 2 3 KOTA SLEMAN fungsi dan Peran sbg Pusat Kegiatan Wilayah KOTA BANTUL KOTA WATES 1 fungsi dan peran sbg Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Fungsi & peran sbg Pusat Kegiatan Lokal (PKL) 6 KEGIATAN INDUSTRI SENTOLO KOTA WONOSARI fungsi dan Peran Sbg Pusat Kegiatan Lokal (PKL) PUSAT PENGEMBANGAN WISATA PESISIR 7 8 PUSAT PENGEMBANGAN WILAYAH SUB PUSAT PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA-KOTA SATELIT 1 KAWASAN CAGAR BUDAYA KABUPATEN 2 KAWASAN PERKOTAAN INTENSITAS 3 KAWASAN CAGAR PERKAMPUNGAN 4 KAWASAN PENGEMBANGAN WILAYAH 5 PUSAT KAWASAN PENDIDIKAN 6 PUSAT WISATA PANTAI / 7 PUSAT WISATA INTERNATIONAL GEOWISATA 8 PUSAT PENGOLAHAN HASIL Gambar 2.1. Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi DIY 2.2.3. Arahan Pengembangan Struktur Kota 2.2.3.1 Hirarkhi Kota Hirarkhi kota-kota di wilayah Kabupaten Gunungkidul ditentukan berdasarkan tingkat pelayanan, jangkauan pelayanan dan fungsi kota yang terdiri dari : a. Hirarkhi I : Wonosari, b. Hirarkhi II : Semin, Playen, dan Nglipar c. Hirarkhi : Gedangsari, Patuk, Ngawen, Ponjong, Girisubo, Tepus, Saptosari, Paliyan, Purwosari, Panggang, dan Tanjungsari.
9140000 9130000 9120000 9110000 9100000 Ke Parangtritis 430000 440000 KAB. SLEMAN 450000 Serut Sam pang 460000 KAB. KLATEN Ke Bayat W atugajah Tegalrejo Tancep Jurangjero 470000 Ke Klaten KAB. SUKOHARJO Ke Sukoharjo Sam birejo 480000 9140000 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL PENINJAUAN KEMBALI (REVIEW) RTRW KABUPATEN GUNUNGKIDUL Girijati Girijati Giriasih Giric ahy a PURWOSARI U Patuk PATUK Salam Giritirto PALIYAN Giripurwo Ke Imogiri Giriharjo Giriw ungu 0 5 10 Km II KAB. BANTUL W onosari Kepek % Selang WONOSARI Siram an I NGAWEN Kam pung KARANGMOJO Karangm ojo W iladeg Ngipak Kelor Genjahan PANGGANG Mulus an Pac arejo SEMANU Gom bang Karangasem W unung Girim uly o Gesing Giris uk o Girik arto Giris ek ar Ke Yogyakarta Sem oya Ke Dlingo Bany us oco Kram bilsawit Pengk ok Bleberan Jetis Ngleri Getas Karangduw et Ngloro Beji SAPTOSARI Kepek Kanigoro Ngoro-oro Nglanggeran Putat Grogol II Bunder Banaran Ngunut Dengok I Monggol Planjan Terbah Ngaw u PLAYEN Plem butan Pam pang Nglegi Gading Bandung Giring Playen W areng Sodo Kem adang Ngalang Pulutan GEDANGSARI Hargom ulyo Logandeng Mulo Gari Pengk ol Piyam an Kem iri TANJUNGSARI Kedung Keris Karangrejek II Duw et Banjarejo Mertelu Kedung Poh Karangtengah Baleharjo Hargos ari Ngestirejo Sidoharjo Pilangrejo NGLIPAR Nglipar Bejiharjo Bendungan I TEPUS Sem anu Natah Katongan Ngaw is Candirejo Sum berwungu Beji W atusigar Gedangrejo Ngeposari Jatiayu I Kalitek uk Sidorejo Dadapayu Giripanggung Bendung Kem ejing Um bulrejo Sum berejo Sem in Petir SEMIN Saw ahan Sum bergiri PONJONG Ponjong Bedoyo Puc anganom Bulurejo II Karangasem Pundungsari Sem ugih Kenteng RONGKOP Pringom bo Candirejo Rejos ari Karangsari Tam bakrom o II Ke Pracimantoro Karangwuni Melikan Ke Wonogiri Ke Eromoko KAB. WONOGIRI Ke Pracimantoro 9130000 9120000 9110000 PETA HIERARKI KOTA-KOTA Keterangan : Ibukota Desa Ibukota Kecamatan % Ibukota Kabupaten Jalan Nasional Jalan Propinsi Jalan Kabupaten Batas Propinsi Batas Kabupaten Batas Kecamatan Batas Desa/Kelurahan Pusat Pelayanan Hierarki Pusat Pelayanan I Hierarki Pusat Pelayanan II Hierarki Pusat Pelayanan Botodayaan Propinsi D.I. Yogyakarta Kab. Sleman Kota Yogyakarta Kab. Kulon Progo Kab. Bantul Kab. Gunungkidul Samudera Hindia Ngobaran Baron Ngrenehan Kukup Sepanjang Drini Krakal Sundak SAMUDERA HINDIA Tepus Siung Purw odadi Balong Bohol Karangawen Nglindur Jeruk wudel GIRISUBO Jepitu Tileng Puc ung Wediombo Ke Pracimantoro Ke Pracimantoro Songbanyu 9100000 PETA DASAR SUMBER T E M A T I K Peta R upa Bum i Indones ia, skala 1 : 25.000, tahun 1999 Bappeda Kabupaten Gunungkidul Ngungap Sadeng K O D E : AK - 03B NOMOR : 45 430000 440000 450000 460000 470000 480000 JUMLAH : Gambar 2.2. Rencana Struktur Kabupaten Gunungkidul 2.2.3.2. Pembagian Kawasan Pengembangan Kabupaten Gunungkidul Dalam pengembangan wilayahnya Kabupaten Gunungkidul dibagi kedalam 6 wilayah pengembangan sebagai mana tercantum dalam tabel berikut. Tabel 2.6. Satuan Kawasan Pengembangan No. 1 2 Satuan Kawasan Pengembangan Baturagung Barat Baturagung Timur Cakupan Wilayah Luas Wilayah (Ha) Gedangsari Barat 6.215,3 Patuk 7.054,9 Nglipar Barat 2.881,8 Playen Barat 2.051,6 Wonosari Barat 458,0 Gedangsari Timur 838 Karangmojo Utara 1.704 Ngawen 5.033 Nglipar Timur 4.413 Ponjong Utara 2.374 Semin 8.070,3 Wonosari Utara 4,3
3 Ledok Wonosari 4 Karst Gunung Sewu Barat 5 Karst Gunung Sewu Tengah 6 Karst Gunung Sewu Timur Karangmojo Selatan 6.144,3 Nglipar Selatan 13,2 Paliyan Utara 2.908,0 Panggang 319,8 Playen Timur 8.545,0 Ponjong Selatan 2.588,3 Semanu Barat 7.074,4 Tanjungsari Utara 53,0 Wonosari Tengah 6.511,7 Paliyan Barat 479 Panggang Barat 8.919 Playen Barat 65 Purwosari 6.902 Saptosari Barat 682 Paliyan Selatan 2.646 Panggang Timur 258 Saptosari Timur 8.314 Semanu Selatan 1.154 Tanjungsari Selatan 7.349 Tepus Barat 7.277 Wonosari Selatan 514 Girisubo 9.293 Karangmojo Selatan 116 Ponjong Selatan 5.864 Rongkop 8.059 Semanu Tenggara 1.967 Tepus Timur 3.292 2.3. GAMBARAN UMUM SITUASI SANITASI Paparan tentang gambaran umum situasi sanitasi kota merupakan ringkasan dari Buku Putih Sanitasi Kabupaten Gunungkidul yang menggambarkan tentang kondisi sanitasi kabupaten saat ini. Terdiri dari gambaran umum sub sektor air limbah domestik, sub sektor persampahan, sub sektor drainase lingkungan dan sektor air bersih. 2.3.1. Sektor Air Limbah Kondisi umum penanganan limbah cair rumah tangga di Kabupaten Gunungkidul adalah mempergunakan sistem setempat (onsite system) berupa septic tank, namun juga dijumpai penggunaan cubluk di beberapa tempat. Sampai saat ini Kabupaten Gunungkidul belum memiliki sistem pengolahan air limbah terpusat berupa IPAL maupun IPLT dikarenakan kondisi daerah yang tidak
memungkinkan untuk dibangun sistem ini. Walaupun demikian, dibeberapa lokasi sudah dibangun sistem komunal untuk melayani satu kawasan pemukiman, pondok pesantren maupun industri tahu melalui program sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas) dan IPAL komunal. Permasalahan yang dihadapi oleh Kabupaten Gunungkidul dalam pengelolaan air limbah adalah : a. Belum ada peraturan daerah yang mengatur secara khusus penanganan air limbah di Kabupaten Gunungkidul b. Kabupaten Gunungkidul belum memiliki master plan pengelolaan air limbah c. Kabupaten Gunungkidul belum memiliki IPLT d. Konstruksi septic tank yang ada di Kabupaten Gunungkidul sebagian besar belum memenuhi kriteria teknis yang ada e. Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Gunungkidul belum memahami dan menyadari pentingnya pengelolaan air limbah 2.3.2. Sektor Persampahan Penanganan limbah padat/persampahan di Kabupaten Gunungkidul sudah menjangkau beberapa wilayah di sekitar ibu kota kabupaten yaitu kota Wonosari. Volume sampah yang dihasilkan di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2009 sebanyak 103 m 3 /hari. Dari volume sampah sebanyak itu, sekitar 72% diangkut ke TPA yang berada di Dusun Wukirsari, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 28% di kelola sendiri oleh masyarakat dengan dipilah untuk dimanfaatkan kembali, dibakar maupun ada juga yang dibuang di sungai. Permasalahan yang dihadapi Kabupaten Gunungkidul dalam pengelolaan sampah adalah : a. Kabupaten Gunungkidul belum memiliki master plan pengelolaan sampah b. Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah masih rendah c. Jumlah armada pengangkutan terbatas, sehingga belum mampu mengangkut semua sampah d. Sistem pengambilan sampah masih bersifat langsung ke rumah-rumah dan belum dilakukan pemilahan e. Jenis TPA yang dipakai masih mempergunakan sistem open dumping f. Luas lahan TPA sekarang ini sudah tidak mencukupi 2.3.3. Sektor Drainase Lingkungan Sistem drainase di Kabupaten Gunungkidul memanfaatkan topografi yang cukup terjal dan berbukit-bukit. Dengan kondisi seperti itu, air hujan yang jatuh dapat mengalir dengan lancar menuju
14 sungai yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Selain itu kondisi tanah di wilayah ini yang sebagian berupa karst menyebabkan air hujan mudah terserap ke dalam tanah melalui pori-pori maupun celah di dalam tanah. Untuk memaksimalkan penyerapan air hujan maka dibangun embung, sumur resapan dan biopori terutama untuk wilayah padat penduduknya. Permasalahan pengelolaan drainase yang dihadapi Kabupaten Gungkidul adalah : Belum ada peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan drainase di Kabupaten Gunungkidul Kabupaten Gunungkidul belum memiliki master plan pengelolaan drainase Saluran drainase yang ada belum melayani seluruh wilayah Pemeliharaan saluran drainase belum dilaksanakan dengan baik 2.3.4. Sektor Air Bersih Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah yang setiap tahunnya mengalami bencana kekeringan hidrolis akibat keterbatasan akses terhadap air bersih. Pada tahun 2006 tercatat 57 desa di Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah rawan air dan bertambah luas pasca gempa bumi pada tahun 2006 dengan adanya desa baru yang meminta droping air karena ada beberapa mata air yang tidak lagi berfungsi di wilayah Patuk dan Gedangsari. Pada saat sekarang, cakupan pelayanan dari PDAM Tirta Handayani Kabupaten Gunungkidul adalah 64,39% atau sekitar 467.186 jiwa yang terdapat di 17 Kecamatan, 99 Desa, 791 Padukuhan. Padahal dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Gunungkidul 2005-2010, target pemenuhan kebutuhan air bersih sebesar 85% untuk perkotaan dan 65% untuk pedesaan. Selain mempergunakan sistem Penampungan Air Hujan (PAH), masyarakat juga dilibatkan dalam pembangunan penyediaan air bersih melalui Sistem Penyediaan Air Minum Pedesaan (SPAMDES) yang tergabung dalam PAMASKARTA (Paguyuban Air Minum Masyarakat Yogyakarta). Di Kabupaten Gunungkidul terdapat sekitar 97 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tergabung dengan SPAMDES dengan jumlah layanan 17.868 KK atau 63.829 jiwa. Permasalahan yang dihadapi di dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Gunungkidul adalah sebagai berikut : a. Jumlah sumber air seperti mata air dan sungai sangat terbatas, hal ini disebabkan kondisi daerah berupa pegunungan karst yang menyebabkan air mudah meresap dalam tanah dan membentuk sungai bawah tanah sehingga menyulitkan masyarakat untuk mengambil air. b. Letak pemukiman yang berjauhan dan kondisi daerah yang berbukit-bukit menyulitkan di dalam distribusi air bersih (jaringan perpipaan, mobil tangki air, pembangunan PAH) dan untuk pembuatan sistem perpipaan akan memerlukan investasi yang besar.
c. Sistem pengaliran air bersih dengan mempergunakan pompa menyebabkan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk operasional PDAM Tirta Handayani d. Debit sumber air baku pada musim kemarau mengalami penurunan yang cukup banyak sehingga sebagian pelanggan PDAM dan PAMASKARTA yang tidak teraliri air bersih sedangkan untuk masyarakat yang tidak memiliki sumber air, mereka terpaksa harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. e. Kualitas air baku yang ada secara umum belum memenuhi persyaratan kualitas air bersih 2.4 VISI DAN MISI SANITASI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Visi misi sanitasi telah dirumuskan untuk memberi arahan bagi pengembangan sanitasi Kabupaten Gunungkidul dalam rangka mencapai visi misi kabupaten. Sandingan visi, misi kabupaten dan visi misi sanitasi dapat dilihat dalam table berikut. Visi dan Misi Kabupaten Gunungkidul Visi Mewujudkan Gunungkidul yang lebih maju, makmur dan sejahtera. Misi 1. Peningkatan pemanfaatan air sebagai sumber kemakmuran 2. Pemanfaatan sumber daya alam untuk menggerakan perekonomian daerah secara lestari. 3. Peningkatan pengelolaan pariwisata. 4. Pengembangan sumber daya manusia yang terampil, profesional dan peduli. 5. Peningkatan iklim usaha yang kondusif. 6. Peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan bebas dari KKN. 7. Peningkatan peluang investasi dan penggalangan sumber-sumber pendanaan Visi dan Misi Sanitasi Visi Terwujudnya sanitasi yang baik menuju Gunungkidul yang lebih sehat. Misi 1. Meningkatkan kemandirian dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sanitasi 2. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana sanitasi 3. Meningkatkan cakupan dan kualitas layanan sanitasi 4. Mengembangkan jejaring kerja dan kemitraan dalam pengelolaan sanitasi 5. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat 2.5. KEBIJAKAN UMUM DAN STRATEGI SEKTOR SANITASI KABUPATEN TAHUN 2011-2015. Mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Gunungkidul Tahun 2010-2014 maka arah kebijakan umum dan strategi pembangunan sektor sanitasi mengacu kepada arah kebijakan umum dan strategi pembangunan Kabupaten Gunungkidul sebagai berikut:
2.5.1 Kebijakan Umum terkait pembangunan sektor sanitasi a. Bidang Sosial Budaya 1. Kebijakan dalam urusan pendidikan diarahkan pada meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan sanitasi 2. Kebijakan dalam urusan kesehatan diarahkan pada meningkatkan upaya lingkungan yang sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat, 3. Kebijakan dalam urusan kesehatan diarahkan pada meningkatkan kapasitas sistem, organisasi dan individu dalam meningkatkan kesehatan masyarakat Kabupaten Gunungkidul 4. Kebijakan dalam urusan kesehatan diarahkan pada meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat 5. Kebijakan dalam urusan kesehatan diarahkan pada meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, sehingga masyarakat mampu dapat mensubsidi masyarakat yang kurang mampu 6. Kebijakan dalam urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diarahkan pada meningkatkan pengarusutamaan gender (PUG) dalam pembangunan sanitasi 7. Kebijakan dalam urusan pemberdayaan masyarakat desa/kelurahan diarahkan pada memfasilitasi pengembangan masyarakat dan lembaga kelurahan dalam melaksanakan pembangunan sanitasi b. Bidang Ekonomi 1. Kebijakan dalam urusan penanaman modal diarahkan pada meningkatkan dukungan dari sisi SDM maupun infrastruktur sanitasi 2. Kebijakan dalam urusan penanaman modal diarahkan pada meningkatkan promosi potensi dan peluang investasi di sektor sanitasi c. Bidang Tata Ruang, Sarana dan Prasarana 1. Kebijakan dalam urusan penataan ruang diarahkan pada meningkatkan keterlibatan para pelaksana pembangunan dalam rencana pemanfaatan tata ruang sebagai dasar pelaksanaan pembangunan sanitasi d. Bidang Perumahan 1. Kebijakan dalam urusan perumahan diarahkan pada meningkatkan penataan lingkungan kawasan kumuh perumahan Kabupaten Gunungkidul e. Bidang Pekerjaan Umum 1. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada mewujudkan keterpaduan perencanaan pembangunan saluran drainase kota dengan perencanaan penataan ruang kota
2. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan dan memperhatikan relevansi kondisi kontur dalam perencanaan saluran drainase/gorong yang masih kurang diperhatikan 3. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan saluran drainase/gorong-gorong perkotaan dengan meningkatkan ketegasan sanksi dalam mengoptimalkan fungsi saluran drainase 4. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan kualitas dan kuantitas saluran drainase perkotaan di wilayah Kabupaten Gunungkidul 5. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada mewujudkan sistem jaringan dan manajemen pengolahan air baku secara terpadu 6. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan prasarana air minum 7. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana sanitasi kota melalui rencana induk sistem sanitasi Kabupaten Gunungkidul 8. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan sarana pengelolaan air limbah dalam skala komunitas 9. Kebijakan dalam urusan pekerjaan umum diarahkan pada meningkatkan kapasitas air minum. f. Bidang Komunikasi dan Informatika 1. Kebijakan dalam urusan komunikasi dan informatika diarahkan pada meningkatkan kerjasama pemerintah daerah dengan mass media dalam rangka penyebarluasan informasi pembangunan sanitasi. 2.3.2 Arah Strategi terkait pembangunan sektor sanitasi a. Strategi Bidang Sosial Budaya 1. Meningkatkan mutu pelayanan sanitasi dan pemberdayaan masyarakat 2. Memanfaatkan peluang pendanaan anggaran sanitasi dari Pemerintah Pusat dan Provinsi maupun dari banyak pihak yang peduli 3. Membebaskan biaya pelayanan sanitasi bagi masyarakat tidak mampu/miskin b. Strategi Ekonomi 1. Memfasilitasi iklim kondusif untuk investasi sektor sanitasi c. Strategi Sarana dan Prasarana 1. Memelihara kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayanan publik
2. Mengoptimalkan potensi hubungan kerjasama antar daerah dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk peningkatan pelayanan publik. 2.6. SASARAN UMUM DAN ARAHAN TAHAPAN PENCAPAIAN Tujuan umum pembangunan sektor sanitasi Kabupaten Gunungkidul tahun 2010 2014 adalah untuk mendukung pencapaian Visi dan Misi Sanitasi Kota yang juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan arah dan tujuan pembangunan Kabupaten Gunungkidul sebagaimana tertuang dalam dokumen RPJMD Kabupaten Gunungkidul. a. Tujuan Sektor Sanitasi - Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sanitasi terutama dalam perihal air limbah, persampahan, drainase dan air bersih - Tersedianya sarana dan prasarana sanitasi yang mampu menjangkau seluruh masyarakat - Peningkatan cakupan layanan sanitasi di seluruh wilayah kabupaten - Mengembangkan keterlibatan sektor swasta dalam pengelolaan sanitasi - Merubah perilaku masyarakat Gunungkidul untuk hidup bersih dan sehat. b. Sasaran Sektor Sanitasi - Tersedianya perencanaan pengelolaan sektor sanitasi skala kabupaten yang terintegrasi dan berkelanjutan. - Meningkatnya cakupan layanan sektor sanitasi melalui peningkatan sarana prasarana sanitasi yang memadai. - Meningkatnya kemandirian dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sektor sanitasi - Meningkatnya jejaring kerja dan kemitraan dalam pengelolaan sanitasi - Meningkatnya peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan kota dalam peningkatan efektivitas pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. c. Arahan pentahapan pencapaian sektor sanitasi Arahan pentahapan pencapaian pembangunan sektor sanitasi disusun berdasarkan pilihan sistem dan penetapan zona sanitasi dengan mempertimbangkan: - Arah pengembangan kota yang merupakan perwujudan dari visi dan misi Kabupaten Gunungkidul dalam jangka panjang - Kepadatan penduduk Kabupaten Gunungkidul - Kawasan beresiko sanitasi - Kondisi fisik wilayah (topografi dan struktur tanah)