BAB I PENDAHULUAN... 2 BAB II METODOLOGI DAN LANGKAH SURVEI EHRA Penentuan Target Area Survei... 4

dokumen-dokumen yang mirip
STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA BONTANG TAHUN 2015

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN BANJARNEGARA. Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

L a p o r a n S t u d i E H R A K a b. T T U Hal. 1

Ringkasan Studi EHRA Kabupaten Malang Tahun 2016

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA BONTANG

KATA PENGANTAR. Wassalamu alaikum Wr. Wb.

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN SAMPANG. Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Sampang

KATA PENGANTAR. Bontang, November 2011 TIM STUDI EHRA KOTA BONTANG. Laporan Studi EHRA Kota Bontang

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Survey EHRA Kabupaten Jayapura 2012

LAPORAN STUDI EHRA (Environmental Health Risk Assessment) KABUPATEN POSO PROVINSI SULAWESI TENGAH

Pelaksanaan pengumpulan data lapangan dan umpan balik hasil EHRA dipimpin dan dikelola langsung oleh Kelompok Kerja (Pokja) PPSP Kabupaten Pohuwato.

Studi EHRA dipandang perlu dilakukan oleh Kabupaten/kota karena:

LAPORAN. PENILAIAN RESIKO KESEHATAN LINGKUNGAN/ EHRA (Environmental Health Risk Assessment)

LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON

LAPORAN STUDI EHRA POKJA SANITASI KABUPATEN WAY KANAN

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA TERNATE TAHUN 2014

BAB 5 BUKU PUTIH SANITASI 2013

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA SABANG. Kelompok Kerja Sanitasi Kota Sabang

( ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESMENT ) KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN KLATEN

LAPORAN STUDI EHRA (Environmental Health Risk Assessment)

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS KESEHATAN Jalan Jemursari No. 197 SURABAYA 60243

BAB 3 HASIL STUDI EHRA TAHUN 2013 KABUPATEN MOJOKERTO 3.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN TAPIN

3.1. KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA/RESPONDEN

1.2 Maksud. 1.3 Tujuan dan Manfaat. 1.4 Pelaksana Studi EHRA

LAMPIRAN I DOKUMEN PEMUTAKHIRAN SSK KABUPATEN TANAH DATAR 2015

KATA PENGANTAR. Bantaeng, 7 Desember 2016 Pokja AMPL/Sanitasi Kabupaten Bantaeng Ketua, ABDUL WAHAB, SE, M.Si Sekretaris Daerah

DAFTAR ISI RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI... 1 DAFTAR SINGKATAN DAFTAR TABEL... 2 DAFTAR GRAFIK... 6 DAFTAR FOTO

BAB V INDIKASI PERMASALAHAN DAN POSISI PENGELOLAAN SANITASI

LAPORAN STUDI EHRA(Environmental Health Risk Assessment)

LAPORAN AKHIR STUDI EHRA (Environmental Health Risk Assessment) Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan TAHUN 2015 KABUPATEN NGAWI

Laporan Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan

LAPORAN PEMUTAKHIRAN STUDI EHRA (Environmental

KATA PENGANTAR LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN BANGGAI 2014

Laporan Study EHRA Kota Lhokseumawe Utara

LAPORAN STUDI EHRA BANJARBARU

PROGRAM PERCEPATAN PEMBANGUNAN SANITASI PERMUKIMAN (PPSP) TAHUN (Environmental Health Risk Assessment) KABUPATEN SAMBAS

DISIAPKAN OLEH : POKJA AMPL/SANITASI KABUPATEN LAMPUNG BARAT

LAPORAN STUDI EHRA (ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESMENT) KABUPATEN KAPUAS HULU TAHUN 2013 BAB 1 PENDAHULUAN

Profil Sanitasi Wilayah

BAB I PENDAHULUAN. Latar belakang

LAPORAN STUDI EHRA (ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESMENT)

LAPORAN STUDI EHRA KABUPATEN TANA TORAJA BAB I PENDAHULUAN

Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) Tahun Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau

BAB. V Indikasi Permasalahan dan Posisi Pengelolaan Sanitasi Kabupaten Jembrana

Bab 3: Profil Sanitasi Wilayah

PENDAHULUAN. Bab Latar Belakang. BPS Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung

Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman Tahun 2013

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa pokok utama yang telah dicapai dengan penyusunan dokumen ini antara. lain:

Environmental Health Risk Assessment (EHRA) \ Penilaian Risiko Kesehatan karena Lingkungan

Panduan Praktis Pelaksanaan EHRA (Environmental Health Risk Assessment/Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan)

BAB I PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Grobogan Halaman 1 1

BAB 5: BUKU PUTI SANITASI KOTA BANJARBARU 5.1 AREA BERESIKO SANITASI. Hal 5-1

RINGKASAN EKSEKUTIF DIAGRAM SISTEM SANITASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK KABUPATEN WONOGIRI. (C) Pengangkutan / Pengaliran

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN KAPUAS. Kelompok Kerja Sanitasi/Pokja AMPL Kabupaten Kapuas

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang.

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA BANJARMASIN

LAMPIRAN I HASIL KAJIAN ASPEK NON TEKNIS DAN LEMBAR KERJA AREA BERISIKO

LAPORAN PENILAIAN RESIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA PADANG PANJANG

BAB I PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI KOTA CIREBON I - 1

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA PALANGKA RAYA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

LAPORAN STUDI Environmental Health Risk Assesment (EHRA) Kabupaten Sukabumi Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Sukabumi

Laporan Pelaksanaan dan Hasil STUDI EHRA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Toraja Utara RINGKASAN EKSEKUTIF

BAB IV STRATEGI PENGEMBANGAN SANITASI

BUKU SAKU VERIFIKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM)

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013 KATA PENGANTAR

PEMERINTAH KABUPATEN KARANGASEM. Bab.I Pendahuluan

BAB 2 Kerangka Pengembangan Sanitasi

BAB III PROFIL SANITASI WILAYAH

RINGKASAN EKSEKUTIF PEMUTAKHIRAN STRATEGI SANITASI KABUPATEN SUMBAWA BARAT 2016

STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN TAHUN

No. Kriteria Ya Tidak Keterangan 1 Terdapat kloset didalam atau diluar. Kloset bisa rumah.

LAPORAN STUDY EHRA KOTA GORONTALO. BULAN MEI 06-May-2013 KOTA GORONTALO ENVIROMENTAL HEALTH RISK ASSISMENT

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN TANGERANG PROVINSI BANTEN. Program Percepatan Pembangunan Sanitasi (PPSP) Tahun 2012 POKJA AMPL KABUPATEN TANGERANG

Bab I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

Panduan Praktis Pelaksanaan EHRA (Environmental Health Risk Assessment/Penilaian Risiko Kesehatan karena Lingkungan)

Pokja AMPL Kota Tangerang Selatan. Laporan EHRA Kota Tangerang Selatan. Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman Tahun

Pasir Pengaraian, Mei Bupati Rokan Hulu. H. Achmad, M.Si

EHRA. Laporan. Studi. Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu. Environmental Health Risk Assessment Study. Pokja Sanitasi Kabupaten Mukomuko

KATA PENGANTAR. Cimahi, 2015 Ketua Pokja AMPL Kota Cimahi (...)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

BAB I PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima

BAB V Area Beresiko Sanitasi

5.1. Area Beresiko Sanitasi

KATA PENGANTAR. Tarempa, September 2016 Ketua Pokja Studi EHRA Kabupaten Kepulauan Anambas SAHTIAR, SH, MM NIP

BAB 1 : PENDAHULUAN. memerlukan daya dukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsungan hidupnya.

2. Program Peningkatan Infrastruktur Air Limbah Domestik Sistem Setempat dan Sistem Komunal

LAPORAN STUDI EHRA (ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT)

Pertemuan Konsultasi dengan Tim Pengarah

BAB I PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Kapuas Hulu Tahun Latar Belakang

BAB III STRATEGI PERCEPATAN PEMBANGUNAN SANITASI. 3.1 Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengembangan Air Limbah Domestik

KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT

KEBUTUHAN DATA SEKUNDER PADA BAB 2

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BULUKUMBA NOMOR 70 TAHUN 2016 TENTANG PELAKSANAAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT

Transkripsi:

Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN... 2 BAB II METODOLOGI DAN LANGKAH SURVEI EHRA... 4 2.1 Penentuan Target Area Survei... 4 2.2 Penentuan Jumlah/Besar Responden... 6 2.3 Penentuan Kelurahan/kampung Area Survei... 6 2.4 Penentuan RT/RW Dan Responden di Lokasi Survei... 7 2.5 Pelaksanaan Survei EHRA... 8 BAB III KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA RESPONDEN... 9 BAB IV HASIL SURVEY EHRA KOTA JAYAPURA TAHUN 2012...14 4.1 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga...14 4.2 Pembuangan Air LImbah Domestik...19 4.3 Drainase Lingkungan Sekitar Rumah dan Banjir...25 4.4 Sumber Air...33 4.5 Perilaku Higiene...46 4.6 Kejadian Penyakit Diare...60 BAB V PENUTUP...63 LAMPIRAN...64 Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 1

BAB I PENDAHULUAN Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Untuk melihat kondisi sanitasi Kota Jayapura, diperlukan pengumpulan data, seperti pengumpulan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui survei Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan atau Environmental Health Risk Assessment (EHRA) Survey (selanjutnya disingkat menjadi Survei EHRA), sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi pustaka, data demografi dan geografi serta persepsi SKPD yang menangani sanitasi. Survei EHRA adalah sebuah survei partisipatif di tingkat kota yang bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat kota sampai ke kelurahan/kampung. Bagi Pemerintah Kota Jayapura Survei EHRA ini menjadi sangat penting karena: 1. Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat; 2. Data terkait dengan sanitasi terbatas dimana data umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat kelurahan/kampung dan data tidak terpusat melainkan berada di berbagai kantor yang berbeda; 3. Survei EHRA adalah survei yang menghasilkan data yang representatif ditingkat kota, distrik dan dapat dijadikan panduan dasar ditingkat kelurahan/kampung; 4. Survei EHRA menggabungkan informasi yang selama ini menjadi indikator sektor-sektor pemerintahan secara eksklusif; 5. Survei EHRA secara tidak langsung memberi amunisi bagi stakeholders dan warga di tingkat kelurahan/kampung untuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama warga atau stakeholders kelurahan/kampung. Adapun tujuan dan manfaat dari Survei EHRA adalah untuk: 1. Mendapatkan gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang beresiko terhadap kesehatan lingkungan; 2. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi; 3. Memberikan pemahaman yang sama dalam menyiapkan anggota tim survei yang handal; 4. Menyediakan salah satu bahan utama penyusunan Buku Putih Sanitasi dan Strategi Sanitasi Kota Jayapura. Untuk pengumpulan data lapangan dan umpan balik hasil Survei EHRA dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Kota Jayapura secara swakelola. Pengumpulan data Survei EHRA berkolaborasi dengan Tenaga Sanitarian Puskesmas di Kota Jayapura sebagai enumerator dengan pertimbangan antara lain: 1) tenaga sanitarian memiliki akses setempat, yaitu leluasa untuk datang kerumahrumah dan diterima oleh RT/RW dan warga penghuni rumah dan 2) tenaga sanitarian umumnya memahami wilayah kelurahan/kampung sehingga mempermudah mencari rumah yang terpilih secara acak. Selain itu dalam pelaksanaan Survei EHRA, enumerator dibimbing oleh supervisor dari Dinas Kesehatan Kota Jayapurapa dan saat pelaksanaan Survei EHRA dimaksud. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 2

Unit sampling utama (Primary Sampling) adalah warga RT (Rukun Tetangga). Unit sampling ini dipilih secara proporsional dan acak berdasarkan total RT di semua RW dalam setiap kelurahan/kampung yang telah ditentukan menjadi area survei. Jumlah sampel per kelurahan/kampung minimal setiap RT rata-rata 10 responden. Dengan demikian jumlah sampel per kelurahan/kampung bervariasi berkisar antara 40 sampai dengan 87 responden disesuaikan berdasarkan jumlah kepadatan penduduk di kelurahan/kampung. Pelibatan warga RT yaitu bapak (kepala rumah tangga) atau ibu atau anak yang sudah menikah, dan berumur antara 18 s/d 55 tahun sangat signifikan karena kelompok warga masyarakat tersebut sangat memahami kondisi lingkungan rumahnya. Pertanyaan-pertanyaan didalam kuesioner banyak mengandung hal-hal yang dalam norma masyarakat dinilai sangat privat dan sensitif, seperti tempat dan perilaku buang air besar (BAB). Fasilitas sanitasi yang diteliti mencakup, sumber air minum, layanan pembuangan sampah, jamban dan saluran drainase pembuangan air limbah. Sedangkan pada aspek perilaku dipelajari hal-hal yang terkait dengan higinitas dan sanitasi berupa cuci tangan pakai sabun, buang air besar, pembuangan kotoran anak dan sampah. Data hasil Survei EHRA diharapkan menjadi bahan untuk mengembangkan Buku Putih Sanitasi Kota Jayapura serta menjadi bahan masukan untuk mengembangkan strategi sanitasi dan program-program sanitasi kota. Laporan Survei EHRA ini merupakan dokumen awal sanitasi Kota Jayapura yang mengakomodasi masukan dari berbagai pihak khususnya Pokja AMPL Kota Jayapura sebagai pemilik utama kegiatan, SKPD Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Distrik, Kepala Kelurahan/Kampung, Supervisor Lapangan dan Tenaga Sanitarian. Masukan umpan balik dari Konsultasi Publik hasil Survei EHRA dan Buku Putih Sanitasi pada Bulan Desember 2012 untuk memperoleh masukan bagi penulisan laporan. Kegiatan pengumpulan data dimulai dari Bulan Mei sampai Juni Tahun 2012 difasilitasi oleh Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH) dalam penyelesaian laporan ini. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 3

BAB II METODOLOGI DAN LANGKAH SURVEI EHRA 2.1 Penentuan Target Area Survei Metode penentuan target area survei dilakukan secara geografi dan demografi melalui proses pembagian distrik (kecamatan). Hasil ini juga sekaligus bisa digunakan sebagai indikasi awal lingkungan beresiko. Proses pengambilan sampel dilakukan secara acak sehingga memenuhi kaidah Probability Sampling dimana semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Sementara metode sampling yang digunakan adalah Random Sampling. Teknik ini sangat cocok digunakan di Kota Jayapura mengingat area sumber data yang diteliti sangat luas. Pengambilan sampel didasarkan pada daerah populasi yang telah ditetapkan. berikut: Penetapan klaster dilakukan berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Program PPSP sebagai 1. Kepadatan penduduk yaitu jumlah penduduk per luas wilayah. Pada umumnya tiap kabupaten/kota telah mempunyai data kepadatan penduduk sampai dengan tingkat kecamatan dan kelurahan/kampung; 2. Angka kemiskinan dengan indikator yang datanya mudah diperoleh tapi cukup representatif menunjukkan kondisi sosial ekonomi setiap distrik dan/atau kelurahan/kampung. Sebagai contoh ukuran angka kemiskinan bisa dihitung berdasarkan proporsi jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1 dengan formula sebagai berikut: ( Pra-KS + KS-1) Angka kemiskinan = ---------------------------------- X 100% KK 3. Daerah/wilayah yang dialiri sungai/kali/saluran drainase/saluran irigasi dengan potensi digunakan sebagai MCK dan pembuangan sampah oleh masyarakat setempat; 4. Daerah terkena banjir dan dinilai mengangggu ketentraman masyarakat dengan parameter ketinggian air, luas daerah banjir/genangan, lamanya surut. Berdasarkan kriteria diatas, wilayah Kota Jayapura dalam perencanaannya menggunakan metode sistem pembagian wilayah menurut kelurahan/kampung, namun dalam pelaksanaannya menggunakan sistem pembagian wilayah menurut distrik. Dengan pertimbangan pembagian berdasarkan: 1) kepadatan penduduk, 2) kumuh kota, dan 3) kemiskinan. Berdasarkan asumsi ini maka hasil survei EHRA ini bisa memberikan peta area beresiko Kota Jayapura. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 4

Tabel 2.1 Hasil Pembagian Kelurahan/Kampung Survei EHRA di Kota Jayapura JMLH URUT KELURAHAN/KAMPUNG DISTRIK 40 Tobati Jayapura Sel atan 58 Argapura Jayapura Sel atan 80 Ardipura Jayapura Sel atan 71 Bha ya ngka ra Jayapura Uta ra 79 Entrop Jayapura Sel atan 78 Gurabes i Jayapura Uta ra 87 Hama di Jayapura Sel atan 74 Vim Jayapura Sel atan 60 Kota Ba ru Abepura 60 Wa hno Abepura 63 Wa imhorok Abepura 73 Tanjung Ria Jayapura Uta ra 63 Imbi Jayapura Uta ra 61 Numbay Jayapura Sel atan 53 Trikora Jayapura Uta ra Hasil pembagian wilayah kelurahan/kampung di Kota Jayapura yang terdiri atas 15 kelurahan/kampung menghasilkan distribusi sebegai berikut: 1. 4 kelurahan/kampung atau 24,9 %, 2. 3 kelurahan/kampung atau 24,4 %, 3. 4 kelurahan/kampung atau 25,7 %, dan 4. 4 kelurahan/kampung atau 25,0 %. Distribusi kelurahan/kampung tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1 Grafik distribusi kelurahan/kampung untuk penetapan lokasi Survei EHRA. 50 PRESENTASE JUMLAH RESPONDEN 40 30 20 10 24.9 24.4 25.7 25.0 0 1 2 3 4 Series1 24.9 24.4 25.7 25.0 Gambar 2.1 Grafik distribusi kelurahan/kampung untuk penetapan lokasi Survei EHRA Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 5

2.2 Penentuan Jumlah/Besar Responden Jumlah sampel untuk tiap kelurahan/kampung diambil sebesar 40 responden. Jumlah sampel per kelurahan/kampung minimal setiap RT rata-rata 10 responden yang dipilih secara acak dan mewakili semua RT yang ada dalam kelurahan/kampung tersebut. Berdasarkan kaidah statistik, untuk menentukan jumlah sampel minimum dalam skala kabupaten/kota digunakan Rumus Slovin sebagai berikut: Dimana: n adalah jumlah sampel N adalah jumlah populasi d adalah persentase toleransi ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir 5% (d = 0,05) Asumsi tingkat kepercayaan 95%, karena menggunakan α=0,05, sehingga diperoleh nilai Z=1,96 yang kemudian dibulatkan menjadi Z=2. Pokja AMPL Kota Jayapura menetapkan jumlah kelurahan/kampung yang dijadikan target area survei sebanyak 15 kelurahan/kampung, dengan jumlah responden sebanyak 1000 responden. 2.3 Penentuan Kelurahan/kampung Area Survei Setelah menghitung kebutuhan responden dengan menggunakan rumus Slovin di atas maka selanjutnya ditentukan lokasi Survei EHRA dengan cara memilih sebanyak 15 kelurahan/kampung secara acak. Hasil pemilihan ke-15 kelurahan/kampung tersebut disajikan pada Tabel 2.2 sebagai berikut: Tabel 2.2 Distrik dan Kelurahan/kampung Terpilih untuk Survei EHRA Kota Jayapura No Distrik Kelurahan/Kampung Terpilih Jumlah RW Jumlah RT Jml RT terpilih Jumlah Responden 1 Jayapura Selatan Tobati 1 3 1 40 2 Jayapura Selatan Argapura 8 31 6 58 3 Jayapura Selatan Ardipura 11 41 8 80 4 Jayapura Utara Bhayangkara 6 41 7 71 1 Jayapura Selatan Entrop 13 45 7 79 2 Jayapura Utara Gurabesi 9 40 7 78 3 Jayapura Selatan Hamadi 10 42 8 87 1 Abepura Vim 7 47 7 74 2 Abepura Kota Baru 10 31 6 60 3 Abepura Wahno 2 27 6 60 4 Abepura Waimhorok 6 30 6 63 Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 6

No Distrik Kelurahan/Kampung Terpilih Jumlah RW Jumlah RT Jml RT terpilih Jumlah Responden 1 Jayapura Utara Tanjung Ria 7 37 7 73 2 Jayapura Utara Imbi 9 35 6 63 3 Jayapura Selatan Numbay 5 23 6 61 4 Jayapura Utara Trikora 8 24 5 53 2.4 Penentuan RT/RW Dan Responden di Lokasi Survei Unit sampling primer atau Primary Sampling Unit (PSU) dalam Studi EHRA adalah RT. Karena itu, data RT per RW per kelurahan/kampung dikumpulkan sebelum memilih RT. Jumlah RT per kelurahan/kampung adalah 8 (delapan) RT. Untuk menentukan RT terpilih yang akan dilakukan survei dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: Pengurutan RT per RW per kelurahan/kampung. Menentukan Angka Interval (AI). Penentukan AI, setelah diketahui jumlah total RT total dan jumlah yang akan diambil. Jumlah total RT yang ada kelurahan/kampung : X. Jumlah RT yang akan disurvey : Y. Maka angka interval (AI) = jumlah total RT kelurahan/kampung dibagi jumlah RT yang akan disurvey. AI = X/Y (dibulatkan) misal pembulatan ke atas menghasilkan Z, maka AI = Z. Untuk menentukan RT pertama, diambil secara acak angka antara 1 Z (angka random). Sebagai contoh, angka random (R#1) yang diperoleh adalah 3. Untuk memilih RT berikutnya adalah 3 + Z=... dst. Responden dipilih dengan menggunakan cara acak (random sampling), hal ini bertujuan agar seluruh rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Artinya, penentuan rumah itu bukan bersumber dari preferensi enumerator dan supervisor ataupun responden itu sendiri. Penentuan responden menggunakan tahapannya sebagai berikut: Pergi ke RT terpilih. Minta daftar rumah tangga atau bila tidak tersedia, buat daftar rumah tangga berdasarkan pengamatan keliling dan wawancara dengan penduduk langsung. Bagi jumlah rumah tangga (misal 25) dengan jumlah sampel minimal yang akan diambil, misal 5 (lima) diperoleh Angka Interval (AI) = 25/5 = 5. Ambil/kocok angka secara random antara 1 AI untuk menentukan Angka Mulai (AM), contoh dibawah misal angka mulai 2. Menentukan rumah selanjutnya adalah 2 + AI, 2 + 5 = 7 dst. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 7

2.5 Pelaksanaan Survei EHRA Survei EHRA adalah survei yang relatif pendek dengan waktu 4 sampai 6 minggu dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu menggunakan teknik pengumpulan data berupa: 1) wawancara atau interview dan 2) pengamatan atau observasi. Wawancara dan pengamatan dilaksanakan oleh Sanitarian Kesehatan (disebut enumerator) yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh Pokja AMPL Kota Jayapura. Sebelum para enumerator melaksanakan pendataan diwajibkan mengikuti pelatihan selama 2 (dua) hari dengan materi 1) pelatihan dasar-dasar wawancara dan pengamatan, 2) pemahaman tentang instrumen Survei EHRA, 3) latar belakang konseptual dan praktis tentang indikator-indikator, 4) uji coba lapangan dan 5) diskusi perbaikan instrumen. Bahan analisis Survei EHRA menggunakan data kondisi sanitasi rumah tangga dan unit respondennya adalah warga RT. Warga RT khususnya ibu rumah tangga dipilih dengan asumsi bahwa mereka relatif lebih memahami kondisi lingkungan berkaitan dengan isu sanitasi dan lebih mudah ditemui dibanding bapak-bapak. Ibu-ibu yang menjadi responden dalam Survei EHRA usianya anatar 18-60 tahun baik yang sudah pernah menikah dan/atau yang sudah menikah. Pelaksanaan wawancara dan pengamatan menggunakan panduan yang terstruktur dan dirancang dapat diselesaikan dalam waktu 30-45 menit. Responden berhak memutuskan keikut-sertaannya secara suka rela dan sadar sebagai bagian dari informerd consent atau standar etika yang harus dilakukan oleh enumerator kepada responden demi kelangsungan wawancara. Untuk spot check sebagai quality control, dilakukan oleh supervisor dari Sanitarian Puskesmas dengan mendatangi 5% responden yang telah di survei untuk melakukan wawancara singkat dengan kuisioner yang telah disediakan serta kemudian menyimpulkan apakah wawancara benar-benar terjadi sesuai standar yang ditentukan. Pengerjaan entri data dilakukan oleh Tim Entri Data hasil Survei EHRA yang telah dibentuk dengan terlebih dahulu mengikuti pelatihan entri data Survei EHRA yang difasilitasi oleh Pokja AMPL Kota Jayapura dan Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH). Dana untuk kegiatan ini adalah bersumber dari dana Otsus pada Dinas Kesehatan Kota Jayapura. Selama pelatihan, tim entri data dikenalkan pada perangkat lunak yang digunakan serta langkah-langkah untuk uji konsistensi. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 8

BAB III KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA RESPONDEN Responden dalam Survei EHRA, seperti yang dipaparkan dalam bagian metodologi, difokuskan kepada warga RT setempat khususnya ibu atau perempuan yang telah menikah atau cerai atau janda yang berusia 18-60 tahun. Pembatasan usia ini diperlakukan secara fleksibel, terutama pada pelaksanaan survei yang dilakukan pada masyarakat. Hal ini tergantung pada penilaian Kader Kesehatan kelurahan/kampung sebagai enumerator yang banyak menentukan respondennya. Terkait dengan usia responden, bilamana ditemukan usia responden melebihi batas atas 55 tahun dan responden tersebut masih terlihat cukup merespon pertanyaan-pertanyaan dari enumerator, maka calon responden tersebut dipertimbangkan dapat masuk dalam perioritas responden. Sebaliknya, meskipun usia responden belum mencapai 55 tahun, apabila performa komunikasinya kurang memadai maka ibu itu dapat dikeluarkan dari daftar calon responden. Survei EHRA dalam karakteristik rumah tangga/responden menggunakan sejumlah variabel sosiodemografis dengan hal-hal yang terkait dengan status rumah di Kota Jayapura, anggota rumah tangga, usia anak yang termuda, status kepemilikan rumah, dan lahannya, serta ketersediaan kamar untuk disewakan. Hal ini dipelajari karena keterkaitannya yang cukup erat dengan masalah sanitasi. Jumlah anggota rumah tangga berhubungan dengan kebutuhan kapasitas sanitasi, semakin banyak jumlah anggota rumah tangga, makin besar pula kapasitas yang dibutuhkan. Usia anak termuda menggambarkan besaran populasi yang memiliki resiko paling tinggi atau yang kerap dikenal dengan istilah population at risk. Balita merupakan segmen populasi yang paling rentan terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (waterbome diseases), kebersihan diri dan lingkungan. Dengan demikian rumah tangga yang memiliki balita akan memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap masalah sanitasi dibandingkan rumah tangga yang tidak memiliki balita. Variabel yang terkait dengan status rumah, seperti kepemilikan dan ketersediaan kamar yang disewakan sangat diperlukan untuk memperkirakan potensi partisipasi warga dalam mengembangkan program sanitasi. Responden yang menempati rumah atau lahan yang bukan milik pribadi diduga kuat memiliki rasa memiliki (sense of ownership) yang rendah dan cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar termasuk pemeliharaan fasilitas sanitasi ataupun kebersihan lingkungan. Sebaliknya responden yang menempati rumah atau lahan yang milik pribadi akan cenderung mempunyai rasa memiliki yang lebih tinggi. Hasil kajian ini secara mendasar akan memberikan solusi pendekatan program yang berbeda pada setiap karakteristik yang berbeda pula. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 9

USIA RESPONDEN 3 25.0 24.3 PRESENTASE % 2 15.0 1 5.0 5.0 11.0 15.8 16.8 15.0 12.1 Presentase <= 20 tahun 21-25 tahun 26-30 tahun 31-35 tahun KELOMPOK UMUR 36-40 tahun 41-45 tahun > 45 tahun N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal B.1. Usia responden Gambar 3.1 Diagram Usia Responden Survei EHRA Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden berusia diatas 45 tahun yaitu sebesar 24.3%. Urutan kedua responden dengan usia 31 35 tahun yaitu 16.8%. Adapun responden banyak ketiga berusia 26 30 tahun, sekitar 15.8%. Responden dengan porsi terkecil yaitu usia kurang dari 20 tahun yaitu sebesar 5.0% dari total responden. PRESENTASE % 6 5 4 3 2 1 56.8 STATUS RUMAH RESPONDEN 5.2 2.6 Milik sendiri Rumah dinas Berbagi dengan keluarga lain 17.1 7.8 10.1 Sewa Kontrak Milik orang tua STATUS RUMAH SAAT INI Lainnya 0.4 Gambar 3.2 Status Rumah Responden N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal B.2. Status Rumah Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 10

Berdasarkan gambar di atas, status rumah yang dimiliki responden adalah untuk status rumah milik sendiri yaitu sebesar 56.8% dari total responden, disusul oleh status rumah sewa sebesar 17.1% pada urutan kedua. Urutan ketiga status rumah milik orang tua sebesar 10.1%. Status Rumah dinas menempati urutan keempat sebesar 5.2% dan status rumah lainnya dengan porsi terkecil yaitu sebesar 0.4%. 4 35.0 3 25.0 2 15.0 1 5.0 4.0 Tidak sekolah formal STATUS PENDIDIKAN RESPONDEN 20.2 19.7 N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal B.3. Status Pendidikan Responden SD SMP SMA SMK Gambar 3.3 Diagram Status Pendidikan Responden Universitas/A kademi % 4.0 20.2 19.7 33.6 9.1 13.4 33.6 9.1 13.4 Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu 33.6%, disusul oleh responden dengan pendidikan SD sebesar 20.2% dari total responden. Sedangkan untuk responden berpendidikan SMP menempati urutan ketiga sebesar 19.7%, urutan keempat pendidikan Universitas/Akademi sebesar 13.4%. Urutan terakhir ditempati responden tidak sekolah formal sebesar 4.0%. PRESENTASE (%) 9 8 7 6 5 4 3 2 1 82.1 Ya STATUS ANAK RESPONDEN Gambar 3.4 Diagram Kepemilikan Anak Responden Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 11 17.9 Tidak % 82.1 17.9

N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal B.4. Kepemilikan Anak Responden Berdasarkan gambar diatas, 82.1% responden memiliki anak dan sisanya yaitu 17.9% responden tidak memiliki anak. UMUR ANAK LAKI-LAKI RESPONDEN PRESENTASE (%) 4 35.0 3 25.0 2 15.0 1 5.0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 % 18.0 38.5 26.1 1 4.0 1.3 0.4 0.2 0.3 0.2 1.0 N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban jamak B.5. Jumlah anak laki-laki dengan kelompok umur Gambar 3.5 Diagram Umur Anak Laki-laki Responden Berdasarkan gambar diatas, untuk kepemilikan anak laki-laki yang berusia 2 tahun sebagian besar responden sebanyak 38.5%. Usia 3 tahun sebesar 26.1%. Untuk usia anak responden antara 5 11 tahun dibawah 4.0%. PRESENTASI (%) 4 35.0 3 25.0 2 UMUR ANAK PEREMPUAN RESPONDEN 28.3 36.7 21.4 15.0 1 6.3 4.2 5.0 1.1 0.8 0.4 0.2 0.4 0.2 0 1 2 3 4 5 6 7 8 10 11 % 28.3 36.7 21.4 6.3 4.2 1.1 0.8 0.4 0.2 0.4 0.2 Gambar 3.6 Diagram Umur Anak Perempuan Responden Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 12

N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban jamak B.6. Jumlah anak perempuan dengan kelompok umur Berdasarkan gambar diatas, untuk kepemilikan anak perempuan yang berusia 2 tahun yaitu sebesar 36.7%, diikuti responden yang memiliki anak umur 1 tahun sebanyak 28.3%. Responden yang memiliki anak perempuan berumur 3 tahun sebanyak 21.4%. Disusul responden yang memiliki anak umur 4 tahun sebanyak 6.3% serta responden yang memiliki anak perempuan umur 5 tahun sebanyak 4.2%. Untuk responden yang memilki anak perempuan berumur antara 6 11 tahun presentasinya dibawah 1.1%. 3 JUMLAH ANAK LAKI-LAKI & PEREMPUAN YANG ADA DALAM RUMAH 25.0 PRESENTASE (%) 2 15.0 1 25.8 20.5 17.9 11.6 5.0 6.9 6.3 4.6 1.9 0.8 1.2 1.1 0.4 0.2 0.3 0.2 0.1 0.1 0.1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 % 6.9 17. 25. 20. 11. 6.3 4.6 1.9 0.8 1.2 1.1 0.4 0.2 0.3 0.2 0.1 0.1 0.1 Gambar 3.7 Diagram Umur Anak Laki-laki dan Anak Perempuan Responden N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban jamak B.7. Jumlah anak perempuan dengan kelompok umur Berdasarkan gambar diatas, untuk jumlah anak laki-laki dan anak perempuan responden yang berusia 2 tahun yaitu sebesar 25.8%, diikuti responden yang memiliki anak laki-laki dan perempuan umur 3 tahun sebanyak 20.5%. Responden yang memiliki anak laki-laki dan perempuan berumur 1 tahun sebanyak 17.9%. Disusul responden yang memiliki anak umur 4 Tahun sebanyak 11.6 % serta responden yang memiliki anak laki-laki dan anak perempuan umur 0 tahun sebanyak 6.9%. Untuk responden yang memilki anak laki-laki dan anak perempuan berumur antara 6 21 tahun presentasinya dibawah 4.6%. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 13

BAB IV HASIL SURVEY EHRA KOTA JAYAPURA TAHUN 2012 Pelaksanaan Survei EHRA dilakukan dalam rangka untuk mengidentifikasi kondisi terkini sarana sanitasi yang ada ditingkat masyarakat serta perilaku masyarakat terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Indikator penentuan tingkat resiko kesehatan masyarakat didasarkan pada: 1) sumber air, 2) pembuangan air limbah domestik, 3) pengelolaan sampah rumah tangga, 4) genangan air dan 5) perilaku hidup bersih dan sehat. 4.1 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Sampah merupakan masalah yang sangat memprihatinkan terutama sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga yang semakin hari semakin komplek permasalahannya dan tidak bisa ditangani dengan sistem persampahan yang ada. Maka untuk menangani limbah sampah rumah tangga terutama pada skala kota perlu adanya peran serta masyarakat. Pengelolaan sampah sangat penting dilakukan ditingkat rumah tangga dengan melakukan pemilahan sampah dan pemanfaatan atau penggunaan ulang sampah, misalnya sampah dijadikan bahan baku kerajinan atau dijadikan kompos. Seperti yang telah dilakukan di Kelurahan Hamadi dimana sampah rumah tangga dikelola oleh ibu rumah tangga selaku pengelola sampah tingkat rumah tangga. Permasalahan persampahan yang dipelajari dalam survei EHRA antara lain: 1) cara pembuangan sampah, 2) frekuensi dan pendapat tentang ketepatan pengangkutan sampah bagi rumah tangga yang menerima layanan pengangkutan sampah, 3) praktek pemilahan sampah dan 4) penggunaan wadah sampah sementara di rumah. Sisi layanan pengangkutan juga dilihat dari aspek frekuensi atau kekerapan dan ketetapan waktu pengangkutan. Sebuah rumah tangga yang menerima pelayanan pengangkutan sampah, tetap memiliki resiko kesehatan tinggi bila frekuensi pengangkutan sampah terjadi lebih lama dari satu minggu sekali. Ketepatan pengangkutan sampah digunakan untuk menggambarkan seberapa konsisten ketetapan tentang frekuensi pengangkutan sampah yang berlaku. Enumerator dalam kegiatan Survei EHRA diwajibkan untuk mengamati wadah penyimpanan sampah di rumah tangga. Berikut adalah pemaparan secara rinci data yang diperoleh tentang pengelolaan sampah rumah tangga ditingkat kelurahan/kampung di Kota Jayapura. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 14

KONDISI SAMPAH DILINGKUNGAN RUMAH 4 2 38.2 24.3 29.1 32.0 14.6 10.6 14.3 5.8 13.3 N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban jamak C.1. Kondisi Sampah di Lingkungan Gambar 4.1 Diagram Kondisi Sampah di Lingkungan Berdasarkan gambar diatas, banyaknya sampah dilingkungan sebesar 38.2%, banyak lalat berkembang biak disampah sebesar 24.3%, tikus yang berkeliaran sebesar 29.1%, banyaknya nyamuk dilingkungan sebesar 32.0%. Untuk sampah yang menyumbat saluran sebesar 14.3%. Selain hal tersebut diatas, responden yang menyatakan tidak ada masalah dengan sampah hanya sebesar 13.3%. PRESENTASE (%) 6 5 4 3 2 1 PENGELOLAAN SAMPAH RESPONDEN 0.7 52.8 Dikum Dikum pulkan pulkan oleh dan kolekt dibua or ng ke inform TPS al yang men 16.6 Dibaka r 0.4 1.6 Dibua ng ke dalam lubang dan ditutu p denga n Dibua ng ke dalam lubang tetapi tidak ditutu p deng 20.5 Dibua ng ke sungai /kali/l aut/da nau Dibiar kan saja sampa i memb usuk Gambar 4.2 Diagram Pengelolaan Sampah Dibua ng ke lahan koson g/keb un/hu tan dan dibia Lainlain Tidak tahu Series1 0.7 52.8 16.6 0.4 1.6 20.5 0.2 6.8 0.3 0.1 0.2 6.8 0.3 0.1 Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 15

N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal C.2. Pengelolaan Sampah di Rumah Tangga Berdasarkan gambar diatas, pada umumnya pengelolaan sampah responden di Kota Jayapura dilakukan secara kolektif. Sebagian besar responden mengumpulkan sampah dan dibuang ke tempat sampah sebesar 52.8%. Responden lainnya membuang sampah ke sungai, kali, laut dan danau sebesar 20.5%. Untuk sampah yang dibakar sebesar 16.6%. Responden yang membuang sampah kelahan kosong sebesar 6.8%. Dikumpulkan oleh kolektor informal sebesar 0.7%, dibuang ke dalam lubang dan ditutup sebesar 0.4%, responden yang menjawab lain-lain sebesar 0.3%, dibiarkan saja sebesar 0.2% dan resposnden yang tidak tahu sebesar 0.1%. PEMILAHAN SAMPAH RESPONDEN 8 7 6 5 4 3 2 1 71.4 A. Sampah organik/sampah basah 14.3 B. Plastik A. Sampah organik/sampah basah B. Plastik N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal C.3. Pengelolaan Sampah di Rumah Tangga Gambar 4.3 Diagram Pemilahan Sampah Rumah Tangga Berdasarkan gambar diatas, pengelolaan sampah di rumah tangga, sebagian responden telah melakukan pemilahan sampah organik (basah) dan non organik (kering). Dengan persentase responden sampah organik/sampah basah sebesar 71.4% dan sampah plastik sebesar 14.3%. INTENSITAS PETUGAS MENGANGKUT SAMPAH 6 5 4 3 2 1 57.1 Tiap hari 42.9 Beberapa kali dalam seminggu Tiap hari Beberapa kali dalam seminggu Gambar 4.4 Diagram Intensitas Petugas Mengangkut Sampah Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 16

N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal C.4. Intensitas Petugas Mengangkut sampah. Berdasarkan gambar diatas, frekuensi layanan pengangkut sampah di Kota Jayapura sebagian besar dilakukan setiap hari dengan jumlah responden sebesar 57.1%. Responden beberapa kali dalam seminggu sebesar 42.9%. PENGANGKUTAN SAMPAH 45.0 4 35.0 3 25.0 2 15.0 1 5.0 42.9 42.9 14.3 Tepat waktu Sering terlambat Tidak tahu Gambar 4.5 Diagram Frekuensi Layanan Mengangkut Sampah Tepat waktu Sering terlambat Tidak tahu N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal C.5. Layanan Angkutan Sampah Rumah Tangga Berdasarkan gambar diatas, waktu layanan angkutan sampah di Kota Jayapura berbanding lurus yaitu sebesar 42.9% responden menajawab tepat waktu dan sering terlambat. Responden sebanyak 14.3% menjawab tidak tahu. LAYANAN PENGANGKUTAN SAMPAH DIBAYAR 6 4 2 57.1 42.9 % Ya Tidak Ya Tidak Gambar 4.6 Diagram Biaya Layanan Angkutan Sampah Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 17

N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal C.6. Layanan Pengangkutan Sampah Rumah Tangga di Bayar. Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden menjawab membayar retribusi layanan angkutan sampah sebesar 57.1%. Responden lain menjawab tidak membayar sebesar 42.9%. BIAYA IURAN SAMPAH 25.0 2 24.3 21.7 PRESENTASE (%) 15.0 1 5.0 3.5 0.9 13.9 0.9 1.7 2.6 1.7 0.9 0.9 0 250 200 250 300 500 100 150 200 300 400 500 600 750 800 100 150 250 350 0 0 0 0 00 00 00 00 00 00 00 00 00 000 000 000 000 % 3.5 0.9 13. 24. 0.9 1.7 2.6 1.7 21. 0.9 0.9 4.3 6.1 0.9 0.9 9.6 3.5 0.9 0.9 4.3 6.1 0.9 0.9 9.6 3.5 0.9 0.9 Gambar 4.7 Diagram Biaya Iuran Sampah N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal C.7. Biaya Iuran Sampah Rumah Tangga Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden membayar retribusi layanan angkutan sampah sebesar Rp. 2,500/bulan dengan presentase 24.3%. Sebagian lainnya membayar retribusi sampah sebesar Rp. 2,000/bulan dengan presentase 21.7%. Wadah Sampah di Dapur Presentse (%) 5 4 3 2 1 41.2 19.9 23.0 16.8 6.2 6.0 Ketersediaan Wadah Tempat Sampah A. Kantong plastik tertutup B. Kantong plastik terbuka C. Keranjang sampah terbuka D. Keranjang sampah tertutup E. Lainnya F. Tidak ada Gambar 4.8 Diagram Pengamatan Wadah Tempat Sampah Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 18

N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal C.7. Ketersediaan Tempat Sampah di Dapur Berdasarkan gambar diatas, hasil pengamatan sebagian besar responden memilih wadah tempat sampah dari kantong plastik terbuka sebesar 41.2%, kantong plastik tertutup sebesar 19.9%, keranjang sampah sebesar terbuka sebesar 16.8%, keranjang sampah tertutup sebesar 6.2%. Sedangkan yang tidak meyediakan wadah tempat sampah sebesar 23.0%. Pengelolaan Sampah 45.0 4 35.0 3 25.0 2 15.0 1 5.0 0.8 4.5 0.5 44.5 15.6 22.3 8.2 1.6 2.0 Pengelolaan Sampah N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal C.7. Pengelolaan Sampah Halaman Gambar 4.9 Diagram Pengamatan Pengelolaan Sampah Berdasarkan gambar diatas, hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian responden mengumpulkan sampah dalam keranjang permanen sebesar 44.5%, dibuang ke sungai/danau/laut sebesar 22.3%, langsung dibakar sebesar 5.6%. 4.2 Pembuangan Air Limbah Domestik Praktek BAB di tempat yang kurang memadai merupakan salah satu faktor meningkatnya resiko status kesehatan masyarakat, selain mencemari tanah dan sumber air minum warga. Tempat BAB yang tidak memadai bukan hanya tempat BAB di ruangterbuka seperti sungai/kali/got/kebun tetapi juga menggunakan sarana jamban di rumah yang mungkin dianggap nyaman, tapi sarana penampungan dan pengolahan tinjanya tidak memadai, misal tidak kedap air dan berjarak terlalu dekat dengan sumber air minum. Pembuangan tinja anak menurut masyarakat umumnya dianggap sepele. Kotoran/tinja anak dianggap berbeda dengan tinja orang dewasa, kotoran anak dianggap tidak berbahaya dan bisa dibuang kemana saja, termasuk ke ruang terbuka seperti sungai, parit, tanah lapang ataupun keranjang tempat sampah rumah tangga. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 19

Anggapan seperti ini sangat keliru karena pembuangan tinja baik anak maupun orang dewasa adalah salah satu masalah sanitasi yang perlu diperhatikan karena sangat berbahaya dan dapat mencemari lingkungan dengan berbagai patogen penyebab penyakit yang terkandung di dalamnya. Survei EHRA melakukan sejumlah wawancara kepada responden yang terkait dengan kondisi sarana dan prasarana jamban serta kebiasaan masyarakan melakukan BAB. Selain itu enumerator diwajibkan melakukan pengamatan pada bangunan fisik jamban/wc. TEMPAT BAB 8 7 6 5 4 3 2 1 77.6 10.6 7.2 6.2 0.3 0.1 0.6 0.1 A. Jamban pribadi B. MCK/WC Umum C. Ke WC helikopter D. Ke sungai/pantai/laut E. Ke kebun/pekarangan F. Ke selokan/parit/got G. Ke lubang galian H. Lainnya, I. Tidak tahu Gambar 4.10 Diagram Tempat Anggota Keluarga Dewasa BAB N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban jamak D.1. Tempat anggota keluarga dewasa BAB Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden menyatakan bahwa orang dewasa melakukan BAB di jamban milik pribadi sebanyak 77.6%, di MCK/WC umum sebanyak 10.6%, di WC helikopter sebanyak 7.2%, ke sungai/pantai/laut sebanyak 6.2%, ke kebun/pekarangan sebanyak 0.3%, ke selokan/parit/got sebanyak %, ke lubang galian sebanyak 0.1%, lainnya sebanyak 0.6 % dan responden yang menjawab tidak tahu 0.1%. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 20

ANGGOTA KELUARGA BAB DITEMPAT TERBUKA K. Tidak ada I. Masih ada tapi tidak jelas siapa G. Laki-laki tua E. Laik-laki dewasa C. Remaja laki-laki A. Anak laki-laki umur 5-12 tahun 0.7 3.1 3.0 2.7 1.8 3.0 2.8 3.6 5.0 Gambar 4.11 Diagram Anggota Keluarga yang BAB di Tempat Terbuka N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban jamak D.2. Tempat orang di luar keluarga BAB 13.8 Berdasarkan gambar diatas, responden menyatakan bahwa tidak ada anggota yang melakukan BAB ditempat terbuka sebanyak 72.2%. Responden yang menyatakan anggota keluarganya masih ada yang BAB ditempat terbuka tapi tidak jelas dimana sebanyak 13.8%. Laki-laki dewasa yang BAB ditempat terbuka sebanyak 3.0%, anak perempuan umur 5-12 tahun sebesar 3.6% dan anak laki-laki umur 5-12 tahun sebesar 5.0%. 72.2 1 2 3 4 5 6 7 8 A. Anak laki-laki umur 5-12 tahun B. Anak perempuan umur 5-12 tahun C. Remaja laki-laki D. Remaja Perempuan E. Laik-laki dewasa F. Perempuan dewasa G. Laki-laki tua H. Perempuan tua I. Masih ada tapi tidak jelas siapa J. Lainnya, K. Tidak ada Jenis kloset yang pakai Responden 10 75.7 5 5.9 0.8 3.7 13.9 Kloset jongkok leher angsa Plengsengan Tidak punya kloset Kloset duduk siram leher angsa Cemplung N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal D.3. Jenis Kloset yang digunakan Gambar 4.12 Diagram Jenis Kloset Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 21

Berdasarkan gambar diatas, jenis kloset yang digunakan oleh responden berupa kloset jongkok leher angsa sebanyak 75.7%, tidak mempunyai kloset 13.9%, kloset duduk siram leher angsa sebanyak 5.9%, cemplung sebanyak 3.7% dan plengsengan sebanyak 0.8%. Tempat Penyaluran Buangan Tinja 6 55.0 5 4 3 2 1 1.1 16.2 1.0 21.9 0.4 0.2 3.9 0.3 Tangki septik Pipa sewer Cubluk/lobang tanah Langsung ke drainase Sungai/danau/pantai Kolam/sawah Kebun/tanah lapang Tidak tahu Lainnya N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal D.4. Tempat Penyaluran Buangan akhir tinja Gambar 4.13 Diagram Tempat Penyaluran Buangan Tinja Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden telah menggunakan tempat penyaluran buangan akhir tinja berupa tangki septik sebesar 55.0%, disalurkan ke pipa sewer sebesar 1.1%, dialurkan ke cubluk/lubang tanah sebesar 16.2%, disalurkan ke saluran drainase sebesar 1.0%, disalurkan ke sungai/danau/pantai/laut 21.9%, dibuang ke kolam/sawah 0.4%, kebun atau tanah lapang sebesar 0.2%, sedangkan responden yang menjawab tidak tahu sebesar 3.9% dan lainnya sebesar 0.3%. Waktu Pembuatan Tangki Septik 4 28.4 31.1 3 2 15.5 20.7 1 4.4 0-12 bulan yang lalu 1-5 tahun yang lalu Lebih dari 5-10 tahun yang lalu Tidak tahu Lebih dari 10 tahun N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal D.5. Kapan waktu pembuatan tangki septik Gambar 4.14 Diagram Waktu Pembuatan Tangki Septik Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 22

Berdasarkan gambar diatas sebagian besar responden membangun tangki septik tanpa mengetahui kapan dibuat yaitu sebesar 31.1%, lebih dari 10 tahun sebesar 28.4%, lebih dari 5-10 tahun lalu sebesar 20.7%, 1-5 tahun lalu sebesar 15.5% dan 0-12 bulan lalu sebesar 4.4%. 5 4 3 2 1 Kapan Tangki Septik Terakhir Dikosongkan 8.4 0-12 bulan yang lalu 15.3 1-5 tahun yang lalu 4.5 2.7 > 5-10 tahun yang lalu > 10 tahun 49.5 Tidak pernah Kapan Tangki Septik Terakhir dikosongkan 19.6 Tidak tahu 0-12 bulan yang lalu 1-5 tahun yang lalu > 5-10 tahun yang lalu > 10 tahun Tidak pernah Tidak tahu Gambar 4.15 Diagram Waktu Terakhir Tangki Septik Dikosongkan N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal D.6. Kapan tangki septik terakhir dikosongkan Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar tangki septik milik responden tidak pernah dikosongkan sebanyak 49.5%. Sementara tangki septik yang terakhir dikosongkan antara 1-5 tahun yang lalu sebesar 15.3%, antara 5-10 tahun yang lalu sebesar 4.5% dan belum ada 1 tahun sebanyak 8.4%. Selain itu responden yang menjawab tidak tahu sebesar 16.6%. Personil yang Mengosongkan Tangki Septik 6 53.2 5 4 3 2 1 4.7 1.4 40.6 Layanan sedot tinja Membayar tukang Dikosongkan sendiri Tidak tahu Layanan sedot tinja Membayar tukang Dikosongkan sendiri Tidak tahu Gambar 4.16 Diagram Personil yang Mengosongkan Tangki Septik N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal D.7. Siapa yang mengosongkan tangki septik Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 23

Berdasarkan gambar diatas, sebagian responden menggunakan jasa orang lain untuk mengosongkan tangki septik, yaitu dengan menggunakan jasa truk sedot tinja sebanyak 53.2% dan membayar tukang sebanyak 4.7%, sedangkan sebagian kecil tangki septik bersih sendiri karena dilanda banjir sebanyak 1.4% dan responden yang menjawab tidak tahu sebanyak 40.6%. Pembuangan Lumpur Tinja Dibuang pada Saat Tangki Septik Dikosongkan 10 93.2 8 6 4 2 4.0 0.4 2.2 0.4 Sungai, sungai kecil Dikubur di halaman Dikubur di tanah orang lain Lainnya Tidak tahu Gambar 4.17 Diagram Pembuangan Lumpur Tinja N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal D.8. Tempat Pembuangan Lumpur Tinja saat Tangki Septik dikosongkan Berdasarkan gambar di atas tempat lumpur tinja dibuang saat tangki septik dikosongkan, responden yang menjawab membuang ke sungai, sungai kecil, selokan/parit, kolam/empang, saluran drainase sebesar 4.0%, dikubur di halaman 0.4%, dikubur di tanah orang 2.2%, belum pernah dibuang (lainnya) 0.4% dan yang menjawab tidak tahu 93.2%. Intensitas Anak Balita di Rumah Masih Terbiasa BAB di Tempat Terbuka 5 45.7 4 3 2 11.3 14.7 28.3 1 Ya, sangat sering Ya, kadang-kadang Tidak biasa Tidak tahu Gambar 4.18 Diagram Intensitas Anak-anak BAB di Tempat Terbuka N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal D.9. Intensitas Anak-anak BAB di tempat terbuka Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 24

Berdasarkan gambar diatas, intensitas anak balita yang masih terbiasa buang air besar dilantai sebesar 11.3%, responden yang mengatakan kadang-kadang sebesar 14.7%, tidak biasa buang air besar dilantai/kebun sebesar 45.7% dan responden yang menjawab tidak tahu sebesar 28.3%. Tempat Pembuangan Tinja Anak 6 5 4 3 2 1 25.5 7.6 1.3 9.9 0.5 55.2 Ke WC/Jamban Ke tempat sampah Ke kebun/pekarangan/jalan Ke sungai/selokan/got Lainnya Tidak tahu N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal D.10. Tempat pembuangan tinja Anak Gambar 4.19 Diagram Tempat Pembuangan Tinja Anak Berdasarkan gambar diatas, tempat pembuangan tinja anak di WC/Jamban sebanyak 25.5%, di tempat sampah sebanyak 7.6%, di kebun/pekarangan/jalan sebanyak 1.3%, di tempat lainnya sebanyak 0.5% dan responden yang menjawab tidak tahu sebanyak 55.2%. 4.3 Drainase Lingkungan Sekitar Rumah dan Banjir Kondisi saluran air rumah tangga merupakan indikator yang menjadi peranan penting pada Survei EHRA, karena saluran air yang tidak memadai beresiko memunculkan penyakit terutama demam berdarah dan malaria. Dalam pelaksanaan Survei EHRA masalah saluran air menjadi pengamatan tersendiri yang dilakukan oleh enumerator dengan mengamati keberadaan saluran air di sekitar rumah responden. Saluran air yang dimaksud adalah yang digunakan untuk membuang air bekas penggunaan rumah tangga. Enumerator juga mengamati dari dekat apakah air di saluran itu mengalir, apa warna airnya, dan melihat apakah terdapat tumpukan sampah di dalam saluran air itu. Sedangkan saluran air yang memadai ditandai dengan aliran air yang lancar, warna air cenderung bening atau bersih, dan tidak adanya tumpukan sampah di dalamnya. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 25

Kepemilikan SPAL Responden 80 67.87 60 Gambar 4.20 Diagram Kepemilikan SPAL N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal 40 E.1. Kepemilikan SPAL 20 Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki SPAL sebanyak 67.87%, dan tidak 0 memiliki SPAL sebesar 32.13%. Ya Tidak ada Kepemilikan SPAL 32.13 Resiko Banjir Rumah Responden 70 60 50 40 30 20 10 0 69.9 Tidak pernah 12.2 Sekali dalam setahun 15.1 Beberapa kali dalam 1.2 1.6 Sekali atau beberapa dalam sebulan Tidak tahu Tidak pernah Sekali dalam setahun Beberapa kali dalam Sekali atau beberapa dalam sebulan Tidak tahu N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal E.2. Resiko Banjir Gambar 4.21 Diagram Resiko Banjir Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden merasa tidak terancam dengan resiko banjir pada rumahnya sebanyak 69.9%, terjadi banjir dalam setahun sebanyak 12.2%. Untuk kejadian banjir yang terjadi beberapa kali dalam setahun sebanyak 15.1%, sedangkan sekali atau beberapa kali banjir dalam sebulan sebanyak 1.2%. Adapun yang menjawab tidak tahu sebanyak 1.6%. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 26

Rutinitas Banjir di Rumah Responden 60 50 40 30 20 10 0 57.81 42.19 Ya Tidak Rutinitas Terjadinya Banjir N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal E.3. Rutinitas Banjir Gambar 4.22 Diagram Rutinitas Banjir Berdasarkan gambar diatas, rutinitas kejadian banjir di rumah responden sebanyak 42.19%, sedangkan kejadian banjir tidak rutin sebanyak 57.81% dari total responden. Banjir Terakhir di Rumah Responden 60 50 40 30 20 10 0 56.48 43.19 0.33 Ya Tidak Tidak tahu Air Memasuki Rumah Responden Ya Tidak Tidak tahu Gambar 4.23 Diagram Kejadian Banjir N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal E.4. Kejadian Banjir Terakhir Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden yang menjawab mengetahui kapan terakhir banjir terjadi sebanyak 56.48%, tidak mengetahui kapan banjir terjadi sebanyak 43.19% dan responden yang tidak tahu sebanyak 0,33%. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 27

Tinggi Air Masuk Rumah Terakhir kali Banjir 35.00 30 25.00 20 15.00 10 5.00 0 33.92 30.41 12.87 8.77 2.92 9.94 1.17 Setumit orang dewasa Setengah lutut orang dewasa Selutut orang dewasa Sepinggang orang dewasa Sebahu orang dewasa Lebih tinggi dari orang dewasa Tidak tahu Tinggi Air N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal E.4. Tinggi Genangan Banjir Gambar 4.24 Diagram Tinggi Air Genangan Banjir Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden menjawab tinggi genangan banjir di rumah responden sebagian besar setumit orang dewasa sebesar 33.92%, setengah lutut orang dewasa 30.41%, selutut orang dewasa 12.87%, sepinggang orang dewasa 8.77%, sebahu orang dewasa 2.92%, lebih tinggi dari orang dewasa 9.94%, serta responden yang menjawab tidak tahu sebesar 1.17%. Akibat Banjir Kamar Mandi/WC Responden Terendam 50 40 30 20 10 0 15.20 16.96 15.20 48.54 4.09 Disaat Banjir Merendam k.mandi/wc N= 1.000, bobot, Filter- wawancara, jawaban tunggal E.5. Rendaman Akibat banjir Gambar 4.25 Diagram Rendaman Akibat Banjir Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa sebagian responden menjawab akibat banjir kamar mandi/wc responden juga tergenang air sebesar 48.54%, kadang-kadang terendam sebesar 16.96%, tidak pernah terendam dan sebagian terendam sebesar 15.20%. Serta responden yang tidak tahu sebesar 4.09%. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 28

Waktu Air Banjir Mengering 30 25.00 20 15.00 10 5.00 0 9.94 Kurang dari 1 jam 20.47 Antara 1-3 jam 26.90 Setengah hari 23.98 Satu hari 11.70 Lebih dari 1 hari 7.02 Tidak tahu Waktu untuk Air Banjir Mengering Gambar 4.26 Diagram Genangan Air Mengering N= 1.000, bobot, Filter- Pengamatan, keterangan tunggal E6 3.1. Genangan air Mengering Genangan air di halaman atau di bagian depan rumah tentu dapat menggangu kenyaman bagi pemilik rumah. Kondisi halaman atau bagian rumah haruslah bersih dari genangan air guna menjaga kenyaman dan mengurangi banjir karena genangan air yang banyak bisa juga di sebut banjir. Berdasarkan gambar diatas, kondisi halaman atau bagian depan rumah yang tergenang akan kering dalam setengah hari sebesar 26.90%, kering dalam satu hari sebesar 23.98%, kering dalam waktu 1-3 jam sebesar 20.47%, kering dalam waktu lebih dari 1 hari sebesar 11.70%, kering dalam waktu kurang dari 1 jam sebesar 9.94% dan responden yag menjawab tidak tahu sebesar 7.02%. Genangan Air 10 8 6 4 2 Ya 15.6 84.4 Tidak EO.3.1 Amati, apakah halaman/bagian depan rumah bebas dari genangan air? Gambar 4.27 Diagram Genangan Air N= 1.000, bobot, Filter- Pengamatan, keterangan tunggal E6 3.2. Genangan air Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 29

Berdasarkan gambar diatas, kondisi halaman atau bagian depan rumah yang telah bersih dari genangan air sebanyak 15.6%, sedangkan kodisi halaman atau bagian depan rumah yang masih terdapat genangan air sebanyak 84.4%. Tempat Air Tergenang 7 65.4 6 5 4 3 2 1 26.3 27.6 7.7 10.3 A. Dihalaman rumah B. Di dekat dapur C. Di dekat kamar mandi D. Di dekat bak penampungan E. Lainnya Gambar 4.28 Diagram Tempat Genangan Air N= 1.000, bobot, Filter- Pengamatan, keterangan tunggal E6 3.2. Tempat Genangan air Saluran air yang tidak berfungsi dengan baik dapat menimbulkan genangan air. Dari gambar diatas, genangan air ini bisa terjadi dibeberapa tempat di sekitar rumah seperti di halaman rumah 65.4%, di dekat dapur 26.3%, di dekat kamar mandi 27.6%, di dekat bak penampungan 7.7%, dan di tempat-tempat lainnya 10.3%. Penyebab Genangan Air 6 51.3 5 39.7 40.4 4 3 2 1 5.8 14.1 A. Air limbah kamar mandi B. Air limbah dapur C. Hujan D. Air limbah lainnya E. Tidak tahu Gambar 4.29 Diagram Penyebab Genangan Air N= 1.000, bobot, Filter- Pengamatan, keterangan tunggal EO 3.3. Penyebab Genangan Air Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 30

Genangan air yang terjadi di sekitar rumah dapat disebabkan oleh beberapa faktor penyebab seperti air limbah kamar mandi, air limbah dapur, air hujan, atau air limbah lainnya. Air limbah kamar mandi menjadi salah satu penyebab asal genangan air. Dari gambar diatas, sebagian genangan air disebabkan karena intensitas curah hujan yang cukup tinggi sebanyak 51.3% dan yang disebabkan oleh air limbah mandi sebanyak 39.7% dan penyebab genangan berupa limbah dapur sebesar 40.4%. Kebersihan Benda Penyebab Genangan Air 8 7 6 5 4 3 2 1 Ya, halaman bersih dari benda Gambar 4.30 Diagram Kebersihan Benda Penyebab Genangan Air N= 1.000, bobot, Filter- Pengamatan, keterangan tunggal EO 3.4. Kebersihan benda penyebab genangan air Tidak, halaman penuh dengan benda EO.3.4 Amati, Apakah halaman bersih dari benda yg dapat menyebabkan air tergenang Genangan air yang terjadi disekitar rumah dapat disebabkan oleh ada tidaknya benda-benda penyebab air tergenang di tempat-tempat saluran air. Benda-benda itu bisa seperti ban bekas, kaleng, panic ataupun ember. Berdasarkan gambar diatas, sebagian besar responden yang menyatakan halaman bersih dari benda-benda penyebab terjadinya genangan air sebanyak 79.7%, sedangkan responden yang mengatakan masih ada atau 79.7 halaman penuh dengan benda-benda yang penyebab genangan air sebanyak 20.3%. 20.3 Saluran Air Dekat Rumah 6 5 4 3 2 1 51.5 Ya, terbuka Ya, tertutup, tidak terlihat Tidak, tidak terlihat EO.3.5 Amati, Apakah anda dapat melihat saluran air hujan dekat rumah Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 31 12.6 35.9

Gambar 4.31 Diagram Kondisi Saluran Air N= 1.000, bobot, Filter- Pengamatan, keterangan tunggal EO 3.5. Kondisi saluran air di dekat rumah Pembuatan saluran air di dekat rumah dirasa sangat penting guna mencegah terjadinya genangan air yang dapat menyebabkan banjir. Saluran air hujan atau air limbah dapat mempermudah proses pembuangan air ke tempatnya. Berdasarkan gambar diatas, sebanyak 51.5% terdapat saluran air hujan dan air limbah yang terbuka dan dapat dilihat di dekat rumah, sedangkan saluran air di sekitar rumah yang tidak terlihat sebanyak 35.9%. Sementara itu kondisi saluran air hujan atau air limbah yang tertutup sebanyak 12.6%. Air Mengalir di Saluran 59.5 6 5 4 3 2 1 6.2 2.7 Ya Tidak Tidak dapat dipakai, saluran kering 31.6 Tidak ada saluran EO.3.6 Amati, apakah air di saluran dapat mengalir? Gambar 4.32 Diagram Kondisi Fungsi Saluran Air N= 1.000, bobot, Filter- Pengamatan, keterangan tunggal EO 3.6. Kondisi Fungsi Saluran Air Saluran air yang ada di sekitar rumah harus dapat dipastikan berfungsi baik agar limbah-limbah air ini dapat mengalir dengan baik sehingga tidak menimbulkan genangan air dan banjir. Berdasarkan gambar diatas, sebanyak 59.5% saluran air yang ada berfungsi dengan baik dan 31.6% tidak ada saluran. Sementara itu jumlah saluran yang tidak berfungsi 2.7% dan tidak ada saluran sebanyak 6.2%. Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 32

Kebersihan Saluran Air 4 35.0 36.5 31.9 Ya, bersih atau hampir selalu bersih 3 25.0 2 15.0 1 5.0 24.3 4.9 2.4 Kebersihan Saluran Tidak bersih dari sampah, tapi masih dapat mengalir Tidak bersih dari sampah, saluran tersumbat Tidak bersih dari sampah, tapi saluran kering Tidak ada saluran Gambar 4.33 Diagram Kebersihan Saluran Air N= 1.000, bobot, Filter- Pengamatan, keterangan tunggal EO 3.7. Kondisi Kebersihan Saluran Air Sampah yang menumpuk di saluran air dapat menyebabkan limbah air tidak dapat mengalir dengan baik ke tempat pembuangan. Hal ini tentunya akan menganggu kelancaran air dan akan mengakibatkan genangan air atau banjir. Berdasarkan gambar diatas, sebanyak 24.3% saluran air yang ada selalu bersih dari sampah, sebanyak 36.5% saluran air tidak bersih dari sampah tetapi air masih dapat mengalir. Saluran air yang tidak bersih dari sampah dan saluran yang tersumbat ada 4.9%. Saluran air yang tidak bersih dari sampah tetapi saluran airnya kering sebanyak 2.4% dan sebanyak 31.9% tidak ada saluran air. Saluran air nampaknya perlu di benahi dan dibersihkan dari sampah-sampah dan membuat lagi saluran-saluran air yang di tempat-tempat yang belum ada saluran airnya. 4.4 Sumber Air Air merupakan kebutuhan utama dari setiap individu dan masyarakat. Kecukupan air dan kualitasi air akan sangat berpengaruh terhadap individu masyarakat dan kesehatan lingkungan. Jenis-jenis sumber air memiliki tingkat keamanannya tersendiri terutama sumber air minum yang secara global dinilai sebagai sumber yang relatif aman, seperti air ledeng/pdam, sumbur bor, sumur gali terlindungi, mata air terlindungi dan air hujan (yang ditangkap, dialirkan dan disimpan secara bersih dan terlindungi). Sumber-sumber air minum yang dianggap memiliki resiko yang lebih tinggi sebagai media transmisi patogen ke dalam tubuh manusia yaitu sumur atau mata air yang tidak terlindungi dan air permukaan seperti air kolam, sungai, parit ataupun irigasi. Menurut pakar higinitas bahwa suplai air yang memadai merupakan salah satu faktor yang mengurangi resiko terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare. Dari sejumlah studi yang telah dilakukan oleh beberapa pakar menginformasikan bahwa mereka yang memiliki suplai air yang memadai cenderung memiliki resiko terkena diare yang lebih rendah, hal ini disebabkan karena sumber air yang memadai cenderung memudahkan kegiatan higinitas secara lebih teratur, dan sebaliknya kelangkaan air dapat dimasukkan sebagai Pokja AMPL Kota Jayapura hal- 33