HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Siklus Reproduksi Kuda

DINAMIKA OVARIUM PADA KUDA HASIL PERSILANGAN PEJANTAN THOROUGHBRED DENGAN INDUK LOKAL INDONESIA MUHAMMAD DANANG EKO YULIANTO

GAMBARAN ULTRASONOGRAFI DAN KARAKTERISTIK ESTRUS SETELAH SINKRONISASI OVULASI PADA INDUK KUDA PERSILANGAN ANANG TRIYATMOKO

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Kuda Lokal Indonesia

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Estrus Setelah Penyuntikan Kedua PGF 2α. Tabel 1 Pengamatan karakteristik estrus kelompok PGF 2α

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. pejantan untuk dikawini. Diluar fase estrus, ternak betina akan menolak dan

Tatap muka ke 13 & 14 SINKRONISASI / INDUKSI BIRAHI DAN WAKTU IB

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu kabupaten diantara 5

I. PENDAHULUAN. Selatan. Sapi pesisir dapat beradaptasi dengan baik terhadap pakan berkualitas

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI...

I. PENDAHULUAN. dengan tujuan untuk menghasilkan daging, susu, dan sumber tenaga kerja sebagai

I. PENDAHULUAN. jika ditinjau dari program swasembada daging sapi dengan target tahun 2009 dan

I. PENDAHULUAN. yang mayoritas adalah petani dan peternak, dan ternak lokal memiliki beberapa

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENYERENTAKAN BERAHI

TINJAUAN PUSTAKA. Hormon dan Perannya dalam Dinamika Ovari

I. PENDAHULUAN. Propinsi Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar untuk

BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sapi Bali (Bos sondaicus, Bos javanicus, Bos/Bibos banteng) merupakan plasma

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Dalam usaha meningkatkan penyediaan protein hewani dan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Jawarandu merupakan kambing lokal Indonesia. Kambing jenis

PERBAIKAN FERTILITAS MELALUI APLIKASI HORMONE GONADOTROPIN PADA INDUK SAPI BALI ANESTRUS POST-PARTUM DI TIMOR BARAT

DINAMIKA OVARIUM DAN DETEKSI KEBUNTINGAN DINI PADA KAMBING KACANG (Capra hircus) SANTOSO

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terus

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Anatomi/organ reproduksi wanita

BAB V INDUKSI KELAHIRAN

I. PENDAHULUAN. hari. Dalam perkembangannya, produktivitas kerbau masih rendah dibandingkan dengan sapi.


2. Mengetahui waktu timbulnya dan lamanya estrus pada setiap perlakuan penyuntikan yang berbeda. Manfaat Penelitian

PROFIL HORMON TESTOSTERON DAN ESTROGEN WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu sapi yang banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sapi Persilangan Simmental dan Peranakan Ongole. Sapi hasil persilangan antara sapi peranakan Ongole (PO) dan sapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Barat sekitar SM. Kambing yang dipelihara (Capra aegagrus hircus)

LEMBAR PERSETUJUAN ARTIKEL TAMPILAN BIRAHI KAMBING LOKAL YANG BERBEDA UMUR HASIL SINKRONISASI MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN F2 DI KABUPATEN BONE BOLANGO

BAB I PENDAHULUAN. khususnya daging sapi dari tahun ke tahun di Indonesia mengalami peningkatan

ONSET DAN LAMA ESTRUS KAMBING KACANG YANG DIINJEKSIPROSTAGLANDINF2α PADA SUBMUKOSA VULVA

Sexual behaviour Parturient behaviour Nursing & maternal behaviour

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan fase prapubertas menjadi pubertas membutuhkan jalur yang

HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Bali (Bibos sondaicus) yang ada saat ini diduga berasal dari hasil

GAMBARAN ULTRASONOGRAFI OVARIUM KAMBING KACANG YANG DISINKRONISASI DENGAN HORMON PROSTAGLANDIN F 2 ALFA (PGF 2 α) DOSIS TUNGGAL

OLEH : HERNAWATI. Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Biologi

PENGARUH BERBAGAI DOSIS PROSTAGLANDIN (PGF2α) TERHADAP KARAKTERISTIK ESTRUS PADA DOMBA GARUT

PEMANFAATAN LARUTAN IODIN POVIDON SEBAGAI HORMON STIMULAN GERTAK BERAHI KAMBING SECARA ALAMIAH

BAB I PENDAHULUAN. Gamba. r 1. Beberapa Penyebab Infertilitas pada pasangan suami-istri. Universitas Sumatera Utara

EFEKTIVITAS PENYUNTIKAN ESTRO-PLAN (PGF-2Α SINTETIS) TERHADAP PENYERENTAKAN BERAHI SAPI BALI DI KABUPATEN PINRANG SULAWESI SELATAN

I. PENDAHULUAN. Ketahanan pangan merupakan prioritas ke-5 tingkat Nasional dalam Rancangan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone

TINJAUAN PUSTAKA Domba Garut Gambar 1

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. diambil berdasarkan gambar histologik folikel ovarium tikus putih (Rattus

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

Siklus menstruasi. Nama : Kristina vearni oni samin. Nim: Semester 1 Angkatan 12

Anatomi sistem endokrin. Kerja hipotalamus dan hubungannya dengan kelenjar hormon Mekanisme umpan balik hormon Hormon yang

TINJAUAN PUSTAKA. Penambahan tahun 2010 (ekor) G G G G KPI G G Jumlah Total

PAPER SINKRONISASI ESTRUS PADA TERNAK

BAB I PENDAHULUAN. Monosodium glutamat (MSG) yang lebih dikenal dengan merk dagang. Ajinomoto telah lama digunakan sebagai tambahan penyedap masakan.

HASlL DAN PEMBAHASAN

PAPER SINKRONISASI ESTRUS PADA TERNAK

TINJAUAN PUSTAKA. Ngadiyono (2012) menyatakan sapi bali (Bibos Sondaicus) yang ada saat ini

BAB I PENDAHULUAN. (dengan cara pembelahan sel secara besar-besaran) menjadi embrio.

KESEHATAN REPRODUKSI* Oleh: Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes**

... Tugas Milik kelompok 8...

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. (a) Luar kandang, (b) Dalam kandang

SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN INFERTIL

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

PUBERTAS DAN ESTRUS 32 Pubertas 32 Estrus 32 Waktu kawin 33

MATERI DAN METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian

SINKRONISASI ESTRUS MELALUI MANIPULASI HORMON AGEN LUTEOLITIK UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI REPRODUKSI SAPI BALI DAN PO DI SULAWESI TENGGARA

1. Perbedaan siklus manusia dan primata dan hormon yang bekerja pada siklus menstruasi.

PENGARUH JENIS SINKRONISASI DAN WAKTU PENYUNTIKAN PMSG TERHADAP KINERJA BERAHI PADA TERNAK KAMBING ERANAKAN ETAWAH DAN SAPERA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sonogram Dinamika Ovarium pada Kambing Kacang (Capra hircus)

TINJAUAN PUSTAKA Siklus Estrus Sapi Betina Folikulogenesis

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Waktu Pemberian Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) terhadap Jumlah Korpus Luteum dan Kecepatan Timbulnya Berahi pada Sapi Pesisir

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

MAKALAH BIOTEKNOLOGI PETERNAKAN PENINGKATAN POPULASI DAN MUTU GENETIK SAPI DENGAN TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO. DOSEN PENGAMPU Drh.

Pemantauan dan Pengukuran Proses Layanan Purna Jual. Kegiatan Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal. Kepala BIB Lembang

KONSENTRASI PROGESTERON PLASMA PASCA TERAPI ANTIBIOTIK DAN PROSTAGLANDIN TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN PADA SAPI PYOMETRA

I. PENDAHULUAN. Kinali dan Luhak Nan Duomerupakandua wilayah kecamatan dari. sebelaskecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman Barat. Kedua kecamatan ini

ABSTRACT. Key words: Ongole Offspring, Estrous, Estrous Synchronization, PGF 2 α, Parities

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebesar 90-95% dari total kebutuhan daging sapi dalam negeri, sehingga impor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua bagian dari tubuh rusa dapat dimanfaatkan, antara lain daging, ranggah dan

3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I. PENDAHULUAN A.

Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture Lampung University Soemantri Brojonegoro No.1 Gedung Meneng Bandar Lampung ABSTRACT

STIMULASI LASER SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK INDUKSI ESTRUS PADA KAMBING BLIGON LASER STIMULATION AS AN ALTERNATIVE FOR ESTRUS INDUCTION ON BLIGON GOATS

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian. Gambaran mikroskopik folikel ovarium tikus putih betina ((Rattus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Bali berasal dari banteng (Bibos banteng) yang telah didomestikasi berabadabad

Transkripsi:

15 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Ultrasonografi Korpus Luteum Gambar 4 Gambaran ultrasonografi perubahan korpus luteum (garis putus-putus). Pada hari sebelum pemberian PGF 2α (H-1) korpus luteum bersifat hyperechoic dan akan beregrasi dari hari saat pemberian PGF 2α (H0) sampai hari ke-2 setelah pemberian PGF 2α (H2). Pada hari ke-3 setelah pemberian PGF 2α (H3) terbentuk korpus hemoragikum yang bersifat hypoechoic Gambaran ultrasonografi setelah diinduksi estrus difokuskan pada regresi korpus luteum (Gambar 4), dimana terdapat korpus luteum yang bersifat hyperechoic pada hari ke-2 setelah pemberian PGF 2α (H2) dan hypoechoic pada hari ke-3 setelah pemberian PGF 2α (H3). Korpus luteum terbentuk dari sel-sel luteal yang mengisi ruang folikel setelah ovulasi, sel-sel luteal ini berfungsi untuk menghasilkan hormon progesteron (Johnson dan Everitt 1995). Korpus luteum mengalami regresi dari hari ke-0 (H0) sampai hari ke-2 (H2) dengan diameter 2,2 cm menjadi 1,1 cm setelah pemberian PGF 2α mengakibatkan gambaran ultrasonografi korpus luteum bersifat hyperechoic. Gambaran hyperechoic disebabkan oleh matinya sel-sel luteal yang kemudian membentuk jaringan ikat, matinya sel-sel luteal menyebabkan terjadi penurunan kadar plasma progesterone (Bergfelt dan Adams 2007). Pada saat ovulasi atau hari ke-3 setelah pemberian PGF 2α (H3) terbentuk korpus hemoragikum berdiameter 3,5 cm, dimana korpus hemoragikum memilki kandungan progesteron yang rendah (Hafez dan Hafez

16 2000), sedangkan pada hari saat pemberian PGF 2α (H0) korpus luteum berdiameter 2,2 cm dan bersifat hyperechoic dengan kadar plasma progesterone yang tinggi karena terbentuknya sel luteal (Bergfelt dan Adams 2007). Gambaran Ultrasonografi Folikel Gambar 5 Gambaran ultrasonografi folikel (garis putus-putus) bersifat anechoic, pertumbuhan folikel terlihat dari perubahan bentuk folikel dari bulat pada 0 jam stelah pemberian hcg menjadi bentuk pear shape pada 72 jam setelah pemberian hcg Gambaran ultrasonografi setelah diinduksi ovulasi difokuskan pada perkembangan folikel yang bersifat anechoic. Perkembangan folikel dapat dilihat dari bentuk folikel bulat berdiamter 3,1 cm pada jam ke-0 menjadi bentuk yang tidak bulat atau yang sering disebut pear shape berdiameter 4,8 cm pada jam ke- 72 (Gambar 5). Hasil ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kahn (2004) dimana folikel akan bersifat anechoic dengan garis tepi yang merupakan dinding folikel bersifat hypoechoic atau hyperecohoic dan bentuk folikel akan terlihat irregular saat akan terjadi ovulasi.

17 Dinamika Perkembangan Folikel dan Regresi Korpus Luteum Saat Diinduksi Estrus Gambar 6 Perkembangan folikel dan regresi korpus luteum pada induksi estrus. Onset estrus kuda A dan B pada hari ke-1, sedang kuda C hari ke-2. Ovulasi kuda A terjadi pada hari ke-3, sedang kuda B dan C hari ke-4 Pada Onset estrus pada kuda A dan B (Gambar 6) terjadi pada hari pertama, sedangkan Kuda C (Gambar 6) onset estrus pada hari kedua. Hasil ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Samper (2008) kisaran antara awal pemberian PGF 2α sampai dengan onset estrus terjadi pada 48 jam pertama. Akan tetapi hasil ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Estrada dan Samper (2003) yang melaporkan bahwa dengan pengguanaan 7.5 mg PGF 2α pada awal hari ke-5 setelah ovulasi akan menyebabkan onset estrus dalam jangka waktu 3-4 hari. Perbedaan onset estrus tersebut dikarenakan konsentrasi PGF 2α yang berbeda dan pada penelitian Estrada dan Samper (2003) tersebut dimungkinkan diameter

18 korpus luteum masih besar sehingga regresi korpus luteum akan berlangsung lebih lama. Pada kuda A dan B onset estrus terjadi saat diameter folikel terbesar dan korpus luteum kuda A 3,3 cm dan 2,1 cm; kuda B 3,4 cm dan 1,3 cm, sedangkan kuda C onset estrus terjadi dengan diameter folikel terbesar 3,5 cm dan korpus luteum 1,4 cm. Berdasarkan data yang diperoleh dari ketiga kuda tersebut didapat rata-rata nilai diameter folikel terbesar dan korpus luteum saat onset estrus yaitu 3,4 cm dan 1,6 cm. Ovulasi pada kuda A terjadi pada hari ke-3, sedangkan kuda B dan C ovulasi terjadi pada hari ke-4. Hasil penelitian ini dapat diterima berdasarkan hasil pengamatan Bergfelt (2007) dimana ovulasi terjadi 3,7±0,4 hari dengan metode yang sama yaitu sinkronisasi ovulasi yaitu dilakukan sinkronisasi estrus yang kemudian dilanjutkan dengan induksi ovulasi. Pengamatan tingkah laku estrus Tabel 2 Hasil teasing scoring pengamatan tingkah laku estrus pada 3 ekor kuda Teasing scores hari ke- setelah pemberian PGF 2α Kuda 1 2 3 4 A 2 3 4 - B 2 2 3 4 C 0 2 3 4 Hasil pengamatan estrus berdasarkan scoring pada 3 ekor kuda yang ditunjukkan pada table 2, terlihat onset estrus pada 3 ekor kuda saat score 2. Score 2 ditandai dengan sedikit ada ketertarikan, kadang mendekati pejantan, menunjukkan winked vulva dan mengangkat ekor. Kuda A dan B onset estrus terjadi pada hari ke-1 setelah pemberian PGF 2α, sedangkan kuda C pada hari ke-2. Ovulasi pada kuda A,B dan C terjadi saat score 4 yang ditandai dengan ketertarikan yang kuat, menyodorkan pantat pada jantan, dan winked vulva dan urinasi yang berkelanjutan. Kuda B dan C ovulasi terjadi pada hari ke-4 setelah pemberian PGF 2α, sedangkan kuda A pada hari ke-2.

Gambar 7 Visualisasi scoring tingkah laku estrus. Skor 0 tidak menunjukkan tandatanda menerima jantan, bahkan agresif menyerang, menendang dan meringkik, skor 1 tidak menolak terhadap pejantan, skor 2 sedikit ada ketertarikan, kadang mendekati pejantan, menunjukkan winked vulva (vulva mengedip) dan mengangkat ekor, skor 3 lebih menunjukkan ketertarikan, mengangkat ekor, squatting (berdiri jongkok) dan urinasi dan skor 4 ketertarikan yang kuat, menyodorkan pantat pada jantan dan winked vulva (vulva mengedip) serta urinasi yang berkelanjutan 19

20 Dinamika Perkembangan Folikel dan Regresi Korpus Luteum Setelah Diinduksi Ovulasi Gambar 8 Perkembangan folikel dan regresi korpus luteum pada induksi ovulasi. Ovulasi kuda A 52 jam, kuda B 72 jam dan kuda C 64 jam setelah pemberian hcg Dinamika ovari pada kuda A (Gambar 8) setelah diinduksi hcg dengan perkembangan diameter folikel preovulasi dari 3,3 cm menjadi 4,7 cm sebelum terjadi ovulasi, sedangkan regresi korpus luteum terlihat dari jam ke-0 sampai jam ke-52 dengan diameter 2,1 cm menjadi 1,2 cm. Dinamika ovari pada kuda B (Gambar 8) setelah diinduksi hcg dengan perkembangan diameter folikel preovulasi dari 3,4 cm menjadi 4,8 cm sebelum terjadi ovulasi, sedangkan regresi korpus luteum terlihat dari jam ke-0 sampai jam ke-72 dengan diameter 1,3 cm menjadi 0,6 cm. Dinamika ovari pada kuda C (Gambar 8) setelah diinduksi hcg dengan perkembangan diameter folikel preovulasi dari 3,2 cm menjadi 3,9 cm sebelum terjadi ovulasi, sedangkan regresi korpus luteum terlihat dari jam ke-0 sampai jam ke-64 dengan diameter 1,8 cm menjadi 0,7 cm.

21 Pertumbuhan folikel setelah pemberian hcg pada kuda A 0,26 mm/jam, kuda B 0,19 mm/jam, dan kuda C 0,01 mm/jam, data ini diperoleh dengan cara menghitung selisih antara diameter folikel yang akan ovulasi dengan diameter folikel pada awal pemberian hcg. Menurut Ivkov (1999) pertumbuhan folikel preovulatori 2,4 mm/hari, sedangkan Kahn (2004) pertumbuhan folikel pada siklus normal kuda antara 2-2,5 mm/hari. Apabila hasil penelitian Kahn tersebut dikonversi menjadi per-jam, maka pertumbuhan folikel 0,08-0,1 mm/jam. Berdasarkan hasil tersebut, maka pemberian hcg akan mempercepat pertumbuhan folikel preovulasi. Hasil induksi ovulasi kuda A,B dan C sesuai dengan yang dilakukan Estrada dan Samper (2003) dengan pemberian hcg saat diameter folikel terbesar 30 mm, maka ovulasi akan terjadi 48-72 jam setelah pemberian. Akan tetapi, menurut Gastal et al. (2006) dengan dosis 1500 IU hcg yang disuntikkan saat diameter folikel terbesar mencapai 35 mm akan menyebabkan ovulasi pada 44.0±1.0 jam setelah penyuntikan. Hasil penelitian Gastal et al. (2006) ovulasi terjadi lebih awal dibandingkan penelitian ini, hal ini disebabkan metode pemberian hcg dilakukan saat folikel berukuran 35 mm, sedangkan penelitian ini hcg diberikan saat folikel berukuran 30 mm. Data Hasil Pengamatan Sinkronisasi Ovulasi Tabel 3 Data rata-rata 3 ekor kuda hasil pengamatan sinkronisasi ovulasi Parameter Rata-rata±SD Diameter CL (cm) Awal perlakuan PGF 2α 1,9±0,4 Awal perlakuan hcg 1,8±0,5 Saat ovulasi 0,8±0,3 Diamater folikel terbesar (cm) Awal perlakuan PGF 2α 3,0±0,2 Awal perlakuan hcg 3,3±0,1 Saat ovulasi 4,5±0,5 Estrus (hari) Interval awal perlakuan PGF 2α hingga onset estrus 1,3±0,6 Durasi estrus 4,0±1,0 Interval mencapai ovulasi Awal perlakuanpgf 2α (hari) 3,2±1,0 Awal perlakuan hcg (jam) 62,7±10,1

22 Hasil penelitian sinkronisasi ovulasi yang dilakukan dengan pemberian PGF 2α 10 mg intra muskuler dan hcg 1500 IU intra muskuler didapatkan hasil pada tabel 1, dimana rata-rata diameter folikel terbesar dan korpus luteum pada saat awal perlakuan PGF 2α sebesar 3,0±0,2 cm dan 1,9±0,4 cm; sedangkan pada saat awal perlakuan hcg sebesar 3,3 ± 0,1 cm dan 1,8±0,5 cm; saat ovulasi sebesar 4,5±0,5 cm dan 0,8±0,3 cm. Berbeda dengan penelitian yang dilaporkan oleh Bergfelt et al. (2007) melaporkan bahwa dalam penelitian yang telah dilakukannya, rata-rata diameter folikel terbesar pada saat awal perlakuan PGF 2α sebesar 2,27±0,19 cm, sedangkan pada awal perlakuan hcg sebesar 3,15±0,15 cm, dan rata-rata diameter folikel terbesar maksimal yang dicapai satu hari sebelum ovulasi sebesar 3,65±0,1 cm. Rata-rata interval awal perlakuan PGF 2α hingga onset estrus sepanjang 1,3±0,6 hari, sedangkan rata-rata durasi estrus sepanjang 4,0±1,0 hari. Interval mencapai ovulasi dari awal perlakuan PGF 2α selama 3,2±1,0 hari, sedangkan dari awal perlakuan hcg 62,7±10,1 jam. Hasil sinkronisasi estrus sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Samper (2008), yang telah dilaporkan bahwa dalam rata-rata onset estrus akan terjadi dalam kurun waktu 3-4 hari setelah perlakuan PGF 2α. Ditambahkan bahwa kisaran antara awal perlakuan PGF 2α sampai dengan onset estrus dan tercapainya ovulasi dapat berkisar antara 48 jam sampai dengan 12 hari, tergantung dari diameter folikel yang akan ovulasi. Akan tetapi, hasil induksi ovulasi ini kurang sesuai dengan yang dilaporkan oleh Gastal et al. (2006) bahwa dengan pemberian 1500 IU hcg akan didapatkan interval mencapai ovulasi sepanjang 44,0±1,0 jam. Hal ini disebabkan pemberian hcg pada penelitian Gastal et al. (2006) melalui intravena yang akan memberikan efek lebih cepat daripada intra muskuler. Hasil sinkronisasi ovulasi pada penelitian ini telah mendapatkan hasil yang diharapkan, dengan cara dilakukan manipulasi hormonal reproduksi untuk mempercepat terjadinya ovulasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan terjadinya ovulasi pada rata-rata ketiga ekor kuda terjadi 3,2±0,1 hari setelah pemberian PGF 2α yang diikuti pemberian hcg saat folikel terbesar berukuran 30 mm.