ANALISIS KALIMAT IMPERATIF PADA BAHASA PEMBINA UPACARA DI SMA NEGERI 3 KOTA TANJUNGPINANG ARTIKEL E-JOURNAL

dokumen-dokumen yang mirip
Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi bersifat arbitrer yang dipergunakan

BENTUK KALIMAT IMPERATIF OLEH GURU DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI MTS MUHAMMADIYAH 4 TAWANGHARJO KABUPATEN WONOGIRI NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa pada prinsipnya merupakan alat untuk berkomunikasi dan alat

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, 2003:588).

ANALISIS PENGGUNAAN KALIMAT IMPERATIF KALANGAN GURU PAUD PERMATA BUNDA DESA SEI BULUH KECAMATAN SINGKEP BARAT KABUPATEN LINGGA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Dalam penulisan proposal skripsi ini peneliti mengumpulkan data-data dari

JENIS KALIMAT IMPERATIF PADA TUTURAN GURU BAHASA INDONESIA DALAM PROSES KEGIATAN PEMBELAJARAN DI SMK N 1 SAWIT KABUPATEN BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Adat istiadat merupakan suatu hal yang sangat melekat dalam kehidupan

ANALISIS PENGGUNAAN KALIMAT PERINTAH GURU DALAM PROSES KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DI SD NEGERI 09 PANGGANG, KABUPATEN JEPARA

ANALISIS TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2 TANJUNGPINANG

ANALISIS TUTURAN IMPERATIF DALAM DIALOG FILM LASKAR ANAK PULAU KARYA ARY SASTRA EJOURNAL

ABSTRACT: Kata kunci: kesantunan, tuturan, imperatif. maksim penghargaan, maksim kesederhanaan,

ARTIKEL E-JOURNAL. Oleh RASMIAYU FENDIANSYAH NIM JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

BAB V PENUTUP. dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut.

WUJUD KALIMAT IMPERATIF TUTURAN GURU TAMAN KANAK-KANAK KARYA PKK PACONGKANG KABUPATEN SOPPENG

BAB I PENDAHULUAN. Cara pengungkapan maksud dan tujuan berbeda-beda dalam peristiwa

ANALISIS KALIMAT IMPERATIF KUMPULAN DRAMA DOMBA-DOMBA REVOLUSI KARYA B. SOELARTO ARTIKEL E-JOURNAL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia sebagai makhluk sosial diharuskan saling berkomunikasi dan

diperoleh mempunyai dialek masing-masing yang dapat membedakannya

KESANTUNAN IMPERATIF DALAM BAHASA BATAK TOBA

BAB I PENDAHULUAN. digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Manusia sebagai

WUJUD PRAGMATIK IMPERATIF DALAM BUKU AJAR BAHASA INDONESIA 2 SMA KELAS XI KARANGAN SRI SUTARNI DAN SUKARDI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 KESIMPULAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta temuan kasus yang telah

TINDAK TUTUR IMPERATIF DALAM BAHASA SIDANG

KESANTUNAN BERTUTUR DIALOG TOKOH DALAM FILM SANG PENCERAH KARYA HANUNG BRAMANTYO. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya kegiatan, peradaban kebudayaan manusia. Bahasa adalah alat

LINGUISTIKA, MARET 2017 ISSN: Vol. 24. No. 46

TINDAK TUTUR IMBAUAN DAN LARANGAN PADA WACANA PERSUASI DI TEMPAT-TEMPAT KOS DAERAH KAMPUS

WUJUD MAKNA PRAGMATIK TINDAK TUTUR IMPERATIF DALAM FILM KELUARGA CEMARA DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA KELAS VIII SMP

Analisis Tuturan Imperatif Bahasa Jawa di Desa Sruweng Kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA ANTARA SANTRI DENGAN USTAD DALAM KEGIATAN TAMAN PENDIDIKAN ALQUR AN ALAZHAR PULUHAN JATINOM KLATEN

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian kesantunan bertutur dialog tokoh dalam film Sang

ANALISIS KALIMAT DEKLARATIF, INTEROGATIF DAN IMPERATIF DALAM TAJUK KORAN SINDO EDISI MARET 2016 ARTIKEL E-JOURNAL NURFADILAH NIM

BAB I PENDAHULUAN. Media massa tidak hanya memberikan informasi kepada pembaca, gagasan, baik pada redaksi maupun masyarakat umum. Penyampaian gagasan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN KERANGKA TEORI

ANALISIS TUTURAN IMPERATIF DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SINTANG KECAMATAN SERAWAI KAJIAN PRAGMATIK

ANALISIS KALIMAT INTEROGATIF PEMBAWA ACARA HITAM PUTIH DI TRANS 7 EDISI PERTENGAHAN APRIL- MEI 2014

PERWUJUDAN TINDAK KESANTUNAN PRAGMATIK TUTURAN IMPERATIF GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS XI SMK NEGERI 8 SURAKARTA

PENGGUNAAN KALIMAT IMPERATIF OLEH GURU DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP NEGERI 13 KOTA MAGELANG

TINDAK DIREKTIF BAHASA INDONESIA PADA POSTER BADAN LINGKUNGAN HIDUP DI TAMAN WISATA STUDI LINGKUNGAN KOTA PROBOLINGGO

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Wujud pragmatik imperatif dipilih sebagai topik kajian penelitian ini karena di dalam kajian dapat

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN KALIMAT EFEKTIF DALAM TEKS TAJUK RENCANA SURAT KABAR HARIAN SINDO EDISI JANUARI 2017

MAKSIM PELANGGARAN KUANTITAS DALAM BAHASA INDONESIA. Oleh: Tatang Suparman

TUTUR PUJIAN GURU DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN DI KELAS

ANALISIS KALIMAT PERINTAH PADA NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI LESTARI ARTIKEL PUBLIKASI. Guna Mencapai Derajat S-1

TINDAK TUTUR IMPERATIF KHUTBAH JUMAT DALAM TABLOID SUARA MUHAMMADIYAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

DESKRISPI KALIMAT IMPERATIF DALAM BAHASA LISAN USTADZ MAULANA DENGAN TEMA BERSEDEKAH PADA ORANG TUA DAN DI BALIK SEBUAH MUSIBAH DI YOUTUBE

BAB I PENDAHULUAN. Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun,

BENTUK IMPERATIF PADA BANNER DAN POSTER DI RUMAH SAKIT SE-KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016

REALISASI TINDAK TUTUR REPRESENTATIF DAN DIREKTIF GURU DAN ANAK DIDIK DI TK 02 JATIWARNO, KECAMATAN JATIPURO, KABUPATEN KARANGANNYAR NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dibedakan menjadi dua sarana,

ANALISIS KESANTUNAN IMPERATIF DALAM TERJEMAHAN ALQURAN SURAT AT TAUBAH: KAJIAN PRAGMATIK NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan

KESANTUNAN TUTURAN IMPERATIF DALAM KOMUNIKASI ANTARA PENJUAL HANDPHONE DENGAN PEMBELI DI MATAHARI SINGOSAREN

KALIMAT IMPERATIF DALAM BAHASA LISAN MASYARAKAT DESA SOMOPURO KECAMATAN GIRIMARTO KABUPATEN WONOGIRI NASKAH PUBLIKASI

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal tersebut

KESANTUNAN IMPERATIF DALAM PIDATO M. ANIS MATTA: ANALISIS PRAGMATIK SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1

BAB I PENDAHULUAN. alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan seseorang. Oleh

MAKNA IMPERATIF YANG TERKANDUNG PADA IKLAN KOSMETIK BERBAHASA JEPANG DALAM MAJALAH POPTEEN

I. PENDAHULUAN. satu potensi mereka yang berkembang ialah kemampuan berbahasanya. Anak dapat

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA PADA PERCAKAPAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 GEYER

BENTUK DAN FUNGSI TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA. Diajukan Oleh: SEPTIN ARIYANI A

REALISASI TINDAK TUTUR DIREKTIF MEMINTA DALAM INTERAKSI ANAK GURU DI TK PERTIWI 4 SIDOHARJO NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. firmannya Katakanlah: Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Frinawaty Lestarina Barus, 2014 Realisasi kesantunan berbahasa politisi dalam indonesia lawyers club

ANALISIS TINDAK TUTUR DIREKTIF PADA TUTURAN ANAK USIA EMPAT- -ENAM TAHUN DESA GENTING PULUR KECAMATAN JEMAJA TIMUR KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

ANALISIS WUJUD PRAGMATIK IMPERATIF PADA TUTURAN CERAMAH USTADZ WIJAYANTO DI YOUTUBE BULAN FEBRUARI 2017 SKRIPSI

BAB II LANDASAN TEORI. imperatif antara lain penelitian yang dilakukan oleh Entin Atikasaridari program studi

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai

REALISASI BENTUK TINDAK TUTUR DIREKTIF MENYURUH DAN MENASIHATI GURU-MURID DI KALANGAN ANDIK TK DI KECAMATAN SRAGEN WETAN. Naskah Publikasi Ilmiah

ANALISIS TINDAK TUTUR DIREKTIF OLEH USTAD MUHAMMAD NUR MAULANA DALAM ISLAM ITU INDAH PROGRAM TRANS TV SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM MEDIA JEJARING SOSIAL (FACEBOOK) GRUP COMDEV AND OUTREACHING UNIVERSITAS TANJUNGPURA TAHUN 2012

KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN TEKS BERITA SISWA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 21 SATU ATAP TELUK BINTAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

KEMAMPUAN MENULIS TEKS PIDATO SISWA KELAS X SMA NEGERI 12 PADANG BERBANTUAN MEDIA AUDIO DENGAN TEKNIK KERANGKA TULISAN ARTIKEL ILMIAH

Sekolahku. Belajar Apa di Pelajaran 7?

terhubung dengan manusia lainnya di berbagai daerah yang berbeda, dengan menggunakan sebuah bahasa yang telah disepakati bersama.

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup suatu Bangsa dan Negara. Hal ini karena pendidikan

ANALISIS KALIMAT PERINTAH PADA CERITA ANAK DALAM SURAT KABAR SOLOPOS EDISI OKTOBER-DESEMBER 2012

Abstract

Diajukan Oleh: HARIYANTO A

ANALISIS TUTURAN IMPERATIF PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DALAM KOMPAS.COM SKRIPSI. Oleh YAYU LESTARININGSIH NIM

BAB I PENDAHULUAN. (6) definisi operasional. Masing-masing dipaparkan sebagai berikut.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti saat melakukan penelitian di Sekolah Dasar 5

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN KATA PENGHUBUNG DALAM KARANGAN DESKRIPSI SISWA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 6 TANJUNGPINANG TAHUN PELAJARAN

BAB III METODE PENELITIAN

Merupakan salah satu bentuk konstruksi sintaksis yang tertinggi. Secara tradisional: suatu rangkaian kata yang mengandung pengertian dan pikiran yang

TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM NOVEL SYAIR MUNAJAT CINTA KARYA NOVIA SYAHIDAH ARTIKEL ILMIAH YULIANA PUTRI NPM

KESANTUNAN IMPERATIF BUKU TEKS BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KELAS VII

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN PREPOSISI DALAM KARANGAN NARASI SISWA KELAS XI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI SE-KOTA TANJUNGPINANG TAHUN PELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

TINDAK TUTUR DALAM BERCERITA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 CIAMIS

BAB I PENDAHULUAN. tetapi juga pada pemilihan kata-kata dan kalimat-kalimat yang digunakan,

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi khalayak agar bertindak sesuai dengan keinginan pengiklan. Slogan

KEMAMPUAN MENULIS TEKS PIDATO PERSUASIF SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 X KOTO DIATAS KABUPATEN SOLOK DENGAN MEDIA GAMBAR E JURNAL

ANALISIS KESALAHAN PEMENGGALAN KATA PADA MEDIA MASSA PUTRA KELANA EDISI JUNI 2012

KALIMAT PERINTAH BAHASA INDONESIA DALAM BAHASA PETUNJUK ARTIKEL E-JOURNAL

Transkripsi:

ANALISIS KALIMAT IMPERATIF PADA BAHASA PEMBINA UPACARA DI SMA NEGERI 3 KOTA TANJUNGPINANG ARTIKEL E-JOURNAL MAULIDDIAH CANDRA PUTRI NIM 100388201055 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI TANJUNGPINANG 2015

ABSTRAK Mauliddiah Candra Putri, 2015. Analisis Kalimat Imperatif pada Bahasa Pembina Upacara Di SMA Negeri 3 Kota Tanjungpinang. Kata Kunci : Imperatif Kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia dapat berkisar antara suruhan yang sangat keras atau kasar sampai dengan permohonan yang sangat halus atau santun. Kalimat imperatif dapat pula berkisar antara suruhan untuk melakukan sesuatu sampai dengan larangan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia itu kompleks dan bervariasi. Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan kalimat imperatif pada bahasa pembina upacara di SMA Negeri 3 Kota Tanjungpinang dan mendeskripsikan, mengelompokkan serta juga memaknai kalimat imperatif pada bahasa Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Kota Tanjungpinang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Analisis data dilakukan dengan cara teknik analisis data yaitu, mengamati secara keseluruhan teks amanat Pembina Upacara, mengelompokkan data, menganalisis teks amanat tersebut secara seksama. Hasil penelitian mendapati bahwa: (1) Seluruh bentuk imperatif, yaitu: imperatif biasa, imperatif permintaan, imperatif pemberian izin, imperatif ajakan, dan imperatif suruhan ada pada kalimat amanat pembina upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang; (2) Dari tujuh belas wujud kalimat imperatif, didapati tiga belas wujud pragmatik imperatif yang digunakan, yaitu: wujud pragmatik bermakna perintah; wujud pragmatik bermakna suruhan; wujud pragmatik bermakna permintaan; wujud pragmatik bermakna permohonan; wujud pragmatik bermakna desakan; wujud pragmatik bermakna bujukan; wujud pragmatik bermakna imbauan; wujud pragmatik bermakna persilaan; wujud pragmatik bermakna ajakan; wujud pragmatik bermakna

mengizinkan; wujud pragmatik bermakna larangan; wujud pragmatik bermakna harapan; wujud pragmatik bermakna anjuran; dan wujud pragmatik bermakna ngelulu. Sedangkan empat wujud pragmatik imperatif lainnya yaitu: wujud pragmatik bermakna bujukan; wujud pragmatik bermakna izin; wujud pragmatik bermakna umpatan; dan wujud pragmatik bermakna pemberian selamat, tidak ditemukan. ABSTRACT The Using of Imperative Sentence Analysis by The Speech Speaker of Ceremony in Senior High School 3 Tanjungpinang City Keyword: Imperative Imperative sentence in Bahasa Indonesia, such as hard command to polite request. Imperative sentence also a command to asking a request or giving a command to do or do not do things. In other words, imperative sentence in Bahasa Indonesia is so complex and have many varians. Based on problem formulation, this research is for finding how to use imperative sentences for speech speaker of ceremony in Senior High School 3 Tanjungpinang city with describing, organizing and meant the imperative sentences for speech speaker of ceremony in Senior High School 3 Tanjungpinang City This research using descriptive quantytive metodh. Data analysis will be done with analysid technic, such as observing the words that used for entire speech speaker. Collecting data and analizing the text carefully. The results of research, that: (1) All kind that include to imperative, such as general imperative, requesting imperative, giving permission imperative, persuative imperative, and command imperative are include in speech by speaker of ceremony in Senior High School 3 Tanjungpinang City. (2) from 17 kind of imperative sentence. We can find that 13 of them are pragmatic with command, request, asking, permission, insistence, request application, attention, allowing, persuading, giving permission, warn, hope, promotion, ngelulu, and other 4 of imperatives, are persuating pragmatic, permission, harassing, and congratulating could not be found.

1. Pendahuluan Pada prinsipnya bahasa digunakan sebagai alat berkomunikasi dan juga untuk menunjukkan identitas masyarakat sebagai pemakai bahasa. Komunikasi merupakan sesuatu yang bersifat dinamis, bukan bersifat statis. Menurut Sutirman (2013) di dalam proses komunikasi terdapat faktor-faktor yang harus dimiliki agar tercapainya keberhasilan komunikasi yaitu: 1) komunikator (pengirim pesan), 2) pesan yang akan disampaikan, 3) komunikan (penerima pesan), 4) konteks, 5) sistem penyampaian. Sebagai mahkluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya bantuan dari manusia lain, dan hal itu tidak akan terwujud bila tidak tersampaikannya maksud dan tujuan yang diinginkan tanpa melakukan komunikasi, baik komunikasi lisan ataupun komunikasi tertulis antara kedua belah pihak tersebut. Komunikasi lisan menitikberatkan pada penyampaian dari pemberi informasi dan penerimaan kepada penerima informasi tanpa adanya perantara, salah satunya adalah pidato Pembina Upacara di sekolah. Dalam sebuah pidato sering kita dapati kalimat imperatif sebagai salah satu jenis kalimat dalam bahasa Indonesia yang berisikan perintah akan suatu hal, dengan maksud agar si pendengar melaksanakan ataupun mengikuti perintah yang telah disampaikan. Secara khusus peneliti akan berusaha meneliti tentang pengunaan kalimat imperatif pada bahasa Pembina Upacara yang meliputi wujud pragmatik imperatif. kalimat imperatif menurut Rahardi (2005:79) kalimat imperatif mengandung maksud memerintah atau meminta agar mitra tutur melakukan sesuatu sebagaimana diinginkan si penutur. Kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia dapat berkisar antara suruhan yang sangat keras atau kasar sampai dengan permohonan yang sangat halus atau santun. Kalimat imperatif dapat pula berkisar antara suruhan untuk melakukan sesuatu sampai dengan larangan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia itu kompleks dan bervariasi.

Dari pendapat para ahli di atas menunjukkan bahwa bagaimana bahasa digunakan untuk berkomunikasi yang pada dasarnya memiliki maksud agar apa yang disampaikan oleh penutur dapat diterima dan dimengerti dengan baik oleh penerima tuturan. Penyampaian informasi tidak hanya terjadi di sekitar lingkungan masyarakat, seperti contohnya rumah, tetapi juga di sekolah yang merupakan satu dari sekian tempat utama dimana seseorang belajar untuk bisa memahami pembelajaran tentang nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah informasi yang dituturkan. Kalimat perintah sendiri tidak hanya disampaikan pada saat pembelajaran di dalam kelas tetapi juga ketika guru sebagai Pembina Upacara dalam menyampaikan pidatonya. Seringkali kalimat perintah atau kalimat imperatif disampaikan ketika proses upacara bendera berlangsung, baik itu kalimat perintah langsung maupun tidak langsung. Namun seringkali perbedaan latar belakang, kebudayaan, dan juga dialek dari penutur maupun penerima tuturan yang berbeda, mengakibatkan berbeda pula cara penyampaian dalam menyampaikan suatu tuturan sehingga apa yang disampaikan tidak dapat diterima terlebih lagi untuk bisa dipahami secara benar oleh siswa-siswi selaku penerima tuturan. Hal ini juga menyangkut kesantunan berbahasa dalam menyampaikan kalimat perintah tersebut, seringkali para guru yang merasa bisa menegur siswa-siswi yang dianggap melakukan pelanggaran, menyampaikan maksud baiknya dengan kalimat perintah yang penggunaan bahasanya kurang bisa diterima oleh siswa-siswi yang mendengarkan karena dirasa kurang santun dalam penyampaiannya, keadaan seperti ini justru mengakibatkan terjadinya pengabaian dan pembangkangan dari apa yang disampaikan oleh Pembina Upacara ketika menyampaikannya dalam pidato senin pagi yang berisikan kalimat imperatif atau kalimat perintah tadi. Sehingga pesan yang disampaikan tidak akan bisa terlaksana karena tidak adanya respon atau tanggapan yang baik dari siswa-siswi selaku penerima tuturan yang mendengarkan pidato Pembina Upacara selaku penutur.

SMA Negeri 3 Tanjungpinang sebagai salah satu sekolah yang juga diminati oleh siswa lulusan dari Sekolah Menengah Pertama, memiliki beragam jenis sifat dan karakter siswa-siswi yang berbeda-beda antara satu sama lainnya. Dengan latar belakang keluarga dan kebudayaan yang berbeda-beda, mengakibatkan berbeda pula cara dalam menerima tuturan yang disampaikan. Tidak semua dari mereka mau mendengarkan apa yang diperintahkan apabila tidak disampaikan sesuai dengan apa yang mereka anggap santun dan tidak merendahkan mereka selaku siswa-siswi. 2. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sedangkan untuk metode menggunakan kualitatif deskriptif. Seperti yang dikemukakan Mc. Millan & Schumacher dalam Syamsudin & Damaianti (2009:73) Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka langsung dan berinteraksi dengan orang-orang di tempat penelitian (Syamsudin & Damaianti, 2009:73). 3. Pembahasan Hasil Penelitian a. Bentuk Imperatif a.1 Imperatif Aktif Imperatif aktif dibagi menjadi dua, yaitu imperatif aktif transitif dan imperatif tak transitif. Imperatif transitif bersangkutan dengan perbuatan yang mengharuskan adanya tujuan. Sedangkan imperatif tak transitif tak mengharuskan adanya tujuan (Rahardi, 2008). Di dalam amanat Pembina Upacara di SMAN 3 Tanjungpinang, peneliti menemukan kalimat imperatif aktif yaitu: T1 : Ibu nilai, kalau dinilai pakai angka KKM nya 70, maka, hari ini nilainya adalah 75. Tepuk tangan! Pada kalimat (T1) di atas, dengan jelas mengharuskan adanya tujuan. Suruhan untuk bertepuk tangan. Tepuk tangan adalah perbuatan yang dilakukan sebagai

bentuk pemberian selamat. Kalimat T1 memberikan selamat kepada petugas Upacara. Dengan pemberian selamat itu pula, pada kalimat (T1), diharapkan petugas upacara selanjutnya dapat melakukan hal yang sama. Kalimat (T1) masuk dalam kriteria imperatif aktif. a.2 Imperatif Pasif Imperatif pasif dikelompokkan menjadi 5 macam, yaitu: pasif objektif, pasif benefaktif, pasif reseptif, pasif lokatif, dan pasif instrumental (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMAN 3 Tanjungpinang, peneliti menemukan kalimat imperatif pasif yaitu: T2 : Pertama sekali marilah kita bersyukur ke hadirat Allah Subhanahuwata ala dengan rahmatnya kita dapat berkumpul melaksanakan upacara bendera pada pagi hari ini dengan baik. Informasi indeksial pada kalimat (T2) adalah Pembina Upacara mengajak Peserta Upacara untuk bersyukur ke hadirat Allah (Tuhan). Dalam kalimat tersebut kadar suruhan terkesan rendah, namun lebih pada ajakan (berdasarkan teori Rahardi). Dengan demikian, kalimat tersebut tergolong dalam imperatif pasif. b. Klasifikasi Kalimat Imperatif b.1 Imperatif Biasa Ciri utama imperatif biasa adalah berintonasi keras, didukung dengan kata kerja dasar, dan berpartikel lah (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, peneliti menemukan kalimat imperatif biasa di antaranya: T1 : Ibu nilai kalau dinilai pakai angka KKM nya 70 maka, hari ini nilainya adalah 75. Tepuk tangan!

Kalimat (T1) sesuai dengan ciri utama kalimat imperatif biasa, yaitu berintonasi keras. Pada saat kalimat ini dituturkan, penutur (Pembina Upacara) menggunakan intonasi keras. b.2 Imperatif Permintaan Kalimat imperatif permintaan adalah kalimat imperatif dengan kadar sungguhan sangat halus. Lazimnya kalimat imperatif permintaan disertai dengan sikap penutur yang lebih merendah dibandingkan dengan sikap penutur ada waktu menuturkan kalimat imperatif biasa. Kalimat imperatif permintaan ditandai penanda kesantunan tolong, coba, harap, dan beberapa ungkapan lain, seperti: sudilah kiranya, dapatkah seandainya, diminta dengan hormat, dan dimohon dengan sangat (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMAN 3 Tanjungpinang, peneliti menemukan kalimat imperatif permintaan yaitu: T4 : Diharapkan untuk yang lainnya lebih bagus lagi. Informasi indeksial kalimat (T4) adalah Pembina Upacara meminta kepada petugas upacara yang akan bertugas di upacara selanjutnya dapat lebih baik lagi dibanding yang bertugas sekarang (pada saat kalimat dituturkan). Sesuai dengan teori Rahardi (2008), kalimat di atas termasuk ke dalam imperartif permintaan karena di dalamnya terdapat penanda kesantunan harap. b.3 Imperatif Pemberian Izin Imperatif pemberian izin ditandai dengan pemakaian penanda kesantunan: dipersilahkan, diperkenankan, dan diizinkan (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, peneliti menemukan kalimat imperatif pemberian izin diantaranya:

T12 : Anak-anak Bapak yang nilai di semester ganjil, sampai saat ini belum ananda tuntaskan, silakan kalian jumpa dengan Bapak dan Ibu guru yang bersangkutan. Informasi indeksial kalimat (T12) adalah Pembina Upacara memberikan izin kepada siswa menemui guru yang mengajar mata pelajaran untuk menuntaskan nilai. Kalimat (T12) masuk ke dalam klasifikasi kalimat imperatif pemberian izin karena terdapat kata penanda kesantunan silakan. b.4 Imperatif Ajakan Kalimat imperatif ajakan ditandai dengan penanda kesopanan: ayo, biar, coba, mari, harap, hendaknya, dan hendaklah (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMAN 3 Tanjungpinang, peneliti mendapati kalimat imperatif ajakan yaitu: T2 : Pertama sekali marilah kita bersyukur ke hadirat Allah Subhanahuwata ala. Dengan rahmat-nya kita dapat berkumpul melaksanakan upacara bendera pada pagi hari ini dengan baik. Kalimat (T2) merupakan kalimat imperatif ajakan dari Pembina Upacara ke seluruh Peserta Upacara untuk bersyukur yang ditandai dengan penanda kesantunan mari. b.5 Imperatif Suruhan Imperatif suruhan biasanya digunakan bersama peanda kesantunan ayo, biar, coba, harap, hendaklah, hendaknya, mohon, silahkan, dan tolong (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, peneliti menemukan kalimat imperatif ajakan yaitu:

T6 : Ibu harapkan OSIS, jangan ditunggu semuanya guru yang membimbing, guru yang berteriak-teriak di sini. Semua kegiatan ini diharapkan OSIS. Kalimat (T6) merupakan kalimat imperatif suruhan dari Pembina Upacara ke seluruh Peserta Upacara (khusunya Pengurus OSIS) untuk lebih pro aktif menangani kegiatan-kegiatan di sekolah yang ditandai dengan kata penanda kesantunan harap. c. Bentuk Pragmatik Imperatif Realisasi maksud imperatif dalam bahasa Indonesia apabila dikaitkan dengan kontek situasi tutur yang melatarbelakanginya. Berdasarkan teori yang dikemukakan Rahardi (2008), makna pragmatik imperatif tuturan sangat bergantung oleh konteksnya. Konteks yang dimaksud dapat bersifat ektra dan intra linguistik. Dapat amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, peneliti menemukan klasifikasi wujud pragmatik sebagai berikut: c.1 Imperatif Bermakna Perintah T10 : Pantun itu diserap, dihayati! Pada kalimat (T10) di atas, mengandung makna perintah. Perintah yang terdapat pada kalimat tersebut adalah Pembina Upacara memerintahkan untuk menyerap dan menghayati isi serta makna sebait pantun yang diucapkan sebelumnya. c.2 Imperatif Bermakna Suruhan Berdasarkan apa yang dikemukakan Rahardi (2008), imperatif bermakna suruhan ditandai kesantunan coba. Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang peneliti menemukan kalimat tersebut, yaitu: T12 : Coba kalian perhatikan dulu.

Suruhan pada kalimat (T12) di atas adalah Pembina Upacara menyuruh Peserta Upacara yang asyik dengan halnya masing-masing tanpa memperdulikan Pembina Upacara yang sedang memberikan amanat. Coba kalian perhatikan dulu adalah suruhan untuk mendengarkan serta menyimak apa yang Pembina Upacara sampaikan. c.3 Imperatif Bermakna Permintaan Sesuai dengan teori Rahardi 2008, imperatif bermakna permintaan ditandai dengan penanda kesopanan tolong, minta, dan mohon. Pada amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, peneliti menemukan imperatif bermakna permintaan yaitu: T8 : Tolong jangan membohongi orang tua ya! Segera dibayarkan uang sekolah atau uang komite yang telah dibayarkan oleh orang tuanya. Informasi indeksial pada kalimat (T8) di atas adalah Pembina Upacara meminta kepada seluruh siswa untuk jujur kepada orang tua. c.4 Imperatif Bermakna Permohonan Imperatif bermakna permohonan ditandai dengan penanda kesantunan mohon. Selain itu penggunaan partikel lah juga digunakan untuk memperhalus (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, imperatif bermakna permohonan yang ditemukan terdapat pada bagian penutup amanat. Pembina Upacara memohon maaf ke Peserta Upacara jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan selama penyampaian amanat. Imperatif bermakna permohonan yang dimaksud yaitu:

T42 : Saya rasa cukup yang ingin saya sampaikan pagi ini terlebih dan kurang saya mohon maaf saya akhiri dengan Wassalamualaikum waramatullahi wabarakatuh. Pada kalimat di atas mengandung imperatif bermakna permohonan. Yaitu permohonan maaf Pembina Upacara pada seluruh Peserta Upacara yang ditandai dengan kata penanda kesantunan mohon. c.5 Imperatif Bermakna Desakan Fokus utama pada imperatif bermakna desakan adalah intonasi penutur (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, imperatif bermakna desakan terdapat pada kalimat di bawah ini: T16 : Siapa yang tidak memakai dasi dan topi, silahkan keatas! Cepat! Pada kalimat T16 di atas, Pembina Upacara mendesak siswa yang berpakaian tidak lengkap (memakai dasi dan topi) untuk segera naik ke atas memisahkan diri. Kata cepat yang berintonasi tinggi merupakan desakan Pembina Upacara yang menginginkan siswa bergerak tak lambat dan didesak untuk harus mau memisahkan diri. c.6 Imperatif Bermakna Bujukan Imperatif yang bermakna bujukan di dalam bahasa Indonesia biasanya diungkapkan dengan penanda kesantunan ayo atau mari (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, imperatif bermakna bujukan tidak ditemukan.

c.7 Imperatif Bermakna Imbauan Imperatif bermakna imbauan lazimnya digunakan bersama pertikel lah (Rahardi, 2008). Pada amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, imperatif bermakna desakan terdapat pada kalimat di bawah ini: T18 : Jagalah kebersihan kelas! Kalimat (T18) di atas bermakna imbauan Pembina Upacara kepada seluruh siswa untuk menjaga kebersihan kelas. c.8 Imperatif Bermakna Persilaan Imperatif persilaan dalam bahasa indonesia menggunakan penanda kesantunan silakan (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, imperatif bermakna persilaan terdapat pada kalimat di bawah ini: T14 : Anak-anak bapak yang nilai disemester ganjil, sampai saat ini belum ananda tuntaskan, silakan kalian jumpa dengan bapak dan ibu guru yang bersangkutan. Pada kalimat (T14) di atas, Pembina Upacara mempersilakan kepada siswanya untuk menuntaskan nilai mata pelajaran dengan cara menjumpai guru mata pelajarannya. c.9 Imperatif Bermakna Ajakan Makna ajakan ditandai dengan penanda kesantunan mari atau ayo (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, imperatif bermakna ajakan terdapat pada kalimat di bawah ini: T29 : Marilah setiap kegiatan upacara kita gunakan sebagai ajang untuk pengendalian diri kita.

Ajakan pada kalimat (T29) di atas adalah ajakan dari Pembina Upacara untuk menjadikan upacara sebagai ajang atau wadah pengendalian diri. c.10 Imperatif Bermakna izin Imperatif dengan makna permintaan izin biasanya ditandai dengan penggunaan ungkapan penanda kesantunan mari dan boleh (Rahardi, 2008). Berdasarkan analisis klasifikasi pragmatik imperatif, imperatif bermakna izin tidak ditemukan di dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang. c.11 Imperatif Bermakna Mengizinkan Imperatif bermakna mengizinkan lazimnya menggunakan penanda kesantunan silahkan (Rahardi, 2008). Namun dalam memaknai hasil pengolahan data, peneliti menemukan beberapa kalimat dengan tidak menggunakan tanda kesantunan, namun dapat dimaknai sebagai pemberian izin. Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, imperatif bermakna mengizinkan sebagai berikut: T6 : Ibu banggakan sekali kepada anak murid anak ibu yang mau membagi ilmu. Kalimat (T6) bermakna imperatif mengizinkan, yaitu Pembina Upacara mengizinkan siswa yang telah mendapatkan pembelajaran lebih di luar sekolah untuk membagikan ilmu yang didapatkannya kepada rekan-rekannya di sekolah. c.12 Imperatif Bermakna Larangan Imperatif bermakna larangan ditandai dengan penggunaan kata jangan (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, imperatif bermakna larangan yang ditemukan yaitu: T1 : Nah itu pantunnya, tak usah tepuk tangan!

Kalimat (T1) merupakan kalimat imperatif bermakna larangan dari Pembina Upacara ke seluruh Peserta Upacara untuk bertepuk tangan yang ditandai dengan kata tak usah. c.13 Imperatif Bermakna Harapan Imperatif bermakna harapan mengunakan penanda kesantunan harap dan semoga (Rahardi, 2008). Dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, kalimat pragmatik impoeratif bermakna harapan yang ditemui adalah: T4 : Diharapkan untuk yang lainnya lebih bagus lagi Kalimat (T4) merupakan kalimat imperatif bermakna harapan dari Pembina Upacara ke seluruh Peserta Upacara untuk petugas upacara menjadi lebih baik lagi yang ditandai dengan kata penanda kesantunan harap. c.14 Imperatif Bermakna Umpatan Imperatif bermakna umpatan relatif digunakan dalam komunikasi sehari-hari (Rahardi, 2008). Berdasarkan analisis klasifikasi pragmatik imperatif, imperatif bermakna umpatan tidak ditemukan di dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang. c.15 Imperatif Bermakna Pemberian Selamat Imperatif bermakna pemberian selamat juga digunakan dalam komunikasi non formal sehari-hari (Rahardi, 2008). Berdasarkan analisis klasifikasi pragmatik imperatif, imperatif bermakna pemberian selamat tidak ditemukan di dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang.

c.16 Imperatif Bermakna Anjuran Secara struktural, imperatif yang mengandung makna anjuran ditandai dengan penggunaan kata hendaknya dan sebaiknya (Rahardi, 2008). Berdasarkan analisis klasifikasi pragmatik imperatif, imperatif bermakna anjuran yang ditemukan di dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang adalah: T29 : Upacara Bendera pada setiap hari Senin hendaknya jangan, sebagai rutinitas yang kurang bermakna. Kalimat (T9) merupakan kalimat imperatif bermakna anjuran dari Pembina Upacara ke seluruh Peserta Upacara untuk mengambil hikmah dari pelaksanaan upacara yang ditandai dengan kata penanda kesantunan hendaknya. c.17 Imperatif Bermakna Ngelulu Ngelulu bermakna seperti menyuruh mitra tutur melakukan sesuatru namun sebenarnya yang dimaksud adalah melarang melakukan sesuatu (Rahardi, 2008). Berdasarkan analisis klasifikasi pragmatik imperatif, imperatif bermakna anjuran yang ditemukan di dalam amanat Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang adalah: T48 : Minumlah kalau nak cepat mati! Pada kalimat (T48) di atas, Pembina Upacara menyuruh meminum minuman beralkoholol. Namun sebenarnya kalimat ini adalah larangan untuk meminum minuman keras, karena jika meminumnya maka akan lebih cepat meninggal atau mati. Dengan demikian kalimat T48 masuk ke dalam klasifikasi imperatif bermakna ngelulu.

4. Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari Bab sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa: 1. Pembina upacara dalam memberikan amanatnya menggunakan kalimatkalimat imperatif. Kalimat-kalimat yang dituturkan pembina upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang berbentuk imperatif aktif dan imperatif pasif. 2. Klasifikasi kalimat amanat pembina upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang, secara keseluruhan masuk ke dalam lima klasifikasi imperatif, yaitu: imperatif biasa, imperatif permintaan, imperatif pemberian izin, imperatif ajakan, dan imperatif suruhan. Pengelompokan kalimat amanat pembina upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang ke dalam tujuh belas wujud pragmatik imperatif, didapati bahwa Pembina Upacara di SMA Negeri 3 Tanjungpinang menggunakan wujud pragmatik bermakna perintah, suruhan, permintaan, permohonan, desakan, imbauan, persilaan, ajakan, mengizinkan, larangan, harapan, anjuran, dan ngelulu (tiga belas wujud pragmatik imperatif). Sedangkan empat wujud lainnya yaitu wujud pragmatik bujukan, izin, umpatan, dan pemberian selamat tidak ditemukan. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan hasil analisis peneliti menyarankan kepada dua eleman utama dalam komunikasi dalam penyampaian amanat pada bahasa pembina upacara di SMAN 3 Kota Tanjungpinang, yaitu komunikator (Pembina Upacara) dan komunikan (Peserta Upacara). Untuk komunikator (Pembina upacara) agar dapat menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam hal ini ialah agar Pembina upacara lebih mengedepankan bahasa-bahasa umum yang dapat dipahami secara langsung oleh seluruh siswa sebagai peserta upacara,

dimaksudkan agar peserta upacara bisa mengaplikasikannya dengan baik dan benar di kehidupan sehari-hari baik disekolah maupun dirumah. Untuk komunikan (Peserta Upacara), agar dapat lebih mengerti dan berusaha lebih memahami tentang apa yang disampaikan oleh Pembina upacara, karena tidak akan mungkin peserta upacara dapat mengaplikasikan amanat yang disampaikan pembina upacara dalam kehidupan sehari-hari baik dirumah ataupun di sekolah dengan baik dan benar apabila saat amanat tersebut disampaikan, peserta upacara memilih untuk tidak peduli. Dan tidak sungguhsungguh berusaha mendengarkan serta memahaminya. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Keraf, Gorys. 1970. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Mulyasa, 2011. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Nadar, F.X. 2008. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu Rahardi, Kunjana.2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Revita. Ike., SS. Program studi sastra Inggris, Universitas Andalas, dengan judul skripsi: Kajian Pragmatik tentang Tindak Tutur dalam Berbahasa Minangkabau Noermala Sari. Rista, 2013. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, dengan judul penelitian: Analisis Kesantunan Imperatif Ceramah

Agama Ustad Maulana Dalam Program Islam Itu Indah Selama Bulan Ramadhan di Trans TV Sunardi, 2012. Pascasarjana Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surakarta, dengan judul tesis: Tindak tutur kesantunan bentuk imperatif di situs jejaring sosial facebook (kajian pragmatik: studi kasus di SMA Negeri 1 Purworejo) Sutirman. 2013. Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Graha Ilmu Syamsudin & Damaianti. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya