MAKALAH SEMINAR HASIL Mahasiswa S1 Reguler

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays

I. PENDAHULUAN. jagung juga digunakan sebagai bahan baku industri, pakan ternak dan industri

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

Aplikasi Pupuk Kandang dan Pupuk SP-36 Untuk Meningkatkan Unsur Hara P Dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Tanah Inceptisol Kwala Bekala

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Contact Author : Keywords : Azolla inoculum, organic potassium, organic matter, fertilizers, soil fertility

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik

SKRIPSI. Oleh MOCHAMAD IQBAL WALUYO H

Imbangan Pupuk Organik dan Anorganik Pengaruhnya terhadap Hara Pembatas Minardi et al.

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung merupakan salah satu komoditas strategis yang bernilai

I. PENDAHULUAN. terpenting setelah padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2009 sekitar ton dan tahun 2010 sekitar ton (BPS, 2011).

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Sri Hartati, Jauhari Syamsiyah, Hery Widijanto, dan Moh. Arief Bonis S

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung manis merupakan tanaman yang sangat responsif terhadap

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Ubikayu merupakan salah satu tanaman penting di Indonesia. Ubikayu

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran.

PENGARUH BAHAN ORGANIK DAN PUPUK FOSFOR TERHADAP KETERSEDIAAN DAN SERAPAN FOSFOR PADA ANDISOLS DENGAN INDIKATOR TANAMAN JAGUNG MANIS

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN:

SKRIPSI RESPON KACANG TANAH DAN JAGUNG TUMPANGSARI SECARA DERET PENGGANTIAN TERHADAP PUPUK ORGANIK PENGGANTI NPK. Oleh Yuni Restuningsih H

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat

I. PENDAHULUAN. Ultisols merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran

Pengaruh Vermikompos terhadap Perubahan Kemasaman (ph) dan P-tersedia Tanah ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. Jagung manis (Zea mays saccharata) merupakan salah satu komoditas pertanian

Jurnal Agroekoteknologi FP USU E-ISSN No Vol.5.No.1, Januari 2017 (22):

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

RESPONS TANAMAN KEDELAI TERHADAP PEMBERIAN PUPUK FOSFOR DAN PUPUK HIJAU PAITAN

TINJAUAN PUSTAKA. sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian (potensial), asalkan

I. PENDAHULUAN. Perkebunan karet rakyat di Desa Penumanganbaru, Kabupaten Tulangbawang

Slamet Minardi, Joko Winarno, dan Abror Hanif Nur Abdillah. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126

Setie Harieni 1) dan Slamet Minardi 2) Contact Author :

TINJAUAN PUSTAKA. legend of soil yang disusun oleh FAO, ultisol mencakup sebagian tanah Laterik

II. TINJAUAN PUSTAKA. menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor

ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN DI KOTA SEMARANG

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kombinasi Pupuk Kimia dan Pupuk Organik terhadap Tanaman Jagung Manis

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan Metode Penelitian Pembuatan Pupuk Hayati

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

EFEKTIFITAS KOMPOS CAMPURAN AMPAS TEH, KOTORAN SAPI DAN KOTORAN KAMBING TERHADAP SERAPAN N PADA TANAMAN BAWANG DAUN PADA INCEPTISOL

PUPUK KANDANG MK : PUPUK DAN TEKNOLOGI PEMUPUKAN SMT : GANJIL 2011/2011

PENGUJIAN PUPUK TULANG AYAM SEBAGAI BAHAN AMELIORASI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SORGHUM DAN SIFAT- SIFAT KIMIA TANAH PODZOLIK MERAH KUNING PEKANBARU

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia, jagung (Zea mays L.) merupakan bahan pangan penting sebagai

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu

ISSN X Jurnal AGROTEK Vol 5, No 6 April 2017

*Contact Author : Keywords : Alfisols, azolla-based, organicfertilizer, phosphate rock, rice

PENDAHULUAN. Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu buah yang dikonsumsi segar.

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PUPUK ORGANONITROFOS DAN PUPUK KIMIA TERHADAP SERAPAN HARA DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG

APPLICATION OF MANURE AND Crotalaria juncea L. TO REDUCE ANORGANIC FERTILIZER ON MAIZE (Zea mays L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. dari 190 juta hektar luas daratan Indonesia. Kelemahan- kelemahan yang terdapat pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. tunggang dengan akar samping yang menjalar ketanah sama seperti tanaman dikotil lainnya.

SP-36 PADA ULTISOL UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN P DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Z

IV. HASIL PENELITIAN

JURNAL SAINS AGRO

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

PERAN BAHAN ORGANIK DAN TATA AIR MIKRO TERHADAP KELARUTAN BESI, EMISI CH 4, EMISI CO 2 DAN PRODUKTIVITAS PADI DI LAHAN SULFAT MASAM RINGKASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH DOSIS UREA-HUMAT TERHADAP KETERSEDIAAN N PADA ENTISOL DAN SERAPAN N OLEH TANAMAN JAGUNG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

KESUBURAN TANAH LAHAN PETANI KENTANG DI DATARAN TINGGI DIENG 1

PENERAPAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO JAGUNG HIBRIDA UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DI LAHAN INCEPTISOLS GUNUNGKIDUL

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Mineralisasi N dari Bahan Organik yang Dikomposkan

HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanah marginal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian. Secara alami

TINJAUAN PUSTAKA. kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut

PERBAIKAN SIFAT KIMIA TANAH FLUVENTIC EUTRUDEPTS PADA PERTANAMAN SEDAP MALAM DENGAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM DAN PUPUK NPK

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA MACAM BOKASHI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill.) di POLYBAG

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

DASAR-DASAR ILMU TANAH

RESPONS JARAK TANAM DAN DOSIS PUPUK ORGANIK GRANUL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG MANIS

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Karakteristik Lahan Sawah. reduksi (redoks) dan aktifitas mikroba tanah sangat menentukan tingkat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

SKRIPSI KOMBINASI DOSIS PUPUK FOSFOR, KALIUM, DAN KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG TANAH PADA LAHAN KERING ALFISOL

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

THE INFLUENCE OF N, P, K FERTILIZER, AZOLLA (Azolla pinnata) AND PISTIA (Pistia stratiotes) ON THE GROWTH AND YIELD OF RICE (Oryza sativa)

I. PENDAHULUAN. Pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktifitas. banyak populasi jasad mikro (fungi) dalam tanah (Lubis, 2008).

Imam Purwanto, Eti Suhaeti, dan Edi Sumantri Teknisi Litkaysa Penyelia Balitbangtan di Balai Penelitian Tanah

Transkripsi:

digilib.uns.ac.id 0 MAKALAH SEMINAR HASIL Mahasiswa S1 Reguler EFEKTIVITAS TAKARAN PUPUK ANORGANIK DAN PUPUK ORGANIK PADA LAHAN SAWAH BEKAS GALIAN C UNTUK MENINGKATKAN SERAPAN P DAN PRODUKTIVITAS JAGUNG (Zea mays L.) Disusun Oleh: WENI YUNIARTI 2) H0709124 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNUVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 1) Makalah disampaikan pada seminar hasil penelitian tingkat sarjana S1 Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2) Peneliti adalah mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS Surakarta di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. S. Minardi, M.P. sebagai pembimbing utama, Dr.Ir. Pardono, M.S. sebagai pembimbing pendamping dan Ir. Sri Hartati, M.P. sebagai pembahas.

digilib.uns.ac.id 1 EFEKTIVITAS TAKARAN PUPUK ANORGANIK DAN PUPUK ORGANIK PADA LAHAN SAWAH BEKAS GALIAN C UNTUK MENINGKATKAN SERAPAN P DAN PRODUKTIVITAS JAGUNG (Zea mays L.) Weni Yuniarti 2), S.Minardi 3), Pardono 3) Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ABSTRAK Alih fungsi lahan produktif menjadi lahan non produktif mengakibatkan semakin berkurangnya lahan pertanian. Hal tersebut mendorong manusia untuk memanfaatkan lahan sawah bekas galian C sebagai lahan pertanian. Lahan sawah bekas galian C memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah sehingga untuk memanfaatkannya perlu masukan pupuk anorganik dan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas takaran pupuk anorganik dan pupuk organik pada lahan sawah bekas galian C untuk meningkatkan serapan P dan produktivitas jagung. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan takaran pupuk anorganik dan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa takaran pupuk anorganik dan organik mempengaruhi kesuburan tanah, serapan P dan produktivitas jagung. Peningkatan kesuburan tanah tertinggi pada P3 dan peningkatan hasil tanaman jagung tertinggi pada P4. Kata kunci: galian C, pupuk anorganik, pupuk organik, jagung 1) 2) 3) Makalah disampaikan pada seminar hasil penelitian tingkat sarjana S1 Fakultas Peeranian Universitas Sebelas Maret Surakarta Peneliti adalah mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Pembimbing Utama dan Pembimbing Pendamping peneliti.

digilib.uns.ac.id 2 EFFECTIVITY OF THE ORGANIC AND ANORGANIC FERTILIZER DOSAGE ON C FORMER EXCAVATION (GALIAN C) PADDY FIELD TO INCREASE P UPTAKE AND MAIZE PRODUCTIVITY (Zea mays L.) Weni Yuniarti 2), S. Minardi 3), Pardono 3) Study Program of Agrotechnology, Agriculture Faculty Sebelas Maret University (UNS) Surakarta ABSTRACT The conversion of productive to unproductive land resulting the decrease of agricultural land availability. It encourages people to utilize the C former excavation paddy fields for conducting agricultural activity. The C former excavation paddy fields have low soil fertility, so it needs to be applied by organic and inorganic fertilizer to increase its fertility. Research was aimed to know the effectivity of the organic and anorganic fertilizer dosage on C former excavation paddy field to increase P uptake and maize productivity. It was conducted in a completely randomized design with organic and anorganic fertilizer as the treatment. Results showed that organic and anorganic fertilizer affected the soil fertility, P uptake and maize productivity. Highest soil fertility enhancement was showed by P3 and the highest maize yield was in P4. Keywords: C former excavation, anorganic fertilizer, organic fertilizer, maize PENDAHULUAN Alih fungsi lahan produktif menjadi non produktif banyak dilakukan manusia dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup. Salah satunya adalah pemanfaatan lahan sawah untuk galian C sebagai bahan pembuatan batu bata. Padahal, hal itu akan meninggalkan lahan bekas galian yang tidak produktif karena sifat-sifat tanah menjadi buruk dan berakibat pada penurunan kesuburan tanah sehingga kurang baik untuk budidaya pertanian (Hikmatullah et al. 2002). Kerusakan tanah akibat galian C sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang dibudidayakan. Hal itu akan berdampak pada penurunan produksi pertanian nasional, berkurangnya lahan produktif dan menurunnya tingkat kesuburan tanah. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakantindakan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan daya dukung tanah terhadap tanaman, seperti pertanian organik (Sutanto 2002). Penambahan masukan berupa bahan organik seperti pupuk kandang disertai pupuk anorganik dalam takaran

digilib.uns.ac.id 3 yang sesuai akan memperbaiki sifat-sifat tanah, meningkatkan efisiensi serapan hara serta meningkatkan produksi tanaman budidaya (Yuwono 2004). Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditi strategis setelah padi yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan dan industri pakan ternak. Perkembangan industri pengolahan pangan mengakibatkan kebutuhan akan jagung semakin meningkat sehingga perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan produksi jagung, seperti perluasan areal lahan dengan memanfaatkan lahan bekas galian C melalui pengaturan masukan berupa pupuk organik dan anorganik agar dapat meningkatkan produktivitas lahan dan produksi jagung. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Desember 2012, di Rumah Kaca Kebun Percobaan Jumantono Fakultas Peranian UNS Surakarta. Analisis laboratorium dilaksanakan di laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian UNS Surakarta. Bahan-bahan yang digunakan meliputi sampel tanah, benih jagung varietas Bisi-2, reagen-reagen pengekstrak dan khemikalia serta aquades. Alat-alat yang digunakan meliputi bor tanah, plastik, ember, ayakan dan seperangkat alat laboratorium (timbangan, AAS, oven). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri atas 6 perlakuan dan 4 kali ulangan serta diletakkan secara acak menyeluruh. P0 (kontrol), P1(pupuk anorganik sesuai anjuran urea 300 kg ha -1, SP36 100 kg ha -1 dan KCl 50 kg ha -1 ), P2 (pupuk kandang, dosis 5 ton ha -1), P3 (takaran 50% pupuk kandang dan 50% pupuk anorganik), P4 (takaran 75% pupuk kandang dan 25% pupuk anorganik), P5 (takaran 25% pupuk kandang dan 75% pupuk anorganik). Terdapat 6 kombinasi perlakuan dan diulang 4 kali sehingga terdapat 24 sampel. Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas dan terikat. Variabel bebas meliputi perlakuan tanpa pemberian pupuk organik serta perlakuan takaran pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik. Variabel terikat meliputi sifat kimia tanah (ph Tanah, Kadar Bahan Organik Tanah/C-Organik, KTK, P Tersedia dan N Total) dan pertumbuhan serta hasil tanaman jagung (tinggi tanaman, serapan P, berat segar dan berat kering brangkasan, berat tongkol, berat 1000 biji pipilan dan lingkar tongkol). Analisis data yang digunakan adalah Uji F

digilib.uns.ac.id 4 dengan taraf 95 %. Analisis regresi untuk mengetahui hasil tertinggi dari semua perlakuan dan apabila terdapat data tidak normal dilanjutkan uji Kruskal-Wallis. Selanjutnya uji korelasi untuk mengetahui hubungan antar variabel. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Tanah Awal dan Kualitas Pupuk Organik (Pupuk Kandang Sapi) Tabel 1. Hasil analisis tanah awal No Sifat Kimia Tanah Hasil Satuan Pengharkatan 1 Ph 5,5 - Masam * 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bahan Organik (BO) KTK Kejenuhan Basa (KB) N total P tersedia K tersedia Ca Mg C/N 1,01 15,52 21 0,17 0,91 0,23 2,81 1,24 9,41 % Me% % me% ppm cmol(+) kg -1 % % - Sangat Rendah ** Rendah * Rendah * Rendah * Sangat rendah* Rendah * Rendah * Sedang * Rendah * Sumber : Hasil analisis Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah FP UNS 2012 Keterangan: * Pengharkatan menurut Balai Penelitian Tanah Bogor (2005). ** Pengharkatan menurut PPT 1983 Berdasarkan hasil analisis kimia tanah (Tabel 1.) diketahui bahwa tingkat kesuburan lahan sawah bekas galian C (Desa Sukosari, Jumantono) rendah. Hal tersebut didukung dari hasil analisis tanah awal yang menunjukkan ph tanah masam, P tersedia sangat rendah, Mg sedang dan kandungan BO, KTK, KB, N total, K tersedia, Ca serta C/N rendah. Kondisi tanah tersebut mempengaruhi ketersediaan unsur hara di dalam tanah sehingga untuk mendukung produktivitas tanah perlu diberi masukan dalam pengelolaannya (Winarso 2005). Tabel 2. Hasil analisis pupuk organik (pupuk kandang sapi) No Variabel Pengamatan Hasil Standar SNI* 1 C-Organik 22,40% Minimal 15% 2 N total 1,09% 0,65% 3 P total 1,02% 0,15% 4 K total 1,07% 0,30% 5 C/N 20,55 12-25 6 C/P 21,96 - Sumber : Analisis Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah FP UNS Keterangan : Pengharkatan menurut commit Balittanah to user (2005)

digilib.uns.ac.id 5 Rata-rata hasil analisis pupuk organik/pupuk kandang sapi (Tabel 2.) menunjukkan komposisi kandungan kimianya baik. Pupuk kandang relatif lebih kaya hara dan mikroba daripada limbah pertanian (Rosmarkam dan Yuwono 2002). Kandungan unsur hara di dalam pupuk kandang sangat menentukan kualitas pupuk kandang tersebut. Menurut Sarief (1986), pupuk kandang mempunyai sifat menguntungkan, antara lain: sebagai sumber hara N, P, K dan hara mikro yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatkan daya menahan air serta banyak mengandung organisme yang berfungsi menghancurkan bahan organik tanah hingga berubah menjadi humus. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Pupuk Organik terhadap Variabel Tanah 0.80 0.60 0.40 0.20 0.68c 0.72c 0.13a 0.185a 0.48b 0.13a 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 1a 2.59b 1.49a 4.54c 1.53a 1.23a 40.00 30.00 20.00 10.00 38.03c 34b 24.70a 22.58a 24.82a 22.27a 0.00 N Total (me%) Perlakuan 0.00 BO Perlakuan 0.00 KTK Perlakuan Gambar 1. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Organik terhadap N Total Tanah (Pemupukan ke-0 dan Minggu ke-5), Bahan Organik dan KTK. Keterangan: Angka pada histogram yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Kruskal-Wallis taraf 95% Berdasarkan uji Kruskal-Wallis taraf 95%, diketahui bahwa takaran pupuk anorganik dan pupuk organik berpengaruh sangat nyata (p<0.01) terhadap N total, bahan organik dan KTK. Nilai N total dan bahan organik tertinggi pada P3 (50% pupuk kandang dan 50% pupuk anorganik sesuai anjuran) yaitu 0,72 me% dan 4,54% (Gambar 1.). Hal ini dikarenakan pupuk anorganik dan pupuk kandang sebagai sumber N dan bahan organik. Pernyataan tersebut didukung oleh Brady dan Buckman (1982) bahwa urea mengandung N sintetis dan hampir tiga kali N yang dikandung natrium nitrat mengalami hidrolisa dalam tanah menghasilkan ammonium karbonat sehingga urea menghasilkan ion NH + 4 dan ion NO - 3 bagi tanaman. N yang dibebaskan oleh mikroba dapat digunakan sebagai unsur hara

digilib.uns.ac.id 6 bagi tanaman, pupuk kandang dianggap sebagai pupuk N dan pupuk K dengan kadar yang lebih rendah. Menurut Isrun (2009), peningkatan N total tanah disebabkan oleh sumbangan N yang bersumber dari senyawa organik dan menghasilkan asam-asam organik yang apabila terhidrolisis menghasilkan ammonium (NH + 4 ) atau nitrat (NO - 3 ) yang tersedia bagi tanaman. Bahan organik tanah adalah sumber utama unsur hara makro (N, P dan S) serta unsur hara mikro bagi pertumbuhan tanaman. Sebagian unsur hara yang terdapat dalam bahan organik akan dimineralisasi oleh mikroba menjadi bentuk anorganik yang siap diserap tanaman (Hadisumarmo 2009). Penambahan pupuk kandang sebagai tambahan bahan organik akan meningkatkan C-organik tanah. Penambahan pupuk anorganik dapat menambah unsur hara sehingga kandungan bahan organik tanah juga bertambah (Hanafiah 2005). Jumlah total kation di dalam tanah yang dapat dipertukarkan disebut Kapasitas Tukar Kation (Winarso 2005). KTK tertinggi pada P4 (75% pupuk kandang dan 25% pupuk anorganik sesuai anjuran) yaitu 38,03% (Gambar 1.). Menurut Brady dan Buchman (1982), pupuk kandang merupakan sumber bahan organik yang terurai menjadi humus, mengandung banyak muatan (-) dari gugus fenolik (-OH) dan gugus karboksil (-COOH) sehingga kemampuan mengabsorbsi kation lebih besar. Hal ini berarti semakin tinggi bahan organik, semakin tinggi pula kapasitas tukar kation tanah. Kation-kation yang diadsorbsi oleh koloid tanah dapat digantikan oleh kation lain dari pupuk anorganik (Winarso 2005). Berdasarkan uji F 95%, nilai P tersedia dan K tertukar tertinggi pada P3 (50% pupuk kandang dan 50% pupuk anorganik sesuai anjuran) yaitu sebesar 29,04 ppm P 2 O 5 dan 3,2 ppm (Gambar 2.). Hal tersebut dikarenakan masukan pupuk anorganik dan organik mampu menyumbangkan P dan K ke dalam tanah. Peningkatan P tersedia akibat pemberian pupuk organik disebabkan oleh sumbangan langsung dari P yang terdapat di dalamnya dan tidak langsung melalui mekanisme dari senyawa organik yang memiliki gugus fungsional asam humat dan fulvat. Senyawa organik tersebut berperan dalam pertukaran anion P dengan anion asam humat/fulvat pada kompleks jerapan sehingga P tersedia meningkat (Stevenson 1994 cit. Isrun 2009). Pupuk menyebabkan melimpahnya K terlarut dan sebagian besar K diambil oleh commit tanaman, to user terikat dan tercuci (Foth 1994).

digilib.uns.ac.id 7 Pupuk kandang berfungsi sebagai sumber K sekaligus penyemat K tertukar yang berlebih dan melepaskannya kembali secara perlahan, pemberian pupuk kandang akan efektif apabila disertai pemberian kalium (Herlina dan Sulistyono 1990, Widijanto 2001 cit. Budianto dan Ngawit 2012). 35.00 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 P 2 O 5 ppm 28.4a 29.04a 26.75a 28.04a 28.40a 23.49a Perlakuan K Tertukar 4.0 3.0 2.0 1.0 0.0 3.2b 2.0ab 1.3a 0.7a 0.9a 0.4a Perlakuan ph Tanah 8 6 4 2 0 6.8b 6.2a 6.6ab 6.5ab 6.8b 6.2a 5.6a 6.4b 6.1ab 6.0ab 6.2b 6.1ab KCl H20 Perlakuan Gambar 2. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Organik terhadap P Tersedia, K tertukar dan ph Tanah Keterangan: Angka pada histogram yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji F taraf 95% Berdasarkan uji F taraf 95%, bahwa ph actual dan potensial tertinggi pada P1 (pemberian pupuk anorganik sesuai anjuran) yaitu 6,8 dan 6,4. Hal tersebut dikarenakan pada Alfisols terjadi pencucian basa-basa yang terdapat di lapisan atas turun ke lapisan dibawahnya sehingga ph di lapisan bawah lebih alkali dibandingkan ph di atasnya. Menurut Rosmarkam dan Yuwono (2002), pemupukan anorganik merupakan alternatif pengelolaan tanah masam yang biasa dilakukan. Alfisols merupakan ordo tanah dengan KTK tinggi, ph actual > ph potensial (Gambar 2.) sehingga delta ph positif (delta ph= ph H 2 0-pH KCl) berarti tanah mempunyai komplek jerapan yang didominasi muatan (+) sehingga

digilib.uns.ac.id 8 KTK > KTA. Pernyataan tersebut didukung oleh Tan (1982) bahwa suatu nilai positif untuk delta ph menunjukkan dominasi koloid klei bermuatan negatif. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Pupuk Organik terhadap Serapan P Penambahan bahan organik memberikan kondisi yang mendukung tanaman, struktur tanah menjadi baik, kandungan P meningkat, mengurangi keracunan Al dan Fe (Rahayu 2002). Penggunaan BO dan sumber P meningkatkan kadar P tersedia sehingga meningkatkan serapan P oleh tanaman jagung (Sutopo 2003). Berdasarkan uji F taraf 95%, tingkat serapan P tertinggi pada P4 (75% pupuk kandang dan 25% pupuk anorganik sesuai anjuran) yaitu sebesar 0,1063 kg/tanaman (Gambar 3.). Menurut Soepardi (1979), peningkatan ketersediaan P di dalam tanah akibat penambahan pupuk akan berpengaruh terhadap serapan P. P tersedia berhubungan erat dan sangat berpengaruh terhadap serapan P (r= 0.032), P-value= 0.882). 0.1200 Serapan P (gram/tanaman) 0.1000 0.0800 0.0600 0.0400 0.0200 2.47a 9.12b 10.17b 10.57b 10.61b 10.15b 0.0000 Perlakuan Gambar 3. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Pupuk Organik terhadap Serapan P Keterangan: Angka pada histogram yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji F 95% dengan Minitab. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Organik terhadap Produktivitas Tanaman Jagung Tinggi tanaman merupakan indikator pertumbuhan tanaman. Pernyataan tersebut didukung oleh Lestari et commit al. (2010) to user bahwa indikator pertumbuhan suatu

digilib.uns.ac.id 9 tanaman adalah adanya peningkatan volume dan berat, peningkatan volume dapat dilihat antara lain dari adanya penambahan tinggi tanaman, diameter batang dan panjang tongkol. 300 250 200 150 100 50 162.78a 245b 276.93b 275.68b 266.4b 260.55b 0 P0 P1 P2 Perlakuan P3 P4 P5 Tinggi Tanaman (cm) Perlakuan Gambar 4. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Pupuk Organik terhadap Tinggi Tanaman Keterangan:Angka pada histogram yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji Kruskal-Wallis 95% dengan Minitab Berdasarkan uji Kruskal-Wallis taraf 95% menunjukkan tinggi tanaman tertinggi (Gambar 4.) pada P2 (takaran pupuk kandang sesuai anjuran) yaitu 276,93 cm. Hal tersebut diduga karena unsur hara yang terkandung dalam pupuk kandang dapat diserap dengan baik oleh tanaman sehingga dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Menurut Rosmarkan dan Yuwono (2002), pupuk kandang secara kualitatif relatif lebih kaya hara dan mikrobia dibanding limbah pertanian. Unsur N, P dan K merupakan unsur utama bagi pertumbuhan tanaman (Sarief 1986). Berdasarkan uji F taraf 95% menunjukkan bahwa takaran pupuk anorganik dan organik berpengaruh sangat nyata terhadap berat segar, berat kering brangkasan, berat dan lingkar tongkol serta berat 1000 biji pipilan (p<0.01). Berat segar dan berat kering brangkasan (Gambar 5.) serta berat tongkol (Gambar 6.) tertinggi pada P4 (75% pupuk kadang dan 25% pupuk anorganik sesuai anjuran) yaitu sebesar 298,08 g; 37,68 g dan 117,5 g. Berat 1000 biji pipilan tertinggi pada P3 (50% pupuk kandang dan 50% pupuk anorganik sesuai anjuran). Hal tersebut dikarenakan hara yang dibutuhkan tanaman tercukupi oleh pasokan pupuk kandang dan pupuk anorganik. Menurut Soepardi (1979) cit. Minardi (2002), kecukupan unsur hara bagi tanaman khususnya hara P akan memacu peningkatan proses fotosintesis dan berpengaruh pada peningkatan berat kering tanaman.

digilib.uns.ac.id 10 Pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisik tanah sehingga pasokan hara dapat diserap tanaman dengan baik. Serapan P berhubungan erat dan sangat berpengaruh terhadap berat tongkol (r=0.354; P-value=0.004). Soepardi (1979) menjelaskan bahwa serapan P memacu peningkatan proses fotosintesis yang menghasilkan karbohidrat dalam jumlah banyak, ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman, sebagian ditimbun pada tongkol untuk pembentukan dan pengisian biji. Serapan P berhubungan cukup erat dan sangat berpengaruh terhadap berat 1000 biji pipilan (r=0.352; P-value=0.090) 400 300 200 100 0 239.08c 273.03c 298.08c 238.45bc 188.45b 81.25a 10.6a 32.48b 36.02b 36.38b 37.68b 37.65b berat segar berat kering Gambar 5. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Pupuk Organik terhadap Berat Segar dan Berat Kering Brangkasan. Keterangan: Angka pada histogram yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji F 95% dengan Minitab 140 120 100 80 60 40 20 0 98.75b 107.5b 111.25b 117.5b 115b 10a 12.6b 12.5b 12.3b 12.5b 13.0b 6.2a berat tongkol lingkar tongkol Berat 1000 Biji Pipilan (g) 350 300 250 200 150 100 50 0 176.5a 285.75a 259.25a 278.25a 247.5a 254a Gambar 6. Pengaruh Takaran Pupuk Anorganik dan Pupuk Organik terhadap Berat Tongkol, Lingkar Tongkol dan Berat 1000 Biji Pipilan. Keterangan: Angka pada histogram yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji F 95% dengan Minitab. Lingkar tongkol tertinggi pada P5 (25% pupuk kandang dan 75% pupuk anorganik sesuai anjuran) yaitu 13 cm. Serapan P berhubungan cukup erat dan

digilib.uns.ac.id 11 sangat berpengaruh terhadap lingkar tongkol (r=0.454; P-value=0.026). Pasokan P yang tinggi dari pupuk organik maupun anorganik mampu menyediakan P bagi tanaman yang dapat meningkatkan laju fotosintesis dan pertumbuhan akar (Islami dan Utomo 1995). Soegiman 1982 cit. Rahayu 2002, ketersediaan P dan hara lain memacu proses fotosintesis dan menghasilkan fotosintat yang sebagian disimpan di tongkol untuk pengisian biji, semakin banyak fotosintat yang disimpan berarti tongkol semakin besar dan lingkar tongkol semakin lebar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Kesuburan awal tanah galian C di Desa Sukosari rendah, ditunjukkan oleh ph masam, BO rendah (1,01 %), KTK rendah (15,52 Me%), P tersedia sangat rendah (0,91 ppm), Ca rendah (2,81 %), K tersedia rendah (0,23 cmol(+)kg -1 ), N total rendah (0,17 me%), Mg sedang (1,24%) dan C/N rendah (9,41). 2. Pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik mampu meningkatkan kesuburan tanah galian C meskipun belum bisa dikatakan tanah menjadi subur. N total, P tersedia, K tertukar dan kadar BO tertinggi ditunjukkan pada takaran 50% pupuk kandang dan 50% pupuk anorganik sesuai anjuran. 3. Takaran pupuk yang paling efektif dalam meningkatkan serapan P ditunjukkan pada takaran 75% pupuk kandang dan 25% pupuk anorganik sesuai anjuran yaitu sebesar 0,1063 kg/tanaman, tidak berbeda dengan takaran 50% pupuk kandang dan 50% pupuk anorganik sesuai anjuran sebesar 0,1055 kg/tanaman. 4. Takaran pupuk pada takaran 75% pupuk kandang dan 25% pupuk anorganik sesuai anjuran mampu meningkatkan produktivitas jagung, ditunjukkan pada serapan P, berat segar dan berat kering brangkasan serta berat tongkol, masing-masing senilai 0,1063 kg/tanaman; 298,08 g; 37,68 g dan 117,5 g. Saran Berdasarkan penelitian ini, perlu adanya penelitian lanjutan untuk mengetahui takaran kombinasi pupuk yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman pangan (kecuali jagung dan padi) untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan bekas galian C serta dapat menjadi rekomendasi pemupukan bagi petani.

digilib.uns.ac.id 12 DAFTAR PUSTAKA Brady NC dan Buckman HO. 1982. The Nature and Properties of Soils (Terjemahan). Jakarta : PT. Bharatara Karya Aksara. Balittanah 2005. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Bogor: Agro Inovasi. Budianto VF dan Ngawit IK 2012. Hasil Jagung pada Berbagai Frekuensi Pemberian Kalium di Vertisol Lombok yang diberi Pupuk Kandang Sapi Http://fp.unram.ac.id/data/2012/02/5Ngawit.pdf. Diakses tanggal 22 Januari 2012. Hadisumarmo P 2009. Biologi Tanah Kajian Pengelolaan Tanah Berwawasan Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Indonesia Cerdas. Hanafiah KA 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1srun 2009. Perubahan Status N, P, K Tanah Dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt) Akibat Pemberian Pupuk Cair Organik pada Entisols. J. Agroland 16 (4) : 281 285. Lestari AP, Sarman S dan Indraswari E. 2010. Subtitusi Pupuk Anorganik Dengan Kompos Sampah Kota Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt). Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains 12(2): 01-06. Minardi S 2002. Kajian terhadap Pengaturan Pemberian Air dan Dosis TSP dalam Mempengaruhi Keragaan Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Tanah Vertisol. Jurnal Sains Tanah 2(1). Rahayu H 2002. Pengaruh Penambahan Dosis Bahan Organik dan Dolomit terhadap Ketersediaan dan Serapan P dengan Indikator Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea) pada Tanah Latosol. Jurnal Sains Tanah 2(1). Rosmarkam A dan Yuwono NW 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Sarief S 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Cetakan kedua. Bandung: Pustaka Buana. Soepardi G 1979. Masalah Kesuburan Tanah di Indonesia. Bogor: Departemen Ilmu Tanah IPB. Sutopo 2003. Kajian Penggunaan bahan organik berbagai bentuk sekam padi dan dosis pupuk P terhadap pertumbuhan dan Hasil jagung (Zea mays). Jurnal Sains Tanah 3(1). Tan KH 1991. Dasar-dasar Kimia Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Winarso S 2005. Kesuburan Tanah (Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah). Yogyakarta:Gava Media.

digilib.uns.ac.id EFEKTIVITAS TAKARAN PUPUK ANORGANIK DAN PUPUK ORGANIK PADA LAHAN SAWAH BEKAS GALIAN C UNTUK MENINGKATKAN SERAPAN P DAN PRODUKTIVITAS JAGUNG (Zea mays L.) Weni Yuniarti 2), S.Minardi 3), Pardono 3) Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ABSTRAK Alih fungsi lahan produktif menjadi lahan non produktif mengakibatkan semakin berkurangnya lahan pertanian. Hal tersebut mendorong manusia untuk memanfaatkan lahan sawah bekas galian C sebagai lahan pertanian. Lahan sawah bekas galian C memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah sehingga untuk memanfaatkannya perlu masukan pupuk anorganik dan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas takaran pupuk anorganik dan pupuk organik pada lahan sawah bekas galian C untuk meningkatkan serapan P dan produktivitas jagung. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan takaran pupuk anorganik dan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa takaran pupuk anorganik dan organik mempengaruhi kesuburan tanah, serapan P dan produktivitas jagung. Peningkatan kesuburan tanah tertinggi pada P3 dan peningkatan hasil tanaman jagung tertinggi pada P4. Kata kunci: galian C, pupuk anorganik, pupuk organik, jagung

digilib.uns.ac.id 1) 2) Peneliti adalah mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Pembimbing Utama dan Pembimbing Pendamping peneliti.

digilib.uns.ac.id EFFECTIVITY OF THE ORGANIC AND ANORGANIC FERTILIZER DOSAGE ON C FORMER EXCAVATION (GALIAN C) PADDY FIELD TO INCREASE P UPTAKE AND MAIZE PRODUCTIVITY (Zea mays L.) Weni Yuniarti 2), S. Minardi 3), Pardono 3) Study Program of Agrotechnology, Agriculture Faculty Sebelas Maret University (UNS) Surakarta ABSTRACT The conversion of productive to unproductive land resulting the decrease of agricultural land availability. It encourages people to utilize the C former excavation paddy fields for conducting agricultural activity. The C former excavation paddy fields have low soil fertility, so it needs to be applied by organic and inorganic fertilizer to increase its fertility. Research was aimed to know the effectivity of the organic and anorganic fertilizer dosage on C former excavation paddy field to increase P uptake and maize productivity. It was conducted in a completely randomized design with organic and anorganic fertilizer as the treatment. Results showed that organic and anorganic fertilizer affected the soil fertility, P uptake and maize productivity. Highest soil fertility enhancement was showed by P3 and the highest maize yield was in P4. Keywords: C former excavation, anorganic fertilizer, organic fertilizer, maize

digilib.uns.ac.id EFFECTIVITY OF THE ORGANIC AND ANORGANIC FERTILIZER DOSAGE ON C FORMER EXCAVATION (GALIAN C) PADDY FIELD TO INCREASE P UPTAKE AND MAIZE PRODUCTIVITY (Zea mays L.) Weni Yuniarti 2), S. Minardi 3), Pardono 3) Study Program of Agrotechnology, Agriculture Faculty Sebelas Maret University (UNS) Surakarta ABSTRACT The conversion of productive to unproductive land resulting the decrease of agricultural land availability. It encourages people to utilize the C former excavation paddy fields for conducting agricultural activity. The C former excavation paddy fields have low soil fertility, so it needs to be applied by organic and inorganic fertilizer to increase its fertility. Research was aimed to know the effectivity of the organic and anorganic fertilizer dosage on C former excavation paddy field to increase P uptake and maize productivity. It was conducted in a completely randomized design with organic and anorganic fertilizer as the treatment. Results showed that organic and anorganic fertilizer affected the soil fertility, P uptake and maize productivity. Highest soil fertility enhancement was showed by P3 and the highest maize yield was in P4. Keywords: C former excavation, anorganic fertilizer, organic fertilizer, maize