KEDUDUKAN SISWA DI DALAM KELOMPOK

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 3.

DESKRIPSI KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DITINJAU DARI RASA PERCAYA DIRI MAHASISWA. Oleh :

PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS DAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING. Abstrak

Kedudukan Siswa dalam Kelompok

PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN LOGIS MATEMATIKA SISWA MELALUI PEMBELAJARAN DISCOVERY METHODS DI KELAS X SMA NEGERI 2 SIGLI. Fithri Angelia Permana

PENILAIAN BERBASIS KURIKULUM 2013*)

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI PROFESIONAL DENGAN KINERJA GURU DI KABUPATEN KLATEN

PENGGUNAAN SELF ASSESSMENT SEBAGAI UPAYA DOSEN MENINGKATKAN OBYEKTIVITAS DALAM PENILAIAN TUGAS PROYEK

SILABUS EVALUASI PEMBELAJARAN SD (GD 519 / 2 SKS) SEMESTER GANJIL (7)

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS Dengan Pendekatan CTL Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Lisan dan Koneksi Matematis

HUBUNGAN ANTARA SELF-CONFIDENCE DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMP

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS SOAL UJIAN AKHIR SEKOLAH MATEMATIKA KELAS IX SMP SE-KABUPATEN KLATEN TAHUN AJARAN 2011/2012 NASKAH PUBLIKASI

P 34 KEEFEKTIFAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME TERHADAP KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH ANALISIS REAL I

Fraenkel, J.R & Wallen, N. (1993). How to Design and Evaluate Research in Education. Singapore: Mc. Graw Hill.

MENINGKATKAN PEMAHAMAN MAHASISWA DENGAN PENGGUNAAN MICROSOFT MATHEMATICS SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MATA KULIAH KALKULUS

ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIK MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

IDENTIFIKASI KESALAHAN JAWABAN MAHASISWA DITINJAU DARI KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN SELF CONFIDENCE

Pembelajaran Matematika dengan Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematis Siswa SMA

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII 3 SMP NEGERI 26 MAKASSAR.

BAB I BAB I PENDAHULUAN. peserta didik ataupun dengan gurunya maka proses pembelajaran akan

PEMANFAATAN HASIL EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA DI KOTA BANJARMASIN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN SISWA DENGAN WAWANCARA KLINIS PADA PEMECAHAN MASALAH ARITMETIKA SOSIAL KELAS VIII SMP

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUKMENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIK DAN SELF EFFICACY

Oleh : Drs. Udiyono, M.Pd.

EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR PENILAIAN PADA PEMBELAJARAN BATIK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

ABSTRAK. Kata Kunci: Pembelajaran Penemuan Terbimbing, Kemampuan Pemahaman Dan Penalaran Matematik

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODUL DENGAN PENDEKATAN CTL TERHADAP KEBERHASILAN PENGAJARAN REMEDIAL KELAS VIII

PERBANDINGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK TALK WRITE

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Tentang Upaya Meningkatkan Pemahaman. 1. Pengertian Upaya Meningkatkan Pemahaman

KORELASI ANTARA KEMAMPUAN KOGNITIF MAHASISWA PADA MATA KULIAH TELAAH KURIKULUM FISIKA DAN PENGEMBANGAN PROGRAM PENGAJARAN FISIKA

PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASSESSMENT SIKAP ILMIAH BERBASIS SELF ASSESSMENT DALAM PEMBELAJARAN FISIKA SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) PERTEMUAN KE 1

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA

DESKRIPSI KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH STATISTIK PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN. Rosdakarya, 2010), Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), 2.

ANALISIS PROGRAM PJOK BERDASARKAN PENDEKATAN GOAL-ORIENTED EVALUATION MODEL

POTENSI PENALARAN ADAPTIF MATEMATIS SISWA DALAM MATERI PERSAMAAN GARIS LURUS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

PROFIL PENALARAN PESERTA DIDIK DITINJAU DARI KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA PADA MATERI BILANGAN PECAHAN SKRIPSI

DAFTAR PUSTAKA. Akdon. (2008). Aplikasi Statistika dan Metode Penelitian untuk Administrasi dan Manajemen. Bandung: Dewa Ruche.

PROSIDING ISBN :

PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMP

ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH STRUKTUR ALJABAR II (TEORI GELANGGANG)

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan sesuatu yang tidak asing bagi semua kalangan

KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DI SMP

Oleh Nila Kesumawati Jurusan Pendidikan Matematika, FKIP Universitas PGRI Palembang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Helen Martanilova, 2014

BAB I PENDAHULUAN. untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. 1 Dalam artian,

PENGUASAAN MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNSAM TERHADAP MATERI INTEGRAL

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs.

Vol. 3 No. 2 (2014) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 1 : Hal Deni Novalita 1), Hendra Syarifuddin 2), Nilawasti ZA 3) Abstract

KEDUDUKAN SISWA DALAM KELOMPOK

KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI KEMAMPUAN DASAR MATEMATIKA DI SMP

I. PENDAHULUAN. depan yang lebih baik. Melalui pendidikan seseorang dapat dipandang terhormat,

KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DALAM MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DI KELAS VIII SMP

HAKIKAT EVALUASI PENDIDIKAN

ANALISIS KEMAMPUAN MULTI REPRESENTASI MATEMATIS BERDASARKAN KEMAMPUAN AWAL MATEMATIS MAHASISWA

ANALISIS BUTIR SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER MATA KULIAH BIOLOGI UMUM DI UNIVERSITAS PAPUA

UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INQUIRY BERBANTUAN SOFTWARE AUTOGRAPH

EFEKTIVITAS PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN REPRESENTASI DAN SELF CONFIDENCE MATEMATIS SISWA ABSTRAK

PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SEKOLAH DASAR DENGAN PENGGUNAAN MEDIA CERITA BERGAMBAR DIBANDINGKAN MEDIA DIALOG NARASI

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1. Pendidikan Guru Sekolah Dasar

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Instrumen adalah alat yang digunkan untuk mengumpulkan data dalam

STRATEGI EVALUASI PADA PEMBELAJARAN PROGRAM PRODUKTIF SMK. Ratna Setyohandani SMK Ibu Kartini Semarang. Abstrak

BAB V PENUTUP. yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Siswa berkemampuan tinggi kelas IX C SMP Islam Sunan Gunung Jati

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DAN RECIPROCAL TEACHING PADA MATERI BANGUN DATAR SISWA SMP

RANCANGAN SISTEM EVALUASI dan MONITORING PROSES PEMBELAJARAN PADA PROGRAM STUDI

SISTEM EVALUASI PEMBELAJARAN PAI (KE-1) PROGRAM PASCA SARJANA STAIN SALATIGA

KUALITAS TES PRA OLIMPIADE BIDANG STUDI MATEMATIKA TINGKAT SMP DI KOTA BAUBAU

BAB III METODE PENELITIAN. mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta

Muhammadiyah Surakarta. Muhammadiyah Surakarta. Muhammadiyah Surakarta Alamat

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA SMP

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian tidak memungkinkan untuk dikontrol secara penuh, tetapi peneliti

PENGEMBANGAN PERANGKAT PENILAIAN KOGNITIF DAN AFEKTIF PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang tidak pernah lepas dari segala bentuk aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari,

Alamat Korespondensi: Jl. Ir. Sutami No. 36A Kentingan Surakarta, , 2)

IMPLEMENTASI KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU IPS SMP/MTs DI KECAMATAN PANDAK JURNAL SKRIPSI

PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI TINGKAT KEMAMPUAN DASAR MATEMATIKA

DESKRIPSI PENGUASAAN KOMPETENSI DASAR OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT PADA SISWA KELAS IV SD SE-KECAMATAN PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGEMBANGAN SOAL NON RUTIN BERBASIS KOMPUTER UNTUK MELATIH PENGGUNAAN KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA

BAB III METODE PENELITIAN. generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan

PENGARUH PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA PADA MATERI SEGIEMPAT DI SMP

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN KONEKSI MATEMATIS SISWA SMP PENCAWAN MEDAN. Arisan Candra Nainggolan

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE INDEX CARD MATCH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN INSTRUMENTAL DAN RELASIONAL SISWA SMP.

InfinityJurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung, Vol 4, No.2, September 2015

Transkripsi:

Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan Tahun 2014 KEDUDUKAN SISWA DI DALAM KELOMPOK Basuki dan Yulinda erma Suryani 1, Universitas Widya Dharma Klaten yulinda@unwidha.ac.id 1, Abstrak Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menentukan kedudukan siswa di dalam kelompok. Berdasarkan hasil perbandingan antar nilai rerata dengan Zscore dapat diketahui bahwa ada beberapa siswa yang urutan kedudukan di dalam kelompok kelas 2 A atau yang disebut dengan rengking mengalami perubahan diantaranya: Kyla, Aura, Riri, Aisyah, Layyina, Akmal, Fai, Aal, Adinda, sofi, hilya, Ramzi, Hafiy, Khalid, Naufal, Naura, Rara, Abiyan, Rafif dan Edo. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa dari 36 orang siswa kelas 2A SDIT Lukman Al Hakim Yogyakarta ada 18 orang atau 50% siswa yang kemampuannya berada di bawah rerata kelompok. Kata kunci: Kedudukan, Kelompok. Pendahuluan Harkat dan martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Dalamkonteks bangsa Indonesia, peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaranpembangunan di bidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upayapeningkatan kualitas manusia Indonesia secara menyeluruh (E. Mulyasa, 2005). Menurut PPno 32 Tahun 2013 pasal 2 ayat 2 yang menyatakan bahwa Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses Pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar Peserta Didik secara berkesinambungan. Penilaian digunakan untuk: a. menilai pencapaian Kompetensi Peserta Didik; b. bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar; dan c. memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. Bagi siswa sendiri, sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya. menurut Djemari Mardapi (1999:) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995) penilaian adalah keputusan tentang nilai. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal yang terdapat pada tes. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan dalam bentuk nilai.penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui 406 SNEP II Tahun 2014 ISBN 978-602-14215-5-0

Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan Tahun 2014 sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai. dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni pengukuran, assessment dan evaluasi. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Sementara, pengertian asesmen (assessment) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Sedangkan evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang bertarti value, yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni: a). Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu. b). Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas. c) Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasilpengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan. Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui bahwa perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhadap pertanyaan what value untuk evaluasi dan how much untuk pengukuran. Adapun asesmen berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. Artinya bahwa sebelum melakukan asesmen ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran. Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation) secara teoretik definisinya berbeda, namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluasi pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta pembandingan (assessment). Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik.dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain: 1) untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu; 2) untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran; 3) untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya; 4) untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan. Bersadarkan uraian tersebut diatas, dapat diketahui bahwa penilaian merupakan hal yang sangat penting untuk memperbaiki mutu pendidikan. melalui penelitian ini akan dilakukan analisis terhadap hasil penilaian yang dilakukan disekolah. Berdasarkan hasil penilaian akan dapat diketahui kedudukan seorang siswa dalam kelompoknyan yang dapat dijadikan ukuran dalam pencapaian hasil belajar. Dengan melihat kedudukan siswa dalam kelompok akan dapat diketahui siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar. Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompok ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu: 1) dengan ranking sederhana (Simple rank); 2) dengan ranking persentase (percentile rank); 3) dengan standar deviasi; dan 4) dengan menggunakan Z- Score. Rangking sederhana (Simple rank) adalah urutan yang menunjukan posisi atau kedudukan seorang peserta didik di tengah- tengah kelompoknya, yang dinyatakan dengan nomer atau angkaangka biasa. Dimaksud dengan rangking persentase adalah angka yang menunjukan urutan ISBN 978-602-14215-5-0 SNEP II Tahun 2014 407

Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan Tahun 2014 kedudukan seorang peserta didik di tengah-tengah kelompoknya, dimana angka tersebut menunjukan persentase dari peserta didik yang berada dibawahnya. Yang dimaksud dengan penentuan kedudukan siswa dengan standar deviasi adalah penentuan kedudukan dengan membagi kelas atas kelompok-kelompok. Tiap kelompok dibatasi oleh suatu standar deviasi tertentu. Standar Skor atau zscore adalah: Angka yang menunjukan perbandingan perbedaan score seseorang dari mean, dengan standard deviasinya Standard score ini lebih mempunyai arti dibandingkan dengan score itu sendiri karena telah dibandingkan dengan suatu standard yang sama. Pada penelitian ini penentuan kedudukan kelompok yang digunakan adalah berdasarkan Z score. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menentukan kedudukan siswa di dalam kelompok berdasarkan Zscore. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi guru dalam pengelompokan siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini orangtua juga bisa mengetahui kedudukan anak didalam kelompoknya. Hasil penelitian ini juga bisa digunakan sebagai acuan pada pihak sekolah, agar dalam mengelompokkan siswa harus menggunakan nilai yang sudah terstandar. Karena pengelompokan siswa dengan menggunakan nilai yang sudah terstandar dapat digunakan kapansaja dan dimana saja. Sehingga pengelompokan siswa tepat sesuai dengan sasaran dan tujuan pengelompokan tersebut. Metode Penelitian Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu menggunakan data nilai raport semester gasal siswa kelas 2A SDIT Lukman Alhakim Yogyakarta Tahun Pelajaran 2013/2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Menurut Suharsimi(1992), metode pengumpulan data yang dilakukan melalui telaah terhadapbenda-benda tertulis seperti majalah, buku-buku, peraturan-peraturan, notulenrapat, catatan haraian dan sebagainya disebut metode dokumentasi. Metode dokumentasi juga bisa digunakan untuk menentukan validasiatau proses validasi. Ini sesuai dengan pendapat Azwar (2003) yangmenyatakan bahwa proses validasi tidak hanya untuk menentukan validasi alatukur saja, namun dapat juga untuk menentukan validasi terhadap interprestasidata yang diperoleh dengan prosedur tertentu. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil ulangan siswa kelas 2A SDIT Lukman Al Hakim Yogyakarya Tahun Pelajaran 2012/2013. Data hasil penelitian yang telah diperoleh di analisis dengan menggunakan persamaan berikut: Keterangan: Z= Zscore X= Skor siswa (1) Seluruh pengujian terhadap skor hasil ujian siswa dilakukan dengan bantuan program computer microsoft office excel 2010. 408 SNEP II Tahun 2014 ISBN 978-602-14215-5-0

Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan Tahun 2014 Hasil Dan Pembahasan Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menentukan kedudukan siswa(rengking siswa) berdasarkan Zscore. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh data sebagai berikut: Rengking Nilai Rerata Zscore 1 Naswa Naswa 2 Salsabil Salsa 3 Aisy Aisy 4 Aura Kyla 5 Riri Aura 6 Kyla Riri 7 Layyina Aisyah 8 Aisyah Layyina 9 Rafee Rafee 10 Akna Akna 11 Faza Faza 12 Faiz Faiz 13 Bintang Bintang 14 Aal Akmal 15 Akmal Fai 16 Faiz Aal 17 Azka Azka 18 Silmi Silmi 19 Rivda Rivda 20 Sofi Adinda 21 Zahra Zahra 22 Adinda Sofi 23 Dian Dian 24 Ramzi Hilya 25 Hilya Ramzi 26 Naufal Hafiy 27 Hafiy Khalid 28 Khalid Naufal 29 Rara Naura 30 Naura Rara 31 Dynda Dynda 32 Zafran Zafran 33 Rafif Abiyan 34 Edo Rafif ISBN 978-602-14215-5-0 SNEP II Tahun 2014 409

Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan Tahun 2014 35 Abiyan Edo 36 Zulfa Zulfa Berdasarkan hasil perbandingan antar nilai rerata dengan Zscore dapat diketahui bahwa ada beberapa siswa yang urutan kedudukan di dalam kelompok kelas 2 A atau yang disebut dengan rengking mengalami perubahan diantaranya: Kyla, Aura, Riri, Aisyah, Layyina, Akmal, Fai, Aal, Adinda, sofi, hilya, Ramzi, Hafiy, Khalid, Naufal, Naura, Rara, Abiyan, Rafif dan Edo. Berdasarkan hasil nilai rerata Kyla berada pada urutan ke-6 atau mendapatkan rengking enam, namun setelah nilai diurutkan berdasarkan Zscore posisi kyla berubah menjadi urutan ke-4. Aura berada pada urutan ke-4 jika dilihat dari nilai rerata, namun setelah diurutkan berdasarkan nilai Zscore ternyata Aura berada pada urutan ke-5. Riri, yang tadinya berada di urutan ke-5 berubah menjadi di urutan ke-6 setelah nilainya dikonversi ke dalam Zscore. Terjadi pertukaran posisi antara Aisyah dan Layyina. Aisyah yang tadinya berada pada urutan ke-8 berubah menjadi urutan ke-7 menggantikan posisi Layyina yang tadinya berada pada urutan ke-7, berubah menjadi urutan ke-8. Demikian pula halnya dengan Aal, Akmal, Fai yang berada pada urutan ke-14, 15, 16. Setelah nilainya dikonversi ke dalam Zscore yang berada pada urutan ke- 14 adalah Akmal, urutan ke-15 adalah Fai dan urutan ke-16 adalah Aal. Terjadi pula pertukaran urutan antara Sofi dan Adinda. Sofi yang tadinya berada pada urutan ke-20 berubah menjadi urutan ke-22 demikian pula sebaliknya Adinda yang berada pada urutan ke-22 berubah menjadi urutan ke-20. Hal seperti itu terjadi pula pada Ramzi dan Hilya, Ramzi bertukar posisi dengan Hilya. Ramzi yang berada pada urutan ke-24 bertukar posisi dengan Hilya yang berada pada urutan ke-25. Naufal yang berada pada urutan ke-26,khalid urutan ke-27,hafiy urutan ke-28 berubah menjadi urutannya berubah menjadi Hafiy, Khalid, Naufal. Sedangkan Rara yang berada pada urutan ke-29 bertukar tempat dengan Nauran yang berada pada urutan ke-30. Rafif, Edo, Abiyanyang berada pada urutan 33,34,35 juga mengalami perubahan, urutannya berubah menjadi Abiyan, Rafif, Edo. Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas dapat diketahui bahwa ada perbedaan urutan atau posisi siswa di dalam kelompok ketika penentuan kedudukan siswa di dalam kelompok berdasarkan nilai rerata dengan berdasarkan nilai Zscore. Penentuan kedudukan siswa didalam kelompok berdasarkan nilai rerata hanya melihat nilai yang diperoleh oleh masing-masing siswa pada setiap mata pelajaran. Hal tersebut belum bisa memberikan gambaran secara utuh mengenai keadaan siswa. Nilai yang diperoleh masing-masing siswa belum dapat diperbandingkan dengan siswa yang lain karena nilai tersebut merupak nilai murni yang diperoleh oleh siswa. Ketika guru ingin membandingkan antara kemampuan siswa yang satu dengan kemampuan siswa yang lain tentu saja harus menggunakan nilai yang sudah terstandar. Nilai yang terstandar tersebut adalah nilai Zscore. Nilai Zscore merupakan nilai individu siswa yang sudah dikonversi dengan menggunakan nilai rerata dan standar deviasi setiap mata pelajaran di dalam kelompok tersebut. Pengukuran dengan Z- score mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Z-score menjadi sumber weighted score atau scale score yang selalu digunakan dalam proses penilaian (secara ilmiah) hasil-hasil tes. Dengan Z-score kita akan dimungkinkan untuk membandingkan kecakapan seorang anak dalam bermacam-macam pelajaran. Selain untuk menentukan kedudukan sisiwa di dalam kelompok Zscore juga berfungsi untuk melihat kemampuan siswa perindividu. Siswa yang memiliki nilai Zscorenya negatif (-) berarti kemampuan siswa tersebut berada di bawah nilai rerata kelompok. Dengan demikian dapat 410 SNEP II Tahun 2014 ISBN 978-602-14215-5-0

Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan Tahun 2014 diketahui siapa saja siswa yang memiliki kemampuan masih di bawah rerata. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa dari 36 orang siswa kelas 2A SDIT Lukman Al Hakim Yogyakarta ada 18 orang atau 50% siswa yang kemampuannya berada di bawah rerata kelompok. Ketika ada pengelompokan antara kelmpok di atas dan kelompok di bawah rerata guru tidak akan mengalami kesulitan jika menggunakan nilai Zscore, sehingga tidak ada siswa yang dirugikan karena pengeompokannya menggunakan sudah menggunakan nilai yang sudah terstandar yaitu Zscore. Penggunakan nilai Zscore dalam proses penentuan kedudukan siswa di dalam kelompok dengan menggunakan Zscore hasilnya dapat dibandingkan kapan saja dan dimana saja. Daftar Pustaka Depdikbud..Kurikulum 1994 Yang di Sempurnakan Kurikulum Edisi 1999. Jakarta: Depdikbud. 1999. Depdiknas. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.2003. Department of Education (1996). Educator Servis teaching & Learning Curriculum Resources, Mathematics Curriculum Framework Achieving Mathematical Power Januari 1996. [Online]. Tersedia: www.doe.mass.edu/frameworks/ math/1996-similar. Kusno. Penilaian Proses dan Hasil Belajar. Purwokerto : FKIP UMP.2005 Kusno. Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kontekstual Dengan Strategi 5P di MAN Purwokerto : FKIP UMP.2006 NCTM. (1989). Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. Reston, VA: Authur. www.google.com NCTM. (2000). Principles and Evaluation Standards for School Mathematics. Reston, VA: NCTM. www.google.com Poerwadarminto, W. J. S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.1970. Purwanto, E. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.2001. Shadiq Fajar, M. App. Sc : 2004. Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi. Yogyakarta. Depdiknas (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tersedia online padahttp://www.puskur.co.id, Juli 2007 ISBN 978-602-14215-5-0 SNEP II Tahun 2014 411