BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
PERSPEKTIF DAN PERAN MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN PIDANA ALTERNATIF

PENEGAKAN HUKUM (PIDANA) MELALUI MEDIASI (Alternatif Solusi Penanganan Kasus-Kasus Tindak Pidana Ringan) Oleh : Indriati Amarini.

SKRIPSI UPAYA POLRI DALAM MENJAMIN KESELAMATAN SAKSI MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Tindak pidana adalah kelakuan manusia yang dirumuskan dalam undang-undang, melawan

BAB I PENDAHULUAN. yang dikemukakan oleh D.Simons Delik adalah suatu tindakan melanggar

I.PENDAHULUAN. Fenomena yang aktual saat ini yang dialami negara-negara yang sedang

BAB I PENDAHULUAN. Primary needs, Pengalaman-pengalaman tersebut menghasilkan nilai-nilai

Penerapan Pidana Bersyarat Sebagai Alternatif Pidana Perampasan Kemerdekaan

11 Secara umum, diartikan bahwa kerangka teori merupakan garis besar dari suatu rancangan atas dasar pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan meng

BAB I PENDAHULUAN. luas yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang besar dan pulau yang kecil. Sebagai

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 32/PUU-XIV/2016 Pengajuan Grasi Lebih Dari Satu Kali

: UPAYA PERLINDUNGAN ANAK BERHADAPAN HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN ANAK FAKULTAS : HUKUM UNIVERSITAS SLAMET RIYADI SURAKARTA ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

yang tersendiri yang terpisah dari Peradilan umum. 1

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Pidana. Bagaimanapun baiknya segala peraturan perundang-undangan yang siciptakan

BAB I PENDAHULUAN. keamanan dalam negeri melalui upaya penyelenggaraan fungsi kepolisian yang

BAB II TINJAUAN UMUM PENEGAKKAN HUKUM DAN PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR

II. TINJAUAN PUSTAKA. bentuk kejahatan terhadap nyawa manusia, diatur dalam Pasal 340 yang

TATA CARA PELAKSANAAN DIVERSI PADA TINGKAT PENYIDIKAN DI KEPOLISIAN

Hukum Progresif Untuk Pemberantasan Korupsi

I. PENDAHULUAN. terhadap tindak pidana pencurian, khususnya pencurian dalam keluarga diatur didalam

BAB I PENDAHULUAN. (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. dapat di pandang sama dihadapan hukum (equality before the law). Beberapa

I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah negara hukum ( rechtstaats), maka setiap orang yang

PENDAHULUAN. penyalahgunaan, tetapi juga berdampak sosial, ekonomi dan keamanan nasional,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Tugas dan Wewenang Hakim dalam Proses Peradilan Pidana. Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keuangan negara sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan

BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan amanah dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia yang

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 86/PUU-XIV/2016 Pemidanaan Bagi Penyedia Jasa Konstruksi Jika Pekerjaan Konstruksinya Mengalami Kegagalan Bangunan

I. PENDAHULUAN. Secara etimologis kata hakim berasal dari arab hakam; hakiem yang berarti

IMPLEMENTASI POLIGAMI ANTINOMI ANTARA INDIVIDUAL RIGHT DAN SOCIAL RIGHT

I. PENDAHULUAN. prinsip hukum acara pidana yang mengatakan peradilan dilakukan secara

hukum terhadap tindak pidana pencurian, khususnya pencurian dalam keluarga diatur

I. PENDAHULUAN. sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Dengan demikian sudah seharusnya penegakan

BAB I PENDAHULUAN. faktor sumber daya manusia yang berpotensi dan sebagai generasi penerus citacita

Abstrak. Kata kunci: Peninjauan Kembali, Kehkilafan /Kekeliranan Nyata, Penipuan. Abstract. Keywords:

I. PENDAHULUAN. seluruh bangsa di negeri ini. Sebagai lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara

BAB I PENDAHULUAN. sistem sosial budaya harus tetap berkepribadian Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. besar peranannya di dalam mewujudkan cita-cita pembangunan. Dengan. mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur.

KEKUATAN PEMBUKTIAN VISUM ET REPERTUM BAGI HAKIM DALAM MEMPERTIMBANGKAN PUTUSANNYA. Oleh : Sumaidi, SH.MH

I. PENDAHULUAN. Perdagangan orang (human traficking) terutama terhadap perempuan dan anak

IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN ANAK MELALUI PENDEKATAN RESTORATIVE JUSTICE DI TINGKAT PENYIDIKAN DI TINJAU DARI UU

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

I. PENDAHULUAN. hukum serta Undang-Undang Pidana. Sebagai suatu kenyataan sosial, masalah

KEBIJAKAN FORMULASI ASAS SIFAT MELAWAN HUKUM MATERIEL DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

BAB II PENGATURAN HUKUM TERKAIT DIVERSI DALAM PERMA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DIVERSI DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

I. PENDAHULUAN. dari masyarakat yang masih berbudaya primitif sampai dengan masyarakat yang

I. PENDAHULUAN. Salah satu persoalan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah lalu lintas.

I. PENDAHULUAN. Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Perubahan ke-4 Undang-Undang Dasar Hal ini. tindakan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Perubahan kehidupan manusia pada era globalisasi sekarang ini terjadi dengan

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

RUMAH DUTA REVOLUSI MENTAL KOTA SEMARANG. Diversi : Alternatif Proses Hukum Terhadap Anak Sebagai Pelaku

II. TINJAUAN PUSTAKA. dipidana jika tidak ada kesalahan ( Green Straf Zonder Schuld) merupakan dasar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Praperadilan merupakan lembaga baru dalam dunia peradilan di

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian dan Tujuan Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

I. PENDAHULUAN. dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prajurit TNI adalah warga

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT UMUM KOMISI III DPR RI DENGAN

PERAN DAN CITRA PERPOLISIAN MASYARAKAT STUDI KASUS DI MASYARAKAT DESA SENTONO KECAMATAN KARANGDOWO KABUPATEN KLATEN 2010

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

I.PENDAHULUAN. Pembaharuan dan pembangunan sistem hukum nasional, termasuk dibidang hukum pidana,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Korupsi merupakan tindakan yang dapat menimbulkan kerugian bagi keuangan

EFEKTIFITAS MEDIASI DALAM PERKARA PERDATA BERDASARKAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 01 TAHUN 2008 (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Boyolali) SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Penegakan hukum pidana merupakan sebagian dari penegakan hukum di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara republik Indonesia adalah negara hukum, berdasarkan pancasila

BAB I PENDAHULUAN. sosial, sebagai makhluk individual manusia memiliki kepentingan masing-masing

I. PENDAHULUAN. Manusia didalam pergaulan sehari-hari tidak dapat terlepas dari interaksi dengan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. juga diikuti dengan berkembangnya permasalahan yang muncul di masyarakat. Perkembangan

I. PENDAHULUAN. dengan tindakan ancaman dan kekerasan. Perkosaan sebagai salah satu bentuk kejahatan yang

1. PENDAHULUAN. Tindak Pidana pembunuhan termasuk dalam tindak pidana materiil ( Materiale

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi

I. PENDAHULUAN. menjadi penyeimbang dalam kehidupan bermasyarakat dipertanyakan. Bagaimana. hambatan dari hal-hal yang dapat menggangu kinerja hukum.

PENYELESAIAN PELANGGARAN ADAT DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA. Oleh : Iman Hidayat

PANCASILA. Pancasila dalam Kajian Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (Lanjutan) Poernomo A. Soelistyo, SH., MBA. Modul ke: Fakultas MKCU

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana ( yuridis normatif ). Kejahatan

Kuasa Hukum Antonius Sujata, S.H., M.H., dkk, berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 29 Mei 2017

I. PENDAHULUAN. berlainan tetapi tetap saja modusnya dinilai sama. Semakin lama kejahatan di ibu

Transkripsi:

A. Makna Persepsi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Persepsi pada hakekatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu, menurut Young persepsi merupakan aktivitas pengindera, mengintegrsikan, dan memberikan penilaian terhadap obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penindern tersebut tergantung pada stimulus phisik maupun stimulus sosial yang ada di ingkungannya 1 Sebagaimana dikatakan dalam bab pendahuluan, hukum pada awalnya berfungsi untuk mengatur tingkah laku manusia dan mempertahankan polapola kebiasaan yang sudah ada dalam masyarakat, tetapi dalam perkembangannya hukum berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Hukum dimanapun akan tumbuh dari cara hidup, pandangan hidup dan kebutuhan hidup masyarakatnya, sehingga hukum akan tumbuh dan berkembang bersama masyarakatnya; Hal ini sebagaimana diajarkan Rouscoe Pound, bahwa hukum itu adalah lembaga kemasyarakatan untuk memenuhi kebutuhan sosial. 2 Pandangan yang demikian berbeda dengan konsep hukum aliran sejarah yang dikemukakan oleh pendirinya Friedrich Von Savigny, dimana hukum di pandang sebagai ekspresi dari kesadaran hukum rakyat atau Volksgeist ( jiwa bangsa ). Yang dimaksud Volksgeist adalah falsafah hidup suatu bangsa atau pola kebudayaan yang tumbuh akibat pengalaman dan tradisi dimasa lampau. Hukum itu tumbuh bersama pertumbuhan masyarakat, menjadi kuat bersama kuatnya suatu bangsa. Hukum tersebut akan hilang bersama-sama dengan lenyapnya nasionalitas. 3 Hukum dipahami sebagai suatu yang tumbuh dan berkembang secara alamiah dari dalam pergaulan masyarakat. Perundang-Undangan sebagai suatu cara pembuatan hukum secara sadar dengan sengaja dianggapnya sebagai suatu aktivitas yang tidak wajar, sehingga sesungguhnya tidak lebih hanya memberikan pengesahan saja 1 http/www.infoskripsi.com/article/pengertian-persepsihtml 2 Sunarjati Hartono, Capita Selecta Perbandingan Hukum ( Bandung, Alumni, 1968) halaman.58 3 Sulaiman Nitiatma, Hukum Yang Baik, (Semarang, GUPPI Undaris- 1997) halaman 29 7

sendiri. 4 Konsep hukum sebagaimana diuraikan diatas, hidup dalam terhadap norma-norma yang di bentuk secara informal oleh pergaulan hidup itu masyarakat yang masih sederhana, sedangkan konsep hukum sebagai sarana (instrumen) merupakan konsep hukum yang hidup dalam masyarakat modern, dimana konsep perkembangan masyarakatnya di dasarkan pada perencanaan untuk mencapai tujuan. Perencanaan yang dibuat tersebut dalam upaya pencapaiannya selanjutnya di wujudkan melalaui hukum. Fungsi hukum yang bukan lagi sekedar untuk memantapkan kondisi-kondisi dan kenyataankenyataan yang sudah ada, melainkan lebih dari itu, hukum di pergunakan untuk melakukan perubahan-perubahan dan penataan kembali segala sesuatu yang semula sudah mapan. Sejalan dengan pemikiran tersebut, para ahli hukum dalam perkembangannya selanjutnya mengajukan dua konsep tentang peran hukum, di mana hukum tidak saja berperan sebagai as a tool of social control atau berperan untuk mempertahankan apa yang telah menjadi sesuatu yang tetap dan diterima di dalam masyarakat, tetapi hukum juga berperan sebagai a tool of social engineering, yaitu berperan untuk mengadakan perubahan-perubahan di dalam masyarakat, yang oleh Mochtar Kusuma Atmadja dipahami sebagai sarana pembaharuan masyarakat hukum bertugas sebagai penyalur kegiatan manusia ke arah yang dikehendaki oleh pembangunan. Dalam proses pengadilan perkara pidana yang berupaya semaksimal mungkin untuk menemukan dan mewujdkan kebenaran materiil, sering muncul keluhan ketidakadilan dari pihak yang berkepentingan (stakeholder). Proses mengadili dalam perkara pidana merupakan proses interaksi nalar hukum dan batin untuk mencapai puncak kearifan dalam memutus suatu perkara. Putusan 4 Satjipto Rahardjo, Hukum Dan Masyarakat, ( Bandung, Angkasa, 1980 ) halaman.112. Bandingkan dengan pandangan Soetandyo, Hukum, paradigm, Dan Dinamika Masalahnya- Masalah Pluralisme Dalam Sistem Hukum Nasional, dikatakan old societies untuk masyarakat /komunitas lokal dan hukum lokal sebelum menuju nation state, Elsam, 2002.hal.301 8

pengadilan dalam perkara pidana harus dapat menjelaskan bahwa terdakwa telah terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan (dalam ranah lahiriyah) dan bersalah (dalam ranah batiniyah). Menurut Bagir Manan, fungsi pengadilan dan peradilan dapat ditinjau dari berbagai segi: Pertama : segi tujuan bernegara. Negara dan pemerintahan RI didirikan dengan tujuan maksud ( maksud ) antara lain memajukan kesejahteraan umum dalam wujud sebesar-besarnya kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tujuan ini melekat juga pada pengadilan dan peradilan sebagai institusi yang menjalankan fungsi negara. Pengertian kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan sosial tidak semata-mata dalam arti ekonomi melainkan meliputi juga hal-hal seperti pelaksanaan hukum yang baik, perlindungan hukum atas segala hak seseorang atau kelompok masyarakat dan memperoleh perlakuan dan kesempatan yang sama tanpa membedakan kedudukan dan latar belakang. Kedua : segi mewujudkan tujuan-tujuan hukum seperti keadilan, ketertiban, keseimbangan sosial, kepuasan pencari keadilan, dan lain-lain. Fungsi ini dipandang sebagai fungsi tradisional pengadilan dan peradilan. Suatu kemestian akan tetapi sangat tidak mudah diwujudkan. Berbagai tujuan hukum tersebut tidak selalu berjalan seiring. Pada keadaan dan waktu tertentu dapat berbeda bahkan mungkin bertentangan satu sama lain. Misalnya antara keadilan dan ketertiban. Keadilan pada umumnya bersifat kasuistik yang banyak dan bersifat rata-rata (openbaar orde, public order). Ada kemungkinan, demi ketertiban akan mengurangi sifat dan tuntutan keadilan. Begitu pula antara kepuasan individual dan keseimbangan sosial. Demi keseimbangan sosial, ada 9

kalanya harus mengurangi kepuasan individual. Kemungkinan-kemungkinan tersebut acapkali kurang disadari para pengamat. Tidak jarang bermacam-macam tujuan dituntut sekaligus tanpa mengetahui perbedaan perbedaannya, yang penting masyarakat tertarik. Semata-mata untuk membangkitkan social sentiment atau social solidarity, tanpa memperhitungkan cara mewujudkan apalagi hasilnya. Harus diakui ada berbagai keinginan dan kepentingan yang berbeda. Mengingat perbedaan-perbedaan tersebut dapat berseberangan satu sama lain, diperlukan kejernihan masing-masing tempat berbagai tuntutan, supaya tidak bercampur aduk. Ketiga : segi menegakkan hukum. Esensi menegakkan hukum adalah menjalankan dan mempertahankan hukum. Sebagai konsekuensi menjalankan dan mempertahankan hukum, pengadilan dan peradilan wajib memutus menurut hukum. Dalam praktek keharusan memutus menurut hukum acap kali menghadapkan pengadilan dan peradilan pada aneka ragam makna hukum. B. Fungsi Hukum Sebenarnya fungsi hukum ada kemiripan dengan konsep restorative justice, berkaitan dengan sistem pemidanaan, dimana selama ini belum berhasil mencapai tujuan,baik bagi pelaku, korban maupun masyarakat pada umumnya, bahkan lebih ekstrim pemidanaan telah gagal mewujudkan pemidanaan. Restorative Justice bertujuan untuk mewujudkan pemulihan kondisi korban kejahatan, pelaku dan masyarakat berkepentingan (stakeholder) melalui proses penyelesaian perkara yang tidak hanya berfokus pada mengadili dan menghukum 10

pelaku. Bagi pelaku, tujuan pemidanaan adalah mengembalikan pelaku menjadi warga yang baik dan bertanggung jawab. Dalam kenyataannya banyak pelaku pidana kambuhan (residivis). Bagi korban labih tragis lagi, sistem pemidanaan yang berlaku sama sekali tidak memberi perlindungan atas segala derita atau kerugian akibat perbuatan pelaku tindak pidana. Bagi masyarakat dengan masih banyaknya pelaku tindak pidana, menunjukkan gagalnya pemidanaaan sebagi instrumen represif melindungi dan menjaga ketertiban dan keamanan umum. Secara konseptual restoratif justice berisi gagasan-gagasan dan prinsip-prinsip anatara lain : 5 Pertama : membangun partisipasi bersama antara pelaku, korban dan kelompok masyarakat menyelesaikan suatu peristiwa ataui tindak pidana (win win solution). Kedua : Mendorong pelaku bertanggung jawab terhadap korban atas peristiwa atau tindak pidana yang telah menimbulkan cidera, atau kerugian terhadap korban. Selanjutnya membangun tanggung jawab tidak mengulangi lagi perbuatan pidana yang pernah dilakukan. Ketiga : Menempatkan peristiwa atau tindak pidana tidak terutama sebagai suatu bentuk pelanggaran hukum, melainkan sebagi pelanggaran oleh seseorang /kelompok orang terhadap seseorang/kelompok orang, oleh karena itu sudah semestinya pelaku diarahkan pada pertanggung jawaban pada korban, bukan 5 Bagir Manan, Restorative justice (suatu perkenalan),varia Peradilan, Majalah Hukum Tahun Ke XXI No.247, Juni 2006 11

mengutamakan pertanggung jawab pada hukum. Keempat : Menempatkan peristiwa atau tindak pidana tidak dengan cara-cara lebih informal dan personal. Mengutip pendapat Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan Praktek mediasi tidak bertentangan dengan tujuan atau fungsi hukum seperti fungsi memulihkan ketentraman, memelihara perdamain dalam masyarakat, karena itu sangat baik kalau dijalankan. Lebih dari itu upaya damai/mediasi semacam itu harus membawa konsekwensi hukum yaitu menutup perkara begitu dicapai perdamain. Doktrin yang mengatakan sifat pidana tidak hapus sehingga perkara akan tetap di teruskan walau ada perdamain, mestinya dihapuskan. Dapat saja sifat pidana tidak hapus tetapi perdamaian menghilangkan atau menghapuskan hak menuntut/memperkarakan. Demikian juga dengan pemahaman hukum sering terjadi karena terdapat perbedaan persepsi dalam masyarakat, bahasa berdasarkan rasa keadilan masyarakat akan berbeda dengan keadilan apa yang dimaksud dalam peraturan perundangan dalam paradigma posististik. 12