INFO TEKNIK Volume 14 No. 1 Juli 2013 (57-64)

dokumen-dokumen yang mirip
PENGUJIAN METODE HIDROGRAF SATUAN SINTETIK GAMA I DALAM ANALISIS DEBIT BANJIR RANCANGAN DAS BANGGA

III. FENOMENA ALIRAN SUNGAI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS DEBIT BANJIR RANCANGAN BANGUNAN PENAMPUNG AIR KAYANGAN UNTUK SUPLESI KEBUTUHAN AIR BANDARA KULON PROGO DIY

ANALISIS DEBIT BANJIR RANCANGAN DENGAN MENGGUNAKAN HIDROGRAF SATUAN TERUKUR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI PROGO BAGIAN HULU

IX. HIDROGRAF SATUAN

ANALISIS POTENSI LIMPASAN PERMUKAAN (RUN OFF) DI KAWASAN INDUSTRI MEDAN MENGGUNAKAN METODE SCS

KAJIAN ANALISIS HIDROLOGI UNTUK PERKIRAAN DEBIT BANJIR (Studi Kasus Kota Solo)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Lokasi penelitian terletak di Bandar Lampung dengan objek penelitian DAS Way

HIDROLOGI. 3. Penguapan 3.1. Pendahuluan 3.2. Faktor-faktor penentu besarnya penguapan 3.3. Pengukuran Evaporasi 3.4. Perkiraan Evaporasi

HIDROGRAF SATUAN: PERMASALAHAN DAN ALTERNATIVE PENYELESAIAN

REKAYASA HIDROLOGI II

dasar maupun limpasan, stabilitas aliran dasar sangat ditentukan oleh kualitas

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Ariani Budi Safarina ABSTRAK

ANALISA DEBIT BANJIR SUNGAI BONAI KABUPATEN ROKAN HULU MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIDROGRAF SATUAN NAKAYASU. S.H Hasibuan. Abstrak

ANALISIS DEBIT BANJIR SUNGAI TONDANO MENGGUNAKAN METODE HSS GAMA I DAN HSS LIMANTARA

TINJAUAN PUSTAKA Daerah aliran Sungai

MODEL HIDROGRAF BANJIR NRCS CN MODIFIKASI

STUDI PENELUSURAN ALIRAN (FLOW ROUTING) PADA SUNGAI KRUENG TEUNGKU KEC. SEULIMUM KAB. ACEH BESAR

PENGARUH HUJAN EKSTRIM DAN KONDISI DAS TERHADAP ALIRAN

MODUL: Hidrologi II (TS533) BAB II PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

TRANSFORMASI HUJAN HARIAN KE HUJAN JAM-JAMAN MENGGUNAKAN METODE MONONOBE DAN PENGALIHRAGAMAN HUJAN ALIRAN (Studi Kasus di DAS Tirtomoyo)

ANALISA CURAH HUJAN DALAM MEBUAT KURVA INTENSITY DURATION FREQUENCY (IDF) PADA DAS BEKASI. Elma Yulius 1)

Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS)

BAB II LANDASAN TEORI

Analisis Hidrograf Satuan Terukur Sub DAS Way Besai

4. BAB IV ANALISA DAN PENGOLAHAN DATA ANALISA DAN PENGOLAHAN DATA

KONTRAK PERKULIAHAN. Nama Mata Kuliah : Rekayasa Hidrologi I Kode Mata Kuliah : HSKK 225

Tommy Tiny Mananoma, Lambertus Tanudjaja Universitas Sam Ratulangi Fakultas Teknik Jurusan Sipil Manado

BAB IV ANALISIS HIDROLOGI

BAB IV. ANALISIS DAS

DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN 1

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii. DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KAJIAN POTENSI SUMBER DAYA AIR UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DI PEKON SUMBER AGUNG KECAMATAN SUOH KABUPATEN LAMPUNG BARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berikut ini beberapa pengertian yang berkaitan dengan judul yang diangkat oleh

PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP DEBIT PUNCAK PADA SUBDAS BEDOG DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. R. Muhammad Isa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PERSETUJUAN... ii. PERNYATAAN... iii. LEMBAR PERSEMBAHAN... iv. KATA PENGANTAR... v. DAFTAR ISI...

HIDROGRAF SATUAN SINTETIK LIMANTARA (Studi kasus di sebagian DAS Di Indonesia)

ANALISIS DEBIT BANJIR SUNGAI MOLOMPAR KABUPATEN MINAHASA TENGGARA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DOSEN PENGAMPU : Ir. Nurhayati Aritonang, M.T. TS-A 2015 Kelompok 14

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Curah Hujan. Tabel 7. Hujan Harian Maksimum di DAS Ciliwung Hulu

ANALISIS BANJIR TAHUNAN DAERAH ALIRAN SUNGAI SONGGORUNGGI KABUPATEN KARANGANYAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISA PENINGKATAN NILAI CURVE NUMBER TERHADAP DEBIT BANJIR DAERAH ALIRAN SUNGAI PROGO. Maya Amalia 1)

STUDI PERBANDINGAN ANTARA HIDROGRAF SCS (SOIL CONSERVATION SERVICE) DAN METODE RASIONAL PADA DAS TIKALA

SURAT KETERANGAN PEMBIMBING

PERENCANAAN SALURAN PENANGGULANGAN BANJIR MUARA SUNGAI TILAMUTA

KAJIAN HUJAN ALIRAN MENGGUNAKAN MODEL HEC HMS DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI WURYANTORO WONOGIRI, JAWA TENGAH. Rifai Munajad

Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126; Telp

Perbandingan Perhitungan Debit Banjir Rancangan Di Das Betara. Jurusan Survei dan Pemetaan, Fakultas Teknik, Universitas IGM 1.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tentang Sumber Daya Air, daerah aliran sungai (catchment, basin, watershed)

BAB V ANALISA DATA. Dalam bab ini ada beberapa analisa data yang dilakukan, yaitu :

PEMODELAN HUJAN-DEBIT PADA SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI MENGGUNAKAN PROGRAM BANTU HEC-HMS (STUDI KASUS PADA KANAL DURI) ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. dan mencari nafkah di Jakarta. Namun, hampir di setiap awal tahun, ada saja

PENERAPAN SISTEM SEMI POLDER SEBAGAI UPAYA MANAJEMEN LIMPASAN PERMUKAAN DI KOTA BANDUNG

Sungai dan Daerah Aliran Sungai

Kuliah : Rekayasa Hidrologi II TA : Genap 2015/2016 Dosen : 1. Novrianti.,MT. Novrianti.,MT_Rekayasa Hidrologi II 1

SKRIPSI MARIA ANISA NAULITA NIM I

KALIBRASI PARAMETER TERHADAP DEBIT BANJIR DI SUB DAS SIAK BAGIAN HULU

Spektrum Sipil, ISSN Vol. 2, No. 2 : , September 2015

HIDROGRAF SATUAN OBSERVASI DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG HULU-KATULAMPA SEBAGAI BENCHMARKING MANAJEMEN BANJIR JAKARTA

Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Universitas Sebelas Maret. Jln. Ir. Sutami 36 A, Surakarta

ANALISIS BANJIR RANCANGAN DENGAN METODE INVERSELY ESTIMATED RAINFALL

Perkiraan Koefisien Pengaliran Pada Bagian Hulu DAS Sekayam Berdasarkan Data Debit Aliran

ANALISA DEBIT BANJIR SUNGAI RANOYAPO DI DESA LINDANGAN, KEC.TOMPASO BARU, KAB. MINAHASA SELATAN

DAERAH ALIRAN SUNGAI

ANALISIS KARAKTERISTIK HIDROLOGI SUNGAI GAJAHWONG DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Universitas Sebelas Maret. Jln. Ir. Sutami 36 A, Surakarta

VALIDASI MODEL KESETIMBANGAN AIR BEKEN DAN BYLOOS UNTUK PREDIKSI VOLUMETRIK HASIL AIR DAERAH ALIRAN SUNGAI

PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DAN KERUSAKAN HUTAN TERHADAP KOEFISIEN PENGALIRAN DAN HIDROGRAF SATUAN

RANCANGAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH HIDROLOGI. Disusun Oleh : SUROSO, ST NIP

ANALISIS PARAMETER ALFA HIDROGRAF SATUAN SINTETIK NAKAYASU DI SUB DAS LESTI

ANALISIS LIMPASAN LANGSUNG MENGGUNAKAN METODE NAKAYASU, SCS, DAN ITB STUDI KASUS SUB DAS PROGO HULU

I. PENDAHULUAN. Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di wilayah sungai, seperti perencanaan

PENENTUAN PARAMETER MODEL NRECA UNTUK PULAU NATUNA

ANALISIS KARAKTERISTIK DAS DI KOTA PEKANBARU BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENGANALISIS HIDROGRAF SATUAN SINTETIK

PEMODELAN PARAMETER α PADA HIDROGRAF SATUAN SINTETIK NAKAYASU ( STUDI BANDING DENGAN HIDROGRAF SATUAN SINTETIK GAMAI )

TIK. Pengenalan dan pemahaman model dasar hidrologi terkait dengan analisis hidrologi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. paket program HEC-HMS bertujuan untuk mengetahui ketersediaan air pada suatu

BAB I PENDAHULUAN. Metode Hidrograf Satuan Sintetik (synthetic unit hydrograph) di Indonesia

STUDY OF RAINFALL AND FLOOD DISCHARGE MODEL FOR MANAGEMENT OF WATER RESOURCES (Case Studies in Bedadung Watershed Jember)

Kampus Bina Widya J. HR Soebrantas KM 12,5 Pekanbaru, Kode Pos Abstract

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MK. REKAYASA HIDROLOGI

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Hidrometri Hidrometri merupakan ilmu pengetahuan tentang cara-cara pengukuran dan pengolahan data unsur-unsur aliran. Pada bab ini akan diberikan urai

PENDAHULUAN. tempat air hujan menjadi aliran permukaan dan menjadi aliran sungai yang

EVALUASI PERHITUNGAN DEBIT BANJIR RENCANA DENGAN HIDROGRAF METODE ITB, NAKAYASU, SNYDER PADA SUB CATCHEMENT SUNGAI CIUJUNG SERANG

Hidrologi Terapan merupakan mata kuliah keahlian keterampilan (HSKK), yang merupakan mata kuliah yang mengenalkan dasar-dasar analisis hidrologi

Mahasiswa Teknik Pengairan, 2 Dosen Teknik Pengairan -,

Transkripsi:

INFO TEKNIK Volume 14 No. 1 Juli 2013 (57-64) ANALISIS PENURUNAN HIDROGRAF SATUAN REPRESENTATIF Nilna Amal Dosen Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan Abstract Indonesia has risk to get a flood event every year since big intensity rainfalls occur every year. Some waterworks will be required to anticipate from it. The flood design number should be available. One of method which mostly used to be applied is unit hydrograph. Unit hydrograph concept firstly is defined by Sherman in 1932. It still be developed by many researchers to get any unit hydrograph basin both actual unit hydrograph and synthetic unit hydrograph. Since the characteristics of some unit hydrograph basin are specifics, researches to discover any unit hydrograph the basin are significant. This research attends to obtain the representative unit hydrograph of Bedog basin in Yogyakarta province. The result shows characteristics of representative unit hydrograph are depend on rainfall intensity due to its distributions and the flood hydrograph figure. Keywords: rainfall, flood discharge, unit hydrograph PENDAHULUAN A. Hubungan Hujan-Aliran Menurut teori Horton (Chow et al, 1988) limpasan permukaan merupakan bagian dari hujan yang tidak terserap tanah oleh infiltrasi. Limpasan langsung hanya terjadi apabila intensitas hujan lebih tinggi dari laju infiltrasi, apabila intensitas hujan lebih kecil dibandingkan dengan laju infiltrasi maka tidak akan terjadi limpasan Analisis limpasan yang paling tua dan masih tetap digunakan hingga sekarang adalah Cara Rasional, termasuk metode yang populer karena kesederhanannya. Maksudnya adalah menyederhanakan berbagai proses alami yang ada di alam sehingga diabaikan pengaruhnya, karena itu memiliki banyak keterbatasan. Debit maksimum suatu DAS dapat dicapai pada saat seluruh bagian DAS telah memberikan kontribusinya. Hal ini berarti, bahwa air hujan yang jatuh di tempat dalam DAS yang terjauh dari titik kontrol (titik yang ditinjau/stasiun hidrometri) telah sampai dititik tersebut. Proses transformasi hujan aliran dalam praktek tidak sesederhana seperti yang digambarkan dalam rumus-rumus empirik karena selain adanya konveksi aliran (apabila lama hujan sama dengan atau lebih besar dari waktu konsentrasi), juga terjadi difusi sebagai akibat penyebaran aliran sebagai fungsi ruang dan waktu yang cenderung memperkecil debit maksimum (Sri Harto, 2000). B. Hidrograf Hidrograf dikenal sebagai hubungan salah satu unsur aliran sebagai fungsi waktu di titik kontrol tertentu. Pada dasarnya hidrograf terdiri dari tiga bagian pokok yaitu sisi naik (rising limb), puncak (crest) dan sisi resesi/turun (recession limb). Bentuk dan kemiringan sisi naik sangat ditentukan oleh intensitas dan lama hujan dan kelengasan DAS. Apabila seluruh bagian DAS telah memberikan sumbangan aliran dan bersama-sama sampai di titik kontrol, maka akan mencapai debit puncak (Chow, et. al., 1988).

58 INFO TEKNIK, Volume 14 No. 1 Juli 2013 Titik infleksi (inflection point) di sisi resesi, merupakan titik berakhirnya limpasan permukaan yang berarti aliran selanjutnya merupakan komponen aliran- antara ditambah dengan aliran dasar. Aliran dasar yang dipercayai sebagai aliran yang murni berasal dari pengatusan akuifer, ditandai oleh satu titik di sisi resesi yang diperoleh dari penggambaran sisi resesi tersebut di atas kertas semi logaritmik (Sri Harto, 2000). C. Hidrograf Satuan Hidrograf satuan adalah hidrograf limpasan langsung yang dihasilkan oleh hujan efektif yang terjadi merata di seluruh DAS dengan intensitas tetap dalam satu satuan waktu tertentu. Untuk menurunkan hidrograf satuan diperlukan data hujan dan data debit yang cukup. Hidrograf satuan adalah model linier yang mudah yang dapat digunakan untuk menurunkan suatu hidrograf yang dihasilkan oleh suatu hujan efektif (Chow et. al., 1988). Secara umum hidrograf satuan terdiri atas dua jenis, yaitu hidrograf satuan terukur dan hidrograf satuan sintetik. Hidrograf satuan terukur dapat diselesaikan dengan cara Polinomial dan cara Collins, dan data yang dipakai adalah data hujan dan data debit. Hidrograf satuan paling baik diturunkan dari hidrograf hujan yang intensitasnya cukup seragam, panjang durasinya seperti yang diinginkan dan volume limpasannya relatif besar. Suatu hidrograf satuan yang diturunkan dari satu hujan saja tidak dapat mewakili dan oleh karena itu hidrograf-hidrograf satuan dari beberapa hujan yang kira-kira durasinya sama sebaiknya dirata-ratakan. Hidrograf satuan rata-rata kemudian disketsa agar sesuai dengan bentuk-bentuk hidrograf lainnya dengan melewati puncak rata-rata yang dihitung (Linsley et al, 1958) Hidrograf satuan dapat diperoleh dengan memanfaatkan data terukur di DAS yaitu data hidrograf debit banjir dan hujan penyebab banjir. Dalam praktek data ini tidak mudah diperoleh. Hidrograf satuan yang diturunkan dari banyak kejadian banjir akan bervariasi dari satu kejadian banjir dengan yang lain. Kejadian ini mungkin terjadi akibat variabilitas hujan baik ruang dan waktu, pengaruh kondisi kelengasan tanah dan proses transformasi hujanaliran yang tidak linier. Berbagai masalah muncul seperti ketersediaan data hujan penyebab banjir, pengabaian pengaruh initial soil moisture condition dalam mentranformasi aliran, pendefinisian hujan efektif dan pemisahan aliran dasar (Yue and Hashino, 2000). Suatu perkembangan hidrograf satuan yang cukup signifikan adalah membentuk hidrograf satuan geomorfologi sesaat (GIUH). Dalam pendekatan ini Rodriguez-Iturbe and Valas 1979, Gupta et. al., 1980 dalam Yen et. al., (2002) mengasumsikan kelebihan hujan (hujan efektif) mengikuti bagian berbeda suatu area dan diasumsikan mengikuti suatu karakterisik probabilistik yang juga berbeda tergantung kepada pola drainasi menuju outlet DAS. Waktu perjalanan hujan efektif dianggap mengikuti suatu distribusi probabilistik dalam suatu saluran sebagaimana yang pernah diusulkan Gupta et. al., 1980 yaitu eksponensial dan seragam, sementara Jin (1992) mengusulkan distribusinya adalah distribusi Gamma. D. Hujan Efektif Hujan efektif adalah hujan yang tidak terinfiltrasi, tidak masuk ke tampungan dan tidak tertahan di atas permukaan tanah (ASCE, 1996) atau hujan yang mengakibatkan limpasan langsung yaitu hujan total setelah

Nilna Amal Analisis Penurunan 59 dikurangi kehilangan-kehilangan. Kehilangan-kehilangan tersebut diakibatkan oleh intersepsi, infiltrasi, evapotranspirasi dan tampungan cekungan. Untuk menghitung hujan efektif atau volume limpasan langsung diperlukan suatu representasi numerik atau model yang menggambarkan hubungan transformasi hujan menjadi aliran. Hujan hampir selalu diwakili oleh suatu hyetograph (suatu grafik hubungan tinggi hujan dengan waktu) dimana disajikan suatu pola waktu dari intensitas hujan. KAJIAN TEORITIS A. Penurunan Hidrograf Satuan Distribusi daerah curah hujan dapat menimbulkan perubahan-perubahan dalam bentuk hidrograf. Di daerah hilir biasanya akan menghasilkan hidrograf dengan kenaikan yang cepat dan puncak yang tajam, sedangkan di daerah hulu menghasilkan kenaikan yang lambat dan puncak yang lebih rendah serta lebih lebar (Linsley et. al.,1982) B. Pemisahan Aliran Dasar Hidrograf terukur diperoleh dari pembacaan data tinggi muka air dari alat Automatic Water Level Recorder (AWLR) yang merupakan hubungan waktu dengan tinggi muka air. Data ini ditransformasi menjadi hubungan waktu dengan debit menggunakan liku kalibrasi. Hidrograf ini disebut dengan Hidrograf Terukur kejadian banjir terpilih yang akan diturunkan menjadi hidrograf satuan. Penentuan hidrograf satuan hanya akan menggunakan Hidrograf Limpasan langsung (HLL) yang merupakan salah satu komponen dari hidrograf terukur. HLL pada penelitian ini diperoleh dengan metode garis lurus yaitu dengan menggambarkan sisi resesi di atas kertas semi-logaritmik dengan ordinat (debit) dalam skala logaritma, kemudian menarik garis lurus yang melalui titik-titik resesi seperti gambar dibawah ini dimana garis yang terbawah merupakan titik-titik aliran dasar. t Gambar 1. Penentuan titik resesi secara grafis

60 INFO TEKNIK, Volume 14 No. 1 Juli 2013 METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada DAS Bedog di Kabupaten Sleman Propinsi Yogyakarta, sebagaimana disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 2. Batas DAS yang diteliti Secara garis besar prosedur penelitian yang dilakukan adalah : 1. Studi terhadap hasil penelitian, kajian dan laporan banjir sungai DAS lokasi penelitian yakni DAS Bedog Kabupaten Sleman Propinsi Yogyakarta 2. Kajian pustaka terhadap metode penurunan hidrograf satuan aktual 3. Pengumpulan data hujan, tinggi muka air dan peta DAS Bedog, 4. Pengolahan data hujan jam-jaman, data hidrograf debit terukur 5. Penentuan hujan efektif 1 6. Menentukan hidrograf terukur dan data hujan jam-jaman 7. Menentukan HLL dengan metode garis lurus 8. Menurunkan hidrograf satuan setiap kejadian hujan dengan cara Collins 9. Merata-ratakan hidrograf satuan semua kejadian Secara sederhana pekerjaan tersebut dijabarkan dalam skema berikut:

Nilna Amal Analisis Penurunan 61 Mulai Pengumpulan data Data Hujan Data ARR Hidrograf Penentuan hujan efektif Penurunan hirograf satuan setiap Perata-rataan Hidrograf Satuan Kesimpulan Selesai Analisa dan Pembahasan Gambar 3. Bagan Alir Penelitian Penentuan hidrograf banjir Dari data AWLR dan data hujan jam-jaman didapat Hidrograf terukur yang akan dipisahkan menjadi Hidrograf limpasan langsung (HLL) dan Aliran Dasar. Hidrograf terukur dicari titik resesinya dengan cara penggambaran debit di vertikal dengan skala semi logaritmik dan waktu di horizontal. Titik resesi adalah awal penggal terakhir garis lurus, berikut disajikan analisisnya:

Debit (m3/detik) Debit skala logaritmik 62 INFO TEKNIK, Volume 14 No. 1 Juli 2013 2 1.5 1 0.5 0 Kurva Resesi 0 10 20 30 Waktu (jam) Gambar 4. Kurva debit semi logaritmik untuk mendapatkansisi resesi Dari gambar 4 dapat dibaca bahwa penggal terakhir garis lurus di mulai dari dua titik terakhir, titik ini dianggap sebagai awal resesi dan ditentukan sebagai batas akhir garis pemisah aliran dasar. Bagian hidrograf banjir yang telah dipisahkan dari aliran dasarnya yaitu hidrograf limpasan langsung dipakai untuk menentukan volume limpasan dan kemudian menghitung hujan efektif. Hidrograf limpasan langsung, besaran indeks Ф dan hujan efektif dipakai untuk menurunkan hidrograf satuan dengan cara Collins. Selengkapnya hidrograf terukur dan hidrograf satuan yang telah diturunkan dari kejadian banjir 24 Juli 1998 disajikan pada grafik berikut ini: 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Hidrograf Satuan 24 Juli 1998 DAS Bedog di Guwosari Hujan terukur Hidrograf terukur 0 5 10 15 20 25 Waktu (Jam) 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 Intensitas Hujan (mm/jam) Gambar 5. Hidrograf satuan salah satu kejadian banjir

Debit (m3/det) Nilna Amal Analisis Penurunan 63 Dengan cara yang sama semua kejadian banjir yang telah dipilih dilakukan analisis seperti di atas. Kemudian hidrograf satuan representatif dicari dengan cara merata-ratakan semua hidrogrf satuan tersebut berdasarkan waktu terjadinya debit puncak, hasilnya disajikan dalam grafik berikut: 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Hidrograf Satuan DAS Bedog di Guwosari 0 10 20 30 Waktu (jam) HS 1998 HS 1999 HS 2000 HS 2002 HS 2005 HS 2006 Gambar 6. Hidrograf satuan setiap kejadian banjir terpilihdas Bedog di Guwosari Tabel 1. Parameter pokok hidrograf satuan DAS Bedog di Guwosari No Tanggal Banjir Qp Phi index Tp Tr Tb (m 3 /det) (mm/jam (jam) (jam) (jam) 1 24 Juli 1998 5.13 0.31 2 20 22 2 11 Maret 1999 3.23 18.46 2 20 22 3 22 Nopember 2000 5.26 18.91 3 20 23 4 6 Februari 2002 3.27 4.33 3 18 21 5 31 Maret 2005 3.58 25.35 4 18 22 6 28 Februari 2006 2.30 12.67 3 22 25 Rerata 3.80 13.34 2.83 19.67 22.50

Debit (m3/det) 64 INFO TEKNIK, Volume 14 No. 1 Juli 2013 4.500 4.000 3.500 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 0.500 0.000 HS Representatif DAS Bedog di Guwosari 0 5 10 15 20 25 Waktu (jam) Gambar 7. Hidrograf rerata kejadian banjir DAS Bedog di Guwosari Dari penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut 1. Penurunan hidrograf satuan berdasarkan dari hujan yang terjadi dan debit yang tercatat sebagai tinggi muka air di AWLR 2. Pada kejadian banjir yang berbeda dengan tinggi hujan yang berbeda diperoleh karakteristik hidrograf satuan yang hampir sama DAFTAR PUSTAKA Amal, N, 2010, Pengaruh Pemisahan Aliran Dasar terhadap Banjir Rancangan, Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Chow Ven Tee, Maidment, D.R., Mays, L.W., 1988, Applied Hydrology, McGraw Hill, New York. Linsley, R.K., Kohler, M.A. and Paulus, J.L.H., 1982, Hydrology for Engineers, McGraw Hill, New York. Sri Harto, Br, 2000, Hidrologi: Teori, Masalah, Penyelesaian, Nafiri, Yogyakarta Yen, B.C., Fellow, ASCE and Lee,K.., 1997, Unit Hydograf Derivation for Ungauge Watersheds by Stream-Order Laws, Journal of Hydrologyc Eng, January 2:1-17 Yue, S and Hashino, M., 2000, Unit Hydrographs to Model Quick and Slow Runoff Components of Streamflow, J.Hydrol, 227:195-206