William James Sidis, berakhir tragis

dokumen-dokumen yang mirip
Ketika Anda memutuskan untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi, berarti Anda sudah tahu konsekwensi yang mesti Anda hadapi. Anda telah memilih

Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Quotient )

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada hakikatnya, belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.

: GALANG SWAWINASIS NIM : : KUNCI SUKSES MENDIRIKAN USAHA ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. keinginan orang tua untuk memberikan bimbingan belajar kepada anak-anaknya

MEMBENTUK BUAH HATI MENJADI PRIBADI TANGGUH DAN PERCAYA DIRI

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan perilaku maupun sikap yang diinginkan. Pendidikan dapat

BAB I PENDAHULUAN. nilai-nilai kehidupan guna membekali siswa menuju kedewasaan dan. kematangan pribadinya. (Solichin, 2001:1) Menurut UU No.

BAB V PEMBAHASAN. kecerdasan spiritual pada nilai kejujuran di MTs Al-Ma arif pondok. pesantren Salafiyah As-Syafi iyah Panggung Tulungagung.

THE POWER OF OPTIMism

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Komunikasi merupakan sebuah hal penting dalam sebuah kehidupan,

Silabus Bimbingan dan Konseling (01)

Tatik Haryani, Bambang Priyo Darminto Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo

Lampiran. Ringkasan Novel KoKoro. Pertemuan seorang mahasiswa dengan seorang laki-laki separuh baya di pantai

Makalah Psikologi Pendidikan tentang Pengembangan Bakat dan Minat

BAB I PENDAHULUAN. Perilaku pemimpin pada lembaga-lembaga pendidikan seringkali menjadi

BAB I PENDAHULUAN. asuh dan arahan pendidikan yang diberikan orang tua dan sekolah-sekolah

TUJUAN PEMBELAJARAN SETELAH MEMPEJARI SESSI INI MAHASISWA DAPAT :

Interpersonal Communication Skill

KE PESANTREN APA YANG KAU CARI?

BAB I PENDAHULUAN. bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik

tiga hal yang cukup menarik yang akan kita lihat bersama : 1. Menyangkal Diri 2. Memikul Salib Menyangkal Diri dan Memikul Salib

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan kemanusian untuk menjawab berbagai tantangan dan permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. Soft skill mahasiswa menurut pendapat Setditjend Dikti (2010)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perkembangan. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja kemudian menjadi dewasa dan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Mahasiswa merupakan aset nasional jangka panjang, sehingga perlu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. program tertentu. Aktivitas mereka adalah belajar. Belajar ilmu pengetahuan,

Kenapa Menolong Sesama dan Menjadi Relawan?*

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Wilda Akmalia Fithriani, 2013

BAB I PENDAHULUAN. sejak terjadinya conception antara sel telur dan sel kelamin laki-laki

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, bangsa dan negara 1. yang tersebar diseluruh tubuh 2.

MERANCANG STRATEGI KOMUNIKASI UNTUK MEMPEROLEH DUKUNGAN PEMILIH DAN KELOMPOK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia dan pendidikan tidak dapat dipisahkan, sebab pendidikan

PENTINGNYA MENETAPKAN TUJUAN

HUBUNGAN INTELEGENSI, STABILITAS EMOSI, DAN KREATIVITAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMA N 7 PURWOREJO

BAB I PENDAHULUAN. membaca, menulis, menyimak, berbicara. Setiap keterampilan erat sekali kaitannya

BAB I PENDAHULUAN. Generasi masa depan suatu bangsa bisa dilihat dari kualitas anak-anak saat ini.

BAB I PENDAHULUAN. juga dapat diketahui tingkat prestasi belajar siswa. Laporan prestasi belajar

KUESIONER. Lama Bekerja :. *) coret yang tidak perlu

Lika-liku Mencari Pasangan Hidup yang Seiman. Ditulis oleh Krismariana Senin, 30 Januari :02

Bagaimana Memotivasi Anak Belajar?

Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.

Moralitas dan Etika Bisnis. Donald Picauly, S.E., M.M.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,

BAB 1 PENDAHULUAN. Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Terj. Rahmani Astuti, dkk, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 3.

BAB I PENDAHULUAN. membangun rasa percaya diri, dan sarana untuk berkreasi dan rekreasi. Di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang masalah

AKU PASTI BISA KULIAH

Kegagalan atau gagal adalah kejadian yang paling tidak diinginkan oleh hampir setiap orang, termasuk seorang profesional sekalipun.

PENTINGNYA ASPEK SOFT SKILLS

BAB I PENDAHULUAN. Persoalan utama yang dihadapi bangsa Indonesia adalah minimnya nilainilai

BAB I PENDAHULUAN. jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial,

KADERISASI ORGANISASI (Tulisan lepas disampaikan pada diklat LMMT oleh BEM STKIP PGRI Tulungagung tanggal 27 April 2014)

A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalani kehidupan, manusia memerlukan berbagai jenis dan macam

KOLUSI MERUSAK MORAL BANGSA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Isra Mi'raj dan Makna Fundamental Shalat

BAB I PENDAHULUAN. ( diakses 2 Maret 2015) ( diakses 2 Maret 2015)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. gemuk adalah anak yang sehat merupakan cara pandang yang telah dibangun sejak lama oleh

: KUNCI MAMPU BERBAHASA INGGRIS DENGAN CEPAT

BAB IV PAPARAN HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA. mendirikan jenjang SMP. Keinginan itu bukan hanya datang dari para


BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

TUGAS KELOMPOK MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA UNIVERSITAS WIDYA MATARAM YOGYAKARTA

Anda bisa melihat ada sesuatu yang menyebabkan Schwarzenegger bisa meraih sukses di beberapa bidang: Atlet, Aktor, Pengusaha dan Gubernur California.

BAB I PENDAHULUAN. penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pelajaran bahasa

BAB I PENDAHULUAN. Usia kanak-kanak yaitu 4-5 tahun anak menerima segala pengaruh yang diberikan

SOLUSI CEPAT MELEJITKAN POTENSI, MINAT DAN BAKAT PELAJAR MENJADI PEKERJAAN YANG PROFESIONAL

10 Kunci Sukses ala Bill Gates Sebuah pedoman dari orang terkaya sedunia

Pemilik jiwa yang sepi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi. langsung oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah

BAB I PENDAHULUAN. akademik (Intelligence Quotient atau sering disebut IQ ) mulai dari bangku

I. PENDAHULUAN. Proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE SAKAMOTO UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA (PTK

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit

BAB I. 1. Untuk apa buku ini diciptakan?

Resensi Buku JADI KAYA DENGAN BERBISNIS DI RUMAH OLEH NETTI TINAPRILLA * FENOMENA WANITA * WANITA BERBISNIS : ANTARA KELUARGA DAN KARIR

PIDATO SAMBUTAN PADA PEMBUKAAN TRAINING ESQ DI JAKARTA SABTU, 13 FEBRUARI 2010

BAB I PENDAHULUAN. kepekaan dan kepedulian mereka terhadap masalah sosial. Rendahnya

SEMUA BERAWAL DARI PIKIRAN

Transkripsi:

Pendidikan Mental Setelah saya membicarakan tentang pola pikir yang benar dan sekarang ini akan saya paparkan tentang konsep mendidik anak. Konsep ini saya namakan Pendidikan Mental. Tapi sebelumnya silahkan disimak dahulu cerita dibawah ini. Konon, manusia terjenius di dunia bukanlah Leonardo Da Vinci, Jhon Stuart Mills ataupun Albert Einstein. Tapi, gelar manusia terjenius Justru dipegang seorang anak berdarah Ukraina-Yahudi yang bernama William James Sidis. Sidis lahir di New York, 1 April 1898. Ayahnya, Boris Sidis, peraih gelar Ph.D., M.D., bidang psikologi dari Universitas Harvard. Ia seorang psikiater, penulis dan merintis penelitian psikologi abnormal. Sementara ibunya, Sarah Mandelbaum Sidis, adalah seorang dokter lulusan Boston University. Mereka sekeluarga berimigrasi ke Amerika tahun 1887 untuk menghindari penganiayaan politik pada zaman waktu itu. Dibawah pola pendidikan orangtuanya, New York Times sudah menjadi teman sarapan Sidis saat usianya belum genap 2 tahun.

Sidis menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomi dan astronomi. Anak jenius ini diterima sebagai mahasiswa di Universitas Harvard saat usianya 11 tahun dan menguasai setidaknya tujuh bahasa, Latin, Yunani, Perancis, Rusia, Jerman, Turki dan Armenia. Sidis bahkan mengerti 200 jenis bahasa dan bisa menerjemahkannya dengan cepat dan mudah. Tapi kalau kita simak baik-baik, keberhasilan Sidis ini sebenarnya adalah sukses orang tuanya, khususnya sang bapak. Si bapak memang menjadikan anaknya menjadi role model untuk konsep pendidikan baru temuannya yang juga sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Tragisnya, Sidis meninggal saat baru berusia 46 tahun (17 Juli 1944) dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Sampai meninggal pun, Sidis hanya punya sedikit teman, tak pernah punya pacar apalagi istri dan tak pernah menamatkan gelar sarjananya. Ketika sadar kalau hidupnya selalu 2

berada di bawah bayang-bayang ayahnya, Sidis merasa amat tersiksa. Maka dengan itu dia memutuskan hubungan dengan keluarga dan mengembara dalam kerahasiaan. Dia bekerja dengan gaji seadanya. Ingin menjadi sendiri tapi tak mampu. Ibarat bom waktu, kondisi itulah yang meledakkan dirinya. Tragis. William James Sidis, berakhir tragis Hmm. Menyimak cerita Sidis diatas, kita bisa tahu kalau orang tuanya Sidis sebetulnya sudah punya konsep dalam mendidik si anak. Konsepnya itu menjadikan anaknya jenius di dunia akademisi. Yang menurut orang tuanya adalah solusi kehidupan. Nah yang jadi pertanyaannya sekarang, kenapa pendidikan yang sudah terpola tadi kok bisa berakhir tragis? Baik, saya akan jawab sekarang, punya visi, misi dan konsep dalam mendidik anak seperti yang dilakukan ayahnya Sidis itu sudah benar. Masalahnya adalah konsep pendidikan ayahnya Sidis tadi cuma berat ke ilmu akademis dan tidak memperhatikan faktor mentalnya. Memang 3

ayahnya berhasil menjadikan Sidis seorang jenius. Tapi, kehidupan ini bukan melulu soal akademis, disinilah yang ayahnya Sidis tadi lupa. Ada faktor yang lebih penting dari sekedar nilai-nilai di raport sekolah, yaitu faktor mental. Coba pikir, lebih berguna yang mana di kehidupan ini, jago matematika apa jago jualan, jago bahasa asing apa jago ngomong dan lebih pilih mana, jadi jenius apa jadi pemimpin? Pastilah jawabannya jago jualan, jago ngomong dan jadi pemimpin. Karena jago-jago tadi berkorelasi langsung dengan mempertahankan hidup. Inilah dia hasil dari pendidikan mental. Cuma dengan mendidik mental lah skill-skill diatas tadi bisa didapat. Dan yang sudah pasti kita setujui bersama-sama, EQ lah yang lebih utama daripada IQ. Selaras seperti yang pernah diajarkan oleh Ary Ginanjar pakar ESQ-, IQ itu letaknya dipermukaan, dengan EQ selapis lebih dalam dan SQ sebagai intinya. Maka dengan itu beliau menyarankan agar yang diasah itu EQ dan SQ, bukan IQ-nya. Karena 4

kalau EQ dan SQ yang diasah, otomatis IQ juga akan ikut bersinar tajam. Coba kita bandingkan Sidis dengan Alm. Steve Jobs, Bill Gates, Bob Sadino, Andrie Wongso dan banyak lagi. Meskipun sama-sama tidak menamatkan pendidikan, tapi nama-nama terakhir yang saya sebutkan justru bisa sukses karena menjauhi dunia akademis dan action oriented. Mereka tetap menggali ilmu, hanya saja ilmu yang dipelajari itu ilmu kehidupan. Jadi lebih tepat sasaran. Inilah konsep pendidikan yang saya kenalkan, Pendidikan Mental. Pendidikan ini mengutamakan mental daripada intelektual. Karena faktor mental lebih berperan penting menyukseskan seseorang daripada faktor intelektual. Lalu bagaimana dengan faktor spiritual? Apakah saya mengabaikannya? Oh tentu tidak! Spiritual adalah hal yang sangat halus, yang bisa dicapai melalui jalan intelektual atau mental. Tapi sesuai dengan skema ESQ-nya Ary Ginanjar, yang lebih dekat ke spiritual itu adalah mental, bukan intelektual. 5

Jadi sekarang, mari kita lupakan dahulu pendidikan ala akademisi, tapi saya tidak menyarankan berhenti sekolah loh. Sekolah tetap dilanjutkan -meskipun pendidikan di Indonesia dilihat dari pembinaan mental banyak salahnya- cuma jangan dijadikan orientasi utama. Mendidik mental anak itu jauh lebih penting. Kalau punya mental kuat, dimana pun medannya anak tetap berdiri tegak. Apapun rintangannya dia akan tetap fight. Karena model anak-anak seperti inilah yang dibutuhkan dunia. Jadi bapak dan ibu sekalian, sekali lagi kalibrasikan pikiran anda. Tanamkan dipikiran anda kalau pendidikan mental anak itu adalah yang utama sedangkan ilmu di sekolah cukup jadi pendukung saja. Cerita Siddis diatas pasti sudah membuat anda mengerti dan paham kalau mendidik mental anak itulah yang terbaik. Kalau anda sudah setuju dengan konsep pendidikan mental tadi, berikutnya kita menceritakan tentang dimana dan siapa pelaku pendidikan mental tadi. Nah kalau yang ini jangan ditanya lagi, siapa dan dimana dilakukannya pendidikan mental ini sudah 6

pastilah orang tua dan dimulainya dari rumah. Tidak ada tempat yang aman dan nyaman selain di rumah. Kenapa saya tegaskan harus orang tua yang turun tangan? Bukan apa-apa, dari pengalaman, saya banyak melihat orang tua itu kepinginnya mau terima bersih saja. Cari lembaga pendidikan, daftarkan anak, bayar, habis itu beres, tinggal terima jadi. Ini juga pemikiran yang salah. Sah-sah saja memasukkan anak ke lembaga pendidikan, entah itu bidang olahraga, seni dan lainnya, saya sarankan malah, tapi tetap semua harus dimulai oleh orang tua dan dari rumah. Karena metode pendidikan mental ini cuma orang tua yang bisa jalankan. Lagipula sejauh ini, setahu saya tidak ada lembaga pendidikan di Indonesia yang khusus mendidik mental anak. Kalaupun ada cuma pembinaan jangka pendek. Jadi saya tegaskan lagi, para orang tua harus bersiap menjalankan metode ini, karena mendidik mental anak tidak bisa diwakilkan. Juga karena pendidikan mental ini harus dimulai dari usia anak sedini mungkin. Cuma orang tua yang bisa jalankan dan tidak bisa ditawar lagi. Sudah harga mati! 7