AGROVIGOR VOLUME 6 NO. 2 SEPTEMBER 2013 ISSN

dokumen-dokumen yang mirip
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Tanaman ubi jalar tergolong famili Convolvulaceae suku Kangkungkangkungan,

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI KECAMATAN MUARA KABUPATEN TAPANULI UTARA

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

TINJAUAN PUSTAKA. A. Kelapa Sawit(Elaeis guineensis) tanaman kelapa sawit diantaranya Divisi Embryophyta Siphonagama, Sub-devisio

338. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1, No.2, Maret 2013 ISSN No

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN APEL DI DESA SIHIONG KECAMATAN BONATUA LUNASI KABUPATEN TOBA SAMOSIR

TINJAUAN PUSTAKA. A. Lahan Pasir Pantai. hubungannya dengan tanah dan pembentukkannya.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi. wilayahnya. Iklim yang ada di Kecamatan Anak Tuha secara umum adalah iklim

Karakteristik dan Kesesuaian Lahan Tanaman Cabai & Bawang Merah Dr. Dedi Nursyamsi

II. TINJAUAN PUSTAKA

Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L var Kartika Ateng ) Di Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara

KESESUAIAN LAHAN TANAM KENTANG DI WILAYAH BATU

TINJAUAN PUSTAKA. A. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

Lampiran 1. Kriteria Kelas Kesesuaian Lahan Kelapa sawit

Lampiran 1 : Data suhu udara di daerah Kebun Bekala Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang ( 0 C)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik dan Geofisik Wilayah. genetik tanaman juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berupa nutrisi

Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang Tanah di Desa Sampuran, Kecamatan Ranto Baek, Kabupaten Mandailing Natal

TINJAUAN PUSTAKA. yang mungkin dikembangkan (FAO, 1976). Vink, 1975 dalam Karim (1993)

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kualitas dan Karakteristik Lahan Sawah. wilayahnya, sehingga kondisi iklim pada masing-masing penggunaan lahan adalah

2013, No.1041 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kesesuaian Lahan Jagung Pada Tanah Mineral dipoliteknik Pertanian Negeri Payakumbuh

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Lahan adalah suatu daerah dipermukaan bumi dengan sifat- sifat tertentu yaitu

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. lahan pasir pantai Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen dengan daerah studi

TINJAUAN PUSTAKA. A. Material Vulkanik Merapi. gunung api yang berupa padatan dapat disebut sebagai bahan piroklastik (pyro = api,

Lampiran 1. Data curah hujan di desa Sipahutar, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TATA CARA PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik dan Fisiografi Wilayah. lingkungan berhubungan dengan kondisi fisiografi wilayah.

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PADA TANAH ENTISOL DI KECAMATAN LINTONG NIHUTA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN UNTUK TANAMAN KOPI ARABIKA (Coffea arabica)

Mela Febrianti * 1. Pendahuluan. Abstrak KESESUAIAN LAHAN

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)

11. TINJAUAN PUSTAKA

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Metode Penelitian. diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala yang ada dan mencari

TINJAUAN PUSTAKA. A. Tanaman Pisang. Pertumbuhan tanaman pisang sangat dipengaruhi faktor-faktor yang

TUGAS KULIAH SURVEI TANAH DAN EVALUASI LAHAN SETELAH UTS

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi

Lampiran 1. Peta/ luas areal statement kebun helvetia. Universitas Sumatera Utara

Kesesuaian Lahan Tanaman Kelapa di Lahan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pengambilan sampel tanah dilakukan di Lahan pesisir Pantai Desa Bandengan,

LAMPIRAN. Lampiran 1. Data Jumlah Curah Hujan (milimeter) di Stasiun Onan Runggu Periode Tahun

TINJAUAN PUSTAKA. A. Tanaman Singkong. prasejarah. Potensi singkong menjadikannya sebagai bahan makanan pokok

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 79/Permentan/OT.140/8/2013 TENTANG PEDOMAN KESESUAIAN LAHAN PADA KOMODITAS TANAMAN PANGAN

I. PENDAHULUAN. penduduk di Indonesia bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber. kehidupan utama (Suparyono dan Setyono, 1994).

Kesesuaian Lahan Kayu Manis di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Lampiran 1. Deskripsi Profil

Evaluasi Lahan. proses perencanaan penggunaan lahan (land use planning). Evaluasi lahan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai Januari 2013.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teoritis Gambaran Umum Lahan Pertanian di Area Wisata Posong Desa Tlahap terletak di Kecamatan Kledung,

Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Ubi Kayu (Manihot esculenta crant) di Desa Petuaran Hilir Kecamatan Pegajahan Kab.

Kesesuaian LahanTanaman Kelapa Sawit Di lahan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh Lailatul Husna *

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kesesuian lahan untuk tanaman papaya dan durian dipolitani

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2016 Maret 2017.

Evaluation Of Land Suitability For Rainfed Paddy Fields (Oryza sativa L.) In Muara Sub District North Tapanuli Regency

I. TINJAUAN PUSTAKA. bahan induk, relief/ topografi dan waktu. Tanah juga merupakan fenomena alam. pasir, debu dan lempung (Gunawan Budiyanto, 2014).

KESESUAIAN LAHAN DI POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH UNTUK BUDIDAYA KEDELAI

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Lahan Kering

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PADI SAWAH, PANGAN LAHAN KERING DAN TANAMAN TAHUNAN SUB DAS MALANGGA DESA TINIGI KECAMATAN GALANG KABUPATEN TOLITOLI

III. METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. potensi sumber dayanya adalah survei. Sebuah peta tanah merupakan salah satu

BAB III METODE PENELITIAN

KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN BROKOLI (BRASSICA OLERACE VAR ITALICA)

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis quenensis Jacq) DI DESA TOLOLE KECAMATAN AMPIBABO KABUPATEN PARIGI MOUTONG

Tri Fitriani, Tamaluddin Syam & Kuswanta F. Hidayat

Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Padi Sawah Irigasi (Oryza sativa L.) Di Desa Bakaran Batu Kecamatan Sei Bamban Kabupaten Serdang Bedagai

BAB III METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan beras di Indonesia meningkat seiring dengan peningkatan laju

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) ialah tumbuhan tropika dan subtropika dari

LAMPIRAN. Lampiran 1. Data Jumlah Curah Hujan (milimeter) di Stasiun Onan Runggu Periode Tahun

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Analisis terhadap sampel tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Parangtritis, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, DIY mulai

HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Lahan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identifikasi Potensi. dengan kemiringan 2-15%. Letaknya yang berada di kaki Gunung Sumbing

I. PENDAHULUAN. dapat menghasilkan genotip baru yang dapat beradaptasi terhadap berbagai

Urutan : Survai Tanah

I. PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk

TATACARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni Oktober 2015 dan dilakukan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar

KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN JAGUNG DI MADURA DENGAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

LAMPIRAN. Lampiran 1. Data Jumlah Curah Hujan (milimeter) di Stasiun Onan Runggu Periode Tahun

ANALISA POTENSI LAHAN UNTUK KOMODITAS TANAMAN KEDELAI DI KABUPATEN SITUBONDO

EVALUASI KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN UNTUK TANAMAN JERUK DI KECAMATAN ALALAK DAN KECAMATAN MANDASTANA, KABUPATEN BARITO KUALA

PENGEMBANGAN KOMODITAS PERTANIAN KEC. GALUR, LENDAH KEC. SAMIGALUH, KAB. KULONPROGO

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. informasi dari sumber-sumber lain yang relevan (Rayes, 2007).

TINJAUAN PUSTAKA. A. Tanah dan Lahan. bumi, yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik, serta mempunyai sifat

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi. 8 desa merupakan daerah daratan dengan total luas 2.466,70 hektar.

Metode Analisis Kesesuaian Lahan Analisis kesesuaian lahan adalah proses pendugaan tingkat kesesuaian lahan untuk berbagai alternatif penggunaan,

Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Manggis (Garcinia Mangosta Linn) Di Desa Wanayasa Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta

I. PENDAHULUAN. bercocok tanam. Berdasarkan luas lahan dan keragaman agroekosistem, peluang

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Prosedur Penelitian dan Parameter Pengamatan

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PADI IRIGASI DAN KEDELAI PADA LAHAN TERLANTAR YANG POTENSIAL DI KABUPATEN LAHAT SUMATERA SELATAN

Kajian Potensi Sumberdaya Lahan Untuk Pengembangan Tanaman Hortikultura Di Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PUPUK DI LAHAN MARGINAL UNTUK KELAPA SAWIT. Research & Development of Fertilizer Division SARASWANTI GROUP

Evaluasi lahan. Pengertian lahan

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN CENGKEH (Eugenia aromatica L.) DI KECAMATAN BARENG KABUPATEN JOMBANG. Yuli Purwati

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2016 sampai April 2017 di

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. langsung kelapangan. Data yang diperoleh berupa data fisik, kimia, biologi,

Transkripsi:

136 AGROVIGOR VOLUME 6 NO. 2 SEPTEMBER 2013 ISSN 1979 5777 STUDI KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN TEMBAKAU DI KECAMATAN SAMBENG KABUPATEN LAMONGAN Sucipto Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Email : cipto_utm@yahoo.co.id ABSTRAK Lahan adalah suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi, dimana fakto-faktor tersebut mempengaruhi potensi penggunaannya. Sebagai bagian dalam upaya pembangunan pertanian, kegiatan inventarisasi jenis dan kesesuain lahan perlu dilakukan. Hal ini akan terkait dengan upaya pengembangan pertanian ke depan untuk melihat prospek pengembangan komoditas tembakau agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan menjamin kelestarian lahan yang berkelanjutan di wilayah Kecamatan Ngimbang. Studi kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman tembakau laksanakan di Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan survei dan analisa laboratorium. Kegiatan studi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan 3 (tiga) tahapan yaitu : 1). Identifikasi jenis tanah, 2). Penyusunan kualitas lahan, 3). Evaluasi kesesuaian lahan. pengolahan dan analisis data menggunakan metode matching menggunakan software ArcGIS 9.3. Kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman tembakau secara umum adalah S3 (ses uai marjinal), dengan faktor pembatas ketersediaan air dan retensi hara. Kesesuaian lahan aktual pada tanah vertisol dengan faktor pembatas curah hujan, C Organik, ph, sedangkan tanah alfisol adalah S3 dengan faktor pembatas curah hujan dan ph. Kesesuaian lahan potensial pada tanah vertisol dan alfisol memiliki kelas kesesuaian yang sana ( S3) dengan faktor pembatas curah hujan. Kata kunci : kesesuaian lahan, tembakau PENDAHULUAN Lahan adalah suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi, dimana fakto-faktor tersebut mempengaruhi potensi penggunaannya. Termasuk didalamnya adalah akibat-akibat kegiatan manusia, baik pada masa lalu maupun sekarang. Pengelolaan sumberdaya lahan di suatu wilayah merupakan salah satu faktor yang tidak terpisahkan dari kebutuhan hidup masyarakat. Peningkatan kebutuhan hidup dan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan terjadinya persaingan penggunaan lahan, sehingga sering ditemui penggunaan yang tidak sesuai dengan potensi yang melekat pada suatu lahan. Potensi lahan untuk pertanian pada dasarnya ditentukan keadaan biofisik lahan yang meliputi iklim, sifat tanah, topografi, hidrologis dan vegetasi. Penggunaan lahan yang tepat dan berhasil dapat tercapai apabila dilakukan berdasarkan kemampuan lahan. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan potensinya akan berdampak negatif terhadap lingkungan, dimana akan terjadi degradasi lahan yang pada akhirnya akan diikuti dengan menurunnya kualitas lahan dan hasil produksi. Untuk menghindari hal tersebut, maka diperlukan adanya evaluasi lahan untuk mendukung perencanaan pembangunan pertanian yang berkelanjutan (Rossiter, 1994). Sebagai bagian dalam upaya pembangunan pertanian, kegiatan inventarisasi jenis dan kesesuain lahan perlu dilakukan. Hal ini akan terkait dengan upaya pengembangan pertanian ke depan untuk melihat prospek pengembangan komoditas tembakau. Kesesuaian lahan merupakan proses penilaian potensi/ kecocokan ( adaptability) suatu lahan untuk tipe penggunaan lahan (jenis ta naman dan tingkat pengelolaan) tertentu (Widiatmaka dan Hardjowigeno, 2007). Menurut FAO (1976) evaluasi lahan merupakan penilaian

Sucipto : Studi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Tembakau. 137 kinerja suatu lahan apabila digunakan untuk tujuan tertentu, yang didasarkan hasil interpretasi bentuk lahan, kualitas lahan, vegetasi, iklim dan aspek lainnya. Kecamatan Ngimbang merupakan salah satu sentra tanaman tembakau di Kabupaten Lamongan. Luas areal tanam tembakau pada Kabupaten Lamongan setiap tahunnya mengalami kenaikan dan penurunan luas areal tanam tingkat fluktuasinya beragam untuk masing-masing Kecamatan. Hasil identifikasi terhadap permasalahan pengembangan tembakau di Kecamatan Ngimbang adalah : 1). Terbatasnya informasi tingkat kesuburan dan daya dukung lahan, 2). Pemilihan areal tanam yang kurang sesuai (mengandung chlor), 3. Terbatasnya informasi terkait budidaya tembakau, terutama untuk pengairan dan pemupukan. Berdasarkan pada permasalahan yang ada, maka dalam upaya pengelolaan sumberdaya lahan yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani tembakau dan menjamin kelestarian lahan yang berkelanjutan di wilayah Kecamatan Ngimbang diperlukan studi kesesuaian lahan untuk tanaman tembakau. Tujuan dari studi evaluasi kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman tembakau di Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan ini adalah sebagai berikut : memberikan gambaran potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan tanaman tembakau dan memberikan gambaran faktor pembatas lahan untuk pengembangan tanaman tembakau. METODOLOGI PENELITIAN Studi kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman tembakau di Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan dilakukan pada tahun 2010. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan survei dan analisa laboratorium. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi terkait, sedangkan data primer diperoleh dari hasil uji lapang dan uji laboratorium. Data peta yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta jenis tanah, peta curah hujan, peta lereng, peta administrasi, dan data digital elevation model (DEM). Identifikasi Jenis Tanah Identifikasi jenis tanah didasarkan kepada peta yang diperoleh dari pusat Penelitian Tanah Bogor. Hasil identifikasi jenis tanah yang terdapat di lokasi penelitian kemudian ditentukan jumlah dan lokasi pengambilan sampel tanah. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan menggunakan metode Stratified Random Sampling. Penyusunan Kualitas Lahan Penyusunan kualitas lahan dilakukan untuk mengetahui karakteristik lahan (iklim, lereng) beserta tingkat kesuburan lahan (fisika dan kimia tanah) yang didasarkan kepada hasil analisis laboratorium dan pengamatan lapang. Metode yang digunakan dalam penyusunan kualitas dan karakteristik lahan adalah deskriptif. Evaluasi Kesesuaian Lahan Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan cara membandingkan persyaratan tumbuh tanaman dengan data karakteristik lahan. Metode yang digunakan pada tahap ini adalah overlay dan matching. Overlay dilakukan terhadap peta yang telah diperoleh dengan analisis sistem informasi geografis (SIG), sehingga diperoleh satu peta tematik karakteristik wilayah Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan. Peta tematik hasil dari overlay kemudian dilakukan pencocokan (matching) dengan persyaratan tumbuh tanaman, sehingga diperoleh peta kesesuaian lahan. Melalui analisis tabular pada perangkat lunak SIG, dapat ditentukan wilayah yang sesuai untuk tanaman tembakau. Tingkat kesesuaian peubah untuk suatu aktivitas dapat dibedakan kedalam 4 kelas, yaitu: sangat sesuai (S1), sesuai (S2), sesuai marginal (S3) dan tidak sesuai (N). HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Jenis Tanah Identifikasi jenis tanah yang dilakukan menunjukkan bahwa di Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan secara umum terdapat dua jeni tanah yaitu tanah vertisol dan Alfisol. Tanah di Kecamatan Ngimbang berkembang

138 Sucipto : Studi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Tembakau. dari bahan induk batu kapur sebagai dasar dengan endapan liat yang menutupi diatasnya, dengan bentuk wilayah yang berombak sampai bergelombang. Tanah verstisol tersebar di daerah cekungan dengan kelerengan datar sampai kerengan landai. Berdasarkan bentuk lahan dan bahan induk tersebut dapat diketahui terbentuknya dua jenis tanah yang terdapat di wilayah penelitian yaitu tanah vertisol dan tanah alfisol, inseptisol. Vertisol merupakan jenis tanah yang bercelah dan keras di waktu kering serta lengket dan mengembang diwaktu basah, dengan tingkat keseburan yang relatif rendah. Sedangkan Tanah Alfisol merupakan tanah yang tersebar di wilayah dengan kelengan sedang, dengan tingkat kesuburan dari jenis tanah ini rendah, sehingga diperlukan penambahan pupuk organik ke dalam tanah. Penyusunan Kualitas Lahan Penyusunan kualitas suatu lahan didasarkan kepada hasil analisis laboratorium dan pengamatan lapang. Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan terhadap sampel tanah menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah yang ada di wilayah penelitian bervariasi dari rendah sampai tinggi. Hasil analisa terhadap sampel tanah disajikan pada Tabel 1. Table 1. Hasil analisa tanah pada lapisan 0-20 cm No Parameter Vertisol Alfisol 1 ph H2O 7.00 7.20 2 C.organik 0.20 0.87 3 N.total 0.05 0.13 4 P.Olsen 4.65 1.15 5 K 0.39 0.14 6 Na 0.30 0.26 7 Ca 49.00 49.88 8 Mg 0.34 0.33 9 KTK 51.62 50.80 10 KB 96.92 99.62 11 Tekstur Lempung liat berdebu Liat Berdasarkan data hasil analisa sampel tanah diatas, kemudian dilakukan penilaian tingkat kesuburan tanah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Penilaian kesuburan tanah No Parameter Vertisol Alfisol 1 ph H2O N N 2 C.organik R R 3 N.total R R 4 P.Olsen R R 5 K S R 6 Na S R 7 Ca ST ST 8 Mg R R 9 KTK ST ST 10 KB ST ST 11 Tekstur SiCL C Keterangan : n = netral, r = rendah, s = sedang, t = tinggi, st = sangat tinggi, C = liat, SiL = lempung berdebu, SiCL = lempung liat berdebu Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian tingkat kesuburan lahan diperoleh informasi bahwa jenis tanah vertisol memiliki tekstur tanah lempung liat berdebu

Sucipto : Studi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Tembakau. 139 dengan tingkat kesuburan yang cukup bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi, dimana kandungan bahan organik, N, P, dan Mg (rendah), kandungan K dan Na (sedang), kapasitas tukar kation (KTK), Ca, Kb (sangat tinggi), dan ph netral. Tanah Alfisol memiliki tekstur liat dengan tingkat kesuburan rendah sampai sangat tinggi, dimana kandungan C organik, N, P, K, Na dan Mg (rendah), kapasitas tukar kation ( KTK), Ca, Kb (sangat tinggi), dan ph netral Evaluasi Kesesuaian Lahan Penilaian kesesuaian lahan pada hakekatnya merupakan pendugaan potensi sumber daya lahan untuk pengembangan tanaman dengan cara membandingkan persyaratan tanaman dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan tersebut. Fungsi kegiatan evaluasi lahan yang dilakukan di Kecamatan Ngimbang merupakan salah satu upaya untuk mengetahui potensi lahan untuk pengembangan tanaman tembakau. Kesesuain lahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kesesuaian lahan aktual dan kesesuain lahan potensial. Kesesuain lahan aktual ( current suitability), Tabel 3. Penilaian kesesuaian lahan Aktual Persyaratan penggunaan/ karakteristik laha Nilai Data merupakan kesesuain lahan saat ini dalam keadan alami tanpa mempertimbangkan usaha perbaikan dan tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala atau faktor-faktor pembatas yang ada, sedangkan kesesuain lahan potensial merupakan kesesuain lahan yang akan dicapai setelah dilakukan upaya pengelolaan/ usaha-usaha perbaikan lahan. Kesesuaian Lahan Aktual Penilaian kelas kesesuaian lahan aktual terhadap 2 (dua) jenis tanah menunjukkan bahwa kelas kesesuaian untuk tanaman tembakau adalah S3 (sesuai marjinal). Faktor pembatas yang diidentifikasi pada tanah vertisol adalah ketersediaan air (curah hujan) dan retensi hara (ph dan C Organik), sedangkan faktor pembatas untuk jenis tanah Alfisol adalah ketersediaan air (curah hujan) dan retensi hara (ph). Faktor pembatas retensi hara (ph dan C Organik) masih dapat diperbaiki, sedangkan ketersediaan air (wa) tidak dapat diperbaiki. Hasil penilaian kesesuaian lahan masing-masing jenis tanah ditunjukkan pada Tabel 3. Vertisol Kesesuaian Lahan Alfisol Temperatur (tc) Temperatur rerata ( C) pada masa pertumbuhan 25 33 S1 S1 Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan 1500 - > 2000 S3 S3 Kelembaban udara (%) 25 35 S1 S1 Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Sedang S1 S1 Media perakaran (rc) Tekstur Liat S1 S1 Bahan kasar (%) 14 S1 S1 Kedalaman tanah (cm) >75 S1 S1 Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) 50.80 S1 S1 Kejenuhan basa (%) 100 S1 S1 ph H2O 7.2 S3 S3

140 Sucipto : Studi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Tembakau. C-organik (%) 0.87 S3 S2 Bahaya erosi (eh) Lereng (%) 0 16 S2 S2 Bahaya erosi F0 S1 S1 Bahaya banjir (fh) Genangan F0 S1 S1 Kelas Kesesuaian S3 S3 Sumber : Hasil Analisa Penilaian kelas kesesuaian lahan aktual sebagaimana ditunjukkan Tabel 3 di atas kemudian dilakukan analisis lanjutan untuk memperoleh luas dan sebaran kesesuaian lahan aktual untuk tanaman tembakau di masing-masing desa. Informasi luas ditunjukkan pada Tabel 3, sedangkan sebaran keseuaian disajikan pada Gambar 1. Tabel 4. Luas kelas kesesuaian lahan aktual No Desa Kelas Kesesuaian S1 S2 S3 N Total 1 Cerme 0 0 246.24 0 246.24 2 Drujugurit 0 0 423.67 0 423.67 3 Durikedungjero 0 0 632.04 0 632.04 4 Ganggantingan 0 0 486.07 0 486.07 5 Gebangangkrik 0 0 241.84 0 241.84 6 Girik 0 0 1,043.15 0 1,043.15 7 Jejel 0 0 228.45 0 228.45 8 Kakatpenjalin 0 0 326.76 0 326.76 9 Kedungmentawar 0 0 577.83 0 577.83 10 Lamongrejo 0 0 1,109.17 0 1,109.17 11 Lawak 0 0 584.22 0 584.22 12 Mendogo 0 0 849.87 0 849.87 13 Munungrejo 0 0 423.00 0 423.00 14 Ngasemlemahbang 0 0 258.25 0 258.25 15 Ngimbang 0 0 202.35 0 202.35 16 Purwokerto 0 0 223.01 0 223.01 17 Sendangrejo 0 0 730.45 0 730.45 18 Slaharwotan 0 0 1,016.08 0 1,016.08 19 Tlemang 0 0 616.63 0 616.63 Sumber : Hasil Analisa Berdasarkan hasil analisis di atas (Tabel 3) dapat diperoleh informasi bahwa faktor penghambat untuk pengembangan tanaman tembakau di wilayah penelitian adalah curah hujan, ph, dan C Organik. Untuk mengatasi setiap faktor pembatas yang diidentifikasi diperlukan suatu upaya pengelolaan yang terarah, sehingga pertumbuhan tidak terhambat dan produksinya dapat ditingkatkan. Analisis laboratorium terhadap dua jenis (Tabel 1) menunjukkan bahwa tanah di wilayah penelitian berada pada kondisi basa. Tanah basa memiliki kandungan kalsium

Sucipto : Studi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Tembakau. 141 tinggi, sehingga terjadi fiksasi terhadap fosfat dan tanaman tembakau pada tanah basa seringkali mengalami defisiesi P, kondisi tersebut berpengaruh terhadap petumbuhan, produksi dan kualitas tanaman. Upaya perbaikan yang dapat dilakukan untuk tanah basa adalah dengan cara pemberian sulfur atau belerang. Pemberian belerang bisa dalam bentuk bubuk belerang atau bubuk sulfur yang mengandung belerang hampir 100 %, disamping itu pemberian bahan organik/ pupuk organik juga bisa membantu menormalkan ph tanah. Pemberian pupuk organik pada akhirnya juga akan meningkatkan kandungan C Organik dalam tanah. Iklim juga berpengaruh dalam budidaya tanaman tembakau. Tanaman tembakau pada umumnya tidak menghendaki iklim yang kering ataupun iklim yang sangat basah. Curah hujan dan kurangnya penyinaran matahari dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman kurang baik sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu dalam menanggulangi faktor pembatas ketersediaan air adalah dengan pengaturan masa waktu tanam. Gambar 1. Peta Kesesuaian Lahan Aktual Kesesuaian Lahan Potensial Penilaian kesesuaian lahan potensial merupakan analisis lanjutan dari penilaian sebelumnya (kesuaian aktual), dimana dilakukan upaya perbaikan/ upaya pengelolaan lahan yang menjadi faktor pembatas kelas kesesuaian aktual. Hasil penilaian kesesuaian lahan potensial yang dilakukan di wilayah penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian untuk tanaman tembakau adalah S3 (sesuai marjinal). Kelas kesesuaian potensial tidak berbeda dengan kesesuaian aktual, hal ini dikarenakan faktor pembatas ketersediaan air (wa) yang berupa curah hujan tidak dapat

142 Sucipto : Studi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Tembakau. diperbaiki, sehingga berpengaruh terhadap kelas kesesuaian secara keseluruhan. Hasil analisa kesesuaian potensial ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5. Penilaian kesesuaian lahan potensial Persyaratan penggunaan/ Nilai Data karakteristik laha Kesesuaian Lahan Vertisol Alfisol Temperatur (tc) Temperatur rerata ( C) pada masa pertumbuhan 25 33 S1 S1 Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) pada masa pertumbuhan 1500 - > 2000 S3 S3 Kelembaban udara (%) 25 35 S1 S1 Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Sedang S1 S1 Media perakaran (rc) Tekstur Liat S1 S1 Bahan kasar (%) 14 S1 S1 Kedalaman tanah (cm) >75 S1 S1 Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) 50.80 S1 S1 Kejenuhan basa (%) 100 S1 S1 ph H2O 7.2 S2 S2 C-organik (%) 0.87 S2 S2 Bahaya erosi (eh) Lereng (%) 0 16 S2 S2 Bahaya erosi F0 S1 S1 Bahaya banjir (fh) Genangan F0 S1 S1 Kelas Kesesuaian S3 S3 Sumber : Hasil Analisa Penilaian kelas kesesuaian lahan aktual sebagaimana ditunjukkan Tabel 3 di atas kemudian dilakukan analisis lanjutan untuk memperoleh luas dan sebaran kesesuaian lahan potensial untuk tanaman tembakau di masing-masing desa. Informasi luas ditunjukkan pada Tabel 6, sedangkan sebaran keseuaian disajikan pada Gambar 2. Tabel 6. Luas kelas kesesuaian lahan potensial No Desa Kelas Kesesuaian S1 S2 S3 N Total 1 Cerme 0 0 246.24 0 246.24 2 Drujugurit 0 0 423.67 0 423.67 3 Durikedungjero 0 0 632.04 0 632.04 4 Ganggantingan 0 0 486.07 0 486.07

Sucipto : Studi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Tembakau. 143 5 Gebangangkrik 0 0 241.84 0 241.84 6 Girik 0 0 1,043.15 0 1,043.15 7 Jejel 0 0 228.45 0 228.45 8 Kakatpenjalin 0 0 326.76 0 326.76 9 Kedungmentawar 0 0 577.83 0 577.83 10 Lamongrejo 0 0 1,109.17 0 1,109.17 11 Lawak 0 0 584.22 0 584.22 12 Mendogo 0 0 849.87 0 849.87 13 Munungrejo 0 0 423.00 0 423.00 14 Ngasemlemahbang 0 0 258.25 0 258.25 15 Ngimbang 0 0 202.35 0 202.35 16 Purwokerto 0 0 223.01 0 223.01 17 Sendangrejo 0 0 730.45 0 730.45 18 Slaharwotan 0 0 1,016.08 0 1,016.08 19 Tlemang 0 0 616.63 0 616.63 Sumber : Hasil Analisa Gambar 2. Peta Kesesuaian Lahan Potensial di Kecamatan Ngimbang

144 Sucipto : Studi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Tembakau. KESIMPULAN Berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman tanaman tembakau di Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman tembakau adalah S3 (sesuai marjinal) dengan faktor pembatas ketersediaan air (curah hujan) dan retensi hara (ph dan C Organik). 2. Kelas kesesuaian lahan potensial untuk tanaman tembakau adalah S3 (sesuai marjinal) dengan faktor pembatas ketersediaan air (curah hujan). DAFTAR PUSTAKA Davidson D.A. 1992. The Evaluation of Land Resources. New York: Longman Scientific & Technical - John Wiley & Son, Inc. Djaenuddin D, Hendrisman M, Subagyo, Hidayat A. 2003. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan Untuk Komoditas Pertanian Bogor : Balai Penelitian Tanah, Puslitbangtanak, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Food Agricultural Organization. 1976. A Framework for Land Evaluation. Soil Bull. No. 32. Rome. Food Agricultural Organization Staff, (1983), Reconaisance Land Resources Surveys 1 : 250.000 Scale Atlas, Format Procedures, Bogor Indonesia, Center for Soil Rese-arch, Ministry of Agriculture Government of Indonesia, UNDP & FAO. Hardjowigeno S, dan Widiatmaka. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Penatagunaan Lahan. Gajahmada University Press Lillesand T.M. and Kiefer R.W. 1994. Remote Sensing and Image Interpretation. Third Edition, John Wiley & Sons. Rossiter, D.G. 1994. Land evaluation. Cornell University College of Agr & Life Sciences Department of Soil, Crop & Atmospheric Science, Australia. Sitorus S.R.P. 2004. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Penerbit Tarsito. Bandung.