Purpura Henoch Schonlein (PHS), merupakan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Apendisitis adalah suatu peradangan pada apendiks, suatu organ

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu tempat terjadinya inflamasi primer akut. 3. yang akhirnya dapat menyebabkan apendisitis. 1

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian. Apendisitis akut adalah penyebab paling sering dari nyeri abdomen akut yang

BAB 1 PENDAHULUAN. vermiformis. Apendiks vermiformis memiliki panjang yang bervariasi dari

BAB I PENDAHULUAN. dengan dokter, hal ini menyebabkan kesulitan mendiagnosis apendisitis anak sehingga 30

BAB I PENDAHULUAN. Intususepsi merupakan salah satu penyebab tersering dari obstruksi usus dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. A DENGAN POST APPENDIKTOMI HARI KE II DI RUANG CEMPAKA RSUD PANDANARAN BOYOLALI

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

SAKIT PERUT PADA ANAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kuman dapat tumbuh dan berkembang-biak di dalam saluran kemih (Hasan dan

TATALAKSANA SKISTOSOMIASIS. No. Dokumen. : No. Revisi : Tanggal Terbit. Halaman :

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu

BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.

BAB 1 PENDAHULUAN. keadaan klinik yang sering dijumpai dalam praktek praktis sehari-hari.

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis akut adalah peradangan dari apendiks vermiformis, merupakan salah satu

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan adalah penyakit Tuberkulosis Ekstra Paru di. bagian Ilmu Penyakit Dalam sub bagian Pulmologi

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB III BAHAN DAN METODE

sex ratio antara laki-laki dan wanita penderita sirosis hati yaitu 1,9:1 (Ditjen, 2005). Sirosis hati merupakan masalah kesehatan yang masih sulit

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr.Kariadi Semarang setelah ethical

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. satu kegawatdaruratan paling umum di bidang bedah. Di Indonesia, penyakit. kesembilan pada tahun 2009 (Marisa, dkk., 2012).

BAB I PENDAHULUAN. lokal di perut bagian kanan bawah (Anderson, 2002). Apendisitis

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Apendisitis akut adalah peradangan/inflamasi dari apendiks vermiformis

BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi

Nefritis Purpura Henoch Schonlein

MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB V PEMBAHASAN. yang telah memenuhi jumlah minimal sampel sebanyak Derajat klinis dibagi menjadi 4 kategori.

BAB 1 PENDAHULUAN. penduduknya memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan serta

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Bedah Digestif. rekam medik RSUP Dr. Kariadi Semarang.

BAB 1 PENDAHULUAN. apendisitis akut (Lee et al., 2010; Shrestha et al., 2012). Data dari WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa insiden

BAB 1 PENDAHULUAN. pada setiap individu (Schmidt-Martin dan Quigley, 2011; Mahadeva et al., 2012).

BAB III METODE PENELITIAN

Untuk mendiagnosia klinik DBD pedoman yang dipakai adalah yang disusun WHO :

KONSEP TEORI. 1. Pengertian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sebagai kesatuan antara jasmani dan rohani, manusia mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. dan pola konsumsi makanan, sehingga banyak timbul masalah kesehatan, salah

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium

tahun 2004 diperkirakan jumlah tindakan pembedahan sekitar 234 juta per tahun (Weiser, et al,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan. Mencapai derajat sarjana S-1. Diajukan Oleh : NURHIDAYAH J FAKULTAS KEDOKTERAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. pakar yang dipublikasikan di European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB 1 PENDAHULUAN. di dalam saluran empedu, atau pada kedua-duanya. 1,2 Kolelitiasis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. walaupun pemeriksaan untuk apendisitis semakin canggih namun masih sering terjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang muncul membingungkan (Axelsson et al., 1978). Kebingungan ini tampaknya

Purpura Henoch-Schönlein (PHS) merupakan

HIPONATREMIA. Banyak kemungkinan kondisi dan faktor gaya hidup dapat menyebabkan hiponatremia, termasuk:

BAB 1 PENDAHULUAN. Hati adalah organ tubuh yang paling besar dan paling kompleks. Hati yang

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

K35-K38 Diseases of Appendix

Penyakit Radang Panggul. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

BAB 1 PENDAHULUAN. penyakit menular dan penyakit tidak menular atau degeneratif.penyakit Tidak

ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN GASTRITIS TERHADAP PENGGUNAAN TERAPI KOMBINASI RANITIDIN DAN ANTASIDA DI PUSKESMAS S. PARMAN BANJARMASIN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian secara observasional analitik dengan rancangan cross sectional.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Salah satu masalah kesehatan yang kita hadapi sekarang ini adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Asia Tenggara termasuk di Indonesia terutama pada penduduk yang

Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko

BAB III METODE PENELITIAN

PROFIL RADIOLOGIS TORAKS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI POLIKLINIK PARU RSUD DR HARDJONO-PONOROGO SKRIPSI

DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN. priyanto,2008). Apendisitis merupakan peradangan akibat infeksi pada usus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

BAB 1 PENDAHULUAN. empedu atau di dalam duktus koledokus, atau pada kedua-duanya (Wibowo et al.,

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang banyak dialami oleh manusia. Meskipun bukan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab. morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara

ANALISIS MANFAAT PEMBERIAN KORTIKOSTEROID PADA PASIEN DHF DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD DR. SOEBANDI JEMBER SKRIPSI

Satuan Acara penyuluhan (SAP)

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis adalah salah satu penyebab akut abdomen paling banyak pada

Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta

BAB I PENDAHULUAN. bentuk nodul-nodul yang abnormal. (Sulaiman, 2007) Penyakit hati kronik dan sirosis menyebabkan kematian 4% sampai 5% dari

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Laparotomi merupakan salah satu prosedur pembedahan mayor dengan cara melakukan

I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. perut kuadran kanan bawah (Smeltzer, 2002). Di Indonesia apendisitis merupakan

Transkripsi:

Artikel Asli Manifestasi dan Komplikasi Gastrointestinal pada Purpura Henoch Schonlein Martani Widjajanti SMF Anak, RSAB Harapan Kita, Jakarta Latar belakang. Purpura Henoch Schonlein (PHS) merupakan penyakit vaskulitis sistemik yang sering terjadi pada anak. Gejala yang timbul pada PHS seringkali melibatkan berbagai organ, mulai dari kulit, persendian, saluran cerna, ginjal, dan organ lain. Permasalahan pada sistem gastrointestinal termasuk yang sering dijumpai pada pasien PHS dengan gejala bervariasi dari ringan sampai berat. Tujuan. Mengetahui manifestasi klinis PHS dan komplikasi yang mengenai sistem gastrointestinal di RSAB Harapan Kita Jakarta. Metode. Penelitian deskriptif data dari Rekam Medik pasien PHS di RSAB Harapan Kita Jakarta dalam kurun waktu 7 tahun, yaitu sejak Januari 2004 sampai dengan Desember 2010. Subyek penelitian mencakup semua pasien anak usia di bawah 18 tahun yang didiagnosis PHS. Dilakukan pencatatan dan penilaian manifestasi klinis dan komplikasi yang terjadi pada sistem gastrointestinal. Hasil. Didapat 70 kasus PHS, dengan rentang usia antara 2 tahun sampai dengan 16 tahun. Pasien lakilaki 39 (55,7%) lebih banyak daripada perempuan 31 (44,3%) anak. Semua pasien mengalami purpura, dan kelainan gastrointestinal dijumpai pada 50 (71,4%) kasus, gangguan persendian pada 30 (42,9%) kasus sedangkan kelainan pada ginjal dijumpai pada 11 (15,8%) kasus. Manifestasi klinis pada sistem gastrointestinal berupa nyeri perut 41 (82%) kasus, muntah 28 (56%) kasus, konstipasi 11 (22%) kasus, dan melena 6 (12%) kasus. Komplikasi pada sistem gastrointestinal adalah perdarahan masif 1(2%) kasus dan intususepsi ringan 1 (2%) kasus. Kesimpulan. Manifestasi klinis sistem gastrointestinal pada PHS sering dijumpai. Manifestasi klinis tersering yang dikeluhkan berupa nyeri perut, terkadang mendahului terjadinya purpura pada kulit, sehingga menyulitkan diagnosis. Komplikasi yang ditemukan adalah perdarahan masif dan intususepsi, namun tidak memerlukan tindakan pembedahan. Sari Pediatri 2012;13(5):334-9. Kata kunci: purpura Henoch Schonlein, anak, manifestasi, gastrointestinal Alamat korespondensi: Dr. Martani Widjajanti, Sp.A. RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta, Jl. Letjen S. Parman Kav. 87, Slipi, Jakarta. Purpura Henoch Schonlein (PHS), merupakan penyakit sistemik, berupa vaskulitis pada pembuluh darah kecil yang dapat mengenai kulit, persendian, sistem gastrointestinal, dan ginjal. 1,2 Penyakit PHS pertama kali ditemukan oleh Lucas Schonlein pada tahun 1832 dan Eduard Henoch 334

pada tahun 1874. 3 Penyebab PHS masih belum jelas, namun dapat terjadi sesudah infeksi saluran napas atas, reaksi hipersensitivitas, atau pemberian obatobatan. 3,4 Angka kejadian pertahun berkisar antara 13.5-18/100 000 anak, 50% kasus terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun dan 75% kasus terjadi pada usia di bawah 10 tahun. Pasien PHS lebih banyak dijumpai pada anak laki-laki. 2,4 Kriteria diagnosis PHS menurut European League Against Rheumatism/EULAR (2006) 1,5 apabila ditemukan purpura (umumnya teraba) atau petekiae dengan lokasi predominan di tungkai bawah ditambah satu dari empat kriteria berikut, nyeri perut, artritis atau artralgia, histopatologi menunjukkan vaskulitis leukositoklastik dengan predominan deposit IgA atau proliferasi glomerulonefritis dengan predominan deposit Ig A, serta adanya keterlibatan ginjal (proteinuria dan atau hematuria). Menurut Chen dan Kong, 3 50%-80% dari total pasien PHS mengalami kelainan gastrointestinal dengan manifestasi mual, muntah, diare, nyeri kolik, dan perdarahan saluran cerna. Nyeri perut yang ditemukan selalu bersifat kolik dan sulit dilokalisir. 6 Pemeriksaan fisis pada abdomen dapat ditemui adanya distensi dan kadang menampilkan keadaan yang menyerupai gejala abdomen akut sehingga mengakibatkan laparotomi eksplorasi yang tidak perlu. 6 Gejala gastrointestinal disebabkan adanya ekstravasasi darah dan cairan ke dinding usus yang mengakibatkan ulserasi mukosa usus dan terkadang perdarahan. 8,11 Komplikasi pada saluran cerna dapat berupa perdarahan masif, perforasi usus atau nekrosis dan intususepsi. Pada beberapa tahun terakhir, para peneliti melaporkan kasus dengan manifestasi baru pada sistem gastrointestinal, yaitu berupa hemorrhagic ascites, perforasi usus besar dan kecil, pancreatitis, dan iskemi dari duktus bilier. 7 Deteksi dini kelainan gastrointestinal pada PHS sangat penting karena kadang-kadang membutuhkan intervensi bedah. 3 Pemeriksaan pencitraan yang dilakukan seperti foto abdomen, ultrasonografi, dan CT scan dapat digunakan untuk membantu membedakan pasien yang perlu intervensi bedah atau tidak, sedangkan data laboratorium tidak dapat digunakan untuk tujuan tersebut. 3,5 Tujuan penelitian untuk mengetahui manifestasi klinis dan komplikasi pada sistem gastrointestinal yang terjadi pada pasien PHS yang berobat di RSAB Harapan Kita, Jakarta. Metode Penelitian deskriptif analitik dilakukan, berdasarkan data retrospektif dari rekam medis pasien anak yang dirawat di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan anak di RSAB Harapan Kita dalam kurun waktu Januari 2004 sampai dengan Desember 2010. Subyek penelitian adalah semua pasien yang berusia di bawah 18 tahun dengan diagnosis PHS, memiliki data rekam medis lengkap, mencakup identitas, anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Pemeriksaan penunjang adalah darah tepi dan urinalisis, ultrasonografi abdomen, foto abdomen, atau endoskopi. Penelitian ditujukan terutama pada manifestasi gastrointestinal, yaitu nyeri perut, muntah, diare, dan/atau perdarahan saluran cerna bawah berupa melena, dan komplikasi gastrointestinal berupa perdarahan masif, intususepsi, dan perforasi. Data yang diperoleh dimasukkan dalam program komputer SPSS 17.00 dan dianalisis secara deskriptif dengan tampilan frekuensi dan presentase. Hasil Dalam kurun waktu Januari 2004 hingga Desember 2010, di RSAB Harapan Kita didapatkan 70 pasien PHS yang terdiri dari 23 pasien rawat jalan dan 47 pasien rawat inap yang memenuhi kriteria studi penelitian. Sebaran subjek berdasarkan jenis kelamin adalah 39 orang laki-laki (55,7%) dan 31 orang perempuan (44,3%), berusia 2 tahun sampai dengan 16 tahun, dengan rerata terbanyak pada usia 9 tahun (9 kasus). Distribusi jumlah kasus tertera pada Gambar 1. Semua pasien mengalami purpura, kelainan gastrointestinal dijumpai pada 50 (71,4%) kasus, gangguan persendian pada 30 (42,9%) kasus, dan kelainan ginjal 11 (15,8%) kasus. Keluhan yang membuat pasien datang berobat cukup bervariasi, terbanyak mengeluh kemerahan di kulit 46 (65,8%) kasus, diikuti dengan nyeri perut 12 (17,1%) kasus, keluhan sendi 7 (10%) kasus, mual dan muntah 4 (5,7%) kasus, serta melena 1 (1,4%) kasus. Pada pemeriksaan fisis dan pemantauan selanjutnya, 50 kasus menunjukkan gambaran manifestasi gastrointestinal yang berupa nyeri perut 12 (24%), nyeri perut dan muntah 12 (24%), nyeri perut dan konstipasi 5 (10%), muntah 3 (6%), konstipasi 1 (2%), muntah dan diare 335

2 (4%), muntah dan konstipasi 2 (4%), muntah, nyeri perut dan konstipasi 3 (6%), muntah, nyeri perut dan diare 2 (4%), muntah, melena dan nyeri perut 4 (8%), nyeri perut dan diare 2 (4%), nyeri perut dan melena 1 (2%), dan melena 1 (2%) kasus (Gambar 2). Manifestasi gastrointestinal pada pasien PHS, dari 50 kasus didapatkan nyeri perut total 41 (82%), muntah 28 (56%), konstipasi 11 (22%), dan melena 6 (12%) kasus. Tidak semua pasien dilakukan pemeriksaan penunjang. Di antara 70 kasus PHS 10 8 Frequency 6 4 2 0 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00 11.00 12.00 14.00 16.00 umur pasien (tahun) Gambar 1. Distribusi jumlah pasien HSP berdasarkan usia, tahun 2004-2010 12 10 Frequency 8 6 4 2 0 muntah, nyeri perut dan diare muntah, nyeri perut dan konstipasi muntah dan konstipasi muntah dan diare konstipasi muntah nyeri perut dan konstipasi nyeri perut dan muntah melena nyeri perut dan melena nyeri perut dan diare muntah, melena dan nyeri perut nyeri perut Gambar 2. Manifestasi gastrointestinal pada PHS 336

8 6 Frequency 4 2 0 normal gastristis inflamasi usus karena skibala lesi difus hati nefritis ringan Gambaran USG dugaan peritonitis intususepsi ringan inflamansi inflamansi usus karena usus karena skibala, lesi skibala, nefritis difus hati ringan Gambar 3. Gambaran Ultrasonografi abdomen pada PHS yang diteliti, 59 kasus menunjukkan, kadar Hb <10 g/dl pada 6 (8,8%), kadar leukosit >10.000/ ul pada 33 (47,1%), sedangkan peningkatan kadar trombosit >400.000/uL dijumpai pada 18 (25,7%) kasus. Pemeriksaan urinalisis yang dilakukan pada 50 kasus, dijumpai hematuria 5 (10%), proteinuria 1 (2%), sedangkan hematuria yang dijumpai bersamaan dengan proteinuria terdapat pada 5 (10%) kasus. Pada 20 kasus, 4 kasus di antaranya ditemukan eritrosit di dalam pemeriksaan tinja. Pemeriksaan penunjang lain yang dilakukan adalah foto abdomen, ultrasonografi abdomen, atau endoskopi. Pemeriksaan foto abdomen dilakukan pada 4 kasus, dengan hasil tidak tampak tanda perforasi maupun obstruksi usus. Ultrasonografi abdomen dilakukan pada 31 kasus, normal pada 5 (16,1%), gambaran gastritis pada 7 (22,6%), inflamasi usus karena skibala 11 (35,5%), lesi difus pada hati 4 (13%), nefritis ringan 5 (16,1%), dugaan peritonitis 1 (3,2%) dan intususepsi ringan 1 (3,2%) kasus. Terdapat satu kasus dengan manifestasi muntah dan melena yang cukup hebat, sehingga dianggap perlu untuk dilakukan pemeriksaan gastroskopi. Pada pemeriksaan gastroskopi dijumpai ulkus duodenum dan gastritis erosif, pada biopsi ditemukan duodenitis derajat 2 dan gastritis kronik non atrofi. Di antara 70 kasus pasien PHS, didapatkan 5 (1,4%) kasus rujukan dari rumah sakit lain, dengan diagnosis awal apendisitis dan kemudian dilakukan apendektomi. Pada pengamatan selanjutnya, karena dijumpai ruam kulit, pasien dirujuk ke RSAB HK, dan ditegakkan diagnosis PHS. Dari catatan medik didapatkan bahwa nyeri perut timbul sekitar 2-3 hari sebelum timbul ruam, interval waktu dari gejala nyeri perut sampai dilakukan apendektomi bervariasi antara 2 7 hari, sedangkan interval waktu dari apendektomi hingga dibuat diagnosis PHS berkisar 6-7 hari. Pembahasan Purpura Henoch Schonlein merupakan penyakit sistemik vaskulitis tersering pada anak yang ditandai dengan purpura yang teraba, tanpa trombositopenia, nyeri perut, arthritis, dan gangguan ginjal. 8,13 Menurut Ramakrishnan, 2 PHS terjadi 50% pada usia <5 tahun dan 75% pada usia<10 tahun. Pada penelitian kami dijumpai 30% kasus berusia kurang dari 5 tahun dan 55,7 % pada usia kurang dari 10 tahun, dengan rerata pada usia 9 tahun. Beberapa penulis menyatakan bahwa PHS lebih sering dijumpai pada laki-laki daripada wanita dengan perbandingan 1,8 : 1. 9 Kami mendapatkan pasien laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan pasien perempuan, dengan perbandingan 1,25 : 1. Manifestasi PHS dapat melibatkan berbagai organ mulai dari kulit, sistem gastrointestinal, sendi, dan ginjal, 1,2,10 yaitu berturut-turut 71,4%, 42,9%, dan 15,9% kasus. 337

Penelitian yang dilakukan oleh Kumar dkk 10 menyatakan bahwa nyeri perut terjadi pada lebih dari setengah jumlah kasus, dan manifestasi tersering berupa kolik abdomen. Nyeri pada umumnya berhubungan dengan mual, muntah, diare atau konstipasi serta di jumpai darah atau lendir pada tinja. 4 Menurut Chen dan Kong, 3 50%-80% dari total pasien PHS yang diteliti, menunjukkan kelainan gastrointestinal dengan manifestasi mual, muntah, diare, nyeri kolik, dan perdarahan traktus gastrointestinal. Kami lebih banyak menemukan nyeri perut, nyeri perut dan muntah, dan nyeri perut disertai konstipasi. Diare, buang air besar hitam dan buang air besar berdarah jarang dijumpai. Lima kasus rujukan dari rumah sakit lain telah menjalani operasi apendektomi sebelum diagnosis PHS ditegakkan. Hal tersebut mungkin disebabkan gejala nyeri perut yang timbul dan pemeriksaan fisis yang dilakukan sangat mirip dengan gejala apendisitis akut yang memerlukan tindakan operasi segera. Setelah dijumpai gejala ruam merah di kulit yang makin nyata, diagnosis PHS baru mulai dipikirkan. Pada kasus tersebut, gejala gastrointestinal timbul lebih dahulu atau bersamaan dengan kemerahan pada kulit, sehingga diagnosis PHS terlambat ditegakkan. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Lanzkowsky 11 yang menyatakan bahwa diagnosis PHS kadang dapat sulit ditegakkan, terutama ketika gejala abdominal timbul lebih dahulu daripada purpura. Menurut Lawee, 12 gejala abdomen yang timbul mulai dari mual, muntah dan distensi abdomen memang sering membingung kan para dokter, apalagi apabila disertai dengan gejala akut abdomen yang mengakibatkan tindakan laparotomi yang tidak diperlukan. Chen dkk 6 menyatakan bahwa pada pasien PHS nyeri perut yang ditemukan bersifat kolik dan sulit dilokalisasi. Dari pemeriksaan fisik abdomen, ditemui distensi, dan kadang-kadang menampilkan keadaan yang menyerupai akut abdomen sehingga mengakibatkan laparotomi eksplorasi yang tidak perlu. Komplikasi sistem gastrointestinal tersering pada pasien PHS menurut beberapa peneliti yaitu intususepsi, perforasi, dan perdarahan masif. 4,5,12 Gejala gastrointestinal merupakan akibat dari ekstravasasi darah dan cairan ke dinding usus yang mengakibatkan ulserasi mukosa usus dan terkadang perdarahan. 13 Kami temukan satu orang yang dilakukan gastroskopi karena menunjukkan gejala muntah dan melena hebat. Dari hasil gastroskopi dijumpai ulkus duodenum dan gastritis erosif, hasil biopsi menunjukkan duodenitis derajat II dan gastritis kronis non atrofi. Selain itu, dijumpai satu kasus lainnya dengan intususepsi ringan berdasarkan hasil ultrasonografi abdomen, namun pada pemantauan selanjutnya ternyata tidak diperlukan tindakan bedah, pasien dapat dinyatakan sembuh dan pulang dalam kondisi baik. Deteksi dini manifestasi dan komplikasi gastrointestinal pada pasien PHS sangat penting, karena tata laksana yang kurang tepat dan cepat dapat memperburuk prognosis. Kadang-kadang dibutuhkan pemeriksaan penunjang/pencitraan seperti foto abdomen, ultrasonografi abdomen, atau CT scan abdomen untuk membedakan pasien yang perlu intervensi bedah atau tidak. 3,5 Kesimpulan Purpura Henoch Schonlein merupakan penyakit sistemik vaskulitis tersering pada anak dengan angka kejadian paling sering di bawah usia 10 tahun, ditemukan lebih banyak pada laki-laki dibanding perempuan. Manifestasi PHS beraneka ragam mulai dari purpura, nyeri perut, nyeri sendi dan gangguan ginjal. Manifestasi pada sistem gastrointestinal yang sering dijumpai yaitu nyeri perut, muntah, diare atau konstipasi. Gejala gastrointestinal timbul mendahului gejala ruam pada kulit sehingga menyulitkan diagnosis. Komplikasi pada gastrointestinal berupa perdarahan masif dan intususepsi ringan, tidak memerlukan tindakan pembedahan. Daftar pustaka 1. Brogan P, Eleftheriou D, Dillon M. Small vessel vasculitis. Pediatr Nephrol 2010; 25:1025 35. 2. Ramakrishnan L, Vamvakiti E, Remorino R. Clinical problem : HSP- Henoch Schonlein Purpura. Chichester: St. Richard s Hospital, 2008. 3. Chen SY, Kong MS. Gastrointestinal manifestations and complications of HSP. Chang Gung Med J 2004;27:175-80. 4. Robert PF, Waller TA, Brinker TM, Riffe IZ, Sayre JW, Bratton RL. Henoch Schonlein Purpura : a review article. Southern Med J 2007;100:820-4. 5. Karasmanis RH, Ronald GS, Maria R, Donald AS. Abdominal wall and labial edema presenting in a girl with HSP : a case report. J Med Case Reports 2010;98:1-4. 338

6. Chen MJ, Wang TE, Chang WH, Tsai SJ, Liao WS. Endoscopic findings in a patient with Henoch Schonlein Purpura. World J Gastroenterol 2005;11:2354-2356. 7. Rai A, Nast C, Adler S. HSP Nephritis. J Am Soc Nephrol 1999;10:2637 44. 8. Ballinger S. Henoch-Schonlein Purpura. Curr Opinion Rheumatol 2003; 15:591-4. 9. Lim DCE, Cheng LNC, Wong FWS. Could it be Henoch Schonlein Purpura. Aust Fam Physician 2009;38:321-4. 10. Kumar L, Signh S, Gorava JS. Henoch Schonlein Purpura : the Chandigarh experience. Indian Ped 1998;35:19-25. 11. Lanzkowsky S, Lanzkowsky L, Lanzkowsky P. Henoch- Schoenlein purpura. Pediatr Rev 1992;13:130-7. 12. Lawee D. Atypical clinical course of Henoch Schonlein Purpura. Can Fam Physician 2008;54:1117-20. 13. Sohagia AB, Gunthuru SG, Tong TR, Hertan HI. Henoch Schonlein Purpura. Hindawi Publishing Corporation. New York: Gatroenterology Research and Practice; 2010. 339