MODUL. Nyquist dan Efek Aliasing, dan Transformasi Fourier Diskrit

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II PENCUPLIKAN DAN KUANTISASI

PEMBANGKITAN SINYAL DAN FUNGSI FFT

10/22/2015 PEMBANGKITAN SINYAL DAN FUNGSI FFT SIGNAL DI MATLAB SAWTOOTH DAN SQUARE

MATERI PENGOLAHAN SINYAL :

MODUL 4 SAMPLING SINYAL

1.4 KONVERSI ANALOG-KE DIGITAL DAN DIGITAL-KE-ANALOG. Sinyal-sinyal analog di alam:

BAB II DASAR TEORI. sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda.

Jaringan Syaraf Tiruan pada Robot

KONSEP FREKUENSI SINYAL WAKTU KUNTINYU & WAKTU DISKRIT

Bab II Teori Dasar. Gambar 2.1 Diagram blok sistem akuisisi data berbasis komputer [2]

penulisan ini dengan Perancangan Anti-Aliasing Filter Dengan Menggunakan Metode Perhitungan Butterworth. LANDASAN TEORI 2.1 Teori Sampling Teori Sampl

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

BAB III METODE PENELITIAN. Pemotong an Suara. Convert. .mp3 to.wav Audacity. Audacity. Gambar 3.1 Blok Diagram Penelitian

FFT Size dan Resolusi Frekuensi 2012

udara maupun benda padat. Manusia dapat berkomunikasi dengan manusia dari gagasan yang ingin disampaikan pada pendengar.

BAB II DASAR TEORI Suara. Suara adalah sinyal atau gelombang yang merambat dengan frekuensi dan

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Frekuensi Dominan Dalam Vokal Bahasa Indonesia

PENGENALAN SUARA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN MODEL PROPAGASI BALIK

BABI PENDAHULUAN. Pada dunia elektronika dibutuhkan berbagai macam alat ukur dan analisa.

BAB 2 LANDASAN TEORI

MODUL 6 ANALISA SINYAL DALAM DOMAIN FREKUENSI

LAPORAN PRAKTIKUM DSP

SPECGRAM & SPECGRAMDEMO

MODUL 5 EKSTRAKSI CIRI SINYAL WICARA

BAB I PENDAHULUAN. Proses pengenalan kata merupakan salah satu fungsi dari

Deret Fourier untuk Sinyal Periodik

BAB III METODOLOGI. dari suara tersebut dapat dilihat, sehingga dapat dibandingkan, ataupun dicocokan dengan

Hubungan 1/1 filter oktaf. =Frekuesi aliran rendah (s/d -3dB), Hz =Frekuesi aliran tinggi (s/d -3dB), Hz

PERCOBAAN SINTESIS DAN ANALISIS ISYARAT (SIMULASI) (Oleh : Sumarna, Lab-Elins, Jurdik Fisika FMIPA UNY)

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI DIGITAL

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN APLIKASI DIGITAL SIGNAL PROCESSING EKSTRAKSI CIRI SINYAL WICARA. Disusun Oleh : Inggi Rizki Fatryana ( )

1. Pendahuluan Latar Belakang

SOAL UAS PENGOLAHAN SINYAL DIGITAL WADARMAN JAYA TELAUMBANUA

1.4 KONVERSI ANALOG-KE DIGITAL DAN DIGITAL-KE-ANALOG. Sinyal-sinyal analog di alam:

PEMROSESAN SINYAL DIGITAL 1 (MSF4617)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T

BAB IV HASIL PENGUKURAN LAPANGAN, PENGOLAHAN, DAN ANALISIS DATA SEISMOELEKTRIK

METODE PENELITIAN. Gambar 1 Alur metode penelitian.

BAB III METODE PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN DATA SEISMOELEKTRIK. palu. Dari referensi pengukuran seismoelektrik di antaranya yang dilakukan oleh

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. yang akan menjalankan perintah-perintah yang dikenali. Sistem ini dibuat untuk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dicolokan ke komputer, hal ini untuk menghindari noise yang biasanya muncul

BAB III METODE PENELITIAN

Suara 3 Spektrum Suara/1

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T

PENGENALAN SUARA BURUNG MENGGUNAKAN MEL FREQUENCY CEPSTRUM COEFFICIENT DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN PADA SISTEM PENGUSIR HAMA BURUNG

Analog to Digital Converter (ADC)

KONSEP DAN TERMINOLOGI ==Terminologi==

MODUL 1 PROSES PEREKAMAN DAN PENGEDITAN SINYAL WICARA

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1.(a). Blok Diagram Kelas D dengan Dua Aras Keluaran. (b). Blok Diagram Kelas D dengan Tiga Aras Keluaran.

KOMPUTASI SINYAL DIGITAL SINYAL DAN SISTEM. GEMBONG EDHI SETYAWAN, S.T., M.T. -

MODUL 2 SINYAL DAN SUARA

PENGENALAN NADA SULING REKORDER MENGGUNAKAN FUNGSI JARAK CHEBYSHEV

MODUL 4 SAMPLING DAN ALIASING

TINJAUAN PUSTAKA. Pengenalan Suara

Analisis Getaran Struktur Mekanik pada Mesin Berputar untuk Memprediksi Kerusakan Akibat Kondisi Unbalance Sistem Poros Rotor

BAB I PENDAHULUAN. manusia satu dengan manusia lainnya berbeda-beda intonasi dan nadanya, maka

KOMPUTASI SINYAL DIGITAL SINYAL DAN SISTEM

Bab 1 Pengenalan Dasar Sinyal

KOMPUTASI SINYAL DIGITAL SINYAL DAN SISTEM. GEMBONG EDHI SETYAWAN, S.T., M.T. -

Tujuan Belajar 1. Peserta mengetahui definisi, representasi matematis, dan pengertian dasar tentang sinyal, sistem, dan pemrosesan sinyal

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk. memperoleh transmisi yang efisien dan handal.

Spektrum dan Domain Sinyal

Bab IV Pengujian dan Analisis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Gambar 3.1 Lintasan Pengukuran

Modulasi adalah proses modifikasi sinyal carrier terhadap sinyal input Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, siny

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian terkait Gunung Merapi merupakan hal yang menarik untuk dilakukan. Berbagai metode digunakan untuk

Tujuan dari Bab ini:

MAKALAH TRANSFORMASI FOURIER MATA KULIAH PENGOLAHAN CITRA OLEH: 1. RISKA NOR AULIA ( ) 2. DYA AYU NINGTYAS ( )

MODUL 3 REPRESENTASI SINYAL DALAM DOMAIN WAKTU DAN DOMAIN FREKUENSI

PEMROSESAN SINYAL DIGITAL 1 (MSF4617)

ON-BOARD FUNDAMENTAL FREQUENCY ESTIMATION OF ROCKET FLIGHT EXPERIMENTS USING DSP MICROCONTROLLER AND ACCELEROMETER

Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 2 Penjamakan Digital

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENENTUAN AKOR GITAR DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA SHORT TIME FOURIER TRANSFORM

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE BAND PASS FILTER UNTUK OPTIMASI TRANSFER DAYA PADA SINYAL FREKUENSI RENDAH; STUDI KASUS : SINYAL EEG

SINYAL DAN SISTEM DALAM KEHIDUPAN

BAB II DIGITISASI DAN TRANSMISI SUARA. 16Hz 20 khz, yang dikenal sebagai frekwensi audio. Suara menghasilkan

1. Sinyal adalah besaran fisis yang berubah menurut. 2. X(z) = 1/(1 1,5z 1 + 0,5z 2 ) memiliki solusi gabungan causal dan anti causal pada

1 BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB III PENGOLAHAN DATA

SINYAL. Adri Priadana ilkomadri.com

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

BAB III SINYAL DAN SISTEM WAKTU DISKRIT

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 5 Modulasi Pulsa

MATERI 4 MATEMATIKA TEKNIK 1 DERET FOURIER

geofisika yang cukup popular. Metode ini merupakan metode Nondestructive Test yang banyak digunakan untuk pengamatan dekat

Bab 2 LANDASAN TEORI

PRAKTIKUM ISYARAT DAN SISTEM TOPIK 1 ISYARAT DAN SISTEM

Analisis Data EEG pada Beberapa Kondisi menggunakan Metode Dekomposisi dan Korelasi berbasis Wavelet (Dekorlet)

Aktifasi Peralatan Elektronik Berbasis Suara Menggunakan Android

IMPLEMENTASI DYNAMIC TIME WARPING UNTUK VOICE RECOGNITION

Transkripsi:

MODUL Nyquist dan Efek Aliasing, dan Transformasi Fourier Diskrit PENDAHULUAN Pada awalnya kita hanya mengenal sinyal atau isyarat analog dan kontinyu (terus menerus tanpa ada jeda sedikitpun, misalnya antara data untuk t= detik hinga t=1 detik, kita memiliki semua data secara lengkap, tidak hanya pada t= detik dan t=1 detik saja). Dengan adanya teknologi komputer, pemrosesan sinyal mengalami kemajuan karena datadata sinyal tersebut dapat tersimpan dan diproses menggunakan komputer, caranya? Yaitu dengan melakukan pencuplikan (bisa dibayangkan berapa banyak data yang tersimpan jika masih bersifat kontinu? Karena antara t= detik hingga t=1 detik bisa berjumlah tak-hingga) menjadi data-data diskrit, hanya untuk saat t tertentu saja, misalnya dengan periode pencuplikan T=.5 detik, akan diperoleh frekuensi pencuplikan fs=2 Hz atau 2 data tiap detik, sehingga untuk 1 menit = 6 x 2 daa = 12 data/menit. Tidak hanya proses pencuplikan, juga dilakukan proses kuantisasi, yaitu merubah angka analog menjadi digital selebar n-bit, artinya jika hanya menggunakan 3-bit maka hanya ada 2^3 = 8 tingkat data, demikian seterusnya, semakin lebar bit-nya semakin akurat dan otomatis semakin membutuhkan banyak ruang penyimpan. Data digital tersebut perlu dianalisa lebih lanjut, karena masih dalam ranah waktu (time domain), informasi yang diperoleh hampir tidak ada, sehingga seringkali dibutuhkan informasi, misalnya, spektrum atau kandungan frekuensi dari sinyal yang bersangkutan (ranah frekuensi atau frequency domain). Sehingga perlu mempelajari DFT atau Discrete Fourier Transform. PERCOBAAN 1. Nyquist Dalam dunia Pemrosesan Sinyal Digital, ada suatu proses untuk mendapatkan data digital melalui proses pencuplikan, artinya sinyal analog dicuplik (diambil) secara diskrit dengan periode Ts atau frekuensi cuplik Fs. agar tidak terjadi kesalahan (yang kemudian diberi nama aliasing), Mr. Nyquist memberikan aturan bahwa frekuensi cuplik minimal harus 2 (dua) kali lipat frekuensi maksimum yang dikandung sinyal yang bersangkutan. Untuk memahami hal tersebut, mari kita persiapkan dulu sinyal sinusoidal dengan frekuensi 2 Hz. Kita gunakan frekuensi cuplik 1 Hz atau periode.1 detik (supaya gambarnya jauh lebih smooth dibandingkan dengan eksperimen-eksperimen yang akan kita lakukan) >>t=:.1:1; >>f=2; >>y=sin(2*pi*f*t); kemudian diteruskan dengan menyiapkan variabel waktu t1 dengan frekuensi sampling = frekuensi sinyal (atau periodenya 1/f detik), kita hitung y1-nya kemudian kita gambarkan sinyal asli y dan sinyal hasil pencuplikan y1, menggunakan perintah-perintah berikut:

>>t1=:1/f:1; >>y1=sin(2*pi*f*t1); >>plot(t,y,t1,y1, -o ); >>title(sprintf( frekuensi sampling = frekuensi sinyal, jumlah data %d,length(y1))); Maka akan didapatkan hasil sebagai berikut (yang asli warna biru, yang cuplikan warna hijau) 1 frekuensi sampling = frekuensi sinyal, jumlah data 3.8.6.4.2 -.2 -.4 -.6 -.8-1.1.2.3.4.5.6.7.8.9 1 Hmmm kok cuman garis lurus, berarti salah ya Bukan salah tapi di Program yang Anda buat frekuensi pencuplikan = frekuensi sinyal, harusnya kan 2 kali lipat, coba kita ubah lagi (gunakan 1/(2*f)) >> >>t1=:1/(2*f):1; >>y1=sin(2*pi*f*t2); >>plot(t,y,t1,y1, -o ); >>title(sprintf( frekuensi sampling = 2 x frekuensi sinyal, jumlah data %d,length(y1))); Hasilnya 1 frekuensi sampling = 2 x frekuensi sinyal, jumlah data 5.8.6.4.2 -.2 -.4 -.6 -.8-1.1.2.3.4.5.6.7.8.9 1

Lho sama saja ya garis lurus lagi (walaupn jumlah datanya bertambah, perhatikan lingkaranlingkaran hijau, bandingkan dengan gambar sebelumnya)! Mr. Nyquist sudah bilang kalo itu 2 kali lipat adalah minimal, ya mestinya pake yang lebih tinggi lagi, coba sekarang pake 2,5 kali lipat. >> >>t1=:1/(2.5*f):1; >>y1=sin(2*pi*f*t1); >>plot(t,y,t1,y1, -o ); >>title(sprintf( frekuensi sampling = 2,5 x frekuensi sinyal, jumlah data %d,length(y1))); Hasilnya 1 frekuensi sampling = 2 x frekuensi sinyal, jumlah data 6.8.6.4.2 -.2 -.4 -.6 -.8-1.1.2.3.4.5.6.7.8.9 1 Wah ini agak lumayan (maksudnya dibandingkan hasil-hasil sebelumnya), bukan garis lurus, tapi belum berbentuk sinusoidal ya?? Okey sekarang coba anda teruskan sendiri 5, 1, 3, 4, 7 kali lipat. Apa yang dapat Anda simpulkan? 2. Efek-Alliasing Efek Aliasing (yang nanti akan lihat bahwa frekuensi alias = frekuensi pencuplikan - frekuensi sinyal), yaitu suatu efek yang akan terjadi jika kita melakukan pencuplikan dengan frekuensi pencuplikan dibawah dari ketentuan Nyquist. Pertama kita gunakan frekuensi pencuplikan sebesar 2 Hz dan rentang waktu selama 1 detik. fs=2; t=:1/fs:1; Kita awali dengan frekuensi 1Hz, kemudian dilanjutkan dengan frekuensi 2Hz, 5Hz, 1Hz (tepat setengah dari frekuensi pencuplikan), 15Hz, 18Hz dan 19Hz. f1=1; x1=sin(2*pi*f1*t); f2=2; x2=sin(2*pi*f2*t); f3=5; x3=sin(2*pi*f3*t); f4=1; x4=sin(2*pi*f4*t); f5=15; x5=sin(2*pi*f5*t); f6=18;

x6=sin(2*pi*f6*t); f7=19; x7=sin(2*pi*f7*t); Kemudian kita gambarkan semua hasil dalam satu plot agar kita bisa membandingkan 7 frekuensi tersebut (dengan frekuensi pencuplikan yang sama, 2Hz) plot(t,x1, -o,t,x2, -o,t,x3, -o,t,x4, -o,t,x5, -o,t,x6, -o,t,x7, - o ); legend( 1hz,'2hz,'5hz,'1hz,'15hz,'18hz,'19hz ); title( Teorema Nyquist - Efek Aliasing (Fs=2Hz) ); Hasilnya ditunjukkan pada gambar berikut. 1.8.6.4.2 Teorema Nyquist - Efek Aliasing (Fs=2Hz) 1hz 2hz 5hz 1hz 15hz 18hz 19hz -.2 -.4 -.6 -.8-1.1.2.3.4.5.6.7.8.9 1 Anda perhatikan bahwa untuk frekuensi 1Hz hasilnya berupa garis lurus (masih ingat dengan materi Teorema Nyquist ), jelas karena frekuensi pencuplikan = 2 kali frekuensi 1Hz. Bagaimana dengan frekuensi 1Hz, 2Hz dan 5Hz? baik2 aja kan? Bagaimana dengan frekuensi 15Hz, 18Hz dan 19Hz? Nah gambarnya memang terbalik dari frekuensi, masing-masing, 5Hz, 2Hz dan 1Hz tetapi frekuensi-nya khan sama, iya khan? Ini dia yang dinamakan Efek Aliasing. Misalnya untuk 15Hz menghasilkan frekuensi aliasing = frekuensi pencuplikan - frekuensi 15Hz = 2Hz - 15Hz =5Hz Jadi frekuensi 15Hz merupakan kembaran (alias) dari 5Hz. Demikian seterusnya untuk contoh-contoh frekuensi aliasing lainnya (18Hz dan 19Hz yang masing-masing menghasilkan 2Hz dan 1Hz). Apa yang dapat Anda Simpulkan tentang Alliasing? 3. Transformasi Fourier Transformasi Fourier adalah alat yang bisa kita gunakan untuk melihat sinyal dengan kacamata yang lain. Jika selama ini kita hanya melihat sinyal melalui osiloskop atau alat sejenis lainnya, itu adalah visualisasi sinyal dalam ranah waktu (time domain), sumbu horisontal-nya waktu (t) dan sumbu vertikal-nya adalah amplitudo (A). Kita tidak bisa tahu secara langsung informasi penting di ranah waktu kecuali amplitudo dan kapan terjadinya. Bisakah menghitung frekuensinya? itu mungkin jawaban Anda, karena bisa jadi Anda

hanya membayangkan sebuah gelombang sinusoidal, Anda tinggal hitung berapa gelombang dalam satu detiknya, Langsung ketemu sekian gelombang/detik atau pake satuan cycle/sec atau Hz. Bagaiman kalo sinyalnya seperti ini Bagaimana kita bisa ngitungnya kalo bentuknya gak karuan, terkesan acak, jangan-jangan memang tidak periodik... Baik sebelum kita cari informasi frekuensi dari gelombang tersebut, perhatikan penjelasan berikut: Masih pake bantuan Matlab, kita awali dengan mendefinisikan sinyal yang akan digunakan sebagai percobaan. Frekuensi cuplikan 1 Hz (=fs), kita gambar hanya,5 detik pertama (=t) untuk sebuah sinyal dengan 2 kandungan frekuensi 1 Hz dan 2 Hz (=y): fs = 1; t = :1/fs:.5; y = sin(2*pi*1*t)+sin(2*pi*2*t); kemudian kita gambar plot(t,y); title( Sinyal dengan kandungan 2 frekuensi ) xlabel( waktu (detik) ); hasilnya 2 Sinyal dengan kandungan 2 frekuensi 1.5 1.5 -.5-1 -1.5-2.5.1.15.2.25.3.35.4.45.5 waktu (detik) Kemudian kita lakukan FFT (Fast Fourier Transform), pake perintah fft-nya Matlab:

Y = fft(y); Kemudian kita gambar hasilnya apa adanya, ingat bahwa hasil dari FFT selalu ada 2 (karena efek simetris): f = fs*(:length(y)-1)/length(y); plot(f,abs(y)); title( Kandungan frekuensi sinyal y (gambar 2 sisi) ) xlabel( frekuensi (Hz) ); hasilnya 25 Kandungan frekuensi sinyal y (gambar 2 sisi) 2 15 1 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 frekuensi (Hz) Baik sekarang kita gambar 1 sisi saja f = fs*(:(length(y)-1)/2)/length(y); figure plot(f,abs(y(1:(length(y)+1)/2))); title( Kandungan frekuensi sinyal y (gambar 1 sisi) ) xlabel( frekuensi (Hz) ); hasilnya 25 Kandungan frekuensi sinyal y (gambar 1 sisi) 2 15 1 5 5 1 15 2 25 3 35 4 45 5 frekuensi (Hz) Langsung ketahuan frekuensinya 1Hz dan 2Hz! Terus bagaimana dengan gambar pertama tadi? Ini dia hasil FFT-nya

bagaimana? kandungan-nya sama seperti sinyal awal, 1 Hz dan 2Hz, tapi kok ada tambahan gambar rumput -nya ya? (coba cari jawaban sendiri ) Kapan Muncul Frekuensinya Kita buat sebuah sinyal sebagai berikut, masih sama seperti sebelumnya, namun kali ini kedua frekuensi, yaitu 1 Hz dan 2Hz tidak muncul bersamaan tetapi bergantian, apakah Transformasi Fourier mampu melihat kedua frekuensi ini? fs = 1; t = :1/fs:.5; tx = [t t+t(length(t))]; y1 = sin(2*pi*1*t); y2 = sin(2*pi*2*t); y = [y1 y2]; plot(tx,y); title( Sinyal dengan kandungan 2 frekuensi ) xlabel( waktu (detik) ); Hasilnya, gambaran dari sinyal yang saya tanyakan adalah sebagai berikut Kemudian kita lakukan FFT Y = fft(y); Kita gambarkan hasilnya dengan perintah-perintah berikut

f = fs*(:(length(y)-1)/2)/length(y); plot(f,abs(y(1:(length(y)+1)/2))); title( Kandungan frekuensi sinyal y (gambar 1 sisi) ); xlabel( frekuensi (Hz) ); hasilnya sebagai berikut Bagaimana? Hasilnya sama bisa diperoleh 2 frekuensi sesuai dengan dugaan kita, bagaimana jika ditambahkan derau kemudian di-fft ya= y + 2*randn(size(tx)); plot(tx,ya); title( Sinyal apakah ini.?? ); xlabel( waktu (detik) ); YA = fft(ya); f = fs*(:(length(ya)-1)/2)/length(ya); plot(f,abs(ya(1:(length(ya)+1)/2))); title( Kandungan frekuensi sinyal apa ini.?? ); xlabel( frekuensi (Hz) );

Hasilnya Sama seperti pembahasan sebelumnya khan? Luar biasa Transformasi Fourier ini Bisakah kita tahu bahwasanya ke-2 frekuensi tidak bersamaan munculnya? Ya tidak bisa-lah hanya kandungan frekuensi saja, sedangkan kapan dan lama waktu muncul masing-masing freuensi itu kita tidak tahu kalo mo tahu? pake lainnya donk Pake STFT (Short Time Fourier Trasnform) Jika TF bekerja untuk seluruh sinyal, tapi STFT hanya bekerja pada sebuah jendela yang kecil yang kemudian digeser-geser mulai dari awal hingga akhir untuk mendapatkan interpretasi data keseluruhan secara waktu dan frekuensi atau istilahnya time-frequency domain, di Matlab pake perintah specgram(). specgram(y,256,1); Keterangan: 256 sebagai panjang jendela, sedangkan 1 merupakan fs-nya Hasilnya Terlihat bahwa kedua frekuensi muncul secara tidak bersamaan, lebih tepat berturutan, hanya saja tidak terlalu jelas dimana tepatnya frekuensi mulai bergantian Baik sekarang Anda perhatikan masing-masing perintah dan hasil gambarnya sebagai berikut: specgram(y,64,1);

specgram(y,128,1); specgram(y,256,1); Hasilnya secara berturutan Bagaimana kesimpulannya? Ini-lah yang dimaksudkan dengan Ketidak-pastian Heisenberg ada semacam trade-off antara resolusi waktu dan frekuensi, tapi minimal sudah kita peroleh ranah waktu-frekuensi. Buat Laporan resmi dari modul Praktikum ini! (kumpulkan minggu depan) Referensi : Agfianto Eko Putra, Nyquist Efek Alliasing, Catatn Kuliah