BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan oleh penggunaan susu botol atau cairan lainnya yang termasuk karbohidrat seperti

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 PENGARUH PLAK TERHADAP GIGI DAN MULUT. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifactorial yaitu adanya beberapa faktor yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 2004, didapatkan bahwa prevalensi karies di Indonesia mencapai 85%-99%.3

BAB I PENDAHULUAN. Kismis adalah buah anggur (Vitis vinivera L.) yang dikeringkan dan

BAB I PENDAHULUAN. aktifitas mikroorganisme yang menyebabkan bau mulut (Eley et al, 2010). Bahan yang

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi atau yang biasanya dikenal masyarakat sebagai gigi berlubang,

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan mulut yang buruk memiliki dampak negatif terhadap tampilan wajah,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. ata terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) Republik

BAB I PENDAHULUAN. cenderung meningkat sebagai akibat meningkatnya konsumsi gula seperti sukrosa.

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. (SKRT, 2004), prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05%. 1 Riset Kesehatan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 3,4

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang memiliki peran penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Mulut memiliki lebih dari 700 spesies bakteri yang hidup di dalamnya dan. hampir seluruhnya merupakan flora normal atau komensal.

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit tertinggi ke enam yang

BAB I PENDAHULUAN. semua orang tidak mengenal usia, golongan dan jenis kelamin. Orang yang sehat

BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut di atas

BAB I PENDAHULUAN. Mulut sangat selektif terhadap berbagai macam mikroorganisme, lebih dari

BAB 1 PENDAHULUAN. pada kesehatan umum dan kualitas hidup (WHO, 2012). Kesehatan gigi dan mulut

BAB II TINJAUAN TEORETIS. renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Madu merupakan salah satu sumber makanan yang baik. Asam amino,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang

BAB I PENDAHULUAN. seperti kesehatan, kenyamanan, dan rasa percaya diri. Namun, perawatan

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan tubuh, baik bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa. 1,2

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan rongga mulut merupakan bagian penting dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Perbandingan rasio antara laki-laki dan perempuan berkisar 2:1 hingga 4:1.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi yaitu ,

BAB I PENDAHULUAN. makanan sehingga membantu pencernaan, untuk berbicara serta untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam bidang kedokteran gigi, masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di

Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. penanganan secara komprehensif, karena masalah gigi berdimensi luas serta mempunyai

BAB 1 PENDAHULUAN. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas

BAB I PENDAHULUAN. penyakit sistemik. Faktor penyebab dari penyakit gigi dan mulut dipengaruhi oleh

BAB I PENDAHULUAN. diterima oleh dokter gigi adalah gigi berlubang atau karies. Hasil survey

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. masalah dengan kesehatan gigi dan mulutnya. Masyarakat provinsi Daerah

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. kesehatan, terutama masalah kesehatan gigi dan mulut. Kebanyakan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. setiap proses kehidupan manusia agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai

BAB I PENDAHULUAN. 90% dari populasi dunia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen

BAB I PENDAHULUAN. cepat di masa yang akan datang terutama di negara-negara berkembang, seperti

BAB I PENDAHULUAN. orang dewasa terdapat gigi tetap. Pertumbuhan gigi pertama dimulai pada

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan rongga mulut merupakan salah satu bagian yang tidak dapat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. lengkung rahang dan kadang-kadang terdapat rotasi gigi. 1 Gigi berjejal merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat dipisahkan satu dan lainnya karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kesehatan dan mempunyai faktor risiko terjadinya beberapa jenis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Jumlah perokok di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pentingnya Menjaga Oral Hygiene Pada Perawatan Ortodonti.

BAB I PENDAHULUAN. menyerang jaringan keras gigi seperti , dentin dan sementum, ditandai

BAB I PENDAHULUAN. Madu adalah pemanis tertua yang pertama kali dikenal dan digunakan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut penduduk

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak kalah pentingnya yaitu pertumbuhan gigi. Menurut Soebroto

BAB 1 PENDAHULUAN. Fixed orthodontic atau disebut juga dengan pesawat cekat ortodonti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dapat dialami oleh setiap orang, dapat timbul pada satu permukaan gigi atau lebih dan

BAB I PENDAHULUAN. (D = decayed (gigi yang karies), M = missing (gigi yang hilang), F = failed (gigi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kedokteran gigi adalah karies dan penyakit jaringan periodontal. Penyakit tersebut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mengandung mikroba normal mulut yang berkoloni dan terus bertahan dengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menopause merupakan bagian dari siklus kehidupan alami yang akan

BAB 1 PENDAHULUAN. ini. Anak sekolah dasar memiliki kerentanan yang tinggi terkena karies,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengetahuan ibu tentang pencegahan karies gigi sulung

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karies gigi merupakan masalah utama dalam kesehatan gigi dan mulut

BAB I PENDAHULUAN. indeks caries 1,0. Hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 melaporkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masyarakat Indonesia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 yang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sering ditemukan pada orang dewasa, merupakan penyakit inflamasi akibat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERAWATAN INISIAL. Perawatan Fase I Perawatan fase higienik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada permukaan basis gigi tiruan dapat terjadi penimbunan sisa makanan

BAB I PENDAHULUAN. dengan baik agar jangan sampai terkena gigi berlubang (Comic, 2010).

SALIVA SEBAGAI CAIRAN DIAGNOSTIK RESIKO TERJADINYA KARIES PUTRI AJRI MAWADARA. Dosen Pembimbing : drg. Shanty Chairani, M.Si.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terjadinya kerusakan jaringan yang dimulai dari permukaan gigi (pit, fissures,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Gambaran Status Karies Gigi Pada Mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Jakarta 1,2008

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karies Gigi Karies gigi merupakan penyakit kronis yang sering terjadi pada anak-anak. Rasa sakit pada karies yang tidak dirawat akan mempengaruhi kehadiran di sekolah, makan dan berbicara serta pertumbuhan dan perkembangan anak. Semua anak-anak pernah mengalami karies yang merupakan penyebab patologis hilangnya gigi pada anak-anak (Gambar 1). Walaupun demikian, karies gigi dapat dicegah dan dirawat. 8,9 Gambar 1. Karies gigi pada anak-anak. 17 2.1.1 Defenisi dan Prevalensi Karies Gigi Karies merupakan penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, mulai dari permukaan gigi hingga meluas ke arah pulpa. Karies gigi yang disebut juga lubang gigi merupakan suatu penyakit dimana bakteri merusak struktur

jaringan gigi (enamel, dentin dan sementum). Jaringan tersebut rusak dan menyebabkan lubang pada gigi. 9,10 Tingginya prevalensi karies pada anak dapat menyebabkan masalah pada kedokteran gigi anak. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan angka prevalensi karies pada gigi sulung, 40% anak-anak berumur 5 tahun di Inggris memiliki karies pada gigi sulung mereka (Pitts 2001), 30% hingga 50% anak-anak berumur 5 tahun di Zimbabwe memiliki karies (Frencken 1999), 56 % hingga 96 % anak-anak berumur 5 hingga 6 tahun di Hungaria mengalami karies pada gigi sulung mereka (Szoke 2000), 81% anak-anak berumur 7 tahun di Pulau Karibia (Alonge 1999), sedangkan di Oman, 69% hingga 96% anak-anak berumur 6 tahun mengalami karies gigi sulung (Al-Ismaily 1997). 10 Di Arab Saudi, prevalensi karies pada anak-anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) mencapai 94,4 %. 23 2.1.2 Penyebab Dan Gejala Karies Gigi Karies tidak dapat dilepaskan dari peran plak gigi dan peran organisme yang dominan terdapt didalamnya yitu Streptococcus mutans yang dianggap sebagai bakteri utama penyebab terjadinya karies. Karena terjadinya karies akibat adanya interaksi dari pejamu (permukaan gigi, saliva, pelikel), diet dan plak gigi. Plak merupakan istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan berbagai macam mikroorganisme pada permukaan gigi yang berada pada suatu polimer matriks bakteri dan saliva. Dari hasil pertemuan para pakar mikrobiologi ekologi pada konferensi yang diadakan oleh The national Institute for Dental and Craniofacial Research disepakati bahwa plak merupakan biofilm yang terbentuk didalam rongga mulut. 11

Biofilm merupakan suatu agregat kompleks dari mikroorganisme yang menempel dan berkembangbiak pada suatu permukaan jaringan keras dan lunak rongga mulut, berisikan satu atau beberapa spesies mikroorganisme yang melekat dengan bantuan glikokaliks. Dengan demikian plak yang disebut juga biofilm gigi dapat idefenisikan sebagai suatu deposit lunak yang mengandung berbagai macam kumpulan mikroorganisme pada permukaan gigi sebagai biofilm. Proses pembentukan plak pada permukaan gigi meliputi 3 tahap. Pertama, absorbsi protein saliva dan glikoprotein membentuk suatu lapisan tipis pada permukaan gigi yang disebut pelikel ( acquired pellicle). Kedua, kolonisasi bakteri di dalam pelikel yang menempel pada email gigi. Ketiga, kolonisasi sekunder akibat interaksi antara bakteri dalam pelikel dengan bakteri lain yang ada dalam rongga mulut, yang menyebabkan meningkatnya diversitas spesies bakteri dimana pada akhirnya terjadi matrikulasi plak pada gigi. 11 Namun, secara umum ada empat faktor yang berperan menyebabkan karies atau lubang gigi, yakni gigi (host), bakteri (plak/agent), karbohidrat atau sukrosa (environment) dan waktu (time). 9,15 (Gambar 2)

Gambar 2. Faktor-faktor penyebab karies. 20 Sebanyak 96 % enamel gigi terdiri dari mineral. Mineral tersebut, khususnya hidroksiapatit, akan larut jika dalam lingkungan asam. Dentin dan sementum merupakan bagian gigi yang mudah terkena karies daripada enamel. Hal ini dikarenakan dentin dan sementum memiliki sedikit mineral. Hilangnya mineral pada permukaan akar gigi 2,5 kali lebih cepat dibandingkan karies pada enamel. Selain itu, anatomi gigi juga dapat mempengaruhi pembentukan karies. Groove gigi (pit dan fisur) yang dalam mengakibatkan gigi mudah terkena karies. Makanan yang terjebak atau menumpuk diantara gigi (proksimal) juga dapat mempermudah terbentuknya karies gigi. Walaupun karies proksimal tidak terlihat secara kasat mata, namun gambaran radiografi dapat membantu untuk mendeteksi karies proksimal 8,16 (Gambar 3).

Gambar 3. Karies pada proksimal gigi yang berlanjut hingga karies yang melibatkan pulpa. 8 Mulut terdiri dari berbagai jenis bakteri, namun hanya beberapa bakteri yang diyakini sebagai penyebab terjadinya karies. Bakteri-bakteri tersebut antara lain Sterptococcus mutans, Lactobacillus sp, Veillonella sp. dan Actinomyces sp. Bakteribakteri tersebut berkumpul di sekitar gigi dan gingiva, lalu membentuk sebuah lapisan biofilm yang disebut plak gigi. Selain di sekitar gigi dan gingiva, lapisan biofilm juga dapat terbentuk di tepi tambalan atau restorasi mahkota, pesawat ortodonsia atapun gigitiruan. 8 Plak gigi merupakan faktor penyebab karies yang utama. Hal ini dikarenakan bakteri menghasilkan asam yang dapat melarutkan mineral gigi dan akhirnya terbentuklah karies atau lubang gigi. 14-17 Makanan yang mengandung gula sangat mempengaruhi prevalensi dan perkembangan karies gigi. Intensitas karies pada anak-anak pra sekolah dipengaruhi oleh frekuensi konsumsi makanan yang mengandung gula. Salah satu jenis gula,

sukrosa merupakan sumber energi bakteri dan bersifat kariogenik. Asam yang diproduksi bakteri yang disebut dengan asam laktat merupakan hasil perubahan dari sukrosa atau glukosa melalui proses glikolitik yang disebut dengan fermentasi. 8,10-16 Asam tersebut akan menyebabkan demineralisasi dan jika terus berlanjut maka akan menimbulkan lubang. Proses demineralisasi tergantung pada ph rongga mulut. Biasanya sekitar 5,2 hingga 5,5. Namun, proses remineralisasi juga dapat terjadi jika ph di sekitar gigi meninggi. Hal ini mungkin disebabkan oleh (1) kurangnya substrat untuk metabolisme bakteri, (2) persentase bakteri kariogenik yang rendah pada plak gigi, (3) kecepatan sekresi saliva yang meningkat, (4) kemampuan buffer pada saliva yang tinggi, (5) adanya ion inorganik pada saliva, (6) fluoride dan (7) proses pembersihan rongga mulut yang teratur. 18 Frekuensi gigi terkena bahan kariogenik (dalam lingkungan asam) akan mempengaruhi perkembangan karies. Setelah makan, bakteri dalam rongga mulut mengubah gula menjadi asam yang akan menurunkan ph rongga mulut. Kemudian ph kembali normal akibat kemampuan buffer dari saliva. Setiap terkena asam, mineral inorganik pada permukaan gigi akan larut dan kembali larut selama 2 jam. Perkembangan karies gigi dipengaruhi oleh frekuensi gigi terkena lingkungan asam. Sebagai contoh, ketika gula dimakan sepanjang hari, gigi lebih mudah terkena karies dan karies berkembang dengan cepat. Hal ini dikarenakan ph tidak kembali normal, sehingga permukaan gigi tidak dapat diremineralisasi dan mineral yang hilang semakin banyak. 8 Disamping keempat faktor penyebab karies di atas, saliva juga mempunyai pengaruh terhadap perkembangan karies. Kemampuan buffer pada saliva

dihubungkan dengan perkembangan karies. Karena kemampuan buffer saliva dapat menetralkan kembali ph rongga mulut yang asam akibat metabolisme sukrosa yang dilakukan oleh bakteri. Adanya penyakit sistemik yang membuat volume saliva berkurang juga dapat meningkatkan insiden terjadinya karies. Contohnya sjögren's syndrome, diabetes mellitus, diabetes insipidus, dan sarcoidosis. Obat-obatan seperti antihistamin and antidepresan, juga dapat mengganggu aliran saliva di rongga mulut. Di Amerika Serikat, sebanyak 63 % obat-obatan memiliki efek samping mulut kering. Terapi radiasi pada perawatan kepala dan leher juga dapat menggangu produksi saliva di rongga mulut. Konsumsi tembakau pada rokok juga dapat meningkatkan risiko terjadinya karies. Beberapa rokok ternama memiliki kandungan gula yang tinggi yang dapat menyebabkan gigi mudah terkena karies. 8 Seseorang yang mengalami karies biasanya tidak sadar atau mengetahui. Tanda awal dari karies adalah white spot pada permukaan gigi, menunjukkan daerah yang mengalami demineralisasi enamel. Jika demineralisasi berlanjut, maka akan berubah menjadi warna kecoklatan dan mulai berlubang. Sebuah brown spot merupakan tanda karies aktif dan selanjutnya terjadi kerusakan pada enamel atau dentin. Jika lubang terbentuk pada enamel dan tubulus dentin terpapar, maka akan menyentuh saraf gigi dan menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit akan bertambah parah jika terkena panas, dingin atau makanan dan minuman manis. Karies juga dapat menyebabkan infeksi di sekitar gigi yang terkena karies. 8,21

2.2 Gingivitis Gingivitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang terjadi akibat oral higiene yang buruk. Selain gingivitis, penyakit pada jaringan periodontal adalah periodontitis. Kedua penyakit tersebut dibedakan berdasarkan saku yang terbentuk. Pada gingivitis, saku yang terbentuk saku gusi, sedangkan pada periodontal saku yang terbentuk saku periodontal. Gingivitis jika tidak dirawat maka akan menjadi periodontitis. Gingivitis diklasifikasikan menjadi tiga yakni gingivitis ringan, sedang dan berat/parah. Tanda awal gingivitis ringan yakni edema pada tepi gingiva dengan perubahan warna dari merah jambu ke merah atau merah kebiruan. Pada gingivitis sedang gingiva berwarna merah, edematous dan berdarah jika disentuh. Sedangkan pada gingiva berat, gingiva berwarna merah tua, membesar dan berdarah spontan. 28 Kadang-kadang pada gingivitis dapat dijumpai adanya ulser. Kontur gingiva normal yang stippling seperti kulit jeruk tidak dijumpai pada gingivitis, tetapi yang dijumpai adalah kontur yang licin berkilat. Pembesaran gingiva yang terjadi pada gingivitis membuat jarak antara tepi gingiva dan batas sementum enamel pada gigi semakin dalam. 29,30 2.2.1 Definisi dan Prevalensi Gingivitis Gingivitis dapat diartikan sebagai respon inflamasi pada gingiva. Respon inflamasi disebabkan adanya mikroba yang mengkoloni di sulkus gingiva atau permukaan gigi. Jika mikroba dalam jumlah sedikit, masih dapat ditolerir oleh tubuh melalui mekanisme pertahanan tubuh. Namun jika jumlah mikroba meningkat dan pertahanan tubuh tidak mampu melawan invasi bakteri, maka akan menyebabkan gingivitis. 28,29

Pada anak-anak, prevalensi gingivitis meningkat seiring dengan pertambahan usia hingga mencapai puncak pubertas. Menurut Dhar dkk (2007), Prevalensi gingivitis pada anak-anak usia 5-14 tahun di Rajasthan (India) sekitar 84,37 %. 30 Di Lithuania, prevalensi gingivitis pada anak-anak usia 6-14 tahun sekitar 56,4 % (Pauraite dkk). 31 2.2.2 Penyebab dan Gejala Gingivitis Penyebab terjadinya gingivitis atau inflamasi gingiva adalah adanya invasi bakteri. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Loe dkk dan McCall 1933. Loe dkk meyimpulkan bahwa plak bakteri yang berkumpul di margin gingiva dapat menyebabkan gingivitis. Bakteri-bakteri tersebut antara lain Actinobacillus actinomycetemcomitans dan Porphyromonas gingivalis. Selain itu, defisiensi vitamin C juga dihubungkan dengan faktor etiologi gingivitis (Bucker 1943). Tanda-tanda atau gejala klinis dari inflamasi gingiva meliputi perubahan kontur, warna dan konsistensi. Pada gingivitis, kontur gingiva licin berkilat, berwarna merah hingga merah kebiruan, edematous dan perdarahan. 28,29 2.3 Oral Hygiene Yang Buruk Kesehatan rongga mulut memegang peranan yang penting untuk masalah satu komponen hidup sehat yang penting. Jika oral higiene tidak dipelihara dengan baik, maka akan menimbulkan penyakit di rongga mulut. Penyakit periodontal (seperti gingivitis dan periodontitis) dan karies gigi merupakan akibat dari oral higiene yang buruk. Penyakit periodontal dan karies gigi merupakan penyakit di rongga mulut yang dapat menyebabkan hilangnya gigi secara patologis. Kedua penyakit tersebut

dipengaruhi oleh tindakan kontrol plak oleh pasien dan perawatan dari dokter gigi. 22 Kontrol plak yang dapat dilakukan oleh pasien di rumah antara lain menyikat gigi dan flossing. Sedangkan di klinik dokter gigi, dapat dilakukan topikal aplikasi fluoride dan skelling. 23 Jika gigi bersih maka karies tidak akan terjadi. Hal ini sesuai dengan pernyataan oleh J Leon Williams (1852-1931), presiden pertama American Dental Association (ADA). Oral higiene yang baik akan mencegah timbulnya karies. 20 Karies gigi, gingivitis dan status kesehatan rongga mulut sangat berhubungan karena penyakit periodontal (seperti gingivitis dan periodontitis) dan karies gigi merupakan akibat dari oral higiene yang buruk. Karies gigi merupakan penyakit yang paling banyak dijumpai di rongga mulut bersama-sama dengan penyakit periodontal, sehingga merupakan masalah utama kesehatan gigi dan mulut. Karies gigi bersifat kronis dan dalam perkembangannya membutuhkan waktu yang lama, sehingga sebagian besar penderita mengalaminya seumur hidup. Namun demikian penyakit ini sering tidak mendapat perhatian dari masyarakat dan tenaga kesehatan, karena jarang membahayakan jiwa. 23 Selain faktor gigi itu sendiri, faktor dari luar juga berhubungan dengan resiko terjadinya karies, seperti budaya, status sosial ekonomi, gaya hidup dan pola makan. Karies gigi lebih sering terjadi pada anak-anak yang berusia 11 14 tahun. 23 Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, menunjukkan prevalensi karies gigi 89,38% untuk usia 15 tahun; 83,50% untuk usia 18 tahun; 94,56% untuk usia 35-44 tahun dan 98,57% untuk usia 65 tahun ke atas. 18 Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan sebanyak 76,2 % anak Indonesia pada kelompok usia 12 tahun atau hampir 8 dari 10 anak mengalami karies

atau gigi berlubang. Dan berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan, prevalensi karies gigi di Indonesia adalah 90,05 %. Tingginya prevalensi karies gigi di Indonesia, membuat masalah kesehatan gigi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. 24-26 Karies gigi disebabkan oleh plak bakteri yang ada di sekitar gigi dalam jangka waktu tertentu. Untuk terjadinya lubang atau karies pada permukaan licin gigi yang dapat terlihat secara klinis dibutuhkan waktu kira-kira 18 bulan ± 6 bulan. Karies gigi pada tahap awal tidak menimbulkan rasa sakit, namun pada tahap lanjut dapat menimbulkan rasa sakit. 27 Beberapa kondisi yang menyebabkan hal tersebut yakni frekuensi konsumsi gula, mulut kering dan oral higiene yang buruk. 14 Oral higiene dapat dirawat secara pribadi di rumah dengan cara menyikat gigi secara tepat dan teratur. Tujuannya yakni untuk meminimalkan bakteri penyebab penyakit di rongga mulut dengan mencegah pembentukan plak bakteri dan menyingkirkannya. Jika plak bakteri bertambah banyak, gigi akan mudah terkena karies. Karena sisa makanan yang mengandung gula akan dipakai bakteri untuk memproduksi asam yang akan mendemineralisasikan enamel. Selain di rumah, perawatan oral higiene dapat dilakukan di klinik dokter gigi. Dokter gigi akan menyingkirkan plak dan kalkulus yang sulit disingkirkan secara pribadi di rumah. 8 Oral higiene yang buruk juga berhubungan dengan gingivitis. Gingivitis merupakan inflamasi yang terjadi pada gingiva. Selain itu, defisiensi vitamin C juga dihubungkan dengan faktor etiologi gingivitis (Bucker 1943). Prevalensi terjadinya gingivitis pada anak-anak meningkat hingga mencapai umur pubertas (Parfitt 1957,

Hugoson dkk 1981 dan Stamm 1986). Pada anak-anak, gingivitis tidak terjadi separah dengan yang terjadi pada orang dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan perbedaan kuantitas dan kualitas plak bakteri, respon imun tubuh, ataupun perbedaan morfologi jaringan periodontium antara anak-anak dan orang dewasa (Bimstein dan Matsson 1999). Plak bakteri pada anak-anak biasanya terdiri dari bakteri patogen yang konsentrasinya rendah. 28,29 2.4 Faktor Resiko Oral Hygiene Oral higiene memegang peranan yang penting dalam menciptakan pola hidup sehat. Jika oral higiene tidak terpelihara maka akan menimbulkan berbagai penyakit di rongga mulut. Oral higiene dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin dan ras. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sogi GM dkk (2002) dan Peres MA dkk (2003), karies gigi dan status kesehatan rongga mulut anak-anak usia 13 hingga 14 tahun sangat berhubungan dengan keadaan sosial ekonomi anak-anak tersebut. Namun, menurut penelitian Mustahsen dkk tahun 2008, status kesehatan rongga mulut tidak dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi. Pada penelitian Mustahsen dkk, keadaan sosial ekonomi menengah memiliki kesehatan rongga mulut yang lebih buruk daripada yang keadaan sosial ekonominya rendah atau tinggi. 23 Disamping berhubungan dengan keadaan sosial ekonomi, kesehatan rongga mulut juga berhubungan dengan tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin dan ras. Menurut Tirthankar (2002), tingkat pendidikan merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi kesehatan rongga mulut. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku hidup sehat. Seseorang

dengan tingkat pendidikan tingi akan memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang kesehatan yang akan mempengaruhi perilakunya untuk hidup sehat. 3 Sedangkan pada faktor usia dan jenis kelamin, anak-anak yang berusia diantara 11-14 tahun dan jenis kelamin perempuan memiliki kesehatan rongga mulut yang lebih buruk (WHO). Jika dihubungkan dengan ras, orang Asia dan Afrika memiliki kesehatan rongga mulut yang lebih buruk daripada orang Eropa dan Amerika. 21 2.5 Kerangka teori Karbohid rat (diet) Bakteri Host Karies Oral Hygiene Gingivitis Defisiensi Nutrisi/ Vit. C Saliva Jenis kelamin