BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan (rehabilitatif) serta peningkatan kesehatan (promotif). Berbagai cara

BAB I PENDAHULUAN. Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk. atau Pimpinella alpine Molk.

BAB I PENDAHULUAN. Keanekaragaman hayati di Indonesia dikenal sangat tinggi baik untuk flora

BAB I PENDAHULUAN. Purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) merupakan tumbuhan obat asli

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Fauna (CITES), P. pruatjan masuk ke dalam daftar Appendix I yang dinyatakan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN BUNGUR (LANGERSTROEMIA SPECIOSA (L.) PERS)

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah dalam bidang kesehatan

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

UJI EKSTRAK DAUN BELUNTAS

BAB I PENDAHULUAN. 100 genus Actinomycetes hidup di dalam tanah. tempat-tempat ekstrim seperti daerah bekas letusan gunung berapi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (Myrmecodia pendens Merr. & Perry) terhadap bakteri Lactobacillus

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme di Indonesia masih mengkhawatirkan kehidupan masyarakat.

I. PENDAHULUAN. zat kimia lain seperti etanol, aseton, dan asam-asam organik sehingga. memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi (Gunam et al., 2004).

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis yang kaya dengan berbagai tumbuhan, terdapat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang dilakukan menggunakan daun sirsak (Annona muricata) yang

FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR. dr. Agung Biworo, M.Kes

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Candida albicans merupakan jamur yang dapat menginfeksi bagian- bagian

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengukuran zona hambat yang berikut ini disajikan dalam Tabel 2 : Ulangan (mm) Jumlah Rata-rata

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. berjuang menekan tingginya angka infeksi yang masih terjadi sampai pada saat

BAB I PENDAHULUAN. turun temurun sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Bahkan saat ini banyak industri

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tumbuhan berkhasiat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tumbuhan yang memiliki bunga banyak, serta daun dari bunga bakung ini memilki

KERAGAAN KARAKTER PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) HASIL INDUKSI MUTASI SINAR GAMMA DI TIGA LOKASI. Oleh Muhammad Yusuf Pulungan A

BAB III METODE PENELITIAN. A. Rancangan Penelitian. Pada metode difusi, digunakan 5 perlakuan dengan masing-masing 3

FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR

LAPORAN HASIL PENELITIAN PENENTUAN POTENSI JAMU ANTI TYPHOSA SERBUK HERBAL CAP BUNGA SIANTAN

Penetapan Potensi Antibiotik Secara Mikrobiologi. Marlia Singgih Wibowo School of Pharmacy ITB

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. ekstrak kulit nanas (Ananas comosus) terhadap bakteri Porphyromonas. Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1

BAB I PENDAHULUAN. folikel rambut dan pori-pori kulit sehingga terjadi peradangan pada kulit.

BAB III METODE PENELITIAN. dan tingkat kerusakan dinding sel pada jamur Candida albicans merupakan penelitian

Koloni bakteri endofit

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR ISOLASI MIKROORGANISME. Disusun Oleh: Rifki Muhammad Iqbal ( ) Biologi 3 B Kelompok 6

HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air

I. PENDAHULUAN. berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi untuk tanaman dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

kultur murni 5 ml SDA miring, (+) 5 ml SDB suspensi Aspergillus niger inkubasi suhu kamar steril Aspergillus niger pada cawan petri selama 4 hari

BAB III BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan dari 2 Juni dan 20 Juni 2014, di Balai Laboraturium

BAB III METODE PENELITIAN. reaksi, piring kultur sel atau di luar tubuh makhluk hidup, syarat penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. melanda peradaban manusia selama berabad-abad (Pelczar dan Chan, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berlebihan (Rohmawati, 2008). Selain itu, kulit juga berfungsi sebagai indra

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN

PENGERTIAN ISOLASI MIKROORGANISME

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN. endemik di Indonesia (Indriani dan Suminarsih, 1997). Tumbuhan-tumbuhan

PENGUJIAN DAYA MORTALITAS FUNGISIDA PADA ARSIP KERTAS

BAB III METODE PENELITIAN. eksplorasi dengan cara menggunakan isolasi jamur endofit dari akar kentang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daya antibakteri

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2014.

I. Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum ini adalah 1. untuk mengetahui potensi suatu antibiotika yang digunakan untuk membunuh mikroba 2.

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

III. METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Mikroorganisme merupakan bagian dari kekayaan dan keragaman hayati

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE PENGUJIAN ANTIBIOTIK ISOLAT STREPTOMYCES DARI RIZOSFER FAMILIA POACEAE TERHADAP Escherichia coli

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal dan untuk mengatasi berbagai penyakit secara alami.

BAB IV Pemilihan Jamur untuk Produksi Lakase

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III BAHAN DAN METODE

BAB 4 METODE PENELITIAN

Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Lampiran 1. Persiapan Media Bakteri dan Jamur. diaduk hingga larut dan homogen dengan menggunakan batang pengaduk,

II. METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Asam Jawa (Tamarindus indica L) yang diujikan pada bakteri P. gingivalis.

Daya Antibakteri Ekstrak Tumbuhan Majapahit (Crescentia cujete L.)Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. rongga mulut. Kandidiasis oral paling banyak disebabkan oleh spesies Candida

BAB I PENDAHULUAN. akan pangan hewani berkualitas juga semakin meningkat. Salah satu pangan hewani

BAB I PENDAHULUAN. mamalia. Beberapa spesies Candida yang dikenal dapat menimbulkan penyakit

ISOLASI RARE ACTINOMYCETES DARI PASIR PANTAI DEPOK YOGYAKARTA YANG BERPOTENSI MENGHASILKAN ANTIBIOTIK TERHADAP Escherichia coli MULTIRESISTEN SKRIPSI

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. lumut. Tumbuhan lumut merupakan sekelompok tumbuhan non vascular yang

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Fungi Fungi adalah organisme eukariot karena memiliki membran inti pada selnya, sehingga banyak kesamaan biokimiawi antara sel jamur dengan sel manusia. Fungi tersebar luas di alam; sebagai flora normal hewan dan manusia, sebagai dekomposer bahan organik, dan sebagai pathogen pada tanaman, hewan, dan manusia. Secara medis, fungi adalah kelompok mikroba yang penting karena fungi merupakan penyebab berbagai penyakit pada manusia. Di sisi lain, banyak jenis fungi yang bermanfaat antara lain dalam produksi alkohol, kue, dan juga antibiotik. Fungi juga banyak digunakan dalam aplikasi biologi molekuler. 1. Aspergillus brasiliensis Aspergillus sp. termasuk dalam mikroorganisme jamur dan eukariot. Mempunyai hifa fertil dan hifa vegetatif terdapat dibawah permukaan. Jamur ini tumbuh cepat pada media Saboroud Dextrose Agar+antibiotik yang diinkubasi 37 0 C 40 0 C (Tanjong, 2011). Fungi ini bersifat patogen yang dapat menyerang paru-paru dan menjadi masalah pada paru-paru yang rusak. Penyakit yang disebabkan infeksi aspergilus disebut aspergilosis. Aspergilosis menyebabkan tingkat kematian yang lebih besar dibanding candidiasis. Fungi ini menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler yang membantu fungi ini tumbuh di dalam tubuh inang. Salah satu enzim yang dihasilkan berperan penting dalam proses kerusakan jaringan inang dan membantu fungi ini keluar dari paru-paru menuju aliran darah (Denyer et al., 2004). 2. Tricopython menthagropytes Tinea pedis merupakan penyakit dermatofita yang disebabkan oleh T. menthagropytes yang memberikan kelainan menahun. Sebagian penderitnya merasa terganggu ketika muncul bau tak sedap. Hal ini tidak 4

menutup kemungkinan adanya infeksi bakteri pada penderita tinea pedis (infeksi sekunder) (Hainer et al., 2003). Angka kejadian tinea pedis meningkat seiring bertambahnya usia yang mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap suatu penyakit. Selain itu faktor sosial ekonomi serta kurangnya kebersihan, karena insiden ini sering terjadi pada social ekonomi rendah (Siregar, 2005). 3. Pitysporum ovale Merupakan jamur dimorfik dan juga salah satu anggota dari mikroflora normal kulit manusia. Imunoglobulin yang spesifik untuk fase ragi Pityrosporum dapat dideteksi pada kulit individu normal yang tidak memiliki riwayat penyakit kulit, dan beberapa penelitian telah menunjukkan adanya respons humoral pada orang sehat (Brunke, 2006). Namun, Pityrosporum juga merupakan patogen fakultatif, terkait dengan berbagai penyakit kulit. Salah satu ciri khas Pityrosporum adalah ketergantungan pada lipid eksternal yang terdapat pada kulit yang mengalami hidrolisis oleh aktivitas lipolitik untuk melepaskan asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan maupun patogenitas untuk jamur tersebut. Pertumbuhan Pityrosporum yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit kulit seperti Ptiriasis versikolor, Malassezia folliculitis, Atopic dermatitis, Psoriasis, Ketombe, dan Dermatitis Seboroik (Ashbee, 2002). B. Antifungi Amfoterisin B Amfoterisin B (AMB) (Gambar 1) termasuk dalam golongan mayor polien dengan spektrum terapi luas. Polien makrolida konvensional ini memiliki 7 ikatan rangkap, termasuk ester di dalamnya, karboksil bebas, dan glikosida pada rantai sampingnya dengan kelompok amina primer (Walsh et al., 2008). Mekanisme kerja AMB utamanya dengan mengikat ergosterol yang akan dibentuk menjadi dinding sel jamur. Amfoterisin B juga mengikat kolesterol dalam membran sel jamur, walaupun 5

kemampuannya tidak sebesar dalam mengikat ergosterolnya. Hal ini menyebabkan disfungsi organ dalam sel jamur akibat pemutusan ikatannya oleh AMB, sehingga membran sel jamur tidak terbentuk yang menyebabkan kematian pada sel (Herbrecht et al., 2007). Gambar 1. Struktur Amphotericin B Amfoterisin B berikatan dengan ergosterol sehingga membran sel jamur menjadi rentan selanjutnya mengakibatkan fungsi barrier membran menjadi rusak, hilangnya unsur-unsur penting sel, menggangu metabolisme dan matinya sel jamur. Efek lain pada membran sel jamur yaitu amfoterisin B dapat menimbulkan kerusakan oksidatif terhadap sel jamur. Amfoterisin B mempunyai aktifitas spektrum yang luas terhadap: Aspergillus species, Mucorales species, Blastomyces dermatitidis, Candida species, Coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans, Histoplasma capsulatum, Paracoccidioides brasiliensis, Penicillium marneffei. Amfoterisin B dapat menambah efek nefrotoksik obat lain seperti antibiotik aminoglikosida, siklosporin, antineoplastik. Kombinasi obat amfoterisin B dengan kortikosteroid atau digitalis glikosid dapat menimbulkan hipokalemi. 6

C. Tanaman Purwoceng 1. Sistematika tanaman purwoceng Nama latin dari Purwoceng yaitu Pimpinella alpina Molk. Atau Pimpinella pruatjan Molk. (Taufiqqurachman, 1999). Menurut Backer dan van der Brick (1965), tumbuhan Purwcoceng dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisio : Spermatophyta Classis : Angiospermae Ordo : Apiales Familia : Apiaceae Genus : Pimpinella Spesies : Pimpinella alpina Molk. Sinonim : Pimpinella pruatjan Molkenb. 2. Karakteristik umum tanaman Karakteristik tanaman Purwoceng memiliki tinggi sekitar 15-50 cm (Anonim, 1986). Tinjauan morfologi Purwoceng dalam Backer dan van der Brick (1965) menggambarkan tanaman Purwoceng memiliki batang yang sangat pendek dengan tangkai daun seolah muncul dari akar. Jenis daunnya, Purwoceng mempunyai daun majemuk menyirip ganjil dengan daun yang berbentuk seperti ginjal yang tumbuh sepanjang tangkai daun. Akar Purwoceng berupa akar tunggang dengan bagian pangkal akar yang semakin membesar membentuk umbi seperti akar gingseng. Akar ini menghujam ke dalam tanah seperti wortel tetapi lebih kecil dan warnanya putih kecoklatan (Gambar 2). Bagian tanaman inilah yang umumnya berkhasiat sebagai obat herbal selain dari daunnya (Heyne, 1987). 7

Gambar 2. Tanaman Purwoceng a = tanaman, b = bunga kuncup, c = bunga mekar, d = buah, dan e = akar dari tanaman berumur 6 bulan (Darwati dan Roostika, 2006) Purwoceng merupakan tanaman obat komersial yang dapat digunakan sebagai afrodisiak, diuretik, dan tonik. Tanaman tersebut adalah tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh secara endemik di dataran tinggi Dieng Jawa Tengah, Gunung Pangrango Jawa Barat, dan area pegunungan di Jawa Timur. Berdasarkan status erosi genetiknya, Purwoceng dikelompokkan ke dalam kategori tanaman genting (endangered) atau hampir punah (Rivei et al., 1992). Kepunahan ini diakibatkan oleh rusaknya hutan konservasi yang merupakan habitat asli Purwoceng dan eksploitasi berlebihan yang tidak diimbangi oleh upaya konservasi (Rahardjo, 2003). Hal ini dikarenakan potensi Purwoceng yang besar sebagai tanaman obat mendorong perusahaan obat tradisional (jamu) mengambil atau memanen tanaman Purwoceng untuk bahan baku secara langsung dari habitatnya, tanpa ada usaha untuk melestarikan. Apalagi bahan utama yang diambil adalah akar Purwoceng yang secara langsung tindakan ini memicu penyebab kelangkaannya secara keseluruhan. Selain itu juga penelitian tentang Purwoceng semakin banyak dilakukan terkait kandungan dan khasiatnya. 8

Suatu penelitian melakukan evaluasi keanekaragaman genetik tumbuhan Purwoceng liar dan budidaya berdasarkan ciri-ciri morfologi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan beberapa ciri morfologi, antara lain diameter tajuk, panjang tangkai, panjang batang, berat basah dan berat kering tumbuhan. Parameter jumlah tangkai daun, jumlah daun, jumlah tangkai bunga primer, jumlah sumbu tangkai bunga, berat akar basah dan berat akar kering tidak menunjukkan adanya perbedaan pada Purwoceng liar maupun budidaya. Tumbuhan Purwoceng budidaya memiliki keragaman morfologi yang lebih banyak dibandingkan dengan Purwoceng liar (Harjani, 2012). 3. Kandungan kimia tanaman Penelitian yang dilakukan oleh Balittro dan Pemda Kabupaten Banjarnegara melaporkan bahwa Purwoceng dapat tumbuh di luar habitatnya walaupun tidak seoptimal di habitanya sendiri (Darwati dan Roostika, 2006). Penelitian kultur in vitro terhadap Purwoceng juga telah dilakukan dan hasilnya dilaporkan bahwa Purwoceng cukup sulit untuk dimanipulasi secara in vitro. Suzery et al., (2005) melaporkan bahwa stigmasterol (Gambar 3), germakron (Gambar 4), serta beberapa komponen minyak atsiri seperti germacren, β-elemen, champen, borneol terdapat dalam Purwoceng yang diambil dari daerah dataran tinggi Dieng. Gambar 3. Struktur Stigmasterol Gambar 4. Struktur germakron 9

Stigmasterol merupakan golongan sterol yang terdapat secara luas pada tanaman. Hasil isolasi didapatkan bahwa ekstrak Purwoceng mengandung fitoesterogen berupa senyawa stigmasterol dan germakron (Nasihun, 2009; Suzery et al., 2005). Senyawa tersebutlah yang bertanggungjawab atas khasiat Purwoceng sebagai afrodisiak (Suzery et al., 2005). 4. Khasiat dan kegunaan tanaman Purwoceng Secara empiris Purwoceng telah dilaporkan berkhasiat sebagai tanaman obat yang digunakan sebagai afrodisiaka, diuretik, maupun tonikum. Beberapa penelitian efek farmakologis telah pula dilakukan terhadap Purwoceng, terutama yang mendukung fungsinya sebagai afrodisiaka. Ekstrak akar Purwoceng dilaporkan secara praklinik mempunyai efek androgenik yang ditandai dengan peningkatan kelenjar prostat dan kelenjar seminalis pada tikus jantan yang dikebiri (Caropeboka, 1980) serta peningkatan ukuran jengger dan testis pada anak ayam jantan (Kosin, 1992). Penelitian oleh Nasihun (2009) juga menunjukan bahwa ekstrak metanol Purwoceng dapat meningkatkan kadar indikator vitalitas yaitu testosteron luteinizing hormone (LH) pada tikus jantan Sprague Dawley. Penelitian tersebut dapat mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukan bahwa ekstrak Purwoceng dapat meningkatkan pula spermatogenesis serta jumlah dan motilitas spermatozoa ketika diberikan kepada anak ayam jantan (Usmiati dan Yuliani, 2010). D. Uji Aktivitas Antifungi Metode yang sering digunakan untuk uji aktifitas antimikroba ada dua yaitu metode pengenceran dan metode difusi. 10

1. Metode pengenceran Prinsip dari metode pengenceran adalah pengenceran larutan uji hingga diperoleh beberapa konsentrasi. Metode pengenceran terdiri dari pengenceran tabung (dilusi cair) dan pengenceran agar (dilusi padat). Pada dilusi cair masing-masing konsentrasi larutan uji ditambahkan suspensi mikroba dalam media agar dengan menggunakan tabung steril, pada tabung tersebut ditambahkan 0,1 ml suspensi mikroba yang kemudian diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37 0 C, setelah itu diamati daya hambatnya. Keuntungan dari dilusi cair adalah penggunaan media lebih efisien dan kekurangannya adalah kekeruhannya yang terjadi pada tabung kurang jelas pada sangat pengamatan, sedangkan metode ini yang diamati adalah kekeruhannya pada tabung. Sedangkan pada dilusi padat zat yang memiliki daya antimikroba dicampurkan pada agar yang masih mencair pada suhu 45-50 0 C ke dalam tabung reaksi. Pencampuran dilakukan dengan cara memutarkan agar homogen, kemudian dituangkan dalam cawan petri steril dan kemudian dibiarkan membeku. Mikroba uji kemudian ditanam dengan cara dioleskan di atas permukaan agar secara merata, pengolesan dilakukan menggunakan ose. Prinsip dari pengenceran agar ini adalah dengan pengenceran tabung untuk uji konsentrasi hambat minimum (KHM) dan di tandai dengan tumbuhnya koloni mikroba pada permukaan agar dari konsentrasi tertentu dari hasil pengenceran. Metode dilusi padat ini mempunyai kelebihan yaitu penggunaan media akan lebih efisien, sedangkan kekurangannya yaitu sulit memastikan bahwa agar sudah mencapai suhu 45-50 0 C, dan mikroba kemungkinan tidak dapat memberikan hambatan secara maksimum karena harus dimasukan agar yang bersuhu 45-50 0 C, sedangkan mikroba suhu optimumnya hanya 35 0 C (Jawetz, 1995). 11

2. Metode difusi agar Dalam metode difusi ini terdiri dari tiga metode Jawetz (1986) yaitu: a) Metode Silinder yaitu dengan menggunakan silinder gelas yang steril diletakkan di atas agar yang berisi suspensi mikroba yang telah membeku. Kemudian silinder tersebut diisi dengan zat yang akan diperiksa lalu diinkubasikan pada suhu 35 0 C selama 18-24 jam, lalu diameter hambatnya diukur. Kelebihan dari metode ini yaitu jumlah zat yang dimasukan dalam media agar jelas, sedangkan kekurangannya mempunyai resiko tinggi kerena silinder dapat jatuh. b) Metode Perforasi yaitu media agar yang masih cair pada suhu 45-50 0 C dicampurkan dengan suspensi mikroba pada cawan petri steril, kemudian dibiarkan membeku. Setelah agar membeku, dibuat lubang dengan perforator. Lubang tersebut dimasukkan zat yang akan diperiksa daya antimikrobanya. Kemudian diinkubasikan selama 18-24 jam pada suhu 37 0 C, lalu diameter yang terjadi diukur. Kelebihan metode ini adalah media yang digunakan tidak terlalu tebal sedangkan kekurangnya adalah terkadang lubang yang dibuat kurang sempurna. c) Metode Cakram Kertas yaitu metode dengan menggunakan cakram kertas saring yang mendukung zat antimikroba dengan kekuatan tertentu. Cakram kertas tersebut diletakkan pada permukaan agar yang telah ditanami mikroba uji, lalu diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37 0 C, kemudian diameter hambatnya diukur. Kelebihan dari metode ini adalah jumlah zat yang digunakan dapat diatur, namun kekurangannya tidak kuantitatif karena tidak semua zat aktif terserap dalam agar (Jawetz, 1986). 12