ADAPTIVE THRESHOLD UNTUK ALPHA MATTING MENGGUNAKAN ALGORITMA OTSU

dokumen-dokumen yang mirip
APLIKASI DIGITAL MATTING MENGGUNAKAN METODE BAYESIAN APPROACH

selanjutnya nilai alpha dan alpha matte atau key disebut dengan matte. Teknik segmentasi yang didasarkan pada perhitungan matte disebut image matting.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori Citra Digital

PENENTUAN THRESHOLD CITRA MULUT DENGAN METODE NORMAL PROBABILITY DENSITY FUNCTION (NPDF) GUNA MENDETEKSI MULUT PEMELAJAR

Aplikasi Penggabungan Objek Transparan Kedalam Sebuah Image

KOMBINASI METODE MORPHOLOGICAL GRADIENT DAN TRANSFORMASI WATERSHED PADA PROSES SEGMENTASI CITRA DIGITAL

BINERISASI CITRA DOKUMEN DENGAN FILTERISASI HOMOMORPHIC

PERANCANGAN PROGRAM PENGENALAN BENTUK MOBIL DENGAN METODE BACKPROPAGATION DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SKRIPSI

Modifikasi Algoritma Pengelompokan K-Means untuk Segmentasi Citra Ikan Berdasarkan Puncak Histogram

PERBANDINGAN SEGMENTASI CITRA BERWARNA DENGAN FUZZY CMEANS CLUSTERING PADA BEBERAPA REPRESENTASI RUANG WARNA

SYSTEM IDENTIFIKASI GANGGUAN STROKE ISKEMIK MENGGUNAKAN METODE OTSU DAN FUZZY C-MEAN (FCM)

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK

Review Paper. Image segmentation by histogram thresholding using hierarchical cluster analysis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Identifikasi Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Pengenalan Karakter Sintaktik menggunakan Algoritma Otsu dan Zhang-Suen

Pembimbing: Ahmad Zaini, ST., MT Oleh: Saiful Yahya

SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN PENGHAPUSAN TEKSTUR DAN K-MEANS DENGAN BATASAN RUANG

Gambar 15 Contoh pembagian citra di dalam sistem segmentasi.

NORMALISASI DAN PEMBOBOTAN UNTUK KLONING MULUS PADA PENCAMPURAN CITRA MENGGUNAKAN METODE POISSON

Klasifikasi Kualitas Keramik Menggunakan Metode Deteksi Tepi Laplacian of Gaussian dan Prewitt

BAB III METODE PENELITIAN

SEGMENTASI CITRA CT SCAN TUMOR OTAK MENGGUNAKAN MATEMATIKA MORFOLOGI (WATERSHED) DENGAN FLOOD MINIMUM OPTIMAL

SEGMENTASI CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA WATERSHED DAN LOWPASS FILTER SEBAGAI PROSES AWAL ( November, 2013 )

SEGMENTASI WARNA UNTUK EKSTRAKSI SIMBOL DAN KARAKTER PADA CITRA RAMBU LALU LINTAS

Pemisahan Objek-Objek Berbasis Region pada Citra Digital dengan Metode Normalized Cuts

PENGGUNAAN latar belakang dalam proses pembuatan VIDEO COMPOSITING MENGGUNAKAN POISSON BLENDING. Saiful Yahya, Mochamad Hariadi, and Ahmad Zaini,

Modifikasi Algoritma Pengelompokan K-Means untuk Segmentasi Citra Ikan Berdasarkan Puncak Histogram

Analisa Perbandingan Metode Edge Detection Roberts Dan Prewitt

SEGMENTASI CITRA MEDIK MRI (MAGNETIC RESONANCE IMAGING) MENGGUNAKAN METODE REGION THRESHOLD

Pengenalan Aksara Lampung Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan

DETEKSI GERAK BANYAK OBJEK MENGGUNAKAN BACKGROUND SUBSTRACTION DAN DETEKSI TEPI SOBEL

BAB II LANDASAN TEORI

Implementasi Segmentasi Citra dengan Menggunakan Metode Generalized Fuzzy C- Means Clustering Algorithm with Improved Fuzzy Partitions

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HIBAH BERSAING PROTOTIPE EKSTRAKSI OBJEK VIDEO SEMI OTOMATIS BERBASIS DIGITAL MATTING MENGGUNAKAN SPECTRAL ANALYSIS

PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

Segmentasi Gambar Berwarna menggunakan Metode Hibrida Modifikasi Sauvola dan Fuccy C-Means (SMFCM)

PERANGKAT LUNAK SEGMENTASI CITRA DENGAN METODE WATERSHED

SEGMENTASI WARNA UNTUK EKSTRAKSI SIMBOL DAN KARAKTER PADA CITRA RAMBU LALU LINTAS. Abstrak

PERBAIKAN CITRA BER-NOISE MENGGUNAKAN SWITCHING MEDIAN FILTER DAN BOUNDARY DISCRIMINATIVE NOISE DETECTION

BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI

PENGHAPUSAN NOISE PADA CITRA DENGAN FILTER ADAPTIVE- HIERARCHICAL

Pengenalan Plat Nomor Mobil Menggunakan Metode Learning Vector Quantization

PERBANDINGAN METODE PENDETEKSI TEPI STUDI KASUS : CITRA USG JANIN

Pengenalan Benda di Jalan Raya dengan Metode Kalman Filter. Roslyn Yuniar Amrullah

Oleh: Riza Prasetya Wicaksana

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

MKB3383 TEKNIK PENGOLAHAN CITRA Pemrosesan Citra Biner

WEBSITE PERANCANGAN SCRAPBOOK DENGAN PEMOTONGAN GAMBAR OTOMATIS

GLOSARIUM Adaptive thresholding Peng-ambangan adaptif Additive noise Derau tambahan Algoritma Moore Array Binary image Citra biner Brightness

Segmentasi Dan Pelabelan Pada Citra Panoramik Gigi

Analisa dan Perancangan Sistem Deteksi Cacat Produksi

BAB III METODE PENELITIAN

1BAB I. 2PENDAHULUAN

BAB II LANDASAN TEORI...

Segmentasi Citra Berwarna Menggunakan Deteksi Tepi dan Fuzzy C-Means yang Dimodifikasi Berdasarkan Informasi Ketetanggaan

BAB 3 METODE PERANCANGAN

Operasi Titik Kartika Firdausy

DETEKSI DAN SEGMENTASI OTOMATIS DERET PADA CITRA METERAN AIR

PENERAPAN ALGORITMA K MEANS UNTUK PENENTUAN PENCOCOKAN PEWARNAAN CLUSTERING SECARA OTOMATIS PADA PRODUK FASHION

Aplikasi Jaringan Saraf Tiruan Sebagai Penterjemah Karakter Braille Ke Bentuk Abjad

BAB 2 LANDASAN TEORI

1. PENDAHULUAN Bidang perindustrian merupakan salah satu bidang yang juga banyak menggunakan kecanggihan teknologi, walaupun pada beberapa bagian, mas

Penggunaan Jaringan Syaraf Tiruanuntuk Membaca Karakter pada Formulir Nilai Mata Kuliah

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam bahasa Inggris ada pepatah yang mengatakan a picture is worth a

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGENALAN SESEORANG MENGGUNAKAN CITRA GARIS TANGAN

Penjejakan Objek Visual berbasis Algoritma Mean Shift dengan menggunakan kamera Pan-Tilt

BAB I PENDAHULUAN. teknologi pengolahan citra (image processing) telah banyak dipakai di berbagai

Analisa Perbandingan Algoritma Histogram of Oriented Gradient (HOG) dan Gaussian Mixture Model (GMM) Dalam Mendeteksi Manusia

SYSTEMIC Vol. 1, No. 1, Agustus 2015, PENGENALAN CATATAN PENJUALAN MENGGUNAKAN PENGENALAN ANGKA BERBASIS KORELASI.

1. Pendahuluan. 2.1 Peti Kemas. atau kesalahan yang dilakukan oleh manusia dalam mengenali kode peti kemas dan waktu pengenalan dapat dikurangi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Implementasi antar muka dalam tugas akhir ini terdiri dari form halaman

PENERAPAN METODE DETEKSI BULUMATA UNTUK PENINGKATAN AKURASI PENGENALAN PERSONAL BERBASIS CITRA IRIS

SISTEM REKOGNISI KARAKTER NUMERIK MENGGUNAKAN ALGORITMA PERCEPTRON

APLIKASI DETEKSI MIKROKALSIFIKASI DAN KLASIFIKASI CITRA MAMMOGRAM BERBASIS TEKSTUR SEBAGAI PENDUKUNG DIAGNOSIS KANKER PAYUDARA

Implementasi Metode Watershed Transformation Dalam Segmentasi Tulisan Aksara Bali Berbasis Histogram

SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. a. Spesifikasi komputer yang digunakan dalam penelitian ini adalah

KLASIFIKASI TELUR AYAM DAN TELUR BURUNG PUYUH MENGGUNAKAN METODE CONNECTED COMPONENT ANALYSIS

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Pada dewasa sekarang ini sangat banyak terdapat sistem dimana sistem tersebut

SEGMENTASI OBYEK PADA CITRA DIGITAL MENGGUNAKAN METODE OTSU THRESHOLDING

Perbaikan Citra X-ray Gigi Menggunakan Contrast Stretching

BAB 4 PENGUJIAN DAN EVALUASI. teknik pemrosesan citra dengan menggunakan logika samar dan dengan teknikteknik

Analisis Pengaruh Automatic Thresholding dalam Pemrosesan Citra Batupasir Berea

Morphological Image Processing

SEGMENTASI CITRA TELUR AYAM BERDASARKAN PERBEDAAN RUANG WARNA RGB DAN LAB

BAB 2 LANDASAN TEORI. fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses

Traffic IP Camera untuk Menghitung Kendaraan Roda Empat Menggunakan Metode Luasan Piksel

DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR DAN DISCRETE FOURIER TRANSFORM UNTUK NOISE FILTERING PADA CITRA DIGITAL

APLIKASI PENCARIAN RUTE OPTIMAL MENGGUNAKAN METODE TRANSITIVE CLOSURE

Implementasi Teori Graf Dalam Masalah Fingerprint Recognition (Pengenalan Sidik Jari)

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM

Transkripsi:

ADAPTIVE THRESHOLD UNTUK ALPHA MATTING MENGGUNAKAN ALGORITMA OTSU R. Suko Basuki 1, Moch. Hariadi 2 1 Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Indonesia E-mail : ruri.basuki10@mhs.ee.its.ac.id 2 Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Indonesia E-mail :mochar@ee.its.ac.id ABSTRAK Image matting merupakan proses ekstraksi objek foreground dari keseluruhan image. Hal ini memainkan peranan penting dalam proses image editing. Dalam paper ini algoritma Otsu digunakan untuk menghasilkan nilai threshold yang selanjutnya diberikan sebagai nilai alpha dalam pulling matte. Hasil objek foreground yang dipisahkan selanjutnya diukur kualitasnya dengan menggunakan MSE (Mean Squared Error). Proses pengukuran dilakukan dengan mencari perbedaan diantara objek foreground yang terdapat pada image masukan dengan objek foreground hasil matting. Kata kunci : Adaptive Threshold, Alpha Matting, Otsu 1. PENDAHULUAN Ekstraksi objek foreground dari image secara keseluruhan memainkan peranan yang penting dalam proses image editing. Akurasi pemisahan objek foreground dari background ditentukan oleh sebagian atau keseluruhan dari pixel-pixel suatu image, proses ini disebut pulling matte atau digital matting. Metode digital matting diformulasikan sebagai image masukan (I) yang diasumsikan merupakan kombinasi dari image foreground (F) dan image background (B). Warna pixel ke-i, diasumsikan sebagai kombinasi linear yang saling terkait diantara warna foreground dan background [1 2], dimana α-i merupakan komponen opacity pixel yang digunakan untuk memadukan secara linear image foreground dan background seperti dalam persamaan 1. = + (1 ) Beberapa metode yang digunakan dalam beberapa tahun terakhir ini untuk digital matting, trimap digunakan sebagai langkah awal untuk proses ekstraksi. Trimap merupakan gambaran kasar (dalam bentuk gambar tangan) untuk image input yang terbagi dalam tiga area; foreground (digambar dengan warna putih), background (digambar dengan warna hitam) dan unknown region (digambar dengan warna abu-abu). Optimasi iterative nonlinear biasanya digunakan untuk foreground dan background yang nilainya dihitung secara bersamaan dengan α. Untuk menghasilkan nilai yang baik pada unknown region, trimap harus dibuat sekecil mungkin. Namun, kelemahan dari pendekatan ini adalah kesulitan menangani image yang memiliki pixel yang komplek atau foreground memiliki banyak lubang [2 7]. Untuk melakukan ekstraksi apha matte dari image yang natural digunakan close-form yang berkaitan erat dengan metode pewarnaan [3 6]. Cost function diperoleh dari asumsi local smoothness dalam foreground dan background yang paling mungkin untuk dieliminasi sehingga menghasilkan quadratic cost function pada α. Global optimum digunakan pada cost function untuk menghasilkan alpha matte yang dapat diperoleh dengan menyelesaikan sistem sparse linear. Perbedaan foreground dan background (seperti pada gambar 1.b), digunakan scribble (putih untuk foreground dan hitam untuk background) untuk menghitung nilai alpha dari metode close-form. Selanjutnya eigenvectors akan menguji sparse matrix yang memiliki hubungan erat dengan matrik yang digunakan pada algoritma segmentasi image spektral. Dalam pedekatan ini, penempatan image scribble menjadi petunjuk penting untuk menganalisis image. Namun, nilai threshold dalam pendekatan ini masih menggunakan nilai konstanta (t=0,3), yang menyebabkan pemisahan antara foreground dengan background kurang alami. Sebagai tindak lanjut dan tambahan dari metode tersebut, dalam paper ini diusulkan algoritma Otsu Threshold digunakan untuk mencari nilai ambang yang adaptif untuk diberikan sebagai nilai alpha. INFRM 398

Gambar. 1 (a). Image input, (b). Image dengan coretan: coretan putih menunjukkan foreground, hitam menunjukkan background, (c, d). Hasil matting, (e). Image kombinasi setelah proses matting 2. FUNDAMENTAL Metode yang ada untuk image matting memiliki tujuan penyelesaian compositing (persamaan 1) untuk unknown pixel. Beberapa metode image matting menggunakan trimap [4 8], [5 11], [6 12], [7 15], [8 16] sebagai pendamping image input untuk melabelkan foreground, background dan unknown pixel. Biasanya metode ini dilakukan dengan memanfaatkan beberapa asumsi local regularity untuk menghitung nilai masing-masing pixel pada unknown area. Dalam algoritma Knockout [Bremen dkk, 2000], setelah dilakukan segmentasi user, langkah selanjutnya menghitung kemungkinan nilai warna foreground dan background yang masuk ke dalam unknown area. Foreground dihitung dari batas tepi pixel pada area known foreground. Bobot pixel terdekat pada unknown area diberi nilai 1 dan selanjutnya menurun secara proporsional terhadap jarak hingga mencapai nilai 0. Prosedur yang sama juga digunakan untuk menghitung bobot background berdasarkan pixel terdekat pada area unknown background. Asumsi beberapa algoritma [7], [8] menyatakan bahwa foreground dan background berasal dari distribusi warna relatif yang sederhana. Pada algoritma Bayessian matting [8] faktor keberhasilan pada algoritma Knockout ditentukan oleh percampuran yang berorientasi pada algoritma Gaussian yang digunakan untuk mempelajari distribusi lokal yang selanjutnya α, foreground dan background dihitung sebagai distribusi yang paling mungkin. Dalam pendekatan sebelumnya, metode Poisson matting dilakukan dengan mengoptimalkan warna pixel alpha, foreground dan background secara statistik. Untuk mengurangi kesalahan yang diakibatkan oleh kesalahan klasifikasi pada kasus warna yang komplek [5], operasi matte dilakukan secara langsung pada gradient. Perubahan intensitas yang halus dari foreground ke background merupakan dasar dari formulasi Poisson matting. Sun dkk [5], menggunakan Global Poisson matting sebagai pendekatan semi otomatis untuk menghitung matte dari gradient image yang diberikan oleh trimap. Perhitungan yang robust terhadap foreground dan background telah dilakukan, namun terjadi kesalahan matting yang disebabkan oleh background yang komplek tidak dapat diselesaikan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut digunakan Local Poisson matting yang digunakan untuk memanipulasi bidang gradien kontinyu pada local region. Beberapa pendekatan telah berhasil dilakukan untuk menterjemahkan user-defined simple constraints (seperti scribble dan rectangle) untuk permasalahan min-cut. Penyelesaiannya menggunakan segmentasi biner yang selanjutnya ditransformasikan ke dalam trimap dengan erosi, namun hasilnya masih samar. Border matting [9 10] menggunakan INFRM 399

parametric alpha yang diambil dari strip yang sempit disekitar batas, namun tidak dapat dilakukan untuk kasus yang sama pada objek rambut, karena area yang samar begitu luas, sehingga tidak dapat dilakukan dengan teknik ini. Metode yang diusulkan [3] dan [10] menggunakan scribble sebagai batas untuk mengurangi quadratic cost function sehingga lebih cocok untuk permasalahan matting. Wang dan Cohen [11 4] mengusulkan scribble-based untuk matting yang interaktif. Scribble digunakan sebagai parameter pixel foreground dan pixel background. Pendekatan ini menghasilkan beberapa hasil yang impresif, namun memerlukan proses yang mahal. Guan dkk [11], mengusulkan pendekatan scribble-based yang lain dengan menambahkan pendekatan random-walk [5] dengan menghitung secara iteratif model warna. 3. FRAMEWORK Tahapan dalam penelitian ini seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2. Image input Konversi ke grayscale Menentukan threshold Matting Mengukur Akurasi Gambar 2. Framework Penelitian 3.1 NILAI AMBANG OTSU Metode Otsu [12] berbasis histogram yang menunjukkan nilai intensitas yang berubah-ubah di setiap pixel image satu dimensi. Sumbu x digunakan untuk menyatakan perbedaan level intensitas, sedangkan sumbu y digunakan untuk menyatakan jumlah pixel yang memiliki nilai intensitas. Dengan menggunakan histogram dapat dilakukan pengelompokan pixel image berdasarkan nilai threshold (ambang batas). Threshold yang optimal dapat diperoleh ketika pixel memiliki perbedaan intensitas sehingga dapat dipisahkan kelompok-kelompoknya. Dua informasi dapat diperoleh dengan memanfaatkan histogram, yaitu jumlah perbedaan tingkat intensitas (dinotasikan dengan L), dan jumlah pixel untuk setiap tingkat intesitas (dinotasikan dengan n(k), dengan k=0.. 255). Tahapan pencarian nilai threshold dalam algoritma Otsu adalah sebagai berikut : 1. Menghitung normalisasi histogram image yang dinotasikan dengan, dengan i = 0,1,2...L-1. = (2) dimana adalah jumlah pixel pada masing-masing intensitas, dan MN adalah jumlah dari yang dimulai dari hingga. 2. Menghitung jumlah komulatif dari ( ), untuk k=0,1,2...l-1. ( ) = (3) 3. Menghitung rata-rata komulatif ( ), untuk k=0,1,2..., L-1. ( ) = (4) INFRM 400

4. Menghitung rata-rata intensitas global menggunakan ; 5. Menghitung varian antar kelas, ( ), untuk k=0,1,2..., L-1. = (5) = [ ( ) ( )] ( )[1 ( )] (6) 6. Memilih nilai threshold dari k * di mana nilai index dari varian antar kelas maksimum ( -> max), jika lebih dari satu nilai dari k*, maka nilai threshold ditentukan dari rata-rata nilai k*. 7. Menghitung ukuran pemisahan * dengan k=k* ( ) = ( ) (7) sedangkan = (1 ) (8) Catatan : nilai dari k diperoleh ketika ( ) maksimum, selanjutnya nilai threshold yang dilakukan dengan metode Otsu diberikan untuk α (dalam persamaan 1). 3.2 MEAN SQUARED ERROR Untuk mengukur kualitas image setelah dilakukan proses matting, dalam penelitian ini digunakan MSE (Mean Squared Error). Image masukan dikomparasi dengan image hasil proses matting dengan nilai threshold yang diperoleh dengan menggunakan algoritma Otsu. 4. EXPERIMENT DAN EVALUASI. Dalam makalah ini, awalnya pencarian nilai threshold dilakukan pada image input dengan menggunakan algoritma Otsu (persamaan 2 8). Hasil pencarian threshold ditunjukkan dalam tabel 1 dan grafik pada gambar 3. Table 1. Hasil Threshold Image masukan Nilai Threshold teddy.bmp 0,539215686 hair.bmp 0,423529412 bird.bmp 0,474509804 horse.bmp 0,470588235 lion.bmp 0,521568627 INFRM 401

0.6 0.5 Otsu Threshold Nilai Threshold 0.4 0.3 0.2 0.1 0 teddy.bmp hair.bmp bird.bmp horse.bmp lion.bmp Gambar 3. Nilai threshold Otsu Setelah nilai threshold diperoleh, hasilnya diberikan sebagai nilai α untuk keperluan matting [1], sehingga objek foreground dapat dipisahkan (gambar 1.c). Selanjutnya objek foreground yang telah dipisahkan dikombinasikan dengan image input. Untuk mengukur kualitas image hasil matting digunakan MSE dengan membandingkan image input (seperti 1.a) dengan image hasil kombinasi (gambar 1.e). Hasil pengukuran ditunjukkan dalam tabel 2 dan grafik pada gambar 4. Image masukan Image input Table 2. Hasil Pengukuran Nilai MSE teddy.bmp 5669,397258 hair.bmp 2697,183302 bird.bmp 3751,389982 horse.bmp 5015,051846 lion.bmp 5055,08185 6000 5000 Nilai MSE Jml Pixel Error 4000 3000 2000 1000 0 teddy.bmp hair.bmp bird.bmp horse.bmp lion.bmp Image input Gambar 4. Nilai pengukuran MSE Selain pengukuran terhadap akurasi image, waktu proses untuk mendapatkan nilai threshold juga diukur dengan lima kali iterasi, nilai rata-rata pengukuran ditunjukkan dalam tabel 3 dan grafik dalam gambar 5. INFRM 402

Table 3. Hasil rata-rata waktu proses Image Masukan Rata-rata Waktu Proses teddy.bmp 10,59543472 hair.bmp 11,24068757 bird.bmp 11,88594042 horse.bmp 12,53119328 lion.bmp 13,17644613 Rata-rata wkt proses Hasil Pengukuran Waktu Proses 15 10 5 0 Image input 5. KESIMPULAN Dalam makalah ini disajikan adaptive threshold untuk alpha matting dengan menggunakan algoritma Otsu. Nilai α dalam alpha matting yang sebelumnya diberikan nilai konstanta (0,3), dengan threshold Otsu dapat dilakukan secara adapatif terhadap beberapa kasus, meskipun masih memiliki nilai varian yang tinggi dan jumlah pixel error yang belum optimal. Oleh karena itu, dalam penelitian selanjutnya perlu dipertimbangkan penggunaan algortima yang lain seperti K-Means atau Fuzzy C-Means agar diperoleh nilai threshold yang optimal. DAFTAR PUSTAKA [1]. Levin A, Lischinski D, Weiss Y. A Closed-Form Solution to Natural Image Matting. Analysis. 2008;30(2):1-15. [2]. Wang J, Cohen M. An Iterative Optimization Approach for Unified Image Segmentation and Matting. Proc. 10th IEEE Int l Conf. Computer Vision. 2005. [3]. Grady L, Schiwietz T, Aharon S, Westermann R. Random Walks for Interactive Alpha-Matting. Proc. Fifth IASTED Int l Conf. Visualization, Imaging, and Image Processing. 2005. [4]. Apostoloff NE, Fitzgibbon AW. Bayesian Video Matting Using Learnt Image Priors. Proc. IEEE Conf. Computer Vision and Pattern Recognition. 2004. [5]. Sun J, Jia J, Tang C, Shum H. Poisson Matting. Image (Rochester, N.Y.). 2004;1(212):315-321. [6]. Chuang YY, Agarwala A, Curless B, Salesin DH, Szeliski R. Video Matting of Complex Scenes. ACM Trans. Graphics. 2002;vol:21no3pp243-248. [7]. Ruzon MA, Tomasi C. Alpha Estimation in Natural Images. Proc. IEEE Conf. Computer Vision and Pattern Recognition. 2000. [8]. Chuang Y, Curless B, Salesin DH, Szeliski R. A Bayesian Approach to Digital matting. Proc. IEEE Conf. Computer Vision and Patter Recognition. 2001 [9]. Rother C, Kolmogorov V, Blake A. "Grabcut": Interactive Foreground Extraction Using Iterated Graph Cuts. ACM Trans. Graphics. 2004;vol:23no3pp309-314. [10]. Levin A, Lischinski D, Weiss Y. Colorization Using Optimization. ACM Trans. Graphics. 2004. [11]. Y. Guan, W. Chen, X. Liang, Z. Ding, and Q. Peng, Easy Matting, Proc. Ann. Conf. European Assoc. for Computer Graphics, 2006. [12]. Rafael C. Gonzalez., Richard E. Woods. Digital Image Processing 3rd ed. Pearson Prentice Hall. 2007 INFRM 403