PROGRAM KERJA APEKSI

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.5/Menhut-II/2012 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG

PROFIL PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

RENCANA STRATEGIK ( RENSTRA ) PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK TAHUN

LOGICAL FRAMEWORK ANALYSIS (LFA) KONSIL LSM INDONESIA HASIL PERENCANAAN STRATEGIS MARET 2011

WALIKOTA BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG

LEMBAR KERJA EVALUASI REFORMASI BIROKRASI (INDEKS RB) INSTANSI : TAHUN : 2014

INDIKATOR KINERJA UTAMA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 75 TAHUN 2016 TENTANG

LAPKIN SEKRETARIAT DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2015 BAB II

WALIKOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN WALIKOTA MATARAM NOMOR : 49 TAHUN 2016 TENTANG

KATA PENGANTAR. Semoga laporan ini bermanfaat. Jakarta, 30 Januari Plt. Kepala Biro Perencanaan. Suharyono NIP

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 36 TAHUN 2016 TENTANG

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 37 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 44 TAHUN 2014 TENTANG

KERANGKA LOGIS PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI TINGKAT MAKRO

RENCANA STRATEGIS FREEDOM OF INFORMATION NETWORK INDONESIA (FOINI)

LEMBAR KERJA EVALUASI REFORMASI BIROKRASI (INDEKS RB) INSTANSI : PENGADILAN AGAMA SOE TAHUN : 2017

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BAPPEDA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. KONDISI UMUM Kedudukan

KONFERENSI NASIONAL APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH TAHUN 2010 SIMPULAN

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perencanaan Pemb

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 42 TAHUN 2016 TENTANG

KA/LPM-UNSRAT/01 KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS SAM RATULANGI. Tahun

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 82 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 71 TAHUN 2016 TENTANG

Kebijakan Manajemen Risiko

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KESEHATAN

WALIKOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN WALIKOTA MATARAM NOMOR : 46 TAHUN 2016 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BKPM. Indikator Kinerja Utama. Penetapan.

GUBERNUR SUMATERA BARAT,

Forum Dialog Pencegahan, Penanganan dan Penindakan Kesalahan, Kecurangan dan Korupsi (P3K3) Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM

TARGET PEMBANGUNAN TAHUN KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL

BADAN PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN KEDIRI

- 9 - BAB II PENCAPAIAN DAN ISU STRATEGIS

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BAPPEDA KOTA BANDUNG TAHUN 2016

BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Pengantar

PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NOMOR 06 TAHUN 2011 TENTANG

EVALUASI PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI BNN TAHUN Jakarta, Juli 2015

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lampung Selatan

GUBERNUR JAWA TENGAH RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR TENTANG INOVASI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

Kata Pengantar. Kerja Keras Kerja Lebih Keras Kerja Lebih Keras Lagi 1

BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 09 TAHUN 2013 TENTANG

WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 35 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN BADAN PENANAMAN MODAL KOTA BATU

PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA BADAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU DAN PENANAMAN MODAL KOTA SALATIGA

RENCANA KERJA TAHUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA,

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

PERATURAN NOMOR 009 TAHUN 2015 TENTANG BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SALINAN. Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);

BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJA SAMA INTERNASIONAL

MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 54 TAHUN 2014 TENTANG

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI LEBAK NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PIAGAM PENGAWASAN INTERNAL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan.

BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN

LKIP BPMPT 2016 B A B I PENDAHULUAN

ANGGARAN RUMAH TANGGA PARTAI JARIIBU

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08/M-DAG/PER/2/2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERDAGANGAN

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA

KATA PENGANTAR. Bandung, Januari 2015 KEPALA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIJINAN TERPADU PROVINSI JAWA BARAT

PAPARAN Rancangan Awal RPJMD Tahun Wates, 27 September 2017

DAFTAR ISI.. KATA PENGANTAR... i

Sistem Manajemen Penjaminan Mutu Lembaga Berbasis Reformasi Birokrasi Internal (RBI) Di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG

WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA

WALIKOTA PROBOLINGG0 PROVINSI JAWA TIMUR

BAB 5 RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF

Transkripsi:

PROGRAM KERJA APEKSI 2016 2020 BIDANG/PROGRAM TUJUAN OUTPUT INDIKATOR KEBERHASILAN 1. LINGKUNGAN HIDUP 1.1 Penguatan kapasitas ketahanan iklim dan bencana pemerintah kota 1. Memperluas dan kuat jaringan kota kota berketahanan iklim dan bencana di Indonesia yang produktif. 2. Memperkuat Apeksi sebagai lembaga intermediari kota berketahan iklim dan bencana dengan berbagai pihak. 3. Memperkuat peran mitra strategis bagi pemerintah, swasta maupun pihak lain dalam dialog perubahan iklim dan bencana di perkotaan. 1. Adanya hasil survei adaptasi perubahan iklim dan pengelolaan bencana kotakota. 2. Adanya Pokja Perubahan Iklim Apeksi yang aktif dan produktif. 3. Pokja Perubahan Iklim Apeksi bertambah anggotanya. 4. Adanya rencana strategis 5 tahun konvergensi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana Apeksi. 5. Adanya rencana aksi sejumlah pemerintah kota untuk menyusun perencanaan kota berketahanan. 6. Meningkatnya kapasitas membangun kota berketahanan. 7. Adanya sejumlah 1. Diperoleh hasil survei 75% adaptasi perubahan iklim dan pengelolaan bencana kota kota. 2. Terlaksananya pertemuan Pokja Perubahan Iklim secara regular setidaknya 2 kali dalam setahun. 3. Bertambahnya jumlah anggota Pokja Perubahan Iklim setidaknya 2 kota. 4. Terlaksananya forum diskusi ICA setidaknya 2 kali dalam setahun. 5. Terlaksananya pertemuan tahunan konvergensi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. 6. Terlaksananya kegiatan

rekomendasi kebijakan baik kepada pemerintah maupun bagi pemerintah daerah sendiri untuk membangun kota berketahanan. 8. Adanya publikasi praktik baik maupun cerita sukses kotakota dalam menghadapi perubahan iklim dan mengurangi risiko bencana. 9. Adanya publikasi pengalaman berbagai pihak dalam membangun ketahanan kota. 10. Semakin kuatnya peran Apeksi baik sendiri maupun sebagai bagian jaringan nasional (ICA) dalam proses pengembangan membangun Indonesia berketahanan. 11. Terus berjalannya maupun bertambahnya kemitraan Apeksi dengan lembaga lain baik nasional maupun internasional dalam membangun ketahanan. 12. Adanya proses monitoring dan evaluasi dari proses program membangun ketahanan kota. untuk membangun ketahanan kota setidaknya 2 kali dalam setahun. 7. Adanya rekomendasi dalam penguatan kebijakan ketahanan dari setiap kegiatan. 8. Adanya publikasi praktik baik atau cerita sukses upaya membangun ketahanan kota setidaknya satu publikasi dalam setahun. 9. Terbitnya kolom perubahan iklim sebagai bagian dari majalah KOTA KITA setiap 3 bulan sekali. 10. Apeksi hadir aktif memberikan masukan atau berperan aktif dalam proses yang dibangun berbagai pihak lain dalam membangunan ketahanan setidaknya oleh 2 pihak/lembaga setiap tahunnya. 11. Lahirnya kebijakan perubahan iklim maupun

1.2 Penguatan kapasitas pemerintah kota menuju kota berkelanjutan 1. Meningkatkan kapasitas pemerintah kota tentang kota berkelanjutan 2. Memperkuat Apeksi sebagai lembaga intermediari kota berkelanjutan dengan berbagai pihak. 1. Meningkatnya kapasitas membangun kota yang berkelanjutan. 2. Adanya sejumlah rekomendasi baik kepada pemerintah maupun bagi pemerintah daerah sendiri untuk membangun kota berkelanjutan. 3. Adanya publikasi praktik baik maupun cerita sukses kotakota dalam membangun kota penanggulangan bencana yang telah sinkron dengan peraturan perundangan pemerintahan daerah. 12. Terbangunnya kemitraan baru setidaknya dengan satu lembaga dalam saling memperkuat upaya membangun ketahanan kota. 13. Adanya proses monitoring yang dilakukan setidaknya 3 bulan sekali atau evaluasi tahunan dari program membangun ketahanan kota. 1. Terlaksanana kegiatan dalam membangun kota yang berkelanjutan setidaknya sekali dalam setahun. 2. Lahirnya sejumlah rekomendasi dalam penguatan kebijakan dan pengembangan pelaksanaan program kota berkelanjutan setiap tahunnya.

2. KERJASAMA ANTARDAERAH Penguatan Kapasitas Kerjasama Pemerintah Kota 1. Mensosialisasikan regulasi/kebijakan kerjasama antar daerah. 2. Meningkatkan kapasitas mekanisme dan teknis kerjasama antar daerah. 3. Mempromosikan potensi kota kota untuk peluang membangun kerjasama antar daerah 4. Memperkuat peran mitra strategis bagi pemerintah, swasta maupun pihak lain dalam dialog kerjasama antar berkelanjutan. 4. Adanya publikasi pengalaman berbagai pihak dalam membangun kota berkelanjutan. 1. Tersosialisasikannya regulasi/kebijakan kerjasama antar daerah kepada aparat 2. Meningkatnya kapasitas aparat pemerintah kota tentang kerangka aturan dan mekanisme kerjasama antar daerah. 3. Tersosialisasikannya potensi/prestasi kota kota kepada kota lain baik dalam maupun luar negeri. 4. Terfasilitasinya proses 3. Adanya publikasi praktik baik atau cerita sukes kota kota dalam membangun kota berkelanjutan setidaknya sekali setahun. 4. Adanya publikasi pengalamanan berbagai pihak dalam membangun kota berkelanjutan melalui berbagai media komunikasi APEKSI setidaknya dalam setiap kali terbitan. 1. Tersosialisasikannya regulasi/kebijakan kerjasama antar daerah setidaknya diikuti oleh 75% pemerintah kota 2. Terlaksananya kegiatan terkait kerangka aturan dan mekanisme kerjasama antar daerah yang diikuti setidaknya 75% pemerintah kota Indonesia. 3. Tersosialisasikannya

3. ADVOKASI KEBIJAKAN DAN LAYANAN HUKUM 3.1. Pemantauan Kebijakan Otonomi Daerah daerah. kerjasama antar daerah. 5. Adanya hasil kerjasama antar kota yang memberikan kontribusi peningkatan hasil pembangunan daerah maupun tingkat kesejahteraan masyarakat. 6. Adanya dokumentasi proses kerjasama antar kota yang tersosialisasi ke seluruh pihak. potensi/prestasi kotakota minimal 50% kotakota anggota Apeksi kepada kota kota lain baik nasional maupun internasional melalui cetakan atau website Apeksi. 4. Terfasilitasinya setidaknya 2 proses kerjasama dengan kotakota baik dari kota kota lain di Indonesia maupun Negara lain setiap tahunnya. 5. Tersosialisasikannya dokumen proses kerjasama antar kota ke seluruh anggota Apeksi maupun pihak lain lewat cetakan maupun website Apeksi. TUJUAN OUTPUT INDIKATOR KEBERHASILAN 1. Melakukan Pemantauan Dan Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah Terkait Pelaksanaan Otonomi Di Daerah, Khususnya Untuk Pembagian Urusan Antara 1. Monitoring dan Evaluasi Berbagai Kebijakan pemerintah terkait pelaksanaan otonomi di daerah, khususnya untuk pembagian urusan antara 1. Aktifnya Pokja Otonomi Daerah Apeksi yang memberikan konsep pemikiran dan gagasan 2. Terakomodirnya rekomendasi Apeksi

3.2 Pemantauan Kebijakan Reformasi Birokrasi Pemerintah, Provinsi, Kota Dan Kabupaten (UU No. 23 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 2. Melakukan Kajian Dan Menyusun Evaluasi Kebijakan Sebagai Masukan Bagi Proses Pembahasan Atau Perumusan Peraturan Pemerintah Dan Turunannya Terkait UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah. 3. Melakukan Upaya Koordinasi, Mengintegrasikan, Memadukan (Sinkronisasi) Dan Mensinergikan Berbagai Aspirasi Anggota Apeksi Secara Optimal Dan Efektif 1. Melakukan Pemantauan Dan Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah Terkait pemerintah, provinsi, kabupaten dan kota dalam UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah 2. Monitoring dan Evaluasi pembahasan, perumusan peraturan pemerintah dan turunannya terkait pelaksanaan UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan daerah 3. Penyampaian Berbagai Aspirasi dan Rekomendasi Kepada Pemerintah, Legislatif (DPR), DPD, dan Lembaga Tinggi Terkait 1. Monitoring dan Evaluasi Berbagai Kebijakan Pemerintah Terkait Pelaksanaan minimal untuk 2 aturan pelaksana dari UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah 3. Terdapatnya Satu Kebijakan Yang Responsif Terhadap Kebutuhan Daerah 4. Terlaksananya Dialog Terbuka Antara Pemerintah Atau Lembaga Terkait Dengan Pemerintah Daerah setidaknya satu kali dalam setahun 5. Terdapatnya konsep pemikiran anggota apeksi dalam Revisi UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah) 6. Terdapat setidaknya satu kali dalam setahun pelaksanaan Seminar termatik Untuk peningkatan pemahaman dan Pengayaan Wacana 1. Aktifnya Pokja Reformasi Birokrasi Apeksi yang memberikan pemikiran

Pelaksanaan pemerintahan yang bersih dan akuntabel (tindak pidana korupsi dan tata kelola pemerintahan daerah) 2. Melakukan Kajian Dan Menyusun Evaluasi Kebijakan Sebagai Masukan Bagi pelaksanaan pelayanan publik yang baik dan berkualitas 3. Melakukan kajian dan Menyusun Evaluasi Kebijakan sebagai masukan bagi pelaksanaan manajemen kepegawaian di daerah 4. Melakukan Upaya Koordinasi, Mengintegrasikan, Memadukan (Sinkronisasi) Dan Mensinergikan Berbagai Aspirasi Anggota Apeksi Secara Optimal Dan Efektif 3.3 Layanan Hukum Memberikan konsultasi hukum, opini hukum dan pendampingan hukum kepada anggota Apeksi baik litigasi maupun non litigasi pemerintahan yang bersih dan akuntabel (tindak pidana korupsi dan ) 2. Monitoring dan Evaluasi berbagai kebijakan terkait pelaksanaan pelayanan publik yang baik dan berkualitas 3. Monitoring dan Evaluasi berbagai kebijakan terkait pelaksanaan SDM Aparatur yang kompeten dan kompetitif (manajemen kepegawaian di daerah) 4. Penyampaian berbagai aspirasi dan rekomendasi kepada Pemerintah, Legislatif (DPR), DPD dan Lembaga Tinggi Terkait Terwujudnya pemerintahan daerah yang berkinerja tinggi dan berintegritas dan gagasan 2. Terdapatnya daftar masalah tentang tata kelola kepegawaian setidaknya dari 50% pemerintah kota anggota Apeksi 3. Terdapatnya Satu Kebijakan Yang Responsif Terhadap Kebutuhan Daerah 4. Terlaksananya Dialog Terbuka Antara Pemerintah Atau Lembaga Terkait Dengan Pemerintah Daerah setidaknya satu kali dalam setahun 5. Terdapat setidaknya 25 model perda tentang kepegawaian 6. Terdapat setidaknya satu kali dalam setahun pelaksanaan Seminar Untuk Pengayaan Wacana 1. Terbangunnya jalinan dengan minimal 2 tenaga ahli hukum dan tipikor untuk mendampingi anggota atau pemerintah kota

4. PENINGKATAN KAPASITAS PEMERINTAH KOTA 4.1. Peningkatan Kapasitas Fungsi Pemerintahan/Pelayan an Publik Pemerintah Kota 1. Meningkatkan kapasitas peran pemerintahan pemerintah kota seperti pengelolaan keuangan daerah, administrasi kependudukan, pelayanan perijinan, sistem reformasi birokrasi dan sebagainya. 2. Meningkatkan kualitas pelayanan publik pemerintah kota seperti bidang pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. 1. Adanya hasil pemetaan data pengelolaan keuangan, administrasi kependudukan dan pelayanan perijinan kotakota di Indonesia. 2. Meningkatnya kapasitas pengelolaan keuangan yang lebih akuntabel. 3. Meningkatnya kapasitas pelayanan administrasi kependudukan yang professional, cepat dan efisien. 4. Meningkatnya kapasitas pelayanan perijinan yang lebih professional, cepat dan efisien. 5. Meningkatnya kapasitas sistem reformasi birokrasi 2. Terdapat Setidaknya Satu Opini Hukum, Pendampingan Hukum,mapun Rancangan Perda atau Dokumen Kontrak.Untuk Perkara Litigasi Atau Non Litigasi Bagi Anggota 1. Adanya data pemetaan pengelolaan keuangan, administrasi kependudukan dan pelayanan perijinan setidaknya dari 80% kota di Indonesia. 2. Terlaksananya kegiatan pengelolaan keuangan pemerintah kota setiap tahun diikuti setidaknya 20 pemerintah kota/tahun. 3. Terlaksananya kegiatan pelayanan administrasi kependudukan pemerintah kota setidaknya diikuti 20

4.2. Peningkatan kapasitas pemerintah dalam menyusun kebijakan yang responsif gender dan kelompok disabilitas 1. Meningkatkan kapasitas menyusun kebijakan yang responsif gender 2. Meningkatkan kapasitas yang lebih professional, efektif dan efisien. 6. Meningkatnya kapasitas pelayanan pendidikan yang lebih professional dan murah. 7. Meningkatnya kapasitas pelayanan kesehatan yang lebih professional. 1. Meningkatnya kapasitas aparat menyusun kebijakan yang responsif gender. 2. Meningkatnya kapasitas pemerintah kota/tahun. 4. Terlaksananya kegiatan pelayanan perijinan pemerintah kota setidaknya diikuti 20 pemerintah kota/tahun. 5. Terlaksananya kegiatan sistem reformasi birokrasi pemerintah kota setidaknya diikuti 20 pemerintah kota/tahun. 6. Terlaksananya kegiatan pelayanan pendidikan pemerintah kota setidaknya diikuti 80% 7. Terlaksananya kegiatan pelayanan kesehatan pemerintah kota setidaknya diikuti 80% 1. Terlaksananya kegiatan menyusun kebijakan yang responsif gender diikuti setidaknya 50%

4.3. Penguatan Daya Saing Pemerintah Kota Dalam Menghadapi Pasar Global menyusun kebijakan yang memperhatikan kelompok disabilitas 1. Meningkatkan kapasitas pengembangan potensi investasi daerah 2. Mensosialisasikan peraturan perundangan dan petunjuk teknis terbaru mengenai pembiayaan infrastruktur daerah 3. Meningkatkan kapasitas mengintensifikasikan penggalian sumber sumber pendapatan daerah yang sejalan dengan peraturan menyusun kebijakan yang responsive disabilitas. 3. Adanya perencanan dan penganggaran pemerintah kota yang responsif gender. 4. Adanya kebijakan pemerintah kota yang responsive kelompok disabilitas. 1. Meningkatnya kapasitas mengidentifikasi potensi daerahnya. 2. Meningkatnya kapasitas pengembangan program investasi daerah. 3. Meningkatnya kapasitas pembiayaan infrastruktur daerah dam mengidentifikasi potensi sumber pendapatan daerah. 4. Meningkatnya kapasitas 2. Terlaksananya kegiatan menyusun kebijakan yang responsif disabilitas diikuti setidaknya 50% 3. Terdapat 20 pemerintah kota yang memiliki kebijakan yang responsive gender. 4. Terdapat 15 pemerintah kota yang memiliki kebijakan yang responsive disabilitas. 1. Terlaksananya kegiatan untuk mengidentifikasi potensi daerah dan pengembangan investasi daerah setidaknya diikuti 75% 2. Terlaksananya kegiatan pembiayaan infrastruktur daerah setidaknya diikuti 75% 3. Terlaksananya kegiatan

yang berlaku 4. Meningkatkan kapasitas melakukan kerjasama dengan pihak ketiga pengembangan kerjasama dengan pihak ketiga sesuai dengan kebutuhan kota. mengelola kerjasama denga pihak ketiga setidaknya diikuti 75% 4. Terfasilitasinya 10% kota anggota Apeksi untuk melakukan pembahasan kerjasama denga pihak ketiga. 4.4. Pengembangan Best Practice Kota Kota di Indonesia 1. Membangun data praktik baik pelayanan public dan fungsi pemerintahan. 2. Mendokumentasikan dan mempromosikan praktikpraktik baik kota kota ke seluruh pihak. 3. Meningkatkan kapasitas melakukan proses transfer praktik baik pemerintah daerah 4. Memfasilitasi proses transfer dan replikasi praktik praktik kota kota kepada daerah lain. 1. Data praktik praktik baik pemerintah kota Indonesia dalam pelayanan public dan fungsi pemerintahan. 2. Buku dokumentasi Best Practice Kota Kota di Indonesia dua bahasa menjadi dokumen/referensi valid publik. 3. Meningkatnya kapasitas melakukan proses transfer praktik baik pemerintah daerah. 4. Sejumlah pemerintah kota/daerah memprogramkan proses transfer dari pemerintah daerah lain. 1. Adanya data praktikpraktik baik dalam pelayanan public dan fungsi pemerintahan dari setidaknya 50% 2. Terbit dan terdiseminasinya Buku Best Practice Kota Kota di Indonesia dua bahasa setiap tahun. 3. Terdiseminasinya manual transfer inovasi ke 90% 4. Terlaksananya kegiatan melakukan transfer inovasi/praktik baik

5. KOMUNIKASI DAN INFORMASI 5.1. Penguatan jaringan informasi dan komunikasi antar Apeksi dengan anggota maupun mitra 1. Mengoptimalkan jaringan (pengumpulan, penyebaran dan penerimaan) informasi antar Apeksi dengan anggota (kota kota) maupun mitra 2. Mengoptimalkan jaringan komunikasi antar Apeksi dengan anggota (kota kota) maupun dengan mitra. 5. Sejumlah pemerintah daerah memiliki praktik inovasi yang mampu membantu menyelesaikan permasalahan pemerintah kotanya. 6. Adanya peningkatan kinerja pemerintah daerah dan kondisi di masyarakat sebagai dampak dari inovasi yang dikembangkan pemerintah daerah tersebut. 1. Terbitnya dan terdiseminasikannya Majalah KOTA KITA 3 bulanan ke seluruh pemerintah kota dan mitra APEKSI 2. Website Apeksi yang terkelolan dengan baik fungsional bagi semua pihak. 3. Jaringan media eksternal yang optimal baik cetak maupun elektronik. 4. Publikasi Apeksi (buku atau pemerintah daerah yang diikuti setidaknya 50% 5. Setidaknya 6 pemerintah kota melakukan proses transfer praktik baik pemerintah daerah lainnya. 6. Setidaknya 3 pemerintah kota menghasilkan praktik inovatif sebagai pengembangan proses transfer dengan hasil konkrit pada kinerja pemerintah dan perubahan kondisi di masyarakat. 1. Terdiseminasikannya majalah KOTA KITA ke seluruh pemerintah kota Indonesia dan mayoritas mitra APEKSI. 2. Website APEKSI yang diakses setidaknya 10.000 pengguna setiap bulannya. 3. Adanya peliputan kegiatan kegiatan nasional Apeksi di

5.2. Pengembangan kota cerdas (smart city) kota kota Indonesia dalam mengoptimalkan pelayanan publik/fungsi pemerintahan 1. Meningkatkan pemahaman pemerintah kota tentang kota cerdas dan aplikasinya dalam pelayanan publik/fungsi pemerintahan 2. Menjembatani kota kota dengan mitra provider pengelolan aplikasi smart city laporan kegiatan) sebagai penyebaran informasi aktivitas Apeksi. 5. Terinformasikannya informasi terbaru terkait isu pemerintahan daerah, program pemerintah kota seluruh Indonesia, program APEKSI maupun program terkait pemerintahan daerah untuk ataupun dari pemerintah kota dan berbagai pihak. 1. Meningkatnya kapasitas melaksanakan pelayanan publik/fungsi pemerintahan melalui pengembangan konsep kota cerdas. 2. Terfasilitasinya pemerintah kota dalam mengembangkan kota cerdas. 3. Aktifnya pemerintah kota terlibat dalam diskusi dan jejaring kota cerdas. setidaknya 2 media nasional dan lokal baik cetak maupun elektronik 4. Terinformasikannya setidaknya 90% pemerintah kota kepada seluruh pihak melalui media publikasi APEKSI. 5. Terinformasikannya berbagai informasi terkini terkait pemerintahan daerah di setidaknya 90% 1. Terlaksananya kegiatan kota dalam melaksanakan pelayanan publik/fungsi pemerintahan melalui pengembangan konsep kota cerdas yang diikuti setidaknya 50% 2. Adanya pengembangan pelayanan public/fungsi pemerintahan konsep cerdas oleh setidaknya 5 3. Setidaknya 10 pemerintah kota aktif terlibat dalam jejaring kota cerdas.

6. HUMAS DAN KEMITRAAN 6.1. Penguatan Kehumasan Pemerintah Kota Untuk Mengoptimalkan Citra Pemerintah Kota 6.2. Penguatan Kemitraan Apeksi Dengan Berbagai Pihak Untuk Penguatan Pemerintah Kota 1. Meningkatkan kapasitas kehumasan pemerintah kota 1. Memperluas jaringan kemitraan dengan berbagai pihak yang memiliki visi yang sama untuk penguatan pemerintah kota yang lebih mensejahterakan rakyat 2. Memperkuat peran Apeksi dalam jaringan pemerintah daerah maupun isu terkait untuk memperkuat tujuan penguatan peran pemerintah kota 1. Meningkatnya kapasitas personil pemerintah kota dalam pengumpulan, pengemasan dan penyampaikan informasi terkait potensi pemerintah kotanya. 2. Meningkatnya kapasitas personil pemerintah kota dalam meningkatkan jaringan komunikasi dengan seluruh pihak. 1. Adanya kesepakatan kerjasama/kemitraan dengan berbagai pihak yang memiliki visi yang sama dalam rangka pengembangan program Apeksi. 2. Adanya sejumlah kegiatan dan produk publikasi sebagai pelaksanaan kemitraan dengan berbagai pihak. 3. Adanya peningkatan pendapatan dari hasil kesepakatan 1. Terlaksananya kegiatan pemerintah kota pengumpulan, pengemasan dan penyampaikan informasi diikuti 75% pemerintah kota. 2. Terlaksananya kegiatan dalam membangun jaringan komunikasi dengan berbagai pihak yang diikuti setidaknya 50% pemerintah kota Indonesia. 3. Terlaksananya setidakya 5 kesepakatan kerja setiap tahunnya yang dapat dipertanggungjawabkan. 4. Tersosialisasikannya pelaksanaan setidaknya 5 kegiatan dalam setahun hasil kesepakatan kerja antara Apeksi dengan mitra. 5. Adanya peningkatan pendapatan secara signifikan sebesar 100%

7. PENGUATAN ORGANISASI 7.1. Penguatan Jaringan Internal Apeksi 1. Mengefektifkan forum forum anggota untuk penguatan posisi organisasi maupun penguatan jalinan komunikasi 2. Meningkatkan kepekaan Apeksi dalam menyikapi kebutuhan anggota kerjasama/kemitraan yang dibangun untuk mendukung kemandirian keuangan Apeksi. 1. Terciptanya hubungan yang harmonis dan efektif antara Dewan Pengurus, Komwil, anggota dan Direktorat Eksekutif. 2. Adanya sejumlah kebijakan organisasi yang strategis dan bermanfaat bagi optimalisasi pelaksanaan pemerintahan daerah. 3. Adanya kesepemahaman antara anggota dengan Direktorat Eksekutif dalam menanggapi berbagai isu yang berkembang. dari hasil kerjasama dengan mitra kerja. 6. Meluasnya jaringan mitra kerja Apeksi baik nasional maupun internasional setidaknya 5 lembaga setiap tahun. 1. Terlaksananya forumforum anggota tingkat nasioal (Rakernas, Munas dan Rapat Teknis) sekali dalam setahun dengan bobot kualitas yang semakin bertambah 2. Terlaksananya forumforum regional (Raker Komwil, pertemuan catur wulan Komwil dan Muskomwil) setiap tahunnya di setiap Komwil setiap tahunnya dengan bobot kualitas yang semakin meningkat. 3. Meningkatnya 100% tingkat partisipasi dan keaktifan anggota dalam berbagai kegiatan nasional maupun regional Apeksi 4. Meningkatnya 100%

7.2. Otimalisasi pelayanan kepada anggota Apeksi 1. Mengoptimalkan pelayanan kepada anggota dalam menjalankan tugas dan fungsinya. 2. Meningkatkan kinerja Direktorat Eksekutif dalam memfasilitasi kepentingan /aspirasi anggota kepada pihak pihak terkait. 1. Meningkatkanya kapasitas dan pemahaman pemerintah kota dalam menjalankan tugas dan fungsinya. 2. Adanya rekomendasi sebagai aspirasi anggota dalam berbagai proses penyusunan kebijakan nasional. 3. Terbangunnya jaringan komunikasi dan informasi yang sangat baik antara Apeksi, pemerintah kota dan berbagai pihak. 4. Terinformasikannya perkembangan terbaru dalam pemerintahan daerah kepada anggota secara cepat dan valid. 5. Terwujudnya kepuasan anggota APEKSI. tingkat kebutuhan/ketergantunga n anggota kepada Apeksi dalam pemenuhan kebutuhan peningkatan kapasitas, advokasi maupun kebutuhan informasi. 1. Terlaksananya seluruh kegiatan peningkatan kapasitas sesuai kebutuhan pemerintah kota. 2. Terakomodirnya rekomendasi Apeksi sebagai aspirasi anggota dalam berbagai produk kebijakan nasional 3. Terwujudnya jaringan komunikasi dan informasi Apeksi, pemerintah kota dan seluruh pihak yang sangat baik dalam berbagai forum regional, nasional maupun internasional serta dalam media cetak maupun elektronik. 4. Anggota Apeksi selalu mengetahui informasi

7.3. Peningkatan kapasitas personil Direktorat Eksekutif Meningkatkan kompetensi kerja personil Direktorat Eksekutif dalam menjalankan tugas dan fungsinya 1. Meningkatnya kapasitas personil Direktorat Eksekutif yang terampil dan profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi secara mandiri sesuai bidang yang diperani serta keterampilan dasar yaitu Bahasa Inggris dan komputer/internet 2. Adanya sejumlah personil baru Direktorat Eksekutif sesuai kebutuhan struktur organisasi yang harus dijalankan terbaru dan valid tentang pemerintahan daerah dan terkait dari Apeksi. 5. Meningkatnya penerimaan dari iuran anggota karena meningkatnya tingkat kepuasan dan kepercayaan. setiap tahunnya 6. Meningkatnya tingkat partisipasi anggota sebesar 100% karena meningkatnya tingkat kepercayaan kepada Apeksi. 1. Terfasilitasinya setidaknya 3 personil Direktorat Eksekutif setiap tahunnya untuk mengikuti kegiatan (pelatihan/lokakarya/mag ang) 2. Adanya sejumlah personil baru untuk pengisian posisi yang kosong demi penguatan fungsi Direktorat Eksekutif 3. Terlaksananya program kerja Apeksi secara

7.4. Penguatan Sistem Manajemen Organisasi 7.5. Penguatan keuangan organisasi Mewujudkan sistem manajemen organisasi yang profesional Mewujudkan keuangan organisasi yang kuat dan mandiri 1. Adanya SOP SOP keorganisasian yang dijalankan dengan konsisten 2. Adanya pembagian kerja (job description) personil Direktorat Eksekutif 3. Adanya laporan monitoring bulanan yang menjadi acuan evaluasi kinerja Direkrorat Eksekutif 4. Adanya mekanisme reward dan punishment yang terlaksana dengan konsisten 1. Adanya penganggaran yang komprehensif 2. Adanya mekanisme penarikan iuran anggota yang lebih efektif 3. Adanya penerimaan dari iuran anggota sesuai yang ditargetkan 4. Adanya penerimaan dari optimal dan sesuai waktu dan target yang direncanakan. 1. Terlaksananya SOP SOP yang disahkan oleh Direktur Eksekutif 2. Terlaksananya mekanisme organisasi yang tertata lebih baik 3. Personil Direktorat Eksekutif bekerja lebih optimal dan professional 4. Program kerja terlaksana sesuai perencanaan 5. Sistem pelaporan keuangan yang tersusun lebih rapi an ontime setiap bulannya 6. Adanya laporan audit keuangan yang lebih berkualitas setiap tahunnya 1. Tersusunnya system penganggaran setiap tahun yang komprehensif 2. Terlaksananya mekanisme penarikan iuran anggota yang efektif setiap 4 bulan kepada anggota yang belum membayar 3. Terwujudnya pencapaian

kegiatan berbayar swakelola 5. Adanya dukungan pendanaan dari lembaga mitra/donor target penerimaan dari iuran anggota setiap tahunnya 4. Meningkatnya jumlah kota membayar iuran anggota setiap tahunnya 5. Tercapainya penerimaan dari kegiatan berbayar swakelola sesuai yang ditargetkan. 6. Tercapainya dukungan pendanaan oleh lebaga mitra/donor sesuai kesepakatan 7. Terlaksananya seluruh program yang direncanakan dengan pendanaan mandiri.