BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK

dokumen-dokumen yang mirip
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2010 S A L I N A N

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG LARANGAN PELACURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SITUBONDO,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2005 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2008

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN BELITUNG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 3 TAHUN 2003 T E N T ANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PELACURAN DI KABUPATEN JEMBRANA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

- 1 - PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH KOTA PONTIANAK

LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II UJUNG PANDANG NOMOR 1 TAHUN 1997 SERI B NOMOR 1 PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II UJUNG PANDANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN NOMOR : 7 TAHUN 2001 T E N T A N G LARANGAN PERBUATAN PROSTITUSI DAN TUNA SUSILA DALAM DAERAH KABUPATEN WAY KANAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGGAI NOMOR 1 TAHUN 2011 T E N T A N G PENYERTAAN MODAL DAERAH KEPADA PIHAK KETIGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 27 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2001 TENTANG PEMBERANTASAN PELACURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN MENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 5 TAHUN 2007 T E N T A N G LARANGAN PELACURAN DI KABUPATEN BANTUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS

KETENTUAN PEMELIHARAAN TERNAK BUPATI MAROS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG IZIN USAHA DAN PEREDARAN OBAT HEWAN DI KABUPATEN JEMBRANA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH SEWAAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PENGATURAN BUKTI KEPEMILIKAN TERNAK DALAM KABUPATEN BULUKUMBA

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 48 TAHUN : 2004 SERI : C

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 4 TAHUN 2003 TENTANG SURAT IZIN TEMPAT USAHA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH,

PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN LAMONGAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN TAHUN 2008 NOMOR 10

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BONTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 02 TAHUN 2006 TENTANG PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KABUPATEN MAROS

LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENCEGAHAN PERMAINAN JUDI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2000 NOMOR PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 27 TAHUN 2000 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 120 TAHUN 1987 SERI : D

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG PENGESAHAN PENDIRIAN DAN PERUBAHAN BADAN HUKUM KOPERASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG TEMPAT PELELANGAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 11 TAHUN 2002 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 14 TAHUN : 2003 SERI :E PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 14 TAHUN 2003 TENTANG

P E R A T U R A N D A E R A H

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah ;

PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepot

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR : 14 TAHUN 2003 TENTANG IZIN USAHA PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JENEPONTO

BUPATI BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,

- 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN KETENTERAMAN, KETERTIBAN UMUM DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU

- 1 - BUPATI JENEPONTO. Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 34 Jeneponto Telp. (0419) Kode Pos 92311

BUPATI GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 3 TAHUN 2001 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KUPANG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SUMEDANG NOMOR : 20 TAHUN : 1993 SERI :A.1

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP

BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PELACURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 19 TAHUN 2001 TENTANG IJIN MEMAKAI TANAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 20 TAHUN TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2002 T E N T A N G IZIN USAHA HOTEL DENGAN TANDA BUNGA MELATI

WALIKOTA PADANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN RUMAH KOS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PELAYANAN PUBLIK DI PROPINSI JAWA TIMUR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN KELAPA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II S U M E D A N G NOMOR : 9 TAHUN : 1990 SERI : A.1

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2008 T E N T A N G

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

PERATURAN DAERAH KOTA PAGAR ALAM NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG WAJIB LAPOR LOWONGAN PEKERJAAN DAN IZIN PENEMPATAN TENAGA KERJA DI KOTA PAGAR ALAM

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II S U M E D A N G NOMOR 23 TAHUN 1997 SERI B.8

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PENGGUNAAN TANAH UNTUK PEMASANGAN JARINGAN PIPA GAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOLAKA UTARA NOMOR 5 TAHUN 2011 T E N T A N G PELARANGAN PERJUDIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 3 TAHUN 2005 T E N T A N G RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 19 TAHUN 2001 TENTANG TONASE DAN PORTAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

BUPATI JOMBANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN DATA ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,

2 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG BANTUAN HUKUM UNTUK MASYARAKAT MISKIN

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 3 Tahun : 2013

PEMERINTAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II G R E S I K PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II GRESIK NOMOR 30 TAHUN 1997 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG TERMINAL BARANG

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO

TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERDANG BEDAGAI,

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG SISTEM JAMINAN KESEHATAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

PEMERINTAH KABUPATEN TANAH BUMBU IZIN USAHA PERKEBUNAN

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 3 TAHUN 2010 SERI : E NOMOR : 3

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II S U M E D A N G NOMOR 14 TAHUN 1997 SERI C.2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II S U M E D A N G

DALAM DAERAH KABUPATEN BERAU.

Transkripsi:

BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI, MENIMBANG : a. bahwa penyelenggara pemerintahan daerah mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 ; b. bahwa untuk mewujudkan penyelenggara pemerintahan daerah yang mampu menjalankan fungsi dan tugasnya secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, perlu diletakkan azas-azas penyelenggaraan pelayanan publik ; c. bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik, perlu diadakan pengaturan terhadap kewajiban dan tanggung jawab penyelenggara pelayanan publik serta penerima pelayanan publik maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan demi terwujudnya pelayanan prima ; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b dan c, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik. MENGINGAT : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur (Berita Negara Republik Indonesia Tanggal 4 juli Tahun 1950);

2 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 55 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890); 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209); 4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4125); 5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851); 6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389); 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 38) yang telah ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005; 8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 126 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3836); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Negara (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 129 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3866); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); 12. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banyuwangi Nomor 4 Tahun 1988 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Banyuwangi (Lembaran Daerah Tahun 1988 Nomor 3/C);

3 Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI dan BUPATI BANYUWANGI M E M U T U S K A N : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Kabupaten, adalah Kabupaten Banyuwangi. 2. Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. 3. Bupati adalah Bupati Banyuwangi. 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banyuwangi. 5. Pelayanan Publik, adalah kegiatan yang dilakukan untuk melayani kebutuhan dan kepentingan masyarakat oleh seluruh kantor/instansi/dinas/ lembaga di lingkungan pemerintah Kabupaten Banyuwangi. 6. Korupsi, adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi. 7. Kolusi, adalah permufakatan atau kegiatan kerjasama yang melawan hukum antar penyelenggara pemerintahan daerah atau antara penyelenggara pemerintahan daerah dengan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara. 8. Nepotisme, adalah setiap perbuatan penyelenggara pemerintahan daerah yang melawan hukum serta menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. 9. Penyelenggara pelayanan adalah seluruh aparatur satuan kerja organisasi perangkat daerah di lingkungan pemerintah Kabupaten Banyuwangi. 10. Penerima pelayanan, adalah perseorangan dan/atau badan hukum yang memiliki hak dan kepentingan terhadap suatu layanan publik. 11. Penyelenggara pemerintahan daerah, adalah pejabat daerah yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif dan pejabat lain yang tugas pokok dan fungsinya berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 12. Peran serta masyarakat, adalah peran serta aktif masyarakat untuk ikut serta mewujudkan penyelenggara pelayanan publik yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilaksanakan dengan menaati norma hukum, moral dan sosial yang berlaku dalam masyarakat.

4 13. Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM), adalah data dan informasi tentang tingkat kepuasan masyarakat yang diperoleh dari hasil pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif atas pendapat masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari aparatur penyelenggara pelayanan publik dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhannya. BAB II AZAS DAN RUANG LINGKUP Pasal 2 Asas-asas umum penyelenggaraan pelayanan publik meliputi : 1. Asas transparansi; 2. Asas akuntabilitas; 3. Asas kondisional; 4. Asas partisipatif; 5. Asas kesamaan hak; 6. Asas keseimbangan hak dan kewajiban pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. Pasal 3 Ruang Lingkup penyelenggaraan pelayanan publik meliputi seluruh kegiatan aparatur satuan kerja organisasi perangkat daerah di lingkungan pemerintah Kabupaten Banyuwangi termasuk di dalamnya Badan Usaha Milik Daerah. BAB III PENYELENGGARA PELAYANAN PUBLIK Pasal 4 Organisasi penyelenggara pelayanan publik adalah setiap satuan kerja organisasi perangkat daerah di lingkungan pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Pasal 5 (1) Dalam menyelenggarakan pelayanan publik setiap aparatur berkewajiban: a. Menaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku; b. Melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya serta memberikan pelayanan prima kepada masyarakat sesuai bidang tugasnya dengan berpedoman pada standar pelayanan minimal; c. Bersikap dan bertingkah laku sopan dan santun kepada masyarakat; d. Menggunakan dan memelihara dokumen dan barang-barang inventaris lainnya milik Pemerintah Kabupaten dengan sebaikbaiknya.

5 (2) Hubungan antar penyelenggara pelayanan publik dilaksanakan dengan menaati norma-norma kelembagaan, kesopanan, kesusilaan dan etika dengan berpedoman pada asas-asas sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; (3) Setiap satuan kerja organisasi perangkat daerah di lingkungan pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang mempunyai tugas sebagai penyelenggara pelayanan publik dapat melakukan koordinasi dengan pihak lain untuk mengoptimalkan tugas-tugas pelayanan. BAB IV PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK Pasal 6 Penyelenggaraan pelayanan publik menganut prinsip-prinsip efisiensi dan efektivitas dengan memperhatikan faktor kesopanan, keramahtamahan dan kepuasan masyarakat; Pasal 7 (1) Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, wajib memenuhi kaidah-kaidah sebagai berikut : a. Sederhana, mudah, lancar dan tidak berbelit-belit; b. Jelas dan pasti dalam tata cara, persyaratan, unit kerja, pejabatnya, pembiayaannya, jadual waktu penyelesaian, hak dan kewajibannya bagi pemberi maupun penerima layanan; c. Aman, dalam arti proses dan hasil pelayanan publik dapat memberikan keamanan dan kenyamanan serta terdapat kepastian hukum; d. Transparan; e. Wajar dan ekonomis; f. Adil dan merata; g. Tepat waktu. (2) Ketentuan lebih lanjut tentang pelayanan dimaksud pada ayat (1) pasal ini akan diatur dengan Peraturan/Keputusan Bupati. Pasal 8 (1) Setiap jenis pelayanan publik harus ditulis pada papan pengumuman yang mudah dilihat dan dibaca oleh masyarakat; (2) Isi pengumuman dimaksud pada ayat (1) pasal ini sekurang-kurangnya memuat prosedur pelayanan, persyaratan yang harus dipenuhi, besarnya biaya dan jangka waktu penyelesaiannya;

6 Pasal 9 (1) Penyelenggaraan pelayanan publik dapat menggunakan sistem informasi manajemen yang mudah diakses oleh publik; (2) Bentuk-bentuk sistem informasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik ditentukan lebih lanjut oleh Bupati. Pasal 10 (1) Pemerintah Kabupaten wajib menyediakan tempat dan perlakuan pelayanan khusus bagi anggota masyarakat penyandang cacat fisik, orang jompo, wanita hamil dan warga lainnya yang mempunyai keterbatasan fisik; (2) Desain, tempat dan jenis-jenis perlakuan khusus diatur lebih lanjut oleh Bupati. Pasal 11 (1) Pemerintah Kabupaten harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh setiap pengaduan masyarakat yang timbul sebagai akibat buruknya pelayanan publik; (2) Pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, wajib ditindaklanjuti oleh satuan kerja organisasi perangkat daerah; (3) Pemerintah Kabupaten dapat membuka saluran khusus (hotline) untuk mengelola setiap pengaduan pelayanan publik; Pasal 12 (1) Penyelenggara pelayanan publik harus membuat laporan hasil pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk mengetahui tingkat kepuasan publik terhadap berbagai jenis layanan pemerintah Kabupaten secara berkala; (2) Laporan pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dimaksud pada ayat (2) pasal ini, dipublikasikan kepada publik melalui terbitan media cetak dan elektronik yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten;

7 BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 13 (1) Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik merupakan hak dan tanggung jawab masyarakat untuk ikut mewujudkan penyelenggaraan pelayanan yang bersih; (2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, dilaksanakan dalam bentuk : a. Hak mencari, memperoleh dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan pelayanan; b. Hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari penyelenggara pelayanan; c. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab terhadap kebijakan penyelenggara pelayanan; d. Hak memperoleh perlindungan dalam hal melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b dan c. (3) Hak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dengan menaati norma agama dan norma sosial lainnya; (4) Informasi dari masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini disampaikan kepada instansi terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VI KETENTUAN SANKSI Pasal 14 (1) Pelanggaran administratif yang dilakukan oleh penyelenggara pelayanan publik dikenakan sanksi administrasi; (2) Jenis-jenis sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. Peringatan lisan; b. Peringatan tertulis; c. Penundaan kenaikan pangkat; d. Penurunan pangkat; e. Mutasi jabatan; f. Pembebasan tugas dan jabatan dalam waktu tertentu; g. Pemberhentian tidak dengan hormat. (3) Mekanisme pemanggilan, pemeriksaan dan penjatuhan sanksi administrasi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8 Pasal 15 (1) Setiap penyelenggara pelayanan publik yang melakukan tindak pidana dalam penyelenggaraan pelayanan publik diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan, atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah); (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. BAB VII KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 16 (1) Selain oleh Pejabat Penyidik Umum, Penyidikan atas pelanggaran tindak pidana dimaksud dalam pasal 15 Peraturan Daerah ini juga dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku ; (2) Dalam melaksanakan penyidikan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini adalah : a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang adanya tindak pidana; b. Melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan melakukan pemeriksaan ; c. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka ; d. Melakukan penyitaan benda atau surat ; e. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka ; f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi ; g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara ; h. Mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik POLRI bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik POLRI memberitahukan hal tersebut kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya ; i. Melakukan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

9 BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 17 Semua ketentuan Peraturan Daerah yang berkaitan secara langsung dengan pelayanan publik wajib mendasarkan dan menyesuaikan pengaturannya pada Peraturan Daerah ini. Pasal 18 Peraturan Daerah ini berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dalam Lembaran Daerah Kabupaten Banyuwangi. Disahkan di Banyuwangi Pada tanggal 20 April 2006ril 2006 Diundangkan di Banyuwangi Pada tanggal 21 April 2006 BUPATI BANYUWANGI ttd. RATNA ANI LESTARI, S.E., M.M. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI ttd. Drs. H. SUDJIHARTO, M.M. LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN 2006 NOMOR 2/E Sesuai dengan aslinya, a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI Asisten Pemerintahan u.b Kepala Bagian Hukum KATIMAN, SH. Pembina NIP. 510 111 130

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK I. PENJELASAN UMUM Bahwa dalam rangka implementasi Peraturan Daerah berdasarkan Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 serta untuk meningkatkan penyelenggaraan pelayanan publik, perlu menetapkan ketentuan standar pelayanan publik. Selanjutnya dalam rangka menciptakan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam pelayanan publik yang baik, ditujukan untuk menghindari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme serta melibatkan peran serta masyarakat dalam pelayanan publik. Sehubungan dengan maksud tersebut diatas, maka untuk memberikan dasar yang kokoh bagi pelaksanaan penyelenggaraan pelayanan publik yang baik, dipandang perlu adanya pengendalian terhadap pelayanan publik dengan menuangkan ketentuan pengaturannya dalam suatu Peraturan daerah. II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 : Cukup jelas Pasal 2 angka 1 : Yang dimaksud dengan Asas Transparansi adalah, bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. angka 2 : Yang dimaksud dengan Asas Akuntabilitas adalah, dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. angka 3 : Yang dimaksud dengan Asas Kondisional adalah, sesuai dengan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektifitas. Angka 4 : Yang dimaksud dengan Asas Partisipatif adalah, mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kedudukan dan harapan masyarakat. Angka 5 : Yang dimaksud dengan Asas Kesamaaan Hak adalah, tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender dan status ekonomi. Angka 6 : cukup jelas. Pasal 3 s.d. 18 : cukup jelas. =================================