Penyakit Paru Obstruktif Kronik Saat ini belum ada obat untuk mengobati Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK/COPD Chronic Obstructive Pulmonary Disease) dann penyakit ini akan memburuk secara berkalaa dari waktuu ke waktu. Kasus penyakit baru meningkat secara global. Statistik pada tahun 2007 menunjukkan bahwa PPOK merupakan penyakit paling fatal urutan kelima di Hong Kong. Selain itu, penyakit ini membebani permintaan layanan medis di Hong Kong secara signifikan. Menurut pihak Otoritas Rumah Sakit, jumlah hari rawat inap pasien PPOK menempati urutan ketiga dalam total pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit pada tahun 2007. Meskipun belum ada obatt untuk mengobati PPOK, kondisi medis ini bisa ditangani dengan pengobatan dini. Selain itu, penyebab PPOK bersifat jelas. Tidak merokokk atau berhenti merokok bisa membantu mencegah terjadinya penyakitt ini. (Terima kasih kepada Dr. Christopher CHAN, Konsultan, Departemen Kedokteran, Rumah Sakit Alice Ho Miu Ling Nethersole, yang telah mengulas dan meninjau informasi padaa halaman ini.) 1
1. Apa itu Penyakit Paru Obstruktif Kronik? PPOK mengacu pada obstruksi atau penyempitan saluran pernapasan yang disebabkan oleh kerusakan sistem pernapasan dalam jangka waktuu yang lama, mengakibatkan paru paru sulit untuk bernapas dengan baik. b Pada akhirnya, penyakit ini akan menyebabkan gejala seperti hipoksia ( kekurangann oksigen), sesak napas, dan batuk. Pasien PPOK bahkan mungkin mengalami m kesulitan dalam menjalankan kegiatan normal mereka sehari hari. 2. Bagaimana cara untuk mencegah Penyakit Paru Obstruktif Kronik? Jangan merokok atau berhentilah merokokk Kenakan alat pelindung diri, misalnya, memakai masker jika Andaa berpeluang menghirup asap dan debu secara terus menerus selama bekerja. 3. Apa penyebab Penyakit Paruu Obstruktif Kronik? Merokok telah dipastikan menjadi penyebab utama PPOK. Merokokk akan menurunkann kadar oksigen di dalam tubuh. Tembakau, tar, dan bahan kimia lain yang dihasilkan selamaa proses pembakaran rokok akan merusak m jaringan paru-paru dan menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan. Perokok P usia dini lebih rentan terhadap emfisema dan bronkitis kronis. PPOK utamanya disebabkan oleh kondisi obstruksi saluran napas yang disebabkan oleh emfisema atau bronkitis kronis. Emfisema mengacuu pada pembengkakan dan kerusakan alveoli (kantung udara) di ujung bronkiolus, mengurangi m area pertukaran udara yang tersedia dan mengurangi pasokan oksigen ke dalam darah, sehingga darah tidak mampu mengeluarkan karbon dioksida secaraa efektif. Bronkitis kronis mengacu pada radang selaput s lendir di saluran pernapasan yang diakibatkan oleh infeksi atau sebaliknya,, menyebabkan peningkatan produksi sekresi yang menghambat saluran napas. Hal ini menyebabkan gejala batuk dan napas yang pendek. Perlu diperhatikan bahwa jaringan dan fungsi paru-paru tidak bisa dipulihkan kembali ke kondisi semula setelah terjadinya kerusakan, oleh karenaa itu, PPOK merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. 4. Apakah gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronik bisa dikenali dengan mudah? 2
Gejala gejala umum antara lain: Batuk untuk jangkaa waktu yang lama Dahak dalam jumlah yang banyak Sesak napas, terutama saat melakukan latihan fisik Kesulitan bernapass Penurunan kekuatan dan aktivitas fisik Hipoksia (kekurangan oksigenn dalam tingkat yang parah) dengan bibir, tangan, dan kaki berubah warna menjadi kebiruan PPOK awal tidak menunjukkan gejala gejala yang jelas. Namun N seiring dengan peningkatann kerusakan fungsi paru paru, pasien dengan PPOK stadium moderat hingga parah akan mengalami sesak napas, penurunan aktivitas a atau bahkan hipoksia. 5. Bagaimana cara untuk menyelidiki dan mendiagnosis Penyakit Paru Obstruktif Kronik? Jika dokter menduga pasien menderita PPOK, dokter bisa menetapkan pemeriksaan kesehatan sebagian atau secara menyeluruh terhadapp diri pasien: Pemeriksaan fungsi paru Ini merupakan cara yang umum digunakan untuk mendiagnosis PPOK. Dengan beberapa kali meniup udara ke dalam Spirometri, data kapasitas paru paru dan kecepatan pernapasan bisa diperoleh untuk mendiagnos sis apakah pasien menderita PPOK. Pemeriksaan fungsi paru juga biasanyaa digunakann untuk menilai tahapan stadium penyakit. Sinar X Dada Penyinaran Sinar X ke dada bisa digunakan untuk keperluan diagnosis tahapan emfisema. Dokter biasanya menggunakan penyinaran Sinar X ke dada untuk memeriksa dan memastikan kemungkinan penyakit paru paru atau jantung lainnya, misalnya TBC dan kanker paru paru. Analisis gas darah arteri 3
Dokter akan mengambil darah dari arteri pasien untuk menganalisism s kadar oksigen dan kandungan CO2 dalam darah. Pemeriksaan ini memiliki tingkat risiko tertentu dan biasanya digunakan pada pasien PPOK stadium lebihh lanjut, untuk menentukann apakah pasien memerlukan terapi oksigen jangka j panjang. Ada cara mum lainnyaa untuk mengukur kandungan oksigen. Pengukuran ini dilakukan dengan menjepitkan alat kecil di jari pasien untuk mendeteksi kandungan oksigen dari permukaan kulit. Hal ini dilakukan dengan cepat dan tidak menyebabkan luka, tetapi tidak bisa memberikan informasi tingkat CO2 dan data lainnya. Pemeriksaan dahak Pemeriksaan dahak digunakan untuk memastikan kemungkinan penyakit paru paru lainnya, misalnya kanker paru paruu dan TBC. Ketika K kondisi pasien PPOK menjadi semakin parah (dahak dengan nanah yang lebihh banyak dan mengalami kesulitan bernapas), dahak bisa digunakan untuk melakukan pemeriksaan bakteri, yang membantu prosess diagnosis dan pengobatan. 6. Apa tindakan pengobatan terhadap Penyakit Paru P Obstruktif Kronik? Kerusakan pada jaringan dan fungsi paru paru pasien tidak bisa dipulihkan ke kondisi semula. Dengann demikian,, PPOK merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Berhenti merokok Berhenti merokok bisa meringankan batuk dan mengurangi jumlah dahak serta memperlambat kerusakan yang terjadi. Pasien bisa mendapatkan konseling dan/atau terapi obat untuk membantu menghentikan kebiasaan tersebut. Terapi obat Obat bisa membantu meningkatka an kondisi kesehatan pasien dan mengurangi dampak penyakit terhadap kehidupan pasien sehari hari. Obat secara umum meliputi: 1. Bronkodilator: mengendurkann otot otot di saluran napas, n sehingga menyebabkan dilatasi jalan napas dan meringankan gejala. Adaa dua jenis 4
bronkodilator, oral dan inhaler dosis terukur. Inhalerr dosis terukur bisa memberikan obat ke dalam saluran napas secara langsung. Jikaa metode inhalasii dilakukan dengan benar, dosis yang dibutuhkan bisa lebih kecil dibandingkan dengan bronkodilator oral, dan efek samping obat obatan, misalnya palpitasi, tangan gemetar, sulit tidur, sakit kepala, mulut kering, dan kram otot bisa dikurangi. 2. Steroid: bisa mengurangi peradangan saluran napas, tetapi tidak semua pasien akan merasa lebih baikk setelah menggunakannya. Penggunaan steroid oral jangka panjang bisa memberikan efek samping berupa penurunan tingkat kekebalan tubuh dan osteoporosis (keropos tulang); ; sementaraa penggunaan steroid semprot bisa menyebabkan sakit tenggorokan dan infeksi monilia di tenggorokan, namun memiliki efek samping yang lebih sedikit pada seluruh tubuh bila dibandingkan dengan steroid oral. 3. Antibiotik: dokter akan meresepkan obat untuk pasien yang menderita infeksi bakteri untuk mengendalikan infeksinya. 4. Ekspektoran: mengencerkan dahak untuk pengeluaran dahak yang lebih mudah. Terapi oksigen jangka panjang Dokter akan meresepkan terapi t oksigen jangka panjang kepada pasienn yang mengalami kekurangan oksigen dalam tingkat yang parah. Setelah S dilakukan penilaian oleh dokter dan terapis, pasien harus memasang konsentrator oksigen dan membawa peralatan portabel dan ringan apabilaa ingin keluar rumah. Pasien wajib mengikuti petunjuk dokter tentang penggunaan konsentrasi oksigen yang tepat dan tidak boleh menyesuaikannya atas pertimbangannya sendiri. Perawatan rehabilitasi paru Hal ini bisa mengurangi kebutuhan akan rawat inap dan meningkatkann kualitas hidup pasien. Perawatan umumnya mencakup pengajaran keterampilan untuk mengendalikann asma, latihan pernapasan, metode penghilangan dahak (misalnyaa postur dan keterampilan untuk mengeluarkan dahak), koordinasi pernapasan dan gerakan tubuh, latihan fisik, metode untuk menyimpan kekuatan fisik, keterampilan pengelolaan stres, dan rekomendasi pola makan. Perawatan rehabilitasi paru disediakan oleh para ahli kesehatan profesional, termasuk dokter, d fisioterapis, terapis, dan ahli gizi. 5
Bedah Beberapa pasien dengan emfisema berat mungkin memerlukan tindakan bedah untuk mengeluarkan bagian dari paru paru. Dalam beberapa tahun terakhir, ada tindakan pengobatan dengan d operasi baru yang memberikan trauma lebih ringan kepada diri pasien, dengan menggunakan bronkoskop untuk menanamkan katup kecil di dalam bronkus tertentuu yang akan meruntuhkan lobus paru paru lobus paru paru, dan memberikan lebih banyak k ruang yang sesuai. Metode ini memiliki tujuann yang samaa dengan pengangkatan ekspansi kepada lobus lainnya sehingga bisa mengurangi gejala penyakit dan meningkatkan daya tahan aktivitas. 6
5. Apa komplikasi dari Penyakit Paru Obstruktif f Kronik? Pengobatan: Pasien rentan terhadap infeksi bakteri di paru paru. Selain itu, pasien PPOK cenderung mengalami hipertensi, penyakit jantung,, kanker paru paru, dan depresi. 6. Bagaimana cara untuk merawat pasien penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik? Pasien harus menyadari hal hal berikut ini: Jangan merokok atau segera berhenti merokok Manajemen gejala: penggunaan obat secara rutin dan benar sesuai dengan petunjuk dokter. Jika ada perubahan pada gejala yang dialami, misalnya sesak napas terasa lebih intens padaa malam hari sehingga pasien tidak bisa tidur, maka pasien bisa meningkatk an dosis bronkodilator. Jika tidak ada perbaikan atau gejala malah memburuk setelah dilakukannya peningkatanp n dosis, maka pasien harus sesegera mungkin berkonsultasi dengan dokter. Olahraga secara teratur: Olahraga bisa melatih kebugaran fisik dan daya tahan pasien, tetapi tidak boleh dilakukan secara berlebihan dan tergantung pada kondisi tubuh dan kemampuannya sendiri. Pasien harus berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis bila diperlukan. Memperhatikan pola makan: makanan yang tidak terlalu mengiritasi, misalnya makanan yang terlalu dingin atau terlalu panas bisa memicu batuk yang disebabkan oleh iritasi pada tenggorokan; polaa makan yang rendah kandungan garam, rendah lemak, dan tinggi serat untuk mengurangi beban kerja jantung dan ginjal, sertaa meningkatkan kesehatan paru paru. 7