ANTI DUMPING DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL: SINKRONISASI PERATURAN ANTI DUMPING INDONESIA TERHADAP WTO ANTI DUMPING AGREEMENT

dokumen-dokumen yang mirip
UNIVERSITAS INDONESIA

Kata Kunci: National Treatment, Pajak Impor Dalam Industri Telepon Genggam, Kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri

PROBLEMATIKA KEDEWASAAN BERTINDAK DI DALAM HUKUM (STUDI PADA PRAKTEK NOTARIS DI KOTA MEDAN) TESIS OLEH. Bertrand A. Hasibuan / M.Kn.

ASAS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NASABAH DALAM ASURANSI SYARIAH (Studi Pada Asuransi Takaful Keluarga Cabang Medan)

KEDUDUKAN GUBERNUR SUMATERA-UTARA SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

TUGAS DAN FUNGSI KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH ADAT DI KABUPATEN PASAMAN (SUMATERA BARAT)

Key Words: Indications, Practice of Dumping, Laws

PELAKSANAAN PERJANJIAN BAGI HASIL ATAS TANAH PERTANIAN (Studi di Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara)

WEWENANG PEMERINTAH KOTA MEDAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA ANTARA PRODUSEN DAN KONSUMEN BERDASARKAN UU NO.8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

PERKAWINAN YANG DILANGSUNGKAN DI LUAR NEGERI DAN AKIBAT HUKUMNYA

PEMBERDAYAAN TUGAS DAN FUNGSI SURVEYOR KADASTRAL DALAM PENERBITAN SURAT UKUR DI WILAYAH KERJA KANTOR PERTAHANAN KOTA MEDAN

PELAKSAAN GADAI TANAH PERTANIAN DITINJAU DARI HUKUM AGRARIA (UU NO.5 TAHUN 1960) DAN HUKUM ISLAM DI KECAMATAN TILATANG KAMANG

SENGKETA PAJAK DAN UPAYA PENYELESAIANNYA ( Studi Pada Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur)

PERLINDUNGAN INDUSTRI DALAM NEGERI MELALUI TINDAKAN SAFEGUARD WORLD TRADE ORGANIZATION

MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI DISPUTE SETTLEMENT BODY (DSB) WORLD TRADE ORGANIZATION

ANALISIS PENERAPAN BEA MASUK DAN PPH PASAL 22 ATAS PEMBELIAN METERIAL IMPOR PADA PT. YAMAHA MUSIC MANUFACTURING INDONESIA SKRIPSI

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PATEN ASING YANG TELAH DIDAFTARKAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN

ANALISIS TERHADAP STATUS HUKUM DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA OUTSOURCING DALAM UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN

BEBERAPA KENDALA YURIDIS DAN SOSIOLOGIS DALAM PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH ULAYAT MASYARAKAT MINANGKABAU DI KABUPATEN TANAH DATAR

KETENTUAN HARMONISASI TARIF BEA MASUK DALAM RANGKA MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS REGIONAL DITINJAU DARI SUDUT KEPABEANAN

Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. implikasi positif dan negatif bagi perkembangan ekonomi negara-negara

Oleh : Putu Kartika Sastra Gde Made Swardhana Ida Bagus Surya Darmajaya. Bagian Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana

ASPEK-ASPEK HUKUM PENGEMBANGAN USAHA PELAYARAN NIAGA NASIONAL (Studi Kasus di Pelabuhan Belawan Medan)

PP 34/1996, BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PRINSIP-PRINSIP PERDAGANGAN DUNIA (GATT/WTO)

PENGARUH DANA MONETER INTERNASIONAL (IMF) DALAM KEBIJAKAN EKONOMI POLITIK INDONESIA PADA ERA ORDE BARU. Oleh : Astri Natalia Manurung

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INDUSTRI DALAM NEGERI DARI PRAKTEK DUMPING

PELAKSANAAN PEMBERIAN KREDIT KEPADA KOPERASI DENGAN PEMBEBANAN HAK TANGGUNGAN (Suatu Penelitian di PT Bank BUKOPIN Cabang Medan) TESIS.

PERLINDUNGAN HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL DIKAITKAN DENGAN KEPABEANAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO

Kata Kunci: Ekspresi budaya tradisional, Tarian tradisional, Perlindungan Hukum

TESIS untuk MAGISTER HUKUM PROGRAM MAGISTER HUKUM KONSENTRASI HUKUM KESEHATAN. Diajukan oleh : Erfen Gustiawan Suwangto NIM

EKSISTENSI BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN SEBAGAI SARANA PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN : PROBLEMATIK DALAM MENCARI KEADILAN OLEH KONSUMEN

Idham: Kajian kritis pelaksanaan konsolidasi tanah perkotaan dalam perspektif otonomi..., USU e-repository 2008

TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KEDUDUKAN KOMISARIS INDEPENDEN DALAM MEWUJUDKAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA PERUSAHAAN PUBLIK

UPAYA MENGURANGI POTENSI KERUGIAN NEGARA DARI PENYIMPANGAN IMPOR CBU

ANALISIS KOMPARATIF YURIDIS KEBIJAKAN ANTI DUMPING ANTARA INDONESIA DAN FILIPINA TESIS

SKRIPSI. Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum OLEH:

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ABSTRAK. Kata Kunci: Obligasi Daerah, Kewenangan, Pemerintahan Daerah. viii

PERANAN AJUDIKASI PENDAFTARAN TANAH DALAM PERCEPATAN PENSERTIFIKATAN TANAH (STUDY KANTOR PERTAHANAN KOTA MEDAN)

DAKWAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORPORASI DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN

TESIS. Diajukan Sebagai Syarat Menyelesaikan Program Pascasarjana (S-2) di Universitas Sumatera Utara. Oleh : AFIFA RANGKUTI / ILMU HUKUM

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG DITEMUKAN AKIBAT GEMPA DAN TSUNAMI (Penelitian di Kota Banda Aceh)

FAKTOR-FAKTOR YANG MENDASARI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PELAKSANAAN AKREDITASI RUMAH SAKIT DI KOTA MEDAN SEBUAH KAJIAN KUALITATIF TESIS

Lisa Junia ( ) Kata Kunci: Transaksi Elektronik Perbankan, Tanggung Jawab Bank, dan Perlindungan Nasabah

TESIS. Oleh : ALIDA NIM : Program Studi : Ilmu Hukum PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2003

2016, No dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.011/2013 dan berlaku sampai dengan tanggal 1 April 2016; c. bahwa berdasarkan ketentua

CONFLICT OF INTEREST TIDAK LANGSUNG OLEH DIREKTUR DALAM MENGELOLA PERSEROAN TERBATAS

TESIS. Oleh : SITI HAFSAH RAMADHANY MAGISTER KENOTARIATAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2003

Kata Kunci :perlindungan hukum, konsumen, dan perjanjian pengikatan jual beli.

KAJIAN HUKUM MENGENAI ALAT BUKTI KEPEMILIKAN TANAH MILIK ADAT DALAM PENDAFTARAN TANAH DI KOTA PADANGSIDIMPUAN

KEBIJAKAN FORMULASI FUNGSI KOMISI PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA MENURUT UNDANG UNDANG NO 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ABSTRAK. Kata kunci : OJK, klasula baku, perjanjian kredit, perlindungan konsumen.

DUMPING DAN ANTI-DUMPING SEBAGAI BENTUK UNFAIR TRADE PRACTICE DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Kata Kunci: Standby Letter of Credit, Prinsip Kehati-hatian, Bank. Universitas Kristen Maranatha

SEKOLAH PASCASARJANA USU MEDAN 2009

Bab I. Pendahuluan. adalah akumulasi keuntungan yang sebesar-besarnya (optimum profit). Tujuan ini

--- /1:;-:r HALAMANPENGESAHAN -~----~ Judul Tesis PENENTUAN COUNTRY OF ORIGIN MARKING DALAM KEPABEANAN DI INDONESIA

TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN ASURANSI PERTANIAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PETANI

TINJAUAN YURIDIS ATAS PENGGUNAAN KLAUSULA BAKU DALAM TRANSAKSI PENYEDIA JASA PENGIRIMAN YANG DILAKUKAN PT. CITRA VAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2/PMK.010/2018 TENTANG PENGENAAN BEA MASUK TINDAKAN PENGAMANAN TERHADAP IMPOR

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 533/KMK.01/1999 TENTANG

Latar Belakang dan Sejarah Terbentuknya. WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) Bagian Pertama. Fungsi WTO. Tujuan WTO 4/22/2015

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... 1 LEMBAR PENGESAHAN 2 LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TESIS.. 3 KATA PENGANTAR. 4 ABSTRACK... 7 INTISARI 8 DAFTAR ISI...

TESIS. Oleh : AMRAN NIM : Konsentrasi Hukum Ketataannegaraan

PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF OLEH KEPALA DESA DI KECAMATAN TUALANG KABUPATEN SIAK

PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA DI MALAYSIA

STRATEGI PENINGKATAN SUMBANGAN PIHAK KETIGA TERHADAP PAD DI PROVINSI SUMATERA UTARA SESUAI DENGAN KEWEWENANGAN OTONOMI DAERAH

TINJAUAN YURIDIS PENERAPAN PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN DIHUBUNGKAN DENGAN MALPRAKTIK DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN

ANALISIS PENGATURAN KRITERIA FASILITAS PENANAMAN MODAL DIKAITKAN DENGAN PRINSIP MOST FAVORED NATION (MFN)

Hak Pasien, Pemberian Insentif dan Perlindungan Hukum.

KEPENTINGAN UMUM DALAM PRIVATISASI PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO)

POLA PENYELESAIAN MASALAH PERTAHANAN PADA AREAL PERKEBUNAN DI SUMATERA UTARA (Studi Kasus Pada Areal PT. Perkebunan Nusantara-II)

BAB III PENUTUP. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan penyelesaian sengketa

BAHAN KULIAH HUKUM PERNIAGAAN/PERDAGANGAN INTERNASIONAL MATCH DAY 7 WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO)

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INDUSTRI DALAM NEGERI DALAM ASEAN CHINA FREE TRADE AGREEMENT (ACFTA) TESIS. Oleh MAYER HAYRANI DS /HK

Kata Kunci: Tukar-Menukar, Swasta, Pemerintah Daerah, Perlindungan Hukum.

PENULISAN HUKUM/SKRIPSI

HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL Dumping dan Anti Dumping

MODEL PENGANGKATAN TENAGA HONORER MENJADI CPNS ( Studi tentang Implementasi PP Nomor 56 Tahun 2012 di Kabupaten Klaten )

vii Universitas Kristen Maranatha

2015, No Menteri Perdagangan Nomor: 639/M-DAG/ SD/8/2015 tanggal 12 Agustus 2015 dan Surat Menteri Perdagangan Nomor: 799/M-DAG/SD/ 9/2015 tan

S K R I P S I TINDAKAN POLRI DALAM MENGUNGKAP JARINGAN SINDIKAT PERDAGANGAN PEREMPUAN

PENGARUH PENERAPAN PRINSIP NON DISKRIMINASI PENANAMAN MODAL DI INDONESIA

PELAKSANAAN PEMILIHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN PARADIGMA DEMOKRASI KONSTITUSIONAL (Studi Mengenai Sidang Umum MPR 1999)

ABSTRACT. Keywords: Import Duty Income, Inflation, Exchange Rate. vii. Universitas Kristen Maranatha

ANALISIS YURIDIS REHABILITASI TERHADAP PECANDU NARKOTIKA DALAM PERSPEKTIF PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA NASIONAL TESIS

KAJIAN KONSEP DAN STRATEGI PENGELOLAAN JALAN NASIONAL DAN PROPINSI DALAM ERA OTONOMI DAERAH TESIS MAGISTER. Oleh : LUSIANA

PENYELESAIAN KREDIT MACET DALAM PEMBERIAN KREDIT USAHA TANI MELALUI KOPERASI DI KABUPATEN BENGKALIS

ANALISIS KOMPARATIF YURIDIS KEBIJAKAN ANTIDUMPING ANTARA INDONESIA DAN FILIPINA. Novie Andriani Kesuma Suhaidi Mahmul Siregar Jelly Leviza

T E S I S PENYALAHGUNAAN PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU (PKWT) OLEH PERUSAHAAN

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI

TESIS. Oleh : ROHANI /ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2002

KATA PENGANTAR. sehingga skripsi ini berhasil penulis selesaikan. Penulisan skripsi ini yang berjudul PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK CIPTA ATAS BATIK

i UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

Oleh : Putu Ayu Satya Mahayani I Ketut Sujana Hukum Keperdataan, Fakultas Hukum, Universitas Udayana

Transkripsi:

ANTI DUMPING DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL: SINKRONISASI PERATURAN ANTI DUMPING INDONESIA TERHADAP WTO ANTI DUMPING AGREEMENT TESIS Oleh : RITA ERLINA 047005012/HK SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2006

ANTI-DUMPING IN INTERNATIONAL TRADE: SYNCHRONIZATION OF ANTI-DUMPING RULES IN INDONESIA TOWARD WTO ANTI DUMPING AGREEMENT Rita Edina* Bismar Nasution Runtung Sitepu** Runtung Sitepu** Mahmul Siregar** ABSTRACT Article VI General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994 governing anti-dumping is one of important instruments for the security of domestics industry of WTO members from unfair trade in the form of dumping action. Article VI GATT 1994 permits the authority of one nation to have additional customs duty in the form of anti-dumping custom duty toward imported products which are sold under price or with cheaper price from domestics price of the original products. The practice causes the loss for domestics industry from the original country where the products marketed. In order the custom duty will not be as the hindrance for the trade. With the reason to protect domestics industries, WTO manages comprehensively the ways of charging the custom duty to anti-dumping. Indonesia is as one of WTO members and ratified all WTO agreement based on Act No.7 of 1994 and it has implemented the clause at Article VI GATT 1994 through Government Rule No.34 of 1996 regarding Anti-Dumping Fee and returned fee. This rule gives authority in Indonesia to charge the custom duty of anti-dumping either for the temporary or for imported goods as dumping products. It is surely after checking process by special committee formed by the government. By using normative law research method with qualitative data analysis, various problems related to the policy in anti-dumping in Indonesia is described. The policy on anti-dumping in Indonesia is as a part from general policy on custom duty field. Here, Government Rule No.34 of 1996 is the basic implementation of antidumping and it is made as the implementation rule from Act No.10 of 1995 about the customs duty. Here. Government rule from Act No 10 of 1995 about customs duty. *Studentof Law Science Magister of School of Post Graduates Studies, North Sumatera Unversity. **Lecturer of Law Science Magister of School of Post Graduates Studies, North Sumatera Unversity.

The implementation of anti-dumping policy in Indonesia involves various institutions with special function and tasks, namely Indonesian of Anti-Dumping Committee (KADI), Ministry of Trade, Ministry of Financial, General Directorate of Customs Office, Tax Dispute Resolution Board. Although, on its implementation Government Rule NO 34 of 1996 gives much protection o domestics industry, it still has various problems either in the case of its implementation or its enforcement and its availability limit of human resources. However, generally the research on the policy of anti-dumping shows that the material of Government Rule No.34 of 196 has been synchronized with Anti Dumping Agreement, as it is attached in Article VI GATT 1994. Even, most of the material of government rule is similar to article VI GATT 1994. Further, based on review result, it is recommended to have the remedy on the rules of anti-dumping in Indonesia, the enforcement of institution, particularly Anti Dumping Committee in Indonesia. Also, the socialization from the rule of anti-dumping should be empowered, particularly by those business doers in order to know, understand and finally to use anti-dumping instrument for the sake of protecting domestics industries and national economy in general. Socialization is very important since the initial application of anti-dumping is the existence of claim from business field. Key words: - Import duty of anti-dumping - International trade - World Trade Organization (WTO).

ANTI DUMPING DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL : SINKRONISASI PERATURAN ANTI DUMPING INDONESIA TERHADAP WTO ANTI DUMPING AGREEMENT Rita Edina* Bismar Nasution Runtung Sitepu** Runtung Sitepu** Mahmul Siregar** INTISARI Article VI General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994 yang mengatur tentang anti dumping merupakan salah satu instrumen penting., bagi pengamanan industri dalam negeri suatu negara anggota WTO dari praktek perdagangan tidak adil (unfair trade) yang dilakukan dalam bentuk tindakan dumping. Article VI GATT 1994 ini mengijinkan otoritas di suatu negara untuk mengenakan bea tambahan dalam bentuk bea anti dumping terhadap produk-produk impor yang diduga dijual di bawah harga normal atau harga lebih murah dari harga di pasar domestik dari negara asal barang, sehingga praktek yang demikian menimbulkan kerugian bagi industri di dalam negeri dari negara tempat di pasarkan barang tersebut. Meskipun demikian, agar pengenaan bea masuk anti dumping ini justru tidak dipergunakan sebagai hambatan perdagangan dengan alasan melindungi industri dalam negeri, maka WTO mengatur secara komprehensif tata cara pengenaan bea masuk anti dumping. Indonesia sebagai salah satu negara anggota WTO dan telah meratifikasi seluruh kesepakatan WTO berdasarkan UU No. 7 Tahun 1994 telah mengimplementasikan ketentuan Article VI GATT 1994 melalui PP No. 34 Tahun 1996 tentang Bea Masuk Anti Dumping dan Bea Masuk Imbalan. PP ini memberikan wewenang kepada otoritas di Indonesia untuk mengenakan bea masuk anti dumping baik yang sifatnya sementara maupun tetap terhadap barang-barang impor yang diduga sebagai barang dumping. Tentunya setelah melalui proses pemeriksaan atau penyelidikan yang dilakukan Komite yang khusus dibentuk pemerintah untuk itu. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan analisis data kualitatif, coba diuraikan berbagai permasalahan terkait kebijakan anti dumping di Indonesia. Kebijakan anti dumping di Indonesia merupakan bagian dari kebijakan umum bidang kepabeanan. Oleh karena itu PP No. 34 Tahun 1996 sebagai dasar pelaksanaan anti dumping diletakkan sebagai peraturan pelaksana dari UU No. 10 1995 tentang Kepabeanan. Pelaksanaan kebijakan anti dumping di Indonesia *Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. **Dosen Magister Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

melibatkan berbagai lembaga yang masing-masing memiliki fungsi dan tugas khusus, yakni Komite Anti Dumping Indonesia (KADI), Menteri Perdagangan, Menteri Keuangan, Direktur Jenderal Bea dan Cukai dan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak. Meskipun dalam pelaksanaannya PP No. 34 Tahun 1996 telah banyak memberikan perlindungan terhadap industri dalam negeri, namun masih terdapat berbagai permasalahan dalam penerapannya, baik terkait dengan substansi aturan maupun cara penegakannya dan keterbatasan sumber daya manusia, Namun, secara umum kajian kebijakan anti dumping memperlihatkan bahwa materi dari PP No. 34 Tahun 1996 tersebut sinkron dengan Anti Dumping Agreement yang tercantum dalam Article VI GATT 1994. Bahkan kebanyakan dari materi PP tersebut sama dengan ketentuan Article VI GATT 1994. Selanjutnya berdasarkan hasil kajian direkomendasikan saran yang, pada dasarnya adalah menyangkut perlunya penyempurnaan peraturan anti dumping di Indonesia, penguatan kelembagaan, khususnya Komite Anti Dumping Indonesia dan perlu diperkuat sosialisasi dari peraturan anti dumping itu sendiri, agar masyarakat khususnya kalangan dunia usaha mengetahui, mernahami dan akhirnya memanfaatkan instrumen anti dumping guna melindungi industri di dalam negeri dan perekonomian nasional pada umumnya. Sosialisasi ini sangat penting karena bagaimana pun juga prakarsa awal penerapan anti dumping adalah pengaduan yang dilakukan oleh dunia usaha. Kata Kunci : - Bea Masuk Anti Dumping - Perdagangan Internasional - World Trade Organization (WTO)