E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

dokumen-dokumen yang mirip
E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL ANGKA MELALUI BERMAIN PANCING ANGKA BAGI ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBUAT SAPU LIDI MELALUI METODE LATIHAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS D.V

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBUAT RAK DARI KARDUS PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN 1 SAMPAI 10 MELALUI MEDIA KALUNG BERANGKA PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI MEDIA MANIK-MANIK BAGI ANAK TUNANETRA KELAS D-4 SLB TUNANETRA PAYAKUMBUH

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBUAT PEYEK RINUAK MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI DI KELAS VI SD NEGERI 30 SUNGAI NANAM KABUPATEN SOLOK

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENGGUNAAN MEDIA BENDA KONKRET UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA ANAK TUNAGRAHITA PADA POKOK BAHASAN PERKALIAN

PENERAPAN MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA DI SMP

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS II SDN SIDOTOPO WETAN I SURABAYA

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA DI KELAS IV SD N 16 PADANG BESI DENGAN MENGGUNAKAN METODE EKSPERIMEN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI METODE LATIHAN SISWA KELAS IV SD NEGERI 009 AIR EMAS KECAMATAN UKUI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI 003 KOTO PERAMBAHAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN BINA DIRI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE UNTUK ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS II SEMESTER 2 DI SLB

PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR IPA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER PADA SISWA KELAS V SDN 26 PASAMAN

STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATERI LISTENING BAHASA INGGRIS SISWA KELAS IX.E SMP NEGERI I BAJENG

Fatma Kumala 1, Sehatta Saragih 2, Nahor Murani Hutapea 3 No. Hp.

MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V DALAM PEMBELAJARAN PKn DENGAN MODEL GROUP INVESTIGATION DI SDN 05 PADANG PASIR KOTA PADANG

Nur Khasananah 1, Triyono 2, Joharman 3 FKIP, PGSD Universitas Sebelas Maret

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN

PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA MEMAHAMI ISI CERITA MELALUI METODE DISKUSI SISWA KELAS IV SDN NO. 2 TIBO KEC. SINDUE TOMBUSABORA

ARTIKEL PENELITIAN PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV A PADA PEMBELAJARAN IPS MELALUI MODEL SCRAMBLE DI SDN 03 KOTO PULAI PESISIR SELATAN.

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MELALUI METODE DEMONSTRASI

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN BRAIN BASED LEARNING DI SDN 20 KURAO PAGANG

UPAYA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERHITUNG PERMULAAN PADA ANAK DENGAN PERMAINAN ULAR TANGGA DI KB ABC BLORONG

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS SISWA SD KELAS III

PENERAPAN PROBLEM SOLVING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII SMP N 1 BANGUNTAPAN

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN METODE DISKUSI PADA PEMBELAJARAN IPA DI SD

ARTIKEL PENELITIAN PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA SISWA KELAS IV DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA TERPADU

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR NOTASI MUSIK MENGGUNAKAN APLIKASI ENCORE DI SMA NEGERI 7 PURWOREJO

Volume 7 Nomor 1 Juli 2017 P ISSN : E ISSN :

BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI PENDEKATAN GUIDED DISCOVERY LEARNING SISWA KELAS XE SMA NEGERI1 TANJUNGSARI, GUNUNG KIDUL TAHUN AJARAN 2012/2013

PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN INTEGRAL TAK TENTU MELALUI METODE RESITASI

HALAMAN PERSETUJUAN ARTIKEL PENELITIAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN PRAKTIK BINA DIRI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BONEKA MODEL MANUSIA UNTUK SISWA TUNAGRAHITA RINGAN SDLB

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA TENTANG PERTUMBUHAN TUMBUHAN MELALUI METODE EKSPERIMEN

PENINGKATAN PEMBELAJARAN DENGAN METODE EKSPERIMEN IPA DI KELAS IV SDN 20 GUNUNG TULEH PASAMAN BARAT

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI. Agustina Dwi Respati Wahyu Adi Muhtar

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

Jurusan Pedidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Tasikmalaya Jl. Siliwangi No. 24 Kota Tasikmalaya )

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

Joyful Learning Journal

Ermei Hijjah Handayani*, Elva Yasmi Amran**, Rini***

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MENGGUNAKAN METODE EKSPERIMEN DI SEKOLAH DASAR

Murniati 1,sainab 2. Kata Kunci : Hasil Belajar Kognitif, IPA Terpadu, Model Pembelajaran Aktif, dan Quiz Team

Oleh: Dewi Sri Yuliati 1, Zuhri D 2, Sehatta Saragih 3

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VB MELALUI PENDEKATAN PAILKEM DI SDN 29 GANTING UTARA KOTA PADANG

EFEKTIFITAS MEDIA PEMBELAJARAN MIPA UNTUK MENINGKATKAN HASIL PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK DI SMP N 3 TALAMAU. Yasman 1) 1 SMP N 3 Talamau

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI KELAS IV SD

UNION: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol 1 No 1, November 2013

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR FAKTOR DAN KELIPATAN BILANGAN MELALUI METODE CTL

JURNAL TUGAS AKHIR SKRIPSI

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK BERBASIS ASESMEN PORTOFOLIO UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SDN 1 TINGGARSARI

Oleh: Eni Musrifah SLB Setya Darma Surakarta ABSTRAK

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENGGUNAAN POHON FAKTOR PADA MATERI KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL DAN FAKTOR PERSEKUTUAN TERBESAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V PADA PEMBELAJARAN IPS MELALUI STRATEGI GUIDED TEACHING DI SDN 09 AIR PACAH PADANG

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF NARASI MENGGUNAKAN MODEL CONCEPT SENTENCE JURNAL. Oleh ENDANG SRI JAYANTI SUWARJO SITI RACHMAH S

PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR

PENERAPAN MEDIA PAPAN FLANEL DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG BANGUN DATAR SISWA KELAS III SDN 1 PANJER

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY UNTUK MENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN TENTANG KEBEBASAN BERORGANISASI

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENYIMPULKAN MELALUI METODE EKSPERIMEN PADA MATA PELAJARAN IPA

Nora Efmawati Syahrilfuddin, Hendri Marhadi,

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENGGUNAAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DI KELAS V SEKOLAH DASAR

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI METODE PEMBELAJARAN TANYA JAWAB (QUESTIONS ANSWER) PADA SISWA KELAS VI SDN 26 SUNGAI LIMAU

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PPKN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS IX.1 SMP N 4 PASAMAN. Sudirman 1) 1 SMP N 4 Pasaman

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV SD NEGERI PUCANGAN

Oleh Neli Yanti ABSTRACK

PENERAPAN PEMBELAJARAN METODE LATIHAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS VI SD NEGERI 007 KAMPUNG BARU KECAMATAN UKUI

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN METODE KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION MATA PELAJARAN PKN SD KOTA TEBING TINGGI

PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS IV PADA PEMBELAJARAN IPS MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE JIGSAW DI SDN 08 SUNGAI AUR PASAMAN BARAT

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI PESAWAT SEDERHANA DI SMP

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR AKUNTANSI

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII-C SMP NEGERI 3 LINGSAR PADA MATERI SEGIEMPAT MELALUI MODEL DISCOVERY LEARNING

PENERAPAN MODEL THINK PAIR SHARE

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Dengan Menggunakan Metode Diskusi di Kelas IV SDN 12 Biau

Jurnal Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sidoarjo Vol. 1, No. 2, September 2013 ISSN:

Transkripsi:

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENYETRIKA PAKAIAN ANAK TUNAGRAHITA SEDANG Oleh: Saptunar Abstract. The purpose of this study are: 1) Describe the process of improving the implementation of learning in improving the skills of ironing clothes with training methods and 2) Prove that if the training methods can enhance the skills of ironing clothes the child is a class VII in Tunagrahita SMPLB Pasaman Panti. This type of study is classroom action research (classroom action research) with two cycles are performed in collaboration with colleagues. Data obtained through observation and tests. Then analyzed qualitatively and quantitatively. The results showed that 1) the process of learning to improve skills training methods ironing done in two cycles. Cycle I made seven (7) meetings and the second cycle of five (5) meetings. Each cycle begins with the planning, implementation (initial activity, core and end), observation, and analysis and reflection. 2) The result of learning to practice the method of ironing skills are improved. It is proved: before treatment (assessment) the child's ironing skills: FN by (35%), RK (30%) and WT (25%). I cycle an increase in the skills of FN (80%), by RK (65%) and the WT is (60%). Whereas in the second cycle is increasing, where FN into (95%), RK (90%) and WT (85%). Suggested in the schools, teachers and researchers can use the method further for training in other skills to children Tunagrahita being. Kata kunci: Menyetrika pakaian; metode latihan; tunagrahita sedang. PENDAHULUAN Mengurus atau merawat diri merupakan hal yang sangat penting dikuasai oleh anak. Karena dalam kehidupannya, anak tidak mungkin selamanya harus dibantu oleh orang lain. Dengan demikian, pendidikan anak berkebutuhan khusus salah satunya diarahkan agar anak mampu mengurus diri sendiri dan hidup mandiri di masyarakat. Salah satu dari anak berkebutuhan khusus yang dimaksud adalah anak tunagrahita sedang. Anak tunagrahita sedang merupakan bagian dari anak berkebutuhan khusus yang memiliki intelegensi 30-50. Depdikbud (1995:6) menyatakan anak tunagrahita adalah: Anak tunagrahita yang mampu latih dipandang sebagai anak yang tidak dapat didik untuk mencapai prestasi akademik minimum yaitu kelas 1 SD, namun mempunyai potensi untuk belajar (1) menolong diri sendiri. (2) penyesuaian sosial dalam keluarga dan tetangga. (3) dapat melakukan kerja sederhana ditempat terlindung. (4) adanya gejala gejala klinis atau tanda- tanda fisik. Anak tunagrahita sedang ini memiliki keterbatasan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, tidak mampu memikirkan hal yang abstrak dan yang berbelit-belit. Akibat dari Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 102

keterbelakangan ini, anak tunagrahita sedang memiliki keterbatasan menerima pelajaran karena perhatiannya mudah beralih, kemampuan motorik yang kurang, perkembangan penyesuaian diri yang terbatas dan sebagainya. Dengan keadaan di atas, anak tunagrahita sedang juga memiliki keterbatasan dalam kemampuan merawat diri sendiri. Meskipun begitu, anak tunagrahita sedang masih bisa dilatih mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya dan lain sebagainya. Hal ini seperti yang diungkapkan Efendi (2009:90) bahwa kemampuan anak mampu latih yang perlu diberdayakan yaitu: 1) belajar mengurus diri sendiri, 2) belajar menyesuaikan di lingkungan, 3) mempelajari kegunaan ekonomi di rumah atau lembaga kursus. Artinya, anak tunagrahita mampu latih hanya dapat dilatih untuk mengurs diri sendiri melalui aktivitas sehari-hari serta melakukan fungsi sosial kemasyarakatan menurut kemampuannya. Untuk melatih anak tunagrahita sedang ini pada Sekolah Luar Biasa adalah termasuk mata pelajaran Bina Diri. Melalui pembelajaran bina diri, diberikan pendidikan dan bimbingan khusus untuk mengembangkan kemampuan yang masih mereka miliki sehingga ketergantungan anak tunagrahita sedang pada orang lain bisa dikurangi atau dihilangkan. Pembelajaran bina diri ditujukan untuk membina atau membantu diri anak didik dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Astati (2003:15) bahwa bina diri adalah suatu usaha dalam membangun diri individu baik sebagai individu maupun makluk sosial melalui pendidikan keluarga, di sekolah maupun di masyarakat, sehingga terwujud kemandirian dan ketelibatannya dalam kehidupan seharihari secara memadai. Berdasarkan hasil temuan di SMPLB Panti anak tunagrahita sedang kelas VII atau kelas I tingkat SMP yang terdiri dari tiga orang, kemampuan menyetrika bajunya masih kurang. Hal ini dilihat dari hasil asesmen (di lampiran) keterampilan menyetrika baju anak masih rendah (di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum/KKM). KKM yang ditetapkan guru adalah 65, sedangkan dari hasil asesmen anak hanya memperoleh nilai kemampuan menyetrika baju hanya 30 dan 35. Dari hasil asesmen terhadap keterampilan anak dalam menyetrika diketahui bahwa: FN masih tidak bisa menyetrika bagian depan baju sebelah kanan dan di sela-sela giwang baju, belum bisa menyetrika baju bagian belakangdan bagian lengan. Sedangkan RK masih belum bisa menyetrika bagian depan sebelah kiri dan kanan, di sela-sela giwang baju dan lengan sebelah kanan. Sedangkan WT masih belum bisa menyetrika bagian depan baju sebelah kiri dan kanan, di sela-sela giwang baju, bagian Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 103

belakang dan bagian lengan baju. Hasil pengamatan penulis selama ini ternyata FN mempunyai masalah dalam menyetrika baju di antaranya: arah setrika anak tidak beraturan (kadang kiri-kanan dan kadang atas-bawah sehingga baju kusut kembali, anak kurang memperhatikan mana yang sudut baju sehingga hasil setrikaan anak tidak bagus. Begitu juga hasil asesmen terhadap pada DW hampir sama dengan RK, kesulitan mereka dalam menyetrika baju hampir sama dengan FN. Cara mereka meletakkan setrika pada baju tidak beraturan, biasanya mereka menyetrika baju diletakkan setrika begitu saja lalu digosokkan ke baju kuat-kuat yang terkadang sering giwang baju copot terkena gosokan. Berdasarkan hasil di atas berarti bahwa kemampuan mereka bertiga dalam menyetrika baju masih rendah karena masih mengalami kesulitan dalam menjadikan baju licin dan indah dipandang. Berdasarkan permasalahan yang masih dialami anak di atas, mengakibatkan mereka masih memerlukan bantuan orang dalam menyetrika pakaiannya. Bila dilihat identifikasi awal keadaan fisik anak, anak tidak mengalami masalah dengan kemampuan motorik. Artinya, anak masih mempunyai kemampuan untuk bisa menyetrika baju dengan baik dan benar. Kemampuan sosialisasinya juga baik, anak tidak minder dan mau bergaul dengan teman sebayanya. Penampilan anak memang terkadang rapi dan terkadang acak-acakan. Karena, anak sering tampil dengan pakaian tidak digosok kalau tidak ada yang menggosokkan pakaiannya di rumah. Hal ini mungkin anak kurang memperhatikan penampilannya dan masih kurang merawat diri sendiri. Melatih anak menguasai suatu keterampilan, perlu digunakan metode yang tepat. Karena metode yang tepat dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini penulis akan menggunakan metode latihan. Sebab, pada metode latihan, anak dilatih secara berulang-ulang, diberikan secara teratur dan berurutan, sehingga akan mudah dipahami anak dan akhirnya keterampilan tersebut benar benar menjadi miliknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (2006:52) bahwa dengan latihan anak akan belajar secara sungguhsungguh, dimana anak diberikan kesempatan yang lebih banyak untuk mengulang-ulang kegiatan yang sama, karena apabila anak tersebut tidak mengerti pada satu langkah maka akan diajarkan lagi dan dilakukan secara berulang-ulang sampai mengerti. Ini dilakukan agar mereka mampu menguasai keterampilan menyetrika pakaian secara mandiri nantinya. Berdasarkan uraian di atas maka penulis berkolaborasi dengan teman sejawat akan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan metode latihan untuk meningkatkan keterampilan menyetrika baju pada anak tunagrahita sedang kelas VII di Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 104

SMPLB Panti Pasaman. Rerumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: Bagaimana pelaksanaan pembelajaran keterampilan menyetrika pakaian yaitu baju kemeja (sekolah) melalui metode latihan bagi anak tunagrahita sedang kelas VII di SMPLB Panti Pasaman? Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan keterampilan keterampilan menyetrika pakaian melalui metode latihan bagi anak tunagrahita sedang kelas VII di SMPLB Panti Pasaman dan 2) mengetahui hasil dari upaya meningkatkan meningkatkan keterampilan menyetrika pakaian melalui metode latihan bagi anak tunagrahita sedang kelas VII di SMPLB Panti Pasaman. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), yang dilaksanakan pada mata pelajaran Pendidikan Menolong Diri Sendiri. Pada penelitian ini menggunakan variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan menyetrika pakaian dengan baik dan benar. Sedangkan variabel bebas yaitu metode latihan, yaitu melatih anak secara berulang-ulang agar keterampilan menyetrika pakaian tersebut dapat dimiliki anak. Subjek penelitian adalah seorang guru kelas dan tiga orang anak tunagrahita sedang dengan inisial FN, RK dan WT Kelas VII di SMPLB Panti Pasaman. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Prosedur penelitian tindakan adalah penelitian tindakan dipandang sebagai suatu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. siklus spiral terdiri atas komponen Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan tes perbuatan dalam melakukan langkah menyetrika pakaian. Analisa data dilakukan secara kualitatif deskriptif dan kuantitatif. HASIL PENELITIAN 1. Pelaksanaan Siklus I Siklus I dilakukan mulai tanggal 18 Mei sampai tanggal 1 Juni 2012 dengan tujuh kali pertemuan. 1) Perencanaan I melakukan: menyusun rancangan pembelajaran (RPP), format observasi, format penilaian, merancang pengelolaan kelas dan memotivasi siswaa. 2) Tindakan dilakukan sebanyak tujuh kali pertemuan, setiap pertemuan dengan langkah kegiatan awal; kegiatan inti dengan menggunakan metode latihan dan kegiatan akhir. Setiap pertemuan dilakukan tes. 3) Observasi I: a) Aktivitas guru dalam kegiatan Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 105

pembelajaran pada siklus I berlangsung telah sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya namun masih terfokus pada anak yang sudah bisa dan menyuruh anak yang lain memperhatikan kegiatan menyetrika yang dilakukannya. Bila anak tidak bisa, maka diberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan anak, anak sudah bisa menyambungkan setrika pada listrik dan menyetel kadar panas dari setrika. Hasil dari kerja anakpun berbeda-beda. Dari hasil terakhir diperoleh bahwa FN (80%), RK (65%) dan WT (60%). Berarti baru FN dan RK yang sudah dan di atas KKM (65). 4) Refleksi data, masih ada anak yang masih perlu bantuan dan masih ada yang belum bisa dilakukan anak dengan baik dan rapi, oleh sebab itu dari kesepatakan (diskusi) antara peneliti dan kolaborator direfleksikan agar dilanjutkan pada siklus II. 2. Pelaksanaan Siklus I Siklus I dilakukan dilakukan sebanyak lima kali pertemuan yaitu dimulai 7 sampai 15 Juni 2012. Dari siklus II dilakukan: 1) Perencanaan I melakukan: menyusun rancangan pembelajaran (RPP), format observasi, format penilaian, merancang pengelolaan kelas dan memotivasi siswa. 2) Tindakan dilakukan sebanyak tujuh kali pertemuan, setiap pertemuan dengan langkan kegiatan awal; kegiatan inti dengan menggunakan metode latihan dalam melakukan langkah menyetrika pakaian dan kegiatan akhir. Setiap pertemuan dilakukan tes. 3) Observasi : a) Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran telah sesuai dengan rencana. Karena motivasi dan kemampuan anak berbeda maka guru memberikan perlakuan yang berbeda untuk masing-masing anak. Bila anak tidak bisa, maka diberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan anak, anak mulai mulai termotivasi dan semangat belajar. Hasil teraakhir pertemuan di siklus II ini diperoleh FN (95%), RK (90%) dan WT (85%). Berarti bahwa semua anak sudah memperoleh kemampuan di atas KKM yakni (65%). 4) Refleksi data, peneliti dan kolaborator menyimpulkan bahwa pada umumnya keterampilan anak dalam menyetrika pakaian sudah ada peningkatan. Dengan demikian peneliti dan kolaborator sepakat untuk mengakhiri tindakan pada siklus II ini. 3. Analisis Data Analisis data kuantitatif dari hasil tes kemampuan menyetrika pakaian yang telah ditetapkan. Kemampuan anak sebelum dilakukan tindakan sebagai berikut: Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 106

Persentase kemampuan menyetrika pakaian 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 35 30 25 FN RK WT Grafik 1. Kemampuan menyetrika pakaian (hasil asesmen) Berdasarkan grafik diketahui kemampuaan FN dalam menyetrika pakaian (35%), RK (30%) dan WT baru (25%) dari langkah menyetrika pakaian yang diujikan kepada anak.. Hasil tes menunjukkan bahwa pada umumnya baik, FN, RK dan WT masih rendah dan belum bisa dalam menyetrika pakaian. Peningkataan kemampuan menyetrika pakaian anak tunagrahita sedang kelas VII SMPLB Panti pada siklus I inii dapat dilihat sebagai berikut: Persentase kemampuan menyetrika pakaian 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 35 80 30 65 25 60 Asesmen Siklus I FN RK WT Grafik 2. Peningkaatan kemampuan menyetrika pakaian (hasil asesmen dan siklus I) Berdasarkan data diketahui FN peningkatannya dari hasil asesmen dan akhir siklus I adalah (45%), RK (35%), WT juga sebesar (35%). Berarti dari hasil ini dapat diketahui bahwa peningkatan keterampilan menyetrika pakaian yang terbesar adalah pada FN dibanding kedua anak yang lainnya. Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 107

Pada siklus II ini pembelajaran lebih diarahkan pada keterampilan atau langkah yang masih belum dikuasaii oleh anak. Hasil tes dari keterampilan menyetrika pakaian masing-masing anak tunagrahita sedang pada siklus II dapat digambarkan sebagai berikut: Persentase kemampuan menyetrika pakaian 100 80 60 40 20 0 95 80 90 85 65 60 Siklus I Siklus II FN RK W Grafik 3. Peningkaatan kemampuan menyetrika pakaian (hasil siklus I dan siklus I) Berdasarkan grafik di atas maka dapat diketahui bahwa pada siklus III ini FN pada akhir pertemuan siklus II kemampuannya dalam menyetrika pakaian sudah sangat meningkat yakni (95%). Kategori persentase paling tinggi adalah 100% dari 10 item langkah menyetrika pakaian yang telah ditetapkan. Di samping itu nilaii kemampuan untuk RK sampai akhir pertemuan siklus II ini memperoleh (90%), kemampuan WT (80%). PEMBAHASAN Pada pelaksanaan pembelajaran keterampilan menyetrika pakaian melalui metode latihan peneliti sudah berupaya menjadi seorang guru yang dapat melaksanakan proses pembelajaran semaksimal mungkin sesuai langkah-langkah yang telah direncanakan. Namun peneliti merasa bahwa kemampuan anak dalam menyetrika pakaian belumlah sempurna, masih dapat kekurangannya dan membutuhkan waktu yang panjang. Anak tunagrahita sedang masih bisa dididik dan dilatih menguasai keterampilan untuk menolong dirinya sendiri. Oleh sebab itu, untuk menguasai keterampilan menyetrika pakaian pada penelitian ini digunakan metode latihan yang lebih mengarahkann anak belajar Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 108

dan berlatih secara berulang-ulang melakukan langkah menyetrika pakaian sampai keterampilan itu mampu dilakukan anak secara mandiri sesuai kemampuannya. Proses pembelajaran menyetrika pakaian dengan menggunakan metode latihan dilakukan dengan peraga dan bertahap serta latihan berulang-ulang. Pembelajaran menyetrika pakaian dengan metode latihan diberikan dengan peraga sekaligus dengan penjelasan yang dapat dilihat dan didengar anak sehingga dapat dicontoh anak cara melakukan keterampilan tersebut, sehingga latihan berulang-ulang maka pengetahuan atau keterampilan dapat dimiliki. Hal ini seperti yang dikemukakan Winarno Surachmad (1978:106) ialah suatu metode dalam pendidikan dan pembelajaran dengan jalan melatih anak terhadap bahan pembelajaran yang sudah diberikan. Metode ini banyak digunakan untuk latihan motoris yang bersifat kecakapan, melatih ulang pembelajaran yang sudah diberikan, melatih berpikir cepat, dan melatih anak memperkuat daya tanggapan anak terhadap pembelajaran. metode ini dilakukan sesingkat mungkin supaya tidak membosankan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan keterampilan menyetrika pakaian anak tunagrahita sedang yang diberikan melalui metode latihan. Hal ini terlihat bahwa anak sudah terampil menyetrika pakaian sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Anak yang dijadikan subjek penelitian ini memiliki perbedaan kemampuan. Hasil penelitian menunjukkan meningkatan kemampuan menyetrika pakaian juga berbeda, namun dari setiap tindakan mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat sampai pada akhir pertemuan siklus II FN pada akhir pertemuan siklus II kemampuannya sudah sangat meningkat yakni (95%). Kategori persentase paling tinggi adalah 100% dari 10 item langkah menyetrika pakaian yang telah ditetapkan. Di samping itu nilai kemampuan untuk RK sampai akhir pertemuan siklus II ini memperoleh (90%), kemampuan WT (85%). Dari hasil nilai yang diperoleh pada siklus II yang pada umumnya bertujuan adalah untuk mengulang materi yang belum bisa dan memantapkan hasil pada siklus diketahui bahwa kemampuan anak dalam menyetrika pakaian setelah diberikan perlakuan yaitu melalui metode latihan semakin meningkat. Namun demikian, secara sederhana dan untuk keperluannya sendiri mereka sudah terampil menyetrika pakaian sendiri. Hal ini terbukti bahwa meskipun anak tunagrahita sedang anak yang mengalami keterbatasan dalam intelegensi, seperti yang dikemukakan Djadja Raharja (2006:52) tunagrahita adalah kelainan yang ditandai dengan adanya keterbatasan yang signifikan Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 109

dalam aspek fungsi intelektual dan pelaku adaptif yang diekspresikan dalam bentuk konseptual, sosial dan keterampilan adaptif. Namun di sisi lain Sutjihati Somantri (2006:107) mengemukakan bahwa mereka masih bisa dididik mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian, melalui latihan secara berulang-ulang keterampilan itu akan bisa dimiliki anak. Hal ini seperti yang diungkapkan Syaiful Bahri Djamarah (1991:52) bahwa dengan latihan anak akan belajar secara sungguh-sungguh, dimana anak diberikan kesempatan yang lebih banyak untuk mengulang-ulang kegiatan yang sama, karena apabila anak tersebut tidak mengerti pada satu langkah maka akan diajarkan lagi dan dilakukan secara berulang-ulang sampai mengerti. Ini dilakukan dengan harapan dengan harapan mereka mampu melakukan kegiatan-kegiatan lain dalam kehidupan sehari-hari anak secara mandiri nantinya. Dengan demikian metode latihan dapat meningkatkan keterampilan menyetrika pakaian pada anak tunagrahita sedang kelas VII di SMPLB Panti Pasaman. PENUTUP Kesimpulan Proses pelaksanaan pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan menyetrika pakaian melalui metode latihan pada anak tunagrahita sedang. Metode latihan ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan menyetrika pakaian. Digunakannya metode latihan diharapkan dapat menyetrika pakaian dengan latihan yang berulang-ulang. Proses pelaksanaan pembelajaran keterampilan menyetrika pakaian dengan menggunakan metode latihan dilakukan dengan dua siklus. Masing-masing siklus yang dilakukan adalah: a) perencanaan diantaranya: membuat RPP, mempersiapkan media, format observasi dan format penilaian. b) Pelaksanaan, yakni melaksanakan pembelajaran menyetrika pakaian dengan metode latihan. Kegiatan yang dilakukan antara lain: kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir serta evaluasi. c) Pengamatan, yakni mengamati segala kegiatan yang terjadi saat proses pembelajaran baik yang dilakukan guru maupun anak. d) Refleksi, yakni memberikan gambaran tentang hasil yang diperoleh dari pengamatan. Baik yang telah dicapai atau yang masih belum terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil tes kemampuan awal dan hasil tes setelah diberikan tindakan, serta hasil diskusi dengan kolaborator terlihat adanya peningkatan keterampilan menyetrika pakaian melalui metode latihan. Dimana anak sudah meningkat dan sudah mulai bisa Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 110

menyetrika pakaian sesuai dengan kemampuaannya. Hal ini terbukti dari 10 langkah menyetrika pakaian) telah terjadi peningkatan dari hasil tes saat asessmen, silus I dan Siklus II yakni: FN saat asesmen kemampuan menyetrika pakaiannya adalah (35%), siklus I meningkat menjadi (80%) dan siklus II menjadi (95%). RK saat asesmen kemampuannya (30%), silus I (65%) dan siklus II (90%). Kemampuan WT saat asesmen adalah (25%), siklus I adaalah (60%) dan siklus II adalah (85%). Namun hasil dari penelitian di atas diketahui bahwa kemampuan anak berbeda hal ini sesuai dengan tingkat kemampuan anak masing-masing. Jadi, meskipun diberi perlakuan yang sama atau malah lebih untuk anak yang masih memerlukan bimbingan, namun hasilnya tetap berbeda. Artinya tidak semua kemampuan anak dapat disamakan. Saran Berdasarkan hasi penelitian di atas maka dapat disarankan sebagai berikut: 1) Bagi guru hendaknya lebih memperhatikan karakteristik anak dan membantu kesulitan dari anak khususnya dalam meningkatkan keterampilan menyetrika pakaian. Untuk itu dalam meningkatkan keterampilan menyetrika pakaian ini dapat diberikan dengan metode latihan. 2) Bagi calon peneliti berikutnya untuk meningkatkan hasil belajar anak dalam meningkatkan keterampilan menyetrika pakaian dapat menggunakan metode latihan yang lebih bervariasi dengan model lain. DAFTAR RUJUKAN Arikunto, Suharsimi. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Bumi Aksara. Astati, (2003). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Depdikbud. Depdikbud (1995). Kemampuan Merawat Diri Untuk SDLB Tunagrahita Kelas III. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Denis. (2010). Langkah Tuntas Menyetrika. Online: http://www.konveksi.org/8-langkahtuntas-menyetrika.php Djamarah, Syaiful Bahri. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. ------------------------. (1991). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Efendi, Moh. (2009). Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: Bumi Aksara. Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 111

Sumantri, Mulyani dan Johar Permana. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta CV Maulana. Surakhmad, Winarno. (1998). Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito Wardani, I.G.A.K. (2007).Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka. Wantah, Maria J. (2007). Pengembangan Kemandirian Anak Tunagrahita Mampu Latih. Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Tinggi. Wiriaatmaja, Rochiati. (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda Karya Saptunar Jurusan PLB FIP UNP 112