PENGIMPLEMENTASIAN PENDIDIKAN KARAKTER OLEH GURU SEJARAH

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Peningkatan mutu pendidikan terus dilakukan dalam mewujudkan sumber

PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN SEBAGAI PEMBENTUKKAN KARAKTER SISWA KELAS V SDN NGLETH 1 KOTA KEDIRI

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Upaya mewujudkan pendidikan karakter di Indonesia yang telah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. didik, sehingga menghasilkan peserta didik yang pintar tetapi tidak

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Suatu proses pendidikan tidak lepas dari Kegiatan Belajar Mengajar

BAB I PENDAHULUAN. seutuhnya sangatlah tidak mungkin tanpa melalui proses pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang

Tujuan pendidikan adalah membentuk seorang yang berkualitas dan

BAB I PENDAHULUAN. karena itu dibutuhkan sistem pendidikan dan manajemen sekolah yang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan wahana mengubah kepribadian dan pengembangan diri. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. merubah dirinya menjadi individu yang lebih baik. Pendidikan berperan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu sendi kehidupan. Melalui pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejarah dunia menunjukkan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM)

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha membina kepribadian dan kemajuan manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia jangka

BAB I PENDAHULUAN. dapat membawa perubahan ke arah lebih baik. Pendidikan di Indonesia harus

I. PENDAHULUAN. karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

BAB I PENDAHULUAN. adalah generasi penerus yang menentukan nasib bangsa di masa depan.

PEDOMAN PRAKTIKUM.

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses.

Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan

BAB I PENDAHULUAN. kewibawaan guru di mata peserta didik, pola hidup konsumtif, dan sebagainya

BAB I PENDAHULUAN. menanamkan kapasitas baru bagi semua orang untuk. pengetahuan dan keterampilan baru sehingga dapat diperoleh manusia

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab I ini, akan memaparkan beberapa sub judul yang akan digunakan

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :

STRATEGI DOSEN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DALAM MENANAMKAN KARAKTER ETIKA MAHASISWA DI STIKOM PGRI BANYUWANGI

BAB I PENDAHULUAN. berkala agar tetap relevan dengan perkembangan jaman. pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. didik dapat mempertahankan hidupnya kearah yang lebih baik. Nasional pada Pasal 1 disebutkan bahwa :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan pondasi kemajuan suatu negara, maju tidaknya

BAB I PENDAHULUAN. Mengingat mutu pendidikan adalah hal yang penting, pembelajaran pun harus

Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: DIVA Press, 2013), hlm Jamal Ma ruf Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. sikap, perilaku, intelektual serta karakter manusia. Menurut Undang-Undang

I. PENDAHULUAN. yang mana didalamnya terdapat pembelajaran tentang tingkah laku, norma

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gia Nikawanti, 2015 Pendidikan karakter disiplin pada anak usia dini

BAB I PENDAHULUAN. dijelaskan secara jelas pada uraian berikutnya.

BAB I PENDAHULUAN. Bab I ketentuan umum pada pasal 1 dalam UU ini dinyatakan bahwa :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan karakter merupakan salah satu upaya kebijakan dari pemerintah

A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan suatu tempat dimana bagi peserta didik untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

BAB I PENDAHULUAN. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan pondasi dasar dari kemajuan suatu bangsa, tidak ada

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian prasyarat Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Kewarganegaraan ROSY HANDAYANI A.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting, setiap manusia

BAB I PENDAHULUAN. serta bertanggung jawab. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dan pengembangan potensi ilmiah yang ada pada diri manusia secara. terjadi. Dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

PEMBENTUKAN WATAK BANGSA INDONESIA MELALUI PENDIDIKAN PANCASILA SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN BANGSA INDONESIA ABAD 21

BAB I PENDAHULUAN. menempuh pendidikan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. patriotisme, dan ciri khas yang menarik (karakter) dari individu dan masyarakat bangsa

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan harus berlangsung secara berkelanjutan. Dari sinilah kemudian muncul istilah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan. sengaja agar peserta didik memiliki pengetahuan, sikap dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemakaian seragam sekolah terhadap siswa di dalam suatu pendidikan

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA

BAB I P E N D A H U L U A N. Karakter yang secara legal-formal dirumuskan sebagai fungsi dan tujuan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. pembinaan budi pekerti luhur atau akhlak mulia yang antara lain berupa: (1)

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dalam bagian ini akan dikemukakan kesimpulan dan rekomendasi

PENGEMBANGAN KARAKTER KEMANDIRIAN MELALUI PRORGAM BOARDING SCHOOL (Studi Kasus Pada Siswa Di MTs Negeri Surakarta 1 Tahun Pelajaran 2013/2014)

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan untuk mengubah perilaku

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENGARUH KONDISI SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DAN PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang MasalahPendidikan di Indonesia diharapkan dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Beberapa tahun terakhir ini sering kita melihat siswa siswi yang dianggap

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. untuk memajukan kesejahteraan bangsa. Pendidikan adalah proses pembinaan

PENERAPAN KONSEP PEMBELAJARAN HOLISTIK DI SEKOLAH DASAR ISLAM RAUDLATUL JANNAH WARU SIDOARJO PADA MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. suatu upaya melalui pendidikan. Pendidikan adalah kompleks perbuatan yang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional, mendefinisikan pendidikan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di

BAB I PENDAHULUAN. yang memang harus terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan.

BAB I PENDAHULUAN. semakin pesat. Hal ini menuntut adanya sumber daya manusia yang. berkualitas, dengan begitu perkembangan yang ada dapat dikuasai,

memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB I PENDAHULUAN. peradaban yang lebih sempurna. Sebagaimana Undang Undang Dasar Negara

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemajuan suatu

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu wadah yang didalamnya terdapat suatu

Transkripsi:

PENGIMPLEMENTASIAN PENDIDIKAN KARAKTER OLEH GURU SEJARAH Lista Wahyuni Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang Jl. Semarang no 5 Malang E-mail: wahyuni_lista@yahoo.com Abstrak: tujuan dari penelitian ini antara lain mendeskripsikan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak.upaya guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak dan untuk mengetahui dampak dari pengimplementasian pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak. Menggunakan metode gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini menghasilkan bahwa pendidikan karakter telah diterapkan di SMA Negeri 1 Pagak melalui berbagai bidang seperti diterapkan dalam kurikulum, dalam kegiatan pengembangan diri, pengintegrasian pada mata pelajaran. Upaya yang dilakukan guru sejarah melalui penerapan dalam metode pembelajaran serta budaya sekolah. Dampak dari penerapan meskipun belum seluruh jumlah nilai karakter diterapkan. Dampak dari penerapan tersebut telah tampak siswa-siswi dalam aktivitas mereka di sekolah telah menunjukkan mulai berkembang. Kata Kunci: Implementasi, Guru Sejarah, Pendidikan Karakter Dalam UU RI no 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan serta membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat untuk mewujudkan cita-cita bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan berbangsa serta berupaya untuk mengembangkan potensi serta kemampuan peserta didik dan menjadikan mereka menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab. Seluruh lembaga satuan pendidikan di Indonesia tanpa terkecuali memiliki peran penting untuk merealisasikan fungsi pendidikan nasional tersebut. Semua jenjang pendidikan termasuk sekolah menengah atas memiliki peranan penting untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut. Berdasarkan Kerangka Acuan Pendidikan Karakter Tahun Anggaran 2010 disebutkan bahwa penerapan pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama, pembentukan karakter pada seorang anak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, satuan pendidikan dan lingkungan dimana siswa tinggal. Lingkungan

satuan pendidikan yang didalamnya terdapat berbagai komponen yang memiliki fungsi berbeda saling bekerjasama dalam membentuk karakter anak didik. Guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan (Sa ud,2009:32). Berbagai upaya dilakukan oleh tenaga pendidik dalam rangka menanamkan pendidikan karakter kepada para peserta didiknya agar tercapai citacita bangsa yakni memiliki generasi bangsa yang berkarakter. SMA Negeri 1 Pagak merupakan salah satu sekolah menengah atas yang terletak di pinggiran yakni di Kecamatan Pagak yaitu di daerah Malang Selatan dan merupakan satu satunya SMA Negeri di Kecamatan Pagak tersebut. Sejak tahun 2010 an SMA ini telah berupaya mengimplementasikan pendidikan karakter. Dalam penelitian ini akan mengkaji masalah yang pertama tentang pengimplementasian pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak, kedua tentang bagaimana upaya guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak, dan yang ketiga yaitu tentang dampak dari pengimplementasian pendidikan karakter tersebut. Tujuan dari diadakanya penelitian ini antara lain untuk mendeskripsikan bagaimana pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak, mendeskripsikan bagaimana upaya guru sejarah dalam menerapkan pendidikan karakter pada siswa -siswi di SMA Negeri I pagak, mendeskripsikan Bagaimana dampak dari pengimplementasian pendidikan karakter pada pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Pagak. METODE Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan penelitian mixed methods atau biasa disebut dengan metode gabungan, yaitu gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif digunakan sebagai pelengkap dari data kualitatif. Pengambilan data kualitatif dilakukan dengan tehnik wawancara, observasi, studi dokumenter. Sedangkan data kuantitatif diambil dengan tabulasi angket.

Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Pagak, Waka kepala sekolah SMA Negeri 1 Pagak bidang kurikulum, dan guru sejarah di SMA Negeri 1 Pagak. Peneliti menggunakan tehnik wawancara terbuka dimana yang diwawancara mengetahui atau sadar bahwa mereka sedang melakukan proses wawancara. Sedangkan observasi dilakukan peneliti dengan peneliti terhadap guru sejarah saat melaksanakan KBM. Studi dokumenter dengan menganalisis dokumen berupa KTSP, Silabus dan RPP dari guru sejarah SMA Negeri 1 Pagak serta melakukan dokumentasi dari kegiatan-kegiatan sekolah yang berkaitan dengan tema penelitian. Untuk data kuantitatif dilakukan dengan pengisian angket oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Pagak. Hasil dari angket ditabulasi dan dideskriptifkan secara naratif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMA Negeri 1 Pagak. Pengambilan sampel adalah 10 % dari jumlah populasi dan dilakukan secara acak. Dari 20 kelas dipilih 8 kelas sebagai kelas observasi. Sedangkan untuk angket diambil 56 responden dari 552 siswa. Tehnik analisis dalam penelitian ini menggunakan tehnik analisis induktif dimna data yang diperoleh oleh peneliti dideskripsikandan diidentifikasi mulai dari yang bersifat keseluruhan atau umum menuju ke yang lebih khusus. Pada penelitian ini menggunakan metode gabungan sehingga anaisis data dilakukan menyesuaikan dengan proses pengumpulan data yang telah dilakukan. Untuk data kualitatif dilakukan dengan analisis data kualitatif sedangkan untuk data kuantitatif dilakukan tabulasi penghitungan dalam bentuk persen sehingga diperoleh data yang bersifat kuantitatif dalam bentuk angka. Data kualitatif dianalisis dengan cara reduksi data Pada penelitian ini, peneliti melakukan wawancara kepada berbagai pihak seperti Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, serta Guru mata pelajaran Sejarah, kemudian observasi dan pengisian angket siswa serta menganalisis beberapa dokumen seperti KTSP, Silabus dan RPP Sejarah kelas X, XI dan XII SMA Negeri 1 Pagak. Pada pelaksanaan wawancara tersebut peneliti mengajukan beberapa pertanyaan guna mendapatkan data. Dari beberapa pertanyaan tersebut terdapat pertanyaan yang tidak termasuk dalam kajian penelitian, disini reduksi

data dilakukan. Peneliti memilah-milah hasil wawancara mana yang termasuk dalam data penelitian dan mana yang dianggap tidak berkaitan dengan kajian penelitian. Setelah melalui tahap reduksi data maka tahap selanjutnya yaitu penyajian data dimana pada tahap ini peneliti menyajikan data hasil wawancara, observasi, angket serta analisis dokumen KTSP, Silabus dan RPP Sejarah SMA Negeri 1 Pagak. Penyajian data nantinya berupa paparan deskriptif yang disertai dengan tabel sehingga dapat dipahami dengan mudah. Pada tahapan selanjutnya kesimpulan dimana pada penelitian ini berdasarkan hasil dari paparan data yang telah disajikan dibahas dan dikajiuntuk menjawab dari rumusan masalah selanjutnya ditarik kesimpulan sebagai hasil dari penelitian. Analisis data kuantitatif berupa angket Analisis data kuantitatif berupa angket dilakukan dengan analisis data deskriptif yaitu dengan menggunakan tabel tabulasi untuk mengetahui persen dan frekuensi dari hasil angket. Rumus yang digunakan dalam penghitungan angket tersebut yaitu: P = sampel sampel keseluruhan x 100% Keterangan : P sampel sampel keseluruhan = Persen = jumlah sampel yang memilih = jumlah sampel secara keseluruhan Analisis data yang dilakukan untuk melihat hasil dari seberapa besar tingkat pengimplementasian pendidikan karakter oleh guru sejarah di SMA Negeri 1 Pagak yaitu akan dideskripsikan melalui beberapa pernyataan yang telah ditetapkan dalam kemendiknas tentang pendidikan karakter tahun 2010. Dari hasil analisis data baik data kualitatif maupun data kuantitatif dibahas dan ditarik kesimpulan nantinya sebagai jawaban dari rumusan masalah serta sebagai hasil dari penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan dari penelitian ini menggambarkan bahwa pendidikan karakter telah mulai diimplementasikan di SMA Negeri 1 Pagak. Pengimplementasian Pendidikan Karakter di SMA Negeri 1 Pagak. SMA ini telah menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP dalam sebuah satuan pendidikan disusun berdasarkan landasan-landasan yang telah ditetapkan oleh pemerintah khususnya dinas pendidikan nasional. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Mulyasa (2010:21) bahwa KTSP merupakan suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakkan pada posisi yang dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu mengembangkannya dengan memperhatikan UU Sisdiknas no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 yaitu sebagai berikut: a) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. b) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis satuan pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik. c) Kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat BSNP (Mulyasa, 2010:12).

Pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak telah dilaksanakan sejak tahun 2010. Dalam KTSP yang dikembangkan di SMA Negeri 1 Pagak terdapat tujuan, visi dan Misi sekolah yang didalamnya secara tersirat telah tercantum bahwa dalam isi KTSP tersebut mulai mengembangkan dan mengimplementasikan nilai budaya dan karakter bangsa. Dalam UU Sisdiknas tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional antara lain mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Mengacu pada UU Sisdiknas tahun 2003 tentang pendidikan nasional, KTSP di SMA Negeri 1 Pagak disusun dan dikembangkan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia melalui berbagai program yang telah dicantumkan dalam KTSP tersebut. Penanaman nilai karakter di SMA Negeri 1 Pagak tercermin dalam tujuan, visi dan misi dari sekolah tersebut. Di samping itu bentuk pengimplementsian pendidikan karakter di sekolah tersebut dilakukan dengan mengentegrasikan nilai karakter kedalam mata pelajaran, melalui berbagai macam kegiatan pengembangan diri baik yang terprogram maupun tidak terprogram. Penanaman pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak dilaksanakan melalui pembiasaan serta program kegiatan pengembangan diri. Melalui kegiatankegiatan tersebut diatas secara tidak langsung siswa-siswi SMA Negeri 1 Pagak telah menerapkan pendidikan karakter. Semua kegiatan yang diikuti para siswa melatih mereka untuk bertanggung jawab atas pilihan mereka serta melatih mereka untuk disiplin dalam segala kegiatan. Dalam upaya pengimplementasian pendidikan karakter, SMA Negeri 1 Pagak melakukan tahapan persiapan, pelaksanaan hingga tahap evaluasi. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan Kepala Sekolah

SMA Negeri 1 Pagak dapat kita ketahui bahwa dalam langkah persiapan, pihak sekolah melakukan analisis tentang budaya yang ada di sekolah dan lingkungan sekitar sekolah kemudian ditarik sebuah kesimpulan. Dari hasil analisis tersebut dimusyawarahkan untuk membuat aturan yang selanjutnya di komunikasikan dengan wali murid dan diterapkan kepada siswa-siswinya. Sedangkan pada tahap pelaksanaan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak melibatkan seluruh warga sekolah termasuk guru wali kelas, tatib, BK dan semua guru mata pelajaran. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah tersebut dapat dilihat dari absensi, jurnal kelas dll. Pada tahap evaluasi, SMA Negeri 1 Pagak melakukan dengan cara mengakumulasikan semua nilai dan catatan yang dimiliki setiap guru mata pelajaran, absensi, catatan tatib, dan juga penilaian akademik yang pada akhirnya diakumulasikan dalam buku laporan penilaian (raport) pada saat akhir semester. Pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak telah ditanamkan mulai dari nilai keagamaan atau religius, melatih kejujuran serta disiplin yang mulai tergambar dalam tingkah laku siswa. Di samping itu pengimplementasian pendidikan karakter dilakukan melalui pengintegrasian dalam setiap mata pelajaran. Ini menjadi tanggung jawab setiap pendidik yang ada di SMA Negeri 1 Pagak. Mereka mencantumkan dalam bentuk Silabus dan RPP mereka masingmasing selain karena tuntutan dari pemberlakuan KTSP di SMA Negeri 1 Pagak ini. Gambar 1. Contoh Nilai Disiplin yang diterapkan di SMA Negeri 1 Pagak Berdasarkan gambar 1 adalah siswi SMA Negeri 1 Pagak yang membawa kendaraanya untuk diparkirkan di tempat parkir yang telah disediakan. ini merupakan perturan sekolah untuk melatih kedisiplinan siwa-siswi SMA Negeri 1

Pagak. Setiap hari siswa-siswi SMA Negeri 1 Pagak yang membawa kendaraan bermotor memasuki gerbang sekolah saat jam sekolah diharuskan turun dan mematikan mesin kendaraan bermotornya dan menuntun ke tempat parkir yang telah disediakan serta menatanya dengan rapi. Budaya ini dilakukan untuk menjaga ketertiban serta melatih kedisiplinan siswa-siswi SMA Negeri 1 Pagak. Upaya Guru Sejarah dalam mengimplementasikan Pendidikan Karakter di SMA Negeri 1 Pagak Pengimplementasian pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran menjadi tanggung jawab setiap guru mata pelajaran, tanpa terkecuali dengan guru sejarah. Mata pelajaran Sejarah juga memiliki peran dalam mengimplementasikan pendidikan karakter kepada para generasi bangsa. Mata pelajaran Sejarah merupakan mata pelajaran yang mempelajari masa lalu bukan berarti mempelajari dan menghafal peristiwa-peristiwa masa lalu saja, namun juga dijadikan sebagai pedoman untuk melangkah menuju kehidupan masa depan para generasi bangsa. Melalui mata pelajaran Sejarah siswa diharapkan dapat mengambil makna dari suatu peristiwa masa lalu serta mengerti bagaimana sikap yang akan mereka ambil untuk menentukan masa depan mereka, diharapkan mereka juga mengerti bagaimana identitas atau jati diri mereka, melatih mereka untuk menemukan jati diri mereka sendiri. Zuchdi (2011:29) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus yakni yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitif), perasaan (feeling), dan tingkah laku (action). Dalam Pelaksanaan pembelajaran kedua guru sejarah telah nampak melibatkan ketiga aspek tersebut. Misalnya dalam pengimplementasian nilai religi kedua guru selalu mengucapkan salam ada awal dan akhir pelajaran. Berdasarkan hasil wawancara terhadap kedua guru sejarah dapat peneliti ketahui bahwa upaya mereka dalam mengimplementasikan pendidikan karakter masih terhitung kurang maksimal untuk beberapa nilai karakter yang seharusnya diimplementasikan. Namun untuk karakter seperti religius, demokratis, mandiri, rasa ingin tahu, cinta tanah air, bersahabat dan beberapa lainnya sudah mulai terimplementasikan dengan baik, hal ini juga mungkin karena adanya faktor dalam diri siswa sendiri. Adanya kesadaran dari

siswa serta kebiasaan siswa juga turut mempengaruhi perkembangan pengimplementasian nilai karakter tersebut. Hasil analisis dari Silabus serta RPP yang digunakan oleh kedua guru sejarah dalam pembelajaran di SMA Negeri 1 Pagak dapat peneliti ketahui bahwa nilai karakter telah tercantum dalam silabus dan RPP. Berdasarkan hasil observasi terhadap 8 kelas yang dilakukan peneliti, pembelajaran yang dilakukan di kelas g dalam menjelaskan materi guru kurang membawa siswa untuk aktif dalam pembelajaran, siswa cenderung pasif, guru menjelaskan materi kemudian kadang memerintahkan siswa untuk mengerjakan soal pada lembar kerja siswa. Namun meskipun begitu juga mulai nampak penerapan karakter dengan membentuk kelompok dalam mengerjakan tugas, mengajak siswa untuk aktif dalam pembelajaran misalnya dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran serta melakukan tindakan peringatan jika ada siswa yang bandel dalam artian misalnya kurang memperhatikan saat guru menjelaskan dengan memberikan hukuman yang mendidik. Dalam hasil observasi terhadap kedua guru mata pelajaran memiliki ciri khas yang berbeda-beda dalam menyampaikan materi pembelajaran serta bagaimana mereka berupaya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter terhadap siswa-siswi mereka. Dampak Pengimplementasian Pendidikan Karakter Upaya yang telah dilakukan oleh guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak sudah tentu kan membawa dampak terhadap peserta didiknya. Berdasarkan kedua pendapat dari guru mata pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Pagak dalam wawancara yang telah dilakukan peneliti dapat kita ketahui bahwa dampak dari pengimplementasian pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak oleh guru sejarah sudah mulai nampak meskipun belum sempurna. Dari ke 18 nilai karakter yang diterapkan, masing-masing nilai karakter memiliki tingkat perkembangan sendiri-sendiri. Pengimplementasian nilai karakter tersebut secara keseluruhan sudah mulai berkembang di SMA Negeri 1 Pagak. Setiap nilai karakter telah nampak

mulai berkembang di SMA ini. Hal ini dapat kita lihat melalui hasil presentase diatas. Dibawah ini merupakan diagram pencapaian nilai karakter yang telah diimplementasikan berdasarkan hasil dari tabulasi angket. 80% 70% 60% 50% 40% 48% 75% 61% 57% 63% 73% 46% 70% 57% 50% 66% 75% 70% 71% 50% 61% 63% 69% 30% 20% 10% 0% Gambar 2. Hasil presentase dampak pengmplementasian nilai karakter terhadap siswa SMA Negeri 1 Pagak Gambar diatas merupakan hasil dari tabulasi angket siswa-siswi SMA Negeri 1 Pagak. Berdasarkan gambar diatas dapat kita ketahui bahwa pengimplementasian pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak telah mencapai pada tahap mulai berkembang. Pengimplementasian pendidikan karakter di lakukan oleh seluruh warga SMA Negeri 1 Pagak. Peran para tenaga pendidik di sekolah ini juga memiliki pengaruh besar dalam pengimplementasian pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak.

KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan Pendidikan karakter telah diterapkan di SMA Negeri 1 Pagak. Hal tersebut dapat dilihat dalam KTSP yang dikembangkan di SMA Negeri 1 Pagak. 18 nilai karakter telah mulai berkembang dikalangan para peserta didik SMA Negeri 1 Pagak. Nilai karakter dikembangkan melalui kegiatan pengembangan diri, kegiatan pembelajaran, peraturan-peraturan yang dibuat sekolah serta budaya yang dikembangkan di sekolah tersebut. Upaya guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak belum nampak maksimal namun pengimplementasian nilai karakter dalam mata pelajaran sejarah oleh para guru SMA Negeri 1 Pagak sudah dilakukan meski tidak semua dari nilai-nilai karakter tersebut diimplementasikan. Dalam Sillabus dan RPP mereka juga telah tercantum nilai karakter. Namun dalam pembelajarannya tidak semua nilai karakter yang terdapat dalam RPP mereka dapat implementasikan. Pengimplementasian pendidikan karakter terhadap siswa SMA Negeri 1 Pagak telah nampak mulai berkembang di kalangan siswa-siswi. Saran bagi mahasiswa jurusan pendidikan sejarah sebagai seorang calon pendidik menyarankan untuk benar-benar menguasai dan mampu menanamkan nilai karakter bangsa serta memulainya pada diri mereka sendiri dan diharapkan mampu mewujudkan proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai kepala sekolah disarankan untuk lebih memperhatikan para tenaga pendidik dengan mengadakan berbagai pelatihan tentang pembelajaran dengan pengimplementasian pendidikan karakter. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti tentang pengimplementasian pendidikan karakter diharapkan untuk meneliti secara rinci tentang dampak dari pengimplementasian pendidikan karakter tersebut karena dalam penelitian ini hanya memfokuskan pada upaya guru sejarah dalam mengimplementasikan pendiidkan karakter saja. DAFTAR RUJUKAN Dirjen Pendidikan Dasar. 2011. Pendidikan Karakter Untuk Membangun Karakter Bangsa. Jakarta: Policy Brief, 4 Juli 2011. ( Online), http://dikdas.kemdiknas.go.id. Diakses pada tanggal 21 Juli 2012

Mulyasa. 2010. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dokumen UU20-2003 sisdiknas pdf. (Online), (www.dikti.go.id ), diakses 21 Juli 2012. Sa ud, U.S. 2009. Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta Zuchdi, D. 2011. Pendidikan Karakter:dalam perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press