Media Ilmu Kesehatan Vol. 5, No. 2, Agustus 2016

dokumen-dokumen yang mirip
Program Studi Magister Keperawatan Sekolah Tingi Ilm Kesehatan Sint Carolus, Jalan Salemba Raya 41 Jakarta Pusat, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan

BAB 1 PENDAHULUAN. diobati, ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang terus-menerus yang

BAB I PENDAHULUAN. American Thoracic Society (ATS) dan European Respiratory Society (ERS)

BAB I PENDAHULUAN. peringkat kelima di seluruh dunia dalam beban penyakit dan peringkat

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronis ditandai dengan hambatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. polusi udara baik dalam maupun luar ruangan, serta polusi di tempat kerja. 1

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit yang dapat

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. berfokus dalam menangani masalah penyakit menular. Hal ini, berkembangnya kehidupan, terjadi perubahan pola struktur

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit yang mempunyai

INTISARI. Mahrita Sauriah 1 ; Yugo Susanto 2 ; Dita Ayulia 3

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular (noncommunicable

BAB III METODE PENELITIAN. obeservasional analitik dengan pendekatan cross sectional. ( ) ( ) ( )

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan 63% penyebab kematian di seluruh dunia dengan membunuh 36 juta jiwa

ABSTRAK FAAL PARU PADA PEROKOK DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DAN PEROKOK PASIF PASANGANNYA

BAB 1 PENDAHULUAN. yang ditandai dengan pembatasan aliran udara yang irreversibel (Celli & Macnee,

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau Chronic Obstructive

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TESIS O C T A R I A N Y PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIS DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI

BAB I PENDAHULUAN. dari penyebab kasus mortalitas dan morbiditas di negara-negara dengan. pendapatan tinggi dan pendapatan rendah.

BAB 4 METODE PENELITIAN

SKRIPSI. Diajukan guna melengkapi tugas dan memenuhi syarat syarat untuk menyelesaikan program pendidikan S1 Fisioterapi.

ABSTRAK KARAKTERISTIK PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) atau COPD (Chronic

TESIS OCTARIANY PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI

BAB 1 PENDAHULUAN. menyerang lebih dari 25% populasi dewasa. (Smeltzer & Bare, 2001)

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) sudah mulai menjadi

PENGARUH LATIHAN OTOT INSPIRASI TERHADAP PENURUNAN SKALA DISPNEA DAN PENINGKATAN KAPASITAS FUNGSIONAL PASIEN GAGAL JANTUNG. Tesis

BAB I PENDAHULUAN. PPOK merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati dengan beberapa efek

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) adalah penyakit yang dapat

PENGARUH INTERVENSI EDUKASI TENTANG SELF MANAGEMENT LATIHAN PURSED LIPS BREATHING TERHADAP EFIKASI DIRI DAN PEAK EXPIRATORY FLOW RATE PASIEN PPOK

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) termasuk ke dalam penyakit

Oleh: KHAIRUN NISA BINTI SALEH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Universitas Sumatera Utara

BAB I A. LATAR BELAKANG. morbiditas kronik dan mortalitas di seluruh dunia, sehingga banyak orang yang

BAB I PENDAHULUAN. Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan mengalami peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. Gagal jantung kronik (GJK) merupakan penyakit yang sering muncul dan

LAMPIRAN 1 LEMBAR PEMERIKSAAN PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Penyakit Paru Obstruktif Kronik selanjutnya disebut PPOK atau

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BALAKANG. sedang berkembang. Asma merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering

Pemakaian obat bronkodilator sehari- hari : -Antikolinergik,Beta2 Agonis, Xantin,Kombinasi SABA+Antikolinergik,Kombinasi LABA +Kortikosteroid,,dll

BAB I PENDAHULUAN. keterbatasan aliran udara yang menetap pada saluran napas dan bersifat progresif.

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS PADA WANITA DI RUMAH SAKIT HA. ROTINSULU BANDUNG PERIODE ARTIKEL

STATUS PEMERIKSAAN PENELITIAN : ANALISIS KUALITAS HIDUP PENDERITA PPOK SETELAH DILAKUKAN PROGRAM REHABILITASI PARU No : RS/No.

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) menurut Global Initiative of

BAB I PENDAHULUAN. biasanya progresif dan berhubungan dengan peningkatan respon inflamasi kronik

Efektifitas Edukasi Diabetes dalam Meningkatkan Kepatuhan Pengaturan Diet pada Diabetes Melitus Tipe 2

THE CHARACTERISTICS OF THE CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE PATIENTS AT IMMANUEL HOSPITAL BANDUNG IN 2012

BAB I PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada era modern saat ini, gaya hidup manusia masa kini tentu sudah

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi dan peningkatan perekonomian ke

LATAR BELAKANG. 72 Jurnal Kesehatan, ISSN , VOL. V. NO.1, MARET 2011, Hal 72-78

PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PENDERITA PPOM MELALUI PROGRAM REHABILITASI PARU DI RUMAH SAKIT DAN DI RUMAH

BAB I PENDAHULUAN. reversible di mana trakea dan bronkus berespon secara hiperaktif terhadap stimuli

PENGARUH PENAMBAHAN PURSED LIPS BREATHING EXERCISE PADA STATIC CYCLE INTENSITAS SEDANG TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN PADA PENDERITA PPOK

BAB I PENDAHULUAN. menjadi lemah ginjal, buta, menderita penyakit bagian kaki dan banyak

Suci Khasanah 1*, Madyo Maryoto 2. STIKES Harapan Bangsa Purwokerto

BAB I PENDAHULUAN. Sering juga penyaki-penyakit ini disebut dengan Cronic Obstruktive Lung

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

Kata kunci : asap rokok, batuk kronik, anak, dokter praktek swasta

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) yang berjumlah 96 pasien sesuai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stroke menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian khusus.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang besar di dunia luas dengan prevalensi, dan biaya yang tinggi. Penyakit ini

BAB I PENDAHULUAN. pada paru-paru terhadap partikel asing maupun gas (GOLD, 2013).

FORMAT PENGUMPULAN DATA. Judul : Pengaruh Bretahing Relaxation Dengan Menggunakan Teknik Balloon

Quality Outcome dan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Paru di R.S.& Puskesmas

BAB I PENDAHULUAN. insulin dependent diabetes melitus atau adult onset diabetes merupakan

: PPOK, Frekuensi pernafasan, Pursed lip breathing, Deep breathing

REHABILITASI PARU TERHADAP PERUBAHAN SESAK NAFAS DAN FATIGUE PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK)

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin

SKRIPSI PENGARUH SENAM LANSIA TERA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS TIDUR LANSIA DI YAYASAN WERDA SEJAHTERA DESA KAWAN KECAMATAN BANGLI

BAB I PENDAHULUAN. SK/XI/2008 tentang pedoman pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronik,

BAB 1 PENDAHULUAN. napas, batuk kronik, dahak, wheezing, atau kombinasi dari tanda tersebut.

PENINGKATAN FORCED EXPIRATORY VOLUME MELALUI LATIHAN BREATHING RETRAINING PADA PASIEN PPOK

BAB I PENDAHULUAN. Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten yang ditandai dengan

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode true experiment dengan prepost

PENGARUH BREATHING RETRAINING TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI VENTILASI PARU PADA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PPOK

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK) EKSASERBASI AKUT DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

ABSTRAK PENGARUH PELATIHAN SEDERHANA OTOT-OTOT PERNAPASAN TERHADAP KAPASITAS VITAL PARU PADA PEREMPUAN USIA MUDA NON-ATLET

BAB I PENDAHULUAN. irritabilitas, poliuria, polidipsi dan luka yang lama sembuh (Smeltzer & Bare,

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. asma di dunia membuat berbagai badan kesehatan internasional. baik, maka akan terjadi peningkatan kasus asma dimasa akan datang.

BAB I PENDAHULUAN. pembunuh diam diam karena penderita hipertensi sering tidak. menampakan gejala ( Brunner dan Suddarth, 2002 ).

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit infeksi bergeser ke penyakit non-infeksi/penyakit tidak

PENINGKATAN KEMAMPUAN INTERPRETASI ELECTROCARDIOGRAM (ECG) PERAWAT DENGAN PEMBELAJARAN PELATIHAN DAN MULTIMEDIA DI RSUD DR.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. proporsi usia lanjut (WHO, 2005, pp. 8-9). Di Indonesia, data survei kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. negara maju tetapi juga di negara berkembang. Menurut data laporan dari Global

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS AISYIYAH YOGYAKARTA 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit

Kedokteran Universitas Lampung

PENGARUH RESPIRATORY MUSCLE EXERCISES TERHADAP PENURUNAN SESAK NAFAS (DYSPNEA)

PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI PERNAFASAN PADA TERAPI LATIHAN PASIF MENURUNKAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN LUKA BAKAR DERAJAT II DI RSUP SANGLAH DENPASAR

Transkripsi:

Media Ilmu Kesehatan Vol. 5, No. 2, Agustus 2016 107 PENGARUH PERNAFASAN PURSED-LIP SEBELUM LATIHAN FISIK TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) DI RUMAH SAKIT PANTIRAPIH YOGYAKARTA Scholastica Fina Aryu Puspasari 1 1 Akademi Keperawatan Panti Rapih, Jalan Tantular No. 401, Pringwulung, Condong Catur, Sleman, D.I. Yogyakarta. Email: cocolacica@gmail.com ABSTRACT Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease ( COPD) is a progressive lung illness with the main complaints of breathlessness and decreased activitiestolerance, which consequentially worsen the quality of life (QoL). COPD management aims to improve the QoLby means of rehabilitation programs. Objective: The study focused on determining the impact of physical activity(6-minute Walk Test/6-MWT)and the combination of Pursed-Lip Breathing (PLB) before 6-MWTon COPD patients QoL. Methods: This study occupieda quasi-experimentaldesign, which involved70 respondents,divided into 3 groups, i.e. 2 intervention groups (30 respondents each) and one control group (10 respondents). Results:The majority of respondents were male (7 1%), aged 60-74 (5 6%), had normalbmi (48%), and were former smokers ( 59%).After 6 weeks of intervention, meaningful differences were found in the QoLbefore and after the intervention in bothgroups:6-mwt(p=0.000) and combined (p=0.000). The ordinal logistic regression test resultedthe combined intervention hadstronger effect on the quality of life (p=0.000, 47.1% contribution)than 6-MWT (p=0.012, 35.8% contribution ). Respondents characteristics that impacted on the quality of life were smoking history and period of CPOD (p<0.05, OR: 11,376; OR: 49,75, respectively). Conclusion:It can be concluded that PLB before 6-MWT is an effective training to improve QoL of people with COPD. Keywords: pursed-lip breathing; QoL;COPD PENDAHULUAN Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit tidak menular yang mempunyai mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Mortalitas PPOK mencapai 2,75 juta per tahun dan menduduki peringkat empat tertinggi di dunia setelah kanker, gagal jantung dan stroke. (1) Angka mortalitas tersebut diprediksi akan menjadi penyebab kematian tertinggi nomor tiga di dunia pada tahun 2020 (2) dan morbiditasnya akan meningkat dari peringkat 12 menjadi peringkat lima penyakit terbanyak di dunia termasuk di Asia. (3) Prevalensi PPOK di Asia diperkirakan mencapai 6,3% sementara di Indonesia diperkirakan mencapai 5,6%. (3) Peningkatan prevalensi PPOK di Indonesia dipengaruhi tingginya masyarakat perokok dan peningkatan Usia Harapan Hidup (UHH). Salah satu kota yang memiliki UHH yang tinggi adalah Yogyakarta yaitu 74 tahun. Peningkatan prevalensi PPOK di Yogyakarta diperkirakan mencapai 200% dalam tujuh tahun terakhir, yaitu dari 1.514 jiwa pada tahun 2006 (4) menjadi 3.100 jiwa pada tahun 2013. (5) Peningkatan prevalensi penderita PPOK tersebut juga dialami oleh Rumah Sakit Panti

108 Media Ilmu Kesehatan Vol. 5, No. 2, Agustus 2016 Rapih yang merupakan salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Prevalensi PPOK di RS tersebut pada tahun 2012-2014 sebanyak 1.074 orang. Keluhan sesak nafas dan intoleransi aktivitas merupakan keluhan utama pada pasien PPOK. (3) Keluhan sesak nafas pada pasien PPOK bersifat progresif, irreversible, dan menurunkan toleransi dalam beraktivitas. (6) Keluhan sesak nafas dan intoleransi aktivitas tersebut akan menurunkan tingkat kemandirian dan berdampak terhadap kualitas hidup. Penurunan kualitas hidup pada pasien PPOK didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Reherison (7) di Prancis pada tahun 2009 2010 terhadap 400 penderita PPOK yang berusia lebih dari 40 tahun. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa PPOK mempengaruhi penurunan kualitas hidup pada 50,6% responden dengan nilai p<0,02. Penurunan kualitas hidup pada pasien PPOK tersebut paling banyak dipengaruhi oleh penurunan toleransi beraktivitas. Peningkatan toleransi aktivitas diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien PPOK melalui peningkatan kemandirian pasien. Peningkatan toleransi aktivitas dapat dilakukan melalui rehabilitasi, dimana Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ( PDPI) (3) menekankan bahwa rehabilitasi pada pasien PPOK dilakukan melalui latihan fisik dan latihan pernafasan. Global Strategy For The Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease (GOLD) (8) merekomendasikan latihan fisik yang paling tepat dilakukan pada pasien PPOK adalah latihan fisik six minute walk test (6- MWT). Kendala utama latihan fisik pada pasien PPOK adalah sesak nafas. (3) Sesak nafas pada pasien PPOK terjadi karena air-trapping atau terperangkapnya udara ke dalam paru-paru. Salah satu latihan pernafasan paling efektif dalam menurunkan air-trapping adalah melalui pernafasan pursed-lip (PLB). Berdasarkan latar belakang tersebut, pertanyaan pada penelitian ini adalah bagaimana pengaruh PLB sebelum latihan fisik 6-MWT terhadap kualitas hidup pasien PPOK. Pada penelitian ini, peneliti akan melihat pengaruh PLB sebelum latihan fisik 6-MWT terhadap kualitas hidup pasien PPOK. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan kuasi eksperimen pretest dan posttest pada dua kelompok perlakuan untuk mengetahui pengaruh PLB sebelum 6-MWT terhadap kualitas hidup responden PPOK. Penelitian dilakukan di Poliklinik Spesialis Paru Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pada bulan April sampai dengan Juni 2015 yang melibatkan 70 responden dengan menggunakan teknik random. Responden terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu dua kelompok intervensi masing-masing 30 responden dan 10 responden sebagai kontrol. Responden dipilih

Media Ilmu Kesehatan Vol. 5, No. 2, Agustus 2016 109 berdasarkan kriteria menderita PPOK derajat sedang, berat, dan sangat berat menurut GOLD, tidak dalam eksaserbasi akut, dan tidak sedang menjalani terapi pernafasan. Responden yang terpilih secara acak pada latihan fisik 6-MWT diajarkan latihan 6-MWT dengan tepat dan pada responden yang terpilih untuk masuk dalam kelompok intervensi kedua, peneliti mengajarkan prosedur PLB dan latihan 6-MWT, kemudian meminta keluarga untuk mengobservasi pelaksanaannya di rumah dengan lembar observasi yang disediakan oleh peneliti. Pada kelompok kontrol, peneliti tidak melakukan intervensi, namun hanya membagikan leaflet yang berisi konsep penyakit PPOK. Pengambilan data awal dilakukan selama 3 minggu, meliputi identitas responden, fungsi paru, dan kuesioner kualitas hidup yang diperoleh dengan menggunakan instrumen St. George Respiratory Questionnaire (SGRQ). Intervensi dilakukan selama enam minggu dengan observasi oleh peneliti dan asisten peneliti. Pada prosedur latihan fisik 6-MWT, responden melakukan latihan jalan santai pada lantai yang datar selama enam menit setiap hari, dan pada prosedur gabungan PLB dengan 6-MWT, responden melakukan latihan pernafasan pursed-lip 5-10 menit sebelum melakukan 6-MWT. Pada minggu yang ketujuh, peneliti mengumpukan data akhir ( post test) meliputi data kualitas hidup berdasarkan SGRQ dengan menghubungi masing-masing responden melalui telepon. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji pengaruh, uji beda berpasangan, dan uji beda independen pada masing-masing kelompok. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Karakteristik Responden (N = 70) No Karakteristik f % 1 Usia 45 59 9 13 60 74 39 56 > 74 22 31 2 Jenis kelamin Laki-laki 50 71 Perempuan 20 29 3 Indeks massa tubuh (IMT) Under-weight 30 43 Normal 34 48 Over-weight 6 9 4 5 6 7 Tingkat pendidikan Rendah 25 36 Menengah 28 40 Tinggi 17 24 Tingkat sosial ekonomi Rendah 35 50 Menengah 30 43 Tinggi 5 7 Riwayat merokok Bukan Perokok 10 14 Bekas Perokok 41 59 Perokok Pasif 17 24 Perokok Aktif 2 3 Penyakit paru lain Ada 6 8 Tidak ada 64 92

110 Media Ilmu Kesehatan Vol. 5, No. 2, Agustus 2016 Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa mayoritas responden adalah laki-laki (72%), berusia 60 74 tahun (52%), IMT underweight (50%), berpendidikan SMA sederajat (42%), tingkat sosial ekonomi rendah (50%), bekas/mantan perokok (63%), tidak mempunyai penyakit paru lain (92%), menderita PPOK dalam waktu 1 sampai 5 tahun (49%). Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa ada perbedaan yang bermakna pada kualitas hidup antara kelompok intervensi lathan fisik 6-MWT dengan PLB sebelum latihan fisik 6- MWT(p=0,022); antara kelompok intervensilatihan fisik 6-MWT dengan kontrol (p=0,005); dan antara kelompok intervensi PLB sebelum latihan fisik 6-MWTdengan kontrol (p=0,000). Tabel 2 Hasil Uji Beda Berpasangan No Kelompok p value 1 Latihan fisik 6-MWT 0,000 2 PLB sebelum latihan fisik 6- MWT 0,000 Berdasarkan Tabel 2, didapatkan nilai p<0,05 pada kedua kelompok. Ini menunjukkan bahwa secara statistik ada perbedaan kualitas hidup yang signifikan sebelum intervensi dengan sesudah intervensi pada kedua kelompok intervensi. Tabel 3 Hasil Uji Beda Independen No Kelompok p value 1 Latihan fisik 6-MWT dengan PLB sebelum latihan fisik 6- MWT 2 Latihan fisik 6-MWT dengan kontrol 3 PLB sebelum latihan fisik 6- MWTdengan kontrol 0,022 0,005 0,000 Tabel 4 Uji Pseudo R-Square Antar Kelompok Intervensi Kelompok Intervensi Cox and Snell Latihan fisik 6-MWT 0,358 PLB sebelum latihan 0,471 fisik 6-MWT Berdasarkan tabel 4, disimpulkan bahwa kelompok yang memberikan kontribusi paling besar terhadap variabel dependen adalah kelompok intervensi PLB sebelum latihan fisik 6-MWTsebesar 47,1%. Artinya intervensi PLB sebelum latihan fisik 6-MWT secara simultan memberikan kontribusi yang paling besar terhadap kualitas hidup. Tabel 5 Perbandingan Besarnya Pengaruh Setiap Intervensi Terhadap Kualitas Hidup Hasil Parameters Kelompok Estimates Estimate Nilai p Latihan fisik 6-MWT -2,342 0,012 PLB sebelum latihan fisik 6-MWT -3,806 0,000 Berdasarkan Tabel 5, didapatkan nilai p<0,05 pada semua kelompok sehingga secara

Media Ilmu Kesehatan Vol. 5, No. 2, Agustus 2016 111 statistik dapat disimpulkan bahwa semua intervensi memberikan pengaruh secara signifikan terhadap kualitas hidup. Dilihat dari besarnya estimate didapatkan nilai estimate tertinggi pada kelompok intervensi PLB sebelum latihan fisik 6-MWT yaitu 3,806. Secara statistik disimpulkan bahwa gabungan intervensi PLB sebelum latihan fisik 6-MWT memberikan pengaruh paling besar terhadap kualitas hidup pasien PPOK dibandingkan intervensi tunggal 6-MWT. Intervensi ini dikatakan berpengaruh, sebab intervensi ini mencoba mengatasi gangguan intrapulmonal pada pasien PPOK yang termanifestasi dalam keluhan sesak nafas dan gangguan ekstrapulmonal berupa disfungsi otot skeletal. (9) Latihan 6-MWT secara teori dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dengan meningkatkan toleransi aktivitas. Latihan 6-MWT dapat meningkatkan fungsi cardiopulmonal dan melatih kerja sistem muskuloskeletal terutama pada kaki sehingga akan mencegah peripheral muscle wasting. Analisis peneliti ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Criner (10) bahwa peripheral muscle wasting dapat diatasi dengan latihan kekuatan otot kaki, salah satunya dengan 6-MWT. Peningkatan status fungsional ini akan meningkatkan pemenuhan kebutuhan aktivitas dan pencegahan terhadap bahaya menurut teori self-care dari Orem. (11) Latihan PLB sebagai salah satu intervensi dalam penelitian ini bertujuan memperbaiki efektivitas pernafasan dengan menurunkan airtrapping sehingga dapat meningkatkan volume tidal dan memperbaiki kontrol pernafasan. PLB dapat meningkatkan efisiensi bernafas dengan meningkatkan kemampuan ekshalasi sehingga menurunkan jumlah udara yang tertinggal dalam paru. Intervensi PLB sebelum latihan fisik 6- MWT akan membantu memperbaiki peningkatam fungsi fisik. Analisis peneliti ini didukung oleh pernyataan Yancey (12) bahwa PLB digabungkan dengan 6-MWT akan meningkatkan toleransi latihan pada pasien PPOK. Hal ini dibuktikan pula dengan hasil penelitian Niedl (13) mengenai efektivitas latihan 6-MWT dan latihan pernafasan yang melibatkan 53 pasien PPOK di klinik paru University-Affiliated Veteran Affairs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok yang diberikan latihan pernafasan sebelum melakukan aktivitas mengalami penurunan keluhan sesak nafas (p=0,05) dan terjadi peningkatan toleransi latihan (p=0,02). Pemenuhan toleransi latihan akan meningkatkan pemenuhan dalam kebutuhan aktivitas. Pemenuhan kebutuhan aktivitas merupakan kebutuhan universal self-care menurut Orem. Artinya, kedua kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan dasar dari setiap manusia. Pemenuhan kebutuhan universal self-care tersebut akan meningkatkan

112 Media Ilmu Kesehatan Vol. 5, No. 2, Agustus 2016 pemeliharaan proses hidup, integritas struktural dan fungsi hidup, yang berdampak terhadap tingkat kemandirian dan kualitas hidup individu. KESIMPULAN Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa intervensi PLB sebelum latihan fisik 6-MWT memberikan pengaruh paling kuat terhadap kualitas hidup dibandingkan hanya melakukan latihan fisik 6-MWT saja. Peneliti merekomendasikan perlunya mengajarkan dan memberikan edukasi pentingnya latihan PLB sebelum latihan fisik, serta penelitian lanjut terkait kondisi psikologis terhadap kualitas hidup pasien PPOK. UCAPAN TERIMAKASIH 1. dr. Teddy janong, M.Kes (Direktur Rumah Sakit panti rapih) 2. Bapak Paulus Subiyanto, S.Kp.,M.Kep.,Sp.KMB (Direktur Akper Panti rapih) KEPUSTAKAAN 1. Harwood, M. Diagnosis and Management of COPD in Maori and Pacific Peoples. BPJ Issue 2012; 43: 15 25. 2. Lewis : Medical-Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems. St. Louis, Missouri: Elsevier Mosby; 2011. 3. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia : PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik): Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2011. 4. Patriani, A. P. Pemberdayaan Keluarga dalam Rehabilitasi Medik Pada Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronik di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Yogyakarta. Berita Kedokteran Masyarakat 2010 : 26; 55-62. 5. Riskesdas. Penyajian Pokok-Pokok Hasil dan Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI; 2013. 6. Kendall : Sinopsis Organ Sistem Pulmonologi: Pendekatan dengan Sistem Terpadu dan Disertai Kumpulan Kasus Klinik. Bandung: Karisma Publishing Group; 2014. 7. Reherison, Crantal. Clinical Characteristic and Quality of Life in Women with COPD. BMC Women s Health Journal 2014; 14:31 8. GOLD. Global Strategy For The Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Global Initative for Chronic Obstructive Lung Disease2014; 1-100. 9. Valero, M. Types of Physical Exercise Training for COPD Patients. Intechopen Journal 2012: 352-374. 10. Criner, G. 6-Minute Walk Testing in COPD: Is It Reproducible? European Respiratory Journal 2011; 244-5. 11. McEwen : Theoretical Basis fornursing: Second Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. 12. Yancey, J. C. The Role of Breathing Exercises in the Treatment of COPD. American Family Phisician2014: 15-16. 13. Niedl, M. Efficacy of Pursed-Lip Breathing: Efficacy of Pursed-Lips Breathing: a Breathing Pattern Retraining Strategy for Dyspnea Reduction.. Journal of Cardiopulmonary Rehabilitation and Prevention 2007: 237-44.