PERBANYAKAN BAHAN TANAM NILAM DENGAN CARA SETEK

dokumen-dokumen yang mirip
PERBANYAKAN BAHAN TANAM LADA DENGAN CARA STEK

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1

UPAYA PEMULIHAN TANAH UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN BAHAN TANAM NILAM DI KABUPATEN MALANG. Eko Purdyaningsih, SP PBT Ahli Muda

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAB I PENDAHULUAN. atsiri yang dikenal dengan nama Patchouli oil. Minyak ini banyak dimanfaatkan

PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

BUDIDAYA SUKUN 1. Benih

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

(STEK-SAMBUNG) SAMBUNG)

1.5. Hipotesis 3. Pemberian pupuk hayati berperan terhadap peningkatan pertumbuhan tanaman nilam. 4. Pemberian zeolit dengan dosis tertentu dapat

Benih lada (Piper nigrum L)

Teknik Perbanyakan Lada Secara Cepat dan Masal melalui Kebun Induk Mini PENDAHULUAN

PERSIAPAN BAHAN TANAM TEH

TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU

TEKNOLOGI SAMBUNG PUCUK PADA DUKU KUMPEH

Pedoman Teknis Teknologi Tanaman Rempah dan Obat

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat

BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

PRODUKSI BENIH PISANG DARI RUMPUN IN SITU SECARA KONVENSIONAL

STATUS TEKNOLOGI HASIL PENELITIAN NILAM

Dari kedua faktor tersebut diperoleh 9 kombinasi, adapun kombinasi perlakuannya sebagai berikut:

PRODUKSI BENIH PISANG DARI RUMPUN IN SITU

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR

III. BAHAN DAN METODE

Benih panili (Vanilla planifolia Andrews)

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Dulomo Utara, Kecamatan Kota

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas

III. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM PERBANYAKAN VEGETATIF. Oleh : Danu dan Agus Astho Pramono

III. BAHAN DAN METODE. Sederhana Dusun IX, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Percut Sei Tuan,

Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang

ASPEK LAHAN DAN IKLIM UNTUK PENGEMBANGAN NILAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Metode Penelitian. commit to user 100% 13,33% 50% 26,67% 30% 46,67% 25% 60,00% 15% 66,67% 10% 73,33% 4% 80,00% 2% 86,67%

PENGEMBANGAN PEPAYA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. )

BAB I PENDAHULUAN. B. Tujuan Penulisan

Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Keragaan Usahatani Nilam Di Kecamatan Sampoinet Kabupaten Aceh Jaya

1. Benuang Bini (Octomeles Sumatrana Miq) Oleh: Agus Astho Pramono dan Nurmawati Siregar

Budidaya Tanaman Obat. Elvira Syamsir

III. BAHAN DAN METODE. laut, dengan topografi datar. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2015 sampai

2 METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian. Alat dan Bahan. Rancangan Penelitian

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

Benih panili (Vanilla planifolia Andrews)

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan

BAB III BAHAN DAN METODE. Medan Area yang berlokasi di Jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan

MENGENAL ORSINA SEBAGAI VARIETAS BARU TANAMAN KUMIS KUCING

PEMBIBITAN KOPI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO INDONESIA

PERSEMAIAN CABAI. Disampaikan Pada Diklat Teknis Budidaya Tanaman Cabai. Djoko Sumianto, SP, M.Agr

Oleh : Iskandar Z. Siregar

Teknik Membangun Persemaian Pohon di Desa

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanaman

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung,

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

MENGENAL KELAPA DALAM UNGGUL LOKAL ASAL SULAWESI UTARA (Cocos nucifera. L) Eko Purdyaningsih,SP PBT Ahli Muda BBPPTPSurabaya

Teknik Pembenihan Acacia Spp. (Akasia) Bebas Penyakit

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016

Sambung Pucuk Pada Tanaman Durian

Oleh Administrator Kamis, 07 November :05 - Terakhir Diupdate Kamis, 07 November :09

Sumber : Setiadi (2005) Oleh : Ulfah J. Siregar. ITTO Training Proceedings, Muara Bulian 4 th -6 th May

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL BUDIDAYA KUNYIT. Mono Rahardjo dan Otih Rostiana

BAHAN DAN METODE. = Respon pengamatan µ = Rataan umum α i = Pengaruh perlakuan asal bibit ke-i (i = 1,2) β j δ ij

TANGGAPAN PERTUMBUHAN DAN DAYA HASIL DUA KLON TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.) TERHADAP DOSIS PEMUPUKAN UREA, SP-36, DAN KCl

PERKEMBANGAN TEKNIK PENYAMBUNGAN PADA PEMBENIHAN TANAMAN KOPI ( TULISAN POPULER )

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9

KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Pelaksanaan Penanaman Tanaman Nilam Tahun 2013

III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai 3 Juni Juli 2016 di Green House

PENCAMPURAN MEDIA DENGAN INSEKTISIDA UNTUK PENCEGAHAN HAMA Xyleborus morstatii Hag. PADA BIBIT ULIN ( Eusideroxylon zwageri T et.

PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

TUGAS LINGKUNGAN BISNIS

STUDI AWAL PERBANYAKAN VEGETATIF NYAWAI (Ficus variegata) DENGAN METODE STEK

Cara Menanam Cabe di Polybag

PENYEDIAAN BAHAN TANAM KEMIRI SUNAN DENGAN TEKNIK GRAFTING

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. pertumbuhan tanaman cabai merah telah dilakukan di kebun percobaan Fakultas. B.

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

PRODUKSI BENIH SUMBER UBIKAYU

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di

3. METODE DAN PELAKSANAAN

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

TEKNIK PENYEMAIAN CABAI DALAM KOKER DAUN PISANG Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi

III. BAHAN DAN METODE

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ordo: Polypetales, Famili: Leguminosea (Papilionaceae), Genus:

BAB I PENDAHULUAN. buah ini sudah lama menjadi salah satu makanan khas dari kota Medan.Buah ini

Transkripsi:

PERBANYAKAN BAHAN TANAM NILAM DENGAN CARA SETEK ( Pogostemon cablin Benth) Oleh Agung Mahardhika, SP ( Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama ) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan I. PENDAHULUAN Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan komoditas ekspor terpenting di Indonesia, sebagai penghasil minyak atsiri (patchouli oil) yang mempunyai prospek baik dalam memenuhi kebutuhan industri parfum, kosmetik, kimia dan kesehatan (aromaterapi). Nilam bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari Filipina atau Malaysia. Namun keberadaannya mampu mendukung Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor minyak nilam terbesar di dunia yang mensuplai hampir 90% dari kebutuhan minyak nilam dunia. Negara pengimpor terbesar adalah Perancis, Amerika Serikat, Australia dan Jepang (Ditjenbun, 2011). Tanaman nilam adalah salah satu tanaman menghasilkan minyak atsiri yang potensial dikembangkan di Indonesia. Kondisi tersebut disebabkan faktor iklim serta jenis dan tingkat kesuburan tanah yang dimilki Indonesia, yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman nilam. Potensi dan kondisi daerah penghasil tanaman nilam harus dapat dimanfaatkan dengan baik agar tanaman nilam menjadi andalan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, petani dan pengelolaanya. Dengan semakin majunya teknologi farmasi, kedepan minyak nilam yang bersifat fixatif (sebagai pengikat minyak atsiri lainnya) banyak dibutuhkan sehingga budidaya tanaman nilam perlu dibudidayakan secara luas. Pentingnya penggunaan benih bermutu merupakan salah satu unsur panca usaha pertanian yang utama dalam upaya peningkatan produksi karena tanpa penggunaan benih unggul yang bermutu, maka penerapan sarana produksi lainnya akan kurang bermanfaat bahkan menimbulkan kerugian ke konsumen/petani. Penggunaan benih unggul dalam proses budidaya tanaman, di samping dapat meningkatkan kuantitas produksi juga dapat memperbaiki kualitasnya guna memperoleh calon benih yang bermutu tinggi. 1

Perbanyakan vegetatif terbagi dua cara yaitu perbanyakan dengan menggunakan teknologi tinggi seperti kultur jaringan. Pembiakan vegetatif jenis ini membutuhkan biaya tinggi dan sumber daya manusia yang terdidik. Sedangkan untuk jangka pendek dimana kemampuan biaya terbatas maka solusi adalah dengan perbanyakan vegetatif makro. Perbanyakan vegetatif makro seperti stek, sambungan dan cangkok muda dipelajari dan tidak begitu membutuhkan teknologi yang canggih. Cara ini dapat diterapkan dengan mudah dalam pemeliharaanya dan memenuhi kaidah perbanyakan vegetative secara standar. ( Pudjiono, 2000) Untuk mengatasi kebutuhan benih nilam yang mendesak diperlukan suatu upaya. Salah satu cara muda untuk menjawab tantangan kebutuhan benih nilam unggul adalah penggunaan benih dari perbanyakan secara vegetatif dengan menggunakan setek. Setek nilam dapat berasal dari bagian pangkal tengah dan pucuk terstandar. Agar benih / setek tersebut dapat tumbuh dengan baik ( sehat, cepat dan seragam) benih/setek harus diproduksi dengan cara prosedur yang terstandar. Dalam tulisan ini akan di uraikan perbanyakan bahan tanam nilam dengan menggunakan setek, yang dimulai dari varietas unggul nilam, benih/bahan tanam setek dan penyemaian benih. II. VARIETAS UNGGUL NILAM Ketersediaan varietas unggul nilam menjamin mutu genetik tanaman untuk menjadi lebih baik. Keunggulan varietas dapat dilihat dari sifat yang menonjol dari satu atau lebih karakter penting. Pada tahun 2005 telah dilepas 3 varietas unggul nilam yaitu Sidakalang, Lhokseumawe dan Sidangkalang. Keunggulan yang utama adalah produksi terna dan mutu minyak tinggi. Dari ketiga varietas tersebut jenis Sidikalang toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda. (Nuryani, 2005). Karakteristik kualitatif yang dapat membedakan ketiga varietas nilam aceh adalah warna pangkal batang. Varietas Tapak Tuan, warna pangkal batangnya hijau dengan sedikit ungu, varietas Lhokseumawe lebih ungu dan varietas sidakalang peling ungu. Untuk mendukung pengembangan teknologi benih dan hasil nilam bermutu, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat telah berhasil melepas 2 varietas unggul nilam tahan penyakit layu bakteri dan produksi mutu minyak tinggi dengan nama Pachoulina 1 dan Pachoulina 2. Varietas unggul nilam tersebut merupakan upaya percepatan pengembangan varietas unggul baru yang sangat berperan penting dalam penggandaan dan penyediaan benih nilam untuk ketersediaan benih yang beredar di masyarakat. 2

Varietas Lhoksumawe Varietas Sidakalang Varietas Tapak Tuan III. Varietas Pachoulina 1 Varietas Pachoulina 1 Sumber : Proposal usulan sidang pelepasan varietas nilam, 2013 PEMILIHAN BENIH NILAM Tanaman nilam berakar tunggang, berbatang lunak dan berbuku-buku. Buku batangnya menggembung dan berair, warna batangnya hijau kecoklatan. Daun nilam merupakan daun tunggal yang berbentuk bulat telur atau lonjong, melebar di tengah, meruncing keujung dan tepinya bergerigi. Tulang daunya bercabang ke segala penjuru. Apabila daun nilam diremas-remas akan muncul bau harus ( Santoso, 2000) Untuk meningkatkan dan menjamin produktivitas dan kualitas nilam benih/bahan tanam harus dipilih secara benar dan baik, karena benih merupakan salah satu unsur yang sangat menentukan keberhasilan system budidaya setelah lahan. Hampir 40% keberhasilan budidaya tanaman ditentukan oleh mutu benih. Benih yang benar adalah benih yang diambil dari kebun induk yang jelas varietasnya. Karakter tanaman pada kebun induk sama dengan deskripsi varietas tersebut, murni tidak tercampur dengan jenis dan varietas lainya. Baik artinya tanaman dikebun induk tersebut tumbuh dengan baik, sehat tidak terserang OPT dan tidak ada gejala kekurangan unsur hara. 3.1 Mutu Benih Nilam 3

Mutu benih meliputi mutu genetika, fisiologis, fisik dan patologis. Keempat mutu tersebut akan menentukan produksi tanaman. Mutu genetika adalah benih yang mempunyai identitas genetika yang murni dan mantap, dan apabila ditanam mewujudkan kinerja pertanaman yang homogen sesuai dengan yang dideskripsikan pemulianya ( Sadjad 1994). Atribut kualitas yang paling penting adalah viabilitas (mutu fisiologis), mutu fisiologis berkaitan dengan daya tumbuh setek nilam di persemaian. Setek nilam yang bermutu tinggi secara fisiologis akan mempunyai kemampuan untuk hidup > 80%. Klasifikasi mutu benih nilam berdasarkan pada kinerja fisik seperti kebersihan setek ( tidak ada daun yang coklat), kesegaran setek ( tidak layu), daun setek sempurna ( tidak berlubang, keriput atau menggulung). Mutu patologis berhubungan kesehatan benih, setek nilam yang bermutu tinggi merupakan setek yang bebas dari penyakit layu bakteri ( daun dan batang layu ) bebas nematoda ( daun berwarna coklat, akar rusak), bebas penyakit budok. 3.2 Benih setek sebagai bahan perbanyakan Tanaman nilam umumnya dikembangkan secara vegetatif, yaitu dengan mempergunakan potongan potongan cabang / batang ( setek ). Benih yang baik untuk ditanam harus berasal dari induk yang sehat, berasal dari bahan tanaman yang baik dan dijamin terbebas dari kontaminasi hama dan penyakit utama, karena hal itu dapat menggagalkan panen sampai 100%. Hasil penelitian oleh Sukarman dan Melati (2009) melaporkan bahwa viabilitas benih/daya tumbuh benih setek nilam tidak berbeda antara benih yang berasal dari bagian pangkal, tengah dan pucuk, walupun setek pucuk menghasilkan pertumbuhan (tinggi dan jumlah ruas benih/bibit) yang lebih cept dibandingkan benih yang berasal dari setek bagian pangkal dan tengah. Tabel 1. Pengaruh bagian setek dan lama penyimpanan terhadap viabilitas benih nilam. Bagian Setek Daya tumbuh Tinggi benih Jumlah ruas Jumlah daun Pucuk 98,0 ns 26,0 8,2 a 13,5 ns Pangkal dan 14,7ns 97,3 ns 14,4 77 b tengah 4

Sumber : Sukarman dan Melati (2009) Setek nilam yang dipanen hendaknya dengan kriteria : 1. Umur tanaman induk > 6 bulan 2. Diameter setek ; 0,3 0,5 cm 3. Ukuran setek ; setek panjang ; > 30 cm, setek pendek ± 15-20 cm 4. Fisik setek ; segar, sehat, tanpa kahat hara, bebas dari serangan hama dan penyakit dan telah mengayu, tetapi tidak yang sudah tua. 5. Kualifikasi setek dapat berasal dari batang, cabang primer, cabang sekunder. Tanaman Nilam Untuk Produksi Benih Setek Pucuk ( kiri ) dan Setek batang/cabang ( kanan ) IV. PENYEMAIAN BENIH / SETEK Penanaman dapat dilakukan dengan menanam setek langsung ke lapangan (bedengan), atau dengan menanam benih di polibag lebih dahulu bersama dengan persiapan lahan. 3.1. Pesemaian di polibag Untuk mengurangi tingkat kematian benih/setek perlu disemaikan dengan menggunakan kantong polybag. Penyemaian dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Siapkan rumah atas dari paranet, alang alang atau jerami ( intensitas sinar matahari 50-70 % ) untuk panjang disesuaikan dengan jumlah benih yang disemai. b. Siapkan media pesemaian (campuran tanah subur gembur dan kandang dengan perbandingan 2;1) tambahkan fungisida dan nematisida masing-masing 2 g / 1 Kg tanah dan aduk media sampai rata. c. Masukan media tersebut ke dalam polybag ukuran 15 x 10 cm dan diberi lubang pada bagian bawahnya, sebanyak ¾ bagian. 5

d. Susunan polibag berisi media semai tersebut dibawah rumah atap, kemudian disiram sampai basah dan biarkan 4-5 hari kemudian benih/setek baru di tanam. e. Sebelum disemai di polibag benih/setek direndam dalam air kelapa 25% selama 15 menit atau dioleskan ZPT perangsang perakaran, kemudian dicelupkan ke dalam fungisida sesuai anjuran f. Tanaman benih/setek ke dalam polybag dengan cara membuat lubang semai dan membenamkan dua buku ke dalam media polybag dan padatkan tanah di sekitar setek, untuk menjaga kelembaban persemaian ditutup dengan sungkup plastic ( ukuran = lebar 1 m dan tinggi 0,5 m, panjang sesuai kebutuhan), sampai persemaian berumur 2 minggu. g. Lakukan pemupukan serta pengendalian hama dan penyakit satu atau dua minggu sekali dengan pupuk daun, fungisida dan insektisida dengan dosis anjuran. h. Setelah persemaian berumur empat minggu diberi perlakukan hardening dengan membuka atap sehingga benih/pesemaian mendapat sinar matahari penuh. i. Pada umur 5-6 minggu benih sudah mempunyai cukup akar, tunas sudah tumbuh dan berdaun sehingga siap dipindahkan ke kebun untuk ditanam. Untuk menjamin mutu, benih dipersemaian harus mempunyai standar sebagai berikut : 1. Asal Benih Kebun Induk ( Balittro ) atau petani penangkar varietas 2. Varietas : anjuran balittro yaitu 5 varietas yang telah dilepas 3. Naungan ; sungkup plastik, atap paranet, daun alang-alang, daun kelapa dan sebagainya dengan intensitas cahaya 50-70 % 4. Temat semai yaitu polybag hitam ukuran 10 x 15 cm 6

5. Media semai yang digunakan campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan yaitu : 2 : 1 6. Umur benih : 1,5 bulan setelah semai ( 5-7 ruas) 7. Tinggi benih : 20 25 cm 8. Jumlah daun ; 5 7 lembar 9. Kesehatan bibit ; Bebas OPT, tanpa gejala kekurangan hara. 3.2. Pesemaian di bedengan Apabila dilokasi persemaian tidak tersedia polibag maka pesemaian dapat dilakukan di bedengan, dengan cara sebagai berikut : a. Pilih lokasi yang adatar, dekat sumber air dan tidak tercemar pathogen b. Gemburkan lahan /tanah dan bersihkan dari gulma untuk mempermuda pertumbuhan dan perkembangan akar. c. Membuat bedengan persemaian dengan ukuran, lebar ; 150 cm, tinggi ; 30 cm dan panjang ; tergantung kebutuhan dan kondisi lahan d. Melakukan pengolahan tanah 3 minggu sebelum penanaman benih e. Membuat parit pembuangan air : lebar 30 cm 40 cm f. Siapkan media persemaian pada bedengan dengan menambahkan pupuk kandang ; pasir ( 2 : 1 ). g. Menambahkan fungisida dan nematisida pada media tanam h. Menanam benih setek dengan jarak 10/10 dengan posisi miring 60 derajat i. Memberikan naungan dari atap daun kelapa atau alang-alang j. Melakukan penanaman setek pada pagi atau sore hari k. Lakukan pemindahan benih setelah berumur 4-5 minggu ( tunas dan akar sudah tumbuh merata ) secara hati hati. 7

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2013, Persemaian benih nilam sidakalang (teknik stek ), http://kaliwesiatsiri.blogspot.com/2013/05/nilam-kali-wesi-atsiri-emashijau-edy.html di akses 27 Mei 2013 Amalia, 2011, Karakteristik Tanaman Nilam di Indonesia,Status Teknologi Hasil Penelitian Nilam. Balai Penelitian Tanaman Obat Dan Aromatik, hal 1-3 Ditjenbun 2011, Pedoman Teknis Penanaman Tanaman Nilam, Kementrian Pertanian, Direktorat Jendral Perkebuanan. Hadipoentyanti.E, Amalia, Sirait.N, Hartati.Y.S, 2013. Usulan Pelepasan Varietas Nilam, Balai Tanaman Obat dan Aromatik. Hal 42-44. Pudjiono.S. 2008. Penerapan perbanyakan tanaman secara vegetatif pada pemuliaan pohon. Makalah gelar teknologi perbenihan tanaman hutan. Balai besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Santoso,H.B.2000. Bertanam Nilam. Jakarta Sukarman, Melati, 2011. Prosedur Perbanyakan Nilam Secara Konvensional. Status Teknologi Hasil Penelitian Nilam. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Hal Sukarman, dan Wahyuni, 2013, Teknik Produksi dan Pengolahan Benih Nilam Bermutu. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Prespektif Vol 12, No 1/Juni 2013 Hlm 01-10 Nuryani.Y,Emmyzar, Wahyudi.A, 2007. Teknologi Unggulan Nilam Perbenihan dan Budidaya Varietas Unggul. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Hal 3-5 8