STRATEGI TINDAK LANJUT

dokumen-dokumen yang mirip
West Kalimantan Community Carbon Pools

LAPORAN AKHIR KAMPANYE Kompleks Hutan Rawa Gambut Sungai Putri Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Disiapkan oleh: Ade Yuliani, Titian, 2010

V. Hasil Kampanye. Tabel 12. Jumlah Kepala Keluarga di Desa Target

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

BAB VIII RANCANGAN PROGRAM STRATEGIS

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

Restorasi Ekosistem di Hutan Alam Produksi: Implementasi dan Prospek Pengembangan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

MELANJUTKAN PERUBAHAN: BELAJAR DARI PENGGERAK KONSERVASI AKAR RUMPUT

Pemanfaatan canal blocking untuk konservasi lahan gambut

PERAN DINAS KEHUTANAN SEBAGAI MITRA UTAMA DDPI KALTIM

Memperhatikan pokok-pokok dalam pengelolaan (pengurusan) hutan tersebut, maka telah ditetapkan Visi dan Misi Pembangunan Kehutanan Sumatera Selatan.

Evaluasi Kegiatan

2013, No Mengingat Emisi Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut; : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Rep

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

G. RENCANA TINDAK LANJUT

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN RESTORASI EKOSISTEM

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. lainnya. Keunikan tersebut terlihat dari keanekaragaman flora yaitu: (Avicennia,

BAB I PENDAHULUAN. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang. sumber daya alam. Pasal 2 TAP MPR No.IX Tahun 2001 menjelaskan

I. PENDAHULUAN. Kawasan lahan basah Bujung Raman yang terletak di Kampung Bujung Dewa

STANDAR BAKU BIAYA MAKSIMUM MEKANISME HIBAH KHUSUS

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

PERHUTANAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT YANG EFEKTIF

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

Konservasi Hutan Berbasis Masyarakat dan Mitigasi Perubahan Iklim di Bentang Alam Kerinci Seblat Konsorsium Perkumpulan WALESTRA (WALESTRA, ICS &

Modul 1. Hutan Tropis dan Faktor Lingkungannya Modul 2. Biodiversitas Hutan Tropis

LAPORAN PERKEMBANGAN BROP KEBUN ENERGI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendahuluan 1. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA

S A L I N A N. No. 151, 2016 BERITA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 151 TAHUN 2016 TENTANG

VISI, MISI & SASARAN STRATEGIS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

Peta Jalan Penyelamatan Ekosistem Sumatera 2020 Dalam RTR Pulau Sumatera

INDONESIA - AUSTRALIA FOREST CARBON PARTNERSHIP (IAFCP)

MAKALAH PEMBAHASAN EVALUASI KEBIJAKAN NASIONAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP DI DAERAH ALIRAN SUNGAI 1) WIDIATMAKA 2)

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

BAB I PENDAHULUAN. yang disebutkan di atas, terdapat unsur-unsur yang meliputi suatu kesatuan

KELOLA KAWASAN AREAL PERHUTANAN SOSIAL Oleh : Edi Priyatno

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 022 TAHUN 2017 TENTANG TUGAS, POKOK, FUNGSI, DAN URAIAN TUGAS DINAS KEHUTANAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. sektor sosial budaya dan lingkungan. Salah satu sektor lingkungan yang terkait

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PERLINDUNGAN HUTAN

V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

PROFIL TOKOH. Berikut adalah hasil wawancara tim redaksi :

Ilmuwan mendesak penyelamatan lahan gambut dunia yang kaya karbon

BAB III METODE PENELITIAN

PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Hutan

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013).

i:.l'11, SAMBUTAN PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR KOTAK... GLOSARI viii xii DAFTAR SINGKATAN ...

Lampiran : Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan. Nomor : P.06/VI-SET/2005 Tanggal : 3 Agustus 2005

PENATAAN KORIDOR RIMBA

No pemeliharaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. Penerapan prinsip Keuangan Berkelanjutan sebagai per

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Rencana Aksi Rencana Pemantauan Risiko Kunci. Mitra Ukuran Metode Target Frekuen si BBTNGL, FFI, UNESCO, KSM Lokal

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

KABUPATEN CIANJUR PERATURAN BUPATI CIANJUR

I. PENDAHULUAN. ekonomi dan sosial budaya. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang

BAB I PENDAHULUAN. lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 7 TAHUN 2003 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BONTANG,

VISI HIJAU UNTUK SUMATRA

Oleh: PT. GLOBAL ALAM LESTARI

Pidato kebijakan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhyono Bogor, 13 Juni 2012

POLA KEBIJAKAN PENGURUS CREDIT UNION PANTURA LESTARI Alamat : Jl. Ketapang Siduk KM 33 Desa Sei. Putri Kec. Matan Hilir Utara, Kab.

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13/PERMEN-KP/2014 TENTANG JEJARING KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

PIPIB untuk Mendukung Upaya Penurunan Emisi Karbon

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB III METODE PENELITIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 64 TAHUN 2014 TENTANG

PENGARUSUTAMAAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.84/MENLHK-SETJEN/KUM.1/11/2016 TENTANG PROGRAM KAMPUNG IKLIM

Rehabilitasi dan Reklamasi Pasca Tambang

BAB I PENDAHULUAN. hutan hujan tropis yang tersebar di berbagai penjuru wilayah. Luasan hutan

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG HUTAN KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

PENDAHULUAN Latar Belakang

Avoided Deforestation & Resource Based Community Development Program

Terms Of Reference Round Table Discussion 2 Rawa Tripa, penyangga kehidupan masyarakat Nagan Raya dan Aceh Barat Daya

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

KERUSAKAN LAHAN AKIBAT PERTAMBANGAN

Pembangunan Kehutanan

Perbaikan Tata Kelola Kehutanan yang Melampaui Karbon

CUPLIKAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

Transkripsi:

VII. STRATEGI TINDAK LANJUT Pendahuluan Kampanye tahap pertama yang dilakukan di Kompleks hutan rawa gambut Sungai Putri baru saja berakhir Juli 2010 lalu. Beberapa capaian yang dicatat dari kampaye tersebut: Pengetahuan mengenai fungsi hutan rawa gambut untuk menahan intrusi dan penyerap karbon mengalami peningkatan masingmasing sebesar 43% dan 39,75%. Ini juga diikuti dengan sikap khalayak target yang menyetujui hubungan penebangan dengan masuknya air laut ke daratan (26,25%) dan meningkatnya intensitas komunikasi khalayak target mengenai pelestarian hutan rawa gambut Sungai Putri (33,25%). Konstituen konservasi untuk pelestarian Sungai Putri sudah berdiri dalam bentuk lembaga keuangan Credit Union Pantura Lestari yang terbentuk 23 Juli 2010. Hingga saat ini terdaftar 34 anggota dengan total aset Rp 96.054.000. Credit Union ini merupakan alat pengorganisiran khalayak target untuk mendorong perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan terhadap kawasan hutan Sungai Putri. Meskipun perubahan sudah mulai terjadi, namun masih banyak tantangan yang kedepannya harus diselesaikan. Persoalan paling mendasar adalah mengenai rencana kelola kawasan Kompleks Hutan Sungai Putri. Kompleks hutan Sungai Putri merupakan hamparan kubah gambut ombrogen dengan kedalaman mencapai 15 meter. Kawasan hutan produksi dan hutan produksi yang dikonversi ini merupakan habitat penting orangutan Kalimantan (P.p.wurmbii) yang saat ini menghadapi ancaman perubahan fungsi kawasan. Jika rencana ini diteruskan maka setiap tahunnya 5,56 7,74 juta karbon akan terlepas ke udara (Fauna & Flora International Indonesia Programme, 2008) dan pelepasan karbon ini akan mempengaruhi iklim global. Masyarakat sekitar hutan Sungai Putri perlu membuat rencana kelola kawasan yang jelas, sehingga mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi saat kawasan ini akan dialihfungsikan. Strategi tindak lanjut dibangun berdasarkan pertimbangan ini. 96

Strategi 1. Meningkatkan dukungan terhadap pelestarian kawasan Untuk mempertahankan dukungan yang sudah terbangun dan meningkatkan capaian perubahan pengetahuan dan sikap masyarakat target di sini, perlu terus dilakukan kegiatan-kegiatan penjangkauan (outreach) dan peningkatan kepedulian (awareness raising). Sasaran SMART : Selama rentang waktu September 2010 Agustus 2011, Titian akan melanjutkan program penjangkauan untuk meningkatkan dukungan petani penebang untuk pelestarian kawasan hutan rawa gambut Sungai Putri dari 48,40% - 88,40%. Kesadaran ini akan ditindaklanjuti dengan kesediaan petani menjadi anggota CU (1.287 anggota pada akhir September 2011) dan mulai memikirkan alternative usaha lain yang lebih berkelanjutan. Target anggota ini disesuaikan dengan business plan CU Pantura Lestari yang dihasilkan pada saat renstra Juli 2010. Tabel 23. Kegiatan Untuk Meningkatkan Dukungan Terhadap Pelestarian Kawasan Kegiatan penjangkauan untuk petani Deskripsi kegiatan Kampanye tahap pertama hanya meningkatkan dukungan khalayak target sebanyak 1,25% untuk pelestarian kawasan. Ini dikarenakan terbatasnya saluran komunikasi yang digunakan. Capaian ini perlu ditingkatkan dengan memperkaya saluran komunikasi yang digunakan untuk mencapai sasaran konservasi yang dinginkan. Saluran komunikasi berikut akan dipergunakan guna meningkatkan dukungan khalayak target: Pertemuan kampung Pada survei paska kampanye, pertemuan kampung dipilih khalayak target sebagai media informasi yang paling disenangi kedua setelah leaflet. Kedalaman kegiatan ini cukup tinggi meskipun jangkauannya rendah. Kegiatan ini akan terus dilakukan untuk menyampaikan informasi lebih intens pada khalayak target terutama mengenai manfaat hutan, CU dan korelasinya dengan pelestarian kawasan. 97

Pertemuan kampung akan dilakukan sebanyak 15 kali (masing-masing satu kali di tiap dusun di desa target). Pertemuan dilakukan pada malam hari, antara pukul 19.30 21.30 wib, dengan jumlah peserta antara 20 25 orang. Pada tiap pertemuan, pengurus/ pengawas CU akan dilibatkan. Formulir dan contoh buku anggota CU juga akan dibawa serta sebagai alat bantu pertemuan. Poster Poster berfungsi untuk mempromosikan manfaat CU pada khalayak target. Poster akan dipasang pada lokasi-lokasi yang sering dikunjungi khalayak target seperti warung, bengkel, pasar ikan dan balai desa. Poster juga akan dipasang di sekolah dan tempat pelayanan kesehatan (pustu/ posyandu/ puskesmas) untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Poster akan diproduksi sebanyak 500 lembar. Billboard Billboard dibuat untuk mempromosikan jasa lingkungan kawasan hutan Sungai Putri. Billboard akan dibuat 1 buah, berukuran cukup besar (4x6 meter) dan dipasang di pintu masuk kawasan hutan Sungai Putri di desa Kuala Tolak. Pembuatan billboard ini juga untuk menindaklanjuti usulan dari khalayak target pada saat pelaksanaan kampanye sebelumnya. Program radio Program radio Obrolan Seputar Konservasi di Gema Solidaritas FM akan tetap diteruskan. Kegiatan ini kedalamannya sedang dan jangkauannya luas. Untuk menarik minat khalayak target mendengar program ini, sesekali akan diundang tokoh dari desa target untuk menjadi narasumber dalam acara talkshow. Selain itu juga akan dibuat kartu pendengar. Alasan untuk Ancaman tinggi di habitat penting orangutan yang tidak dilindungi, ekosistem rentan, dampak 98

kegiatan Mitra kerusakan global, sehingga dukungan untuk pelestarian kawasan perlu ditingkatkan. Yayasan Palung, CU Pantura Lestari, Stasiun Radio Gema Solidaritas FM, percetakan Evaluasi Peningkatan dukungan terhadap pelestarian kawasan hutan Sungai Putri sebanyak 40% Sub kegiatan: Kerangka waktu: Anggaran: RACI: Pertemuan kampung Oktober 2010 Januari 2011 Transportasi lokal: $82 Konsumsi pertemuan: $327 R: Ade Yuliani C: Ketua CUPL, Kepala Desa Target, Kepala Dusun di Desa Target ATK: $ 55 Poster Oktober 2010 Pencetakan 500 poster: $ 490 Billboard Januari 2011 Pembuatan dan instalasi: $ 750 R: Ade Yuliani R: Ade Yuliani C: Seniman lokal, percetakan, Dinas Pemukinan dan Prasarana Wil. Ketapang Program radio Oktober 2010 Agustus 2011 Tidak ada anggaran karena waktu siar diberikan secara cuma-cuma oleh stasiun Radio GS FM. R: Ade Yuliani C: PJ. Siaran Radio GS FM Perkiraan total biaya: $ 1704. Kerangka waktu: Oktober 2010 Agustus 2010 99

Strategi 2. Memaksimalkan peran CU untuk menguatkan ekonomi masyarakat dan mendorong perubahan perilaku khalayak target Untuk memaksimalkan peran CU dalam menguatkan ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi ancaman penebangan di kawasan hutan Sungai Putri, perlu dilakukan peningkatan kapasitas pengurus dan tim manajemen CU secara berkala. Sasaran SMART: Sampai dengan September 2011 akan terlaksana 7 kali pelatihan yang diikuti paling tidak oleh 8 petani pengurus/ pengawas CUPL dan 4 orang dari tim manajemen. Pada Mei 2011 tersusun kriteria kredit yang dapat mendorong perubahan perilaku khalayak target terhadap ekstraksi kayu di dalam kawasan hutan Sungai Putri. Tabel 24. Kegiatan untuk Peningkatan Kapasitas Pengurus dan Tim Manajemen CU Kegiatan Peningkatan Kapasitas Deskripsi kegiatan Setelah CU terbentuk, seharusnya segera dilakukan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan kapasitas pengurus dan tim manajemen CU. Namun dikarenakan CU baru terbentuk pada bulan Juli 2010, mundur 5 bulan dari rencana dikarenakan butuh waktu yang cukup lama untuk membangun kepercayaan khalayak target dan peningkatan kapasitas calon tim manajemen CU, maka pelatihan tersebut dimasukkan dalam strategi tindak lanjut. Pelatihan-pelatihan tersebut meliputi: Pelatihan kepemimpinan (3 hari, 12 orang) Training of trainer pendidikan dasar (3 hari, 25 orang) Pelatihan kelompok inti (2 hari, 25 orang) Pelatihan manajemen kredit (3 hari, 12 orang) Pelatihan pembukuan (4 hari, 12 orang) 100

Pelatihan audit (5 hari, 12 orang) Lokakarya penyusunan SOP (5 hari, 12 orang) Pelatihan tersebut ditujukan bagi pengawas, pengurus, staf dan anggota potensial CU. Kecuali pelatihan kelompok inti yang pesertanya semua terdiri atas anggota potensial. Anggota potensial adalah anggota CU yang diidentifikasi mempunyai pengaruh di komunitasnya. Pelatihan sengaja diberikan agar anggota potensial ini dapat membantu pengurus dan tim manajemen CU mempromosikan manfaat CU pada komunitasnya. Alasan untuk kegiatan Mitra Evaluasi proses Berbagai input tersebut dimaksudkan untuk memantapkan kelembagaan CU. BKCUK, aktivis CU Survei paska pelatihan Sub kegiatan Kerangka waktu Biaya RACI Pelatihann kepemimpinan Desember 2010 Konsumsi kegiatan: $ 78,26 ATK: $ 54,35 Transportasi, akomodasi, konsumsi fsailitator: $ 163, 04 Insentif fasilitator: $ 534,48 R: Ade Yuliani C: BKUCK/ aktivis CU ToT Pendidikan Dasar November 2010 ATK: $ 54,35 Konsumsi kegiatan: $ 164 fasilitator: $ 163, 04 Insentif fasilitator: $ 534,48 101

Pelatihan kelompok inti November 2010 ATK: $ 54,35 Konsumsi kegiatan: $ 108,7 fasilitator: $ 163, 04 Insentif fasilitator: $ 534,48 Pelatihan manajemen kredit Januari 2010 ATK: $ 54,35 Konsumsi kegiatan:$ 78,76 fasilitator: $ 163, 04 Insentif fasilitator: $ 1087 Pelatihan pembukuan Februari 2010 ATK: $ 54,35 Konsumsi kegiatan: $ 104,3 fasilitator: $ 163, 04 Insentif fasilitator: $ 1087 Pelatihan audit Maret 2010 ATK: $ 54,35 Konsumsi kegiatan: $130,4 fasilitator: $ 163, 04 Insentif fasilitator: $ 1087 102

Lokakarya penyusunan SOP April 2010 ATK: $ 54,35 Konsumsi kegiatan: $ 130,4 fasilitator: $ 326 Insentif fasilitator: $ 1087 Perkiraan total biaya: $ 8430.95 Kerangka waktu: November 2010 April 2011 Dari kampanye sebelumnya, masih tersisa sekitar $500 dari dana BROP. Sehingga permintaan biaya untuk pelaksanaan strategi tindak lanjut ini $ 7930.95 Strategi 3: Mendorong terbentuknya rencana kelola masyarakat untuk kawasan hutan Sungai Putri Belum adanya unit pengelola usaha di dalam kawasan membuat kawasan ini seolah tak bertuan dan rentan. Masyarakat sekitar hutan perlu didorong untuk membuat perencanaan desa sebagai basis tata kelola sumberdaya alam, dalam hal ini hutan Sungai Putri. Perencanaan desa ini akan diikuti dengan pembuatan aturan lokal untuk pengelolaan hutan lestari. Dokumen ini selanjutnya bisa digunakan untuk usulan hutan desa pada pemerintah daerah maupun sebagai dasar tata guna ruang dan lahan di kawasan ini. Sasaran SMART: pada September 2011 ada 1 dokumen usulan hutan desa dari salah satu desa target, yang diserahkan pada Dinas Kehutanan Kab. Ketapang. 103

Tabel 25. Pembuatan Perencanaan Desa Kegiatan Pembuatan Perencanaan Desa Deskripsi kegiatan Alasan untuk kegiatan Mitra Untuk mendorong terbentuknya perencanaan desa, maka pemerintah desa perlu diberikan pengayaan informasi mengenai opsi pengelolaan sumber daya alam yang bisa dilakukan oleh masyarakat (dalam konteks ini hutan desa) dan cerita keberhasilan dari program serupa yang ada di Indonesia. Kegiatan yang bisa dilakukan untuk mendukung hal tersebut terutama sekali lewat seri pertemuan kampung. Belum adanya unit pengelola kawasan membuat hutan Sungai Putri lebih rentan terhadap ancaman. FFI-IP (optional) Evaluasi proses Ada dokumen usulan hutan desa yang masuk per September 2011 Sub kegiatan Kerangka waktu Biaya RACI Pertemuan kampung Maret September 2011 Paket pertemuan kampung (14 kali): $761 Transportasi dan akomodasi fasilitator: 652 R: Ade Yuliani, Sulhani C: Dinas Kehutanan Kab. Ketapang Perkiraan total biaya: $ 1413 Kerangka waktu: Maret September 2011 Sehingga perkiraan biaya total yang dibutuhkan untuk implementasi strategi tindak lanjut ini adalah $ 11047,95 dengan durasi proyek 12 bulan terhitung Oktober 2010 September 2011. 104

Kesimpulan Pada kampanye tahap pertama, strategi lebih ditekankan untuk mendidik khalayak target mengenai manfaat hutan terutama untuk mendukung aktivitas pertanian yang mereka lakukan. Selain itu, dikenalkan juga mekanisme REDD sebagai pembiayaan konservasi dimana masyarakat bisa mendapat manfaat ekonomi karena menjaga hutan. Namun dikarenakan komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap proyek ini yang tidak jelas sampai dengan sekarang, maka pada kampanye tahap kedua ini, Titian mencoba mengenalkan konsep hutan desa pada tataran pemerintah desa target. Melalui mekanisme ini, kepentingan konservasi kawasan dan kebutuhan masyarakat terhadap kayu di tingkat kampung dapat terpenuhi, tapi tentu saja dengan aturan yang jelas sehingga degradasi kawasan dapat diminimalkan. Kelembagaan CU akan terus dimantapkan sehingga peran CU dalam penguatan modal finansial dan sosial serta mendorong perubahan perilaku khalayak target di sekitar hutan Sungai Putri dapat tercapai. 105