ANALISIS KINERJA ADHOC TERHADAP PERBEDAAN CUACA

dokumen-dokumen yang mirip
ULANGAN HARIAN JARINGAN NIRKABEL

Teknologi Komunikasi Data Jaringan Nirkabel. Adri Priadana - ilkomadri.com

Mata pelajaran ini memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai konsep dasar dan design jaringan komputer.

Komunikasi dan Jaringan

PENGANTAR JARINGAN KOMPUTER. Oleh : Dahlan Abdullah Web :

JARINGAN. berhubungan untuk melakukan komunikasi data. Tahun 1940-an : di Amerika dibuatlah proses beruntun (Batch Processing)

JARINGAN WIRELESS. Jurusan T-informatika STT-Harapan Medan T.A 2016/2017 Oleh : Tengku Mohd Diansyah, ST, M.Kom 30/05/2017 1

SEKILAS WIRELESS LAN

Komunikasi dan Jaringan

Pengenalan Jaringan Komputer. Pertemuan I

Wireless Network. Konsep Dasar Jaringan Nirkabel. Muhammad Riza Hilmi, ST.

Pertemuan I. Pengenalan Jaringan Komputer

9/6/2014. Dua komputer atau lebih dapat dikatakan terinterkoneksi apabila komputer-komputer tersebut dapat saling bertukar informasi.

JARINGAN KOMPUTER JARINGAN KOMPUTER

Mengenal Jaringan Komputer (PAN, LAN, MAN dan WAN)

STANDARISASI JARINGAN WIRELESS

Wireless Network. Konsep Dasar Jaringan Nirkabel. Muhammad Riza Hilmi, ST.

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN

Bab 2 LANDASAN TEORI

KONEKSI JARINGAN AD-HOC Oleh: Hanafi

KOMUNIKASI DATA. Agar komunikasi data dapat dilakukan, 3 buah elemen harus ada. data. Media transmisi. penerima. sumber

Pengantar Wireless LAN. Olivia Kembuan, S.Kom, M.Eng PTIK UNIMA

WIRELESS NETWORK. Pertemuan VI. Pengertian Wireless Network. Klasifikasi Wireless Network

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Rahmady Liyantanto liyantanto.wordpress.com

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR

9/3/2014 PAN, LAN, WAN, MAN. Konsep Teknologi Jaringan Komputer PAN LAN MAN WAN

A I S Y A T U L K A R I M A

KONSEP DASAR JARINGAN KOMPUTER

Pengembangan Jaringan Internet Dan Intranet. Workshop Pengembangan Jaringan Internet Kementrian Agama Wilayah Riau Pekanbaru, 31 Mei 2012

JARINGAN KOMPUTER DI SUSUN OLEH : MARINI SUPRIANTY SISTEM KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS SRIWIJAYA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. menggunakan media gelombang mikro, serat optik, hingga ke model wireless.

Medium Access Control Sublayer

Dukungan yang diberikan

SISTEM UNTUK MENGAKSES INTERNET

Pertemuan 3. Dedy Hermanto/Jaringan Komputer/2010

BAB II WIRELESS PERSONAL AREA NETWORK (WPAN)

Pertemuan-1. Konsep Dasar Jaringan Komputer

PENGERTIAN JARINGAN KOMPUTER DAN MANFAATNYA

TAKARIR. Kapasitas transmisi dari sambungan elektronik. Percakapan melalui jaringan intenet.

BAB III LANDASAN TEORI

Pengantar Teknologi. Informasi (Teori) Minggu ke-05. Jaringan Komputer dan Komunikasi Data. Oleh : Ibnu Utomo WM, M.Kom UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

Introduction Information Technology: NETWORKING

Pengantar Teknologi Informasi Jaringan (Layer Fisik)

Pengertian Jaringan Sekelompok komputer yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain sehingga dapat saling berbagi dan bertukar

INTERFERENSI BLUETOOTH TERHADAP THROUGHPUT WLAN IEEE B

MACAM-MACAM JARINGAN KOMPUTER

JARINGAN. Definisi Dasar Jaringan : Dua atau lebih komputer yang saling terhubung sehingga dapat membagi data dan sumber-sumber peralatan lain

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Materi. Penilaian UTS 30% UAS 40% Tugas 20% Partisipasi 10%

Pengantar Komputer. Jaringan Komputer. Salhazan Nasution, S.Kom

JARINGAN KOMPUTER NIRKABEL AD HOC MODE WLAN

v Mengurangi biaya duplikasi usaha pengumpulan data v File terjaga dari virus virus yang merusak set-up data v Menghemat waktu dalam proses pengiriman

PENGANTAR JARINGAN KOMPUTER

STANDARISASI FREKUENSI

PENGANTAR KOMPUTER & SOFTWARE I PENGENALAN JARINGAN KOMPUTER

JARINGAN KOMPUTER. APA ITU JARINGAN COMPUTER PENGGUNA JARINGAN COMPUTER Business application Home application Mobile users

Analisis Kelemahan Keamanan pada Jaringan Wireless Aji Supriyanto

Pembimbing : Dr. Ir. Achmad Affandi DEA S2 Telematika

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. daya, dimana dibutuhkan layanan-layanan dan aturan-aturan (protocols) yang

Peralatan yang terhubung ke segmen jaringan terdefinisi sebagai networking devices

KOMUNIKASI DATA & JARINGAN KOMPUTER. Ramadhan Rakhmat Sani, M.Kom

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Pemanfaatan jaringan di kantor di Departemen Pekerjaan Umum Bidang Sosial Ekonomi Dan Lingkungan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

PERANCANGAN DAN SIMULASI RT/RW WIRELESS NET DENGAN ROUTER MIKROTIK

BAB 1 PENDAHULUAN. dinamakan hotspot. Batas hotspot ditentukan oleh frekuensi, kekuatan pancar

Membangun Jaringan Wireless Local Area Network (WLAN)

Pertemuan I. Pengenalan Jaringan Komputer. Program Studi TEKNIK INFORMATIKA

TUJUAN PEMBELAJARAN: 1. Siswa memahami tentang konsep Jaringan 2. Siswa memahami kegunaan jaringan 3. Siswa mampu menggunakan contoh layanan jaringan

PROPOSAL IMPLEMENTASI JARINGAN ANTAR KOTA MENGGUNAKAN PROTOKOL VPN DAN DYNAMIC ROUTING OSPF

I. PENDAHULUAN. telekomunikasi ke arah teknologi konektivitas nirkabel. Perkembangan teknologi

MACAM-MACAM TOPOLOGI JARINGAN

TUGAS JARINGANN KOMPUTER

PERCOBAAN VI Komunikasi Data SISTEM KOMUNIKASI BLUETOOTH

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TOERI

By. Gagah Manunggal Putra Support by :

BAB 2 LANDASAN TEORI

KOMUNIKASI & JARINGAN Modul X

Jaringan Komputer Pendahuluan

BAB 2 LANDASAN TEORI. terjadi karena adanya perkembangan teknologi jaringan yang sangat pesat.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Melakukan instalasi perangkat jaringan LAN( Lokal Area Network)

Pertemuan IV. Media Transmisi

Mata Kuliah : Jaringan Komputer Dosen Pengampu : Harun Mukhtar, S.Kom, M.Kom Universitas Muhammadiyah Riau

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

KOMUNIKASI DATA ST014 Komunikasi data nirkabel dan topologi jaringan

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Komunikasi Data 2.2 Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Layanan Broadband dapat dipenuhi dengan berbagai teknologi, seperti :

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. bertujuan untuk mempermudah pengelompokan sampel. Adapun analisis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu

LEMBAR SOAL. 2. Jaringan komputer yang memiliki radius km adalah... a. LAN c. Internet e. Nirkabel

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. WLAN dengan teknologi Infra red (IR) dan Hewlett-packard (HP) menguji WLAN

ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE

Jaringan Komputer Dasar. Oleh : Defi Pujianto, S.Kom

Jaringan Wireless Ad Hoc

Transkripsi:

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 27 (SNATI 27) ISSN: 197-522 Yogyakarta, 16 Juni 27 ANALISIS KINERJA ADHOC TERHADAP PERBEDAAN CUACA Syarif Hidayat Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri,Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km. 14 Yogyakarta 5551 Telp. (274) 895287 ext. 122, Faks. (274) 8957 ext. 148 E-mail: syarif@fti.uii.ac.id ABSTRAKSI Adhoc merupakan kumpulan node yang bergerak secara dinamis membetuk jaringan dalam jangka waktu tertentu tanpa menggunakan infrastruktur jaringan yang sudah ada ataupun administrasi terpusat. Saat ini dipasaran telah tersedia banyak perangkat komputer bergerak yang memiliki kemampuan untuk melakukan interkoneksi. Perangkat-perangkat tersebut umumnya terkoneksi satu sama lain menggunakan administrasi terpusat. Pada kondisi tertentu, seperti pada saat bencana alam, dimungkinan terjadi kerusakan infrastruktur yang menyebabkan komunikasi antar perangkat tersebut terputus. Salah satu alternatif komunikasi adalah menggunakan jaringan adhoc. Hanya saja, untuk mendesain suatu model jaringan yang reliable diperlukan suatu penelitian yang mengukur kinerja jaringan adhoc pada berbagai kondisi cuaca. Pada penelitian ini kami akan melaporkan hasil pengukuran kinerja jaringan adhoc pada ruang terbuka dengan variasi jarak pada cuaca cerah dan mendung. Kata kunci: Adhoc, analisis kinerja, cuaca 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan komunikasi data pada lingkungan yang berada diluar area yang memiliki infrastruktur jaringan semakin meningkat. Sebagai contoh, kadangkala mahasiswa perlu melakukan sharing file di kelas yang tidak memiliki jaringan kabel, rapat bisnis pada ruangan atau daerah yang tidak memiliki infrastruktur jaringan nirkabel, pekerja sosial perlu untuk menyebarkan informasi bantuan setelah terjadinya suatu gempa atau banjir. Penelitian CMU Monarch [1] pada jaringan adhoc multi hop ditujukan untuk memungkinkan koneksi semacam itu. Ciri khas jaringan adhoc adalah berkumpulnya beberapa perangkat nirkabel pada satu waktu untuk saling bertukar informasi. Pada saat bertukar informasi, perangkat tersebut dapat terus bergerak sehingga jaringan harus dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut. Karena insfrastruktur jaringan seperti repeater, hub, switch maupun access point seringkali tidak ada maupun tidak terjangkau, perangat-perangkat tersebut harus dapat mengorganisasi diri agar bisa membentuk interkoneksi dan routing secara mandiri. Pada kasus yang sederhana, perangkatperangkat tersebut dapat saling berkomunikasi secara langsung satu sama lain. Namun, jaringan adhoc juga memungkinkan komunikasi antar perangkat yang tidak terhubung satu sama lain melalui perangkat-perangkat yang lain. Dari sudut pandang tersebut, jaringan adhoc adalah suatu jaringan dimana perangkat-perangkat yang terhubung berfungsi sebagai router dan menjalankan routing protokol. Hanya saja algoritma routing standar tidak bekerja dengan baik pada topologi jaringan yang berubah dengan cepat sebagai akibat dari pergerakan perangkat-perangkat yan terlibat. Salah satu routing protokol yang digunakan pada jaringan adhoc adalah Dynamic Source Routing Protocol. Dynamic Source Routing Protocol mempunyai keunikan diantara beberapa routing protokol jaringan adhoc lainnya karena routing protokol ini menggunakan informasi pada route sumber untuk mengontrol pengiriman paket [2,3,4]. Keuntungan utama menggunakan source routing design adalah node-node intermediate tidak perlu menjaga informasi routing global karena paket-paket yang dikirim sudah mempunyai infomasi routing. Hal ini jelas akan menurunkan beban protokol karena tidak ada proses advertisement route secara berkala dan deteksi paket neighbour. Sebelumnya dijelaskan bahwa route sumber pada setiap paket mendeskripsikan jalur yang digunakan untuk melalui jaringan. Oleh karena itu, tanpa perlu paket tambahan, setiap node yang dilewati paket yang mengandung informasi source route dapat mempelajari jalur menuju ke semua node yang terdapat pada source route. Salah satu faktor pertimbangan pembentukan route adalah kekuatan signal. Jika suatu node tujuan tidak bisa dijangkau secara langsung oleh suatu node sumber, maka paket akan dikirimkan melalui node intermediate. Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai kekuatan jangkauan jaringan adhoc. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh cuaca terhadap kekuatan jangkauan jaringan adhoc. 1.2 Batasan masalah Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah pengaruh cuaca terhadap kekuatan C-157

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 27 (SNATI 27) ISSN: 197-522 Yogyakarta, 16 Juni 27 jangkauan jaringan adhoc. Penelitian akan dilakukan pada ruang terbuka seperti stadion pada cuaca cerah dan cuaca mendung. Pengukuran dilakukan dari jarak dekat dan menjauh hingga tidak dapat dilakukan koneksi. Informasi yang dihasilkan dari penelitian ini berupa data-data laju transfer maksimum dan rata-rata pada serta kekuatan sinyal pada berbagai kondisi. 1.3 Tujuan Pembahasan Informasi yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pembuatan algoritma routing pada jaringan adhoc yang lebih optimal. 2. LANDASAN TEORI 2.1 Jaringan Nirkabel Jaringan Komputer adalah sekelompok komputer otonom yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya menggunakan protokol komunikasi melalui media komunikasi sehingga dapat saling berbagi informasi, program-program, penggunaan bersama perangkat keras seperti printer, hardisk, dan sebagainya [5]. Beberapa kelebihan jaringan komputer dibandingkan dengan komputer yang berdiri sendiri adalah sebagai berikut: 1. Sharing Resource. 2. Media komunikasi. 3. Integrasi data. 4. Pengembangan dan pemeliharaan. 5. Pemanfaatan sumberdaya yang lebih efisien. Jaringan nirkabel adalah jaringan komputer yang dibentuk menggunakan udara sebagai medianya. Beberapa komputer dihubungkan satu dengan yang lain tanpa menggunakan kabel. Hal itu memberikan kebebasan bergerak bagi pengguna pada saat mengakses informasi. Kemampuan memperluas infrastruktur hingga ke berbagai tempat seperti perkantoran, perkotaan dan pedesaan juga menjadi semakin mudah. Jaringan nirkabel juga mampu menekan biaya pemasangan infrastrutur. Sistem komunikasi nirkabel tersedia dalam berbagai ragam. Beberapa komputer, laptop, PDA, dan telepon selular saat ini sudah mempunyai kemampuan untuk membuat koneksi jaringan nirkabel. Terdapat beberapa jenis Wireless Network yang dikelompokkan berdasarkan area cakupan yang dapat dijangkau suatu jaringan nirkabel. Jenis-jenis tersebut tentunya juga mempunyai kebutuhan pengguna yang berbeda pula. Di bawah ini dijelaskan macam-macam dari Wireless Network: a. Wireless Personal Area Network (WPAN) Area cakupan yang dapat dijangkau oleh jaringan jenis ini relative pendek (sekitar 15 meter) dan hanya dapat dimanfaatkan untuk pengiriman data I area yang sempit. Kemampuan WPAN termasuk sedang (kecepatan data mencapai 2Mbps) sehingga dalam perlengkapannya dapat menggantikan kabel sebagai konektornya. Wireless PAN menggunakan gelombang radio dan sinar inframerah dalam penyampaian informasi melalui udara. Sebagai contoh untuk penyampaian informasi menggunakan gelombang radio adalah dengan Bluetooth, yakni bekerja pada pita frekuensi 2.4 GHz dengan jangkauan 15 meter dan kecepatan data mencapai 2 Mbps. WPAN menggunakan sinar inframerah juga dapat digunakan sebagai alternative. Spesifikasi Infrared Data Association (IrDA) menetapkan bahwa penggunaan sinar inframerah dapat menjangkau hingga 1 meter dengan kecepatan data 4 Mbps. Terdapat keuntungan menggunakan koneksi menggunakan sinar inframerah, yaitu bebas interferensi frekuensi radio. Aka tetapi persyaratan line of sight antar perangkat komputer membatasi penempatan komponen nirkabel. Line of sight adalah jalur lurus dari antena ke horizon yang merepresentasikan jangkauan normal perambatan interval frekuensi tinggi. b. Wireless Local Area Network (WLAN) Wireless LAN serupa dengan LAN Ethernet tradisional berkabel dalam performa, komponen, biaya, dan cara kerjanya. Cara kerja teknologi Wireless LAN dalam pengiriman datanya adalah dengan menggunakan frekuensi radio sebagai perantaranya. Sekarang ini, banyak penyedia jaringan nirkabel public yang mulai merambah LAN nirkabel untuk memberikan akses broadband yang bersifat mobile pada internet. Ada tiga pita (band) frekuensi uang dapat digunakan secara bebas, antara lain adalah frekuensi 9 MHz, 2,4 GHz, dan 5,2 GHz. Tetapi untuk saat ini, kebanyakan dari perangkat komputer menggunakan standar wireless device.yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz. Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE) telah menentukan protokol standar yang digunakan pada device wireless yaitu IEEE 82.11., dan saat ini standar protokol 82.11 terdiri dari: 82.11a, teknologi menggunakan frekuensi 5GHz dan menghasilkan kecepatan 54 Mbps. 82.11b, teknologi menggunakan frekuensi 2.4 GHz dan memiliki kemampuan transmisi hingga 11 Mbps. 82.11g, teknologi sama dengan 82.11b tetapi menggunakan frekuensi 2.4 GHz dan memiliki kemampuan transmisi 54 Mbps. Ada dua jenis konfigurasi untuk jaringan wireless LAN yaitu: Konfigurasi Ad-hoc adalah jaringan yang dibuat spontan antara computer-komputer di dalam jaringan. C-158

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 27 (SNATI 27) ISSN: 197-522 Yogyakarta, 16 Juni 27 Konfigurasi Infrastruktur adalah jaringan yang terbentuk dari komputer-komputer yang saling terhubung melalui access point. c. Wireless Metropolitan Area Network (WMAN) Seperti namanya, Wireless Metropolitan Area Network mencakup area yang lebih luas dari WLAN yaitu mencakup wilyah seukuran kota metropolitan. Kemampuan dari jaringan ini sangat beraneka ragam. Seperti yang lainnya, koneksi WMAN menggunakan sinar inframerah dan gelombang radio di antara penggunanya. Kecepatan data yang dihasilkan dengan menggunakan sinar inframerah dapat mencapai 1 Gbps atau lebih. Sedangkan bila menggunakan gelombang radio hanya mampu menghasilkan 1 Kbps dan dapat menjangkau 2 mil. Tetapi performa sebenarnya yang ditawarkan oleh WMAN tergantung pada komponen dan pemilihan jenis teknologinya. Sekarang ini sudah sangat banyak ditawarkan Wireless MAN, namun industri penghasil layanan ini telah menentukan pemakaian standar (IEEE 82.11 sebagai basis wireless MAN). Penggunaan WMAN dikatakan sudah optimum dalam pemenuhan kebutuhan seperti pengiriman data di dalam gedung. Jaringan 82.11 dapat menghubungkan gedung-gedung di kota metropolitan dengan antena yang memfokuskan transmisi dan pusat penampungan satu arah. d. Wireless Wide Area Network (WWAN) Cakupan dari jaringan wireless ini sangat luas, tidak hanya antar negara tetapi dapat mencapai antar benua. Namun karena suatu pertimbangan, dapat dikatakan karena pertimbangan ekonomi, biaya yang diperlukan untuk membangun jaringan ini relatif cukup mahal. Untuk mengatasi masalah tersebut, developer mengenakan biaya pembukaan sambungan merata/sama untuk setiap pengguna, sehingga biaya yang dikenakan lebih murah. Kemampuan dari jaringan Wireless WAN ini dapat dibilang cukup rendah. Hal ini dipertegas dengan kenyataan bahwa dalam pengiriman datanya hanya mencapai 17 Mbps dan dalam kecepatan normal mencapai 56 Mbps. Tingkat performa dari jaringan ini serupa dengan modem telepon dial-up. Suatu portal wel khusus menjalankan streamline information content untuk bekerja efisien dengan perangkat yang lebih kecil dan performa yang lebih rendah. Ini merupakan kerja maksimal dari keterbatasan yang dimiliki WWAN yaitu keterbatasan bandwidth jaringan ini. 2.2 Jaringan Adhoc Jaringan adhoc adalah jaringan nirkabel yang yang memungkinkan node-node di dalamnya untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya tanpa menggunakan infrastruktur yang ada. Seringkali jaringan adhoc digambarkan sebagai jaringan peerto-peer atau seringakali juga disebut dengan Independet Basic Set Service (IBBS). Node-nde pada jaringan adhoc dimungkinan untuk melihat dan membentuk komunikasi peer-to-peer tanpa melibatkan akses point. Mode ini biasa digunakan oleh dua PC untuk dapat terhubung satu sama lain, sehingga dapat melakukan sharing resource yang ada seperti file dan data. Jaringan wireless ad-hoc merupakan jaringan peer-to-peer (tanpa server terpusat) yang biasanya di gunakan untuk sementara waktu dan untuk berbagai kebutuhan mendadak. Sebagai contoh sekelompok pegawai, masing-masing dengan komputer portabelnya melakukan rapat bisnis disebuah ruang pertemuan. Para pegawai tersebut menghubungkan komputer mereka dengan jaringan sementara hanya selama rapat bisnis tersebut berlangsung. Skema jaringan adhoc sederhana adalah sebagaimana terlihat pada gambar 1. Gambar 1. Skema jaringan adhoc sederhana 3. METODOLOGI PENELITIAN Jaringan adhoc merupakan jaringan peer-topeer (tanpa server terpusat) dan biasanya digunakan untuk sementara waktu. Karakteristik lain dari jaringan adhoc adalah seringnya terjadi perubahan topologi jaringan yang diakibatkan oleh pergerakan node-node yang terlibat di dalamnya. Untuk membuat suatu protokol routing yang reliable dalam suatu jaringan adhoc, perlu diketahui hal-hal yang mempengaruhi kinerja jaringan adhoc dalam berbagai kondisi. Node-node yang terlibat dalam suatu jaringan adhoc biasanya adalah peralatan nirkabel yang memiliki daya jangkau terbatas. Penelitian ini akan mempelajari kualitas komunikasi pada jarak yang terbatas dan pada dua cuaca yang berbeda. 4. IMPLEMENTASI 4.1 Pengukuran kualitas jaringan adhoc Jaringan adhoc yang digunakan disini hanya melibatkan dua buah komputer dengan skema seperti pada gambar 1. Pengukuran akan dilakukan pada ruangan terbuka yaitu di stadion dimana tidak ada penghalang antar dua node yang terhubung. Pengukuran pertama dilakukan pada jarak 1 meter untuk pertukaran data sebesar 4,95 MB untuk download dan.91 MB untuk upload. Setelah itu jarak antar node ditingkatkan hingga komunikasi antar node tersebut tidak bisa dilakukan. Parameter yang akan diukur adalah kekuatan sinyal, laju transfer maksimal dan laju sinyal rata-rata. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan dua aplikasi, yaitu: C-159

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 27 (SNATI 27) ISSN: 197-522 Yogyakarta, 16 Juni 27 Dumeter, yaitu aplikasi yang digunakan untuk mengukur kecepatan transfer data (download dan upload) Thinkvantage, yaitu aplikasi yang digunakan untuk mengukur kekuatan sinyal 4.2 Hasil pengukuran pada cuaca mendung 4.2.1 Download Tabel 1 berikut merupakan data pengukuran kecepatan download pada cuaca mendung. Data yang di download sebesar 4.95 MB. Tabel 1. Laju Download pada cuaca mendung (m) Transfer Data (MB) Laju Tranfer Maksimum Laju Transfer Signal Minimum 1 4,95 6,2 5,2 1 5 4,95 6,14 5,5 98 1 4,95 6,17 5,12 93 2 4,95 5,95 4,64 8 3 4,95 6,12 2,56 71 4 4,95 4,79 2,68 46 5 4,95 5,37 2,11 44 8 4,95 4,59 2,8 33 1 4,95 4,41 1,93 2 12 4,95 4,28 5,2 5 4.2.2 Upload Tabel 2 berikut merupakan data pengukuran kecepatan upload pada cuaca mendung. Data yang di download sebesar.91 MB. Tabel 2. Laju Upload pada cuaca mendung Transfer Laju Tranfer Laju Transfer Signal 1.91,15,11 1 5.91,15,11 98 1.91,14,11 93 2.91,14,1 8 3.91,13,6 71 4.91,11,6 46 5.91,12,5 44 8.91,1,6 33 1.91,1,5 2 12.91,7,2 5 4.3 Hasil pengukuran pada cuaca cerah 4.3.1 Download Tabel 3 berikut merupakan data pengukuran kecepatan download pada cuaca cerah. Data yang di download sebesar 4.95 MB. Tabel 3. Laju Download pada cuaca cerah Transfer Laju Tranfer Laju Transfer Signal 1 4,95 18,33 15,6 1 5 4,95 18,17 14,92 1 1 4,95 18,3 14,82 96 2 4,95 17,12 12,66 87 3 4,95 15,43 12,17 78 4 4,95 12,22 1,51 6 5 4,95 1,18 9,39 45 8 4,95 9,91 8,27 35 1 4,95 9.7 6,24 22 12 4,95 9.57 1,82 8 4.3.2 Upload Tabel 4 berikut merupakan data pengukuran kecepatan upload pada cuaca cerah. Data yang di download sebesar.91 MB. Tabel 4. Laju Upload pada cuaca cerah Transfer Laju Tranfer Laju Transfer Signal 1.91,15,11 1 5.91,15,11 98 1.91,14,11 93 2.91,14,1 8 3.91,13,6 71 4.91,11,6 46 5.91,12,5 44 8.91,1,6 33 1.91,1,5 2 12.91,7,2 5 5. ANALISA Download pada cuaca mendung dan cerah pada tabel 1 dan tabel 3, dibuatlah grafik 1 untuk menganalisa data perbandingan Laju transfer Maksimum pada cuaca mendung dan cerah. Laju Transfer Maksimum 2 15 1 5 Grafik Perbandingan Laju Transfer Maksimum Download pada cuaca cerah dan mendung 1 5 1 2 3 4 5 8 1 12 Maks Mendung Maks Cerah Grafik 1. Perbandingan Laju Transfer Maksimum Download pada cuaca mendung dan cerah Download pada cuaca mendung dan cerah pada tabel 1 dan tabel 3, dibuatlah grafik 2 untuk menganalisa data perbandingan Laju transfer Maksimum Download pada cuaca mendung dan cerah. Laju transfer rata-rata 2 15 1 5 Grafik Perbandingan Laju Transfer Rata-rata Download pada cuaca cerah dan mendung 1 5 1 2 3 4 5 8 1 12 Transfer Rata-rata Mendung Transfer Rata-rata Cerah Grafik 2. Perbandingan Laju Transfer Rata-rata Download pada cuaca cerah dan mendung Pada grafik 1 dan grafik 2 dapat diamati bahwa laju transfer (maksimum maupun rata-rata) pada cuaca cerah untuk download tampak lebih C-16

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 27 (SNATI 27) ISSN: 197-522 Yogyakarta, 16 Juni 27 baik. Laju transfer maksimum berbanding terbalik dengan jarak. Hal itu berarti bahwa semakin jauh jarak antar node maka laju transfer akan semakin mengecil. Upload pada cuaca mendung dan cerah pada tabel 2 dan tabel 4, dibuatlah grafik 3 untuk menganalisa data perbandingan Laju transfer Maksimum Upload pada cuaca mendung dan cerah. Laju Transfer Maks.5.4.3.2.1 Grafik Perbandingan Laju Transfer Maksimum Upload pada cuaca mendung dan cerah 1 5 1 2 3 4 5 8 1 12 Transfer Maks Mendung Transfer Maks Cerah Grafik 3. Perbandingan Laju Transfer Maksimum Upload pada cuaca mendung dan cerah Berdasarkan data Laju Transfer Rata-rata Upload pada cuaca mendung dan cerah pada tabel 2 dan tabel 4, dibuatlah grafik 4 untuk menganalisa data perbandingan Laju transfer Maksimum Upload pada cuaca mendung dan cerah. Grafik Perbandingan Rata-rata Transfer Upload pada cuaca Mendung dan Cerah.4.35.3.25.2.15.1.5 1 5 1 2 3 4 5 8 1 12 Laju Transfer Rata-rata Rata-rata transfer Mendung Rata-rata transfer Cerah Grafik 4. Perbandingan Laju Transfer Rata-rata Upload pada cuaca cerah dan mendung Pada grafik 3 dan grafik 4 dapat diamati bahwa laju transfer (maksimum maupun rata-rata) pada cuaca cerah untuk upload tampak lebih baik. Laju transfer maksimum berbanding terbalik dengan jarak. Hal itu berarti bahwa semakin jauh jarak antar node maka laju transfer akan semakin mengecil. Berdasarkan data kekuatan sinyal pada cuaca mendung dan cerah pada tabel 1 dan tabel 3, dibuatlah grafik 5 untuk menganalisa data perbandingan kekuatan sinyal pada cuaca mendung dan cerah. Kekuatan sinyal 12 1 8 6 4 2 Grafik Perbandingan Kekuatan sinyal pada cuaca mendung dan cerah 1 5 1 2 3 4 5 8 1 12 Kekuatan Sinyal saat mendung Kekuatan sinyal saat cerah Grafik 5. Perbandingan Laju Transfer Maksimum Download pada cuaca mendung dan cerah Pada grafik 5 terliha bahwa perbedaan kekuatan sinyal pada cuaca mendung dan cerah tidak begitu signifikan. 6. KESIMPULAN Dari perbandingan diatas dilihat dilihat bahwa laju transfer pada cuaca mendung lebih rendah dibanding laju transfer pada cuaca cerah. Walaupun kekuatan sinyal pada kondisi mendung dan cerah tidak begitu berbeda, namun menghasilkan perbedaan laju transfer yang relatif besar. 7. SARAN Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai penyebab lebarnya perbedaan laju transfer pada dua cuaca diatas walaupun kekuatan sinyal tidak begitu terpengaruh dengan perbedaan cuaca. PUSTAKA [1] M. Allman, V. Paxson, and W. Stevens. TCP Congestion Control. Internet Request For Comments RFC 2581, April 1999. [2] Josh Broch, David B. Johnson, and David A. Maltz. The Dynamic Source Routing Protocol for Mobile Ad Hoc Networks. Internet-Draft, draft-ietf-manet-dsr-2.txt, June 1999. Work in progress. [3] David B. Johnson and David A. Maltz. Dynamic Source Routing in Ad Hoc Wireless Networks. In Mobile Computing, edited by Tomasz Imielinski and HankKorth, chapter 5, pages 153 181.KluwerAcademic Publishers, 1996. [4] David B. Johnson and David A. Maltz. Protocols for Adaptive Wireless and Mobile Networking. IEEE Personal Communications, 3(1):34 42, February 1996.. [5] Purbo, O.W., Basalamah, A., Fahmi, I., Thamrin, A. H., 1998, TCP/IP, PT Elexmedia Komputindo, Jakarta. C-161