DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

dokumen-dokumen yang mirip
REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA SPESIFIKASI KHUSUS SEKSI 10.1

Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung

Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung

BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

PROSES PENGECATAN (PAINTING) Dosen : Agus Solehudin, Ir., MT

BAB XIII PENGECATAN A.

BAB II STUDI LITERATUR

SNI 7827:2012. Standar Nasional Indonesia. Papan nama sungai. Badan Standardisasi Nasional

Spesifikasi lapis tipis aspal pasir (Latasir)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMELIHARAAN JALAN: 13. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMELIHARAAN BERKALA JEMBATAN

Cara identifikasi aspal emulsi kationik mantap cepat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang

III. METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini menggunakan metode-metode dengan analisis studi kasus yang

Lakukan Sendiri Aplikasi Peredam Suara Mobil Acourete Paint

BAB II METODE PERANCANGAN

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

LAKUKAN SENDIRI APLIKASI PEREDAM SUARA MOBIL ACOURETE PAINT

Alik Ansyori Alamsyah Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang

Kepada Yth.: Para Pejabat Eselon I di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat SURAT EDARAN NOMOR : 46/SE/M/2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA SPESIFIKASI KHUSUS INTERIM SEKSI 6.6

KEPUTUSAN KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL NOMOR 110KEP/BSN/ 12/2008 /12/2005 TENTANG PENETAPAN 52 (LIMA PULUH DUA) STANDAR NASIONAL INDONESIA

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT?

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN

Cara uji kemampuan penyelimutan dan ketahanan aspal emulsi terhadap air

METODE PENGUJIAN TENTANG ANALISIS SARINGAN AGREGAT HALUS DAN KASAR SNI

BAB III METODE PENELITIAN. 3 bulan. Tempat pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Program Teknik Mesin,

Spesifikasi material baja unit instalasi pengolahan air

TUGAS AKHIR METALURGI PENGUJIAN KETAHANAN PROTEKSI KOROSI CAT ANTI KARAT JENIS RUST CONVERTER, WATER DISPLACING, DAN RUBBER PAINT

RSNI3 Rancangan Standar Nasional Indonesia

PEDOMAN TEKNIK TATA CARA PENENTUAN LOKASI TEMPAT ISTIRAHAT DI JALAN BEBAS HAMBATAN

TATA CARA PELAKSANAAN BETON ASPAL CAMPURAN DINGIN DENGAN ASPAL EMULSI UNTUK PERKERASAN JALAN

PENGECATAN. Oleh: Riswan Dwi Djatmiko

RSU KASIH IBU - EXTENSION ARSITEKTUR - BAB - 12 DAFTAR ISI PEKERJAAN PENGECATAN

BAB 3 METODOLOGI 3.1 Pendekatan Penelitian

PEDOMAN. Penggunaan tailing untuk lapis pondasi dan lapis pondasi bawah DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH. Konstruksi dan Bangunan

OXYFLOOR Epoxy Floor Coating

3 SKS (2 P, 1 T) Dosen Pengampu : Tim

MACAM MACAM EPOXY DAN POLYURETHANE BASED FLOORING SYSTEM BESERTA KINERJANYA

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN

Spesifikasi bangunan pelengkap unit instalasi pengolahan air

Cara uji daktilitas aspal

SNI Standar Nasional Indonesia

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENANGANAN PASCA PANEN KUNYIT. Feri Manoi

PERMASALAHAN STRUKTUR ATAP, LANTAI DAN DINDING

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

SILABUS DAN RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN (RPP) : STM 337 (1 SKS TEORI + 2 SKS PRAKTIK)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton

PERBAIKAN BETON PASCA PEMBAKARAN DENGAN MENGGUNAKAN LAPISAN MORTAR UTAMA (MU-301) TERHADAP KUAT TEKAN BETON JURNAL TUGAS AKHIR

Pemakaian Pelumas. Rekomendasi penggunaan pelumas hingga kilometer. Peningkatan rekomendasi pemakaian pelumas hingga

PEMANFAATAN ABU AMPAS TEBU ( BAGASSE ASH OF SUGAR CANE ) SEBAGAI BAHAN PENGISI ( FILLER ) DENGAN VARIASI TUMBUKAN PADA CAMPURAN ASPAL PANAS LASTON

MODUL 1 ALAT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (ALAT PELI NDUNG DI RI / APD) TINGKAT X PROGRAM KEAHLI AN TEKNI K PEMANFAATAN TENAGA LI STRI K

1. Kontruksi Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)

PENGARUH PENAMBAHAN KARET SOL PADA BETON ASPAL YANG TERENDAM AIR LAUT (204M)

ANALISA KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN DAN PERBANDINGAN STABILITAS ASPAL EMULSI DINGIN DENGAN LASTON

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PROSES PENGECORAN LOGAM

Cara uji ekstraksi kadar aspal dari campuran beraspal menggunakan tabung refluks gelas

Papan partikel SNI Copy SNI ini dibuat oleh BSN untuk Pusat Standardisasi dan Lingkungan Departemen Kehutanan untuk Diseminasi SNI

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

STUDI KINERJA BEBERAPA RUST REMOVER

Cara uji kadar air total agregat dengan pengeringan

Cara uji penetrasi aspal

SPESIFIKASI KHUSUS-2 INTERIM SEKSI 6.6 LAPIS PENETRASI MACADAM ASBUTON LAWELE (LPMAL)

BAB IV HASIL PENELITIAN

DECORATIVE PAINT PT. MEKAR PERDANA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGARUH WAKTU DAN UKURAN PARTIKEL DRY SANDBLASTING TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA BAJA KARBON SEDANG

BATU ABU SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PEMBUATAN TEGEL

Baja profil siku sama kaki proses canai panas (Bj P Siku sama kaki)

Semen portland campur

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sebagai lapisan atas struktur jalan selain aspal atau beton. Paving block dibuat dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dijadikan tanaman perkebunan secara besaar besaran, karet memiliki sejarah yang

PEDOMAN PERENCANAAN BUBUR ASPAL EMULSI (SLURRY SEAL)

Sandblasting Macam-Macam Abrasif Material untuk Sandblasting

REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

PENGARUH PERENDAMAN AIR PANTAI DAN LIMBAH DETERGEN TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR DINDING PASANGAN BATA MERAH.

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian. Mulai. Studi Pustaka. Persiapan Alat dan Bahan. Pengujian Bahan

SPESIFIKASI TEKNIS. Pasal 1 JENIS DAN LOKASI PEKERJAAN

ISOLATOR 2.1 ISOLATOR PIRING. Jenis isolator dilihat dari konstruksi dan bahannya dibagi seperti diagram pada Gambar 2.1. Universitas Sumatera Utara

International Quality Waterproofing

Kata kunci: HRS-Base, Pengendalian Mutu, Benda Uji, Uji Marshall, Uji Ekstraksi

Metode pengujian kuat lentur kayu konstruksi Berukuran struktural

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ENGINE STAND. yang diharapkan. Tahap terakhir ini termasuk dalam tahap pengetesan stand

BAB I I TINJAUAN PUSTAKA. direkatkan oleh bahan ikat. Beton dibentuk dari agregat campuran (halus dan

FAQ. Pengisi Nat (Tile Grout):

Akhmad Bestari, Studi Penggunaan Pasir Pantai Bakau Sebagai Campuran Aspal Beton Jenis HOT

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN

PENGARUH PENGGUNAAN RESIN EPOXY PADA CAMPURAN BETON POLIMER YANG MENGGUNAKAN SERBUK GERGAJI KAYU

TEKNOLOGI TEPAT GUNA PENGOLAHAN SAMPAH ANORGANIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB VI PEMBAHASAN. perawatan kesehatan, termasuk bagian dari bangunan gedung tersebut.

BAB II LATAR BELAKANG

Mekatronika Modul 11 Pneumatik (1)

BAB III DASAR PERENCANAAN. Martadinata perhitungan berdasarkan spesifikasi pembebanan dibawah ini. Dan data pembebanan dapat dilihat pada lampiran.

Cara uji kandungan udara dalam beton segar dengan metode tekan

WD (06/16)

Transkripsi:

PEDOMAN TEKNIK PEDOMAN PENANGGULANGAN KOROSI KOMPONEN BAJA JEMBATAN DENGAN CARA PENGECATAN No. 028/T/BM/1999 Lampiran No. 6 Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No. 76/KPTS/Db/1999 Tanggal 20 Desember 1999 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Diterbitkan oleh PT. Mediatama Saptakarya ( PT. Medisa ) YAYASAN BADAN PENERBIT PEKERJAAN UMUM

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA ALAMAT : JALAN PATTIMURA NO. 20 TELP. 7221960-7203165 - 7222806 FAX 7393938 KEBAYORAN BARU - JAKARTA SELATAN KODE POS 12110 KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA NOMOR : 76/KPTS/Db/1999 TENTANG PENGESAHAN LIMA BELAS PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menunjang pembangunan nasional di bidang kebinamargaan dan kebijaksanaan pemerintah untuk meningkatkan pendayagunaan sumber daya manusia dan sumber daya alam, diperlukan pedoman-pedoman teknik bidang jalan; b. bahwa pedoman teknik yang termaktub dalam Lampiran Keputusan ini telah disusun berdasarkan konsensus pihak-pihak yang terkait, dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan dan keselamatan umum serta memperkirakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh manfaat sebesarbesarnya bagi kepentingan umum sehingga dapat disahkan sebagai Pedoman Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga; c. bahwa untuk maksud tersebut, perlu diterbitkan Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga. Mengingat 1. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; 2. Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1984, tentang Susunan Organisasi Departemen; 3. Keputusan Presidcn Nomor 278/M Tahun 1997, tentang Pengangkatan Direktur Jenderal Bina Marga; 4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 211/KPTS/1984 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; 5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 111/KPTS/1995 tentang Panitia Tetap dan Panitia Kerja serta Tata Kerja Standardisasi Bidang Pekerjaan Umum; 6. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 28/KPTS/1995 tentang Pembentukan Panitia Kerja Standardisasi Naskah Rancangan SNI/Pedoman Teknik Bidang Pengairan/Jalan/ Permukiman; Membaca Surat Ketua Panitia Kerja Standardisasi Bidang Jalan Nomor UM 01 01-Bt.2005/768 tanggal 20 Desember 1999 tentang Laporan Panja Standardisasi Bidang Jalan. Memutuskan.../2.

MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA TENTANG PENGESAHAN LIMA BELAS PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Kesatu : Mengesahkan lima belas Pedoman Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga, sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ketetapan ini. Kedua : Pedoman Tenik tersebut pada diktum kesatu berlaku bagi unsur aparatur pemerintah bidang kebinamargaan dan dapat digunakan dalam perjanjian kerja antar pihak-pihak yang bersangkutan dengan bidang konstruksi. Keempat : Menugaskan kepada Direktur Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga untuk: a. menyebarluaskan Pedoman Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga; b. memberikan bimbingan Teknik kepada unsur pemerintah dan unsur masyarakat yang bergerak dalam bidang kebinamargaan; c. menghimpun masukan sebagai akibat dari penerapan Pedoman Teknik ini untuk peyempurnaannya di kemudian hari. Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bahwa, jika terdapat kesalahan dalam penetapan ini, segala sesuatunya akan diperbaiki sebagaimana mestinya. 'I'embusan Keputusan ini disampaikan kepada Yth. : 1. Kepala Badan Penelitian dan pengembangan PU, selaku Ketua Panitia Tetap Standardisasi. 2. Direktur Bina Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga, selaku Ketua Panitia Kerja Standardisasi Bidang Jalan. 3. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, selaku Sekretaris Panitia Kerja Standardisasi Bidang Jalan.

Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga Nomor : 76 /KPTS/Db/1999 Tanggal : 21 Desember 1999 PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Nomor Urut JUDUL PEDOMAN TEKNIK NOMOR P'EDOMAN TEKNIK (1) (2) (3) 1 Pedoman Pelaksanaan Campuran Beraspal Dingin untuk 023/T/BM/I999 Pemeliharaan 2 Pedoman Pembuatan Aspal Emulsi Jenis Kationik 024/T/BM/1999 3 Pedoman Perencanaan Campuran Beraspal Panas dengan 025/T/BM/1999 Pendekatan Kepadatan Mutlak 4 Pedoman Perencanaan Bubur Aspal Emulsi (Slurry seal) 026/T/BM/1999 5 Jembatan untuk Lalu Lintas Ringan dengan Gelagar Baja Tipe Kabel, Tipe Simetris, Bentang, 125 meter (Buku 2) 027/T/BM/1999 6 Pedoman Penanggulangan Korosi Komponen Baja Jembatan dengan Cara Pcngecatan 028/T/BM/1999_ 7 Tata Cara Pelaksanaan Pondasi Cerucuk Kayu di Atas 029/T/BM/1999 Tanah Lembek dan Tanah Gambut 8 Tata Cara Pencatatan Data Kecelakaan Lalu Lintas (Sistem 030/T/BM/1999 3L) 9 Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan 031/T/BM/1999 10 Pedoman Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki pada Jalan Umum 032/T/BM/1999 11 Persyaratan Aksebilitas pada Jalan Umum 033/T/BM/1999 12 Pedoman Pemilihan Berbagai Jenis Tanaman untuk Jalan 034/T/BM/1999 13 Pedoman Penataan Tanaman untuk Jalan 0/T/BM/1999 14 Pedoman Perencanaan Teknik Bangunan Perendam Bising 036/T/BM/1999 15 Tata cara Penentuan Lokasi Tempat Istirahat di Jalan Bebas Hambatan 037/T/BM/1999

DAFTAR ISI Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No. 76/KPTS/Db/1999 Tanggal 20 Desember 1999 DAFTAR ISI Halaman i BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Maksud dan Tujuan 1 1.2 Ruang Lingkup 1 1.3 Pengertian 1 BABII KETENTUAN-KETENTUAN 3 2.1 Ketentuan Umum 3 2.1.1 Cat 3 2.1.2 Bahan Pelarut 3 2.1.3 Komponen Baja Jembatan 3 2.2 Teknik 4 2.2.1 Cat 4 2.2.2 Komposisi Cat 4 2.2.3 Umur Proteksi Cat 7 BAB III PENENTUAN JENIS DAN TEBAL CAT 8 3.1 Komponen Baja Jembatan 8 3.2 Lingkungan Pantai tanpa Polusi 8 3.3 Lingkungan Pantai dengan Polusi 8 3.4 Lingkungan Pedalaman tanpa Polusi 9 3.5 Lingkungan Pedalaman dengan Polusi 10 BAB IV PERSIAPAN PERMUKAAN BENDA UJI 11 4.1 Peralatan 11 4.2 Cara Kerja 11 4.2.1 Membersihkan Kotoran 11 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 i

4.2.2 Membersihkan Oil dan Gemuk 11 4.2.3 Membersihkan Karat menurut Persiapan 11 Permukaan St 2,5 4.2.4 Membersihkan Karat menurut Persiapan 12 Permukaan St 3 BAB V PELAKSANAAN PENGECATAN 13 5.1 Peralataun 13 5.2 Cara Kerja 13 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN A LAMPIRAN B DAFTAR ISTILAH LAIN-LAIN LAMPIRAN B-1 PENGUKURAN TEBAL LAPIS CAT BASAH DENGAN ALAT WET FILM THICKNESS GAUGE LAMPIRAN B-2 PENGUKURAN TEBAL LAPIS CAT KERING DENGAN ALAT EKOMETER LAMPIRAN C DAFTAR NAMA DAN LEMBAGA Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksud dan Tujuan Pedoman Penangulangan Korosi komponen Baja Jembatan dengan Cara Pengecatan dimaksudkan sebagai pegangan dan petunjuk bagi para perencana dan pelaksana pengecatan jembatan. Tujuannya adalah untuk melindungi komponen baja jembatan terhadap korosi dengan lapisan cat yang mempunyai sifat kimia dan sifat fisik yang baik. 1.2 Ruang Lingkup Ruang lingkup pedoman ini mencakup spesifikasi dan cara pengecatan komponen baja jembatan dalam lingkungin atmosfir tetapi tidak termasuk komponen baja jembatan yang digalvanis dengan cara terendam panas. 1.3 Pengertian 1) Komponen Baja Jembatan adalah bagian dari bangunan atas dan bangunan bawah jembatan yang menggunakan bahan baja. 2) Korosi adalah proses kerusakan permukaan logam secara kimiawi akibat pengaruh lingkungan. 3) Lingkungan Atmosfir adalah lingkungan pada udara terbuka. 4) Pantai tanpa Polusi adalah pantai sampai jarak 3 km dari tepi laut dimana tidak terdapat polusi hasil-hasil pabrik. 5) Pantai dengan Polusi adalah pantai sampai jarak 3 km dari tepi laut dimana tcrdapat polusi hasil-hasil pabrik. 6) Pedalaman tanpa Polusi adalah daerah yang meliputi lokasi yang Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 1

berjarak lebih dari 3 km dari pantai dimana tidak terdapat polusi hasilhasil pabrik. 7) Pedalaman dengan Polusi adalah daerah yang meliputi lokasi yang berjarak lebih dari 3 km dari pantai dimana terdapat polusi hasil-hasil pabrik. 8) Umur Proteksi Cat adalah jangka waktu antara selesainya pelaksanaan pengecatan sampai keharusan dilakukan pengecatan berikumya. 9) Bahan Pengikat adalah bahan yang berfungsi mengikat dan melekatkan pigmen pada permukaan komponen baja jeinbatan yang akan dilindungi. Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 2

2.1 Ketentuan Umum 2.1.1 Cat BAB II KETENTUAN - KETENTUAN Secara umum cat harus mempunyai daya lekat yang baik dan mudah dilapiskan pada permukaan secara merata, memiliki ketebalan dan waktu pengeringan yang tertentu, dan tahan terhadap pengaruh sifat kimia, fisik dan cuaca. Berdasarkan fungsinya lapisan cat umumnya terdiri atas: 1) Cat dasar, yang menjamin pelekatan yang haik untuk lapisan yang berikutnya. 2) Cat antara, merupakan lapisan pengikat yang merata antara lapisan cat dasar dengan lapisan cat akhir. 3) Cat akhir, yang merupakan lapisan permukaan akhir yang halus, licin, mudah dibersihkan, dan tahan terhadap serangan zat-zat kimia. 2.1.2 Bahan Pelarut Bahan pelarut adalah bahan untuk mengencerkan cat agar memiliki kekentalan yang dikehendaki, dan biasanya terdiri atas zat organik seperti: terpentin, hidrokarhon, keton dan ester. 2.1.3 Komponen Baja Jembatan Permukaan struktur baja jembatan harus bersih dan bebas dari lemak, debu, produk korosi, residu garam, dan sebagainya. Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 3

2.2 Teknik 2.2.1 Cat Jenis cat yang umum dipakai untuk pengecatan komponen baja jembatan dapat diklasifikasikan dalam Tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Jenis Cat No. Klasifikasi Cat Karakteristik dan Unsur-unsur Pokok 1. 2. 3. 4. 5. Organic zinc-rich Anorganic zinc-rich One-pack chemical resistant Two-pack chemical resistant Coaltar epoxy resistant Zinc dan organik binder Zinc dan silikat binder Chlorinated nibber, vinyl Epoxy, polyurethane, resin Epoxy 2.2.2 Komposisi Cat Tabel 2. Komposisi Cat No. Klasifikasi Jenis Cat Fungsi Bahan Pengikat Jenis Pigmen Volume Bahan Padat Nominal (%) Rata-rata Pigmen dalam Total Pigmen (% berat minimum) Tebal Lapisan Kering ( m/lapis) (minimum yang dianjurkan) 1 2 4 5 6 8 1. Organic Cat Dasar Two pack Serbuk seng 95 50 zinc-rich epoxy 2. Inorganic Alkali silikat Serbuk seng 80 75 zinc-rich Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 4

1 2 3 4 5 6-8 3. One pack Cat dasar Chlorinated Seng fosfat chemical rubber Seng chromat resistan Serbuk seng 95 (BS 4652 Type 1) Serbuk seng (BS 4652 Type 2) 95 Methalik lead 45 50 Vinyl Seng fosfat chlorida Seng chromat Serbuk seng 95 Serbuk seng 95 I Cat antara Chlorinated Rubber Vinyl chlorida/ asetat Titanium Oksida Micaceous besi oksida Titanium Oksida 25 30 80 30 Micaceous Besi oksida 80 Cat akhir Chlorinated Titanium 90 25 rubber oksida 30 90 Kabon black 30 25 Besi oksida 80 80 30 Vinyl Titanium 90 25 chlorida/ dioksida 30 90 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 5

1 2 3 4 5 6 7 8 Karbon black 25 30 Besi oksida 80 30 80 Aluminium 95 25 30 95 4. Two pack chemical resistance Cat dasar Two-pack epoxy Seng fosfat Serbuk seng 95 Serbuk 50 seng/seng 45 50 oksida Metalik lead Cat antara Two-pack epoxy Titanium dioksida (warna putih) 45 45 45 80 Best oksida 45 80 Two-pack poly urethane Titanium oksida 45 Mecaceous 45 80 iron oxide 45 80 Cat Two-pack Titanium 45 90 akhir epoxy dioksida 90 (warna putih) Cat Two-pack Pigmen akhir epoxy warna & Karbon hitam Besi oksida 45 80 45 80 Alumunium 45 95 Two-pack poly urethane Titanium dioksida (warna 45 90 90 75 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 6

1 2 3 4 5 6 8 Pigmen warma tanpa Kimia dan karbon 45 75 Two-pack Besi oksida 45 80 poly 45 80 70 Cat akhir Two-pack epoxy Silikat 60 55 60 atau Modifikasi epoxy coaltar Besi oksida 60 60 55 2.2.3 Umur Proteksi Cat Umur proteksi cat dapat dilihat Dada Tabel 3 sebagal berikut: Tabel 3. Kategori dan Umur Proteksi Cat No. Kategori Umur Proteksi Umur Proteksi Cat (tahun) 1. 2. 3. 4. Proteksi jangka pendek Proteksi jangka sedang Proteksi jangka panjang Proteksi jangka sangat panjang < 5 5 10 > 10 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 7

BAB III PENENTUAN JENIS DAN TEBAL CAT 3.1 3.1 Komponen Baja Jembatan Kriteria penentuan jenis dan tebal cat untuk komponen baja jembatan tergantung pada kondisi lingkungan dan umur proteksi cat. 3.2 Lingkungan Pantai tanpa Polusi Kriteria sistim pengecatan dalam Lingkungan Pantai tanpa Polusi umur proteksi 5 tahun dari 10 tahun, lihat Tabel 3.1. Tabel 3.1 Umur Proteksi, Jenis, dan Tebal Cat untuk Lingkungan Pantai tanpa Polusi Jenis Cat Tebal Cat Dasar Antara Akhir Total Umur Proteksi Cat (tahun) Organic zinc-rich - - 75 75 5 atau Inorganic zinc rich - - 10 One-pack chemical 60 55 150 5 Resistance 70 270 10 3.3 Lingkungan Pantai dengan Polusi Sistim pengecatan dalaun Lingkungun Pantai dengan Polusi untuk umur proteksi 5 tahun dan 10 tahun dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut: Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 8

Tabel 3.2 Umur Proteksi, Jenis, dan Tebal Cat untuk Lingkungan Pantai dengan Polusi Jenis cat Tebal Cat (µm) Dasar Antara Akhir Total Umur Proteksi Cat (tahun) Organic zinc-rich - - 5 atau Inorganic zinc rich 150 150 10 One-pack chemical 70 30 200 5 resistance 1110 300 10 Two-pack chemical 70 70 2 5 resistance 70 270 10 3.4 Lingkungan Pedalaman tanpa Polusi Sistim pengecatan dalam Lingkungan Pedalaman tanpa Polusi untuk umur proteksi 5 tahun dan 10 tahun dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut: Tabel 3.3 Umur Proteksi, Jenis, dan Tebal Cat untuk Lingkungan Pedalaman tanpa Polusi Tebal Cat (µm) Jenis Cat Dasar Antara Akhir Total Umur Proteksi Cat (tahun) Organic zinc-rich 75 75 5 atau Inorganic zinc rich 10 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 9

One-pack chemical resistance 70 60 55 150 270 5 10 3.5 Lingkungan Pedalaman dengan Polusi Sistim pengecatan dalam Lingkungan Pedalaman dengan Polusi untuk umur proteksi 5 tahun dan 10 tahun dapat di lihat pada Tabel 3.4 berikut: Tabel 3.4 Umur Proteksi, Jenis, dan Tebal Cat untuk Lingkungan Pedalainan dengan Polusi Jenis Cat Tebal Cat (µm) Dasar Antara Akhir Total Umur Proteksi Cat (tahun) Organic zinc-rich - - 5 atau Inorganic zinc rich - - 150 150 10 One-pack chemical 70 30 200 5 resistmice l00 300 10 Two-Pack chemical 70 70 2 5 resistance 70 270 10 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 10

BAB IV PERSIAPAN PERMUKAAN BENDA UJI Persiapan permukaan komponen baja masing-masing sistim pengecatan umur 5 tahun dan 10 tahun dilaksanakan sebagai berikut: 4.1 Peralatan Peralatan yang digunakan untuk persiapan permukaan terdiri atas:alat kerok, alat pengelupas, mesin pengelupas, sikat kawat, mesin penggosok, gurinda, penghisap debu, kompresor, kuas, semprotan air, dan peralatan sand blasting. 4.2 Cara Kerja 4.2.1 Membersihkan Kotoran Kotoran berupa tanah, debu, dan kotoran lainnva dihilangkan dengan disikat atau dikerok atau disemprot air sampai bersih. 4.2.2 Membersihkan Oli dan Gemuk Oli dan gemuk dihilangkan dengan cara menggosoknya dengan kain atau kuas yang dicelupkan ke dalam larutan xylol, thiner, bensin, dan lain-lain. 4.2.3 Membersihkan Karat menurut Persiapan Permukaan Sa 2,5 Karat dan kotoran lainnya dihilangkan dengan cara dipukul, dikerok, disikat, digurinda, dan dilanjutkan dengan semprotan pasir yang biasanya menggunakan pasir silika atau pasir besi yang disemprotkan pada permukaan logam yang akan dibersihkan dengan menggunakan Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 11

udara bertekanan, kemudian permukaan baja dibersihkan dengan penyedot debu dan ditiup dengan kompresor atau disikat dengan kuas bersih. Permukaan komponen baja dibersihkan sampai mencapai warna kertas standar Sa 2,5. 4.2.4 Membersihkan Karat menurut Persiapan Permukaan St 3 Karat dan kotoran lainnya dihilangkan dengan cara dipukul, dikerok, disikat, digurinda, dan permukaan baja dibersihkan dengan vacum cleaner dan ditiup dengan kompresor/disikat dengan kuas bersih. Permukaan komponen baja dibersihkan sampai kelihatan sesuai warna kertas standar St 3 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 12

BAB V PELAKSANAAN PENGECATAN Berikut ini tahapan yang harus dilakukan untuk pengerjaan di lapangan. Pengecatan komponen baja masing-masing sistim pengecatan umur 5 tahun dan 10 tahun. 5.1 Peralatan Peralatan yang digunakan untuk pelaksanaan pengecatan terdiri atas: semprotan vacum (tanpa udara), semprotan udara, kompressor, kwas, alat pengukur ketebalan cat, alat pengukur ketebalan basah, alat pengukur ketebalan kering, dan keselamatan kerja seperti sabuk pengaman dan helm. 5.2 Cara Kerja 1) Sebelum dilakukan pengecatan, benda uji harus betul-betul sudah bersih dari kotoran maupun karat. Waktu antara penyelesaian persiapan permukaan dan pengecatan dasar tidak boleh lebih dari 3 jam. 2) Pengecatan dasar dilakukan dengan menggunakan mesin penyemprot besar. 3) Sebelum digunakan, bahan cat yang terdiri atas 2 komponen diaduk secara terpisah sebelum dicampur dengan perbandingan yang ditentukan oleh pabrik pembuat dan diawasi oleh seorang pengawas. 4) Pengencer dapat ditambahkan seperti yang telah ditentukan oleh pabrik pembuat. 5) Pada permukaan baja yang sudah bersih, pengecatan dasar dilakukan dengan cara cat disemprotkan dengan semprotan cat yang dihubungkan dengan kompressor. Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 13

6) Ukur ketebalan lapisan cat basah dengan alat pengukur ketebalan cat hasah (Wet Film Thickness Gauge) dan tunggu sampai lapisan cat menjadi kering. 7) Ukur ketebalan lapisan cat kering dengan alat ketebalan cat kering (Elkometer). 8) Lapisan antara dan lapisan akhir dilaksanakan dengan menggunakan penyemprot mesin dan kwas minimum 24 jam dan maksimum 72 jam setelah lapisan dasar kering. Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 14

LAMPIRAN A DAFTAR ISTILAH solvent = pelarut binder = pengiikat vacum cleaner = penghisap debu sand blasting = semprotan pasir chipping = mengelupas brushing = menyikat St 3 = tingkat kebersihan permukaan logam secara manual Sa 2,3 = tingkat kebersihan permukaan logan secara semprotan pasir Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 15

LAMPIRAN B: LAIN -LAIN LAMPIRAN B-1 PENGUKURAN TEBAL LAPIS CAT BASAH DENGAN ALAT WET FILM THICKNESS GAUGE B.1 TEBAL LAPIS CAT BASAH B.1.1 Metode Pengukuran a. Pengecatan dengan kuas/dengan menyemprotkan cat ke permukaan logam yang rusak (cat lapis pertama). b. Kemudian ukur ketebalan lapis cat tersebut dengun alas Wet Film Thickness Gauge. c. Lakukan kembali pengecatan dengan kuas/dengan menyemprotkan cat di atas cat lapis pertama (cat lapis kedua). d. Ukur ketebalan cat lapis kedua dengan alat yang lama seperti di atas. e. Ulangi kegiatan tersebut hingga diperoleh ketebalan yang diinginkan sesuai ketentuan pada Bab III, Contoh Perhitungan, dan Gambar 1 Pengukuran Tebal Lapis Cat Basah. Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 16

Gambar 1 Alat Pengukur Tebal Cat Basah (Wet Film Thickness Gauge) Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 17

B.1.2 CONTOH PERHITUNGAN 0B Tebal Basah = A B = Volume cat dalam liter A = Luas permukaan tertutup cat dalam m 2 Contoh Perhitungan: - Misalnya pemakaian cat = 500 gram/m 2 - Berat Volume Cat = 1,5 gram/cm3 - Volume dalam liter = 500 0,333liter 1,5 - Tebal Basah = 0xB A 0x0,333 333 m 1 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 18

LAMPIRAN B-2 PENGUKURAN TEBAL LAPIS CAT KERING DENGAN ALAT ELKOMETER B.2 TEBAL LAPIS CAT KERING B.2.1 Metode Pengukuran a. Cat dengan kuas/semprotkan cat permukaan logam yang berukuran tertentu (cat lapis pertama). b. Setelah kering, ukur tebal lapis cat tersebut dengan alat elkometer. c. Cat dengan kuas/semprotkan kembali cat di atas cat lapis pertama (cat lapis kedua). d. Ukur ketebalan cat lapis kedua denlan alat yang sama seperti di atas. e. Ulangi kegiatan tersebut hingga diperoleh ketebalan yang diinginkan sesuai ketentuan pada Bab III, Contoh Perhitungan, dan Gambar 2 Pengukuran Tebal Lapis Cat Kering. Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 19

Gambar 2 Alat Pengukuran Cat Kering (Elkometer) Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 20

B.2.2 CONTOH PERHITUNGAN Keterangan : 10BxC Tebal Kering = A B = Volume cat dalam liter A = Luas permukaan tertutup cat dalam m 2 Contoh Perhitungan: - Misalnya pemakaian cat = 500 gram/m 2 - Berat Volume Cat = 1,5 gram/cm3 - Total Solid = 60% - Volume dalam liter = 500 0,333liter 1,5 - Tebal Basah = 10BxC A 10x0,333x60 200 m 1 Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999 21

DAFTAR PUSTAKA Directorate General of HIighway, General, Spesification, Section 5.7. Paintings. Direktorat Penyelidikan Masalah Tanah dan Jalan dan Petunjuk Perencanaan Pengecatan Untuk Jembatan, 1981. Irman Nurdin, Teknologi Penanggulangan Korosi Tiang Pancang, 1996. Pedoman Teknik No. 028/T/BM/1999

LAMPIRAN C DAFTAR NAMA DAN LEMBAGA 1) Pemrakarsa Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, Badan Penelitian dan Pengembangan PU. Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga 2) Penyusun : 4). Kelompok Kerja Bidang Konstruksi Jembatan & Bangunan Pelengkap Dra. Lien Suharlinah Pusat LitbangJalan Jalan (SK Ketua Panja No.: 13/KPTS/Bt/1999) Ir. Redrik 1rawan Pusat LitbangJalan Ketua: DR. It. Mustazir Noesir, MM Ditjen Bina Marga 3) Tim Pembahas : Wakil Ketua: DR. Ir. Mustazir Noesir, MM Ditjen Bina Marga Ir. Wawan Witamawan, hl.sc, ME Pusat LitbangJalan Ir. Irwan Zarkasi, M.EngSc Ditjen Bina Marga Anggota: Ir. Lany Hidayat Ditjen Bina Marga Ir. Irwan Zarkasi, M.EngSc Ditjen Bina Marga Ir. Hery Vaza, MLEngSc Ditjen Bina Marga Ir. Lany Hidayat Ditjen Bina Marga Ir. Tri Djoko Waluyo, M.EngSc Ditjen Bina Marga Ir. Hery Vaza, M.EngSc Ditjen Bina Marga Ir. Joko Sulistyono, M.Sc Ditjen Bina Marga Ir. Tri Djoko Waluyo, M.EngSc Ditjen Bina hiarga Ir. Wawan Witarnawan, M.Sc, ME Pusat Litbang Jalan Ir. Joko Sulistyono, M.Sc Ditjen Bina Map Ir. Jujun J. Pusat Litbang Jalan Ir. Wawan Witarnawan, M.Sc, ME Pusat Litbang Jalan Ir. Sjamsudin H Pusat Litbang Jalan Ir. Lanneke Trsitanto Pusat Litbang Jalan Ir. Redrik Irawan Pusat Litbang Jalan Ir. Sjamsudin H Pusat Litbang Jalan Dra. Lien Suharlinah Pusat Litbang Jalan Ir. Nandang Syamsudin Pusat Litbang Jalan Ir. Lanneke Trsitanto Pusat Litbang Jalan Ir. Rustaman, MSc Pusat Litbang Jalan Ir. Rahadi Sukirman Pusat Litbang Jalan Ir. KGS. Axchmad Pusat Litbang Jalan Ir. Joko Purnomo Pusat Litbang Jalan Ir. Lasino Pusat Litbang Permukiman Ir. Felisa Simarmata Pusat Litbang Permukiman DR.Ir. Hanafiah Perguruan Tinggi Ir. Swardirjus Perguruan Tinggi Ir. Rudi Suherman Perguruan Tinggi