BAB III PROSEDUR PENGUJIAN Pengambilan sampel pelumas yang sudah terpakai secara periodik akan menghasilkan laporan tentang pola kecepatan keausan dan pola kecepatan terjadinya kontaminasi. Jadi sangat penting melakukan sampling secara periodik agar dapat menghasilkan data sebagai dasar evaluasi. Tujuannya agar ada keseimbangan antara biaya per sampel dengan kemungkinan ditemukan suatu masalah yang terjadi. Interval yang lebih pendek memang menaikan biaya, tapi jarang terjadi ada sesuatu yang tertinggal. Interval yang lebih lama memang menghemat biaya analisa, tapi kemungkinan tidak cukup waktu untuk melakukan pemeliharaan secara ekonomis bila terjadi sesuatu kelainan atau keausan yang berlebihan pada mesin. Berdasarkan pengalaman, interval yang cukup baik untuk sampling pada engine yang normal atau ideal berkisar antara 125 s/d 250 jam. Sedangkan untuk komponen lain seperti hidraulik atau final drive berkisar antara 250 s/d 500 jam. Pada pemerikasaan untuk mesin mesin baru periodenya akan lebih pendek, karena pada periode tersebut engine biasanya mempunyai keausan yang tinggi karena ada break in periode. Beberapa pabrik engine menganjurkan pemeriksaan setiap 25 jam pada periode ini. Sedangkan untuk non engine ( bukan turbin) periode pemeriksaan 100 jam. 3.1 Diagram Alir Pengujian 36
3.2 Spesifikasi Mesin Uji 37
Spesifikasi jenis mesin yang digunakan sebagai mesin uji tersebut adalah : Mesin diesel Isuzu Elf 2771 cc, berkapasitas 4 silinder dan mempunyai sistem injeksi bahan bakar solar. Gambar 3.2 Mesin diesel Isuzu Elf 4 JB1-TC Engine Model Engine type : 4 JB1-Turbo Intercooler : Diesel, Four cycle, Inline-Four Cylinder Fuel Injection order : 1-3-4-2 Bore x Stroke ( mm ) : 93 x 102 Total Displacement ( cc ) : 2771 Compresi Ratio : 18 : 1 Valve Clearance ( mm ) : 0,40 Combustion chamber type : Direct Injection Max Power PS / rpm : 95 / 3400 38
Max Torque Kg.m / rpm : 21 / 2000 Cylinder Liner Fuel System Injection Pump type Injection Nozzle type : Dry type liner : Direct Injection : Distributor type, VE : Bosch 4 hole type Number of injector nozzle : 5 Injection Nozzle : 199 ( 1 st ) 270 ( 2 nd ) Operating Pressure ( Kg/cm2 ) Valve Timing Drive type : 4º BTDC : Gear Drive Valve layout : OHV ( 8 valves ) EGR System : Egr vacuum control Applicable Emission : Euro 2 3.3 Peralatan ( Fasilitas ) Pendukung dalam Pengujian 3.3.1 Fuel Gauge ( Gelas ukur ) Kapasitas : 1000 ml 39
Gambar 3.3 Gelas Ukur 3.3.2 Sistem Pendingin Sistem pendingin yang digunakan pada mesin diesel ini berupa, radiator dan kipas yang terpasang pada kendaraan. Gambar 3.4 Sistem Pendingin Mesin Radiator dan Kipas 3.3.3 Pengukur Bahan Bakar Pengukur bahan bakar menggunakan drigen yang berkapasitas 5 liter, sehingga dapat mengetahui berapa banyak bahan bakar yang telah digunakan. 40
Gambar 3.5 Pengukur Bahan Bakar dengan Kapasitas 5 liter 3.3.4 Pengukur Temperatur Pengukur temperatur digunakan untuk menentukan temperatur kerja mesin setiap perubahan putaran mesin. Gambar 3.6 Alat Pengukur Temperatur Kerja Mesin. 3.3.5 Pengukur Putaran Mesin Pengukur putaran mesin digunakan untuk mengetahui kecepatan putaran mesin pada saat pengujian dengan putaran mesin yang berbeda beda antara 800 rpm, 1250 rpm, 1700 rpm. 41
Gambar 3.7 Alat Pengukur Putaran Mesin 3.3.6 Automatic Tritator Alat ini digunakan untuk mengukur nilai TBN yang terdapat pada pelumas 3.3.7 Viscosity Kinematic Bath Gambar 3.8 Alat Automatic Tritator Prinsip kerja alat viscosity kinematic bath ini adalah dengan mengukur waktu yang diperlukan oleh sejumlah liquid yang mengalir dibawah gaya grafitasi dalam viscometer pada kondisi temperature tertentu. 42
Gambar 3.9 Alat Viscosity Kinematic Bath 3.3.8 Inductive Couple Plasma pada pelumas. Alat ini digunakan untuk mengetahui kandungan logam yang terdapat Gambar 3.10 Alat Inductive Couple Plasma 3.4 Persiapan Pengujian 3.4.1 Kondisi Tempat Uji a. Kondisi sekitar (luar), suhu udara luar untuk pengujian kendaraan dan peralatan ukur (uji) berada sekitar 27º C. b. Pengujian dilakukan ditempat terbuka, sehingga polusi yang dihasilkan tidak mengganggu pernapasan dan lingkungan. 43
3.4.2 Kondisi Motor dan Kendaraan a. Kendaraan yang diuji berada pada tempat yang datar. b. Tarik tuas rem parkir, sehingga kendaraan tidak dapat bergerak. c. Kendaraan dengan transmisi manual, posisi gigi pada posisi netral (N). d. Segel pada mesin sesuai dengan spesifikasi pabrik. e. Mengganti oli mesin dan saringan oli dengan oli baru yang akan digunakan. f. Tidak ada kebocoran pada system gas buang. g. Choke harus dalam keadaan baik dan dapat digunakan. h. Pengukur suhu digunakan untuk mengukur suhu kerja mesin, hingga mencapai 80º C. i. Putaran mesin harus stabil dan system bahan bakar tidak mengalami penyumbatan. j. Bahan bakar yang digunakan harus memenuhi persyaratan. 3.4.3 Prosedur Menjalankan Mesin 1. Periksa kondisi pelumas dan level tinggi pelumas melalui stik oli. 2. Periksa kapasitas bahan bakar yang akan digunakan. 3. Periksa kondisi dan level air pendingin radiator. 4. Hidupkan mesin dengan memutar kunci kontak, hingga mesin hidup. 5. Memeriksa kondisi mesin putaran rendah, apakah sudah bekerja dengan baik melalui pendengaran terhadap suara yang ditimbulkan. 44
6. Membiarkan mesin hidup selama beberapa menit untuk mencapai kondisi ideal. 7. Memeriksa kondisi minyak pelumas dan pemeriksaan kondisi mesin selama beroperasi. 3.4.4 Prosedur Pengukuran 1. Mengamati putaran mesin pada putaran dan membaca konsumsi bahan bakar 2. Mengamati temperatur kerja mesin selama mesin beroperasi. 3.4.5 Prosedur Pengujian Pengujian dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut : 1. Pengujian bahan bakar biosolar dan perta dex terhadap pelumas mesin dengan menggunakan kendaraan Isuzu Elf pada putaran 800 rpm, 1250 rpm, 1700 rpm dengan keadaan mesin diam (stand vehicle). 2. Pengujian dilakukan selama 11 hari menghabiskan waktu +/- 100 jam, dengan menghidupkan mesin selama 1 hari dari jam 08.00 s/d jam 17.00. 45
3. Pengambilan sample pelumas bekas untuk di analisa hasilnya, dilakukan pada hari terakhir pengujian, banyaknya pelumas bekas yang diambil samplenya sebanyak 1000 ml. 4. Pengujian viskositas, TBN (total base number), dan kandungan logam terhadap sample pelumas bekas dengan menggunakan mesin uji yang dilakukan dilaboratorium X. 3.5 Diagram Alir Pelumas Mesin Diesel pada Saat Sebelum dan Setelah Pengujian 3.5.1 Pengujian dengan Bahan Bakar Bio Solar 46
Pelumas ini dipilih karena memenuhi kriteria untuk dapat digunakan pada kendaraan bermesin diesel Sebelum Pengujian Setelah melalui proses pengujian, warna pelumas Nampak berubah menjadi hitam dan viskositas dari pelumas tersebut mengalami Setelah Pengujian perubahan 3.5.2 Pengujian dengan Bahan Bakar Perta Dex Pelumas ini dipilih karena memenuhi kriteria untuk dapat digunakan pada kendaraan bermesin diesel 47
Sebelum Pengujian Setelah melalui proses pengujian, warna pelumas nampak berubah menjadi hitam dan viskositas dari pelumas tersebut masih dalam batas normal Setelah Pengujian 48