TES KEHAMILAN (PREGNANCY TEST)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. (dengan cara pembelahan sel secara besar-besaran) menjadi embrio.

1. Perbedaan siklus manusia dan primata dan hormon yang bekerja pada siklus menstruasi.

Materi 10. Reproduksi I

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Berbagai komplikasi yang dialami oleh ibu hamil mungkin saja terjadi

Siklus menstruasi. Nama : Kristina vearni oni samin. Nim: Semester 1 Angkatan 12

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 2. Sistem Reproduksi ManusiaLatihan Soal 2.1

Anatomi/organ reproduksi wanita

GENITALIA EKSTERNA GENITALIA INTERNA

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

Sistem hormon wanita, seperti pada pria, terdiri dari tiga hirarki hormon, sebagai berikut ;

HUBUNGAN HORMON REPRODUKSI DENGAN PROSES GAMETOGENESIS MAKALAH

Perawatan kehamilan & PErsalinan. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

Gangguan Hormon Pada wanita

Ni Ketut Alit A. Airlangga University. Faculty Of Nursing.

Anatomi sistem endokrin. Kerja hipotalamus dan hubungannya dengan kelenjar hormon Mekanisme umpan balik hormon Hormon yang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan fase prapubertas menjadi pubertas membutuhkan jalur yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Jawarandu merupakan kambing lokal Indonesia. Kambing jenis

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. mengeluarkan hormon estrogen (Manuaba, 2008). Menarche terjadi di

BAB I PENDAHULUAN tahun jumlahnya meningkat dari 21 juta menjadi 43 juta atau dari 18%

... Tugas Milik kelompok 8...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel

Proses-proses reproduksi berlangsung di bawah pengaturan NEURO-ENDOKRIN melalui mekanisme HORMONAL. HORMON : Substansi kimia yang disintesa oleh

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

KESEHATAN REPRODUKSI. Erwin Setyo Kriswanto PENDIDIKAN OLAHRAGA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. mengeluarkan hormon. Di dalam setiap ovarium terjadi perkembangan sel telur

Seksualitas Remaja dan Kesehatan Reproduksi Rachmah Laksmi Ambardini Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. kehamilan ektopik yang berakhir dengan keadaan ruptur atau abortus. 12 Kehamilan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah suatu tahap peralihan antara masa anak-anak. menuju dewasa. Sebelum memasuki masa remaja, seseorang akan

TANDA-TANDA KEHAMILAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. bagian dari pemeliharaan kesehatan komperhensif bukan lagi hal yang baru.

UNIVERSITAS GUNADARMA

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 2. Sistem Reproduksi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 2

SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN INFERTIL

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat

Implementasi Reproduksi dan Embriologi dalam Kehidupan Seharihari

TINJAUAN PUSTAKA Pubertas Siklus Menstruasi

BAB I PENDAHULUAN. tubuh baik dari segi fisik maupun dari segi hormonal. Salah satu. perkembangan tersebut adalah perkembangan hormone Gonadotropin

DIAGNOSIS SECARA MIKROBIOLOGI : METODE SEROLOGI. Marlia Singgih Wibowo School of Pharmacy ITB

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemampuan untuk mengatur fertilitas mempunyai pengaruh yang bermakna

Permulaan Kehidupan Manusia

PROSES KONSEPSI DAN PERTUMBUHAN JANIN Oleh: DR.. H. Moch. Agus Krisno Budiyanto, M.Kes.

BAB I PENDAHULUAN. Wanita dikatakan istemewa karena jumlah populasinya yang lebih besar dari pada

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB II SINKRONISASI ALAMI A. PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. Selatan. Sapi pesisir dapat beradaptasi dengan baik terhadap pakan berkualitas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

- - SISTEM REPRODUKSI MANUSIA - - sbl2reproduksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) yang. terakhir dilaksanakan pada tahun 2007, walaupun menunjukkan

BAB II TINJAUAN TEORITIS. dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

TANDA-TANDA AWAL KEHAMILAN. Ditulis oleh Rabu, 02 May :10 -

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. endometrium yang terjadi secara rutin setiap bulan (Ayu dan Bagus, 2010).

BAB V PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan endometriosis dengan

BAB I PENDAHULUAN. senam aerobik yang sangat diminati ibu-ibu dan remaja putri baik di kota

KESEHATAN REPRODUKSI* Oleh: Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes**

BAB I PENDAHULUAN. dengan laju pertumbuhan penduduk per tahun sekitar 1,49 persen. Pada periode

Proses fisiologis dan biokimiawi yang meregulasi proses persalinan

PERUBAHAN SELAMA KEHAMILAN

Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang Ovulasi Dalam Rangka Program Kehamilan Di Desa Jenggrik Kecamatan Kedawung Kabupaten Sragen

I. PENDAHULUAN. jika ditinjau dari program swasembada daging sapi dengan target tahun 2009 dan

Berdasarkan susunan selaput embrionya kembar identik dibedakan menjadi 3 yaitu :

MODUL MATA PELAJARAN IPA

BAB XIV. Kelenjar Hipofisis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Apa itu Darah? Plasma Vs. serum

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH RHESUS

ADLN - Perpustakaan Unair

JURNAL BIOLOGI, Vol. 2 No. 2, Tahun 2013, Halaman 1-13

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA 2 : MENSTRUASI PARTUS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara

Masa yang bermula dari akhir tahap reproduksi berakhir pada awal senium umur tahun

dr. Supriyatiningsih, M.Kes., SpOG

oleh: Dr. Lismadiana, M.Pd Lismadiana/lismadiana.uny.ac.id

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma sehingga dapat mencegah

BAB I PENDAHULUAN. dengan nidasi atau implantasi ( Prawirohardjo, 2009:213).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengalaman merupakan guru yang baik, yang menjadi sumber pengetahuan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Komplementari terapi pada kasus infertility. Nety Rustikayanti

HASIL DAN PEMBAHASAN Reaksi Antiserum terhadap TICV pada Jaringan Tanaman Tomat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dipahami. Ketiga konsep ini saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Ketiga konsep pengertian tersebut adalah :

BAB I PENDAHULUAN. keluar melalui serviks dan vagina (Widyastuti, 2009). Berdasarkan Riset

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG SURROGATE MOTHER. A. Teknologi Reproduksi Buatan pada Manusia

BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007).

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 19 April 2016, bertempat

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN NORMAL ( ANTENATAL CARE ) DI RS.Dr. SARDJITO YOGYAKARTA Diposkan oleh Rizki Kurniadi

BAB II TINJAUAN TEORI. Setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat, yang telah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2016.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem

Transkripsi:

TES KEHAMILAN (PREGNANCY TEST) Satu hal yang tidak bias lepas dari proses kehamilan adalah perubahan hormon yang menyebabkan berbagai perubahan organ dan system tubuh seorang ibu hamil. Hormon itu sendiri merupakan aneka substansi kimia yang dilepaskan kealiran darah untuk merespons suatu rangsangan dan mengaktifkan sel, sesuai dengan hormon yang dibutuhkan dan membutuhkannya. Fertilisasi terjadi pada hari-hari setelah ovulasi yang merupakan titik tengah daur haid. Telur yang telah mengalami proses pembuahan mengapung kearah tuba fallopi dan masuk kedalam uterus dimana ovum menanam diri pada endometrium sekretorik yang telah siap. Segera setelah implantasi pada hari ke-21 hingga hari ke-23 dari siklus, dimulai produksi gonadotropin korionik (chorionic gonadotrpin,cg). Hormon Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah hormon khas kehamilan (ditemukan dalam darah dan urine perempuan hamil). Hormon yang dibentuk oleh trofoblast (lapisan bagian luar janin yang terbentuk pada awal pembentukan janin dan plasenta) ini berfungsi mempertahankan korpus luteum (jaringan berwarna kuning dalam indung telur yang terbentuk ketika indung telur baru saja melepaskan sel telur) yang membuat eksogen dan progesterone sampai plasenta terbentuk seutuhnya. Molekul HCG bersifat dimerik, terdiri dari satu sub unit alfa dan satu sub unit beta, yang khas untuk HCG dan menentukan individualitas antigenik. Metode Pemeriksaan : Aglutinasi Bahan Pemeriksaan : Urine Segar Alat dan Reagen : 1. Alat : 2. Reagen a. Kaca Objek b. Pipet c. Pengaduk

a. Metode aglutinasi Langsung : Antigen HCG b. Metode agkutinasi tak langsung : - Antigen HCG yang dilekatkan Pada Lateks - Anti HCG Prosedur Pemeriksaan : 1. Metode Aglutinasi Langsung a. Teteskan setetes urin diatas pernukaan kaca objek b. Teteskan setetes reagen antigen HCG c. Aduk dengan batang pengaduk sampai merata. d. Goyangkan kaca objek dengan gerakan memutar e. Amati terbentuknya gumpalan dalamwaktu yang tidak me lebihi 3 menit. 2. Metode aglutinasi tidak langsung a. Teteskan setetes urine pada permukaaan gelas permukaan Interpretasi hasil : b. Berturut-turut teteskan 1 tetes anti B HCG antibody dan 1 tetes antigen HCG yang dilekatkan pada lateks c. Aduk dengan batang pengaduk sampai merata d. Goyangkan permukaan gelas dengan gerakan memutar e. Amati adanya gumpalan yang terjadi dalam waktu yang tidak melebihi 3 menit. 1. Metode Aglutinasi Langsung

Positif : Ada gumpalan/aglutinasi Negati : Tidak ada gumpalan/aglutinasi 2. Metode Aglutinasi tidak langsung Positif : Tidak terjadi gumpalan/aglutinasi Negatif : terjadi gumpalan/aglutinasi BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penentuan uji kehamilan dengan menggunakan sampel urine dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara biologik dan cara imunologik. Percobaan biologik ini diantaranya cara Ascheim Zondek, cara Friedman dan reaksi Galli Manini. Sedangkan uji kehamilan secara imunologik dapat dilakukan dengan cara Direct Latex Aglutination (DLA), berdasarkan terjadinya reaksi HCG dalam urine dengan reaksi antibodi HCG. Dapat pula dilakukan dengan cara Latex Aglutination Inhibition (LAI) serta cara Hemaglutination Inhibition (HAI). (Siti BK, 1984) Dalam suatu hubungan perkawinan, anak adalah adalah hal yang dinantikan kebanyakan pasangan. Karena itu banyak pasangan yang ingin memastikan keadaan tersebut. Hal ini membuat test kehamilan menjadi sesuatu yang penting. Dari faktor-faktor tersebut, muncul beberapa jenis test kehamilan. Salah satunya yang akan dibahas disini adalah uji kehamilan dengan cara Rapid Test. (Sacher, 2004) I.2 Tujuan Mengetahui adanya hormon HCG (Hormone Chorionic Gonadotropin) dalam urine untuk membuktikan apakah seorang wanita dinyatakan hamil atau tidak. I.3 Manfaat Agar mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan dengan menggunakan cara Rapid Test. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penentuan uji kehamilan dengan menggunakan sampel urine dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara biologik dan cara imunologik. Percobaan biologik ini diantaranya cara Ascheim Zondek, cara Friedman dan reaksi Galli Manini. Sedangkan uji kehamilan secara imunologik dapat dilakukan dengan cara Direct Latex Aglutination (DLA), berdasarkan terjadinya reaksi HCG dalam urine dengan reaksi antibodi HCG. Dapat pula dilakukan dengan cara Latex Aglutination Inhibition (LAI) serta cara Hemaglutination Inhibition (HAI). (Siti BK, 1984)

Dalam suatu hubungan perkawinan, anak adalah adalah hal yang dinantikan kebanyakan pasangan. Karena itu banyak pasangan yang ingin memastikan keadaan tersebut. Hal ini membuat test kehamilan menjadi sesuatu yang penting. Dari faktor-faktor tersebut, muncul beberapa jenis test kehamilan. Salah satunya yang akan dibahas disini adalah uji kehamilan dengan cara Rapid Test. (Sacher, 2004) I.2 Tujuan Mengetahui adanya hormon HCG (Hormone Chorionic Gonadotropin) dalam urine untuk membuktikan apakah seorang wanita dinyatakan hamil atau tidak. I.3 Manfaat Agar mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan dengan menggunakan cara Rapid Test. Penentuan uji kehamilan dengan menggunakan sampel urine dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara biologik dan cara imunologik. Percobaan biologik ini diantaranya cara Ascheim Zondek, cara Friedman dan reaksi Galli Manini. Sedangkan uji kehamilan secara imunologik dapat dilakukan dengan cara Direct Latex Aglutination (DLA), berdasarkan terjadinya reaksi HCG dalam urine dengan reaksi antibodi HCG. Dapat pula dilakukan dengan cara Latex Aglutination Inhibition (LAI) serta cara Hemaglutination Inhibition (HAI). (Siti BK, 1984) Dalam suatu hubungan perkawinan, anak adalah adalah hal yang dinantikan kebanyakan pasangan. Karena itu banyak pasangan yang ingin memastikan keadaan tersebut. Hal ini membuat test kehamilan menjadi sesuatu yang penting. Dari faktor-faktor tersebut, muncul beberapa jenis test kehamilan. Salah satunya yang akan dibahas disini adalah uji kehamilan dengan cara Rapid Test. (Sacher, 2004) I.2 Tujuan Mengetahui adanya hormon HCG (Hormone Chorionic Gonadotropin) dalam urine untuk membuktikan apakah seorang wanita dinyatakan hamil atau tidak. I.3 Manfaat Agar mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan dengan menggunakan cara Rapid Test. 70 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA II.1 Kehamilan Untuk tiap kehamilan harus ada spermatozoa, ovum, pembuahan ovum (konsepsi) dan nidasi hasil konsepsi. Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Hal ini dapat berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan enzim. Setelah pembelahan ini terjadi pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan lancar. Umumnya nidasi terjadi di dinding depan atau belakang uterus, dekat dengan fundus uteri. Jika nidasi ini terjadi barulah disebut adanya kehamilan. Kadang- kadang pada saat nidasi yakni masuknya ovarium ke dalam endometrium, terjadi pendarahan pada luka desi dua (tanda Hartman). (Winkjosastro, 2005) Lapisan desi dua yang meliputi hasil konsepsi ke arah kavum uteri disebut desi dua kapsularis, yang terletak antara hasil konsepsi dan dinding uterus disebut desi dua basalis, disitulah plasenta akan dibentuk korionik gonadotropin, korionik somatomammotropin (plasenta lactogen), esterogen dan progesteron. Korionik trioptrin dan relaksipun dapat diisolasi dari jaringan plasenta. Kemungkinan bahwa masih ada hormon-hormon lain dalam jangka fungsi plasenta, khususnya dalam fungsi hormonal dalam kehamilan. (Winkjosastro, 2005) II. 2 Faktor Yang Mempengaruhi Kehamilan Infertilitas (kemandulan) terjadi pada sekitar satu dari setiap pasangan yang berusaha memiliki anak. Evaluasi klinis terhadap gangguan ini ditunjukkan untuk menentukan apakah baik pihak laki-laki maupun perempuan mampu melakukan gametogenesis menyangkut gamet (gamet pada laki-laki, ovum pada perempuan) ke tempat pembuahan dan implantasi telur yang sudah dibuahi ke dalam endometrium. Evaluasi pada laki-laki terutama pada analisis semen untuk mengetahui jumlah, motilitas dan morfologi sperma, disertai volum ejakulat dan 71 pencabirannya. Aspek-aspek kualitatif fungsi sperma dapat dinilai dengan uji penetrasi telur (egg penatration test). (Winkjosastro, 2005) II.3 Test Kehamilan

Penetapan HCG dalam urine sejak lama dipakai sebagai indikator kehamilan. Saat ini uji serologi HCG dalam cairan tubuh, disamping digunakan untuk menentukan kehamilan juga dapat dipakai untuk menunjang diagnosis kehamilan di luar kandungan, memperkirakan terjadinya abortus, tumor tropiblastik, tumor testikuler, bahkan beberapa jenis tumor lain yang tidak berasal dari tiofoblast. (Kresno, 1985) Selain HCG, substansi lain yang juga diproduksi pada wanita hamil yang reproduktif adalah FSH dan LH. (Hatta, 1994) a. FSH (Follide Stimulating Hormone) yang dihasilkan oleh sel-sel basofilik. Hormon ini mempengaruhi ovarium sehingga dapat berkembang dan berfungsi pada saat pubertas. Hormon ini bertanggung jawab akan berkembang dari ovum sebelum terjadi ovulasi. b. LH (Luteinizing Hormone) dihasilkan oleh sel-sel asidofilik. Hormon ini bertanggung jawab dalam pelepasan telur yang masak dari indung telur (ovary) yang siap dibuahi. (Kresno, 1985) Semua test kehamilan yang ada pada saat ini mendeteksi keberadaan HCG. Deteksi kehamilan ini memungkinkan perawatan dimulai dini. HCG dapat diukur dengan Radio Immunoassay dan dideteksi dalam darah 6 hari setelah konsepsi atau sekitar 20 hari sejak periode menstruasi terakhir. Keberadaan hormon ini dalam urine pada tahap awal kehamilan merupakan dasar berbagai test kehamilan di laboratorium dan kadang kala dapat dideteksi di dalam urine 14 hari setelah konsepsi. Test yang kurang sensitif mungkin tidak akurat 40 hari setelah terlambat haid atau 3 minggu setelah konsepsi. (Babak, 2004) Spesimen urine yang pertama dikeluarkan di pagi hari mengandung kadar HCG yang kira-kira sama dengan kadar HCG di dalam serum. Kadar HCG di 72 dalam serum meningkat secara eksponen antara hari ke-21 dan ke-70. Sampai urine yang diambil acak berusaha biasanya memiliki kadar yang lebih rendah. (Babak, 2004)

II.4 Gejala Kehamilan Pada wanita hamil terdapat beberapa tanda dan gejala, antara lain: a. Amenonea (tidak dapat haid). b. Nausea (eneg) dan tmesis (muntah). c. Mengidam. d. Pingsan. e. Mammae menjadi tegang dan kasar. f. Anoreksia (tidak mau makan). g. Sering kencing. h. Pigmentasi kulit. i. Varises. (Winkjosastro, 2005) II.5 Macam-Macam Test Kehamilan a. Test Latex Aglutination Inhibition (LAI) HCG merupakan suatu hormon dan hormon adalah protein. Apabila HCG disuntikkan pada kelinci, maka tubuh kelinci akan terangsang untuk antibodi yang ditunjukkan terhadap HCG (anti HCG). Antibodi inilah yang dipakai untuk menentukan kehadiran HCG didalam urine, reaksi yang terjadi adalah kompleks HCG anti HCG. TestLatex Aglutination Inhibition mudah dilakukan dan hasil diperoleh dalam 2 menit. Test ini akurat pada 4-10 hari setelah terlambat haid. (Anonim, 1989) b. Test Hemaglutination Inhibition (HAI) Test ini lebih sensitif daripada test LAI, tetapi memerlukan waktu 1 sampai 2 jam hasil diperoleh. Akan tetapi, Neocept yang memberi hasil akurat sebelum atau pada haid terlambat. Semua test HAI akurat sekitar 4 73 hari setelah terlambat haid, dipasaran juga dijual e.p.t (early pregnano test = test kehamilan dini). Suatu test HAI yang dapat dilakukan di rumah dan dijual di umum. (Babak, 2004)

c. Radioreceptor Assay Salah satu kategori terbaru test kehamilan. Test serum 1 jam ini memerlukan peralatan yang cukup canggih. Radioreceptor Assay biasanya akibat pada saat terlambat haid (14 hari setelah konsepsi). (Babak, 2004) d. Radio Immunoassay Test ini untuk subunit beta HCG memakai tanda berlabel radioaktif sehingga test harus dilakukan di laboratorium. Bergantung pada derajat sensitivitas yang diinginkan, waktu test bervariasi dari 1 sampai 48 jam. Radio Immunoassay merupakan test kehamilan yang paling sensitif. Saat ini kehamilan dapat didiagnosis 8 hari setelah ovulasi atau 6 hari sebelum haid berikutnya. (Babak, 2004) e. Enzyme-Link Immuno Sorben Assay (ELISA) Merupakan test kehamilan yang paling populer. Test ini menggunakan antibodi monoklonal sfesifik yang dihasilkan oleh cell-line hibrida. Suatu enzim yang bukan merupakan senyawa radioaktif, mengidentifikasi antigen substansi yang akan diukur. Enzim menginduksi reaksi perubahan warna sederhana. Hasil akhir test dapat dibaca dengan mata telanjang atau spektrofotometer. Test ini memiliki banyak kelebihan. Antigen enzim berkonjugasi dengan reagen test stabil. Peralatan yang diperlukan sederhana dan tidak ada produk sampah nuklir. (Babak, 2004) Dua garis pada alat uji kehamilan, menandakan bahwa masing-masing wanita dinyatakan hamil. Alat uji kehamilan semacam ini biasanya memiliki jendela atau garis. Garis yang pertama mengisyaratkan bahwa test dilakukan dengan benar yang biasa disebut dengan garis kontrol. Garis kontrol akan nampak