BAB III LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
I PENDAHULUAN. dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PENGELOLAAN PENDIDIKAN SISTEM GANDA

BAB II KERANGKA TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, perkembangan sumber daya. pengetahuan maupun penguasaan tinggi sangat diperlukan.

BAB I PENDAHULUAN. erat. Hal ini terbukti dengan adanya fakta bahwa perkembangan ilmu

BAB I PENDAHULUAN. anak yang perlu bagi kehidupannya dalam masyarakat, baik sebagai anggota. hidup di dalam masyarakat (Purwanto, 2007: 24).

BAB VI KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

EVALUASI DAN DESAIN HIPOTETIK PROGRAM PRAKTEK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) SISWA SMK NEGERI 2 PADANG PANJANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan upaya manusia untuk memperluas cakrawala

Rambu-rambu Pengisian Mapel untuk SMA KTSP

STUDI KETERLAKSANAAN PRAKERIN TERHADAP KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KENDARAAN RINGAN SISWA SMK

BAB I PENDAHULUAN. usaha/dunia industri maupun sebagai wiraswasta. Peraturan Pemerintah

Seminar Internasional, ISSN Peran LPTK Dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi di Indonesia

BAB 1 P E N D A H U L U A N

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas tamatan / lulusan agar lebih sesuai dengan tuntutan kebijaksanaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDABULUAN. Pembangunan pendidikan nasional Indonesia mendapat pencerahan di

BAB I PENDAHULUAN. siap kerja. Karena lulusan SMK biasanya belum diakui oleh pihak dunia usaha/

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu program SMK adalah dengan adanya Pendidikan Sistem Ganda (PSG)

BAB I PENDAHULUAN. perwujudan kebijaksanan Link and Match. Dalam prosesnya, PSG ini

BAB III ANALISIS KURIKULUM SMK

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KONTRIBUSI PRAKTIK INDUSTRI DALAM MENUNJANG KESIAPAN MEMASUKI DUNIA KERJA PESERTA DIDIK KELAS XII SMK NEGERI 2 WONOSARI SKRIPSI

STRUKTUR KURIKULUM SMK/MAK (GENERIK)

HUBUNGAN MINAT BERWIRAUSAHA DENGAN PRESTASI PRAKTIK KERJA INDUSTRI SISWA KELAS XII TEKNIK OTOMOTIF SMK NEGERI 1 ADIWERNA KABUPATEN TEGAL TAHUN AJARAN

PEDOMAN MAGANG DU/DI 2016 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI

BAB I PENDAHULUAN. Era global telah menciptakan tingkat persaingan antar calon tenaga kerja

BAB I PENDAHULUAN. Menjelang tahun 2020 perekonomian Indonesia akan berubah dan

BAB I PENDAHULUAN. mendukung masa depan. Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan

DAFTAR UANG KULIAH TUNGGAL (UKT) KATEGORI 5, 6, 7, dan 8 Jenjang S1 di UNESA

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam rangka. mewujudkan tujuan yang dimaksud dan sekaligus mengantisipasi tantangan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2011 TENTANG

PENGELOLAAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI

PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) PADA JURUSAN TEKNIK SEPEDA MOTOR SMKN 2 PENGASIH SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lutfia, 2013

DAFTAR UANG KULIAH TUNGGAL (UKT) KATEGORI 5, 6, 7, dan 8 Jenjang S1 di UNESA

BAB 2 LANDASAN TEORI

PEDOMAN MAGANG DU/DI 2016 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI

BAB V TABEL STRUKTUR KURIKULUM MADRASAH IBTIDAIYAH, MADRASAH TSANAWIYAH, DAN MADRASAH ALIYAH

Partono Thomas 1 Mintarsih 2

PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI PESERTA DIDIK KELAS XII PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN SMK PGRI 1 SENTOLO TAHUN AJARAN 2012/2013 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan suatu lembaga formal yang memang dirancang khusus

BAB I PENDAHULUAN. perwujudan kebijaksanan dan Link and Match. Dalam prosesnya, PSG ini. relevansi pendidikan dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja.

SKRIPSI. Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Struktur Kurikulum 2013 MI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI PADA SISWA KELAS III PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI DI SMK N 2 BLORA

EVALUASI PEMBELAJARAN DOSEN DAN MAHASISWA SEMESTER JANUARI-JUNI 2014

Evaluasi Kebijakan Link dan Match Pada Sekolah Menengah Kejuruan dan Industri

STUDI TENTANG KESIAPAN KERJA SEBELUM DAN SETELAH PRAKTIK KERJA INDUSTRI SISWA KELAS XI TKR DI SMK BINTARA KABUPATEN BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Agus Muharam, 2013

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. menolong manusia dalam melaksanakan tugas tertentu. Aplikasi software yang. dirancang untuk menjalankan tugas tertentu.

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH PENGUASAAN MATA DIKLAT PRODUKTIF DAN MINAT SISWA TERHADAP KEBERHASILAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI DI SMK NEGERI I SLAWI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERSEPSI SISWA TERHADAP MANFAAT PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI DI SMK N 1 LEMBAH GUMANTI

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki kerjasama ekonomi negara-negara Asia Tenggara melalui kawasan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gun Gun Gunawan, 2013

BAB I PENDAHULUAN. tahunnya. Hal tersebut dibuktikan dengan riset yang dilakukan oleh Badan

UJIAN NASIONAL SD/MI dan SDLB SMP/MTs, SMPLB, dan SMALB SMA/MA dan SMK Tahun Pelajaran 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sekolah menengah umum dan kejuruan sedikit ada. perbedaan, dimana Sekolah menengah umum lebih menekankan untuk

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang diikuti, sehingga setelah lepas dari ikatan akademik di perguruan

Manajemen. Ekonomi Pembangunan. Akuntansi. Ekonomi Islam. Nama Program Studi. Kuota Daya Tampung Jurusan SLTA : Semua Jurusan SMA/MA/SMK

BAB II KAJIAN PUSTAKA

JADWAL UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA

STANDAR IMPLEMENTASI KURIKULUM MADRASAH DI SIMPATIKA Versi 1.0 (Rilis Tanggal 8 Maret 2016)


Pengaruh Praktek Kerja Industri ( Prakerind ) Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Teknik Otomotif Kendaraan Ringan Di SMK Negeri 10 Semarang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) merupakan salah satu aspek penting

Journal of Mechanical Engineering Learning

BAB II LANDASAN TEORI

BIDANG KURIKULUM ( Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) /

BAB I PENDAHULUAN. Ganda (PSG), sebagai perwujudan kebijaksanan dan Link and Match. Dalam. Dikmenjur (2008: 9) yang menciptakan siswa atau lulusan:

2015 PENDAPAT SUPERVISOR TENTANG PENGUASAAN KOMPETENSI HOUSEKEEPING PADA PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI DI HOTEL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan terdapat pada Peraturan

BAB I PENDAHULUAN. commit to user

BAB II TELAAH PUSTAKA

Transkripsi:

BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pendidikan Sistem Ganda Sekolah Menengah Kejuruan pada umumnya harus menyelenggarakan Pendidikan Sistem Ganda yang merupakan suatu bentuk.penyelenggaraan pendidikan keahlian yang memadukan antara program pendidikan di sekolah dan perusahaan. Menurut Nurhajadmo (1999) dalam pelaksanaan PSG pada sekolah menengah kejuruan, isi pendidikan dan pelatihan meliputi: a. Komponen pendidikan umum (normatif), meliputi : Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Agama, Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Sejarah Nasional dan Sejarah Umum. b. Komponen pendidikan dasar meliputi : Matematika, Bahasa Inggris, Biologi, Fisika dan Kimia. c. Komponen kejuruan, yaitu meliputi pelajaran teori-teori kejuruan dalam lingkup suatu program studi tertentu untuk membekali pengetahuan tentang tehnis dasar keahlian. d. Komponen Praktek Dasar Profesi, berupa latihan kerja untuk menguasai teknik bekerja secara benar sesuai tuntutan profesi. Komponen Praktik Keahlian profesi yaitu berupa kegiatan bekerja secara terprogram dalam situasi sebenarnya uanutk mencapai tingkat keahlian dan sikap profesional. 3.2 Tujuan Pendidikan Sistem Ganda Adapun tujuan Pendidikan Sistem Ganda menurut Djojonegoro (1995:75) antara lain : 10

11 1. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. 2. Meningkatkan dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan/kecocokan (link and match) antara lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan dunia kerja. 3. Meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualitas profesional dengan memanfaatkan sumberdaya pelatihan yang ada di dunia kerja. 4. Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan Sedangkan menurut Wena (1996), mengungkapkan bahwa penyelanggaraan PSG bertujuan untuk : 1. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian professional, yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja 2. Meningkatkan dan memperkokoh keterkaitan san kesepadanan (link and match) antara lembaga pendidikan pelatiha kejuruan dan dunia kerja 3. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualitas dan professional 4. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai proses dari pendidikan.

12 3.3 Kebijakan Pendidikan Sistem Ganda Kebijakan pendidikan sistem ganda dikembangkan berdasarkan konsep dual system di Jerman, yaitu suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yangmemadukan secara sitematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, dengan tujuan untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu (Nurhajadmo, 2008). 3.4 Pelaksanaan Praktek Kerja Industri Jadwal pelaksanaan praktek kerja industri disesuaikan dengan waktu tempat praktek industri untuk dapat menerima siswa. Oleh karena itu dibutuhkan penyesuaian waktu antara siswa dengan dunia industri terkait yang baik. Menurut Wena (1996) proses pelaksanaan praktek kerja industri dilakukan oleh siswa di industri baik di industri besar, menengah maupun kecil atau industri rumah tangga. Dalam pelaksanaan praktek kerja industri harus tetap mengacu pada proses desain pembelajaran yang ditetapkan. Disamping itu, pelaksanaan praktek kerja industri dapat berupa day release atau berupa block release atau kombinasi dari keduanya. Dalam penyelenggaraan day release waktu belajar dalam satu minggu digunakan beberapa hari di sekolah dan beberapa hari di industri, tergantung kesepakatan antara pihak sekolah dan pihak tempat praktek industri. Sedangkan jika menggunakan pelaksanaan block release waktu belajar dibagi pada hitungan bulan atau semester. Dalam arti proses belajar dilakukan di sekolah beberapa bulan atau semester secara terus menerus kemudian pada bulan berikutnya atau semester berikutnya dilakukan di tempat praktek kerja industri.

13 Wena (1996) juga mengungkapkan bahwa pada dasarnya tahapan pelaksanaan praktek kerja industri meliputi : 1. Perencanaan praktek kerja industri. Dalam perencanaannya, praktek kerja industri ini melibatkan beberapa pihak yaitu pihak sekolah, siswa, orang tua, siswa dan industri pasangan (Dunia Usaha/Dunia Industri). Perencanaan praktek kerja industri meliputi : a. Tujuan praktek kerja industri b. Metode praktek kerja industri c. Pendataan siswa peserta praktek kerja industri d. Sosialisasi praktek kerja industri e. Materi praktek kerja industri 2. Pengorganisasian praktek kerja industri. Pengorganisasian praktek kerja industri adalah suatu upaya untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekolah dan di institusi pasangan (Dunia Usaha/Dunia Industri). Pengorganisasian praktek kerja industri ini meliputi : a. Tenaga pengajar/pembimbing dari pihak sekolah b. Tenaga instruktur dari pihak-pihak Dunia Usaha/Dunia Industri c. Penempatan siswa 3. Penyelenggaraan praktek kerja industri. Penyelenggaraan praktek kerja industri ini meliputi: a. Model Penyelenggaraan Praktek Kerja Industri b. Metode Pembelajaran c. Standar Profesi

14 4. Pengawasan praktek kerja industri ini tidak bisa terlepas dari pengawasan pelaksanaan Pengorganisasian praktek kerja industri itu sendiri, karena itu menjamin mutu Pengorganisasian praktek kerja industri diperlukannya pelaksanaan pengawasan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengawasan ini meliputi : a. Kontrol keselamatan kerja b. Bimbingan dan monitoring dari pihak sekolah c. Penilaian hasil belajar dan keahlian d. Sertifikasi e. Evaluasi 3.5 Penjadwalan Penjadwalan menurut Morton dan Pentice (1993) adalah proses pengorganisasian, pemilihan dan pemberian waktu dalam penggunaan sumber daya untuk melaksanakan aktivitas yang diperlukan dalam menghasilkan output yang diinginkan dengan memenuhi waktu yang ditetapkan dan kendala-kendala hubungan antara waktu dan aktivitas. Sedangkan menurut Baker (1974), penjadwalan merupakan proses pengalokasian sumber-sumber untuk memilih sekumpulan tugas dalam jangka waktu tertentu. Menurut Baker (1974), tujuan penjadwalan adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan produktifitas mesin, yaitu dengan mengurangi waktu mesin menganggur (idle time) 2. Mengurangi persediaan barang setengah jadi dengan jalan mengurangi jumlah rata-rata pekerjaan yang menunggu dalam antrian suatu mesin karena mesin tersebut sibuk

15 3. Mengurangi keterlambatan suatu pekerjaan. Setiap pekerjaan mempunyai batas waktu (due waktu) penyelesaian, jika pekerjaan tersebut diselesaikan melewati batas waktu (due date) penyelesaian, jika pekerjaan tersebut diselesaikan melewati batas waktu yang ditentukan maka pekerjaan tersebut dinyatakan terlambat. Dengan metode penjadwalan maka keterlambatan ini dapat dikurangi, baik waktu maupun frekuensi. Penjadwalan muncul karena keterbatasan : a. Waktu b. Tenaga kerja c. Jumlah mesin d. Sifat dan syarat pekerjaan