BAB 4. JARINGAN BERBASIS KOMPETISI

dokumen-dokumen yang mirip
Kode/SKS : TEL 212/2 Prasyarat : -

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENGENAL HURUF TULISAN TANGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN METODE LVQ (LEARNING VECTOR QUANTIZATION) By. Togu Sihombing. Tugas Ujian Sarjana

BAB 2 JARINGAN NEURAL SATU LAPIS

APLIKASI PENGENALAN POLA DAUN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF LEARNING VECTOR QUANTIFICATION UNTUK PENENTUAN TANAMAN OBAT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Tugas Akhir Pengembangan Perangkat Lunak Berbasis Suara Ucapan untuk Membuka dan Mencetak Dokumen

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENYELESAIAN MASALAH TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN JARINGAN SARAF SELF ORGANIZING

BAB II LANDASAN TEORI

PENGENALAN POLA HIV DAN AIDS MENGGUNAKAN ALGORITMA KOHONEN PADA JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 3. JARINGAN MEMORI ASOSIATIF

KLASIFIKASI BENTUK DAUN MENGGUNAKAN METODE KOHONEN ABSTRAK

BAB VIII JARINGAN SYARAF TIRUAN

PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS SUARA UCAPAN UNTUK MEMBUKA DAN MENCETAK DOKUMEN

IDENTIFIKASI KEMATANGAN BUAH TOMAT MENGGUNAKAN SOM (SELF ORGANIZING MAPS) ARTIKEL SKRIPSI

2.1 Tinjauan Pustaka Analisis Perbandingan Transformasi Wavelet pada Pengenalan Citra,

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Gambar 2.1 Neuron biologi manusia (Medsker & Liebowitz, 1994)

P E N D A H U L U A N Latar Belakang

ANALISIS CLUSTER DAN DIAGNOSA PENYAKIT MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN

KLASIFIKASI BERBASIS LVQ MENGGUNAKAN OPTIMASI LEARNING RATE UNTUK MEMILIH SISWA PESERTA OSN

Algoritma Kohonen dalam Mengubah Citra Graylevel Menjadi Citra Biner

FUZZY-NEURO LEARNING VECTOR QUANTIZATION (FNLVQ)

PERBANDINGAN ANTARA METODE KOHONEN NEURAL NETWORK DAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION PADA SISTEM PENGENALAN TULISAN TANGAN SECARA REAL TIME

Bab 4 Model Neural Network

JARINGAN SYARAF TIRUAN

Lingkungan Implementasi Clustering Menggunakan SOM HASIL DAN PEMBAHASAN Pengumpulan Data Perkembangan Anak Validasi Cluster Menggunakan

BAB 3 PENGENALAN WAJAH

PENGENALAN AKSARA JAWAMENGGUNAKAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ)

KLASIFIKASI KUALITAS BUAH GARCINIA MANGOSTANA L. MENGGUNAKAN METODE LEARNING VECTOR QUANTIZATION

BAB IV JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK)

Architecture Net, Simple Neural Net

PENERAPAN METODE LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ) PADA PREDIKSI JURUSAN DI SMA PGRI 1 BANJARBARU

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGENALAN POLA KEPUASAN MAHASISWA TERHADAP KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (STUDI KASUS DI STMIK AKAKOM YOGYAKARTA) Abstrak

DAFTAR ISI. Halaman Judul. Lembar Pengesahan Pembimbing. Lembar Pengesahan Penguji. Halaman Persembahan. Halaman Motto. Kata Pengantar.

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK

IMPLEMENTASI ALGORITMA PERCEPTRON UNTUK PENGENALAN POLA MASUKAN BINER MAUPUN BIPOLAR MENGGUNAKAN BORLAND DELPHI

LEARNING VECTOR QUANTIZATION UNTUK PREDIKSI PRODUKSI KELAPA SAWIT PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA I PULAU TIGA

BAB III METODE PENELITIAN. menjawab segala permasalahan yang ada dalam penelitian ini.

Farah Zakiyah Rahmanti

JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORKS)

ANALISIS VARIASI PARAMETER LEARNING VECTOR QUANTIZATION ARTIFICIAL NEURAL NETWORK TERHADAP PENGENALAN POLA DATA ODOR

CLUSTERING DATA PENCEMARAN UDARA SEKTOR INDUSTRI DI JAWA TENGAH DENGAN KOHONEN NEURAL NETWORK

KLASIFIKASI CITRA PARU MENGGUNAKAN MODEL SELF-ORGANIZING MAPS RADIAL BASIS FUNCTION NEURAL NETWORKS (SOM-RBFNN) SKRIPSI

Perbandingan Antara Metode Kohonen Neural Network dengan Metode Learning Vector Quantization Pada Pengenalan Pola Tandatangan

SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON

RANCANG BANGUN TOOL UNTUK JARINGAN SYARAF TIRUAN (JST) MODEL PERCEPTRON

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan dijelaskan bahan dan software yang digunakan

PEMANFAATAN METODE CLUSTER SOM IDB SEBAGAI ANALISA PENGELOMPOKAN PENERIMA BEASISWA

Penerapan Learning Vector Quantization Penentuan Bidang Konsentrasi Tugas Akhir (Studi Kasus: Mahasiswa Teknik Informatika UIN Suska Riau)

KOMPARASI METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN SOM DAN LVQ UNTUK MENGIDENTIFIKASI DATA BUNGA IRIS

Clustering Dampak Gempa Bumi di Indonesia Menggunakan Kohonen Self Organizing Maps

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 7 NO. 1 Maret 2014

BAB 2 LANDASAN TEORI

Jaringan syaraf dengan lapisan tunggal

Jaringan Syaraf Tiruan

BAB III PEMBAHASAN. Algoritma Self Organizing Map (SOM) merupakan suatu metode NN yang

SIMULASI PENGENALAN TULISAN MENGGUNAKAN LVQ (LEARNING VECTOR QUANTIZATION )

Pemetaan Prioritas Berbasis Penggalian Data Multidimensi Menggunakan WEBSOM (Priority Mapping Based on Multi-dimensional Data Mining Using WEBSOM)

terinspirasi dari sistem biologi saraf makhluk hidup seperti pemrosesan informasi

lalu menghitung sinyal keluarannya menggunakan fungsi aktivasi,

BAB 2 LANDASAN TEORI

PEMANFAATAN METODE SELF ORGANIZING MAP PADA OPTIMASI MASALAH TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

APLIKASI PENGGUNAAN METODE KOHONEN PADA ANALISIS CLUSTER (Studi Kasus: Pendapatan Asli Daerah Jawa Tengah Dalam Menghadapi Asean Community 2015)

Klasifikasi Jenis Audio Berdasarkan Kondisi Psikologi Menggunakan Kombinasi Algoritme Self Organizing Maps dan Learning Vector Quantization

1.1 Latar Belakang. Universitas Indonesia

PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH BERDASARKAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN TAHUN MENGGUNAKAN METODE KOHONEN

BAB XII MENCARI DATA MAKSIMUM DAN MINIMUM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Bab 2 ini berisi tentang pembahasan teori-teori tentang jaringan syaraf tiruan, Algoritma Learning Vector Quantization (LVQ).

IMPLEMENTASI SELF ORGANIZING MAP DALAM KOMPRESI CITRA DIGITAL

UNIVERSITAS INDONESIA PENGEMBANGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN METODE SOM FUZZY DAN LVQ FUZZY TESIS DWI SUDARNO PUTRA

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. Bab ini menguraikan analisa penelitian terhadap metode Backpropagation yang

PEMETAAN SEBARAN MUTU PENDIDIKAN DASAR MENGGUNAKAN METODE SELF ORGANIZING MAPS

BAB IV B METODE BELAJAR HEBBIAN SUPERVISED & CONTOH

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II MODEL NEURON DAN ARSITEKTUR JARINGAN

JURNAL PENGELOMPOKAN SKRIPSI MENGGUNAKAN SELF ORGANIZING MAPS CLUSTERING (STUDI KASUS : PRODI TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI)

ARTIFICIAL NEURAL NETWORK TEKNIK PERAMALAN - A

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENDEKATAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK (ANN) UNTUK MENGKLASIFIKASIKAN HEWAN VETEBRATA MENGGUNAKAN KOHONEN SELF ORGANIZING MAP (SOM)

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6

IMPLEMENTASI SEGMENTASI CITRA DAN ALGORITMA LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ) DALAM PENGENALAN BENTUK BOTOL

Pengelompokan Data DIPA Berbasis Penyerapan Anggaran Menggunakan Metode Self Organizing Map (SOM)

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Pengenalan Suara

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Presentasi Tugas Akhir

Gambar 1. Hop multi komunikasi antara sumber dan tujuan

PENGENALAN KARAKTER ALFANUMERIK MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGARATION

1.1. Jaringan Syaraf Tiruan

PENGELOMPOKAN DATA ANGIN PUTING BELIUNG DENGAN MENGGUNAKAN LVQ

Transkripsi:

BAB 4. JARINGAN BERBASIS KOMPETISI Jaringan berbasis kompetisi menggunakan ide kompetisi untuk meningkatkan kontras dalam aktivasi neuron (winner take all). Hanya neuron yang aktivasinya diperbolehkan tetap on. Jaringan ini dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. Jaringan kompetitif berbobot tetap: a. Maxnet b. Mexican Hat c. Hamming Net 2. Jaringan Kompetitif dengan bobot adaptif a. Jaringan Kohonen Self Organizing Map (SOM) b. Jaringan Linear Vector Quantization (LVQ) c. Jaringan Counter Propagation (CP). 4.1 Maxnet Jaringan ini dapat digunakan sebagai subnet untuk menetukan node yang masukannya terbesar. Ke m node dalam subnet ini terhubung penuh dengan bobot simetris. Karena bobotnya tetap, maka tidak ada algoritma pelatihan. Arsitektur Arsitektur Maxnet terlihat pada Gambar 4.1 Gambar 4.1 Jaringan Maxnet Universitas Gadjah Mada 1

Fungsi aktivasinya adalah Aplikasi Langkah 0. Inisialisasi aktivasi dan bobot. Tetapkan 0 < ε <1/m ; aj(0) = masukan ke node Aj 1 bila i = j wij= - i j Langkah 1. Bila syarat berhenti salah, kerjakan Langkah 2-4 Langkah 2. Perbarui aktivasi setiap node aj (baru) = f [aj (lama) - ak (lama) ] k j Langkah 3. Simpan aktivasi untuk iterasi selanjutnya. aj (lama) aj (baru) ; j = 1, m Langkah 4. Uji syarat berhenti. Bila Iebih dan satu node mernpunyai aktivasi non zero, lanjutkan. Bila tidak, berhenti 4.2 Mexican Hat. Jaringan ini merupakan subnet peningkat kontras (Kohonen 1989) yang Iebih umum dan pada Maxnet. Setiap neuron dihubungkan ke sejumlah tetangga kooperatifnya yang berdekatan dengan link eksitator yang berbobot positif. Setiap neuron juga dihubungkan ke sejumlah tetangga kompetitif yang berdekatan dengan jalinan (link) inhibitori, yang merupakan neuron-neuron yang lebih jauh. (Gambar 4.2) Untuk mernudahkan deskripsi, neuron-neuron digambarkan sebagai susunan orde Iinear, dengan hubungan positifantara unit Xi dan unit tetangga., yaitu satu atau dua posisi ke sampan, serta hubungan negative untuk posisi ketiga ke samping. Ukuran daerah koperasi dan kompetisi bisa berubah menurut : a. Magnitude relative dan bobot positifdan negative b. Topologi daerah (linear rectangular, heksagonal, dll). Universitas Gadjah Mada 2

Gambar 4.2 Jaringan Mexican hat Peningkatan kontras sinyal si yang diterima oleh unit xi diperoleh dengan iterasi beberapa langkah Aktivasi unit xi pada waktu t diberikan oleh: xi(t) = f[ si (t) + wk xi + k (t + 1)] k dengan suku penjumlahan adalah sinyal terbobot dari unit lain (tetangga kooperatif dan tetangga kompetitif) pada langkah sebelumnya. Pada Gambar 4.2 terlihat bahwa bobot wk dan unik xi ke xi+k adalah positifuntuk k = -2,.1, 0, 1, dan 2 serta negative untukk k = -3 dan 3, dan nol untuk unit yang lain 4.3 Jaringan Hamming Jaringan Hamming adalah pengklasifikasi kemungkinan maksimum yang dapat digunakan untuk menentukan vector eksemplar yang paling serupa dengan vector masukan. (n tupel). Vektor eksemplar menentukan bobot jaeingan. Ukuran kemiripan antara vector masukan dan vector eksemplar yang disimpan dinyatakan dengan jarak Hamming. Jarak Hamming antara dua vector adalah cacah komponen yang berbeda antara dua vector tersebut. Untuk vector bipolar x dan y maka produk innernya adalah: x.y =a d dengan a: cacah komponen yang sama d : cacah komponen yang berbeda yang merupakan jarak Hamming. BiIa n adalah cacah komponen vector, maka d=n a dan x.y 2a n atau 2a= x.y +n a = x. 34 y + ½ n yang ekuivalen dengan yin = x w + b Universitas Gadjah Mada 3

Ini berarti dengan menetapkan bobot = ½ vector eksemplar, maka nilai bobot = ½ vector eksemplar dan nilai bias = n/2. Sehinggajaringan akan menemukan unit yang paling at dengan eksemplar bila menemukan unit dengan masukan neto terbesar. Jaringan bagian bawah terdiri atas n node masukan, yang masing-masing terhubung dengan m node keluaran (dengan m adalah cacah vector eksemplar yang disimpan di dalam jaringan. Kemudian node keluaran dan jaringan bagian bawah diberikan ke jaringan bagiati atas Maxnet), yang menghiti.thg kesesuaian eksemplar terbaik dengan vektor masukan. Vektor masukan dan vektor keluaran adalah bipolar. Arsitekturjaringan Hamming terlihat pada Gambar 4.3. Gambar 4.3 Jaringan Hamming 4.4 Pemetaan Swa Organisai Kohonen Pemetaan Swa Organisasi Kohonen (Kohonen Self Organizing Maps, SOM) juga disebut pemetaan yang mempertahankan topologi, dengan mengasumsikan struktur topologi di antara unit gugus (cluster). Sifat mi nampak pada otak. Di sini terdapat m unit gugus yang tersusun dalam lank satu atau dua dimensi. Sinyal masukannya merupakan n tupel. Vektor bobot unit gugus bertindak sebagai eksemplar dan pola masukan yang terasosiasi dengan gugus tersebut. Selama proses swa-organisasi, unit gugus yang vector bobotnya sangat sepadan dengan pola masukan (biasanya dinyatakan dengan kuadrat jarak Euclidean minimum) dipilih sebagai pemenang. Unit pemenang dan unit tetangganya (dalam arti topologis unit gugus) memperbarui bobotnya. Vektor bobot unit tetangga umumnya tidak dekat dengan pola masukan. Untuk lank (array) linear dan unit gugu, ketetanggaan berjejani R disekeliling unit gugus 3 terdini atas semua unit j sedemikian sehingga ( Gambar 4.4): Universitas Gadjah Mada 4

max(1,j-r) j min (J+R,m) Gambar 4.4 Ketetanggaan berjejari R di sekeliling unit J pada larik linear Arsitektur Arsitektur jaringan Kohonen SOM terlihat pada Gambar 4.5 berikut : Gaambar 4.5 Jaringan Kohonen SOM Ketetanggaan unit # berjejari R = 2, 1, dan 0 dalam topologi satu dimensi dengan sepuluh unit gugus, serta topologi dua dimensi dengan 25 unit gugus terlihat pada Gambar 4.6a dan b. Gambar 4. Ketetanggaan pada topologi satu dimensi (a) dan dua dimensi (b) Universitas Gadjah Mada 5

Algoritma Algoritma pelatihan jaringan Kohonen SOM adalah sebagai berikut: Langkah 0. Inisialisasi bobot wij Tetapkan parameter ketetanggaan topologis Tetapkan parameter laju pelatihan Langkah 1. Selama syarat berhenti : salah, kerjakan Langkah 2 8. Langkah 2. Untuk setiap vektor masukan x, Kerjakan Langkah 3-5. Langkah 3. Untuk setiap hitunglah: D(j) = (wij - xi)2 i Langkah 4. Cari indeks J sedemikian sehingga D (J) minimum. Langkah 5. Untuk semua unit j di dalam ketetanggaan 3, dan untuk semua i, hitunglah: wij (baru) = wij (lama) + [xi wij (lama) ] Langkah 6. Perbarui laju belajar. Langkah 7. Kurangi jejari ketetanggaan topologis dengan cacah tertentu Langkah 8. Uji syarat berhenti. Bila benar, berhenti. 4.5 Kuantisasi Vektor Pelatihan Kuantisasi vektor pelatihan (Learning Vector Quantization, LVQ) adalah metode kiasifikasi pola yang mana setiap unit keluaran menyatakan suatu kelas atau kategori. Vektor bobot untuk unit keluaran sering disebut vector referensi (buku kode) untuk kelas yang dinyatakan oleh unit tersebut. Selama pelatihan unit keluaran dicari posisinya dengan mengatur bobotnya lewat pelatihan terbimbing. Dalam hal ini diberikan sehimpunan pola yang klasifikasinya diketahui diberikan bersama distribusi awal vector referensi. Setelah pelatihan jaringan LVQ mengklasifikasikan vector masukan dalainkelas yang sarna dengan unit keluaran yang memiliki vector bobot (referensi ) yang paling dekat dengan vector masukan, Arsitektur Arsitektur jaringan LVQ adalah sama dengan jaringan Kohonen SOM tetapi tanpa asumsi struktur topologis untuk unit keluaran (Gambar 4.5). Lagi pula setiap unit keluaran memiliki kelas yang diketahui. Algoritma Motivasi algoritma pelatihan LVQ adalah mempçroleh unit keluaran yang paling dekat dengan vector msukan. Bila x dan wc berasal clan kelas yang sama, maka vector bobot Universitas Gadjah Mada 6

didekatkan ke vector masukan ini. Tetapi bila x dan wc memiliki kelas yang berbeda, maka vector bobot dijauhkan dan vector masukan ini. Nomenklatur: x T wj : vector pelatihan (x1,xi,.......,xn) : Kelas atau kategori vector pelatihan. : vektor bobot untuk unit keluaran kej ; (w1j,. wij,. wnj). Cj : Kategori atau kelas yang diberikan oleh unit keluaran ke j. x wj : Jarak Euclidean antara vector masukan dan vector bobot untuk unit keluaran kej. Langkah 0. Inisialisasi vector referensi Inisilisasi laju pelatihan a (0) Langkah 1. Selama syarat berhenti : salah, kerjakan Langkah 2-6 Langkah 2. Untuk setiap vector masukan pelatihan x, kerjakan Langkah 3-4. Langkah 3. Carilah J sehingga x wj minimum Langkah 4. Perbarul wj, sebagai berikut: Bila T = C J maka w j (baru) = w J (lama) + [x- w J (lama)]j] Bila T C J maka Langkah 5. Kurangi laju pelatihan Langkah 6. Uji syarat berhenti w, (baru) = w. (lama) - a [x- w., (lama)] (dapat spesifikasi cacah iterasi atau laju pelatihan sudah mencapai nilai yang cukup kecil). Universitas Gadjah Mada 7