BAB II LANDASAN TEORI A. Utang Utang atau kewajiban merupakan salah satu komponen yang penting dari suatu neraca karena utang merupakan salah satu faktor penentu untuk menjalankan suatu perusahaan agar perkembangan perusahaan dapat berkembang dengan baik dengan modal yang optimal. Dalam hal pendanaan setiap perusahaan mempunyai bemacam-macam cara agar dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari. Biasanya penggunaan sumber dana dari dalam (internal) lebih diutamakan, tetapi dengan semakin meningkatnya aktivitas perusahaan maka penggunaan sumber dana internal pun tidak bisa mencukupi, sehingga perusahaan harus menggunakan pendanaan eksternal yang di dalamnya termasuk utang. Karena di dalam menjalankan aktivitas operasionalnya perusahaan mengharapkan nantinya akan menghasilkan profit yang lebih besar untuk periode-periode di masa yang akan datang. 1. Pengertian Utang Definisi utang yang dikemukakan oleh Kieso (2002:179) dalam bukunya Akuntansi Intermediate yaitu: Kemungkinan pengorbanan masa depan atas manfaat ekonomi yang muncul dari kewajiban saat ini entitas tertentu untuk mentransfer aset atau menyediakan jasa kepada 7
entitas lainnya di masa depan sebagai hasil dari transaksi atau kejadian masa lalu. Utang sering disebut juga sebagai kewajiban, dalam pengertian sederhana dapat diartikan sebagai kewajiban keuangan yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain. Menurut Zaki Baridwan (2004:23) mengemukakan bahwa: Utang adalah pengorbanan manfaat ekonomis yang akan timbul di masa yang akan datang yang disebabkan oleh kewajiban-kewajiban di saat sekarang dari suatu badan usaha yang akan dipenuhi dengan mentransfer aset atau memberikan jasa kepada badan usaha lain di masa yang akan datang sebagai akibat dari transaksi-transaksi yang sudah lalu. Sedangkan menurut (Rudianto, 2008:292), Utang adalah kewajiban perusahaan untuk membayar sejumlah uang/jasa/barang di masa mendatang kepada pihak lain, akibat transaksi yang dilakukan di masa lalu. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa utang merupakan pengorbanan ekonomis yang disebabkan adanya kewajiban masa kini yang dilakukan perusahaan yang akan memberi manfaat ekonomis di masa yang akan datang dengan mentransfer aset sebagai akibat atau transaksi di masa lalu Atau dengan kata lain utang merupakan kewajiban untuk menyerahkan uang, barang, atau memberikan jasa kepada pihak lain dimasa yang akan datang sebagai akibat dari transaksi yang telah terjadi sebelumnya. 8
2. Penggolongan Utang Karena utang membutuhkan pengeluaran aset atau jasa di masa depan, maka salah satu karakteristik yang paling penting adalah saat kapan utang tersebut harus dibayarkan. Kewajiban yang jatuh tempo saat ini harus diselesaikan secara tepat waktu dan dalam kegiatan bisnis yang biasa jika dioperasi akan dilanjutkan. Kewajiban dengan tanggal jatuh tempo yang lebih lama bukan sebagai pedoman, merupakan klaim atas sumber daya perusahaan saat ini dan karena itu, berada dalam katagori yang sedikit berbeda. Menurut Kieso (2002:179) dalam bukunya Akuntansi Intermediate Karakteristik ini memunculkan pembagian dasar utang menjadi: a. Utang jangka pendek b. Utang jangka panjang Dari kedua pembagian dasar utang tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Utang Jangka Pendek Utang Jangka Pendek yaitu utang yang harus dilunasi dalam tempo satu tahun. Utang lancar atau utang jangka pendek merupakan utangutang yang pelunasannya akan memerlukan penggunaan sumbersumber yang digolongkan dalam aset lancar atau dengan menimbulkan suatu utang baru. 9
Menurut Munawir (2007:18) pengertian utang jangka pendek adalah: utang lancar atau utang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca). Menurut Munawir (2007:18) mengemukakan bahwa utang lancar meliputi antara lain: 1) Utang dagang, adalah utang yang timbul karena adanya pembelian barang dagangan secara kredit. 2) Utang wesel, adalah utang yang disertai dengan janji tertulis (yang diatur dengan undang-undang) untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu di masa yang akan datang. 3) Utang pajak, baik pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun pajak yang bersangkutan maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke kas negara. 4) Biaya yang masih harus dibayar adalah biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya. 5) Utang jangka panjang yang segera jatuh tempo adalah sebagian/ seluruh utang jangka panjang yang sudah menjadi utang jangka pendek karena harus dilakukan pembayarannya. 6) Penghasilan yang diterima dimuka (deferred revenue) adalah penerimaan uang untuk penjualan barang/jasa yang belum direalisir. 10
Pada prinsipnya utang dicantumkan berdasar nilai tunai dari utangutang tersebut, tetapi pada umumnya utang akan dicantumkan dengan jumlah sebesar nominalnya. Penyimpangan ini dilakukan dengan dasar anggapan bahwa selisih antara nilai nominal dengan nilai tunai relative kecil. Batasan yang biasa digunakan untuk mengelompokan utang adalah jangka waktu pembayaran utang-utang. Apabila utang-utang akan dibayar dalam jangka waktu siklus operasi perusahaan atau dalam waktu satu tahun maka dikelompokan sebagai utang jangka pendek. b. Utang Jangka Panjang Utang Jangka Panjang yaitu utang yang jatuh temponya lebih dari satu tahun serta merupakan salah satu sumber pendanaan perusahaan dan biasanya timbul karena adanya kebutuhan dana untuk pembelian tambahan aset tetap, menaikkan jumlah modal kerja permanen, membeli perusahaan lain atau mungkin juga untuk melunasi utang-utang yang lain. Adapun jenis dari utang jangka panjang antara lain: 1). Pinjaman obligasi (Bons payables) Pinjaman obligasi adalah pinjaman uang untuk jangka waktu yang panjang, untuk itu debitur mengeluarkan surat pengakuan utang yang mempunyai nominal tertentu. 11
- Obligasi Biasa (Bonds) Obligasi biasa adalah obligasi yang bunganya tetap dibayar oleh debitur dalam waktu tertentu dengan tidak memandang apakah debitur memperoleh keuntungan atau tidak. Biasanya bunga obligasi dibayar dua kali setiap tahunnya. - Obligasi Pendapatan (Income Bonds) Income bonds adalah jenis obligasi dimana pembayaran bunganya hanya dilakukan pada waktu debitur atau perusahaan yang mengeluarkan surat obligasi tersebut mendapatkan keuntungan. - Obligasi Yang Dapat Ditukarkan (Convertible Bonds) Convertible Bonds adalah obligasi yang memberikan kesempatan kepada pemegang surat obligasi tersebut untuk suatu saat tertentu menukarkannya pada saham dari perusahaan yang bersangkutan. 2). Pinjaman Hipotik (Mortage) Pinjaman Hipotik adalah pinjaman jangka panjang dimana pemberi uang (kreditur) diberi hak hipotik terhadap suatu barang tidak bergerak, agar jika pihak debitur tidak memenuhi kewajibannya, 12
barang itu dapat dijual dan dari hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk menutup tagihannya. Penerbitan utang jangka panjang biasanya disertai dengan formalitas yang dapat dipertimbangkan secara layak. Pada umunnya, utang jangka panjang memiliki berbagai ketentuan atau pembatasaan (convenants or retrictions) untuk melindungi baik peminjam maupun pemberi pinjam. Ketentuan dan persyaratan persetujuan lainnya antara peminjam dan pemberi pinjaman dinyatakan dalam indenture obligasi atau perjanjian wesel. B. Laba Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya bertujuan untuk memperoleh laba semaksimal mungkin. Informasi mengenai laba sebuah perusahaan dapat diperoleh dalam laporan keuangan yaitu, laporan laba/rugi. Informasi tersebut digunakan oleh pihak intern maupun ekstern perusahaan untuk membuat keputusan. Suatu perusahaan dikatakan akan berhasil apabila dalam kegiatan operasionalnya memperoleh laba. Pengertian laba secara konsep yang terdapat di dalam buku Harnanto (2002:91), laba adalah suatu pengembalian dari dan dalam jumlah di atas investasinya. 13
1. Pengertian Laba Secara umum laba diperoleh setelah pendapatan dikurangi biaya. Apabila pendapatan melebihi biaya yang dikeluarkan berarti perusahaan mendapatkan laba dan sebaliknya jika biaya melebihi pendapatan berarti perusahaan menderita rugi. Pengertian laba menurut menurut Zaki Baridwan dalam bukunya Intermediate Accounting (2000:3) mengemukakan bahwa: Gains (laba) adalah kenaikan modal yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi yang mempengaruhi badan usaha selama satu periode. Sedangkan Pengertian Laba Menurut Suwardjono (2008:464), laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat kegiatan produksi dan penyerahan barang / jasa). Jadi secara umum laba diperoleh setelah pendapatan dikurangi biaya, seperti yang dikemukakan oleh Soemarso (2005:230), laba adalah selisih lebih pendapatan atas beban sehubungan dengan kegiatan usaha. Menurut Gade dan Wasif (2000:11), laba yang diperoleh perusahaan adalah selisih antara pendapatan dan biaya, apabila pendapatan melebihi biaya yang dikeluarkan berarti perusahaan mendapatkan laba dan 14
sebaliknya jika biaya melebihi pendapatan berarti perusahaan menderita rugi. Oleh karena itu, laba adalah hasil pengurangan antara pendapatan dengan biaya, maka manajemen perusahaan harus dapat menentukan jumlah pendapatan yang akan dihasilkan dan jumlah biaya yang akan terjadi dalam periode yang bersangkutan. 2. Penggolongan Laba Laba adalah salah satu hal yang paling penting dalam sebuah perusahaan, Laba terdiri atas beberapa jenis, yaitu : a. Laba kotor, Laba kotor adalah selisih dari hasil penjualan dengan harga pokok penjualan. b. Laba Operasional, Laba Operasional merupakan hasil dari aktivitasaktivitas yang termasuk rencana perusahaan kecuali ada perubahanperubahan besar dalam perekonomiannya, dapat diharapkan akan dicapai setiap tahun. Oleh karenanya, angka ini menyatakan kemampuan perusahaan untuk hidup dan mencapai laba yang pantas sebagai jasa pada pemilik modal. c. Laba sebelum dikurangi pajak atau EBIT (Earning Before Tax), Laba sebelum dikurangi pajak merupakan laba operasi ditambah hasil dan biaya diluar operasi biasa. Bagi pihak-pihak tertentu terutama dalam hal pajak, angka ini adalah yang terpenting karena jumlah ini menyiratkan laba yang pada akhirnya dicapai perusahaan. 15
d. Laba Setelah Pajak Atau Laba Bersih, Laba Bersih adalah laba setelah dikurangi berbagai pajak. Laba dipindahkan kedalam perkiraan laba ditahan. Dari perkiraan laba ditahan ini akan diambil sejumlah tertentu untuk dibagikan sebagai Deviden kepada para pemegang saham. 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laba Menurut Mulyadi dalam buku Akuntansi Manajemen (2001:513), mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kenaikan dan penurunan laba adalah sebagai berikut: a. Biaya jasa b. Harga jual c. Volume penjualan dan produksi Adapun penjelasan dari tiga faktor tersebut yaitu : 1). Biaya jasa Biaya yang timbul dari perolehan atau mengolah suatu produk atau jasa akan mempengaruhi harga jual produk yang bersangkutan. 2). Harga jual Harga jual produk atau jasa akan mempengaruhi besarnya volume penjualan produk atau jasa yang bersangkutan. 16
3). Volume penjualan dan produksi Besarnya volume penjualan berpengaruh terhadap volume produksi produk atau jasa tersebut, selanjutnya volume produksi akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi. C. Hubungan antara Utang dan Laba Perkembangan perusahaan yang semakin beragam makin meningkatkan arti pentingnya faktor produksi yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan yaitu faktor modal. Bagi perusahaan yang memilki keterbatasan modal, utang merupakan jalan satu-satunya untuk mengembangkan perusahaan agar perusahaan dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar dimana perusahaan masih mampu membayar utang baik pokok maupun bunganya. Menurut Riyanto (2001) dalam bukunya Dasar-dasar Pembelanjaan Negara mengemukakan konsep hubungan utang dengan laba sebagai berikut: Semakin banyak utang baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang akan mengakibatkan biaya bunga yang semakin meningkat yang pada akhirnya akan mengakibatkan laba perusahaan semakin berkurang. Dari konsep diatas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi jumlah utang yang dimiliki perusahaan maka akan mengakibatkan laba yang diperoleh perusahaan semakin berkurang karena semakin tinggi tingkat utang maka biaya bunga pun akan semakin tinggi. 17
Sedangkan menurut Sued Husnan dan Enny Pudjiastuti (2002:319) dalam bukunya Dasar-dasar Manajemen Keuangan mengemukakan hubungan utang dengan laba usaha sebagai berikut: Penggunaan utang bisa dibenarkan sejauh diharapkan bisa memberikan tambahan laba usaha (EBIT) yang lebih besar dari bunga yang dibayar, dapat dipergunakan. Konsep ini dengan baik sekali dijelaskan oleh Prof. Dr Bambang Riyanto yang mengatakan bahwa: Sejauh penggunaan utang tersebut diharapkan memberikan rentabilitas ekonomi (rentabilitas ekonomi di definisikan sebagai Laba sebelum Bunga dan Pajak atau Laba Usaha) yang lebih besar dari bunga utang tersebut maka penggunaan tersebut dapat digunakan. Dari penjelasan diatas hal tersebut disebabkan karena penggunaan utang tersebut diharapkan akan meningkatkan rentabilitas modal sendiri yang menunjukan bagian keuntungan yang menjadi hak pemilik perusahaan. Penggunaan utang pada saat rentabilitas ekonomi lebih besar dari bunga utang mengakibatkan memperoleh rentabilitas modal sendiri yang lebih besar. Karena rentabilitas modal sendiri menunjukan bagian keutungan yang dinikmati oleh pemilik perusahaan, maka penggunaan utang berarti memberikan bagian keuntungan yang lebih besar kepada pemilik perusahaan. 18
D. Penelitian Terdahulu 1. Diana Anindita (2003) dengan judul Analisis pengaruh perubahan utang dan investasi terhadap laba perusahaan (kajian empirik perusahaan manufaktur go publik di Indonesia 1992-2002). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perubahan utang dan investasi berpengaruh terhadap laba perusahaan. Dengan sumber data perusahaan manufaktur go public di Indonesia periode 1992-2002. Sehubungan dengan masalah tersebut digunakan hipotesis bahwa utang dan investasi secara bersamasama maupun secara parsial berpengaruh terhadap laba perusahaan. Alat analisis yang digunakan adalah pendekatan statistik dengan analisis regresi berganda, dengan sampel penelitian sebanyak 130. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan pendekatan purposive sampling. Hal ini mengingat sampel yang digunakan harus memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil analisis data diperoleh beberapa temuan antara lain: (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara perubahan utang dan investasi terhadap laba perusahaan, (2) total utang berpengruh negatif terhadap perusahaan dengan koefisien regresi sebesar 0,362, (3) utang jangka panjang berpengaruh positif terhadap laba perusahaan dengan koefisen regresi sebesar 0,232, (4) investasi berpengaruh positif terhadap laba perusahaan dengan koefisen regresi sebesar 0,308, (5) laba perusahaan dapat dijelaskan oleh perubahan total utang, utang jangka panjang, dan investasi sebesar 10,1%. 19
2. Na amin Nadzar (2008) analisa pengaruh total utang jangka pendek, utang jangka panjang dan investasi terhadap laba perusahaan (studi empiris pada perusahaan manufaktur go public di indonesia 2003-2005) dengan sampel penelitian adalah 30 perusahaan manufaktur yang go public dengan purposive sampling sebagai teknik pengambilan sample. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa utang jangka pendek (X1) diperoleh nilai t hitung = 9,972 > 1,988; sehingga secara individu berpengaruh signifikan terhadap laba perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta. Utang jangka panjang (X2) diperoleh nilai t hitung = 0,174 < 1,988; sehingga secara individu tidak berpengaruh signifikan terhadap laba perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta. 3. Muhammad Hilmi (2010) dengan judul Analisis Pengunaan Utang Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Telekomunikasi yang Go Public di BEI Periode 2004-2009. Tujuannya yaitu untuk mengetahui pengaruh penggunaan utang terhadap profitabilitas pada perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Statistik Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian ini yaitu utang jangka pendek dan utang jangka panjang secara simultan berpengaruh signifikan terhadap item-item profitabilitas, kecuali item Return On Investment (ROI). 20
G. Kerangka Berpikir Tujuan perusahaan secara umum adalah mendapatkan laba. Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya laba usaha yang dihasilkan perusahaan adalah modal. Modal bagi perusahaan merupakan sumber dana yang mendukung dan menjamin kelangsungan kegiatan perusahaan, dengan tersedianya modal yang cukup, diharapkan dapat menjamin kelancaran aktivitas perusahaan, sehingga perusahaan dapat mengembangkan kegiatan usahanya dan meningkatkan jumlah pendapatan yang akhirnya akan meningkatkan laba. Untuk mengembangkan perusahaan agar lebih besar, Perusahaan membutuhkan dana yang tidak sedikit Sehingga perusahaan melakukan pinjaman dari pihak luar berupa utang, baik dalam utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Karena dana yang berasal dari pinjaman tersebut dapat memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan sehingga perusahaan dapat berkembang dengan baik dan mampu membayar utang tersebut kepada kreditor, baik pokok maupun bunganya. Berdasarkan uraian diatas tampak jelas bahwa utang berdampak dan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya laba perusahaan. Maka berdasarkan penyataan diatas diperoleh kerangka pemikiran sebagai berikut: 21
Perusahaan Permodalan Modal Internal Modal Eksternal (Utang) Jangka pendek Jangka Panjang Laba Sumber : Diolah Peneliti, 2012 22