JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepiting Bakau Klasifikasi kepiting bakau

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga II TINJAUAN PUSTAKA. Genus Scylla mempunyai tiga spesies lain yaitu Scylla serata, S. oseanica dan S.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Di perairan Indonesia diperkirakan lebih dari 100 spesies jenis kepiting

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2. Metode Kerja Bahan dan peralatan pada pengamatan morfometri

ORDO DECAPODA. Kelompok Macrura : Bangsa udang & lobster

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Klasifikasi Kepiting Bakau (Scylla serrata) Menurut Kanna (2002) kepiting bakau (S. serrata) berdasarkan

I. PENDAHULUAN. Kepiting bakau (Scylla serrata) dapat dijumpai hampir di seluruh perairan pantai. Kepiting

BIOEKOLOGI KEPITING BAKAU (Scylla spp.) DI EKOSISTEM MANGROVE KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT DISERTASI LAURA SIAHAINENIA

MODIFIKASI KONSTRUKSI PINTU MASUK BUBU LIPAT UNTUK MENANGKAP KEPITING BAKAU JESSY FERGIENA MUTIARA

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mangrove Komposisi Jenis Mangrove dan Parameter Lingkungannya

TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU Scylla paramamosain Estampador DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG.

TINJAUAN PUSTAKA. Sulistiono et al. (1992) dalam Mulya (2002) mengklasifikasikan kepiting. Sub Filum: Mandibulata. Sub Ordo: Pleocyemata

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi dan Morfologi Kepiting Bakau (Scylla spp.) Indonesia dan merupakan hewan Arthropoda yang terbagi kedalam empat family,

ARTIKEL ILMIAH. STUDI POPULASI KEPITING BAKAU (Scylla spp.) PADA KAWASAN HUTAN MANGROVE DESA SUNGAI ITIK KECAMATAN SADU KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

BIOEKOLOGI KEPITING BAKAU (Scylla spp.) DI EKOSISTEM MANGROVE KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT DISERTASI LAURA SIAHAINENIA

Induk udang rostris (Litopenaeus stylirostris) kelas induk pokok

Seminar Nasional Tahunan X Hasil Penelitian Kelautan dan Perikanan, 31 Agustus 2013

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG

3. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian 3.2. Metode Kerja

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber daya hutan bakau yang membentang luas di

IKAN LOU HAN (Cichlasoma sp)

I. PENDAHULUAN. Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu komoditas perikanan

RANCANG BANGUN BUBU LIPAT UNTUK MENANGKAP KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DIDIN KOMARUDIN

ORDO DECAPODA. Kelompok Macrura : Bangsa udang & lobster (lanjutan)

PENGENALAN UMUM BUDIDAYA KEPITING BAKAU

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

POTENSI SUMBERDAYA KEPITING BAKAU (Scylla sp.) YANG DIPERDAGANGKAN DI KOTA TARAKAN, PROPINSI KALIMANTAN UTARA. Natanael 1), Dhimas Wiharyanto 2)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

ORDO DECAPODA. Kelompok Macrura : Bangsa udang & lobster (lanjutan)

ANALISIS POTENSI KEPITING BAKAU (Scylla spp) DI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT

BAB I PENDAHULUAN. memberikan beberapa kontribusi penting bagi masyarakat Indonesia. sumber daya alam dan dapat dijadikan laboratorium alam.

I. PENDAHULUAN. 4,29 juta ha hutan mangrove. Luas perairan dan hutan mangrove dan ditambah dengan

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

STUDI BIOLOGI KEPITING DI PERAIRAN TELUK DALAM DESA MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Jl. Raya Jakarta Serang Km. 04 Pakupatan, Serang, Banten * ) Korespondensi: ABSTRAK

Bahan Ajar Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Tarbiyah STAIN Batusangkar TAKSONOMI VERTEBRATA. Pisces: Evolusi Kelas Agnatha

Pengaruh Ablasi Mata dan Penembakan Soft Laser sebagai Biostimulator untuk Meningkatkan Kemampuan Reproduksi Kepiting Bakau (Scylla serrata)

KERAGAAN MODIFIKASI PERANGKAP LIPAT KEPITING DI DESA MAYANGAN DAN LEGONWETAN SUBANG, JAWA BARAT ESA DIVINUBUN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kelas : Crustacea. Ordo : Decapoda. Webster et al., (2004), menyatakan bahwa lobster merupakan udang air tawar

Bioekologi Kepiting Bakau (Scylla Serrata dan Scylla Oceanica) Di Kawasan Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Siput Gonggong (Strombus turturella)

DAFTAR PUSTAKA. Aldrianto E Aktivitas Reproduksi Kepiting Bakau. Majalah Akuania Techner. Halaman No 12. Tahun II.

Gambar 1. Drosophila melanogaster. Tabel 1. Klasifikasi Drosophila

Morphometric and Meristic Character of Mangrove Crab (Scylla serrata) in Mangrove Ecosystem at West Sentosa Village, Medan Belawan Subdistrict

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kepiting Bakau Genus Scylla Klasifikasi dan identifikasi kepiting bakau

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang. berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini

POTENSI ANCAMAN LEDAKAN POPULASI ACANTHASTERPLANCI TERHADAP KELESTARIAN TERUMBU KARANG DI WILAYAH LAUT JAKARTA DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

I. PENDAHULUAN. diakibatkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah munculnya penyakit yang

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi Diaphanosoma sp. adalah sebagai berikut:


DAYA TANGKAP BUBU LIPAT YANG DIOPERASIKAN OLEH NELAYAN TRADISIONAL DI DESA MAYANGAN KABUPATEN SUBANG

BEBERAPA ASPEK BIOLOGI CALAPPA HEPATICA (Linnaeus, 1758) (CRUSTASEA; DECAPODA; BRACHYURA; CALAPPIDAE) Oleh. Ernawati Widyastuti 1)

Morfologi dan Anatomi Dasar Unggas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Haliman dan Adijaya (2005), klasifikasi udang vannamei

PENGARUH PERBEDAAN SUHU AIR PADA PERKEMBANGAN LARVA KEPITING BAKAU, Scylla olivacea

RINGKASAN. Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut merupakan satusatunya

BAB I PENDAHULUAN. Holothuroidea merupakan salah satu kelompok hewan yang berduri atau

TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan Larva Rajungan. Jenis Stadia dan Lama Waktu Perkembangan Larva

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar

Lampiran 1. Rata-rata laju pertumbuhan bobot, lebar karapas dan panjang karapas kebiting bakau, Scyla srerata selama penelitian.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas

Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan Pada Alat Tangkap Bubu Kerucut dengan Umpan yang Berbeda

PERUBAHAN WARNA SUBSTRAT PADA DAERAH HUTAN MANGROVE DESA PASSO. (Change of Substrate Colour at Mangrove Forest in Passo Village)

TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L.) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG.

Induk udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas induk pokok

Pola Dominansi Capit pada Uca spp. (Dekapoda:Ocypodidae)

Annelida. lembab terletak di sebelah atas epithel columnar yang banyak mengandung sel-sel kelenjar

TINJAUAN PUSTAKA. perdagangan internasional dikenal sebagai Mud Crab dan bahasa latinnya Scylla

BIMTEK BUDIDAYA KEPITING BAKAU

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengenalan Jenis-jenis Kima Di Indonesia. Kima Lubang (Tridacna crosea)

JURNAL JENIS LOBSTER DI PANTAI BARON GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA. Disusun oleh : Mesi Verianta

PETUNJUK TEKNIS. PELEPASLIARAN KEPITING BAKAU (Scylla spp.)

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi S. inferens adalah sebagai berikut:

Penanganan induk udang windu, Penaeus monodon (Fabricius, 1798) di penampungan

2 TINJAUAN PUSTAKA Kepiting Bakau Kualifikasi Taksonomi dan Morfologi

PENGARUH BENTUK CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA BUBU LIPAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla sp.) DI DESA MAYANGAN, KABUPATEN SUBANG

STRUKTUR POPULASI KEPITING BAKAU (Scylla Serrata) DIPERAIRAN TELUK KOTANIA DUSUN WAEL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT

II. TINJAUAN PUSTAKA. perkawinan. Proses perkawinan biasanya terjadi pada malam hari atau menjelang

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi dan Morfologi Kepiting Bakau (Scylla serrata) MenurutKathirvel dan Srinivasagam (1992) kepiting bakau berwarna

II. Tinjuan Pustaka. A. Bulu Babi Tripneustes gratilla. 1. Klasifikasi dan ciri-ciri

HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis Rambut

ANALISA VARIASI KARAKTER MORFOMETRIK DAN MERISTIK KEPITING BAKAU (Scylla spp.) DI PERAIRAN INDONESIA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

Transkripsi:

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 5, Nomor 1, April 2009 VALUASI EKONOMI WISATA SANTAI BEACH DAN PENGARUHNYA DI DESA LATUHALAT KECAMATAN NUSANIWE STRUKTUR MORFOLOGIS KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) PENGENDALIAN CACING POLIKAETA PADA ANAKAN TIRAM MUTIARA DENGAN PERENDAMAN DALAM SALINITAS YANG BERBEDA TINGKAH LAKU PERGERAKAN GASTROPODA Littorina scabra PADA POHON MANGROVE Sonneratia alba DI PERAIRAN PANTAI TAWIRI, PULAU AMBON SEBARAN NITRAT DAN FOSFAT PADA MASSA AIR PERMUKAAN SELAMA BULAN MEI 2008 DI TELUK AMBON BAGIAN DALAM APLIKASI TEKNOLOGI REMOTE SENSING SATELIT DAN SIG UNTUK MEMETAKAN KLOROFIL-a FITOPLANKTON (Suatu Kajian Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan) KAROTENOID, PIGMEN PENCERAH WARNA IKAN KARANG EKSISTENSI SASI LAUT DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN BERKELANJUTAN BERBASIS KOMUNITAS LOKAL DI MALUKU JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON TRITON Vol. 5 No. 1 Hlm. 1-71 Ambon, April 2009 ISSN 1693-6493

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 1, April 2009, hal. 11 21 11 STRUKTUR MORFOLOGIS KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) (Morphological Structure of The Mud Crab, Scylla paramamosain) Laura Siahainenia Dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Unpatti Jl. Chr. Soplanit Poka-Ambon siahainenia_luara@yahoo.com ABSTRACT: The aim of the research was described the morphology structures of the mud crab (Scylla paramamosain) in general and sex different, by observation method. The results indicated that the body of mature mud crab consist of two main parts were the body and five pair of legs (one pair of chelipeds, three pair of walking legs and one pair of swimming legs). The shape of carapace was rounded, elongated and slightly domed. This carapace consist of gastric region, cardiac region, branchial region, and hepatic region. The abdomen lay on the middle of the thorachic sternum. Size, abdomen shape and segment of the abdomen cover were the identification factors of the spesies. The legs consist of segments: coxa, basi-ischium, merus, carpus, propondus and dactylus. Presence of the spine on the outer side of the carpus was the spesies identicication factor. The mouth consist of three pair maxillipeds, like that lamella and covered by sillia. In anterior carapace was found a pair of antenne. The eyes with eyestalk covered by a eye cavit in anterior carapace.the sex classification based on the proportion of length of cheliped to length of carapace, size and shape of the carapace cover, presence a pairs of oviduct openings on the thorachic sternum and number and shape of pleopod. Keywords: Scylla paramamosain, morphology structure, sex different PENDAHULUAN Kepiting bakau (Scylla spp.) hidup pada hampir seluruh perairan pantai terutama pantai yang ditumbuhi mangrove, perairan dangkal sekitar ekosistem mangrove, estuari dan pantai berlumpur. Kepiting bakau memiliki peranan ekologis dalam ekosistem mangrove dan merupakan salah satu komoditi perikanan yang bernilai ekonomis penting. Sebagai makanan asal laut, kepiting bakau sangat digemari karena memiliki rasa daging yang lezat dan bernilai gizi tinggi, terutama kepiting bakau betina bertelur atau matang gonad. Kelezatan dan nilai gizi yang tinggi, menempatkan kepiting bakau sebagai jenis makanan laut ekslusif dengan harga yang cukup mahal.

12 Siahainenia, Struktur Morfologis Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) Permintaan konsumen dalam negeri terhadap komoditas ini dari tahun ke tahun cenderung meningkat, demikian pula dengan permintaan ekspor. Biro Pusat Statistik (BPS) (2004) dalam BAPPENAS (2005), melaporkan bahwa nilai ekspor kepiting pada tahun 2000 adalah sebesar 12.381 ton dan meningkat menjadi 22.726 ton pada tahun 2007. Mengingat pentingnya nilai manfaat ekologis maupun ekonomis yang dimiliki komoditas kepiting bakau, maka kajian-kajian tentang berbagai aspek kehidupan kepiting bakau perlu dilakukan, diantaranya adalah kajian aspek biologi kepiting bakau. Untuk melakukan kajian-kajian tentang aspek biologi kepiting bakau, sangat dibutuhkan pemahaman melalui data dan informasi tentang struktur morfologis tubuh kepiting bakau. Deskripsi tentang struktur morfologis tubuh kepiting bakau (Scylla paramamosain), belum pernah dilakukan secara lengkap. Demikian pula halnya dengan deskripsi struktur morfologis tubuh kepiting bakau yang menjadi faktor pembeda jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur morfologis tubuh kepiting bakau (Scylla paramamosain) secara umum, dan struktur morfologis tubuh kepiting bakau yang merupakan faktor pembeda antar jenis kelamin. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman teknis bagi peneliti pemula dalam mempelajari aspek-aspek biologi kepiting bakau. METODOLOGI Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2006. Alat yang digunakan dalam tahapan penelitian ini adalah seperangkat dissecting set, kaca pembesar dan kamera. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepiting bakau (Scylla paramamosain) jantan dan betina dewasa, kertas tissue dan kantong plastik berlabel. Determinasi struktur morfologis tubuh kepiting bakau secara umum, serta determinasi struktur morfologis tubuh kepiting bakau yang menjadi faktor pembeda antar jenis kelamin, dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: dilakukan pengamatan dan pemotretan terhadap struktur morfologis tubuh kepiting bakau jantan dan betina, kemudian dibuat deskripsi dengan merujuk pada Moosa (1980) dan Warner (1977); Dilakukan pengamatan dan pemotretan terhadap struktur morfologis tubuh kepiting bakau, yang menjadi faktor pembeda antar jenis kelamin, kemudian dibuat deskripsi berdasarkan hasil pengamatan maupun hasil rujukan berdasarkan Moosa dkk. (1985) dan Heasman (1980). Data yang diperoleh adalah data deskriptif struktur morfologis tubuh kepiting bakau secara umum, serta data deskriptif struktur morfologis tubuh kepiting bakau yang menjadi faktor pembeda antar jenis kelamin. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Morfologis Tubuh Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) secara umum Siklus hidup kepiting bakau meliputi empat tahap (stadia) perkembangan yaitu: tahap larva (zoea), tahap megalopa, tahap kepiting muda (juvenil) dan tahap kepiting dewasa (Gambar 1). Pada stadia megalopa, tubuh kepiting bakau belum terbentuk secara sempurna. Meskipun telah terbentuk mata, capit (chela), serta

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 1, April 2009, hal. 11 21 13 kaki yang lengkap, namun tutup abdomen (abdomen flap) masih menyerupai ekor yang panjang dan beruas (Kasry, 1986). Stadia zoea-1 (9 jam setelah penetasan) (Foto oleh penulis) Stadia megalopa (FotoolehSubbalikandita Gondol, Bali) Stadia kepiting bakau dewasa (Foto oleh penulis) Stadia juvenil (Foto oleh Subbalikandita Gondol, Bali) Gambar 1. Perubahan struktur morfologis tubuh kepiting bakau (Scylla spp.) antar stadia Selain itu, pasangan kaki renang belum terbentuk sempurna, karena masih menyerupai kaki jalan dengan ukuran yang panjang. Memasuki stadia kepiting muda (juvenil), tubuh kepiting bakau mulai terbentuk sempurna. Tutup abdomen telah melipat ke arah belakang (ventral) tubuh, sedangkan ruas terakhir pasangan kaki renang mulai pendek dan memipih. Meskipun demikian, tubuh masih berbentuk bulat dengan bagian-bagian tubuh yang tidak proporsional. Hal ini terlihat pada bentuk mata yang membesar dengan tangkai yang pendek, sehingga memberikan kesan melekat pada tubuh. Secara umum, tubuh kepiting bakau dewasa (Gambar 2) terbagi atas dua bagian utama, yaitu bagian badan dan bagian kaki, yang terdiri atas sepasang cheliped, tiga pasang kaki jalan, dan sepasang kaki renang. (a) (b) mata antene chela cheliped karapaks kaki jalani kaki jalan II thorachic sternum kaki jalan III Abdomen flap branchiostigite mulut kaki dayung Gambar 2. Struktur morfologis tubuh kepiting bakau (Scylla paramamosain (a) tampak dorsal dan(b) tampak ventral

14 Siahainenia, Struktur Morfologis Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) 1. Karapaks Kepiting bakau memiliki bentuk karapaks yang agak bulat, memanjang, pipih, sampai agak cembung. Panjang karapaks berukuran kurang lebih dua per tiga ukuran lebar karapaks. Secara umum, karapaks kepiting bakau terbagi atas empat area, yaitu: area pencernaan (gastric region), area jantung (cardiac region), area pernapasan (branchial region), dan area pembuangan (hepatic region). Pada bagian tepi anterolateral kiri dan kanan karapas, atau pada branchial region, terdapat sembilan buah duri dengan bentuk dan ketajaman yang bervariasi. Sedangkan pada bagian depan karapaks, atau pada gastric region, tepat diantara kedua tangkai mata, terdapat enam buah duri kokoh di bagian atas, dan dua duri kokoh di bagian bawah kiri dan kanan. Sepasang duri pertama pada bagian anterolateral kiri dan kanan karapas, serta dua pasang duri pada bagian atas dan bawah karapaks, berada dalam posisi mengelilingi rongga mata, dan berfungsi melindungi mata. Duri-duri pada bagian depan karapaks, memiliki bentuk dan ketajaman yang bervariasi, sehingga menjadi salah satu faktor pembeda dalam klasifikasi jenis kepiting bakau (Keenan et al., 1989). Gambaran karapaks kepiting bakau dan bagian-bagiannya tersaji pada Gambar 3. dahi rongga mata (orbit) area pencernaan tepi anterolateral karapaks area pernapasan area jantung tepi posterolateral karapaks area bembuangan Gambar 3. Bagian-bagian permukaan karapaks kepiting bakau (Scylla paramamosain) 2. Abdomen Abdomen kepiting bakau (Gambar 4) terletak pada bagian ventral tubuh, yakni pada bagian tengah tulang rongga dada (thoracic sternum). Tutup abdomen (abdominal flap), merupakan organ yang menyerupai lempengan dan merupakan pelindung pleopod (gonopod). Pleopod kepiting bakau jantan, berfungsi sebagai organ kopulasi, sehingga disebut copulatory pleopod. Sedangkan pleopod kepiting bakau betina, berfungsi sebagai tempat menempelnya massa telur yang telah terbuahi (zigote) selama proses inkubasi berlangsung, sehingga disebut juga organ pelengkap kelamin. Selama stadia megalopa, tutup abdomen kepiting bakau nampak terlihat jelas melalui bagian dorsal tubuh, dan menyerupai ekor. Akan tetapi ketika memasuki stadia juvenil, tutup abdomen telah melipat ke arah dada (ventral). Ukuran dan bentuk dari abdomen serta ruas-ruas pada tutup abdomen, merupakan salah satu faktor pembeda jenis kelamin kepiting bakau. Bentuk tutup

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 1, April 2009, hal. 11 21 15 abdomen juga merupakan faktor pembeda dalam identifikasi dewasa kelamin, dan tingkat kematangan gonad pada kepiting bakau betina. Posisi menutup Jantan Posisi membuka betina Gambar 4. Bentuk tutup abdomen kepiting bakau (Scylla paramamosain) dalam posisi membuka dan menutup Tutup abdomen merupakan pelindung pleopod. Pleopod kepiting bakau betina, dilengkapi rambut-rambut yang disebut ovigerous setae. Rambut-rambut tersebut akan tumbuh semakin banyak, saat kepiting bakau betina mengalami pergantian kulit untuk kawin (Sandifer & Smith, 1986). Sebaliknya pada kepiting bakau jantan, pleopod tidak dilengkapi rambut-rambut. Dengan demikian, selain fungsi-fungsi tersebut di atas, tutup abdomen pada kepiting bakau betina juga berfungsi sebagai pelindung massa telur (zigote), selama proses pengeraman/inkubasi berlangsung. Pada bagian tengah tutup pleopod, terdapat saluran pembuangan yang mengarah ke anus, yang terletak pada bagian ujung tutup pleopod. 3. Kaki-Kaki Jantan Anggota tubuh Decapoda terdiri atas ruas-ruas, dan secara umum memiliki sepasang embelan pada tiap ruas. Kepiting bakau memiliki lima pasang kaki, yang terletak pada bagian kiri dan kanan tubuh, yaitu: sepasang cheliped, tiga pasang kaki jalan (walking leg) dan sepasang kaki renang (swimming leg). Tiap kaki kepiting bakau terdiri atas enam ruas, yaitu coxa, basi-ischium, merus, carpus, propondus dan dactylus (Gambar 5). Pasangan kaki pertama pada tubuh kepiting bakau, disebut cheliped. Coxa pada cheliped merupakan ruas cheliped yang paling dekat dengan tubuh, sehingga merupakan tempat menempelnya cheliped pada tubuh. Basi-ischium merupakan ruas penghubung antara coxa dan merus, yang dilengkapi dengan tiga buah duri kokoh, yaitu satu pada tepi anterior, dan dua lainnya pada tepi posterior. Pada carpus terdapat sebuah duri kokoh, pada sudut bagian dalam, dan satu atau dua duri yang relatif tajam atau tumpul pada sudut bagian luar. Keberadaan dan ketajaman duri pada sudut terluar carpus, merupakan salah satu faktor pembeda dalam identifikasi jenis kepiting bakau (Keenan et al., 1989). Pada propondus, terdapat tiga buah duri, satu berada tepat pada persambungan antara carpus dan propondus, sedangkan dua lainnya berada pada bagian persambungan antara propondus dan dactylus. Keberadaan dan ketajaman betina

16 Siahainenia, Struktur Morfologis Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) kedua duri tersebut, juga merupakan faktor pembeda dalam identifikasi jenis kepiting bakau. Bagian propondus dan dactilus cheliped menyatu, disebut capit (chela). Cheliped sangat berperan dalam aktivitas makan. Strukturnya kokoh, terutama pada bagian chela, dilengkapi dengan gigi-gigi yang tajam dan kuat untuk mencabik-cabik makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Selain berfungsi sebagai alat bantu makan, cheliped juga berfungsi sebagai alat bertarung untuk pertahanan diri. Hal ini terutama terjadi pada kepiting bakau jantan, sehingga cheliped kepiting bakau jantan umumnya lebih besar daripada cheliped betina, ketika mencapai tingkat dewasa kelamin. Kepiting bakau yang merasa terancam oleh gangguan pemangsa, akan bergerak mundur, sedangkan kedua cheliped-nya diangkat tinggi ke atas dengan posisi chela membuka. Seringkali kepiting bakau melepaskan/memutuskan cheliped-nya sebagai strategi membebaskan diri dari pemangsa. Penggunaan cheliped untuk pertahanan diri, terjadi ketika perebutan makanan, wilayah tempat berlindung, wilayah kawin (mating teritory), serta pasangan kawin. Menjelang kawin, kepiting bakau jantan biasanya akan menjaga betina pasangannya yang sementara berganti kulit (moulting) prakopulasi dari serangan kepiting bakau lain, yang berusaha untuk kawin dengannya atau untuk memangsanya. Hal ini disebabkan karena sifat kanibalisme yang dimiliki kepiting bakau (Kasry, 1996). Cheliped juga digunakan kepiting bakau jantan untuk membalikan tubuh betina, sehingga terlentang agar mudah melakukan perkawinan (kopulasi). Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan selama proses inkubasi berlangsung, kepiting bakau betina menggunakan cheliped-nya untuk menjaga massa zigote yang menempel pada rambut-rambut pleopodnya. tepi posterior carpus merus coxa Basitepi anterior ischium (b) Basicoxa ischium merus propondus carpus propondus dactylus d a c t y l u s b e r g e r a k d a c t y l u s d i a m dactylus merus coxa Basi- ischium (c) carpus propondus dactylus Gambar 5. Bentuk dan bagian-bagian kaki kepiting bakau (Scylla paramamosain) (a) cheliped; (b) Kaki jalan; (c) kaki renang Tiga pasang kaki berikutnya, disebut kaki jalan yang selain berfungsi untuk berjalan saat kepiting bakau berada di darat, juga berfungsi dalam proses reproduksi, terutama pada kepiting bakau jantan. Ketika proses percumbuan

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 1, April 2009, hal. 11 21 17 menjelang perkawinan berlangsung, dengan bantuan kaki-kaki jalan kepiting bakau jantan akan mendekap betina di bagian bawah tubuhnya, sehingga tubuh mereka menyatu. Posisi ini disebut doubllers. Doubllers umumnya berlangsung hingga kepiting bakau betina memasuki proses moulting prakopulasi. Kaki-kaki jalan juga berfungsi ketika proses penetasan telur berlangsung. Kepiting bakau betina yang sedang berkontraksi, akan berdiri menggunakan kedua cheliped-nya, sementara bagian dactylus kedua pasang kaki jalan terakhir (kaki jalan II dan III), digunakan untuk menggaruk massa zigote secara terus menerus, sampai butiranbutiran telur terurai dan terlepas dari rambut-rambut pleopod. Pasang kaki terakhir kepiting bakau yang disebut kaki renang, berbentuk agak membulat dan lebar. Dua ruas terakhir kaki renang (dactylus dan propondus) berbentuk pipih. Pasangan kaki renang digunakan sebagai alat bantu semacam dayung saat berenang. Sekalipun dapat tahan hidup di darat selama 4-5 hari, namun kepiting bakau tetap membutuhkan air untuk menghindarkan dirinya dari evaporasi. Selain itu, dalam siklus hidupnya, kepiting bakau betina yang telah matang gonad akan meninggalkan perairan hutan mangrove, menuju ke perairan laut untuk memijahkan, mengerami dan menetaskan telur-telurnya (Sulaeman dkk., 1993). 4. Mulut Mulut kepiting bakau (Gambar 6) terletak pada bagian ventral tubuh, tepatnya di bawah rongga mata, dan di atas tulang rongga dada (thorachic sternum). Mulut kepiting bakau terdiri atas tiga pasang rahang tambahan (maxilliped), berbentuk lempengan yaitu; maxilliped I, maxilliped II dan maxilliped III, serta rongga mulut. Ketiga pasang maxilliped, secara berurutan tersusun menutupi rongga mulut. Hal ini diduga untuk mencegah masuknya lumpur atau air secara langsung ke dalam rongga mulut, karena rongga mulut selalu berada dalam keadaan terbuka. Dengan demikian ketika akan memasukan makanan ke dalam rongga mulut, tiap pasang maxilliped akan membuka di tengah seperti pintu dan kemudian akan menutup kembali ketika makanan telah masuk. Kepiting bakau hidup di dalam lumpur, serta sering makan deposit lumpur dan detritus, sehingga tiap pasang maxiliped dilengkapi rambut-rambut halus, yang diduga berfungsi sebagai alat peraba dan perasa untuk mendeteksi makanan. rongga mulut Maxilliped I Maxilliped maxilliped II III thorac hic sternu m Gambar 6. Bagian-bagian mulut kepiting bakau (Scylla paramamosain)

18 Siahainenia, Struktur Morfologis Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) 5. Antene Seperti krustasea pada umumnya, kepiting bakau juga memiliki sepasang antene (Gambar 7), yang berada pada bagian dahi karapaks, yakni diantara kedua rongga mata. Menurut Kasry (1996), antene kepiting bakau diduga berfungsi untuk mendeteksi adanya bahaya melalui gerakan angin. Sedangkan menurut Phelan et al. (2005), antene merupakan organ peraba dan perasa yang dapat mendeteksi secara detil perubahan pada pergerakan air dan kimia air. Gambar 7. Antene kepiting bakau (Scylla paramamosain) 6. Mata Mata kepiting bakau yang dilengkapi dengan tangkai mata, dilindungi oleh dinding rongga mata, menyerupai duri-duri besar dan kokoh, yang terletak pada bagian dahi karapaks. Apabila berada dalam keadaan terancam, tangkai mata akan ditempelkan rapat-rapat dalam rongga mata, sehingga yang tampak hanyalah duriduri kokoh tersebut. Mata kepiting bakau, sebagai jenis krustasea yang juga hidup pada substrat terletak pada ujung tangkai mata yang panjang. Barnes (1968 a ) dalam Warner (1977), menyatakan bahwa tangkai mata yang panjang, mungkin digunakan untuk meningkatkan jarak pandang pada dataran yang rata. Sedangkan menurut Phelan et al. (2005), letak mata yang tinggi pada tangkai mata, memungkinkan kepiting bakau untuk melihat dalam putaran 360, baik di dalam maupun di luar air. Gambaran struktur morfologi mata kepiting bakau terlihat pada Gambar 8. Bola mata Bola mata Tangkai mata Tangkai mata Gambar 8. Mata kepiting bakau (Scylla paramamosain) (a) tampak ventral (b) tampak dorsal Menurut Warner (1977), mata kepiting bakau merupakan mata compound, karena mata kepiting bakau tersusun dari ribuan unit optik yang disebut ommatidia. Ommatidia terdiri atas cuticle pada bagian terluar; crystaline cone

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 1, April 2009, hal. 11 21 19 atau kumpulan lensa cahaya berbentuk kerucut; dan sekelompok sel sensor atau sel retinular, yang mengandung pigmen sensitif cahaya (photosensitive pigment). Pada bagian dasar tiap crystaline cone, terdapat massa pigmen hitam atau coklat, yang disebut distal pigment. Pada bagian bawah ommatidia, dijumpai simpul saraf mata (optic ganglia), yang terdiri atas beberapa bagian yaitu: lamina ganglionaris, medulla externa, medulla interna dan medulla terminalis. Pada medulla externa, medulla interna dan medulla terminalis, terdapat sistem neurosecretory, yang terdiri atas sel-sel neurosecretory (organ-x), saluran sinus gland dan sinus gland. Sistem neurosecretory ini bertanggung jawab memproduksi hormon, diantaranya hormon penghambat perkembangan gonad (Gonado Inhibiting hormone, GIH), dan kemudian menyimpan serta menyalurkannya ke dalam sirkulasi darah umum. (Siahainenia dkk., 2008). Gambaran struktur morfologis irisan melintang tangkai mata kepiting bakau yang memperlihatkan optic ganglia tersaji pada Gambar 9. cuticle ommatidia Lamina ganglionaris Optic ganglia cuticle ommatidia optic nerve Lamina ganglionaris rongga optic ganglia Gambar 9. Struktur morfologis irisan melintang tangkai mata kepiting bakau (Scylla paramamosain) Struktur Morgologis Pembeda Jenis Kelamin Kepiting Bakau Kriteria klasifikasi jenis kelamin kepiting bakau, didasarkan pada perbedaan porporsi panjang cheliped terhadap panjang karapaks, bentuk tutup abdomen, kehadiran pasangan bukaan kelamin (oviduct openings) pada tulang rongga dada (thorachic sternum), serta jumlah dan bentuk pleopod. Deskripsi struktur morfologis yang menjadi pembeda kepiting bakau jantan dan betina tersaji pada Tabel 1 dan 2. Tabel 1. Struktur morfologis pembeda kepiting bakau (Scylla paramamosain) jantan Proporsi ukuran cheliped terhadap karapaks Bentuk tutup abdomen Bentuk bukaan kelamin pada thorachic sternum Bentuk pleopod Cheliped berukuran besar dan lebih pan-jang dari ukuran karapaks yakni dapat mencapai dua kali panjang karapaks Tutup abdomen berbentuk segitiga dan agak meruncing. Ruas-ruas abdomen sempit Bagian dalam tutup abdomen datar Bila tutup abdomen dibuka tidak nampak lobang pada thorachic sternum Bila tutup abdomen dibuka maka tampak dua pasang pleopod tanpa ditumbuhi rambut.

20 Siahainenia, Struktur Morfologis Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) Tabel 2. Struktur morfologis pembeda kepiting bakau (Scylla paramamosain) betina Proporsi ukuran cheliped terhadap karapaks Brntuk tutup abdomen Bentuk bukaan kelamin pada thorachic sternum Bentuk pleopod Cheliped lebih pendek dari karapaks Tutup abomen berbentuk stupa dan agak membulat. Ruas tutup abdomen luas. Bagian dalam tutup abdomen lebih cekung Bila abdomen dibuka nampak lobang bukaan kelamin bulat besar pada thorachic sternum. Pada pra-dewasa kelamin bukaan kecil seperti celah Bila tutup abdomen dibuka, nampak empat pasang pleopod yang ditumbuhi rambutrambut yang panjang dan padat. Pada individu pradewasa kelamin rambut pendek dan jarang KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah: (a) Kepiting bakau (Scylla paramamosain) memiliki bentuk karapaks bulat memanjang dan agak cembung; abdomen terletak pada bagian tengah rongga dada dengan bentuk tutup yang berbeda antar jenis kelamin; memiliki sepasang cheliped, tiga pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang yang masing-masing terdiri atas ruas coxa, basi-ischium, merus, carpus, propondus dan dactylus; mulut terdiri atas tiga pasang rahang tambahan (maxilliped) berbentuk lempengan dan rongga mulut; memiliki sepasang antene, yang terletak pada bagian dahi karapaks; serta memiliki sepasang mata yang dilengkapi dengan tangkai mata. (b) Struktur morfologis tubuh yang merupakan faktor pembeda antar jenis kelamin meliputi: porporsi panjang cheliped terhadap panjang karapaks, bentuk tutup abdomen, kehadiran pasangan bukaan kelamin (oviduct openings) pada tulang rongga dada (thorachic sternum), serta jumlah dan bentuk pleopod. DAFTAR PUSTAKA BAPPENAS. 2005. Perpektif Strategi Pembangunan Perikanan Indonesia (2005-2010). Jakarta. Heasman, M.P. 1980. The Mud Ccrab Scylla serrata (Forskal) in Moreton Bay, Queensland. Thesis. Queensland: University of Queensland. Kasry, A. 1986. Pengaruh Antibiotik dan Makanan pada Tingkat Salinitas yang Berbeda Terhadap Kelulusan Hidup dan Perkembangan Larva Kepiting Scylla serrata (Forskal). Jurnal. Penelitian Perikanan Laut. 12 (1) : 1-16. Kasry, A. 1996. Budidaya Kepiting Bakau dan Biologi Ringkas. Bhatara. Jakarta. Moosa, M. K. 1980. Beberapa Catatan Mengenai Rajungan dari Teluk Jakarta dan Pulaupulau Seribu. Sumberdaya Bahari Hayati. Rangkuman Beberapa Hasil Penelitian Pelita II. Jakarta. Moosa, M.K., I. Aswandy, & A. Kasry. 1985. Kepiting Bakau Scylla serrata (Forskal) di Perairan Indonesia. LON-LIPI, Jakarta.

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 1, April 2009, hal. 11 21 21 Keenan, C.P., P.J.F. Davie, & D.L. Mann. 1998. A Revision of The Genus Scylla De Haan, 1983 (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Portunidae). The Raffles Bulletin of Zoology. 46 (1): 217-245. Phelan, M., C. Errity, & K. Seidel. 2005. Life of The Mud Crab. Fishnote. 11: 11-22. Siahainenia, L., D.G. Bengen, R. Affandi, T. Wresdiyati, & I. Supriatna. 2008. Studi Aspek Reproduksi Kepiting Bakau (Scylla spp.) Melalui Percobaan Pembenihan dengan Perlakuan Ablasi Tangkai Mata. Jurnal Ichthyos.7 (1) : 55-63. Sulaeman, M., Tjaronge, & A. Hanafi. 1993. Pembesaran Kepiting Bakau Scylla serrata dengan Konstruksi Tambak yang Berbeda. Jurnal Penelitian Budidaya Pantai. 9 (4): 41-52. Warner, G.F. 1977. The Biology of Crabs. Eleck Science, London.