MENJADI MUSLIM DI NEGARA SEKULER

dokumen-dokumen yang mirip
SYARIAT ISLAM DAN KETERBATASAN DEMOKRASI

SEKULARISME, ISLAM DAN DEMOKRASI DI TURKI

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI

TWO VISIONS OF REFORMATION

RECOGNIZING PLURALISM: ISLAM AND LIBERAL DEMOCRACY

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH

DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA

TURKEY, EUROPE, AND PARADOXES OF IDENTITY

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA

MENEMPATKAN SKENARIO MASA DEPAN ANEUK DAN PEMUDA ATJEH TAHUN 2018 DALAM RUANG PUBLIK ACEH

Islam dan Sekularisme

Anggaran Dasar. Konsil Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia [INDONESIAN NGO COUNCIL) MUKADIMAH

MEMBANGUN TEORI DEMOKRASI ISLAM

DIMENSI FILSAFAT DALAM WAHYU

METODE HERMENEUTIKA UNTUK AL-QUR AN

RANI PURWANTI KEMALASARI SH.MH. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi MANAJEMEN.

SAINS, ISLAM, DAN REVOLUSI ILMIAH

MENGAITKAN ISLAM DENGAN DEMOKRASI

Islam dan Demokrasi. Disusun oleh : AL-RHAZALI MITRA ANUGRAH F FEBRIAN DELI NOVELIAWATI C.

REVITALISASI PERAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN DALAM MENEGAKKAN NILAI-NILAI BHINNEKA TUNGGAL IKA. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

MENGAPA TERORIS MUSLIM SEDIKIT? P r o j e c t. i t a i g. D k a a n. Rizal Panggabean. Edisi 012, Maret 2012 Review Buku

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL SURVEI SURVEI SYARIAH 2014 SEM Institute

2.4.1 Struktur dan Anatomi UUD NRI tahun 1945 Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya mengandung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara tidak ikut

MAKALAH. Peranan Pers Dalam Mengawasi Penegakan Hukum dan HAM

PENDIDIKAN PANCASILA

RADIKALISME AGAMA DALAM KAJIAN SOSIOLOGI

BAB V PENUTUP. Dari penelitian dan ulasan dalam tesis ini, dapat diperoleh beberapa. 1. Regulasi perbankan syariah yang menyerahkan otoritas kepatuhan

BAB I PENDAHULUAN. dan dasar negara membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai Pancasila harus selalu

PENGANGKATAN ANAK SEBAGAI USAHA PERLINDUNGAN HAK ANAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Agen-Agen Perubahan dan Aksi Tanpa Kekerasan

INTISARI. Judul Skripsi : Politik Keterbukaan Arab Saudi Dibawah Kepemimpinan. RajaAbdullah Bin Abdul Aziz Sejak Tahun 2005

Deklarasi Penghapusan Semua Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi berdasarkan Agama...

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Citra Antika, 2013

DEMOKRASI DAN RADIKALISME

BAB I PENDAHULUAN. partai politik lokal. partai politik lokal telah menjadi instrumen utama rakyat

[97] Memahami Perda-perda Syariah Sunday, 03 February :51

BAB VI PENUTUP. Universitas Indonesia Islam kultural..., Jamilludin Ali, FIB UI, 2010.

PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

Dawam Rahardjo: Saya Muslim dan Saya Pluralis

Negara Jangan Cuci Tangan

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari dua kata Yunani kuno yaitu demos dan cratein yang masingmasing

Peraturan Daerah Syariat Islam dalam Politik Hukum Indonesia

KOMISI YUDISIAL BARU DAN PENATAAN SISTEM INFRA-STRUKTUR ETIKA BERBANGSA DAN BERNEGARA. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1.

ISLAM INDONESIA-NUSANTARA Dialektika, Pluralitas Budaya dan Pergumulan Menemukan Jati Diri. Budhy Munawar-Rachman

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ISLAM DAN DEMOKRASI

MASYARAKAT MADANI. Hatiningrum, SH.M Si. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi Manajemen

Anggaran Dasar KONSIL Lembaga Swadaya Masyarakat INDONESIA (Konsil LSM Indonesia) [INDONESIAN NGO COUNSILINC) MUKADIMAH

LATIHAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

MAKALAH HAM UNTUK STABILITAS POLITIK DAN KEAMANAN SERTA PEMBANGUNAN SOSIAL DAN EKONOMI

BAB V KESIMPULAN. di Kerajaan Saudi. Ulama berperan dalam mendukung segala kebijakan-kebijakan

BAB VII KESIMPULAN. Kesimpulan

Pemerintah Baru, Masalah Lama Kamis, 04 September :12 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 04 September :49

SEJARAH PEMILU DUNIA

FUNDAMENTALISME DAN NEOLIBERALISME

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam perkembangannya demokrasi secara langsung mulai sulit dilaksanakan, karena : Tidak adanya tempat yang menampung seluruh warga yang jumlahnya

BAB 5 Penutup. dalam ciri-ciri yang termanifes seperti warna kulit, identitas keagamaan

Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Pelanggaram HAM dan Pengingkaran Kewajiban

BAB I PENDAHULUAN. kenyataan yang tak terbantahkan. Penduduk Indonesia terdiri atas berbagai

Bagaimana agar intoleransi tak berlanjut sesudah pilkada DKI Jakarta?

DEMOKRASI DIGITAL DI DUNIA ISLAM?

Kolom Edisi 005, Agustus P r o j e c t ISLAM DAN DEMOKRASI. i t a i g k a a n. M. Zainuddin

BAB I PENDAHULUAN. Bali dikenal sebagai daerah dengan ragam budaya masyarakatnya yang

HAM KEWARGANEGARAAN. Hak Asasi Manusia FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

Muhammad Ismail Yusanto, Jubir HTI

BAB I PENDAHULUAN. bersamaan dengan berkembangnya perekonomian di Indonesia. Hal ini tentu saja

PENDIDIKAN PANCASILA. Pancasila Sebagai Ideologi Negara. Modul ke: 05Fakultas EKONOMI. Program Studi Manajemen S1

BAB I PENDAHULUAN. sekali. Selain membawa kemudahan dan kenyamanan hidup umat manusia.

PANCASILA. Pancasila dalam Kajian Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (Lanjutan) Poernomo A. Soelistyo, SH., MBA. Modul ke: Fakultas MKCU

Sumbangan Pembaruan Islam kepada Pembangunan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS

PENERAPAN SILA PERTAMA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

BAB V ANALISIS PERSPEKTIF JOHN RAWLS DAN UU NO. 1/PNPS/1965 BERDASARKAN IDE NALAR PUBLIK JOHN RAWLS

Pendidikan Agama Islam

BAHAN TAYANG MODUL 9

Kolom Edisi 040, Desember P r o j e c t ISLAM BAGHDAD. i t a i g k a a n. Luthfi Assyaukanie

Aneh jika ada orang yang mengaku Muslim tapi takut terhadap penerapan syariah.

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Qur'an 1433 H, Jakarta, 7 Agustus 2012 Selasa, 07 Agustus 2012

PANCASILA DAN AGAMA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Nama : Oni Yuwantoro N I M : Kelompok : A Jurusan : D3 MI Dosen : Drs. Kalis Purwanto, MM

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

Pijar-Pijar Gagasan Soekarno

Persatuan Dalam al-quran dan Sunnah

RESUME 21 BUTIR PLATFORM KEBIJAKAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (1) PEMANTAPAN EKONOMI MAKRO

ETIKA. Membangun Masyarakat Islam Modern. Informatika. Dr. Rais Hidayat.

A. Pengertian Pancasila

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan

Transkripsi:

l Edisi 001, Oktober 2011 Edisi 001, Oktober 2011 P r o j e c t i t a i g D k a a n MENJADI MUSLIM DI NEGARA SEKULER Ihsan Ali Fauzi 1

Edisi 001, Oktober 2011 Informasi Buku: Abdullahi Ahmed An- Na`im, Islam and the Secular State: Negotiating the Future of Shari`a (Cambridge, MA and London, England: Harvard University Press, 2008), 336 halaman. ABSTRAK Masalah tempat agama, termasuk Islam dan hukum-hukumnya, dalam sistem politik demokrasi modern terus ramai diperbincangkan para ahli dan agamawan. Dalam buku ini, Abdullahi Ahmed An- Na`im menawarkan satu pandangan baru mengenai tempat hukum Islam (Syari`ah) di dalam satu negara demokratis. Dia menolak hukum Islam dijadikan hukum nasional, dengan argumen-argumen yang diambilnya dari ajaran-ajaran dan sejarah Islam sendiri dan dari wawasan tentang sekularisme yang netral-agama, yang diturunkannya dari khazanah filsafat dan ilmu-ilmu sosial kontemporer. Menurutnya, kaum Muslim justru hanya dapat menjadi Muslim yang seutuhnya di bawah sekularisme modern yang netral-agama. D e m o c r a c y P e r p u s t a 2

l P r o j e c t D k a a n i t a i g Edisi 001, Oktober 2011 Beberapa tahun belakangan ini, Abdullahi Ahmed An-Na`im, penulis buku ini, guru besar hukum di Universitas Emory, Amerika Serikat, sibuk berkeliling dunia Islam. Dia sedang mengampanyekan proyeknya yang ambisius, yang disebutnya Menegosiasikan Masa Depan Syari`ah, yang berkisar pada upaya memperoleh rumusan yang masuk akal mengenai hubungan antara Syari`ah dan politik demokratis di negara modern. Dalam rangka itu dia juga sempat mampir ke Indonesia, untuk menawarkan gagasannya dan berdiskusi dengan kaum Muslim di sini. Sebelum dibukukan, bahan-bahan proyek ini sudah ditayangkan di website-nya, dalam beragam bahasa. Mengingat rekam jejak kesarjanaan dan aktivismenya, pandanganpandangan An-Na`im penting didengar dan diperbincangkan. Dalam bukunya yang sebelumnya, Toward an Islamic Reformation (1990), dia sudah menyerukan 3

Edisi 001, Oktober 2011 reformasi Islam, dengan menegaskan kompatibilitas Syari`ah dengan prinsip-prinsip universal hak asasi manusia HAM). Inilah yang mendorongnya bergiat sebagai wakil Human Rights Watch di Afrika, satu lembaga advokasi HAM yang terkenal. Dia didorong pengalaman traumatis. Mahmud Muhammad Thaha, guru yang amat dihormatinya, digantung rezim pemerintah Islam Sudan karena dianggap mengajarkan paham Islam yang salah. Sejak itu, dia menjadi pelarian politik di AS. D e m o c r a c y Dalam buku ini, An-Na`im menyuarakan kembali pandangan lamanya tentang mudarat yang pasti diderita kaum Muslim jika negara diberi hak mengelola Syari`ah. Tapi argumen-argumennya dalam buku lebih kaya dan matang dibanding sebelumnya. Katanya, Syari`ah terbuka kepada beragam penafsiran, padahal penerapannya oleh negara mengharuskan penunggalan penafsirannya. Formalisasi Syari`ah juga berarti pemaksaannya. Ini P e r p u s t a 4

l Edisi 001, Oktober 2011 P r o j e c t D k a a n i t a i g bertentangan dengan ajaran Islam yang menyerukan umatnya untuk menjalankan Syari`ah secara sukarela. Bukankah nanti, di akhirat, kita ditimbang menurut apa yang kita sendiri lakukan? Maka tesis dan seruan utama An- Na`im jelas: untuk kebaikan mereka sendiri, masyarakat-masyarakat Muslim perlu membangun sebuah negara sekuler yang bersikap netral dalam masalah ajaran-ajaran agama dan tidak mengklaim atau berpretensi untuk memaksakan penerapan Syari`ah hukum agama Islam. Dia mendukung pandangannya ini dengan mengajukan sejumlah argumen yang diyakininya sebagai argumenargumen Islam. Selain itu, pandangannya juga ditopang oleh berbagai perkembangan mutakhir dalam disiplin filsafat politik, sosiologi dan ilmu politik. Argumen keislamannya yang paling penting adalah bahwa seorang 5

Edisi 001, Oktober 2011 Muslim hanya dapat menjadi Muslim berdasarkan keyakinan dan pilihannya sendiri. Karena itu, ketika kekuatan memaksa negara mencoba memaksakan Syari`ah, hal itu pada dasarnya justru memasung kehidupan keagamaan seorang Muslim. Terkait dengan ini, An- Na`im juga menyatakan bahwa hanya sebuah negara sekuler yang dapat menjamin dan menjadi penengah bagi kehidupan plural dalam masyarakat yang majemuk. Negara sekuler pula yang dapat menjamin perdamaian di dalam dan di antara komunitaskomunitas keagamaan. D e m o c r a c y P e r p u s t a Argumennya yang lain berasal dari wawasan ilmu politik, yakni bahwa lembaga-lembaga negara itu dikontrol oleh pejabat-pejabat negara. Ketika mereka mengadopsi hukum Islam atau memilih satu di antara beberapa tafsir atas hukum Islam tertentu, maka sebenarnya mereka sedang melakukan itu sebagai aktor-aktor negara. Karenanya, apa pun yang dilaksanakan negara atas 6

l Edisi 001, Oktober 2011 nama Syari`ah, semuanya itu akan dengan sendirinya bersifat sekuler. P r o j e c t D k a a n i t a i g An-Na`im juga memperkuat argumennya dengan tinjauan sejarah. Menurutnya, pada masa Islam pra-kolonial, termasuk di masa kekhalifahan yang awal, agama dan negara juga tidak sepenuhnya bercampur. Di sini berlangsung pemisahan antara kewenangan para ulama dan kewenangan para pemimpin politik. Ada saat-saat di mana para khalifah mencoba mengontrol ulama dan ada saat-saat di mana para ulama memberontak terhadap ketetapan pemimpin politik. Lebih dari itu, dalam sejarah, praktik keagamaan Islam dan aturan-aturan hukum yang menyertainya seringkali jauh lebih beragam dibanding yang mungkin bisa ditoleransi oleh negaranegara modern yang mengklaim monopoli atas pemilihan dan penerapan hukum. Nah, keragaman hukum Islam di masa lalu itu sulit untuk diterapkan begitu saja di masa 7

Edisi 001, Oktober 2011 sekarang, karena sistem kenegaraan modern memerlukan sistem hukum yang lebih menyatukan. Itu sebabnya, bahkan negara-negara yang kini mengklaim-diri sebagai negara Islam pun, seperti Saudi Arabia, Sudan atau Iran, hanya menerapkan bagianbagian tertentu dari Syari`ah dan mengadopsi banyak aturan-aturan hukum yang berasal dari Barat untuk urusan-urusan lain. Maka An-Na`im tegas menyatakan bahwa negara sekuler adalah lembaga terbaik yang bisa menampung gairah umat Islam akan Syari`ah. Karena itu, dia membela sekularisme, sekaligus merehabilitasi nama buruknya di mata banyak kaum Muslim. Baginya, sekularisme adalah paham mengenai pengelolaan negara yang bersifat netral-agama, bukan benci agama. Dan dia menunjukkan bahwa rumusan pemisahan agama dan negara ini diterapkan secara berbeda-beda di banyak negara, sesuai dengan kondisi dan latar belakangnya. D e m o c r a c y P e r p u s t a 8

l Edisi 001, Oktober 2011 P r o j e c t Mengikuti jejak para pemikir seperti John Rawls dan Jürgen Habermas, An-Na`im lalu berbicara mengenai pentingnya nalar publik (public reason) sebagai satu-satunya prasyarat agar pesan Syari`ah bisa didesakkan ke ruang publik. Di sini seorang Muslim tampil sebagai seorang warga negara yang hendak memperjuangkan kesalehan personalnya ke ruang publik. Dus, butir-butir Syari`ah diterima atau ditolak publik bukan karena ia berasal Tuhan, melainkan karena ia secara demokratis dianggap baik atau buruk oleh publik. i t a D k a a n i g Rumusan menjanjikan An-Na`im ini akan memperoleh reaksi keras dari kaum Muslim yang paternalistik, yang beranggapan bahwa penerapan Syari`ah harus dikontrol lembaga tertentu. Di sini, kewajiban menjalankan Syari`ah dipahami sebagai kewajiban negara atau ulama mengontrol penerapannya oleh kaum Muslim. Ada jurang lebar antara doktrin Islam yang menegaskan 9

Edisi 001, Oktober 2011 pentingnya individu dan realitas aktual banyak kaum Muslim yang terus bersikap paternalistik. Oleh mereka yang diuntungkan sikap ini, An-Na`im akan dituduh melanggar doktrin Islam tentang kewajiban Syari`ah. Seruan An-Na`im tentang perlunya sekularisme bagi kalangan agamawan juga akan ditentang oleh mereka yang membaca sekularisme sebagai paham yang memang ingin menyingkirkan agama, karena agama dianggap sebagai sumber segala penyakit. Itulah yang mencirikan sejarah sekularisme modern di negara-negara seperti Perancis. Itu pulalah yang kita simak akhir-akhir ini di Turki, tempat di mana seorang politikus penting ingin digonjang-ganjingkan kariernya hanya karena istri dan kedua putrinya berjilbab. D e m o c r a c y P e r p u s t a Sekalipun ambisius, proyek An- Na`im patut didukung. Kita boleh berbeda pendapat dengannya soal detail, tapi secara garis besar 10

l Edisi 001, Oktober 2011 P r o j e c t proyeknya mencerahkan. Kaum Muslim perlu memperbarui diri, menafsirkan kembali Syari`ah agar sesuai dengan kebutuhan kiwari mereka. Tapi itu hanya mungkin jika wadah penerapannya, negara sekuler modern, juga berbenah diri: tidak perlu menganakemaskan agama, tapi juga tak menganaktirikannya. i t a i g D k a a n 11

Edisi 001, Oktober 2011 2011 ini diterbitkan oleh Democracy Project, Yayasan Abad Demokrasi. Jika Anda berminat mendapatkan buku (ebook) yang direview, silakan isi form permintaan. Kode buku: AAA001 D e m o c r a c y P e r p u s t a 12