BAHAN AJAR PEMBELAJARAN II Nama Mata Kuliah Kode I SKS Waktu Pertemuan Pertemuan : Filsafat Pendidikan : FIF 342 / 3 SKS : 1 x pertemuan (1 x 1 50 menit) : III Tujuan Instruksional Umum 1. Umum : Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu :mengerti dan memahami arti, tujuan, dan makna filsafat pendidikan; meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan berbagal aliran pemikiran dalam filsafat pendidikan; memahami aspek social dan kemungkinan filsafat pendidikan tersirat dalam mazhab pemikiran tertentu; mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dari perspektif filsafat, sehingga mampu mengembangkan kemampuan memakai perspektif itu untuk menganalisis teori, system, aliran filsafat pendidikan dan problem actual pendidikan 2. Khusus : Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa dapat menjelaskan dan mengidentifikasi asas-asas filsafat pendidikan. Pokok Bahasan : Asas-asas filsafat pendidikan Sub Pokok Bahasan : 1. Nativisme 2. Naturalisme 3. Empinisme 4. Konvergensi Uraian Sub Pokok Bahasan Nativisme Berasal dan kata nativus, artinya terlahir. Tokoh utamanya adalah filsuf jerman bernama Arthur Schopenhauer (1 788-1 860). Schopenhauer beranggapan bahwa yang disebut kepribadian adalah factor pembawaan manusia yang memiliki sifat kodrati dimana ia tidak memperoleh pengaruh dan alam sekitan, bahkan dan pendidikan sekalipun. Jadi, perkembangan pribadi seseorang dalam proses pendidikan hanya ditentukan factor heriditas. Kemungkinan seorang anak yang memiliki potensi heriditas rendah maka akan tetap rendah meskipun sudah menjadi dewasa bahkan sudah memperoleh
pendidikan. Suatu pendidikan tidak akan merubah manusia karena potensi yang dimiliki manusia adalah bersifat kodrati. Seorang anak yang terlahir jahat maka akan tetap memiliki sifat jahat dan sebaliknya, yang baik akan tetap menjadi baik. Kondisi ini tidak akan diubah oleh ketentuan pendidikan karena potensi manusia itu bersifat kodrati. Ajaran nativisme ini bersifat pesimistis karena menerima kepribadian manusia sebagaimana adanya, tanpa kepercayaan adanya nilai-nilai pendidikan untuk merubah kepribadian. Mendidik bagi nativisme tidak lain adalah membiarkan anak untuk tumbuh berdasarkan pembawaannya. Berhasil tidaknya suatu perkembangan seorang anak tergantung kepada tinggi rendah dan jenis pembawaan yang dimiliki anak. Naturailsme Pelopor naturalisme adalah filsuf Perancis terkenal yaltu Jean Jacques Rousseau (1 71 2-1 778). Rosseau banyak mengungkapkan pendapatnya tentang pendidikan di dalam bukunya Emille. Tesis Rosseau yang paling terkenal semua adalah baik pada waktu dating dari tangan Sang Pencipta dan menjadi buruk di tangan manusia. Menurut Rosseau bahwa semua manusia yang baru lahir itu memiliki pembawaan yang baik, namun pembawaan yang baik tersebut menjadi rusak ketika sudah berada di tangan manusia. Jadi, pendidikan bagi naturalisme, hanya akan merusak pembawaan seorang anak yang baik sehingga proses pendidikan tidak akan ada hasiinya bagi perkembangan pribadi seseorang. Perkembagan kepribadian seseorang dengan demikian tinggal menunggu saja dan hasil perkembangan bakat yang muncul dari setiap individu. Naturalisme dalam pendidikan bersifat negatif, karena pendidikan yang baik bagi naturalism adalah pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk tumbuh dengan sendirinya. Adapun pertumbuhannya diserahkan kepada alam sehingga prinsip kembail ke alam menjadi ciri utama naturalisme. Pendidikan oleh karena itu harus menjauhkan anak didik dari sifat-sifat dibuat-buat dan oleh karena itu pendidikan harus dapat membawa anak didik kembali pada irama alam guna mempertahankan semua yang baik sebagaimana yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.
Empirisme Empirisme berasal dan kata empini yang berarti pengalaman. Empinisme dipelopori oleh seorang filsuf berkebangsaan lnggris bernama John Locke (1 632-1 704). Locke berpendapat bahwa seorang anak lahir di dunia ini ibarat sebuah kertas kosong atau ibarat meja berlapis lilin (tabula rasa) yang belum ada tulisan apapun di atasnya sehingga orang bebas menulis apaun diatasnya. Seringkali pendapat ini disebut sebagal teorl tabula rasa. Berbeda dari dua teori terdahulu, empirisme beranggapan bahwa perkembangan pribadi seorang mndividu tergantung semata-mata kepada factor dunia luar. Dunia luar yang dimaksud adalah lingkungan, baik lingkungan hidup maupun lingkungan mati. Lingkungan hidup itu meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan, sedangkan Iingkungan mati meliputi benda-benda mati. Setiap lingkungan ini memiliki situasi sendiri-sendiri, ada situasi ekonomi, sosial, kebudayaan, dan keagamaan. Pendidikan, dengan semua aktivitasnya juga merupakan salah satu lingkungan tersebut. Mendidik bagi empirisme berarti membentuk manusia menurut sekehendak hati sang pendidik. Jadi, seorang pendidik dengan demikian dapat berbuat sekendak hati dalam pembentukan pribadi anak didik untuk menjadi sesuai dengan yang diinginkannya. Pendidik dalam hal ini ibarat seorang pemahat patung yang siap membentuk bahan menjadi patung sesuka hatinya. Oleh karena lingkungan itu relatif dapat diatur dan dikuasai maka daiam pandangannya mengenai hasil pendidikan, empirisme bersifat optimis. Konvergensi Konvergensi dipelopori oleh filsuf pendidikan William Stern (1 871-1938). Ahli pendidikan berkebangsaan Jerman ini berpandangan bahwa pembawaan dan lingkungan adalah sama pentingnya di dalam perkembangan seorang anak manusia. Konvergensi mencoba mengembangkan adanya bakat dan lingkungan di dalam pendidikan. Konvergensi berpandangan bahwa pertumbuhan dan perkembangan seseorang itu merupakan hasil perpaduan pengaruh yang berasal dari dua sumber, yaitu bakat atau pembawaan dan pendidikan atau lingkungan. Pengaruh bakat atau pembawaan berasal dari dalam diri seseorang dan pendidikan berasal dan luar. Hasil perkembangan dan pendidikan anak tergantung pada besar kecilnya pembawaan serta situasi lingkungan.
Pendidikan, supaya berhasil baik, bagi konvergensi, mensyaratkan adanya Iingkungan yang kondusif sebagai wahana berlangsungnya pendidikan. Lingkungan yang kondusif ini menjadi conditio sine qua non bagi berlangsungnya pendidikan yang baik. Nampaknya konvergensi ini memadukan dua macam teori ekstrim, yaitu naturalisme dan nativisme di satu pihak dan empirisme di pihak lain. Oleh karena itu perkembangan pribadi seseorang itu sesungguhnya adalah hasil proses kerjasama antara potensi heriditas (internal) dan lingkungari serta pendidikan ( eksternal ). lnteraksi antara pembawaan dan lingkungan (termasuk pendidikan) akan mencapai hasil yang diharapkan, jika anak sendiri ikut memainkan peranan yang aktif di dalam mencerminkan semua pengalaman yang diperolehnya. Kegiatan Belajar Mengajar Tahap Kegiatan Pengajaran Kegiatan Mahasiswa Media / Alat Pendahuluan Memberi kesempatan Mendengarkan dan Papan tulis, kepada mahasiswa untuk memberikan OHP/lnfokus/Laptop mengajukan pertanyaan tanggapari atau usul atas hal hal yang belum dipahami dari materi yang telah diberikan sebelumnya Penyajian Penutupan Menjelaskan kaitan materi yang akan diberikan dengan pokok bahasan yang sudah dijelaskan dengan yang akan datang Menjelaskan nativisme, naturalisme, empirisme, dan konvergensi sebagai prinsip-prinsip dasar di dalam filsafat pendidikan Menugaskan mahasiswa membaca kembali materi yang telab diajarkan dan membaca bahan pustaka yang relevan dengan bahasan berikutnya Mencatat Papan tulis, Memperhatikan OHP/lnfokus/Laptop Memberikan tanggapan/pertanyaan Memberikan tanggapan Papan tulis, OHP/lnfokus/Laptop
Evaluasi : Mengukur kemampuan mahasiswa melalui pembuatan tugas rangkuman terhadap materi yang telah diberikan dengan panduan pertanyaan sebagai berikut: a. Uraikan dengan lengkap dan jelas beberapa konsep dalam pendidikan yang dewasa ini masih tetap dianggap relevan sebagai acuan untuk mendidik b. Menurut Saudara, diantara konsep-konsep tersebut, manakah kiranya yang paling relevan untuk menjelaskan proses pendidikan dewasa ini? Berikan penjelasan Saudara dengan argumentasi yang memadai! Kepustakaan Wajib Brameld, 1985, Philosophy of Education in Cultural Perspective, Tata McGraw-Hill, New Delhi lmam Bernadib, 1995, Beberapa Aspek Substansial Ilmu Pendidikan, Andi Offset, Yogyakarta _, 2000, Filsafat Pendidikan, Adicita, Yogyakarta More, T.W, 1986, Philosophy of Education: an introduction, Routledge & Kegan Paul, London and New York Peter, R.S., 1978, Philosophy of Education, Routledge & Kegan Paul, London and New York Anjuran Brubacher, John S., 1978, Modern Philosophy of Education, Tata McGraw-Hill, New Delhi lmam Bernadib, 1990, Filsafat Pendidikan, Sistem, dan Metode, Andi Offset, Yogyakarta