BAB III METODE PENCIPTAAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Harry Atmami, 2015 Seni Kinetik Mitos Situ Bagendit Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN. keluar dari kegelisahan tersebut. Ide/gagasan itu muncul didorong oleh keinginan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan Adi Khadafi, 2013

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. Larasita Puji Daniar, 2014 Legenda Ciung Wanara Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

Bagan 3.1 Proses Berkarya Penulis

BAB I PENDAHULUAN. karya dihasilkan dari imajinasi dan temporer seniman. Batasan dari cetak tradisional,

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN. kebenaran, hal ini terkait sekali dengan realitas.

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan, maupun lingkungan kehidupan masyarakat. Alam dapat dikatakan. terpisahkan antara manusia dengan lingkungan alam.

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN

TOKOH LEGENDA ENDANG DHARMA AYU SEBAGAI GAGASAN BERKARYA DRAWING

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III. METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. Ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang. Sebutan ibu mungkin

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Nelson Mandela 1960 Sumber:

BAB III METODOLOGI PENCIPTAAN. Dari definisi tentang proses penciptaan kreativitas terdapat tahapantahapan

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper).

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta BAB. I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENCIPTAAN. Setiap manusia memiliki kesenangan tersendiri dalam mengabadikan

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. Seni grafis sudah jarang diminati, terutama yang masih menggunakan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB III METODE PENCIPTAAN

W, 2015 #INSTAMOMENT KARYA CIPTA FOTOGRAFI MENGGUNAKAN MEDIA SMARTPHONE ANDROID DENGAN APLIKASI INSTAGRAM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENCIPTAAN. cm, karya ke dua berukuran 120 cm X 135 cm, karya ke tiga berukuran 100 cm X

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fitri Salam Bhakti, 2014 Gedung Sundial Kota Baru Parahyangan Sebagai Objek Berkarya Seni Grafis

LEMBARAN SOAL TRYOUT UJIAN SEKOLAH. Hari/Tanggal : Waktu :

BAB I PENDAHULUAN. Desain grafis pada awalnya hanya terbatas pada media cetak dwi matra

BAB I PENDAHULUAN. Anak pada zaman sekarang umumnya lebih banyak menghabiskan waktu


BAB III METODE PEMBUATAN PATUNG GAJAH IDE. Eksplorasi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prio Rionggo, 2014 Proses Penciptaan Desain Poster Dengan Tema Bandung Heritage

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB III METODE PENCIPTAAN KARYA. Karya cerita bergambar Bintang Jatuh ini dibuat melalui tahapan-tahapan

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III PROSES PENCIPTAAN KARYA. memberikan ingatan segar kembali akan pengalaman-pengalaman kita dimasa

B. Kontemplasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2013, hlm. 728) kontemplasi

BAB I PENDAHULUAN. Seni atau art berasal dari kata dalam bahasa latin yaitu ars, yang memiliki arti

BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN KARYA

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN

PRAKARYA. by F. Denie Wahana

BAB III METODOLOGI PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. Kriya merupakan suatu proses dalam berkesenian dengan berkegiatan

gambar, lukisan, tabel, atau foto yang dimanfaatkan untuk memberikan penjelasan atas suatu media komunikasi visual

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sangat cepat. Begitu pula dengan gaya hidup masyarakat yang juga

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia seperti wayang, batik, keris, angklung, reog. Wayang adalah salah satu

III. PROSES PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah karya seni tidak terlepas dari pembuatnya, yaitu lebih dikenal dengan

SENI RUPA 2 DIMENSI DAN 3 DIMENSI


III. METODE PENCIPTAAN TOPENG SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA. A. Implementasi Teoritis

BAB III METODOLOGI PEMBUATAN PATUNG KAYU

BAB I PENDAHULUAN. Jika kita berbicara tentang peradaban manusia, tidaklah akan lepas dari persoalan seni dan

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Penulis akan merancang sebuah metode multimedia interaktif untuk dijadikan

BAB III METODE PENCIPTAAN. Batik Lukis (Batik Tulis) diajukan konsep berkarya. Pada dasarnya, manusia baik

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN IDE. Kajian Sumber Pustaka (Buku Dwi Tunggal Pendiri Darma Ayu Nagari) Studi Sketsa. Proses Berkarya.

2014 SENI FOTOGRAFI BODY PAINTING DENGAN TEKNIK PENCAHAYAAN ULTRAVIOLET

BAB III PROSES BERKREASI BATIK GEOMETRIS. Banyak teknik yang digunakan para seniman untuk menunjang pembuatan

BAB III PROSES PEMBENTUKAN

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Elwin Adlian Raharja, 2015

BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. Batik buatan Indonesia sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Artis

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN

2015 ABSTRAK SUPREMATISME SEBAGAI GAGASAN BERKARYA SENI PATUNG DENGAN MEDIA KAYU

ANUGRAH HASRULLANA, 2015 MARI BERKETERAMPILAN CERITA BERGAMBAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK ANAK USIA DINI

A. LATAR BELAKANG PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki keanekaragaman

BAB IV HASIL KERJA PRAKTIK

2016 KULINER TRADISIONAL SUNDA DALAM KARYA SENI GRAFIS

2015 PENCIPTAAN KARAKTER SUPERHERO SEBAGAI SUMBER GAGASAN BERKARYA SENI LUKIS

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

KOMSEP KARYA SENI. Oleh: Zulfi Hendri, S.Pd NIP:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ><

Transkripsi:

41 BAB III METODE PENCIPTAAN Hari ini perkembangan pengetahuan dan pemikiran umat manusia dipengaruhi oleh teknologi yang mampu mempengaruhi semua aspek, terutama terhadap perkembangan seni rupa saat ini. Era kontemporer sekarang semua orang mempunyai kebebasan dalam berkarya, baik dalam teknis, media, dan konsep. Maka dari itu penulis mencoba untuk bereksplorasi terhadap media yang digunakan dalam pembuatan karya seni. Kinetik merupakan satu media baru dalam bidang seni, yang menggabungkan antara bentuk tiga dimensi dan prinsip mekanika. Bentuk seni rupa itu menggunakan dasar patung yang merupakan rakitan dari bahan kayu, akrilik, dan logam yang kemudian diberi mesin untuk menggerakkan bagian tertentu, sesuai dengan konsep penulis. Sementara itu, Situ Bagendit merupakan objek wisata yang bertempat di Banyuresmi-Garut, yang mempunyai pemandangan alam dan konon dulunya ada cerita atau mitosnya. Setelah melalui tahapan pencarian ide dari karya dan objek wisata Situ Bagendit, penulis membuat karya penciptaan seni kinetik dan pandangan penulis terhadap Mitos Situ Bagendit. A. Ide berkarya Rasa ingin tahu dan peduli terhadap budaya Indonesia yang dewasa kini mulai surut, mengangkat tema kinetik dan mitos yang dahulu pernah terjadi hingga sampai sekarang jejak serta artefaknya ada. Selain untuk mengingatkan kembali tentang warisan nenek moyang juga sebagai pelestarian budaya. Kinetik merupakan budaya Indonesia yang bentuk pengaplikasiannya begitu sederhana, bisa dilihat dari relief Candi Borobudur dan wayang. Selain itu kedekatan penulis terhada mainan-mainan seperti gangsing, mobil-mobilan, dan robot-robotan. Begitu pula mitos Situ Bagendit adalah sebuah budaya turun temurun yang disampaikan melalui cerita, yang budaya bercerita tentang mitos

42 ataupun sejenisnya itu jarang sekali dilakukan saat ini. Kilas balik pada masa kecil penulis, sangat ditunggu sekali ketika waktunya tidur. Karena pada saat itu selalu diceritakan tentang mitos Situ Bagendit dan cerita-cerita lainya seperti fabel dan dongeng. Penggabungan antara mitos Situ Bagendit dan ketertarikan penulis terhadap mainan, muncul ide dalam pembuatan seni kinetik yang objek karyanya tentang pandangan penulis terhadap mitos tersebut. Selain untuk mengeksplorasi seni kinetik yang saat ini menjadi karya populer dalam kesenirupaan Indonesia dan dunia. Dalam pembuatan skripsi penciptaan ini, penulis mengaplikasikan pandangan penulis terhadap mitos Situ Bagendit menggunakan media kinetik dan karya yang dibuat berjumlah tiga karya. B. Kontemplasi dan Incubation (Tahap Pengeraman) Kotemplasi merupakan perenungan dan pemikiran yang sering dilakukan seniman ketika berkarya, namun terjadi secara sadar dan tidak sadar. Ketika berkarya pemikiran dan perelaksasian sangat penting dilakukan, supaya menghasilkan karya yang sesuai dengan yang dipikirkan pada tahap ide berkarya. Biasanya pada tahap kontemplasi mendapatkan inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologisnya yang muncul, karena imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas yang ada. Incubation (tahap pengeraman) ialah tahap paling kontroversial karena justru pada tahap inilah bagian bawah sadar/prasadar mengambil alih, dan memecahkan persoalan. dibawah sadar/prasadar ini data-data, informasi, dan pengalaman yang tersimpan saling terkait, tersimulasi menuju suatu pemecahan. Data-data, informasi dan pengalaman adalah bentuk, bunyi, warna, tekstur, sifat yang diperoleh dalam keseharian. Baik secara sadar maupun tak sadar. Toleransi yang melepas batas-batas pemikiran juga semakin memperkaya alternative pemikiran. Karena yang bekerja adalah bawah-sadar/prasadar, tahap ini justru terjadi ketika sipencipta tidak sedang memikirkan karyanya, atau sedang mengerjakan hal lain (Damajanti, 2006, hlm.68). Kontemplasi yang dilakukan penulis adalah hal-hal tentang keseharian, seperti halnya dalam melakukan aktivitas, berolah raga, mendengarkan musik,

43 tidur dan kegiatan lainya atau bahkan ketika mengerjakan karya. Hal ini rutin dilakukan penulis untuk mengetahui mendalami ide untuk dapat memilih objek apa saja yang akan dihadirkan pada karya seni kinetik yang penulis akan buat. Tokoh-tokoh yang ada dalam mitos Situ Bagendit dan tempat serta objek yang ada dalam suasana cerita tersebut. Penulis juga melakukan perenungan ide dengan memikirkan subjek utama (subject matter) yang dipilih untuk disesuaikan teknik dan gaya yang akan digunakan karya seni kinetik. C. Stimulasi berkarya Stimulasi merupakan dorongan dalam berkarya yang bersifat psikologis. Tahap ini adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk merangsang kemampuan indra estetika seniman dan mendorong kreativitas dan inovasi. Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi stimulasi berkarya, yaitu: 1. Faktor pengalaman dalam diri (Internal) Faktor pengalaman diri memiliki pengaruh yang cukup besar dalam berkarya seni bagi penulis ketika menciptakan karya, lebih dari itu penulis perlu penguatan karakter berkarya dalam pengeksplorasian media. Faktor stimulasi ini dapat mendorong kepada penulis untuk berkarya menciptakan sebuah karya baru yang sebelumnya sudah dipikirkan melalui sebuah kontemplasi, yang imajinasinya melalui sebuah pengujian realitas sesuai dengan kemampuan diri. Kemudian stimulus penulis untuk mengeksplorasi media baru, mengeksplorasi media tersebut tidak lepas dari pemahaman dan pengalaman penulis terhadap hal yang baru. 2. Faktor pengalam dari luar atau lingkungan (eksternal) Faktor ini merupakan antonim dari faktor pengalaman diri (internal). Faktor ini mempengaruhi penulis dalam memilih ide dalam bentuk motivasi sosial (dari lingkungan masyarakat). Seperti halnya penulis mengidolakan seniman dan selalu ingin mencoba karya yang dibuat seniman tersebut. Namun perbedaannya dalam wacana yang diangkat dan visual, serta pengolahan media yang dalam seni kinetik.

44 D. Pengolahan Ide Pengolahan ide merupakan proses penguatan konsep dan gagasan yang telah melalui berbagai tahap pertimbangan dan perenungan berdasarkan dari kemampuan yang dimiliki penulis. Kemudian melihat referensi yang didapat seperti buku, katalog, apresiasi terhadap karya dalam pameran, majalah dan internet untuk menetapkan rancangan gambar karya yang akan dibuat. Selanjutnya proses pembuatan karya ini dimulai dengan sketsa pada kertas. Pra ide Eksternal: melihat, mengamati Ide/ gagasan Internal: memori, kenangan, pengalaman Studi pustaka Kontemplasi (Perenungan) Pengamatan Sketsa objek Stimulasi (Perangsang) Observasi Penelitian media: Teknik, eksplorasi Berkarya seni kinetik Teori seni Karya seni kinetik Penyajian karya Apresiator Diagram 3.1 Kosep berkarya Seni Kinetik () Pengolahan ide merupakan proses penguatan konsep dan gagasan yang telah melalui berbagai tahap pertimbangan dan perenungan berdasarkan dari

45 kemampuan yang dimiliki penulis. Kemudian melihat referensi yang didapat seperti buku, katalog, apresiasi terhadap karya dalam pameran, majalah dan internet untuk menetapkan rancangan gambar karya yang akan dibuat. Selanjutnya proses pembuatan karya ini dimulai dengan sketsa pada kertas. Pengolahan ide yang sering dilakukan penulis adalah berapresiasi terhadap pameran dan bertanya kepada ahli teknisi mesin, bertujuan untuk mempermudah dalam pengerjaan karya seni yang akan penulis buat. Agar apa yang divisualkan seperti penulis harapkan dan tujuan konsep atau pesan tersampaikan. Berdasarkan observasi dan gagasan yang telah didapatkan oleh penulis, tema yang diangkat dalam penulisan skripsi penciptaan ini yaitu mitos Situ Bagendit dengan bentuk karya seni kinetik. Penulis sudah memikirkan gagasan di atas dengan menggunakan karya seni kinetik, untuk memvisualisasikan pandangan penulis terhadap nilai tradisi kinetik dan mitos Situ Bagendit. Namun, kinetik yang digunakan penulis bersifat modern yaitu dengan menggunakan daya dinamo dan listrik. Observasi yang dilakukan penulis yaitu dengan metode wawancara terhadap narasumber yang bersangkutan dan kajian pustaka. Objek yang divisualkan adalah tokoh dari mitos Situ Bagendit dan suasana pemandangan di daerah kawasan wisata tersebut. Objek-objek yang divisualkan ada dua pembuatan yaitu dengan cara manual. Selain itu, pemahaman penulis terhadap visual dan konsep karya terdapat kolerasi yang sesuai dengan pesan yang disampaikan. Sehingga apresiator paham terhadap karya yang penulis buat, meskipun bahwa karya seni itu absurd tidak semua orang paham terhadap pesan serta kkonsep yang disampaikan oleh seniman. E. Alat dan Bahan Dalam proses pembuatan karya diperlukan beberapa persiapan alat dan bahan, alat dan bahan yang digunakan oleh penulis dalam pembuatan karya seni kinetik adalah sebagai berikut:

46 1. Alat gambar Alat gambar digunakan untuk membuat sketsa karya yang akan dibuat. Selain itu juga untuk mempermudah kita dalam pembuatan karya seni. 2. Cover Televisi Gambar 3.4 Alat Tulis dan Kertas Gambar (Sumber : Dokumentasi Pribadi 2014) Kotak TV ini selain untuk finishing karya juga bagian dari karya yang kedua. Gambar 3.5 Kotak TV (Sumber : Dokumentasi Pribadi 2014)

47 3. Dinamo Dinamo digunakan untuk menggerakan bagian-bagian karya. 4. Cat Grafis Gambar 3.6 Perangkat Komputer (Sumber : Dokumentasi Pribadi 2014) Cat grafis digunakan untuk memberi warna pada karya yang akan dibuat. Gambar 3.7 Cat Grafis (Sumber : Dokumentasi Pribadi 2014)

48 5. Cukil Cukil digunakan penuis untuk menorek karet lino yang dijadikan karya seni kinetik. 6. Karet Lino Gambar 3.8 Cukil Garfis (Sumber : Dokumentasi Pribadi 2014) Karet Lino merupakan bahan yang dijadikan penulis untuk objek karya seni seni kinetik Gambar 3.9 Karet Lino (Sumber : Dokumentasi Pribadi 2014)

49 7. Bor bor. Memberi tanda atau lubang pada karya skripsi penciptaan ini menggunakan 8. Kawat Gambar 3.9 Bor Sumber : bortanganpd.com Kawat digunakan penulis pada bagian karya pertama penulis dalam penyususnan mesin. Gambar 3.10 Kawat ()

50 9. Lem Besi Pada bagian-bagian karya skripsi penciptaan, penulis menggunakan lem besi untuk memperkuat engsel pada bagian karya. 10. Solder Gambar 3.11 Lem Besi () Bagian-bagian elektronikal, penulis menggunakan solder dalam pengganbungan kabe dengan mesin. Gambar 3.12 Solder

51 11. Kayu Pinus Sebagai latar untuk karya yang kedua dan ketiga, selain itu juga untuk proses finishingnya. Gambar 3.13 Kayu Pinus 12. Rol Grafis warna. Untuk meratakan cat grafis, juga untuk mewarnai karet lino yang akan diberi Gambar 3.14 Rol Grafis

52 13. Pisau Palet Untuk meratakan cat grafis.yang diinginkan. Gambar 3.15 pisau palet 14. Baud Sebagai tumpuan untuk bagian karya yang kurang kuat, atau juga untuk menyatukan bagian-bagian dari karya. Gambar 3.6 Kawat ntasi Pribadi Gambar 3.16 Baud

53 F. Proses Pembuatan Karya Dalam proses pembuatan skripsi penciptaan, penulis melakukan beberapa tahapan dalam pembuatan karya, yaitu: 1. Observasi tentang mitos Situ Bagendit Observasi dilakukan dengan bertanya kepada orang tua penulis, karena beliau bertempat tinggal di Banyuresmi, kemudian untuk mengetahui tentang lebih bagian tiket dan mewawancarai beliau. 2. Studi karya seni kinetik dan komponen kinetik Mencari referensi tentang seni kinetik, baik di katalog ataupun pameran seni rupa. Karena minimnya buku dan yang ada hanya e-book, maka penulis mencari katalog-katalog yang bertemakan pameran seni kinetik. Kemudian penulis juga mempelajari sistem kerja dasar dari gerak kinetik dan struktur dari bagian-bagian elektronik yang menggerakan, sehingga terjadi gerakan kinetik. Gambar 3. 18 Penulis Bersama Karya Kinetik Heri Dono di Art Jog 14 (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

54 Gambar 3.19 contoh kinetik (Sumber : kiri timezonewatchschool.com, kanan 3.bp.com/) 3. Pembuatan Sketsa Pengakajian terhadap ide gagasan dengan membuat sketsa dan rancangan kerja, sebagai tahapan-tahapan dalam pengolahan ide berkarya dilakukan penulis untuk karya seni kinetik. Gambar 3.20 Sketsa Karya 1 ()

55 Gambar 3.21 Sketsa Karya 2 Gambar 3.22 Sketsa Karya 3

56 4. Proses pencarian dan pemilihan bahan Pencarian bahan dalam pembuatan karya seni kinetik merupakan hal yang cukup rumit, penulis mencari dan memilih bahan untuk pembuatan seni kinetik. 5. Proses pembuatan karya seni kinetik Pembuatan karya kinetik yaitu dengan teknik campuran (mixed technicques). Ada beberapa macam yang dilakukan, yaitu cukil, lukis, printing, kolase dan kontruksi listrik. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: a) Teknik Lukis Kaca Melihat dari karya yang dibuat terdapat gambar ombak bagian bawah layar TV, itu merupakan hasil dari lukis pada bagian belakan kaca layar TV.

57 Gambar 3.23 Penggambaran Lukis Kaca TV b) Teknik digital printing Pada bagian latar belakang terdapat gambar-gambar pemandangan Situ Bagendit, dihasilkan dari proses editing foto kemudian menggunakan komputer dengan software Photoshop dan Corel Draw X4 untuk membuat siluet. c) Teknik stensil Tokoh yang dibuat menggunakan teknik stensil pada bahan seng. d) Teknik cukil Pada karya yang ke-2 dan ke-3 menggunakan teknik cukil, dengan bagian-bagian tertentu yang ditoreh. Gambar 3.24 Proses Pencukilan Karet Lino

58 e) Teknik perakitan mesin dan elektronik Gerak latar belakang, tokoh dan kelap-kelip lampu yang ada dalam TV box tersebut merupakan hasil dari system operasional mekanika dan elektronika. Gambar 3.25 contoh kinetik 6. Pengemasan/finishing Pengemasan karya merupakan langkah terakhir dalam mengeksekusi sebuah karya seni, dalam pengemasan karya seni penulis mempunyai dua tipe dalam pengemasan. Pertama, penulis mengerjakan karya seni dengan cover TV yang dijadikan sebuah karya, sekaligus menjadi pengemasan karyanya. Kedua, penulis memasangankan frame pada karya yang kedua dan ketiga maka dari itu pengerjaannya dirasakan sudah selesai.

59