RANGKUMAN HASIL KONFERENSI

dokumen-dokumen yang mirip
Model Pengembangan Ekonomi Kerakyatan

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

BAB 4 STRATEGI SEKTOR SANITASI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan menghambat tercapainya demokrasi, keadilan dan persatuan.

Keynote Speech STRATEGI INDONESIA MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN, INKLUSIF, DAN BERKEADILAN

STRATEGI PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PNPM

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

BANGKITNYA INDONESIA. Prioritas Kebijakan untuk Tahun 2010 dan Selanjutnya

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala BAPPENAS

BAB I PENDAHULUAN. Sumarto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 1-2

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 185 TAHUN 2014 TENTANG PERCEPATAN PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAPPEDA KAB. LAMONGAN

SAMBUTAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMASI REPUBLIK INDONESIA

PELAYANAN INFORMASI PUBLIK

Jakarta, 10 Maret 2011

BAB II SISTEM PEMERINTAH DAERAH & PENGUKURAN KINERJA. Daerah. Reformasi tersebut direalisasikan dengan ditetapkannya Undang

Mata Kuliah Kewarganegaraan OTONOMI DAERAH. Modul ke: Panti Rahayu, SH, MH. Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi MANAJEMEN.

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012

KEBIJAKAN DAN RENCANA PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN TAHUN Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

penduduknya bekerja sebagai petani dan tingkat pendidikan relatif rendah, dengan

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB IV STRATEGI UNTUK KEBERLANJUTAN LAYANAN SANITASI KOTA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

Kata Pengantar BAB 4 P E N U T U P. Laporan Kinerja Pemerintah Provinsi

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan UU. No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa

B. Maksud dan Tujuan Maksud

Pendahuluan. Latar Belakang

TERWUJUDNYAMASYARAKAT KABUPATEN PASAMAN YANGMAJU DAN BERKEADILAN

LAMPIRAN PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 2-H TAHUN 2013 TENTANG STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KOTA SURAKARTA BAB I PENDAHULUAN

A. KESIMPULAN Laporan Kinerja ini menggambarkan penekanan pada Manajemen. pembangunan berbasis kinerja dan perbaikan pelayanan publik, dimana

KEBIJAKAN PENDANAAN KEUANGAN DAERAH Oleh: Ahmad Muam

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN

11 Program Prioritas KIB II

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI

2018, No Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038); 2. Peraturan Pemerintah Republik Indo

BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

AIDS dan Sistem Kesehatan: Sebuah Kajian Kebijakan PKMK FK UGM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA,

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT PERLUASAN DAN PENGELOLAAN LAHAN TA. 2014

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

KOTA SURAKARTA PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA (PPAS) TAHUN ANGGARAN 2016 BAB I PENDAHULUAN

LAYANAN UTAMA DAN LAYANAN PENDUKUNG. Untuk Rancangan Lampiran RPP-PUPK

PEREKONOMIAN INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN

GERAKAN NASIONAL PENYELAMATAN SUMBER DAYA ALAM INDONESIA SEKTOR KELAUTAN ARAHAN UMUM MKP

2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun

PENINGKATAN TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS APARATUR DALAM KERANGKA REFORMASI BIROKRASI

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM

BAB VIII KELEMBAGAAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

KOORDINASI PEMBANGUNAN PERKOTAAN DALAM USDRP

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

Good Governance. Etika Bisnis

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR IRIGASI TA. 2014

WALIKOTA PAREPARE PERATURAN WALIKOTA PAREPARE NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS ORGANISASI KECAMATAN

BAB VI PEMANTAUAN DAN EVALUASI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BAPPEDA

PENINGKATAN KINERJA MELALUI ANGGARAN BERBASIS KINERJA PADA SEKSI ANGGARAN DINAS PENDAPATAN DAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN BINTAN

MENGEMBANGKAN DEMOKRATISASI DESA. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

PEMUTAKHIRAN SSK LAMPUNG TIMUR Tahun 2016

Modul ke: OTONOMI DAERAH. 12Teknik. Fakultas. Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi MKCU

REPUBLIK INDONESIA KANTOR MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

VIII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 2 Tahun : 2015

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia telah memasuki masa pemulihan akibat krisis ekonomi yang

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

EVALUASI AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH. Deputi Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dewasa ini semakin meningkat tuntutan masyarakat kepada pemerintah

BAB 1 PENDAHULUAN. upaya-upaya secara maksimal untuk menciptakan rerangka kebijakan yang

Transkripsi:

RANGKUMAN HASIL KONFERENSI Memberikan Pelayanan Terbaik Bagi Masyarakat Miskin: Isu Strategis dan Rekomendasi Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas Jakarta, 28 April 2005 KONFERENSI NASIONAL PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PENCAPAIAN TUJUAN MILENUM

OUTLINE Prasyarat Keberhasilan Penanggulangan Kemiskinan Isu Strategis dan Rekomendasi Perbaikan Pelayanan Kesehatan Isu Strategis dan Rekomendasi Perbaikan Pelayanan Pendidikan Isu Strategis dan Rekomendasi Perbaikan Pelayanan Air Bersih dan Sanitasi Cross-Cutting Issues: Partisipasi Masyarakat Sipil Targeting Pro-poor Budegting Transparansi dan Akuntabilitas Kelembagaan Reformasi Pengawai Negeri Sipil

Prasyarat Keberhasilan Penanggulangan Kemiskinan Good policy, proses partisipatif dengan mendengarkan suara si miskin, dan inklusif dengan melibatkan stakeholders. Komitmen penganggaran jangka menengah yang pasti. Dukungan kelembagaan yang kredibel dan kapabel. Mekanisme pengendalian dan pengawasan (safeguarding) yang solid. Monitoring dan evaluasi yang terbuka, dengan indikator kinerja yang jelas dan terukur, serta Tindak lanjut (enforcement) yang nyata terhadap hasil monitoring dan evaluasi.

Isu Strategis: Pelayanan Kesehatan 1. Upaya promosi dan preventif kesehatan tidak sebanding dengan upaya kuratif/infrastruktur. 2. Biaya puskesmas telah murah dan tidak masalah bagi orang miskin, tetapi tingkat aksesibilitasnya masih rendah. 1) Jarak yg jauh biaya transport yang mahal 2) Ketidakhadiran paramedis (absenteism) 3. Anggaran sering dipakai tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. 4. Inovasi dari proyek sering tidak berkelanjutan, karena masalah anggaran. 5. Belum ada pembagian tugas yang jelas antara pusat dan daerah Cross-cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Rekomendasi untuk Perbaikan Pelayanan Kesehatan 1. Pengambilan keputusan anggaran pada penyedia layanan (puskemas) agar sesuai kebutuhan lokal. 2. Keberlanjutan pembiayaan kesehatan (less project driven). 3. Pembenahan sistem pelayanan kesehatan dengan penekanan pada promosi dan preventif dan outreaching. 4. Menjajaki manfaat dari mekanisme alternatif pelayanan: sistem kupon dan kontrak melalui LSM atau lainnya. 5. Pemantapan Sistem Asuransi Kesehatan. 6. Pemberdayaan paramedis (dokter dan bidan desa) terutama di daerah tertinggal. 7. Penggunaan penerimaan pajak tembakau bagi pembiayaan pelayanan kesehatan untuk orang miskin. Cross-cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Isu Strategis: Pelayanan Pendidikan 1. Meningkatkan partisipasi anak usia sekolah, khususnya anak dari keluarga miskin dan daerah terpencil. 2. Peningkatan kualitas pendidikan. 3. Mengubah cara pandang pendidikan sebagai kewajiban menjadi kebutuhan. Cross-cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Rekomendasi untuk Perbaikan Pelayanan Pendidikan 1. Untuk meningkatkan Angka Partisipasi: 1) Pemberian insentif bagi sekolah untuk menjangkau anak dari keluarga miskin. 2) Penentuan target beasiswa dilakukan di tingkat sekolah dengan partisipasi komunitas lokal. 2. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan: 1) Pemberian promosi tenaga pendidik sesuai kemampuan. 2) Penguatan kapasitas komite sekolah dalam pengawasan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). 3) Pemberian dana (block grant) langsung kepada sekolah. Cross-cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Isu Strategis: Pelayanan Air Minum dan Sanitasi 1. Air minum dan sanitasi merupakan hak dasar sehingga negara harus menjamin dan melindungi keberlanjutan akses masyarakat. 2. Penurunan kuantitas dan kualitas air baku untuk air minum karena kerusakan catchment area dan pencemaran sumber air. 3. Masyarakat miskin belum mendapatkan akses yang memadai sehingga masyarakat miskin membayar lebih mahal. 4. Masyarakat perdesaan memiliki kearifan lokal yang positif sehingga perlu diberi kepercayaan dalam berpartisipasi dalam penyediaan air minum dan sanitasi. 5. PDAM sebagai penyedia (provider) berkinerja rendah dan dililit utang jangka panjang sehingga sulit mengembangkan pelayanan bagi masyarakat miskin. 6. Perlu penanganan terpadu lintas sektor, lintas instansi dan lintas wilayah administratif. Cross-cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Rekomendasi untuk Perbaikan Pelayanan Air Bersih dan Sanitasi Penanganan air minum dan sanitasi harus dilakukan terpadu dari tingkat pusat sampai daerah. Perlu tindakan mendesak untuk konservasi sumber-sumber air baku. Perlu langkah baru untuk pemerataan pelayanan, terutama mengurangi beban pembiayaan oleh masyarakat miskin. Revitalisasi PDAM agar berperan lebih aktif dalam pelayanan publik dibanding sebagai sumber PAD. Mendorong pengelolaan air minum dan sanitasi berbasis partisipasi masyarakat. Perlu lembaga koordinasi pengelolan sumber daya air antar instansi dan wilayah sesuai UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Perlu rasionalisasi pembiayaan penyediaan air minum dan sanitasi dengan fokus masyarakat miskin. Cross-cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Cross-Cutting Issues 1. Partisipasi Masyarakat Sipil 2. Targeting 3. Pro-Poor Budgeting 4. Transparansi dan Akuntabilitas 5. Kelembagaan 6. Reformasi Pegawai Negari Sipil Cross Cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Cross-Cutting Issues 1: Partisipasi Masyarakat Sipil Perluasan ruang partisipasi publik bagi masyarakat sipil (civil society) Partisipasi organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, organisasi keagamaan, organisasi profesi, perguruan tinggi dan lembaga peneiltiian dan kajian Contoh: Proyek CLCC untuk meningkatkan efektivitas pelayanan pendidikan melalui keterlibatan langsung masyarakat di Polewali Mandar, Sulawesi Selatan Pengembangan alternatif pelayanan dan penyaluran sumberdaya dengan menekankan kebutuhan masyarakat- Kasus: Pemberian Voucher bagi Ibu rumahtangga di Kabupaten Pemalang, Jawa Timur Cross Cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Cross-Cutting Issues 2: Targeting Data dan informasi yang akurat, andal dan tersedia tepat waktu merupakan faktor penting bagi penentuan kelompok sasaran (targeting) Peningkatan koordinasi antarlembaga penyedia data. Pengembangan sistem pengelolaan data dan informasi sebagai dasar monitoring dan evaluasi Pengembangan standar pelayanan minimum dengan menggunakan data dan informasi yang relevan di tingkat kabupaten/kota Masyarakat perlu diikutsertakan dalam penentuan targeting. Masyarakat lebih memahami kondisi lingkungannya dan tahu kriteria miskin yang lebih tepat untuk daerahnya. Perlu dipersiapkan satu design targeting yang bisa digunakan untuk berbagai macam program Cross Cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Cross-Cutting Issues 3: Pro-Poor Budgeting Pengelolaan anggaran yang berpihak pada masyarakat miskin (pro-poor budgeting) Komitmen Depkeu, Pemda dan DPR/DPRD propinsi dan kab/kota dalam pengalokasian anggaran bagi pelayanan dasar kepada orang miskin. Koordinasi, integrasi, sinergi yang kuat antara Kementerian/Lembaga dan pemerintah daerah dalam pengelolaan dana dekonsentrasi, DAU dan DAK. Anggaran dikelola langsung oleh penyedia layanan Pemberian block grant bagi masyarakat-kasus: Pembiayaan pendidikan di Jawa Barat. Penambahan anggaran diikuti dengan tanggungjawab-contoh: PDAM Jember peningkatan akses air bersih untuk masyarakat miskin Cross Cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Cross-Cutting Issues 4: Transparansi dan Akuntabilitas Transparansi dalam pengelolaan anggaran akan meningkatkan akuntabilitas, dan mendorong perbaikan pelayanan publik Keterbukaan informasi akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik-contoh: Penyediaan Air Bersih oleh masyarakat melalui WSLIC2 di Lumajang, Jawa Timur Keterbukaan dalam pengelolaan anggaran akan mengurangi korupsi dan meningkatkan pelayanan publik- Contoh: BIGS Peningkatan Kinerja dan Akuntabilitas melalui Kartu Pengaduan Masyarakat dan Transparansi Anggaran di Kota Bandung, Jawa Barat Cross Cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Cross-Cutting Issues 5: Kelembagaan Penataan kembali sistem dan mekanisme kelembagaan penanggulangan kemiskinan Pembagian kewenangan yang jelas antara Kementerian/Lembaga dan pemerintah daerah Komitmen yang kuat dan keberpihakan yang sungguhsungguh dari pimpinan daerah. Revitalisasi Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) dan Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) agar menjadi badan yang otonom, kredibel dan kapabel dalam mengatasi masalah kemiskinan Cross Cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

Cross-Cutting Issues 6: Reformasi Pegawai Negeri Sipil Reformasi birokrasi harus fokus pada penghargaan pegawai negeri sipil berdasarkan kinerja, dan peningkatan pelayanan publik Sistem penghargaan berdasarkan prestasi dalam perekrutan dan promosi. Reformasi pegawai negeri sipil sulit dilakukan dari dalam, sehingga perlu tekanan dari luar (masyarkat, LSM, politikus, dll) Mempercepat pelaksanaan sistem kontrak jabatan antara pegawai negeri dengan publik. Cross Cutting Issues Isu Strategis Rekomendasi

PERTANYAAN UNTUK PANEL MENTERI 1. Dengan keterbatasan anggaran dan kelembagaan, apa langkah nyata dan langkah terobosan (reformasi) yang bisa dilakukan untuk memperbaiki pelayanan bagi masyarakat miskin? 2. Bagaimana kerjasama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, masyarakat sipil (civil society) dan swasta dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan pelayanan di daerah? 3. Bagaimana koordinasi antara Kementerian/ Lembaga dalam mengatasi berbagai kendala dalam pelayanan bagi masyarakat miskin?