III. TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
TINJAUAN PUSTAKA. dalam kelas Liliopsida yang merupakan salah satu tumbuhan berbunga lidah dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi Tanaman Anggrek Vanda tricolor Lindl. var. suavis

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman panili termasuk famili Orchidaceae, yang terdiri dari 700 genus

BAB I PENDAHULUAN. mudah diperbanyak dan jangka waktu berbuah lebih panjang. Sedangkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Jati Emas (Cordia subcordata) kultur in vitro dengan induk tanaman pada mulanya berasal dari Myanmar.

TINJAUAN PUSTAKA Kultur Jaringan Tanaman Eksplan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 2011). Alfalfa termasuk tanaman kelompok leguminose yang berkhasiat

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. berbagai macam tanaman hias. Pengembangan komoditi tanaman hias dilakukan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama botani yaitu Glycine soja

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum) Anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum) merupakan anggrek yang

TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan krisan dalam sistematika tumbuhan (Holmes,1983)

I. PENDAHULUAN. sebutan lain seruni atau bunga emas (Golden Flower) yang berasal dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stevia (Stevia rebaudiana) merupakan salah satu jenis tanaman obat di

BAB I PENDAHULUAN. dan lain-lain. Selain itu, kencur juga dapat digunakan sebagai salah satu bumbu

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Tanaman karet merupakan komoditi perkebunan yang penting dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) tergolong dalam famili Graminae yaitu

BAB I PENDAHULUAN. dan siklamat semakin meningkat. Hal ini nampak pada industri makanan, meningkatkan gizi makanan, dan memperpanjang umur simpan.

BAB I PENDAHULUAN. biji. Setiap bagian tumbuhan akar, batang, daun dan biji memiliki senyawa

TINJAUAN PUSTAKA. Kenaf (Hibiscus cannabinus L.)

HASIL DAN PEMBAHASAN. eksplan hidup, persentase eksplan browning, persentase eksplan kontaminasi,

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. hidup, terkontaminasi dan eksplan Browning. Gejala kontaminasi yang timbul

Kultur Jaringan Menjadi Teknologi yang Potensial untuk Perbanyakan Vegetatif Tanaman Jambu Mete Di Masa Mendatang

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan di Indonesia merupakan sumber plasma nutfah yang sangat potensial

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Murashige-Skoog dengan penambahan zat pengatur tumbuh 2,4-D dan

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Pisang

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Fabaceae. Kedudukan tanaman kacang hijau dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan

TINJAUAN PUSTAKA. Suhadirman (1997) menyebutkan bahwa Musa acuminata ini berdasarkan. klasifikasi tumbuhan ini sebagai berikut : Kingdom : Plantae;

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Tanah Gambut. memungkinkan terjadinya proses pelapukan bahan organik secara sempurna

PENDAHULUAN. stroberi modern (komersial) dengan nama ilmiah Frageria x ananasa var

BAB I PENDAHULUAN. ada sekitar jenis anggrek spesies tersebar di hutan-hutan Indonesia

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

RESPONS PERTUMBUHAN TANAMAN ANGGREK (Dendrobium sp.) TERHADAP PEMBERIAN BAP DAN NAA SECARA IN VITRO

I. PENDAHULUAN. Tanaman anggrek termasuk familia Orchidaceae terdiri atas

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

I. PENDAHULUAN. lalapan karena memiliki cita rasa yang khas. Daun muda pohpohan memiliki

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat

TINJAUAN PUSTAKA. Mansur (2006) menyebutkan bahwa Nepenthes ini berbeda dengan

I. PENDAHULUAN. Ekosistemnya dalam pasal 20 ayat 1 dan 2 serta Peraturan Pemerintah No. 77

INTERAKSI SAMBILOTO (Andrographis paniculata)

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Anggrek termasuk dalam famili Orchidaceae. Orchidaceae merupakan famili

SHORT CUT PENANAMAN EKSPLAN DAUN STEVIA PADA MEDIUM NEW PHALEONOPSIS

TINJAUAN PUSTAKA Botani Melon

TINJAUAN PUSTAKA. Ubi kayu merupakan tanaman perdu yang berasal dari Benua Amerika,

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. dataran tinggi, termasuk puncak gunung yang bersalju (Sugeng, 1985)

LAPORAN PRAKTIKUM I KUNCI DETERMINASI KELAS DICOTYLEDONAE

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pisang adalah tanaman herba yang berasal dari kawasan Asia Tenggara

BAB I PENDAHULUAN. Tanaman perkebunan merupakan komoditas yang mempunyai nilai

BAB I PENDAHULUAN. sebagai salah satu alternatif pengobatan (Rochani, 2009). Selain harganya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan kacang tanah dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan jenis tanaman polong-polongan

HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk

TEKNOLOGI PERBANYAKAN BIBIT PISANG ABAKA DENGAN KULTUR JARINGAN DR IR WENNY TILAAR,MS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan

I. TINJAUAN PUSTAKA. Stroberi merupakan tanaman buah berupa herba yang ditemukan pertama kali di Chili,

BAB I PENDAHULUAN. anggrek yang mendominasi pasar adalah anggrek impor, yaitu Dendrobium dan

TINJAUAN PUSTAKA Botani, Penyebaran dan Manfaat Tanaman Jarak Pagar ( Jatropha curcas L.) Kultur Jaringan Tanaman

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. muda. Tanaman ini merupakan herba semusim dengan tinggi cm. Batang

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pisang Raja Bulu Kuning Kedudukan pisang dalam taksonomi tumbuhan menurut Suprapti (2005) adalah sebagai berikut: Kerajaan :

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang produknya digunakan sebagai bahan baku industri serta sangat penting

I. PENDAHULUAN. karena penampilan bunga anggrek yang sangat menarik baik dari segi warna maupun. oleh masyarakat dan relatif mudah dibudidayakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis

BAB II LANDASAN TEORI

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman

PRODUKTIFITAS DAN KADAR ANDROGRAPHOLID SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees) PADA NAUNGAN DAN PENAMBAHAN GIBERELIN B2P2TO2T

I. PENDAHULUAN. memberikan sensasi seperti terbakar (burning sensation) jika kontak dengan

RESPON PERTUMBUHAN MERISTEM KENTANG (Solanum tuberosuml) TERHADAP PENAMBAHAN NAA DAN EKSTRAK JAGUNG MUDA PADA MEDIUM MS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Bangun (2011) kencur (Kaempferia galanga.l.) merupakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGARUH KONSENTRASI NAA DAN KINETIN TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS PISANG (Musa paradisiaca L. cv. Raja Bulu ) SECARA IN VITRO

BAB I PENDAHULUAN. Purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) merupakan tumbuhan obat asli

GAHARU. Dr. Joko Prayitno MSc. Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

BAB I PENDAHULUAN. kondisi lingkungan tumbuh. Selain itu anggrek Dendrobium memiliki

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Anggrek

I. PENDAHULUAN. menggunakan satu eksplan yang ditanam pada medium tertentu dapat

KULTUR JARINGAN TANAMAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Umum Kultur Pada Kultivar Jerapah dan Sima

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman buah naga adalah sebagai berikut ; Divisi: Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo:

Transkripsi:

III. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata Nees.) Klasifikasi sambiloto adalah sebagai berikut: Phylum : Plantae Divisio : Magnoliophyta Sub Divisio : Angiospermae Class : Dicotyledoneae Subclass : Gamopetalae Ordo : Personales Famili : Acanthaceae Genus : Andrographis Spesies : Andrographis paniculata, Nees. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees.) banyak dijumpai hampir di seluruh kepulauan nusantara. Sambiloto dikenal dengan beberapa nama daerah, seperti ki oray atau ki peurat (Jawa Barat), bidara, takilo, sambiloto (Jawa Tengah dan Jawa Timur), atau pepaitan atau ampadu (Sumatera). Sambiloto tergolong tanaman terna (perdu) yang tumbuh di berbagai habitat, seperti pinggiran sawah, kebun, atau hutan. Sambiloto ialah herba semusim, tinggi ± 50 cm, batang berkayu berbentuk bulat dan segi empat, serta memiliki banyak cabang (monopodial) berwarna hijau. Daun tunggal bersilang berhadapan, berbentuk pedang (lanset) dengan tepi rata (integer) dan permukaannya halus, berwarna hijau. Bunganya berwarna putih keunguan, bunga berbentuk jorong (bulat panjang) dengan pangkal dan ujung lancip, terletak di ketiak daun dan ujung batang, kelopak lanset, berbagi lima, pangkal berlekatan, hijau, benangsari dua, bulat panjang, kepala sari bulat, ungu, putik pendek, kepala putik ungu kecoklatan, mahkota lonjong, pangkal berlekatan ujung pecah jadi empat, bagian dalam putih bernoda ungu, bagian luar berambut merah. Buah kotak, bulat panjang, ujung runcing, tengah beralur. Buah muda berwarna hijau setelah tua menjadi hitam, bila masak akan pecah membujur menjadi 4 keping. Biji kecil dan bulat, biji muda berwarna putih kotor setelah tua coklat, berakar tunggang, putih kecoklatan (Yusron et al., 2005). Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrographolid, andrographolid (zat pahit), neoandrographolid, 14-deoksi-11, 12-didehidroandrographolid dan homoandrographolid. Juga terdapat flavonoid, alkane, 5

keton, aldehid, dan mineral seperti kalium, klasium, natrium, dan asam kersik. Flavonoid diisolasi terbanyak dari akar seperti polimetoksiflavone, andrografin, panikolin, mono-o-metilwithtin, dan apigenin-7,4-dimetil eter. Zat aktif andrographolid terbukti mempunyai khasiat sebagai hepatoprotektor (melindungi sel hati) (Widowati, 2003). Menurut Verpoorte (2000) struktur beberapa senyawa kimia sambiloto yaitu terdiri dari :1). senyawa utama Andrographolide 2) senyawa Andrographoside, 3). senyawa Deoxyandrographolide, 4) senyawa Deoxyandrographoside, 4). neoandrogapholide, 5). dehydroandrograpolide, 6). Oxoandrograpolide. B. Kultur Jaringan Menurut Hendaryono dan Wijayani (1994), kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya. Sedangkan menurut Santoso dan Nursandi (2004) kultur jaringan didefinisikan sebagai tehnik budidaya sel, jaringan, dan organ tanaman dalam suatu lingkungan yang terkendali dan dalam keadaan aseptik atau bebas mikroorganisme. Pelaksanaan teknik kultur jaringan ini berdasarkan teori sel yang dikemukakan oleh Scleiden dan Schwan, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotensi adalah kemampuan setiap sel, dari mana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan pada lingkungan yang sesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna, namun pada umumnya sifat totipotensi lebih banyak dimiliki oleh bagian tanaman yang masih juvenil, muda dan pada daerah-daerah maristem tanaman. Kultur jaringan mempunyai tiga tujuan yaitu perbanyakan tanaman, produksi metabolik sekunder dan perbaikan kualitas tanaman. Produksi metabolik sekunder dapat dilakukan dengan kultur kalus dan kultur sel. Kultur kalus adalah metoda budidaya tanaman dalam suatu lingkungan untuk memperoleh kalus dari eksplan yang diisolasi dan ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali (Gunawan, 1987). Tanaman sambiloto dengan metabolit sekunder andrografolid melalui metoda kultur kalus diharapkan dapat ditemukan suatu prekursor dan zat pengatur tumbuh yang cocok sehingga dapat meningkatkan kandungan andrographolit. Keberhasilan kegiatan kultur jaringan sangat ditentukan oleh pilihan media yang digunakan, kebutuhan nutrisi kebanyakan tanaman secara umum memang sama, walaupun secara khusus bisa berbeda. Kesamaan kebutuhan tersebut adalah unsur hara 6

makro dan mikro, vitamin-vitamin, karbohidrat (gula), asam amino dan N-organik. Beberapa media yang digunakan dalam kultur jaringan antara lain, media Nitch and Nitsch, Murashige and Skoog, media B5, media WPM (Woody Plant medium). Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan (morfogenesis) kultur dan sintesis metabolit sekunder adalah komponen organik dan anorganik medium, zat pengatur tumbuh, cahaya dan temperatur. Medium yang sering digunakan untuk sebagian besar spesies tanaman dikotil maupun monokotil adalah medium Murashige dan Skoog (MS) (Dixon, 1985). George dan Sherington (1984) serta Suryowinoto (1996) menyebutkan bahwa medium MS memiliki unsur-unsur dan persenyawaan yang lebih lengkap dibandingkan dengan medium yang lain. Medium MS mempunyai keistimewaan yaitu memiliki kandungan mikronutrien yang tinggi. Beberapa penelitian membudidayakan kalus telah dilakukan untuk memperoleh atau meningkatkan metabolit sekunder tanaman berkhasiat obat seperti yang dilakukan oleh Sengupta dan Mitra (1989) pada peningkatan steroid Dioscorea floribunda, Gopi dan Vastala (2006) pada tanaman Gymnema sylvestre dan Mungole et al. (2009) pada tanaman obat Ipomoea obscura di India. Masalah yang sampai saat ini menjadi tantangan bagi para peneliti berkaitan dengan biosintesis metabolit sekunder tanaman melalui kultur jaringan adalah produk senyawa sekunder yang dihasilkan dari hasil kultur jaringan sering kali lebih rendah dibandingkan produk senyawa sekunder yang diekstrak dari tanaman alam. Hal ini terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhi produksi metabolit sekunder melalui kultur jaringan, seperti ekspresi sintesis senyawa metabolit sekunder, asal eksplan, kondisi kultur (media, jenis kultur, zat pengatur tumbuh, dan lingkungan kultur) (Santoso dan Nursandi, 2004) C. Kultur Kalus Kultur kalus tanaman adalah tehnik budidaya kalus tanaman dalam suatu lingkungan yang terkendali dan aseptik. Kalus adalah sekumpulan sel atau massa sel yang tidak teratur dan belum mengalami deferensiasi. Menurut Santoso dan Nursandi (2004) kultur kalus (menginduksi kalus) dapat bertujuan sebagai sarana bank plasma nutfah yang efisien dan untuk memproduksi senyawa metabolit sekunder, dalam hal ini budidaya kalus tidak diarahkan untuk poliferisasi kalus tetapi diarahkan bagaimana kalus dapat terdorong memproduksi metabolit sekunder lebih tinggi. Pembudidayaan kalus berarti menginduksi kalus dari bagian tanaman tertentu, biasanya dengan jalan dirangsang secara hormonal atau dengan zat pengatur tumbuh. Dalam banyak 7

penelitian zat pengatur tumbuh yang digunakan untuk menginduksi kalus adalah dari jenis auksin, walaupun ada beberapa peneliti yang mengkombinasikan dengan zat pengatur tumbuh jenis sitokinin seperti kinetin dan BAP. D. Zat Pengatur Tumbuh Zat pengatur tumbuh adalah senyawa yang umumnya aktif pada konsentrasi yang sangat rendah dan dihasilkan dalam tubuh tanaman, dan dewasa ini bisa diproduksi secara buatan dengan fungsi yang sama. Ada beberapa kelompok zat pengatur tumbuh yaitu: auksin, sitokinin, giberilin, ethylene dan asam absisik. Auksin dan sitokinin adalah senyawa yang paling penting untuk pertumbuhan kultur jaringan atau kultur in vitro. George dan Sherington (1984) mengatakan bahwa untuk proses caulogenesis atau rhizogenesis dan morfogenesis akar dan tunas dari kultur kalus biasanya dibutuhkan imbangan taraf zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin. Auksin yang paling sering digunakan untuk menginisiasi pembentukan kalus adalah jenis NAA, sedang untuk jenis sitokinin bisa dipakai kinetin atau BAP. E. Eksplan Bagian tanaman yang akan digunakan sebagai eksplan sangat berpengaruh pada produksi metabolit sekunder yang dihasilkan, hal ini disebabkan oleh karena setiap bagian tanaman memiliki potensi genetik yang berbeda. Untuk itu perlu dilakukan analisa jaringan secara in vivo untuk mengetahui bagian tanaman yang mempunyai kandungan tertinggi senyawa metabolit sekunder yang diinginkan. Menurut Santoso dan Nursandi (2004) hal ini sesuai dengan teori totipotensi biokimia sel, yaitu sel tertentu dari tanaman mempunyai potensi genetik yang diturunkan untuk menghasilkan senyawa dalam sistem in vitro seperti halnya dalam in vivo. Berdasarkan teori ini, bagian tanaman yang mempunyai kandungan senyawa metabolit sekunder tertentu dalam jumlah besar juga akan mampu menghasilkan senyawa yang sama dalam jumlah besar pula apabila bagian tanaman tersebut dikulturkan secara in vitro. 8

9