KETERSEDIAAN ENERGI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI NTT

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Faktor-faktor yang..., Iva Prasetyo Kusumaning Ayu, FE UI, 2010.

KONSERVASI DAN DIVERSIFIKASI ENERGI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN ENERGI INDONESIA TAHUN 2040

BAB I PENDAHULUAN. manajemen baik dari sisi demand maupun sisi supply energi. Pada kondisi saat ini

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

I. PENDAHULUAN. optimal. Salah satu sumberdaya yang ada di Indonesia yaitu sumberdaya energi.

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2011 MENCAPAI 5,11 PERSEN

I. PENDAHULUAN. dalam menjalankan aktivitas ekonomi suatu negara. Seiring dengan pertambahan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2012 MENCAPAI 5,61 PERSEN

VIII. EFISIENSI DAN STRATEGI ENERGI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;

VI. SIMPULAN DAN SARAN

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

Versi 27 Februari 2017

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT

Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

I.PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang lebih ditekankan pada pembangunan

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

PENDAHULUAN. Latar Belakang

A. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pertumbuhan Penduduk

BAB I PENDAHULUAN. bukan lagi terbatas pada aspek perdagangan dan keuangan, tetapi meluas keaspek

2.2 EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN RKPD SAMPAI DENGAN TAHUN 2013 DAN REALISASI RPJMD

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO

PERENCANAAN URUSAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang mengikuti

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERSIAPAN SUMATERA UTARA DALAM MENYUSUN RENCANA UMUM ENERGI DAERAH (RUED)

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan

PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Tata Cara

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013

KomUNIKASI SINgKAT: BAgAImANA NASIB ENERgI TERBARUKAN DI INDoNESIA PASCA TURUNNyA harga minyak DUNIA?

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENETAPAN DAN PENANGGULANGAN KRISIS ENERGI DAN/ATAU DARURAT ENERGI

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG

I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan

BAB I PENDAHULUAN. suatu sistem negara kesatuan. Tuntutan desentralisasi atau otonomi yang lebih

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

gula (31) dan industri rokok (34) memiliki tren pangsa output maupun tren permintaan antara yang negatif.

I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam

4. GAMBARAN UMUM 4.1 Pertumbuhan Ekonomi

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan

IV. DINAMIKA DISPARITAS WILAYAH DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

STRATEGI KEN DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL

I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan suatu daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

BAB I PENDAHULUAN. Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang. peranan sangat vital dalam menggerakkan semua aktivitas ekonomi.

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sementara produksi energi khususnya bahan bakar minyak yang berasal dari

BAB I PENDAHULUAN. Pentingnya peran energi dalam kebutuhan sehari-hari mulai dari zaman dahulu

Upaya Penghematan Konsumsi BBM Sektor Transportasi

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan. masyarakat meningkat dalam periode waktu yang panjang.

1 BAB I PENDAHULUAN. ekonomi dan pertumbuhan penduduk di suatu negara yang terus meningkat

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

INSTRUMEN KELEMBAGAAN KONDISI SAAT INI POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI INDIKASI PENYEBAB BELUM OPTIMALNYA PENGELOLAAN ENERGI

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal. Pembangunan ekonomi diharapkan dapat meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. perkiraan kapasitas pembangkit tenaga listrik.(dikutip dalam jurnal Kelistrikan. Indonesia pada Era Millinium oleh Muchlis, 2008:1)

Pulau Ikonis Energi Terbarukan sebagai Pulau Percontohan Mandiri Energi Terbarukan di Indonesia

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014

Ringkasan Eksekutif INDONESIA ENERGY OUTLOOK 2009

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014

PEMENUHAN SUMBER TENAGA LISTRIK DI INDONESIA

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor

PEREKONOMIAN DAERAH KOTA BATAM

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT AGUSTUS 2014

Kebijakan. Manajemen Energi Listrik. Oleh: Dr. Giri Wiyono, M.T. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. listrik yang semakin meningkat sehingga diperlukan energy alternatif untuk energi

Secara garis besar penyusunan proyeksi permintaan energi terdiri dari tiga tahap,

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

Produk Domestik Regional Bruto

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014

Transkripsi:

KETERSEDIAAN ENERGI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI NTT Oleh: Fred Benu I. Pengantar Panitia Pelaksana Seminar dan Workshop Internasional Energi Baru Terbarukan meminta saya untuk membawakan makalah tentang Ketersediaan energi dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi NTT. Walaupun topik yang diminta untuk digagas adalah menyangkut energi secara umum, namun dalam kaitan dengan potensi dan persebaran energi di NTT, maka bahasan yang akan digagas dalam makalah ini lebih banyak berhubungan dengan ketersediaan dan suplai energi listrik dan pembangunan aspek ekonomi NTT. Beberapa sektor unggulan yang seharus nya dikembangkan dalam kaitan dengan suplai energi guna memperbaiki struktur ekonomi NTT baik sebagai sektor basis maupun sebagai prime mover pertumbuhan ekonomi akan mendapat penekanan dalam pembahasan makalah i ni. II. Energi dan Pembangunan Ekonomi Sektor energi khususnya ESDM saat ini banyak memberikan peran bagi perekonomian Indonesia. Kontribusi peran sektor ESDM bagi perekonomian nasional dapat berupa sumber penerimaan Negara, penarik investasi, penggerak roda perekonomian, mendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menyediakan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung. Isu ketersediaan energi untuk mendorong percepatan pembangunan ekonomi saat ini semakin mendominasi ruang perdebatan publik. Jika pada periode pembangunan sebelumnya ketersediaan energi khususnya minyak dan gas banyak dihubungkan dengan aktivitas konsumsi masyarakat, namun seiring dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia, khususnya keberhasilan Indonesia mencatatan prestasi pertumbuhan ekonomi yang positip pada saat krisis 2008 lalu, maka masalah ketersediaan energi banyak dihubungkan dengan sektor produksi domestik yang sudah semakin menunjukkan perannya dalam perekonomian Indonesia. Masalah ketersediaan energi menjadi isu krusial bagi Indonesia jika ingin mencapai tingkat pertumbuhan sekitar 5 6 persen per tahun. Tingkat pertumbuhan ini hanya mungkin dicapai jika kita memiliki supali energi secara berkesinambungan guna menggerakan sektor produksi dalam negeri. Walaupun tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih sangat ditentukan oleh sektor konsumsi domestik, namun diprediksi ke depan sektor 1

produksi yang mengandalkan konsistensi supali energi akan semakin berperan dalam menentukan kinerja perekonomian nasional. Sektor energi mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam perekonomian, antara lain sebagai sumber penerimaan negara serta pemenuhan kebutuhan bahan bakar untuk industri, rumah tangga, dan transportasi. Kontribusi sektor energi dan sumber daya mineral terhadap penerimaan negara saat ini bisa mencapai 36 % dari total penerimaan negara. Dari 36 % penerimaan negara dari sektor ESDM tersebut, migas menyumbang 31,5%, pertambangan umum 4,4 %, dan lain-lain seperti iuran badan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa, jasa teknologi, jasa diklat, sewa gedung dan lain-lainnya yang diperkirakan mencapai sekitar 0,1 %. Jika pada tingkat nasional masalah ketersediaan energi sangat mendeterminasi kinerja sektor produksi domestik, tidak demikian halnya dengan perekonomi NTT. Masalah ketersediaan energi lebih banyak dihubungkan dengan sektor konsumsi daerah. Dan relatif sektor produksi daerah tercatat tidak memberikan peran yang cukup dalam perekonomian NTT. Satu satunya industri besar yang menjadi flag carier industrialisasi bagi sektor industri daerah yaitu PT semen Kupang juga perkembangannya tersendat-sendat dalam 10 tahun terakhir bahkan cendrung ditutup. Walaupun di saat yang sama muncul sejumlah industri berskala kecil dan menengah, seperti agroindustri perikanan dan kelautan, agroindustri pengolahan komoditi perkebunan (kelapa, kopi, kakao,dll.), termasuk industri pertambangan rakyat tapi perkembangannya masih jauh dari peran sebagai andalan perekonomian NTT. Perekonomian daerah yang didorong oleh perkembangan sektor konsumsi, juga diindikasikan oleh rendahnya nilai tambah yang dihasilkan dari konsumsi energi. Selain itu jumlah penduduk NTT 4.5 juta jiwa juga merupakan daya dorong konsumsi energi terbesar di daerah ini. Mengacu kepada Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia (2009) hasil kajian Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, total konsumsi energi per kapita Indonesia meningkat setiap tahunnya dengan pertumbuhan rata-rata di atas 5 persen. Pada 2000, konsumsi energi per kapita Indonesia sebesar 2,28 BOE (barrels of oil equivalent). Artinya, setiap kepala mengonsumsi minyak mentah sebesar 2,28 barel per tahun. Pada saat yang sama konsumsi energi khususnya jenis energi bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui (non-renewable fossil fuel) juga mengakibatkan persoalan tersendiri. Pada saat sejumlah negara maju telah berupaya menekan konsumsi bahan bakan fosil, Indonesia masih sulit mencatat prestasi yang sama. Seiring dengan terus bertumbuhnya perekonomian Indonesia, bahkan tercatat sebagai salah satu dari tiga negara di dunia (disamping China dan India) yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang significant ditengah badai krisis 2008, maka kebutuhan akan 2

energi dalam negeri akan terus meningkat. Oleh karena itu saat ini kita dihadapkan dengan persoalan ketahanan energi nasional. Dalam kaitan dengan isu ketahanan energi nasional, maka pertanyaan harus dialamatkan pada kenyataan tingginya permintaan energi baik didorong oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dan berkonsekwensi pada tingginya tingkat konsumsi energi maupun kecenderungan meningkatnya konsumsi energi perkapita karena munculnya sejumlah besar kelompok berpendapatan menengah. Pada saat yang sama Indonesia saat ini menghadapi kenyataan keterbatasan suplai energi dalam negeri. Permasalahan di atas hanya mungkin dapat diatasi dengan menlakukan diversifikasi sumber energi baik menyangkut jenis maupun jumlahnya melalui pemanfaatan berbagai sumber energi alternatif, khususnya sumber energi terbarukan (renewable energy). Sumber energi terbarukan ini cukup besar di Indonesia, seperti sinar surya, angin, air, gelombang laut, biomassa (limbah), panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), dsb. Upaya mengoptimalkan penggunaan sumber energi terbarukan ini diharapkan dapat menutupi fenomena excess demand of energi bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pendekatan diversifikasi ini semakin dirasakan urgensinya seiring dengan semakin menipis nya sumber energi konvensional, dan tuntutan penggunaan sumber energi yang ramah lingkungan. Keberhasilan pendekatan penggunakan sumber energi terbarukan membutuhkan adanya intervensi pemerintah berupa regulasi yang mendorong pemanfaatan sumber energi terbarukan misalnya dengan penyediaan insentif yang memadai bagi industri dalam negeri yang menggunakan sumber energi terbarukan dimaksud. Pada saat yang sama harus ada upaya penghematan energi oleh semua kalangan tanpa perlu mengorbankan kemanfaatan ekonomi yang mungkin dicapai. Kombinasi kebijakan seperti ini tidaklah mudah, karena itu kita memerlukan strategi yang tepat dari pemerintah untuk mencapai kedua tujuan yang sifatnya sedikit trade-off antara penghematan konsumsi energi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Catatan menunjukan bahwa pemerintah mematok target penghematan konsumsi enegi menurut kelompok pengguna sebagai berikut: industri (efisiensi 6-10 %), rumah tangga (efisiensi 8-20 %) dan sektor transportasi (efisiensi 10-30 %). III. Pemanfaatan Energi Bagi Pembangunan Ekonomi NTT Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa kinerja perekonomian NTT yang dihubungkan dengan ketersediaan energi khususnya power suplay lebih banyak digerakan dari sisi konsumsi domestik. Nilai tambah ekonomi yang diperoleh dari sumbangan sektor konsumsi daerah juga tidak sebesar nilai tambah yang mungkin diberikan oleh sektor produksi. 3

Data menunjukkan bahwa kontribusi pembangunan sektor ESDM khususnya listrik daearah terhadap perekonomian wilayah tidak menunjukkan perkembangan yang cukup significant dibandingkan dengan sektor lainnya. Perkembangan kontribusi sektor listrik daerah menunjukkan perkembangan yang cenderung konstant. Analisis IO, menunjukkan bahwa sektor listrik daerah memberikan total penyediaan (output) sebesar kurang dari Rp.50 milyard. Besaran total penyediaan ini diperoleh dari penggunaan input sektor sekunder antara Rp.15 milyar Rp.20 milyard dan sektor tersier sebesar hampir Rp.2milyard. Nilai output yang sama dihasilkan antara lain dari operasi biaya penggunaan energi bahan bakar sebesar 47 % dari total biaya. Jika biaya energi ini meningkat lagi (akibat perubahan harga bahan bakar, inefisiensi, dll.) maka nilai tambah yang dihasilkan bagi daerah ini juga akan semakin kecil. Selanjutnya total output yang dihasilkan oleh sektor kelistrikan sebagai representasi bagi sektor ESDM daerah, juga digunakan oleh sektor produksi domestik dengan rincian 13.5 % atau kurang lebih Rp.2 milyard Rp.3 milyard untuk aktivitas permintaan antara dan 86.5% atau Rp.13 milyard Rp.17 milyard untuk aktivitas permintaan akhir. Deskripsi ini menunjukkan bahwa sebagian besar ketersediaan sumberdaya energi di daerah ini khususnya listrik digunakan untuk konsumsi akhir. Relatif tidak ada rangsangan bagi sektor produksi domestik untuk meningkatkan aktifitas produksi melalui pemanfaatan ketersediaan energi guna meningkatkanan nilai tambah bagi perekonomian daerah. Tercatat konsumsi energi listrik paling banyak adalah untuk kelompok pemakai residensial, dibanding kelompok pemakai lainnya. Sektor Industri NTT hanya menempati porsi sebesar 0.06 % dari total pelanggan listrik menurut kelompok pelanggan. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar 1. di bawah Gambar 1. Perbandingan proporsi pelanggan menurut kelompok pemakai 4

Selanjutnya permintaan antara sekitar Rp. 2.5 milyard total output yang dihasilkan oleh sektor kelistrikan daerah digunakan untuk proses produksi sektor primer sebesar 0.13% atau Rp. 0.3 milyard, sektor sekunder sebesar 15.75 % atau Rp. 0.4 milyard dan sektor tersier sebesar 84.13 % atau Rp.2.1 milyard. Disamping ketimpangan distribusi penggunaan energi menurut kelompok pelanggan, NTT juga menghadapi masalah suplai energi yang tidak merata untuk seluruh desa dalam suatu wilayah pelayanan. Secara umum jumlah desa yang mendapat suplai energi listrik masih dibawah 50% (Lihat Tabel1.). Kondisi ini tentu turut memberikan kontribusi terhadap lambatnya perkembangan bisnis khususnya sektor indutri di daerah ini. Tabel 1. Distribusi Desa Berlistrik NTT, 2008 Unit Cabang Jumlah Desa (BPS, 207) Desa Berlistrik Desa Kelurahan Jumlah Desa % Kupang 1.014 153 1.167 486 41.64 Flores Bagian Barat 707 87 794 375 47.23 Flores Bagian Timur 494 37 531 238 44.82 Sumba 324 26 350 111 31.71 NTT 2.539 303 2.842 1.210 42.58 Sumber: Statistik Listrik 2008 Suplai energi menurut wilayah pelayanan juga mengalami ketimpangan, dan konsekwensinya jelas akan mendeterminasi ketimpangan dinamika pembangunan antar wilayah. Wilayah dengan produksi energi yang lebih besar tentunya akan mendorong perkembangan dinamika ekonomi lebih besar dibanding wilayah dengan produksi energi yang lebih rendah. Secara detail dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Perkembangan Produksi Tenaga Listrik Netto antar wilayah (MWH), 2008 Unit Cabang 2004 2005 2006 2007 2008 Kupang 154.755 164.459 178.461 199.785 211.385 Flores bagian Barat 88.171 96.722 58.314 63.835 68.133 Sumba 9.971 21.752 24.005 26.723 28.661 Flores bagian Timur - - 45.086 51.480 56.965 NTT 252.898 282.934 305.866 341.823 365.144 Sumber: Statistik Listrik 2008 Tabel di atas menunjukkan bahwa wilayah pelayanan Kupang yang meliputi Kab./Kota Kupang, So E, Kefa, Atambua, Kalabahi dan Rote Ndao mendapat pasokan pasokan produksi tenaga listrik terbesar dibanding wilayah pelayanan lainnya. Hampir 60 % dari total 5

pasokan produksi tenaga listrik netto dialokasikan untuk wilayah ini, dan itu berarti ada peluang pengembangan ekonomi wilayah yang cukup besar dibanding wilayah lainnya. Jika kita memiliki kebijakan pengembangan ekonomi daerah NTT yang diarahkan untuk perbaikan struktur ekonomi daerah, dan perbaikan struktur dimaksud adalah melalui upaya mendorong Agroindustri daerah, maka perlu dipahami bahwa sejumlah besar komoditi yang memiliki keunggulan komparatif (comparative advantages) seperti kopi, kakao, jambu mente, perikanan laut (disamping tentu nya ternak dan jangung yang berada di wilayah pelayanan Kupang) justru berada pada wilayah pelayanan energi listrik yang mendapat pasokan produksi netto kecil (sebagian besar Flores). Jadi pasokan produksi netto energi listrik yang besar di wilayah pelayanan Kupang dapat dibaca semata karena didorong oleh perkembangan sektor lainnya seperti sektor jasa (pemerintah), perdagangan, hotel dan restoran (Lihat Tabel 3). Atau kalaupun dimanfaatkan oleh sektor industri maka industri dimaksud kurang memiliki basis pengusahaaan yang kuat di tingkat masyarakat (seperti Industri besar pabrik semen Kupang). Untuk mendorong pengembangan investasi daerah khususnya di sektor industri pengolahan komoditi unggulan NTT diperlukan adanya kebijakan insentif terarah menyangkut pemanfaatan ketersediaan dan suplai energi yang tersebar di seluruh daerah. Perlu adanya insentif bagi pengembangan industri yang memanfaatkan potensi dan persebaran energi baru terbarukan seperti angin, panas bumi, air yang secara kasat sangat tersedia secara merata di daerah ini, demi kemajuan NTT dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Tabel 3. Jumlah Daya Tersambung Menurut Sektor Pengguna (VA), 2008 Wilayah Pelayanan Sosial Rumah Tangga Bisnis Industri Pemerintah Jumlah Kupang 8.056.650 82.745.700 27.088.100 5.476.250 10.917.900 134.284.600 Flores Bagian Barat 3.261.400 13.112.750 9.418.250 783.100 2.635.133 55.210.633 Flores Bagian Timur 2.760.650 32.560.750 7.717.400 482.700 2.394.000 45.915.500 Sumba 1.745.550 12.638.650 5.128.300 134.100 1543.383 21.189.983 NTT 15.824.250 167.057.850 49.352.050 6.876.150 17.490.416 256.600.716 Sumber: Statistik Listrik, 2008 Masalahnya pemanfaatan suplai energi listrik yang besar oleh sektor dengan basis input yang kecil di tingkat masyarakat, akan cenderung mengalami kebocoran ekonomi wilayah yang besar pula (seperti fenomena pengembangan pariwisata di Manggarai Barat), disamping tentunya berdampak pada ketimpangan distribusi nilai tambah. Dan inilah yang terjadi dengan NTT, saat perekonomian wilayahnya masih bertumpu pada sektor pertanian dengan sejumlah komoditi unggulannya, namun prime mover pertumbuhan ekonomi nya 6

justeru diperankan oleh sektor lain, seperti Perdagangan, Hotel dan Restioran, maupun jasa lainnya khususnya jasa pemerintah. IV. Penutup Demikian makalah ini disampaikan, dengan merujuk pada sejumlah data empirik yang tersedia. Walaupun saya cukup menghadapi kendala yang berhubungan dengan ketersediaan data guna pembahasan menyangkut ketersediaan energi secara menyeluruh, baik menyangkut potensi dan persebaran, tapi dengan mengembangkan asumsi tentang terbatas nya suplai energi selain energi listrik, maka makalah ini diselesaikan dengan basis asumsi dimaksud. Semoga apa yang telah disampaikan dapat membawa pencerahan pada berbagai pihak yang berkepentingan dengan ketersediaan energi khususnya energi baru terbarukan yang dapat dimanfaatkan bagi tujuan pembangunan di daerah ini. S e k i a n 7