Sepsis neonatorum merupakan penyebab

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. neonatus dan 50% terjadi pada minggu pertama kehidupan (Sianturi, 2011). Menurut data dari

(Juniatiningsih, 2008). Sedangkan di RSUP Sanglah Denpasar periode Januari - Desember 2010 angka kejadian sepsis neonatorum 5% dengan angka kematian

Sensitivitas Bakteri Penyebab Sepsis Neonatorum terhadap Meropenem di Neonatal Intensive Care Unit

Perinatologi. I Made Kardana Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Denpasar.

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih

UKDW. % dan kelahiran 23% (asfiksia) (WHO, 2013). oleh lembaga kesehatan dunia yaitu WHO serta Centers for Disease

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menurut perkiraan World Health Oraganization (WHO) ada sekitar 5 juta

BAB I PENDAHULUAN. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) pada tahun 2013,

Demam neutropenia adalah apabila suhu

BAB 1 PENDAHULUAN. yang resisten terhadap minimal 3 kelas antibiotik. 1 Dari penelitian yang

BAB 1 PENDAHULUAN. mikroba yang terbukti atau dicurigai (Putri, 2014). Sepsis neonatorum adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Enterobacter sp. merupakan bakteri gram negatif. berbentuk batang. Enterobacter sp.

Pola Kuman dan Uji Kepekaan Antibiotik pada Pasien Unit Perawatan Intensif Anak di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Bayi (AKB). Angka kematian bayi merupakan salah satu target dari Millennium

Profil Mikroorganisme Penyebab Sepsis Neonatorum di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta

BAB 1 PENDAHULUAN. Sepsis adalah terjadinya SIRS ( Systemic Inflamatory Respon Syndrome)

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang biaknya

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan

I. PENDAHULUAN. Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang didapat selama pasien dirawat di

POLA RESISTENSI Staphylococcus

Prevalensi Kuman Multi Drug Resistance (MDR) di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari Desember 2012

PENDAHULUAN. kejadian VAP di Indonesia, namun berdasarkan kepustakaan luar negeri

I. PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia.

BAB I PENDAHULUAN. dengan imunitas pejamu, respon inflamasi, dan respon koagulasi (Hack CE,

Perbandingan Efektifitas Kombinasi Ampisilin dan Gentamisin dengan seftazidim Pada Pengobatan Sepsis Neonatorum

Seftazidim adalah sefalosporin generasi ketiga. Perbandingan Efektifitas Sefepim dan Seftazidim dalam Pengobatan Sepsis Neonatorum

POLA KEPEKAAN BAKTERI PENYEBAB VENTILATOR-ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP) DI ICU RSUP H. ADAM MALIK PERIODE JULI-DESEMBER Oleh :

BAB I PENDAHULUAN. satunya bakteri. Untuk menanggulangi penyakit infeksi ini maka digunakan

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

BAB I PENDAHULUAN. bahan partikulat debu dan tetesan cairan, yang semuanya mengandung. rumah sakit yang bisa menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial

BAB I. PENDAHULUAN. Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) merupakan bakteri penyebab tersering infeksi

BAB 3 METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. kematian di dunia. Salah satu jenis penyakit infeksi adalah infeksi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. pelayanan kesehatan umum seperti rumah sakit dan panti jompo. Multidrugs

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Infeksi nosokomial atau Hospital-Acquired Infection. (HAI) memiliki kontribusi yang besar terhadap tingkat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. infeksi bakteri. Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berubah dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki banyak risiko

BAB 1 PENDAHULUAN. terjadi di Indonesia, termasuk dalam daftar jenis 10 penyakit. Departemen Kesehatan pada tahun 2005, penyakit sistem nafas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pneumonia merupakan salah satu infeksi berat penyebab 2 juta kematian

Seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, penggunaan. lensa kontak sebagai pengganti kacamata semakin meningkat.

Evaluasi Terapi Obat pada Pasien Sepsis Neonatal Di Ruang Perinatologi RSUP Fatmawati Januari Februari Tahun 2016

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFENISI OPERASIONAL. Isolat Pseudomonas aeruginosa

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada

BAB 1 PENDAHULUAN. bermakna (Lutter, 2005). Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit

Sepsis neonatus sampai saat ini masih merupakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. satu penyebab kematian utama di dunia. Berdasarkan. kematian tertinggi di dunia. Menurut WHO 2002,

BAB I PENDAHULUAN. secara spontan dan teratur segera setelah lahir. 1,2. penyebab mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir dan akan membawa berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit paru obstruktif kronik atau yang biasa disebut PPOK merupakan

BAB IV METODE PENELITIAN

Pola bakteri aerob dan kepekaan antibiotik pada otitis media supuratif kronik yang dilakukan mastoidektomi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam sepuluh tahun terakhir terdapat beberapa perkembangan baru

Hasil Uji Kepekaan Bakteri Yang Diisolasi Dari Sputum Penderita Infeksi Saluran Pernafasan Bawah Di Poliklinik BP 4 Medan

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama. morbiditas dan mortalitas di dunia.

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga

BAB 1 PENDAHULUAN. penurunan angka kematian ibu (AKI) dan bayi sampai pada batas angka

BAKTERI PENYEBAB SEPSIS NEONATORUM DAN POLA KEPEKAANNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA

Pola Resistensi Bakteri Penyebab Sepsis Neonatorum di Instalasi Perawatan Neonatus RSUD Arifin Achmad Riau

IDENTIFIKASI INFEKSI MULTIDRUG-RESISTANT ORGANISMS (MDRO) PADA PASIEN YANG DIRAWAT DI BANGSAL NEONATAL INTENSIVE CARE UNIT (NICU) RUMAH SAKIT

BAB 1 PENDAHULUAN. jamur, dan parasit (Kemenkes RI, 2012; PDPI, 2014). Sedangkan infeksi yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sinus yang disebabkan berbagai macam alergen. Rinitis alergi juga merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. saat menghadapi berbagai ancaman bagi kelangsungan hidupnya seperti kesakitan. dan kematian akibat berbagai masalah kesehatan.

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah. kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan

POLA KUMAN PENYEBAB BAKTEREMIA PADA NEONATUS DAN SENSITIVITASNYA TERHADAP ANTIBIOTIK DI RSUP H

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pneumonia, mendapatkan terapi antibiotik, dan dirawat inap). Data yang. memenuhi kriteria inklusi adalah 32 rekam medik.

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) menurut Global Initiative of

Penggunaan antibiotik dengan justifikasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK ANTIBIOGRAM INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT DI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI KLINIK RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI -DESEMBER 2008

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kehidupan, dengan manifestasi infeksi sistemik dan atau isolasi bakteri patogen

HUBUNGAN KEPATUHAN HAND HYGIENE TENAGA KESEHATAN DAN KEJADIAN SEPSIS NEONATORUM DI HCU NEONATUS RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

BAB I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Penyebab Kematian Neonatal di Indonesia (Kemenkes RI, 2010)

BAB I PENDAHULUAN. dalam morbiditas dan mortalitas pada anak diseluruh dunia. Data World

Infeksi nosokomial (IN) pada bayi baru lahir

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan kolonisasi kuman penyebab infeksi dalam urin dan. ureter, kandung kemih dan uretra merupakan organ-organ yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan

HUBUNGAN ANTARA INSIDEN IKTERUS NEONATORUM DENGAN PERSALINAN SECARA INDUKSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. infeksi yang didapat pada pasien di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

BAB I PENDAHULUAN. kelompok penyakit yang berhubungan dengan infeksi. Penyakit ini banyak ditemukan

ABSTRAK PROFIL PIODERMA PADA ANAK USIA 0-14 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JUNI JUNI 2016

Profil anak dengan sepsis dan syok sepsis yang dilakukan kultur darah periode Januari 2010 Juni 2015 di RSUP Prof. Dr. R. D.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Angka morbiditas dan mortalitas pneumonia di seluruh dunia sangat

Transkripsi:

Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. Vol. 2, September 8, No. 2, 2006: September 122-2006 126 Pola Kuman, Sensitifitas Antibiotik dan Risiko Kematian oleh Kuman Staphylococcus coagulase Negatif pada Sepsis Neonatorum di RS DR Moewardi Surakarta Yulidar H, Sri Martuti, Sunyataningkamto Latar belakang. Sepsis neonatorum merupakan penyebab kematian tertinggi pada neonatus. Sebagai pedoman antibiotik yang akan diberikan diperlukan data pola kuman secara berkala. Beberapa Negara telah melaporkan infeksi Staphylococcus coagulase negative (CoNS) yang merupakan kuman komensal kulit, sebagai penyebab sepsis neonatorum awitan lambat. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kuman dan jenis antibiotik yang sensitif pada bayi sepsis yang dirawat di bangsal neonatus RS Dr. Moewardi Surakarta dan risiko kematian oleh Staphylococcus coagulase negatif (CoNS). Metoda. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data dari rekam medis bayi yang dirawat di bangsal neonatus RS Dr. Moewardi (RSDM) Surakarta. Data diambil dari bulan Desember 2004 sampai Desember 2005 dengan diagnosis sepsis, didapatkan hasil kultur kuman positif. Hasil. Didapatkan 49 data dengan kuman positif. Kuman penyebab sepsis didapatkan berturut-turut Enterobacter sebagai penyebab terbanyak 42,9%, diikuti oleh Staphylococcus dan Citrobacter masing-masing 18,4%, Streptococcus dan Serratia 6,1%, Pseudomonas dan Klebsiella 4,1%. Pada kelompok kuman Enterobacter meropenem merupakan antibiotik dengan sensitifitas paling tinggi (73,7%) dan sensitifitas terhadap sefepim 38,1%. Angka kematian secara keseluruhan 57,1%. Pada kelompok kuman Enterobacter, Staphylococcus dan Citrobacter angka kematian berturut-turut 57,1%, 33,3% dan 77,8%. Risiko kematian oleh kuman CoNS dibandingkan dengan kuman gram negatif RR 5,5 dengan tingkat kepercayaan 95% (0,97;31,45). Risiko kematian terhadap Staphylococcus aureus juga tidak berbeda bermakna. Kesimpulan. Kuman yang paling sering ditemukan pada bayi sepsis di bangsal neonatus RSDM Surakarta adalah Enterobacter. Angka kematian masih tinggi 57,1% dan tidak terdapat perbedaan bermakna pada risiko kematian CoNS dibandingkan dengan kuman gram negatif dan Staphylococcus aureus. Kata kunci: sepsis, bayi, antibiotik, Enterobacter, Staphylococcus Alamat korespondensi: Dr. Yulidar H, SpA. SMF Penyakit Anak RS.Dr.Muwardi/ Lab.IKA FK UNS Fax: (0271)-664598 Surakarta (57132) (0271) 728123. Sepsis neonatorum merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang tertinggi pada neonatus. WHO memperkirakan setiap tahunnya terjadi 5 juta kematian neonatus dan 98% 122

terjadi di negara berkembang. Penyebab kematian utama pada neonatus tersebut adalah infeksi, prematuritas dan asfiksia pada bayi baru lahir. Pada bayi prematur sepsis dihubungkan dengan belum matangnya sistem kekebalan, keadaan dasar yang berat dan sering dilakukannya prosedur invasif seperti pemasangan kateter vena dan arteri umbilikus maupun vena sentral. Angka kejadian sepsis di negara berkembang masih cukup tinggi berkisar 1,8-18/ 1000 dibanding negara maju 4-5/1000 kelahiran. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam periode Januari-September 2005, angka kejadian sepsis neonatorum sebesar 13,68% dari seluruh kelahiran hidup dengan tingkat kematian sebesar 14,8%. 1 Angka kejadian dan mortalitas sepsis neonatorum di RSDM Surakarta belum pernah dilaporkan. Penyebab sepsis neonatorum pada beberapa penelitian berbeda antar negara maupun antar waktu. Staphylococcus coagulase negative (CoNS) yang merupakan kuman komensal di kulit kini banyak dilaporkan sebagai penyebab sepsis neonatorum awitan lambat, meskipun mortalitasnya rendah. 2-6 Di beberapa RS Pendidikan di Indonesia didapatkan Acinebacter, Enterobacter dan Pseudomonas sebagai penyebab tersering sepsis neonatorum. 1,7 Pemberian antibiotik yang tepat pada sepsis neonatorum akan menurunkan risiko kematian, jenis antibiotik yang diberikan seharusnya sesuai dengan hasil uji kepekaan kuman. Sampai saat ini pemeriksaan kultur dan uji kepekaan kuman yang ada masih memerlukan waktu yang lama, sedangkan keterlambatan penatalaksanaan sepsis neonatorum akan meningkatkan mortalitasnya. Di sisi lain pemberian antibiotik yang tidak sesuai dengan kuman penyebab akan menimbulkan super infeksi oleh bakteri multi resisten dan jamur. 6 Pola kuman setempat dengan hasil uji kepekaan kuman yang ada dapat dipakai sebagai dasar pemberian antibiotik secara empiris. Divisi Perinatologi RSDM sampai saat ini masih menggunakan kombinasi ampisilin dan gentamisin untuk tatalaksana sepsis neonatorum sambil menunggu hasil biakan kuman. Pola kuman dan uji kepekaan kuman di bangsal neonatus RSDM belum pernah diteliti, demikian juga dengan risiko kematian oleh CoNS yang merupakan kuman komensal di kulit, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai evaluasi pemberian antibiotik pada sepsis neonatorum dan pengambilan kebijakan pemberian antibiotik empiris di masa mendatang. Metoda Penelitian ini merupakan penelitian retrospekstif dengan mengambil data dari rekam medis bayi yang dirawat di bangsal neonatus RSDM Surakarta antara Desember 2004 sampai dengan Desember 2005, dengan diagnosis sepsis neonatorum. Kriteria diagnosis sepsis neonatorum didasarkan pada tanda klinis, hipotermia atau hipertermia, gangguan pernapasan (takipneu, merintih, apneu), sianosis, takikardia, malas minum, residu lambung, atau perut distensi. 4,7 Subyek penelitian ini adalah semua bayi sepsis dengan data rekam medis lengkap, didapatkan hasil kultur dan uji kepekaan kuman. Data yang didapatkan diolah dengan program SPSS 10 untuk mengetahui persentase jenis kuman penyebab sepsis neonatorum dan persentase sensitifitas beberapa jenis antibiotik yang sering digunakan dalam penatalaksanaan sepsis neonatorum. Antibiotik tersebut yaitu ampisilin, gentamisin, amikasin, cefotaksim, ceftazidim, cefepime, dan meropenem. Risiko kematian dari masing-masing kuman penyebab dianalisis, hasil ditampilkan dalam rasio risiko dan tingkat kepercayaan 95%. Hasil Penelitian Selama periode Desember 2004 sampai Desember 2005 didapatkan 49 kasus sepsis neonatorum dengan hasil kultur dan uji kepekaan kuman. Jenis kuman penyebab sepsis neonatorum tertera pada Gambar 1. Enterobacter merupakan penyebab terbanyak 42,9%, diikuti oleh Staphylococcus dan Citrobacter masingmasing 18,4%, Streptococcus dan Serratia 6,1%, Pseudomonas dan Klebsiella 4.1%. Terdapat 9 spesimen positif Staphylococcus terdiri dari 8 spesimen CoNS dan 1 spesimen Staphylococcus aureus. Pada kelompok kuman enterobacter, meropenem merupakan antibiotik dengan sensitifitas paling tinggi (73,7%) dan sensitifitas terhadap cefepime 38,1%. (Tabel 1) Antibiotik yang lain yaitu amikasin, cefotaksim, ampisilin, ceftazidim dan gentamisin merupakan antibiotik dengan sensitifitas sangat rendah. Pada kelompok kuman Staphylococcus, antibiotik amikasin, meropenem, dan sefepim memiliki sensitifitas paling tinggi (25%), sefotaksim dan ampisilin berturut-turut 11,1% dan 12,5%, terhadap antibiotik lain telah resisten. Pada kelompok kuman Citrobacter, meropenem memiliki sensitifitas 100%, 123

Enterobacter Streptococcus Citrobacter Pseudomonas Serratia Klebsiella Staphylococcus Gambar 1. Kuman penyebab sepsis neonatorum di RS Dr. Moewardi Surakarta, 2004-2005 Tabel 1. Sensitifitas antibiotik terhadap infeksi oleh Enterobacter, Staphylococcus, dan Citrobacter Jenis antibiotik Enterobacter Staphylococcus Citrobacter R (%) S (%) R (%) S (%) R (%) S (%) Ampisilin 100 0 87,5 12,5 100 0 Amikasin 90,5 9,5 75 25 100 0 Cefotaksim 100 0 88,9 11,1 100 0 Ceftazidim 100 0 100 0 100 0 Meropenem 26,3 73,3 75 25 0 100 Gentamisin 100 0 100 0 100 0 Cefepime 61,9 38,1 75 25 11,1 88,9 Keterangan: R: Resisten S: Sensitif n=49 sefepim 88,9%, sedangkan antibiotik lain telah resisten. Angka kematian secara keseluruhan 57,1%, pada kelompok kuman Enterobacter, Staphylococcus dan Citrobacter berturut-turut 57,1%, 33,3% dan 77,8%. Risiko kematian oleh kuman CoNS tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kuman Gram negatif (RR 5,5; tingkat kepercayaan 95% 0,97;31,45), demikian juga jika dibandingkan dengan Staphylococcus aureus. Diskusi Pola kuman akan berbeda antar negara dan berubah dari waktu ke waktu. Penelitian ini mendapatkan Enterobacter 21 pasien sebagai kuman penyebab tersering sepsis neonatorum di bangsal neonatus RSDM Surakarta, diikuti oleh Staphylococcus dan Citrobacter masing-masing 9 pasien. Penelitian di negara maju akhirakhir ini mendapatkan CoNS sebagai kuman yang tersering ditemukan pada biakan darah terutama pada sepsis awitan lambat. Rubin LG dkk. 5 mendapatkan hasil biakan positif CoNS 54%, sedangkan Isaacs D dkk. 3 mendapatkan episode sepsis oleh CoNS 57,1%. Penelitian yang dilakukan oleh Karlowitz MG mendapatkan sepsis fulminan paling sering terjadi pada kelompok Pseudomonas sp dan paling jarang pada CoNS. 8 Suarca K di RS Sanglah, Denpasar mendapatkan hasil yang sama dengan penelitian ini yaitu Enterobacter sp sebagai penyebab tersering sepsis neonatorum awitan Tabel 2. Prognosis berdasarkan kuman penyebab sepsis Jenis kuman Prognosis total hidup kematian Enterobacter sp 9 12 21 Citrobacter sp 2 7 9 Staphylococcus coagulase negatif 6 2 8 Streptococcus sp 2 1 3 Serratia sp 0 3 3 Pseudomonas sp 2 0 2 Klebsiella sp 0 2 2 Staphylococcus aureus 0 1 1 124

dini dan CoNS pada sepsis awitan lambat. 9 Di RSCM Jakarta tahun 1975-1980 kuman penyebab sepsis berturut-turut Salmonella sp dan Klebseilla sp, pada tahun 1985-1990 Klebseilla tetap menempati urutan kedua dengan Pseudomonas sebagai penyebab utama, sedangkan tahun 1995-2003 terjadi perubahan total, Klebseilla bukan lagi menjadi kuman penyebab, tetapi pola kuman berubah berturut-turut Acinebacter sp, Enterobacter sp, Pseudomonas sp dan Serratia sp. 1 Penelitian yang dilakukan oleh Imran M dkk di Palembang pada tahun 2001 mendapatkan Acinebacter dan Pseudomonas sebagai kuman penyebab tersering. 4 Penelitian ini tidak membedakan sepsis awitan dini dan awitan lambat, dan sampai saat ini Subdivisi Perinatologi RSDM Surakarta belum memisahkan antara bayi-bayi yang dilahirkan di lingkungan RSDM dengan yang dikirim dari fasilitas persalinan di luar RS, sehingga pola kuman ini belum menggambarkan pola kuman pada sepsis awitan dini atau awitan lambat. Pola kuman pada bayi sepsis yang berasal dari luar RS juga belum dapat dinilai. Meropenem merupakan antibiotik dengan sensitifitas paling tinggi pada semua kelompok kuman penyebab. Sensitifitas terhadap meropenem pada kelompok kuman Enterobacter, Staphylococcus dan Citrobacter berturut-turut 73,7%, 25% dan 100%, sedangkan sensitivitas terhadap sefepim 38,1%, 25% dan 88,9%. Sensitivitas terhadap antibiotik yang lain rendah. Antibiotik yang selama ini dijadikan pilihan empiris pada sepsis neonatorum di RSDM Surakarta yaitu ampisilin memiliki resistensi yang tinggi, bahkan resistensi terhadap gentamisin mencapai 100%. Berbeda dengan hasil penelitian ini, di RS Mohammad Hoesni, Palembang didapatkan seftazidim lebih efektif dibandingkan kombinasi ampisilin dengan gentamisin, pada penelitian ini ceftazidim ternyata juga memiliki resistensi yang cukup tinggi. 4 Akhir-akhir ini di negara maju didapatkan prevalensi CoNS sebagai sepsis meningkat namun angka kematian rendah. Isaacs D yang melakukan penelitian selama 10 tahun mendapatkan 1281 kasus sepsis disebabkan oleh CoNS dengan angka kematian 1,9%. Isaacs D juga mendapatkan risiko kematian oleh CoNS pada sepsis awitan lambat secara bermakna lebih rendah dibandingkan dengan Staphylococcus aureus RR 36,1(95%CI:13,0-100,2), demikian juga terhadap bakteri Gram negative RR 45,5(95%CI:16,8-123,3). 3 Pada penelitian ini kematian oleh CoNS cukup tinggi yaitu 2 dari 8 pasien. Risiko kematian oleh kuman CoNS dibandingkan dengan kuman Gram negatif dan Staphylococcus aureus ternyata tidak berbeda. Perbedaan hasil tersebut kemungkinan karena; pertama kemungkinan kematian pada kelompok kuman CoNS tidak semata-mata disebabkan oleh infeksi CoNS tetapi disebabkan beberapa faktor risiko seperti berat badan lebih rendah, prematuritas, awitan sepsis dan komplikasi. Kedua, perbedaan tata laksana pasien. Penelitian ini melibatkan subyek yang dirawat swadana maupun askes gakin (askes untuk keluarga miskin). Pemberian antibiotik maupun terapi pendukung lain pada kelompok subyek swadana selalu tersedia sedangkan dari kelompok askesgakin harus menunggu protokol. Ketiga, kemungkinan besar disebabkan sampel penelitian terlalu kecil jika dibandingkan dengan penelitian oleh Isaac D. Kesimpulan Kuman yang paling sering ditemukan pada sepsis neonatorum di bangsal neonatus RSDM Surakarta adalah Enterobacter. Meropenem merupakan antibiotik dengan sensitivitas tertinggi, pilihan kedua adalah sefepim. Gentamisin tidak dapat digunakan sebagai terapi empiris karena memiliki resistensi tertinggi. Angka kematian sepsis neonatorum oleh berbagai kuman penyebab di RSDM masih tinggi dan risiko kematian oleh CoNS tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kuman Gram negatif maupun Staphylococcus aureus. Saran Perlu dilakukan penelitian dengan besar sampel lebih besar dan melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kematian bayi sepsis. Daftar Pustaka 1. Aminullah A. Masalah terkini sepsis neonatorum. Dalam: Badriul Hegar S, Partini P. Trihono, Evita Bemanshah Ifran, penyunting. Update in neonatal infection. PKB IKA FKUI XLVIII. Penerbit, Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2005.h. 1-15 2. Vergagno S, Sharland M, Kazembe P. Neonatal sepsis : an international perspective. Arch Dis Child 2005; 90:F220-4. 125

3. Isaacs D. A ten year, multicentre of coagulase negative staphylococcal infectios in Australian neonatal units. Arch Dis Child 2003;88:F89-93. 4. Imran M, Tasli J, Bermawi H. Perbandingan efektifitas kombinasi ampisilin dan gentamisin dengan seftazidim pada pengobatan sepsis neonatorum. Sari Pediatri 2001;3:92-100. 5. Rubin LG, Sanchez PJ, Siegel J. Evaluation and treatment of neonates with suspected late-onset sepsis: a survey of neonatologists practices. Pediatrics 2002;110: 1-7. 6. Center KJ, Reboli AC, Hubler R. Decreased vancomycin susceptibility of coagulase-negative Staphylococci in a neonatal intensive care unit: evidence of spread of Staphylococcus warneri. J Clin Micro 2003;41: 4660-5. 7. Machado JKK, Feferbaum R, Diniz EMA. Monitoring the treatment of sepsis with vancomycin in term newborn infants. Rev. Hosp Clin Fac Med S Paulo 2001;56:17-24. 8. Karlowitz MG, Buescher SE, Surka AE. Fulminant late onset sepsis in neonatal intensive care unit, 1988-1997, and the impact of avoiding empiric vancomycin therapy. Pediatrics 2000;106:1386-90. 9. Suarca K, Kardana M, Iswari IS. Blood culture and sensitivity test pattern of early versus late onset sepsis in neonatal ward Sanglah Hospital Denpasar. Abstract Book. KONIKA XIII. Bandung 2005. 126