Infeksi nosokomial (IN) pada bayi baru lahir
|
|
|
- Hadian Salim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Artikel Asli Gambaran Epidemiologi Infeksi Nosokomial Aliran Darah pada Bayi Baru Lahir Fatima Safira Alatas,* Hindra Irawan Satari,** Imral Chair, Rinawati Rohsiswatmo, Zakiudin Munasir, Endang Windiastuti *Peserta Program Studi Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia **Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Divisi Infeksi Tropis Latar belakang. Infeksi nosokomial (IN) pada bayi baru lahir sampai saat ini masih merupakan masalah serius di setiap rumah sakit karena dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas, lama dan biaya rumah sakit serta risiko kecacatan pada bayi yang terinfeksi. Tujuan penelitian. Mengetahui gambaran epidemiologi, pola kuman dan resistensi mikroorganisme penyebab IN aliran darah (INAD) pada bayi baru lahir di ruang rawat Divisi Perinatologi Departemen IKA RSCM. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif deskriptif dengan desain studi seksi silang di ruang rawat Divisi Perinatologi IKA RSCM. Hasil. Insidens INAD pada bayi baru lahir yaitu 34,8 infeksi per 100 pasien baru atau 50 infeksi per 1000 kelahiran dengan case fatality rate 27,4% dari seluruh kasus INAD (2) Infeksi bakteri gram negatif (GN) merupakan bakteri terbanyak dengan kuman terbanyak Acinetobacter calcoaceticus 28,8% (3) Sensitivitas bakteri GN terhadap antibiotika lini pertama dan kedua rendah sedangkan lini ketiga yaitu meropenem dan lini keempat yaitu siprofloksasin cukup baik yaitu masing-masing 66,67 100%. Kesimpulan. Angka kejadian dan case fatality rate INAD pada bayi baru lahir masih cukup tinggi. Infeksi bakteri gram negatif masih merupakan penyebab terbanyak (Sari Pediatri 2007; 9(2):80-86). Kata kunci: Infeksi nosokomial aliran darah, infeksi bakteri gram negatif, sensitivitas antibiotika Alamat korespondensi Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), MtropMed. Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Divisi Infeksi Tropis Jl. Salemba Raya No.6 Jakarta Tel (021) , Fax. (021) , [email protected] Infeksi nosokomial (IN) pada bayi baru lahir sampai saat ini masih merupakan masalah yang serius di setiap rumah sakit. Selain meningkat kan waktu serta biaya perawatan, IN juga menyebabkan tingginya angka morbiditas, mortalitas serta meningkatkan risiko palsi serebral/kecacatan pada bayi yang bertahan hidup. 1-6 IN meningkat seiring 80 Sari Pediatri, Vol. 9, No. 2, Agustus 2007
2 berkembangnya teknologi kedokteran yang biasanya menambah variasi prosedur tata laksana yang dilalui oleh seorang pasien. 7 IN aliran darah (INAD), yaitu adanya patogen pada aliran darah pasien yang dirawat di rumah sakit dalam waktu lebih dari 48 jam, adalah bagian dari IN yang juga menjadi masalah yang sering ditemukan dalam sistem pelayanan kesehatan akhirakhir ini. 5 Data yang dilaporkan oleh National Nosocomial Infection Surveillance (NNIS) System menyatakan bahwa pada tahun IN pada bayi baru lahir merupakan IN terbanyak yaitu 26-43% dari seluruh IN. 5 Boedjang, 8 pada tahun menemukan prevalensi INAD pada bayi baru lahir di RSCM sebesar 25.3% sedangkan Satari, 9 pada tahun 2004 menemukan angka kejadian IN yang lebih tinggi yaitu 37,82% dari seluruh kejadian infeksi. Pengendalian IN merupakan upaya penting dalam meningkatkan mutu pelayanan medis rumah sakit yang diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas serta mortalitas. 10 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi yang terdiri dari karakteristik pasien, angka kejadian, case fatality rate, lama rawat, pola kuman & resistensi mikroorganisme penyebab INAD terhadap antibiotika pada bayi baru lahir di RSCM yang diharapkan dapat menjadi data untuk strategi pengendalian IN pada bayi baru lahir di RSCM. Metode Penelitian ini merupakan penelitian prospektif deskriptif dengan desain studi seksi silang yang dilakukan di ruang rawat Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM sejak tanggal 22 Februari 2006 hingga 13 Juni Sampel diambil secara consecutive sampling, dengan kriteria inklusi (1) neonatus yang pada saat mulai dirawat di RSCM berusia 0 28 hari, yang lahir di RSCM maupun di luar RSCM yang didiagnosis sebagai sepsis awitan lambat yaitu gejala sepsis timbul setelah berusia 72 jam (bagi yang lahir di RSCM) atau setelah 72 jam perawatan di RSCM (bagi neonatus yang tidak lahir di RSCM) (2) neonatus sepsis awitan dini ( < 72 jam) dengan hasil kultur darah awal negatif atau positif, atau belum mempunyai hasil kultur darah, setelah diobati dengan antibiotika empiris atau sesuai hasil kultur darah sebelumnya masih menunjukkan gejala sepsis (3) mendapat persetujuan orang tua/keluarga. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah (1) terdapat infeksi transplasenta (2) bila pada hasil kultur ditemukan hasil/jenis kuman penyebab infeksi sama dengan hasil/jenis kuman pada kultur yang pernah dilakukan sebelumnya. Definisi IN pada penelitian ini sesuai dengan definisi IN menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk neonatus dengan batasan waktu dimodifikasi menjadi > 72 jam. 2,10,11 Pengambilan sampel darah untuk kultur darah dan resistensi terhadap antibiotika dilakukan oleh petugas laboratorium yang terlatih sebanyak 1 ml, dengan media transpor Bactec paediatric, yang kemudian dilakukan inokulasi di laboratorium mikrobiologi Patologi Klinik RSCM. Ethical clearance didapatkan dari Panitia Tetap Etik Penelitian Kedokteran/Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo dan informed consent dimintakan pada orang tua subyek penelitian. Pasca penelitian data diolah dengan menggunakan program SPSS version dalam sistem operasi Windows XP professional edition. Hasil Penelitian Selama periode penelitian ini terdapat 1080 bayi baru lahir di RSCM. Dari seluruh bayi tersebut, terdapat 158 bayi (14,6%) yang memerlukan perawatan di NICU dan Paviliun 8 serta terdapat 52 bayi baru lahir dari luar RSCM yang juga memerlukan perawatan di Paviliun 8. Dari 210 bayi baru lahir yang dirawat di NICU dan Paviliun 8 tersebut terdapat 78 kasus tersangka INAD. Lima dari 78 kasus tersangka INAD dikeluarkan dari penelitian, 1 diantaranya karena pasien meninggal dunia sebelum dilakukan pemeriksaan kultur darah sehingga tidak dapat dibuktikan apakah ada mikroorganisme penyebab yang baru, 1 kasus karena kultur darah tumbuh lebih dari 1 bakteri sehingga dianggap sebagai kontaminan, dan 3 kasus lainnya karena hasil kultur darah terhadap bakteri yang kedua sama dengan hasil kultur sebelumnya sehingga dianggap sebagai sepsis awitan dini. Sehingga total sampel yang dianggap sebagai INAD yaitu 73 kasus, yang didapatkan dari 67 bayi (61 bayi mengalami 1 episode INAD dan 6 bayi mengalami 2 episode INAD). Dari 73 kasus tersebut 54 kasus lahir di RSCM dan 19 kasus lahir di luar RSCM Sari Pediatri, Vol. 9, No. 2, Agustus
3 Karakteristik sampel Sebagian besar dari kasus INAD tersebut merupakan bayi laki-laki yaitu 44 kasus (60,3%) sedangkan hanya sebagian kecil kasus INAD yang diderita oleh bayi perempuan yaitu 29 kasus (39,7%). Rerata onset INAD (waktu pasien mulai dirawat sampai dengan terjadinya infeksi nosokomial) adalah 9,23 hari (SD: 8,71; rentang onset 3 37 hari) dengan rerata berat lahir 2230,91 gram (SD: 956,03; rentang berat lahir gram) serta rerata usia gestasi 35,34 minggu (SD: 4,44; rentang usia gestasi minggu). Pada penelitian ini terlihat bahwa sebagian besar bayi baru lahir mengalami onset INAD kurang dari 7 hari yaitu 45 kasus (61,6%). Sebagian besar kasus memiliki berat lahir rendah (berat lahir kurang dari 2500 gram) yaitu 53 kasus (72,6%) dengan kasus terbanyak (24 kasus) dengan berat lahir gram. Usia gestasi terbanyak pada penelitian ini antara 28 hingga 32 minggu (kurang dari 37 minggu) yaitu 27 kasus (37%). (Tabel 1) Tabel 1. Karakteristik pasien dengan INAD Karakteristik Jenis Kelamin Total Laki-Laki Perempuan (n = 44) (n = 29) Onset INAD (hari) < > Berat lahir (gram) < > Masa gestasi (minggu) < mg mg mg > Angka kejadian INAD, lama perawatan dan case fatality rate Angka kejadian (insidens) INAD pada penelitian ini dihitung berdasarkan kasus yang dinyatakan sebagai INAD terbukti maupun tidak terbukti (INAD klinis), sehingga angka kejadian INAD adalah 34,8 infeksi per 100 pasien baru (73/210) atau 50 infeksi per 1000 kelahiran (54/1080). Sebagian besar kasus yaitu 32 kasus (43,8%) dengan INAD menjalani perawatan selama lebih dari 28 hari dengan rerata lama rawat 27,45 hari (SD : 18,49; rentang 3-72 hari). Sebagian besar kasus yaitu 46 kasus (64,87%) dengan INAD dapat bertahan hidup. Duapuluh kasus meninggal dunia yaitu 4 kasus meninggal sebelum usia 7 hari dan 16 kasus meninggal setelah usia 7 hari. Jadi case fatality rate pada penelitian ini adalah 27,4% (20/73). Pola kuman dan pola resistensi mikroorganisme penyebab INAD terhadap antibiotika Dari 73 kasus INAD pada penelitian ini didapatkan 66 kasus (90,4%) dengan INAD terbukti. Mikroorganisme tersering sebagai penyebab INAD pada bayi baru lahir pada penelitian ini adalah Acinetobacter calcoaceticus yaitu sebanyak 21 kasus (28,8%) diikuti oleh Enterobacter aerogenes dan Klebsiella pneumoniae masing-masing 16 kasus (21,9%). Bakteri gram negatif (GN) lain yang ditemukan pada penelitian ini adalah Pseudomonas sp, dan Serratia sp yang masing-masing berjumlah 3 kasus (4,1%). Bakteri gram positif (GP) yang ditemukan pada penelitian ini adalah Staphyllococcus epidermidis yaitu 3 kasus (4,1%) dan kultur darah steril 7 kasus (9,6%). (Gambar 1) Pola resistensi mikroorganisme penyebab INAD pada bayi baru lahir terhadap antibiotika menunjukkan Gambar 1. Pola kuman penyebab INAD pada neonatus 82 Sari Pediatri, Vol. 9, No. 2, Agustus 2007
4 penelitian lebih lanjut yang melibatkan Departemen Obstetri dan Ginekologi untuk membuktikan apakah benar IN pada bayi baru lahir yang terjadi di RSCM benar-benar didapatkan dari ibu (maternally acquired) serta penelitian yang melakukan pemeriksaan seluruh bahan, alat dan personil di ruang rawat bayi baru lahir. Sesuai dengan laporan penelitian ini, 15,17 sebagian besar bayi baru lahir yang mengalami INAD memiliki berat lahir kurang dari 2500 g, dengan populasi tertinggi yaitu berat lahir g. Hal ini disebabkan oleh karena usia gestasi terbanyak yang mengalami INAD pada penelitian ini kurang dari 37 minggu yaitu minggu 27 kasus (36,5%). Sistem imun dan barier struktural normal pada bayi yang lahir dengan usia gestasi < 37 minggu (prematur) biasa masih imatur, sistem kekebalan tubuhnya belum adekuat sehingga bayi lebih mudah terkena infeksi. Sedangkan bayi yang lahir kurang dari 32 minggu, stratum korneumnya belum berkembang, kulit masih sangat rapuh, mudah terkena trauma, dan sangat permeabel. Kulit akan menjadi matur dengan cepat setelah bayi lahir, dan dalam 2 minggu kehidupan telah berkembang dengan baik tanpa dipengaruhi usia gestasi. 18 Angka kejadian INAD pada bayi baru lahir adalah sebesar 34,8 infeksi per 100 pasien baru (73/210) atau 50 infeksi per 1000 kelahiran (54/1080) dan angka case fatality rate sebesar 27,4% (20/73). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di negara berkembang, 14,19,20 yang menemukan angka kejadian IN di NICU sebesar 18,9-30,0 infeksi per 100 pasien baru atau pulang, tetapi sangat berbeda dengan di negara maju, 18,21,22 dengan angka kejadian IN pada bayi baru lahir sangat kecil yaitu 3,2-7,0 infeksi per 100 pasien baru atau pulang. Angka kejadian IN yang rendah di negara maju disebabkan karena minimalnya penggunaan prosedur invasif serta antibiotika, pemberian nutrisi enteral yang cepat, serta terbatasnya tenaga kesehatan yang berinteraksi pada masing-masing bayi. 18 Walaupun angka kejadian IN pada penelitian ini masih cukup tinggi, tetapi bila dibanding dengan penelitian terdahulu sudah mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena penanggulangan IN di Divisi Perinatologi sudah dilakukan dengan lebih baik dan penggunaan antibiotika untuk mengatasi sepsis awitan dini sudah dilakukan dengan lebih hati-hati dengan cara tidak memakai antibiotika golongan sefalosporin dan karbapenem sebagai antibiotika lini pertama. Spektrum mikroorganisme penyebab IN serta sensitivitasnya terhadap antibiotika pada tiap rumah sakit tidak sama bahkan pada satu rumah sakit pada tahun yang berlainan berubah-ubah. Hal ini sering disebabkan karena pemakaian antibiotik yang terlalu banyak/liberal dan tidak rasional. 23 Pada penelitian ini jenis mikroorganisme penyebab INAD didominasi oleh bakteri GN, sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa sebagian besar kasus IN pada bayi baru lahir yang berasal dari bakteri GN. 8,9,24-27 Grup B Streptococcus yang banyak dilaporkan pada penelitian IN di luar negeri, 18,28,29 pada penelitian ini tidak ditemukan. Tidak ditemukannya Grup B Streptococcus juga dilaporkan pada penelitian lain yang dilakukan di RSCM. 8,9,23,24 Tseng dkk, 27 menemukan pola kuman yang sedikit berbeda yaitu bakteri GP sebagai bakteri yang terbanyak IN pada bayi baru lahir. Jenis antibiotika yang dipakai dalam penanggulangan sepsis pada bayi baru lahir di RSCM dapat dibagi dalam 4 golongan yaitu: lini pertama ampisilin dan gentamisin, lini kedua sefalosporin, aminoglikosida lainnya, amoksisilin-asam klavulanat dan vankomisin, lini ketiga sefepim, imipenem, dan meropenem dan lini keempat kuinolon dan kloramfenikol. Kedua obat pada lini keempat tersebut tidak dianjurkan pada anak di bawah 4 tahun kecuali bila ditemukan sepsis berat dan hasil kultur darah hanya sensitif dengan kedua obat tersebut. 23 Pola resistensi mikroorganisme penyebab INAD pada bayi baru lahir terhadap antibiotika pada penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri GN mempunyai sensitivitas yang rendah terhadap antibiotika lini pertama, kedua, dan ketiga yaitu berturut-turut 0 76, 2%, 0 76,19% dan 38,09 66,67%. Bakteri GP masih mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap antibiotik lini pertama yaitu 100%, tetapi rendah terhadap lini kedua dan ketiga (kecuali meropenem) yaitu 0 76,19% dan 33,33 66,67%. Sensitivitas bakteri GN maupun GP terhadap antibiotika lini keempat yaitu kloramfenikol sangat bervariasi yaitu 0 76,19%, sedangkan terhadap siprofloksasin masih cukup baik yaitu 66,67 100%. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Satari dkk, 8 yang menemukan sensitivitas bakteri gram negatif terhadap antibiotika golongan sefalosporin generasi III dan IV yaitu 3 69,1%, golongan karbapenem (meropenem dan imipenem) 45,5 100% dan gentamisin 7,4 57,7 %. Resistensi kuman terhadap berbagai macam antibiotika merupakan masalah yang memerlukan 84 Sari Pediatri, Vol. 9, No. 2, Agustus 2007
5 bahwa bakteri GN mempunyai sensitivitas yang rendah terhadap antibiotika lini pertama (ampisilinsulbaktam, kotrimoksazol, gentamisin dan kanamisin), yaitu hanya %. Sedangkan bakteri GP masih mempunyai sensitivitas yang tinggi yaitu 100%. Begitu pula terhadap antibiotika lini kedua, baik bakteri GN maupun GP mempunyai sensitivitas yang rendah yaitu 0 76,19 %, dengan sensitivitas terbaik yaitu Acinetobacter calcoaceticus terhadap seftazidim 76,19%, sedangkan yang terburuk adalah sefotaksim yang hanya mempunyai sensitivitas 0 4,76% dan seftriakson 0 33,33% untuk bakteri GN maupun GP. Terhadap antibiotika lini ketiga yaitu sefepime, bakteri GN mempunyai sensitivitas 38,09 66,67%, sedangkan GP 33,33%. Antibiotika lini ketiga lainnya yaitu meropenem masih mempunyai sensitivitas cukup baik terhadap bakteri GN yaitu 66,67 100% dan bakteri GP 66,67%, sedangkan golongan karbapenem lain yaitu imipenem tidak diikutsertakan dalam analisis karena disc hanya diperiksa pada 6 kasus sehingga dianggap tidak representatif. Sensitivitas bakteri GN maupun GP terhadap antibiotika lini keempat kloramfenikol sangat bervariasi yaitu 0 76,19%, sedangkan terhadap siprofloksasin masih cukup baik yaitu 66,67 100%. (Tabel 2). Diskusi Pada penelitian ini semua pasien sudah pernah mengalami sepsis awitan dini sehingga sudah diberikan antibiotika sebelumnya. Pemberian antibiotika ini bukan merupakan kriteria eksklusi namun dapat menjadi salah satu kelemahan penelitian ini karena pada dasarnya pemeriksaan biakan darah seharusnya dilakukan sebelum pemberian antibiotika. Jumlah sampel laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yaitu 1,52 : 1 sesuai dengan penelitian Sohn dkk, 13 serta Kawagoe dkk, 14 yang mendapatkan populasi laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan yaitu berturut-turut 57,8% : 42,2% dan 53,5-56,4% : 46,3-43,6%. Onset INAD tersering yaitu < 7 hari (36,9%) sesuai dengan penelitian Urrea dkk, 15 yang menemukan 91,8% pasien mempunyai onset IN < 7 hari. Onset yang begitu cepat membuat peneliti berpikir apakah mungkin INAD yang terjadi lebih banyak didapatkan melalui ibu (jalan lahir) dibandingkan melalui lingkungan, atau karena praktek pertolongan persalinan dan perawatan bayi baru lahir yang buruk seperti yang dikemukakan oleh Zaidi dkk, 16 yang menyatakan bahwa pengendalian infeksi di negara berkembang masih buruk. Untuk mengetahui hal itu perlu Tabel 2. Pola resistensi mikroorganisme penyebab INAD terhadap antibiotik Antibiotika Sensitivitas terhadap antibiotik (%) Acinetobacter Enterobacter Staphyllococcus Klebsiella Pseudomonas calcoaceticus aerogenes epidermidis pneumoniae sp. Lini pertama Ampisilin-sulbaktam Kotrimoksazol Gentamisin Kanamisin Lini kedua Amikasin Seftazidim Amoksisilin-klavulanat Sefotaksim Seftriakson Lini ketiga Sefepime Meropenem Lini keempat Kloramfenikol Siprofloksasin Sari Pediatri, Vol. 9, No. 2, Agustus
6 perhatian yang serius baik di Indonesia maupun di banyak negara di luar negeri. 23 Tseng dkk, 27 menemukan bahwa 92% Staphylococcus aureus yang diisolasi resisten terhadap metisilin sedangkan seluruh Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli dan Enterobacter cloacae yang diisolasi resisten terhadap sefotaksim dengan resistensi 100%, 46,2% dan 90,9%. Banyaknya mikroorganisme yang resisten menimbulkan masalah pada keberhasilan pengobatan serta tingginya mortalitas pada penanggulangan infeksi nosokomial. 23 Kesimpulan Angka kejadian INAD serta case fatality rate pada bayi baru lahir di RSCM masih cukup tinggi. Infeksi bakteri GN merupakan bakteri terbanyak yang menyebabkan INAD pada bayi baru lahir dengan Acinetobacter calcoaceticus merupakan kuman terbanyak (28,8 %). Sensitivitas bakteri GN terhadap antibiotika pada semua lini telah mengalami penurunan dengan sensitivitas terbaik terhadap antibiotika lini ketiga yaitu meropenem 66,67 100% dan lini keempat siprofloksasin yaitu 66,67 100%. Daftar Pustaka 1. Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit. Petunjuk teknis pengendalian infeksi nosokomial RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Edisi ke-2. Jakarta : Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit. Pedoman pengendalian infeksi nosokomial RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Edisi ke-2. Jakarta : Stover BH, Shulman ST, Bratcher DF, Brady MT, Levine GL, Jarvis WR. Nosocomial infection rates in US children s hospital neonatal and pediatric intensive care units. Am J Infect Control 2001;29: Grohskopf LA, Sinkowitz-Cochran RL, Garret DO, Sohn AH, Levine GL, Siegel JD, dkk. A national pointprevalence survey of pediatric intensive care unit-acquired infections in United States. J Pediatr 2002; 140: Rupp ME. Nosocomial bloodstream infections. Dalam: Mayhall CG, penyunting. Hospital epidemiology and infection control. Edisi ke-3. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2004.h Haque KN. Definition of bloodstream infection in newborn. Pediatr Crit Care Med 2005;6(Suppl):S Gardner P, Causey WA, Beem MO. Nosocomial infections. Dalam: Feigin RD, Cherry JD, penyunting. Textbook of pediatric infectious disease. Edisi ke-2. Philadelphia : WB Saunders,1987: Satari HI, Alatas FS, Astrawinata DAW, Sosrosumihardjo R. Pattern of Neonatal Nosocomial Infection in Department of Child Health Faculty of Medicine University of Indonesia Cipto Mangunkusumo Hospital Poster. Disampaikan pada Kongres Nasional Dokter Anak (KONIKA) Bandung 4-7 Juli Boedjang RF. Nosocomial Septicemia in Neonates. Pediatr Indones 1999;3: Fischer MC. Infection control and prophylaxis. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-16. Philadelphia: WB Saunders, Gardner JS, Jarvis WR, Emori TG, Horan TC, Hughes JM. CDC definitions for nosocomial infections. Dalam: Olmsted RN, penyunting. APIC infection control and applied epidemiology: principles and practice. St. Louis: Mosby, 1996.h.A Djojosugito MA, Roeshadi D, Pusponegoro AD, Supardi I. Pendahuluan. Buku manual pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit. Jakarta : 2001: Sohn AH, Garret DO, Sinkowitz-Cochran RL, Grohskoph LA, Levine GL, Stover BH, dkk. Prevalence of nosocomial infections in neonatal intensive care unit patients : results from the first national point prevalence survey. J Pediatr 2001;139: Kawagoe JY, Segre CAM, Pereira CR, Cardoso MFS, Silva CV, Fukushima JT. Risk Factors for nosocomial infections in critically ill newborns: A 5-year prospective cohort study. Am J Infect Control 2001:29: Urrea M, Iriondo M, Thio M, Krauel X, Serra M, LaTorre C, dkk. A prospective incidence study of nosocomial infections in a neonatal care unit. Am J Infect Control 2003;31: Zaidi AK, Huskins WC, Thaver D, Bhutta ZA, Abbas Z, Goldmann DA. Hospital-acquired neonatal infections in developing countries. Lancet 2005;365(9465): Nagata E, Brito ASJ, Matsuo T, Londrina. Nosocomial infections in a neonatal intensive care unit: Incidence and risk factors. Am J Infect Control 2002;30: Moore DL. Nosocomial infections in newborn nurseries and neonatal intensive care units. Dalam: Mayhall CG, penyunting. Hospital epidemiology and infection control. Edisi ke-3. Philadelphia: Lippincott Williams Sari Pediatri, Vol. 9, No. 2, Agustus
7 & Wilkins, 2004.h Flenik LT, Bagatin AC, Castro ME. Hospital infections in a high-risk nursery: 2 years analysis. Rev Soc Bras Med Trop 1990;23: Orrett FA, Brooks PJ, Richardson EG. Nosocomial infections in a rural regional hospital in a developing country: incidence rates by sites, service, cost and infection control practices. Infect Control Hosp Epidemiol 1998;19: Raymond J, Aujard Y, the European Study Group. Nosocomial infections in pediatric patients: a European, multicenter prospective study. Infect Control Hosp Epidemiol 2000;21: Fergusson JK, Gill A. Risk-stratified nosocomial infections surveillance in a neonatal intensive care unit: report on 24 month of surveillance. J Pediatr Child Health 1996;32: Rohsiswatmo R. Multidrug resistance in the neonatal unit and its therapeutic implications. Pediatr Indones 2006;46: Boedjang RF. Pengendalian infeksi nosokomial di ruang rawat neonatus. Dalam: Suradi R, Monintja HE, Amalia P, Kusumowardhani D, penyunting. Penanganan mutakhir bayi prematur. Naskah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XXXVIII. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997: Nambiar S, Singh N. Change in epidemiology of health care-associated infections in neonatal intensive care unit. Pediatr Infect Dis J 2002;21: Satari HI, Amalia L. Pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit. Dalam: Akib AAP, Tumbelaka AR, Matondang CS, penyunting. Pendekatan imunologis berbagai penyakit alergi dan infeksi. Naskah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XLIV. Jakarta Juli Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI,2001: Tseng YC, Chiu YC, Wang JH, Lin HC, Lin HC, Su BH, dkk. Nosocomial bloodstream infection in a neonatal intensive care unit of medical center: a three-year review. J Microbiol Immunol Infect 2002;35: Gaynes RP, Edwards JR, Jarvis WR, Culver DH, Tolson JS, Martone WJ, dkk. Nosocomial infection among neonates in high risk nursery in United State. Pediatrics 1996;3: Makhoul IR, Sujov P, Smolkin T, Lusky A, Reichman B. Epidemiological, clinical, and microbiological characteristics of late-onset sepsis among very low birth weight infants in Israel: a national survey. Pediatrics 2002;109: Sari Pediatri, Vol. 9, No. 2, Agustus 2007
Sepsis neonatorum merupakan penyebab
Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. Vol. 2, September 8, No. 2, 2006: September 122-2006 126 Pola Kuman, Sensitifitas Antibiotik dan Risiko Kematian oleh Kuman Staphylococcus coagulase Negatif pada
BAB 1 PENDAHULUAN. neonatus dan 50% terjadi pada minggu pertama kehidupan (Sianturi, 2011). Menurut data dari
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang World Health Organization (WHO) memperkirakan secara global setiap tahun terdapat 5 juta bayi meninggal pada usia empat minggu pertama kehidupannya, dengan 98% kematian
(Juniatiningsih, 2008). Sedangkan di RSUP Sanglah Denpasar periode Januari - Desember 2010 angka kejadian sepsis neonatorum 5% dengan angka kematian
(Juniatiningsih, 2008). Sedangkan di RSUP Sanglah Denpasar periode Januari - Desember 2010 angka kejadian sepsis neonatorum 5% dengan angka kematian 30,4% (Wilar, 2010). Pola kuman penyebab sepsis berbeda-beda
Sensitivitas Bakteri Penyebab Sepsis Neonatorum terhadap Meropenem di Neonatal Intensive Care Unit
475 Artikel Penelitian Sensitivitas Bakteri Penyebab Sepsis Neonatorum terhadap Meropenem di Neonatal Intensive Care Unit dan Perinatologi RSUP DR M Djamil Padang Padang Tahun 2012 Susan Insani Putri,
BAB 1 PENDAHULUAN. yang resisten terhadap minimal 3 kelas antibiotik. 1 Dari penelitian yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Organisme Multidrug-Resistant (MDR) didefinisikan sebagai organisme yang resisten terhadap minimal 3 kelas antibiotik. 1 Dari penelitian yang dilakukan di Paris, didapatkan
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI AEROB YANG BERPOTENSI MENYEBABKAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI IRINA E RSUP PROF. DR. R. D.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI AEROB YANG BERPOTENSI MENYEBABKAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI IRINA E RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO 1 Beatrix A. Lumentut 2 Olivia A. Waworuntu 2 Heriyannis Homenta 1 Kandidat
BAB 1 PENDAHULUAN. mikroba yang terbukti atau dicurigai (Putri, 2014). Sepsis neonatorum adalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepsis adalah sindroma respons inflamasi sistemik dengan etiologi mikroba yang terbukti atau dicurigai (Putri, 2014). Sepsis neonatorum adalah Systemc Inflammation
BAB 1 PENDAHULUAN. Sepsis adalah terjadinya SIRS ( Systemic Inflamatory Respon Syndrome)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepsis adalah terjadinya SIRS ( Systemic Inflamatory Respon Syndrome) yang disertai dengan adanya infeksi pada organ tertentu berdasarkan hasil biakan positif di tempat
Aplikasi Penelitian Epidemiologis di RS
Aplikasi Penelitian Epidemiologis di RS Deskripsi Sesi Tujuan Sesi Sesi ini membahas tentang penggunaan penelitian epidemiologi pada konteks pelayanan kesehatan di rumahsakit terutama dalam mengukur kejadian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Enterobacter sp. merupakan bakteri gram negatif. berbentuk batang. Enterobacter sp.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enterobacter sp. merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang. Enterobacter sp. ini sering menyebabkan infeksi saluran kemih, berhubungan erat dengan trauma dan
BAB 1 PENDAHULUAN. bermakna (Lutter, 2005). Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan istilah umum untuk berbagai keadaan tumbuh dan berkembangnya bakteri dalam saluran kemih dengan jumlah yang bermakna (Lutter,
Pola Kuman dan Uji Kepekaan Antibiotik pada Pasien Unit Perawatan Intensif Anak di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta
Pola Kuman dan Uji Kepekaan Antibiotik pada Pasien Unit Perawatan Intensif Anak di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Riza Mansyoer, Ivan R. Widjaja Unit Perawatan Intensif Anak RSUD Koja Jakarta Latar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. pelayanan kesehatan umum seperti rumah sakit dan panti jompo. Multidrugs
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Resistensi antibiotik memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan manusia, setidaknya 2 juta orang terinfeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Infeksi nosokomial atau Hospital-Acquired Infection. (HAI) memiliki kontribusi yang besar terhadap tingkat
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Infeksi nosokomial atau Hospital-Acquired Infection (HAI) memiliki kontribusi yang besar terhadap tingkat mortalitas di dunia. Infeksi nosokomial menempati urutan keempat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menurut perkiraan World Health Oraganization (WHO) ada sekitar 5 juta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut perkiraan World Health Oraganization (WHO) ada sekitar 5 juta kematian neonatus setiap tahun, 98% terjadi di negara berkembang. Penyebab paling umum kematian
PENDAHULUAN. kejadian VAP di Indonesia, namun berdasarkan kepustakaan luar negeri
BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ventilator associated pneumonia (VAP) adalah bentuk infeksi nosokomial yang paling sering ditemui di unit perawatan intensif (UPI), khususnya pada
Demam neutropenia adalah apabila suhu
Artikel Asli Etiologi Demam Neutropenia pada Anak dengan Rondinelli Adrieanta, Endang Windiastuti, Setyo Handryastuti Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Ubiversitas Indonesia/Rumah Sakit
I. PENDAHULUAN. kematian di dunia. Salah satu jenis penyakit infeksi adalah infeksi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Salah satu jenis penyakit infeksi adalah infeksi nosokomial. Infeksi ini menyebabkan
UKDW. % dan kelahiran 23% (asfiksia) (WHO, 2013). oleh lembaga kesehatan dunia yaitu WHO serta Centers for Disease
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara global, sepsis masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatorum, yaitu 40 % dari kematian balita di dunia dengan kematian
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang biaknya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang biaknya mikroorganisme yaitu bakteri, virus, jamur, prion dan protozoa ke dalam tubuh sehingga
BAB I PENDAHULUAN. penyebab utama penyakit infeksi (Noer, 2012). dokter, paramedis yaitu perawat, bidan dan petugas lainnya (Noer, 2012).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit merupakan tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk
Profil Mikroorganisme Penyebab Sepsis Neonatorum di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
Artikel Asli Profil Mikroorganisme Penyebab Sepsis Neonatorum di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Anita Juniatiningsih, Asril Aminullah, Agus Firmansyah Departemen
BAB I PENDAHULUAN. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) pada tahun 2013,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, 2,8 juta kematian neonatus terjadi secara global. Penurunan angka mortalitas neonatus menurun
BAB I PENDAHULUAN. satunya bakteri. Untuk menanggulangi penyakit infeksi ini maka digunakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu penyakit yang menyerang manusia yang disebabkan oleh berbagai macam mikroba patogen, salah satunya bakteri. Untuk menanggulangi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan di dunia terkait dengan banyaknya kejadian infeksi bakteri. Sekitar 10-40% anggaran kesehatan di dunia
LAPORAN HASIL PENELITIAN. Oleh : VINISIA
1 LAPORAN HASIL PENELITIAN Profil Kondisi Sterilitas dan Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Bakteri yang Ditemukan pada Peralatan Medis Instalasi Perawatan Intensif RSUP. H. Adam Malik Oleh : VINISIA 060100092
I. PENDAHULUAN. Enterobacteriaceae merupakan kelompok bakteri Gram negatif berbentuk
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enterobacteriaceae merupakan kelompok bakteri Gram negatif berbentuk batang. Habitat alami bakteri ini berada pada sistem usus manusia dan binatang. Enterobacteriaceae
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ISK merupakan keadaan tumbuh dan berkembang biaknya kuman dalam saluran kemih meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuria
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit paru obstruktif kronik atau yang biasa disebut PPOK merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit paru obstruktif kronik atau yang biasa disebut PPOK merupakan salah satu jenis dari penyakit tidak menular yang paling banyak ditemukan di masyarakat dan
IDENTIFIKASI INFEKSI MULTIDRUG-RESISTANT ORGANISMS (MDRO) PADA PASIEN YANG DIRAWAT DI BANGSAL NEONATAL INTENSIVE CARE UNIT (NICU) RUMAH SAKIT
p-issn: 2088-8139 e-issn: 2443-2946 Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi IDENTIFIKASI INFEKSI MULTIDRUG-RESISTANT ORGANISMS (MDRO) PADA PASIEN YANG DIRAWAT DI BANGSAL NEONATAL INTENSIVE CARE UNIT (NICU)
BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih menjadi masalah karena merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada bayi baru lahir. Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bakteremia didefinisikan sebagai keberadaan kuman dalam darah yang dapat berkembang menjadi sepsis. Bakteremia seringkali menandakan penyakit yang mengancam
BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Abses leher dalam adalah terkumpulnya nanah (pus) di dalam ruang potensial yang terletak di antara fasia leher dalam, sebagai akibat penjalaran dari berbagai sumber
Pseudomonas aeruginosa adalah kuman patogen oportunistik yang dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pseudomonas aeruginosa adalah kuman patogen oportunistik yang dapat menyebabkan keadaan yang invasif pada pasien dengan penyakit kritis maupun pasien yang memiliki
BAB 4 METODE PENELITIAN. Divisi Infeksi dan Mikrobiologi Klinik. Penelitian ini dilakukan di PICU dan HCU RS Dr. Kariadi Semarang pada
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Divisi Infeksi dan Mikrobiologi Klinik. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian
Prevalensi Kuman Multi Drug Resistance (MDR) di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari Desember 2012
44 Artikel Penelitian Prevalensi Kuman Multi Drug Resistance (MDR) di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 21 - Desember 212 Novilla Rezka Sjahjadi, Roslaili Rasyid, Erlina
BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFENISI OPERASIONAL. Isolat Pseudomonas aeruginosa
BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFENISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah : Isolat Pseudomonas aeruginosa
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah. kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan penyakit infeksi ini dapat memberikan pengaruh terhadap penggunaan
BAB I PENDAHULUAN. sinus yang disebabkan berbagai macam alergen. Rinitis alergi juga merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rinitis alergi merupakan inflamasi kronis mukosa saluran hidung dan sinus yang disebabkan berbagai macam alergen. Rinitis alergi juga merupakan masalah kesehatan global
I. PENDAHULUAN. penurunan sistem imun (Vahdani, et al., 2012). Infeksi nosokomial dapat terjadi
I. PENDAHULUAN Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri patogen oportunistik penting yang menyebabkan infeksi nosokomial terutama pada pasien yang mengalami penurunan sistem imun (Vahdani, et al., 2012).
Penggunaan antibiotik dengan justifikasi
Artikel Asli Pola Sensitifitas Bakteri dan Penggunaan Antibiotik Sri Sulastri Katarnida, Mulya Rahma Karyanti, Dewi Murniati Oman, Yusticia Katar SMF Anak RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta Latar
BAB I PENDAHULUAN. Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan dan kematian pada anak. 1,2 Watson dan kawan-kawan (dkk) (2003) di Amerika Serikat mendapatkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Resistensi terhadap antimikroba atau. antimicrobial resistance (AMR) adalah fenomena alami
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Resistensi terhadap antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) adalah fenomena alami yang dipercepat oleh penggunaan obat-obatan antibiotik (WHO, 2014). Spesies
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ruang rawat intensif atau Intensive Care Unit (ICU) adalah unit perawatan di rumah sakit yang dilengkapi peralatan khusus dan perawat yang terampil merawat pasien sakit
Pola bakteri aerob yang berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial di ruang neonatal intensive care unit (NICU) RSAD Robert Wolter Mongisidi Manado
Jurnal e-biomedik (ebm), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember 2016 Pola bakteri aerob yang berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial di ruang neonatal intensive care unit (NICU) RSAD Robert Wolter Mongisidi
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Dari kurun waktu tahun 2001-2005 terdapat 2456 isolat bakteri yang dilakukan uji kepekaan terhadap amoksisilin. Bakteri-bakteri gram negatif yang menimbulkan infeksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah utama dalam bidang ilmu kedokteran saat ini terkait erat dengan kejadian-kejadian infeksi. Hal tersebut ditunjukkan oleh banyaknya data-data yang memperlihatkan
I. PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia.
I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Sekitar 53 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2002, sepertiganya disebabkan oleh
POLA RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PENDERITA PNEUMONIA DI RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN PERIODE AGUSTUS 2013 AGUSTUS 2015 SKRIPSI
POLA RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PENDERITA PNEUMONIA DI RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN PERIODE AGUSTUS 2013 AGUSTUS 2015 SKRIPSI Oleh: RATNANINGTYAS SULISTYANINGRUM K100120154 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. bahan partikulat debu dan tetesan cairan, yang semuanya mengandung. rumah sakit yang bisa menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Flora mikroba di udara bersifat sementara dan beragam. Udara bukanlah suatu medium tempat mikroorganisme tumbuh, tetapi merupakan pembawa bahan partikulat debu dan
BAB I PENDAHULUAN. satu penyebab kematian utama di dunia. Berdasarkan. kematian tertinggi di dunia. Menurut WHO 2002,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi adalah invasi dan multiplikasi mikroorganisme atau parasit dalam jaringan tubuh (1). Infeksi tidak hanya menjadi masalah kesehatan bagi Indonesia bahkan di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di daerah tropis seperti Indonesia banyak dijumpai penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman, maka untuk menanggulanginya diperlukan antibiotik. Penggunaan
BAB 1 PENDAHULUAN. jamur, dan parasit (Kemenkes RI, 2012; PDPI, 2014). Sedangkan infeksi yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumonia merupakan penyakit infeksi saluran napas bawah akut pada parenkim paru. Pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit
BAB I PENDAHULUAN. Angka morbiditas dan mortalitas pneumonia di seluruh dunia sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka morbiditas dan mortalitas pneumonia di seluruh dunia sangat tinggi. Pneumonia merupakan penyakit radang akut paru yang disebabkan oleh mikroorganisme yang mengakibatkan
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama. morbiditas dan mortalitas di dunia.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Di samping itu penyakit infeksi juga bertanggung jawab pada penurunan kualitas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Infeksi masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di Indonesia. Infeksi merupakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diare,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diare, infeksi saluran nafas, malaria, tuberkulosis masih menjadi penyebab utama kematian.
BAB 1 PENDAHULUAN. berkontribusi terhadap terjadinya resistensi akibat pemakaian yang irasional
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Antibiotika merupakan obat yang penting digunakan dalam pengobatan infeksi akibat bakteri (NHS, 2012). Setelah digunakan pertama kali tahun 1940an, antibiotika membawa
BAB 1 PENDAHULUAN. saat menghadapi berbagai ancaman bagi kelangsungan hidupnya seperti kesakitan. dan kematian akibat berbagai masalah kesehatan.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berbagai upaya pembangunan di bidang kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi dan anak. Bayi menjadi fokus dalam setiap program kesehatan karena
Perinatologi. I Made Kardana Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Denpasar.
Artikel Asli Perinatologi I Made Kardana Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Denpasar Latar belakang. Penggunaan antibiotik pada sepsis neonatorum seharusnya
BAB I PENDAHULUAN. Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran
BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di SMF Ilmu Kesehatan Anak Sub Bagian Perinatologi dan. Nefrologi RSUP dr.kariadi/fk Undip Semarang.
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dilakukan di SMF Ilmu Kesehatan Anak Sub Bagian Perinatologi dan Nefrologi RSUP dr.kariadi/fk Undip Semarang. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia. 1. merupakan pneumonia yang didapat di masyarakat. 1 Mortalitas pada penderita
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pneumonia merupakan suatu peradangan pada paru yang dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, maupun parasit. Sedangkan peradangan
POLA KEPEKAAN BAKTERI PENYEBAB VENTILATOR-ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP) DI ICU RSUP H. ADAM MALIK PERIODE JULI-DESEMBER Oleh :
POLA KEPEKAAN BAKTERI PENYEBAB VENTILATOR-ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP) DI ICU RSUP H. ADAM MALIK PERIODE JULI-DESEMBER 2014 Oleh : DASTA SENORITA GINTING 120100251 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pre-eklamsia adalah hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan yang biasanya terjadi setelah 20 minggu kehamilan. Pada pre-eklamsia, ditandai dengan hipertensi
BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medik RSUP Dr.Kariadi Semarang
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Divisi Perinatologi RSUP Dr.Kariadi/FK Undip Semarang. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infeksi merupakan peristiwa masuknya mikroorganisme ke suatu bagian di dalam tubuh yang secara normal dalam keadaan steril (Daniela, 2010). Infeksi dapat disebabkan
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
IDENTIFIKASI DAN POLA KEPEKAAN BAKTERI YANG DIISOLASI DARI URIN PASIEN SUSPEK INFEKSI SALURAN KEMIH DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN Oleh : ESTERIDA SIMANJUNTAK 110100141 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA
BAB 1 PENDAHULUAN. infeksi yang didapat pada pasien di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Infeksi merupakan penyebab utama dari kesakitan dan kematian pasien termasuk pada anak. Infeksi melalui aliran darah merupakan penyebab utama infeksi yang
BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan kolonisasi kuman penyebab infeksi dalam urin dan. ureter, kandung kemih dan uretra merupakan organ-organ yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum untuk menggambarkan kolonisasi kuman penyebab infeksi dalam urin dan pada struktur traktus urinarius. (1) Saluran
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi di Indonesia masih termasuk dalam sepuluh penyakit
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit infeksi di Indonesia masih termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak. Peresepan antibiotik di Indonesia yang cukup tinggi dan kurang bijak akan meningkatkan
BAB 1 PENDAHULUAN. Mikroorganisme penyebab penyakit infeksi disebut juga patogen
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang biaknya mikroorganisme yaitu bakteri, virus, jamur, prion dan protozoa ke dalam tubuh sehingga
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pneumonia merupakan penyakit yang banyak membunuh anak usia di bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun 2004, sekitar
POLA KUMAN PENYEBAB INFEKSI SALURAN KEMIH DAN SENSITIVITASNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA DI RSUP H.ADAM MALIK PERIODE JANUARI 2009-DESEMBER 2009.
POLA KUMAN PENYEBAB INFEKSI SALURAN KEMIH DAN SENSITIVITASNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA DI RSUP H.ADAM MALIK PERIODE JANUARI 2009-DESEMBER 2009 Oleh: NG MEE SAN NIM: 070100275 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian yang berjudul Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pada penelitian yang berjudul Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik untuk Pengobatan ISPA pada Balita Rawat Inap di RSUD Kab Bangka Tengah Periode 2015
BAB 3 METODE PENELITIAN
18 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang (Cross Sectional). Pengambilan data secara retrospektif terhadap data sekunder berupa catatan
BAB I PENDAHULUAN. paru. Bila fungsi paru untuk melakukan pembebasan CO 2 atau pengambilan O 2 dari atmosfir
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Ventilator adalah suatu sistem alat bantu hidup yang dirancang untuk menggantikan atau menunjang fungsi pernapasan yang normal. Ventilator dapat juga berfungsi untuk
BAB I PENDAHULUAN. I.1.Latar Belakang. Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif. yang normalnya hidup sebagai flora normal di sistem
1 BAB I PENDAHULUAN I.1.Latar Belakang Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif yang normalnya hidup sebagai flora normal di sistem pencernaan manusia, dan juga bisa menjadi patogen yang menyebabkan
POLA RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PENDERITA PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT X PERIODE AGUSTUS 2013 AGUSTUS 2015
POLA RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PENDERITA PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT X PERIODE AGUSTUS 213 AGUSTUS 215 PUBLIKASI ILMIAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Resistensi bakteri terhadap antimikroba telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia, dengan berbagai dampak yang merugikan sehingga dapat menurunkan mutu pelayanan
BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I yang dipicu oleh alergen tertentu.
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain (Setiabudy, 2009). Penemuan
BAB I. PENDAHULUAN. Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) merupakan bakteri penyebab tersering infeksi
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) merupakan bakteri penyebab tersering infeksi di lingkungan Rumah Sakit. P. aeruginosa merupakan bakteri Gram negatif
BAB 1 PENDAHULUAN. Kateter uretra merupakan alat yang digunakan untuk. keperawatan dengan cara memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kateter uretra merupakan alat yang digunakan untuk tindakan keperawatan dengan cara memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan untuk membantu
Peningkatan Keterampilan Mahasiswa untuk Memberikan Edukasi Mengenai Perawatan Metode Kanguru (PMK) Kontinu di Rumah
Artikel Asli Peningkatan Keterampilan Mahasiswa untuk Memberikan Edukasi Mengenai Perawatan Metode Kanguru (PMK) Kontinu di Rumah Rosalina Dewi Roeslani, Rachman Indra Jaya Departemen Ilmu Kesehatan Anak
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. seseorang selama di rumah sakit (Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi nosokomial dapat diartikan sebagai infeksi yang diperoleh seseorang selama di rumah sakit (Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial merupakan salah satu penyebab utama
I. PENDAHULUAN. atas yang terjadi pada populasi, dengan rata-rata 9.3% pada wanita di atas 65
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di negara-negara berkembang penyakit infeksi masih menempati urutan pertama dari penyebab sakit di masyarakat (Nelwan, 2002). Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi
BAB I PENDAHULUAN. kematian di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sebagai akibatnya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit infeksi masih menempati urutan teratas penyebab kesakitan dan kematian di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sebagai akibatnya terjadi penderitaan
