Persiapan untuk pemeriksaan:

dokumen-dokumen yang mirip
PERSIAPAN UNTUK PEMERIKSAAN:

LAPORAN KARDIOTOKOGRAFI (KTG)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. kehamilan ektopik yang berakhir dengan keadaan ruptur atau abortus. 12 Kehamilan

Dr. Hotma Partogi Pasaribu, Sp.OG. Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas kedokteran USU RSHAM -RSPM

NORMAL DELIVERY LEOPOLD MANUEVER. Dr.Cut Meurah Yeni, SpOG Bagian Obstetri & Ginekologi FK Unsyiah/RSUD-ZA

BAB II TINJAUAN TEORITIS. tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, 2009).

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

1. Pengertian Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh

Perawatan kehamilan & PErsalinan. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengumpulan Data Dasar Secara Lengkap. tahun, dan ini merupakan kehamilan ibu yang pertama.

KEHAMILAN GANDA. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

Persalinan Normal. 60 Langkah. Asuhan Persalinan Kala dua tiga empat. Dikutip dari Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal

60 Langkah Asuhan Persalinan Normal

PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF. Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT MATERNITAS: EKLAMPSIA

ID Soal. Pertanyaan soal Menurut anda KPSW terjadi bila :

PEMERIKSAAN OBSTETRI

PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PERSALINAN NORMAL. Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:

Modul I. Pelatihan Keterampilan Klinik Berdasarkan Kompetensi Tempat :... Tanggal :...

BAB IV PEMBAHASAN. Pada bab ini penulis membahas kesenjangan yang ada di dalam teori dengan

KOMPLIKASI PADA IBU HAMIL, BERSALIN, DAN NIFAS. Ante Partum : keguguran, plasenta previa, solusio Plasenta

STATUS COASS KEBIDANAN DAN KANDUNGAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Asuhan Persalinan Normal (APN)

STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Langkah I : Pengumpulan/penyajian data dasar secara lengkap

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate) dan angka. kematian bayi (Neonatal Mortality Rate). (Syaiffudin, 2002).

Tujuan Asuhan Keperawatan pada ibu hamil adalah sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

KATA PENGANTAR. Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Universitas Muhammadiyah Ponorogo, bermaksud

BAB V PENUTUP. kebidanan ibu hamil pada Ny. G umur 30 tahun G 3 P 2 A 0 UK minggu. dengan letak sungsang, penulis menyimpulkan bahwa :

DAFTAR TILIK KETERAMPILAN PERTOLONGAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN JENAZAH

Insidens dan Patologi Seleksi Penatalaksanaan Intrapartum Persalinan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Perdarahan Antepartum No Revisi 0/0. Batasan. Perdarahan dari jalan lahir pada kehamilan >20 minggu sampai sebelum janin lahir. I.

BAB IV PEMBAHASAN. Pada bab ini berisi pembahasan asuhan kebidanan pada Ny.S di

BAB I PENDAHULUAN. dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada dibagian bawah kavum

Asuhan Keperawatan Abortus Imminens A.PENGERTIAN Abortus Imminens ialah terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Distosia. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

Kompresi Bimanual. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah WaterBirth 2.2 Pengertian WaterBirth

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSAKA

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Universitas Muhammadiyah Ponorogo, bermaksud. Kebidanan pada Masa Hamil sampai Masa Nifas. Asuhan Kebidanan ini

PERDARAHAN ANTEPARTUM

PENILAIAN PERTOLONGAN PERSALINAN NORMAL

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

JOB SHEET. : Asuhan Kebidanan Kehamilan Bobot mata kuliah : Bd : DIII Kebidanan. : Siti Latifah Amd, Keb Pertemuan : 3 /18 Pebruari 2016

Kehamilan Resiko Tinggi. Oleh Dokter Muda Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 2013

PEMERIKSAAN LEOPOLD. Desiyani Nani

BAB I PENDAHULUAN. caesarea yaitu bayi yang dikeluarkan lewat pembedahan perut (Kasdu, 2003)

BAB I PENDAHULUAN. dari kehamilan dengan risiko usia tinggi (Manuaba, 2012: h.38).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Persalinan sectio caesaria adalah proses melahirkan janin melalui insisi pada

JARINGAN NASIONAL PELATIHAN KLINIK KESEHATAN REPRODUKSI PUSAT PELATIHAN KLINIK PRIMER (P2KP) KABUPATEN POLEWALI MANDAR. ( Revisi )

SOP PERTOLONGAN PERSALINAN NORMAL

CHECKLIST UJIAN SKILLS LAB GENITALIA PEREMPUAN. Nama mahasiswa : Penguji : Tanggal : Nilai :

PERSALINAN KALA I. 1. kala 1 persalinan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PELAYANAN KEBIDANAN PERSALINAN NORMAL. No. Dokumen : No. Revisi : Hal.:1/5. Tgl. Terbit :

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Plasenta Previa 2

Deteksi Dini Kehamilan, Komplikasi Dan Penyakit Masa Kehamilan, Persalinan Dan Masa Nifas

BAB II TINJAUAN TEORI. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan

BAB I PENDAHULUAN. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu dan

BAB I PENDAHULUAN. jalan operasi atau sectio caesarea hal ini disebabkan karena ibu memandang

SINOPSIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR DI KAB BOJONEGORO TESIS OLEH INDRAYANTI

MASALAH. Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu. sebelum proses persalinan berlangsung.

PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG. Oleh : Emi Sutrisminah Staf Pengajar Prodi D III Kebidanan FK Unissula Semarang ABSTRAK

Oleh : Dr. HOTMA P. PASARIBU, SpOG

DAFTAR TILIK UJIAN LABORATORIUM KEPERAWATAN MATERNITAS

LAMPIRAN. Lampiran 1

HUBUNGAN PERSALINAN KALA I MEMANJANG DENGAN KESEJAHTERAAN JANIN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Preeklampsia dan Eklampsia

KETERAMPILAN PEMERIKSAAN OBSTETRI

PENGERTIAN Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat kelahiran kurang dari gram (sampai dengan g

Lampiran 1 PERMOHONAN DATA AWAL LTA

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Dr.SARMA LUMBANRAJA, Sp.OG (K) ESDH F M SU

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari

BAB I PENDAHULUAN. meliputi sebagai berikut : bayi terlalu besar, kelainan letak janin, ancaman

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Atonia Uteri. Perdarahan post partum dpt dikendalikan melalui kontraksi & retraksi serat-serat miometrium

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

: LAUREN LITANI NIM : SEMESTER : 1

BAB IV PEMBAHASAN. yang ada di lahan praktek di RSUD Sunan Kalijaga Demak. Dalam pembahasan ini penulis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Berbagai komplikasi yang dialami oleh ibu hamil mungkin saja terjadi

No Identitas Tempat Jam Pemantauan 1 Ny.TS 32th

BAB I PENDAHULUAN. dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu

TEKNOLOGI PEMANTAUAN KESEJAHTERAAN JANIN DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penulisan

PENGKAJIAN PNC. kelami

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. anak. Setiap prosesnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan kondisi

M/ WITA/ P4A0

Transkripsi:

Persiapan untuk pemeriksaan: Rontgen Laparoskopi Cardiotocography (CTG) Non-stress test Contraction stress test Biophysical profile Doppler velocimetry Ultrasonography (USG) Pemeriksaan Diagnostik 2

Radiodiagnostic (Rontgen) merupakan pemeriksaan yang menggunakan Sinar X untuk dapat menampilkan organ tubuh. Pemeriksaan Diagnostik 3

Memotret bagian-bagian dalam tubuh, yang kemudian dijadikan sebagai alat diagnosa untuk dasar pengobatan. Skrining berbagai kelainan yang ada pada organ. Mendeteksi kelainan pada berbagai organ: Dada, jantung, abdomen, ginjal, ureter, kandung kemih, tengkorak dan rangka. Pemeriksaan Diagnostik 4

Lakukan informed consent. Tidak ada pembatasan makanan atau cairan. Pemeriksaan Diagnostik 5

Rontgen jantung: Foto PA dan lateral kiri diindikasikan untuk mengevaluasi ukuran dan bentuk jantung. Perhiasan pada leher harus dilepaskan. Baju diturunkan hingga ke pinggang. Rontgen dada: Foto dengan posisi PA (posterioranterior), posisi AP (anterior-posterior) dan lateral dilakukan dengan posisi berdiri. Baju diturunkan sampai ke pinggang. Baju kertas atau baju kain dapat digunakan. Perhiasan dilepaskan. Anjurkan pasien untuk tarik napas dan menahan napas pada waktu pengambilan foto sinar X. Pemeriksaan Diagnostik 6

Rontgen abdomen: Pelaksanaan foto dilakukan sebelum pemeriksaan IVP. Baju dilepaskan dan digunakan baju kain/ kertas. Pasien tidur telentang dengan tangan menjauh dari tubuh. Pemeriksaan Diagnostik 7

Rontgen tengkorak: Sebelum pelaksanaan foto: penjepit rambut, kaca mata, gigi palsu harus dilepaskan. Rontgen rangka: Bila dicurigai terdapat fraktur. Anjurkan puasa (jika perlu). Imobilisasi pada daerah fraktur. Pemeriksaan Diagnostik 8

Laparoskopi merupakan tindakan bedah yang menggunakan teknik Minimaly invasive surgery (bedah invasif minimal) Menggunakan teleskop/kamera kecil yang dimasukkan kedalam perut dan instrumen bedah dalam bentuk mini. Sering dikenal sebagai istilah awamnya diteropong. Pemeriksaan Diagnostik 9

Mendiagnosis adanya kelainan (Laparoskopi Diagnostik): Diagnosis untuk melihat adanya kelainan pada kasus infertilitas (susah punya anak). Tindakan operasi tertentu (Laparoskopi Operatif): Sterilisasi. Pembebasan perlengketan. Melihat saluran telur (tuba) dan memperbaiki bila ada kelainan. Operasi hamil di luar kandungan. Pengangkatan kista, mioma. Pengangkatan rahim (histerektomi). Operasi radikal pada kanker kandungan. Dll. Pemeriksaan Diagnostik 10

Pasien dirawat minimal 12 jam pra-operasi dengan membawa hasil pemeriksaan laboratorium, rontgen dada, konsultasi ahli jantung dan lainnya sesuai indikasi. Puasa selama 8 jam sebelum tindakan operasi. Kulit bagian pusar dibersihkan dan ditutup dengan kain kassa yang telah dibasahi dengan alkohol. Dilakukan pengosongan usus besar untuk membuang sisa-sisa kotoran (klisma). Diberikan obat pencahar, premedikasi, antibiotik profilaksis. Pemeriksaan Diagnostik 11

Dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil (berdiameter 5-10 milimeter) pada dinding perut pasien. Satu lubang pada pusar digunakan untuk memasukkan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor. Dua lubang yang lain untuk instrumen bedah yang lain. Pemeriksaan Diagnostik 12

Selanjutnya digunakan gas karbondioksida (CO2) untuk mengembangkan rongga perut sehingga mudah melakukan tindakan. Namun ada pula teknik yang melihat langsung tanpa gas dengan mengangkat kulit dinding perut dengan alat khusus (gasless laparoscopy). Teknik anestesi/pembiusan yang digunakan umumnya anestesi umum. Pemeriksaan Diagnostik 13

Cardiotocography (CTG) adalah teknik merekam denyut jantung fetal dan kontraksi uterus selama kehamilan, terutama pada trimester ketiga. Alat yang digunakan disebut: Cardiotocograph / electronic fetal monitor / external fetal monitor (EFM). Pemeriksaan Diagnostik 14

Nonstress test (bila digunakan selama trimester III). Untuk memonitor kesejahteraan fetal Hasil positif (baik) ditunjukkan dengan reactive non-stress test. Hal ini berarti bahwa frekuensi jantung fetal meningkat (akselerasi) sedikitnya 15 x/menit selama sedikitnya 15 detik pada sedikitnya dua kali selama interval 20 menit. Contraction stress test / stress test Digunakan selama persalinan. Biophysical profile. Digunakan ketika nonstress test tidak reaktif (non reactive). Doppler velocimetry. Pemeriksaan Diagnostik 15

Cardiotocography digunakan untuk : Mengidentifikasi tanda dan gejala fetal distress. Memonitor kontraksi uterus. Memonitor keempat gambaran denyut jantung fetal: Baseline heart rate Variabilitas Akselerasi Deselerasi Pemeriksaan Diagnostik 16

Kontraksi uterus waktu antara kontraksi, yang mengurangi kemajuan persalinan. Diukur sebagai angka dari kontraksi yang terdapat dalam 10 menit dan di rata-rata pada 30 menit. Normal jika 5 kontraksi dalam 10 menit; jika > 5 kontraksi dalam 10 menit menunjukkan adanya tachysystole. Baseline heart rate rata-rata baseline denyut jantung fetal (normal 110 160). Variabilitas variabilitas denyut jantung fetal dari baseline per menit (normal 5). Pemeriksaan Diagnostik 17

Akselerasi peningkatan denyut jantung fetal dari baseline pada sedikitnya 15 denyut/menit, berakhir selama sedikitnya 15 detik. Normalnya harus ada, menunjukkan Reactive Tracing. Deselerasi penurunan denyut jantung fetal dari baseline pada sedikitnya 15 denyut/menit, berakhir selama sedikitnya 15 detik. Normalnya minimal. Pemeriksaan Diagnostik 18

Sebaiknya dilakukan 2 jam setelah makan. Waktu pemeriksaan selama 20 menit, Selama pemeriksaan posisi ibu berbaring nyaman dan tak menyakitkan ibu maupun bayi. Bila ditemukan kelainan maka pemantauan dilanjutkan dan dapat segera diberikan pertolongan yang sesuai. Konsultasi langsung dengan dokter kandungan. Pemeriksaan Diagnostik 19

Persetujuan tindak medik (Informed Consent) : Menjelaskan indikasi Cara pemeriksaan Kemungkinan hasil yang akan didapat. Persetujuan tindak medik ini dilakukan oleh dokter penanggung jawab pasien (cukup persetujuan lisan). Kosongkan kandung kencing. Periksa kesadaran dan tanda vital ibu. Ibu tidur terlentang, bila ada tanda-tanda insufisiensi uteroplasenter atau gawat janin, ibu tidur miring ke kiri dan diberi oksigen 4 liter / menit. Lakukan pemeriksaan Leopold untuk menentukan letak, presentasi dan punktum maksimum DJJ. Hitung DJJ selama satu menit; bila ada his, dihitung sebelum dan segera setelah kontraksi berakhir. Pemeriksaan Diagnostik 20

Pasang transduser untuk tokometri di daerah fundus uteri dan DJJ di daerah punktum maksimum. Dikerjakan dengan menggunakan dua transduser. Transduser pertama untuk mengukur kontraksi uterus. Transduser kedua untuk mengukur denyut jantung fetal. Masing-masing transduser diletakkan pada bagian luar atau bagian dalam. Pemeriksaan Diagnostik 21

Bagian luar terdiri dari dua sensor yang direkatkan atau dililitkan pada dinding abdomen. Sensor ultrasonik jantung, mirip Doppler fetal monitor, yang secara kontinyu memancarkan ultrasound dan mendeteksi denyut jantung fetal. Pressure-sensitive contraction transducer, yang disebut tocodynamometer (toco), mengukur tegangan dari dinding abdomen maternal ukuran tidak langsung dari tekanan intrauterine Pemeriksaan Diagnostik 22

Bagian dalam mengukur derajat dilatasi servikal, dengan memasukkan pressure catheter kedalam rongga uterus, serta meletakkan scalp electrode pada kepala fetal untuk mengukur denyutan secara adequat. Transduser bagian dalam mengukur lebih tepat, dan dapat memperkirakan kemungkinan komplikasi dengan lebih baik. Pemeriksaan Diagnostik 23

Setelah transduser terpasang baik, beri tahu ibu bila janin terasa bergerak, pencet bel yang telah disediakan dan hitung berapa gerakan bayi yang dirasakan oleh ibu selama perekaman CTG. Pemeriksaan Diagnostik 24

Hidupkan komputer dan Kardiotokograf. Lama perekaman adalah 30 menit (tergantung keadaan janin dan hasil yang ingin dicapai). Pemeriksaan Diagnostik 25

Lakukan dokumentasi data pada disket komputer (data untuk rumah sakit). Matikan komputer dan mesin kardiotokograf. Bersihkan dan rapikan kembali Beri tahu pada pasien bahwa pemeriksaan telah selesai. Berikan hasil rekaman CTG kepada dokter penanggung jawab atau paramedik membantu membacakan hasil interpretasi komputer secara lengkap kepada dokter. PARAMEDIK (BIDAN) DILARANG MEMBERIKAN INTERPRETASI HASIL CTG KEPADA PASIEN Pemeriksaan Diagnostik 26

Ultrasonography (USG) adalah teknik imaging untuk diagnosis atau evaluasi. Menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound: 2 18 megahertz) untuk memetakan (mapping) gambaran struktur internal tubuh. Pemeriksaan Diagnostik 27

Gelombang ultrasound di transmisikan melalui transduser, yang juga mendeteksi jalur interaksi gelombang suara dengan objek yang dapat dilihat. Pemeriksaan Diagnostik 28

Evaluasi pertumbuhan janin, pada pasien yang telah diketahui menderita insufisiensi uteroplasenter, misalnya: Preeklampsia berat, hipertensi kronik, penyakit ginjal kronik, atau diabetes mellitus berat. Menderita gangguan nutrisi sehingga dicurigai terjadi pertumbuhan janin terhambat, atau makrosomia. Menentukan usia gestasi secara lebih tepat pada kasus yang akan menjalani seksio sesarea berencana, induksi persalinan atau pengakhiran kehamilan secara elektif. Perbedaan bermakna antara besar uterus dengan usia gestasi berdasarkan tanggal hari pertama haid terakhir (HPHT). Pemeriksaan Diagnostik 29

Kecurigaan adanya kehamilan ganda berdasarkan ditemukannya dua DJJ yang berbeda frekuensinya atau tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan usia gestasi, dan atau ada riwayat pemakaian obat-obat pemicu ovulasi. Pengamatan serial pertumbuhan janin pada kehamilan ganda. Perdarahan pervaginam pada kehamilan yang penyebabnya belum diketahui. Pemeriksaan janin pada wanita usia lanjut (diatas 35 tahun) yang hamil. Pemeriksaan Diagnostik 30

Menentukan bagian terendah janin bila pada saat persalinan bagian terendahnya sulit ditentukan atau letak janin masih berubah-ubah pada trimester ketiga akhir. Teraba masa pada daerah pelvik. Kecurigaan adanya mola hidatidosa. Suspek kehamilan ektopik. Membantu tindakan amniosentesis atau biopsi villi koriales. Pengamatan lanjut letak plasenta pada kasus plasenta praevia. Pemeriksaan Diagnostik 31

Menentukan taksiran berat janin dan atau presentasi janin pada kasus ketuban pecah preterm dan atau persalinan preterm. Evaluasi tindakan pengikatan serviks uteri (cervical cerclage). Penilaian profil biofisik janin pada kehamilan diatas 28 minggu. Observasi pada tindakan intrapartum, misalnya versi atau ekstraksi pada janin kedua gemelli, plasenta manual, dll. Pemeriksaan Diagnostik 32

Alat bantu dalam tindakan khusus, misalnya fetoskopi, transfusi intrauterin, tindakan shunting, fertilisasi in vivo, transfer embrio, dan chorionic villi sampling (CVS). Kecurigaan adanya kematian mudigah / janin. Kadar serum alfa feto protein abnormal. Pengamatan lanjut pada kasus yang dicurigai menderita cacat bawaan. Riwayat cacat bawaan pada kehamilan sebelumnya. Pemeriksaan Diagnostik 33

Kecurigaan adanya abnormalitas uterus. Lokalisasi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Pemantauan perkembangan folikel. Kecurigaan adanya hidramnion atau oligohidramnion. Kecurigaan terjadinya solusio plasentae. Alat bantu dalam tindakan versi luar pada presentasi bokong. Pemeriksaan Diagnostik 34

PERSIAPAN PEMERIKSA Cuci tangan sebelum dan setelah kontak langsung dengan pasien, setelah kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, dan setelah melepas sarung tangan Periksa dengan teliti surat pengajuan pemeriksaan USG: Apa indikasinya dan apakah perlu didahulukan karena bersifat darurat gawat, misalnya pasien dengan kecurigaan kehamilan ektopik. Tanyakan apakah ia seorang nyonya atau nona, terutama bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal. Cocokkan identitas pasien, keluhan klinis dan pemeriksaan fisik yang ada. Berikan penjelasan dan ajukan persetujuan terhadap tindakan medik yang akan dilakukan. Mintakan persetujuan tindak medik tertulis, terutama tindakan yang bersifat invasif misalnya amniosintesis. Persiapan untuk Pemeriksaan Diagnostik 35

PERSIAPAN ALAT Hidupkan peralatan USG sesuai dengan tatacara yang dianjurkan oleh pabrik pembuat peralatan tersebut. Perhatikan tegangan listrik pada kamar USG, karena tegangan yang terlalu naikturun akan membuat peralatan elektronik mudah rusak. Bila perlu pasang stabilisator tegangan listrik dan UPS. Setiap kali selesai melakukan pemeriksaan USG, bersihkan semua peralatan dengan hati-hati, terutama pada transduser (penjejak) yang mudah rusak. Bersihkan transduser dengan memakai kain yang lembut dan cuci dengan larutan anti kuman yang tidak merusak transduser. Selanjutnya taruh kembali transduser pada tempatnya, rapikan dan bersihkan kabel-kabelnya, jangan sampai terinjak atau terjepit. Setelah semua rapih, tutuplah mesin USG dengan plastik penutupnya. Persiapan untuk Pemeriksaan Diagnostik 36

PERSIAPAN PASIEN Berikan informasi yang cukup mengenai pemeriksaan USG yang akan dijalaninya. Harapan dari hasil pemeriksaan Cara pemeriksaan (termasuk posisi pasien) Berapa biaya pemeriksaan Sebelum melakukan pemeriksaan USG, pastikan bahwa pasien benar-benar telah mengerti dan memberikan persetujuan untuk dilakukan pemeriksaan USG atas dirinya. Persiapan untuk Pemeriksaan Diagnostik 37

Bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal, tanyakan kembali apakah ia seorang nona atau nyonya? Jelaskan dan perlihatkan tentang pemakaian kondom yang baru pada setiap pemeriksaan (kondom penting untuk mencegah penularan infeksi). Pada pemeriksaan USG transrektal, kondom yang dipasang sebanyak dua buah, hal ini penting untuk mencegah penyebaran infeksi. Terangkan secara benar dan penuh pengertian bahwa USG bukanlah suatu alat yang dapat melihat seluruh tubuh janin atau organ kandungan. Persiapan untuk Pemeriksaan Diagnostik 38

USG TRANSABDOMINAL Setelah pasien tidur terlentang, perut bagian bawah ditampakkan dengan batas bawah setinggi tepi atas rambut pubis, batas atas setinggi sternum, dan batas lateral sampai tepi abdomen. Letakkan kertas tissue besar pada perut bagian bawah dan bagian atas untuk melindungi pakaian wanita tersebut dari jelly yang kita pakai. Persiapan untuk Pemeriksaan Diagnostik 39

Taruh jelly secukupnya pada kulit perut, lakukan pemeriksaan secara sistematis. Pertama-tama gerakkan transduser secara longitudinal ke atas dan ke bawah, selanjutnya horisontal ke kiri dan ke kanan. Transduser digerakkan dari bawah ke atas, dimulai dari garis sisi kanan perut, kemudian setelah sampai daerah perut atas transduser digerakkan ke bawah, selanjutnya transduser digerakkan kembali ke arah atas. Selanjutnya gerakkan transduser kearah lateral perut (horisontal), juga secara sistematis, dimulai dari sisi kanan ke arah kiri, kemudian dari kiri ke arah kanan dan terakhir dari kanan atas ke kiri. Pemeriksaan Diagnostik 40

USG TRANSVAGINAL Sebelum melakukan pemeriksaan, tanyakan apakah ia seorang nona atau nyonya. Bila statusnya masih nona tetapi sudah tidak gadis lagi, dan memang perlu dilakukan pemeriksaan transvaginal, mintakan ijin tertulis dari pasien tersebut dan sebaiknya disertai seorang saksi. Perhatikan apakah tombol pemindah jenis transduser sudah menunjukkan bahwa yang dipakai adalah transduser vaginal Pemeriksaan Diagnostik 41

Minta pasien mengosongkan kandung kemihnya. Posisi pasien dapat lithotomi atau tidur dengan kaki ditekuk dan pada bagian pantat ditaruh bantal agar mudah untuk memasukkan dan memanipulasi posisi transduser. Taruh sedikit jelly pada permukaan transduser. Pasangkan kondom baru pada transduser, kemudian beri jelly secukupnya pada permukaan kondom dan selanjutnya masukkan transduser ke dalam vagina secara perlahan-lahan dan lembut sesuai dengan sumbu vagina. Pemeriksaan Diagnostik 42

Cari uterus sebagai petunjuk, kemudian cari kandung kemih. Uterus akan tampak di garis tengah (median) seperti gambaran buah alpukat yang memanjang dengan endometrium dibagian tengahnya. Bila fundus uteri mendekati kandung kemih, maka uterus tersebut dalam posisi antefleksi, bila menjauhi, maka posisi uterus adalah retrofleksi (lihat gambar). Sangat penting menilai kembali apakah arah gelombang suara sudah sesuai dengan tampilan yang ada dalam layar monitor. Setelah pemeriksaan selesai, lepaskan kondom secara hati-hati dengan memakai sarung tangan tidak sterill atau kertas tissue, kemudian lakukan dekontaminasi kondom tersebut dengan larutan klorin 0,5%. Pemeriksaan Diagnostik 43

Menggunakan x-ray untuk memeriksa payudara terhadap massa atau benjolan yang tidak spesifik. Pada wanita dengan resiko tinggi (riwayat keluarga dengan kanker) dianjurkan melakukan mammography sejak usia dini. Pemeriksaan Diagnostik 44