!"#$%&!'()'*+$()$(&,(#%-".#,/($0&#$,(#&1!2,#3&

dokumen-dokumen yang mirip
MIKROZONASI INDEKS KERENTANAN SEISMIK BERDASARKAN ANALISIS MIKROTREMOR DI KECAMATAN JETIS, KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

KARAKTERISTIK SEISMIK KAWASAN KULONPROGO BAGIAN UTARA (THE SEISMIC CHARACTERISTICS OF NORTHERN PART OF KULONPROGO)

ANALISIS MIKROTREMOR UNTUK MIKROZONASI INDEKS KERENTANAN SEISMIK DI KAWASAN JALUR SESAR SUNGAI OYO YOGYAKARTA

ANALISIS GSS (GROUND SHEAR STRAIN) DENGAN METODE HVSR MENGGUNAKAN DATA MIKROSEISMIK PADA JALUR SESAROPAK

Karakteristik mikrotremor dan analisis seismisitas pada jalur sesar Opak, kabupaten Bantul, Yogyakarta

PEMETAAN TINGKAT RESIKO GEMPABUMI BERDASARKAN DATA MIKROTREMOR DI KOTAMADYA DENPASAR, BALI

), DAN TIME FREQUENCY ANALYSIS

RASIO MODEL Vs30 BERDASARKAN DATA MIKROTREMOR DAN USGS DI KECAMATAN JETIS KABUPATEN BANTUL

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Peta Tektonik Indonesia (Bock, dkk., 2003)

BAB III METODE PENELITIAN. Konsep dasar fenomena amplifikasi gelombang seismik oleh adanya

Unnes Physics Journal

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan

BAB III METODE PENELITIAN. Metode mikrozonasi dengan melakukan polarisasi rasio H/V pertama kali

PEMETAAN PERCEPATAN GETARAN TANAH MAKSIMUM DAN INTENSITAS GEMPABUMI DI KAWASAN JALUR SESAR SUNGAI OYO YOGYAKARTA

ANALISIS NILAI PEAK GROUND ACCELERATION DAN INDEKS KERENTANAN SEISMIK BERDASARKAN DATA MIKROSEISMIK PADA DAERAH RAWAN GEMPABUMI DI KOTA BENGKULU

Analisis Indeks Kerentanan Tanah di Wilayah Kota Padang (Studi Kasus Kecamatan Padang Barat dan Kuranji)

Analisis Peak Ground Acceleration (PGA) dan Intensitas Gempabumi berdasarkan Data Gempabumi Terasa Tahun di Kabupaten Bantul Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Hindia-Australia yang lazim

BAB I PENDAHULUAN. lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik, serta lempeng mikro yakni lempeng

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Sebaran episenter gempa di wilayah Indonesia (Irsyam dkk, 2010). P. Lombok

IV. METODE PENELITIAN. Metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) merupakan metode yang

PEMETAAN PERCEPATAN GETARAN TANAH MAKSIMUM DAN INTENSITAS GEMPABUMI KECAMATAN ARJOSARI PACITAN JAWA TIMUR

OUTLINE PENELITIAN PENDAHULUAN. Tinjauan Pustaka METODOLOGI PEMBAHASAN KESIMPULAN PENUTUP

ANALISIS LITOLOGI BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN GROUND PROFILES

MIKROZONASI PERCEPATAN GETARAN TANAH MAKSIMUM MENGGUNAKAN METODE KANAI (1966) DAN INTENSITAS GEMPABUMI DI KAWASAN JALUR SESAR OPAK

Jurnal Gradien Vol. 11 No. 2 Juli 2015:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan Indonesia termasuk dalam daerah rawan bencana gempabumi

KARAKTERISTIK MIKROTREMOR BERDASARKAN ANALISIS SPEKTRUM, ANALISIS TFA (TIME FREQUENCY ANALYSIS) DAN ANALISIS SEISMISITAS PADA KAWASAN JALUR SESAR OPAK

Unnes Physics Journal

Spatial Analysis of Surface Aquifer Thickness Based Frequency predominant in Bantul District

BAB I PENDAHULUAN. Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008

Analisis Mikrotremor Kawasan Palu Barat Berdasarkan Metode Horizontal To Vertical Spectral Ratio (HVSR) ABSTRAK

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Percepatan Getaran Tanah Maksimum dan Tingkat Kerentanan Seismik Daerah Ratu Agung Kota Bengkulu

Aplikasi Metode HVSR pada Perhitungan Faktor Amplifikasi Tanah di Kota Semarang

STUDI KERENTANAN SEISMIK TANAH TERHADAP FREKUENSI ALAMI BANGUNAN DI KOTA PALU BERDASARKAN ANALISIS DATA MIKROTREMOR

BAB I PENDAHULUAN. utama, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian

Gambar 1. Peta Seismisitas Indonesia (Irsyam et al., 2010 dalam Daryono, 2011))

TUGAS AKHIR (SG ) ANALISA STABILITAS LERENG BERDASARKAN MIKROZONASI DI KECAMATAN BUMI AJI,BATU- MALANG

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

RESEARCH ARTICLE. Randi Adzin Murdiantoro 1*, Sismanto 1 dan Marjiyono 2

III. TEORI DASAR. A. Tinjauan Teori Perambatan Gelombang Seismik. akumulasi stress (tekanan) dan pelepasan strain (regangan). Ketika gempa terjadi,

PENGOLAHAN MIKROTREMOR MENGGUNAKAN METODE HORIZONTAL TO VERTICAL SPECTRAL RATIO (HVSR)

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Data Gempa di Pulau Jawa Bagian Barat. lempeng tektonik, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo Australia, dan

KAJIAN KERAWANAN GEMPABUMI BERBASIS SIG DALAM UPAYA MITIGASI BENCANA STUDI KASUS KABUPATEN DAN KOTA SUKABUMI

Penentuan Pergeseran Tanah Kota Palu Menggunakan Data Mikrotremor. Determination Of Ground Shear Strain In Palu City Using Mikrotremor Data

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB III TEORI DASAR. 3.1 Tinjauan Teori Perambatan Gelombang Seismik. Seismologi adalah ilmu yang mempelajari gempa bumi dan struktur dalam bumi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...

OLEH : REZA AGUS P. HARAHAP ( ) LAILY ENDAH FATMAWATI ( )

IDENTIFIKASI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM (PGA) DAN ERENTANAN TANAH MENGGUNAKAN METODE MIKROTREMOR I JALUR SESAR KENDENG

ANALISIS LITOLOGI LAPISAN SEDIMEN BERDASARKAN METODE HVSR DAN DATA BOR DI KAWASAN JALUR SESAR OPAK

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dimulai pada Bulan April 2015 hingga Mei 2015 dan bertempat di

153 Jurnal Neutrino Vol. 3, No. 2, April 2011

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang subduksi Gempabumi Bengkulu 12 September 2007 magnitud gempa utama 8.5

PEMETAAN KETEBALAN LAPISAN SEDIMEN WILAYAH KLATEN DENGAN ANALISIS DATA MIKROTREMOR

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2 (2017), ( X Print)

BAB III METODE PENELITIAN

Pengembangan Peta Klasifikasi Tanah dan Kedalaman Batuan Dasar untuk Menunjang Pembuatan Peta Mikrozonasi Jakarta Dengan Menggunakan Mikrotremor Array

Zonasi Rawan Bencana Gempa Bumi Kota Malang Berdasarkan Analisis Horizontal Vertical to Spectral Ratio (HVSR)

IDENTIFIKASI JALUR SESAR MINOR GRINDULU BERDASARKAN DATA ANOMALI MEDAN MAGNET

Timur dan kedalaman 48 kilometer. Berdasarkan peta isoseismal yang

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan Sistematika Penulisan...

DAFTAR PUSTAKA. Andreastuti, S.D., Laporan Tanggap Darurat Letusan G. Api, G. Soputan, Sulawesi Utara. Yayasan Media Bhakti Tambang. Bandung.

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Judul Penelitian. I.2. Latar Belakang

ANALISIS SEISMISITAS DAN PERIODE ULANG GEMPA BUMI WILAYAH SULAWESI TENGGARA BERDASARKAN B-VALUE METODE LEAST SQUARE OLEH :

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2, (2017) ISSN : ( Print) C-383

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

STUDI AWAL RESPON DINAMIS BERDASARKAN PENGUKURAN MIKROTREMOR DI BENDUNGAN KARANGKATES MALANG

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat disimpulkan hal sebagai

BAB 1 : PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. lempeng raksasa, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan

BAB I PENDAHULUAN. tembok bangunan maupun atap bangunan merupakan salah satu faktor yang dapat

PENENTUAN PROFIL KETEBALAN SEDIMEN LINTASAN KOTA MAKASSAR DENGAN MIKROTREMOR

Identifikasi Patahan Lokal Menggunakan Metode Mikrotremor

Profiling Kecepatan Gelombang Geser (V s ) Surabaya Berdasarkan Pengolahan Data Mikrotremor

BAB III TINJAUAN LOKASI. 3.1 Tinjauan Umum Kabupaten Kulon Progo sebagai Wilayah Sasaran Proyek

RESUME LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA PELAKSANAAN KEGIATAN APBD DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI PROVINSI BANTEN T.A 2014

PENENTUAN ZONA RAWAN GUNCANGAN BENCANA GEMPA BUMI BERDASARKAN PENGUKURAN MIKROTREMOR DI KABUPATEN PONOROGO SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng

EVALUASI KERENTANAN GEDUNG REKTORAT STTNAS TERHADAP GEMPA BUMI BERDASARKAN ANALISIS MIKROTREMOR

Aplikasi Metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio Pada Perhitungan Frekuensi Natural dan Amplitudo HVSR

BAB 1 PENDAHULUAN. lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Gerakan ketiga

BAB I PENDAHULUAN. yaitu Lempeng Euro-Asia dibagian Utara, Lempeng Indo-Australia. dibagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik dibagian Timur.

ANALISIS PERCEPATAN GETARAN TANAH MAKSIMUM WILAYAH YOGYAKARTA DENGAN METODE ATENUASI PATWARDHAN

PEMETAAN BAHAYA GEMPA BUMI DAN POTENSI TSUNAMI DI BALI BERDASARKAN NILAI SESMISITAS. Bayu Baskara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

ANALISIS PERIODE ULANG DAN AKTIVITAS KEGEMPAAN PADA DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA

Transkripsi:

"#$%&'()'*+$()$(&,(#%-".#,/($0&#$,(#&12,#3&

Diterbitkan oleh : Pusat Pengembangan Instruksional Sains (P2IS) Bekerjasama dengan : Jurusan Pendidikan Fisika F M IPA UN Y dan Himpunan Mahasiswa Fisika UN Y dalam rangka Pekan Ilmiah Fisika (PI F) X V II Alamat: Jl. Colombo, K arangmalang, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 58618, Website: http://www.uny.ac.id Koordinat GPS: S7 46 34.0 E110 23 15.3 ISBN : 978-602-99834-6-3 Edisi : O ktober 2014 Reviewer : Dr. Insih Wilujeng, M.Pd Wipsar Sunu Brams Dwandaru, Ph.D. Editor format : Swaji Caraka Yogiswara Muhammad Ihsanul Fikri Desain Cover : Widi Sulistia Nugraha Penata Letak : Muhammad Ihsanul Fikri Makalah yang terdapat di dalam prosiding ini telah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika dalam rangka Pekan Ilmiah Fisika X V I bekerja sama dengan Jurusan Pendidikan Fisika yang diselenggarakan oleh himpunan Mahasiswa Fisika Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 18 O ktober 2014 bertempat di Ruang Seminar lantai 2 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta

Indeks Kerentanan Seismik Kabupaten Kulon Progo Berdasarkan Data Mikrotremor Desta M ayor Andika Putra 1, Nugroho Budi Wibowo 2, Denny Darmawan 1 1 Prodi Fisika Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Badan Meteorologi K limatologi dan Geofosika Yogyakarta email: mayordesta@gmail.com; darmawan@uny.ac.id Abstrak Telah ditentukan nilai indeks kerentanan seismik (K g) di Kabupaten Kulon Progo berdasarkan data mikrotremor dari 38 titik lokasi pengambilan data. Analisis data mikrotremor menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) untuk mendapatkan frekuensi predominan dan faktor amplifikasi di setiap titik penelitian yang digunakan untuk menentukan nilai indeks kerentanan seismik. Berdasarkan hasil yang diperoleh, indeks kerentanan seismik di Kabupaten Kulon Progo adalah 3,47 10-5 s 2 /cm sampai 117,3 10-5 s 2 /cm dengan nilai terendah berada di kecamatan Kokap dan tertinggi di Kecamatan Wates. Kata kunci: Indeks kerentanan seismik, Horizontal to Vertical Spectral Ratio, mikrotremor, Kulon Progo Abstract Seismic vulnerability index (K g) in Kulon Progo Regency had been determined using microtremor data from 38 sampling locations. The microtremor data were analyzed using Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method to obtain the predominant frequency and amplification factor at the research point. The results of the microtremor analysis were used to determine the seismic vulnerability index (K g). Based on the results, the seismic vulnerability index in Kulon Progo Regency is 3.47 10-5 s 2 /cm to 117.3 10-5 s 2 /cm. The lowest value is in Kokap Subdistrict and the highest value is in Wates Subdistrict. Keywords: Seismic vulnerability index, Horizontal to Vertical Spectral Ratio, microtremor, Kulon Progo. PE ND A H U L U A N Wilayah Indonesia merupakan daerah pertemuan antara tiga lempeng bumi yang sangat aktif bergerak satu terhadap yang lainnya yaitu lempeng Eurasia, Indo- Australia dan Pasifik. Pergerakan setiap lempeng tektonik tersebut sebesar 0-15 cm/tahun. Lempeng Indo-Australia di bagian Selatan relatif bergerak ke Utara dengan kecepatan sekitar 7 cm per tahun, lempeng Eurasia di bagian Utara relatif bergerak ke Selatan dengan kecepatan mencapai 13 cm per tahun, dan lempeng Pasifik di bagian Timur yang relatif bergerak ke Barat dengan kecepatan 10 cm per tahun (ESDM, 2009). Hal tersebut menimbulkan terbentuknya sesar-sesar regional yang menjadi sumber gempabumi di daerah pertemuan antar lempeng. Pulau Jawa termasuk dalam zona subduksi karena merupakan daerah pertemuan antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Pertemuan lempeng tersebut menyebabkan wilayah Pulau Jawa sangat rentan terhadap gempabumi, terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut data dari Pusat Informasi Pengembangan Pemukiman dan Bangunan (PIP2B) Daerah Istimewa Yogyakarta, gempa besar di Yogyakarta terjadi pada tahun 1867, 1937,1943, 1976, 1981, 2001, dan 2006, dengan jumlah korban besar terjadi pada tahun 1867, 1943, dan 2006. Pada tahun 2006 terjadi gempabumi di daerah Bantul yang berdampak rusaknya bangunan-bangunan di kawasan Bantul, Yogyakarta, Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, dan sebagian wilayah Jawa Tengah. Kabupaten Kulon Progo menjadi salah satu daerah yang terkena dampak dari gempabumi tahun 2006 Bantul. Gempabumi tersebut mengakibatkan 2201 korban jiwa dan korban luka-luka, 16.210 bangunan rusak dan hancur, dan kerugian materi sebesar 683 miliar rupiah (BAPPENAS, 2006). Pada tahun 2014 terjadi gempabumi cukup besar dengan magnitude 6,5 skala Richter berpusat di Kebumen yang memberikan dampak di wilayah Kulon Progo. Gempabumi tersebut mengakibatkan puluhan rumah rusak "

dan kerusakan infrastruktur lain di Kulon Progo (ESDM, 2014). Kabupaten Kulon Progo rawan terhadap gempabumi karena menjadi salah satu wilayah yang terkena dampak gempabumi Bantul dan Kebumen, tetapi belum ada penelitian untuk menentukan kerentanan gempa di Kabupaten Kulon Progo. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang indeks kerentanan seismik di Kabupaten Kulon Progo untuk menentukan tingkat kerentanan wilayah tersebut terhadap gempabumi. Indeks kerentanan seismik merupakan indeks yang menggambarkan tingkat kerentanan permukaan tanah saat terjadi gempabumi. Wilayah yang memiliki nilai indeks kerentanan seismik tinggi berarti wilayah tersebut rentan terhadap gempabumi, sebaliknya wilayah yang memiliki nilai indeks kerentanan seismik rendah berarti kerentanan terhadap gempabumi rendah. Indeks kerentanan seismik dapat ditentukan dengan menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) dari data mikrotremor. Metode HVSR ini membandingkan antara rasio spektrum dari sinyal mikrotremor komponen horizontal terhadap komponen vertikalnya. Parameter penting yang dihasilkan dalam metode HVSR adalah frekuensi predominan dan amplifikasi (Nakamura, 1989). Dengan mengetahui nilai frekuensi predominan dan amplifikasi maka dapat dibuat mikrozonasi indeks kerentanan seismik di Kabupaten Kulon Progo. M E T O D E PE N E L I T I A N Pengambilan data dilakukan pada tanggal 24-28 November 2013. Sebelum dimulai penelitian, telah dilakukan survei di lokasi penelitian dan studi literatur. Pengukuran data mikrotremor secara langsung dilakukan di daerah Kabupaten Kulon Progo sebanyak 38 titik penelitian dengan jarak 4 km setiap titik penelitian pada area dengan koordinat geografis 110.069 BT 110.274 BT dan 7.654 LS 7.984 LS untuk mewakili seluruh wilayah Kabupaten Kulon Progo. Pengambilan data mikrotremor di 38 titik lokasi dilakukan selama ±30 menit mengacu pada aturan SESAME European research project (SESAME, 2004). Perangkat keras yang digunakan dalam penelitian ini adalah seismometer tiga komponen tipe TDV-23S, digitizer tipe TDL-303S Digital Portable Seismograph, Global Positioning System (GPS) merek Garmin, laptop, kompas, peta geologi Kabupaten Kulon Progo, dan lembar check list survei mikrotremor. Perangkat lunak yang digunakan adalah software Microsoft Excel, MATLAB R2010a dan Surfer 10. Teknik Analisis Data Data mikrotremor dianalisis menggunakan metode HVSR dengan proses analisis HVSR dilakukan minimal pada 10 window dan data yang diambil antara 20 detik 50 detik. Masing-masing window dari 2 komponen horizontal dan 1 komponen vertikal dianalisis menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT). Setelah itu dilakukan penghalusan data (smoothing) dengan menggunakan persamaan moving average sebanyak 40 poin data. Data yang sudah di-smoothing, dianalisis dengan metode HVSR yang didapat dari akar kuadrat amplitudo spektrum horizontal dibagi dengan spektrum vertikal menghasilkan nilai H/V untuk masing-masing window. Dari analisis HVSR akan diperoleh kurva HVSR yang menunjukkan nilai frekuensi predominan dan faktor amplifikasi. Selanjutnya ditentukan data kecepatan gelombang S dari web USGS sehingga diperoleh nilai pergeseran gelombang di permukaan tanah ( 30). Nilai dapat digunakan untuk menentukan nilai ketebalan lapisan sedimen (H). Nilai ketebalan lapisan sedimen (H) tersebut dapat digunakan untuk menentukan nilai pergeseran gelombang di bawah permukaan tanah. Ketiga nilai data tersebut digunakan untuk menentukan nilai indeks kerentanan seismik. Persamaan yang digunakan untuk menentukan indeks kerentanan seismik adalah (1) Nilai indeks keretanan seismik (Kg) dari semua titik lokasi digunakan sebagai data masukan untuk membuat mikrozonasi indeks kerentanan seismik. H ASI L P E N E L I T I A N D A N PE M B A H ASA N Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah indeks kerentanan seismik dan mikrozonasi indeks kerentanan seismik di Kabupaten Kulon Progo. Nilai indeks kerentanan seismik ini berkaitan dengan tingkat kerentanan wilayah Kabupaten Kulon Progo terhadap risiko bencana gempabumi. Semakin besar nilai indeks kerentanan seismik di wilayah tersebut, maka tingkat kerentanan terhadap gempabumi semakin besar. Hasil nilai indeks kerentanan seismik (K g) ini dipengaruhi oleh frekuensi predominan (f 0), faktor amplifikasi (A) dan kecepatan pergeseran gelombang bawah permukaan tanah (V b). "#

Perbedaan pengaruh dari frekuensi predominan (f 0) suatu wilayah terhadap amplifikasi (A) dan nilai indeks kerentanan seismik (K g) berdasarkan hasil penelitian ditunjukkan pada Gambar 9. Gambar 2. Mikrozonasi faktor amplifikasi (A) di Kabupaten Kulon Progo. Nilai amplifikasi antara 1,5 9 dengan zona warna hitam adalah daerah dengan nilai faktor amplifikasi rendah, sedangkan zona warna putih adalah daerah dengan nilai faktor amplifikasi tinggi. Nilai faktor amplifikasi tertinggi terdapat di titik 2 (Kecamatan Samigaluh) dan terendah terdapat di titik 14 (Kecamatan Girimulyo). Selain faktor amplifikasi, didapatkan juga nilai frekuensi predominan. Dari 38 titik hasil pengukuran dan pengolahan data, nilai frekuensi predominan diperoleh antara 1 Hz 13 Hz. Distribusi nilai frekuensi predominan tersebut berhubungan dengan kondisi geologi dan jenis tanah wilayah tersebut. Mikrozonasi nilai frekuensi predominan ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 1. Pengaruh frekuensi predominan (f 0) dan faktor amplifikasi (A) terhadap indeks kerentanan seismik (Kg) berdasarkan hasil penelitian. Berdasarkan peta kontur indeks kerentanan seismik pada Gambar 1, maka ketika nilai frekuensi predominan (f 0) besar dan faktor amplifikasi besar, indeks kerentanan seismik (K g) akan bernilai besar. Jika frekuensi predominan (f 0) kecil dan faktor amplifikasi (A) besar maka indeks kerentanan seismik (K g) akan bernilai besar, dan sebaliknya jika nilai frekuensi predominan (f 0) besar dan faktor amplifikasi (A) kecil maka indeks kerentanan seismik (K g) akan bernilai kecil. Gambar 3. Mikrozonasi frekuensi predominan (f 0) di Kabupaten Kulon Progo. Dari Gambar 3 dapat diketahui bahwa frekuensi predominan tinggi berada pada zona warna putih dan frekuensi predominan rendah berada pada zona warna hitam. Nilai frekuensi predominan terbesar terdapat di titik 27 (Kecamatan Pengasih) dengan nilai 13,44 Hz. Sedangkan nilai frekuensi predominan terendah terdapat di titik 37 (Kecamatan Galur). Berdasarkan besarnya nilai frekuensi predominan, dapat diketahui perbedaan karakteristik tanah dan kondisi geologi di daerah penelitian. "#

seismik (K g) 3,47 10-5 s 2 /cm 117,3 10-5 s 2 /cm. Dari hasil mikrozonasi nilai indeks kerentanan seimik dapat disimpulkan bahwa daerah di Kabupaten Kulon Progo yang memiliki kerentanan tertinggi terhadap gempabumi adalah di Kecamatan Wates, sedangkan daerah dengan kerentanan terendah terdapat di Kecamatan Kokap. D A F T A R PUST A K A Gambar 3. Mikrozonasi indeks kerentanan seismik (Kg) di Kabupaten Kulon Progo. Hasil mikrozonasi pada Gambar 3 menunjukkan bahwa nilai indeks kerentanan seismik tinggi terdapat pada zona warna putih dan nilai indeks kerentanan seismik rendah terdapat pada zona warna hitam. Nilai indeks kerentanan seismik terbesar terdapat pada titik 32 (Kecamatan Wates) dengan nilai 117,3 10-5 s 2 /cm, sedangkan nilai indeks kerentanan seismik terendah terdapat pada titik 19 (Kecamatan Kokap) dengan nilai 3,47 10-5 s 2 /cm. Berdasarkan hasil yang diperoleh, indeks kerentanan seismik dengan nilai rendah antara 3,47 10-5 s 2 /cm 26,96 10-5 s 2 /cm berada di Kecamatan Kokap, Girimulyo, Nanggulan, dan Sentolo. Indeks kerentanan seismik dengan nilai sedang antara 42,7 10-5 s 2 /cm 64,14 10-5 berada di Kecamatan Samigaluh, Kalibawang, Lendah, Temon, dan Pengasih. Indeks kerentanan seismik dengan nilai tinggi antara 76,21 10-5 s 2 /cm 117,27 10-5 berada di Kecamatan Wates, Galur, dan Panjatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. (2014). Data Bencana Kabupaten Kulon Progo. Kulon Progo: BPBD Kabupaten Kulon Progo. Bappenas. 2006. Penilaian Awal dan Kerusakan Bencana Alam di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Public Disclousure Authorized. ESDM. (2014). Tanggapan Gempa Bumi Kebumen 27 Januari 2014. Diakses dari http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gempabum i-a-tsunami/kejadian-gempabumi-a-tsunami/306- tanggapan-gempa-bumi-kebumen-27-januari- 2014, pada tanggal 11 Mei 2014. ESDM. (2009). Gempa di Indonesia Akibat Interaksi Lempeng Utama Dunia. Diakses dari http://www.esdm.go.id/berita/geologi/42- geologi/2849-gempa-di-indonesia-akibatinteraksi-lempeng-utama-dunia-.html, tanggal 11 Mei 2014. pada SESAME European Research Project. (2004). Guidelines for The Implementation of The H/V Spectral Ratio Technique on Ambient Vibration: Measurements, Processing and Interpretation. Nakamura, Y. 1989. A Method for Dynamic Characteristics Estimation of Subsurface using Microtremor on the Ground Surface. Japan: Quarterly Report of Railway Technical Research Institute (RTRI). K ESI M PU L A N & SA R A N Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan bahwa nilai frekuensi predominan (f 0) di Kabupaten Kulon Progo adalah 0,76 Hz 13,44 Hz sedangkan nilai faktor amplifikasi (A) adalah 1,37 cm 9,13 cm sehingga didapatkan nilai indeks kerentanan "#