TEORI ADHESI SPESIFIK PEREKAT

dokumen-dokumen yang mirip
ANALOGI IKATAN PEREKAT DENGAN SIREKAT

TEORI ADHESI MEKANIKAL PEREKAT

DETERMINASI KETERBASAHAN (WETTABILITY) KAYU

PEREKATAN KAYU HHT 321

SIFAT FISIS KAYU: Berat Jenis dan Kadar Air Pada Beberapa Jenis Kayu

KAJIAN SIFAT FISIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) PADA BERBAGAI BAGIAN DAN POSISI BATANG

IKATAN KIMIA. Tim Dosen Kimia Dasar FTP

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Oleh/By NOOR MIRAD SARI Program Studi Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru ABSTRACT

IKATAN KIMIA ORGANIK dalam bidang ilmu FARMASI

IKATAN KIMIA ORGANIK dalam bidang ilmu FARMASI

ANALISIS INSTRUKSIONAL GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN SATUAN ACARA PENGAJARAN KISI-KISI TES KONTRAK PERKULIAHAN

BAB.8 FISIKA MODERN - P.SINAGA

MODUL 3 IKATAN ANTAR MOLEKUL

Respon Vinir Mahoni Terhadap Perekat TUF Dari Ekstrak Serbuk Gergajian Kayu Merbau (Intsia Sp.)

Universitas Gadjah Mada 1

PENENTUAN AIR DALAM RONGGA SEL KAYU

BAB II DASAR TEORI. 7 Universitas Indonesia

Bab 4. AIR TANAH. Foto : Kurniatun Hairiah

STRUKTUR KIMIA DAN SIFAT FISIKA

TINJAUAN PUSTAKA. Batang kelapa sawit mempunyai sifat yang berbeda antara bagian pangkal

Ikatan Kimia. Linda Windia Sundarti

IKATAN KIMIA DALAM BAHAN

Pengaruh Penambahan Mepoxe Terhadap Sifat Mekanik dan Stabilitas Thermal Epoksi sebagai Bahan Adhesif ASTM A-36

1. Aturan Aufbau. Konfigurasi Elektron. 1s, 2s, 2p, 3s, 3p, 4s, 3d, 4p, 5s, 4d, 5p, 6s, 4f, 5d, 6p, 7s, 5f, 6d, 7p,

BAB - III IKATAN KRISTAL

ORIENTED STRAND BOARD

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

TINJAUAN PUSTAKA Papan Komposit

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Adsorption nomenclature [4].

Bentuk-Bentuk Molekul

BAB 2 DASAR TEORI 2.1 ADSORPSI

ULANGAN HARIAN TERPROGRAM ( UHT )

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR

Standar Kompetensi 1. Memahami struktur atom untuk meramalkan sifat-sifat periodik unsur, struktur molekul, dan sifat-sifat senyawa

Bilamana beberapa fase berada bersama-sama, maka batas di antara fase-fase ini dinamakan antarmuka (interface).

Sifat fisika kimia - Zat Aktif

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK PERCOBAAN H-3 SOL LIOFIL

SMP kelas 7 - FISIKA BAB 2. Klasifikasi BendaLatihan Soal 2.3

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Senyawa Polar dan Non Polar

TINJAUAN PUSTAKA. perabot rumah tangga, rak, lemari, penyekat dinding, laci, lantai dasar, plafon, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Yang akan dibahas: 1. Kristal dan Ikatan pada zat Padat 2. Teori Pita Zat Padat

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik

Gaya Antarmolekul dan Cairan dan Padatan

BAB I Pengantar kromatografi Sejarah dan perkembangan kromatografi Teknik pemisahan yang sebenarnya dapat dikatagorikan teknik kromatografi adalah

Lampiran 8. Dasar Pengembangan Kisi-Kisi Soal Kimia SwC Kelas XI

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cross Laminated Timber (CLT) 1) Definisi 2) Manfaat dan Keunggulan

Komponen Materi. Kimia Dasar 1 Sukisman Purtadi

PENGANTAR ILMU KIMIA FISIK. Subtitle

FLUIDA STATIS. Seekor serangga hinggap di atas permukaan air tanpa basah. Penjepit kertas

SOAL-SOAL LATIHAN BAB II

IKATAN KIMIA Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Susunan Elektron Gas Mulia Ikatan Ion Ikatan Kovalen

PENGARUH PENYUSUNAN DAN JUMLAH LAPISAN VINIR TERHADAP STABILITAS DIMENSI KAYU LAPIS (PLYWOOD)

KELARUTAN ZAT PADAT DALAM CAIRAN

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8.

4 Hasil dan Pembahasan

BAB 3 IKATAN KRISTAL. 3.1 Macam-Macam Ikatan Kristal

DAFTAR PUSTAKA. Blomquist RF Adhesives- an overview in Adhesives Bonding Of Wood and Other structural Materials. Pensylvania State University.

Bab V Ikatan Kimia. B. Struktur Lewis Antar unsur saling berinteraksi dengan menerima dan melepaskan elektron di kulit terluarnya. Gambaran terjadinya

LAPORAN PRATIKUM FISIKA FARMASI PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN

MUCOADHESIVE DRUG DELIVERY SYSTEMS. Prepared By : Adi Yugatama, S.Farm., Apt. Jurusan Farmasi FKIK UNSOED 2012

LATIHAN SOAL IKATAN KIMIA

D. Tinjauan Pustaka. Menurut Farmakope Indonesia (Anonim, 1995) pernyataan kelarutan adalah zat dalam

KAYU LAPIS (PLYWOOD)

LATIHAN SOAL IKATAN KIMIA

SKL 1. Ringkasan Materi

Kimia Organik 1. Pertemuan ke 3 Indah Solihah

~ gaya tarik antar atom yang pemutusan atau pembentukannya dapat menyebabkan terjadinya perubahan kimia.

Laporan Kimia Fisika Penentuan Tegangan Permukaan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyak fenomena-fenomena alam yang kurang kita perhatikan akan

A. KESTABILAN ATOM B. STRUKTUR LEWIS C. IKATAN ION D. IKATAN KOVALEN E. IKATAN KOVALEN POLAR DAN NONPOLAR F. KATAN KOVALEN KOORDINASI G

Jason Mandela's Lab Report

BAB II ZAT DAN WUJUDNYA

Cat adalah istilah umum yang digunakan untuk keluarga produk yang digunakan untuk melindungi dan memberikanwarna pada suatu objek atau permukaan

BENTUK MOLEKUL. Rumus VSEPR AX 2 AX 3 AX 4 AX 3 E AX 3 E 2 AX 5 AX 6 AX 4 E 2

1. Pendahuluan 2. Orbital atom 3. Orbital molekul 4. Ikatan sigma 5. Ikatan pi 6. Orbital hibrida 7. Panjang dan kekuatan ikatan

KONTRAK PERKULIAHAN ANALISIS INSTRUKSIONAL GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN SATUAN ACARA PENGAJARAN KISI-KISI TES

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK PERCOBAAN II SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA OGANIK

Ciri dari fluida adalah 1. Mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah

PENGERINGAN KAYU SECARA UMUM

Aplikasi Graf dalam Struktur Molekul Kimia

Kelarutan & Gejala Distribusi

Bab II Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Teknologi restorasi estetik mengalami perkembangan yang sangat pesat

BAB II DASAR TEORI. Desorp/melepaskan

LEMBARAN SOAL 6. Mata Pelajaran : KIMIA Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : XI IPA ( SEBELAS IPA )

PENGARUH POSISI RADIAL KAYU BAWANG (Dysoxylum sp.), JENIS FILLER DAN DERAJAT KELEMBUTANNYA TERHADAP KETEGUHAN REKAT

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

TITIK LELEH DAN TITIK DIDIH. I. TUJUAN PERCOBAAN : Menentukan titik leleh beberapa zat Menentukan titik didih beberapa zat II.

TINJAUAN PUSTAKA. Bambu Tali. kayu dengan masa panen 3-6 tahun. Bahan berlignoselulosa pada umumnya dapat

PENGGERGAJIAN KAYU. Oleh : Arif Nuryawan, S.Hut, M.Si NIP

KEGUNAAN. Merupakan polimer dari sekitar 21 jenis asam amino melalui ikatan peptida Asam amino : esensial dan non esensial

Bab 1 ZAT PADAT IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL

ANALISIS KADAR GLUKOSA PADA BIOMASSA BONGGOL PISANG MELALUI PAPARAN RADIASI MATAHARI, GELOMBANG MIKRO, DAN HIDROLISIS ASAM

Molekul, Ion dan Senyawa Kimia

Transkripsi:

KARYA TULIS TEORI ADHESI SPESIFIK PEREKAT Disusun Oleh: Tito Sucipto, S.Hut., M.Si. NIP. 19790221 200312 1 001 DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2009

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan keajaiban-nya sehingga dapat menyelesaikan karya tulis mengenai Teori Adhesi Spesifik Perekat. Karya tulis ini berisi tentang gambaran umum mengenai teori adhesi spesifik perekat sebagai dasar memahami perekatan kayu. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat memperkaya khasanah wawasan dan pengetahuan di bidang ilmu dan teknologi kayu. Tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan saran dan masukan yang konstruktif demi menyempurnakan karya tulis. 2009 Medan, Desember Penulis

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI...ii DAFTAR TABEL...iii DAFTAR GAMBAR...iv Adhesi Spesifik...1 Referensi...6

DAFTAR TABEL Halaman 1. Jenis ikatan dan energinya...2

DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Ikatan Van der Waals...3 2. Ikatan kimia...3

TEORI ADHESI SPESIFIK PEREKAT Adhesi Spesifik Specific adhesion theory (teori adhesi spesifik) disebut juga teori adsorpsi, yaitu sebagai keadaan dimana perekat akan menempel ke substrat karena adanya gaya intermolekul dan gaya interatom antara atom dan molekul dari kedua material. Gaya intermolekul dan gaya interatom antara atom dan molekul dapat terjadi pada semua jenis. Ikatan sekunder seperti ikatan van der Waals, ikatan hydrogen dan gaya elektrostatis dapat dikatakan sederajat dengan ikatan ionic, kovalen dan metallic coordination bonds. Dalam perekatan kayu, semua jenis ikatan sekunder (ikatan van der Waals, ikatan hidrogen dan gaya tarik elektrostatis) memegang peranan yang penting (Pizzi, 1994). Specific adhesion (adhesi spesifik) melibatkan interaksi antara permukaan yang datar dan rata dengan perekat. Interaksi yang terjadi bisa berupa ikatan kimia, adsorpsi (pengikatan air dengan substrat yang lain karena perbedaan gaya permukaan) atau hanya pembasahan (wetting). Saat ini specific adhesion theory berkembang menjadi adsorption theory (Packham, 2003). Adsorpsi adalah proses di mana suatu molekul perekat tertarik ke lokasi spesifik pada suatu permukaan solid. Ikatan van der Waals berhubungan dengan interaksi umum antara molekul. Semakin besar polaritas elektris dua molekul, semakin besar juga atraksi molekular antar molekul. Perekat dan substrat molekul barangkali memiliki karakter kimiawi spesifik yang akan meningkatkan adhesi (chemisorbtion) (Blomquist, 1983). Istilah adhesi spesifik timbul dengan menganggap berbagai gaya fisik dan kimia mempengaruhi kekuatan ikatan material. Tujuan penetrasi perekat adalah untuk memperluas permukaan bidang rekat sebagai tempat terjadinya adhesi spesifik. Bidang kontak permukaan molekular meliputi dinding dari semua pori/void (pores). Sebagian besar adhesi disebabkan oleh gaya fisik

intermolekul, yaitu ikatan hidrogen, interaksi dwipolar dan gaya dispersi (gaya London) (Blomquist, 1983). Tabel 1. Jenis ikatan dan energinya Jenis ikatan Ikatan primer (primary bonds) Ionic Covalent Metallic, coordination Iakatan donor-akseptor (donor-acceptor bonds) Bronsted acid-base interaction (i.e. up to a primary ionic bond) Lewis acid-base interaction Ikatan sekunder (secondary bonds) Hydrogen bonds (excluding flourine) Van der Waals bonds Permanent dipole-dipole interaction Dipole-induced dipole interaction Dispersion (london) forces Sumber: Pizzi (1994) Energi ikatan (kj/mol) 600 1100 60 700 110 350 1000 80 1 25 4 20 < 2 0,08 40 Menurut teori adhesi spesifik, faktor utama adhesi adalah gaya tarik molekul (ikatan van der Waals, ikatan hidrogen) antara kayu dan perekat. Pendapat ini didukung oleh pengamatan/observasi, dan juga didasarkan pada kemungkinan menggabungkan material tertentu tanpa menggunakan perekat (seperti lembaran kwarsa). Hal ini bisa lakukan pada material, jika permukaannya benar-benar bersih sampai tingkatan atom. Karena permukaan yang bersih seperti itu pada kenyataannya tidak bisa diproduksi, kekuatan molekular tidak bisa diaktifkan tanpa intervensi dari suatu perekat. Jika suatu lapisan minyak atau air yang tipis diaplikasikan pada bidang datar material untuk direkatkan, cairan ini bertindak sebagai perekat dan akan menghasilkan

ikatan yang kuat sampai mereka diuapkan (evaporasi) atau diserap (absorpsi) (Tsoumis, 1991). Gaya tarik-menarik fisik terdiri atas tiga gaya intermolekul yang memegang peranan penting dalam formasi ikatan antara perekat polymer dengan struktur molekul kayu, yaitu ikatan van der Waals, gaya London dan ikatan hidrogen. Ikatan van der Waals terdiri dari gaya dwikutub (polar), yaitu molekul kutub positif yang mempunyai gaya tarik yang kuat dengan molekul kutub negatif lain. Gaya London merupakan gaya tarik yang lebih lemah dari molekul nonpolar. Ikatan hidrogen adalah suatu gaya dwikutub khusus yang meliputi gaya tarik yang kuat antara atom hidrogen bermuatan positif dengan atom elektronegatif dari molekul lain. Ikatan hidrogen cukup penting dalam ikatan permukaan (interfacial) dari kutub perekat polymer untuk hemisellulosa dan sellulosa yang memiliki banyak gugus hidroksil (Vick, 1999). Gambar 1. Ikatan Van der Waals Gambar 2. Ikatan kimia Sumber: www.specialchem4adhesives.com/resources/adhesionguide/index.aspx?id=theory4

Ikatan kimia kovalen (covalent) terbentuk ketika atom non-logam saling berhubungan dan berbagi elektron untuk membentuk molekul. Contoh sederhana suatu ikatan kovalen adalah penggunaan bersama elektron dengan dua atom hidrogen untuk membentuk unsur hidrogen. Ikatan kovalen adalah ikatan kimia yang paling kuat, yaitu lebih dari sebelas kali kekuatan ikatan hidrogen (Vick, 1999). Mekanisme terjadinya adhesi oleh ikatan hidrogen meliputi ikatan hidrogen antara perekat dan kelompok substrat, seperti halnya ikatan hidrogen pada perekat dengan molekul air atau ikatan hidrogen kimiawi kelompok substrat. Kedua mekanisme tersebut berlaku pada perekatan kayu, bahkan setelah perekat mengeras dan sambungan telah dikondisikan lembab dengan kadar air ±10%. (Pizzi, 1994). Bagaimanapun, substansi yang berperan sebagai perekat harus menghasilkan ikatan yang tahan lama, serta tahan terhadap kondisi lingkungan yang digunakan. Ciri substansi seperti itu adalah harus memiliki nilai kohesi tinggi, mengingat gaya tarik molekul disebabkan oleh polaritas (gaya elektris) antara perekat dengan material yang direkatkan. Kayu bersifat polar (hidroksil bebas dari molekul sellulosa), oleh karena itu substansi yang sesuai sebagai perekat harus bersifat polar. Pembentukan ikatan kimia primer antara kayu dengan perekat dapat terjadi, terutama dengan menggunakan perekat formaldehida (Tsoumis, 1991). Selama dua kayu sirekat digabungkan secara bersama, cairan perekat harus membasahi (wetting) dan tersebar secara merata yang berhubungan dengan kedua permukaan. Molekul perekat harus merata di atas permukaan dan ke dalam permukaan masing-masing yang berhubungan dengan struktur molekul kayu, sehingga gaya tarik intermolekul antara perekat dan kayu menjadi efektif. Permukaan kayu kelihatan seperti halus dan rata/datar, tetapi secara mikroskopik, terdiri atas puncak, lembah dan celah, dilengkapi serabut terlepas dan serat lainnya yang tersebar (Vick, 1999). Marra (1992) menyatakan bahwa perekat akan mengalami lima tahapan dalam membentuk suatu ikatan, yaitu perekat mengalir lateral membentuk

lapisan film (flowing), sebagian perekat beralih dari permukaan terlabur ke permukaan pasangannya (transferring), perekat merembes ke dalam sirekat (penetrating), perekat membasahi kedua permukaan sirekat (wetting) dan perekat mengalami pematangan dan menjadi substansi yang keras (solidifying). Perekat harus memiliki sifat keterbasahan (wettability) yang tinggi dan viskositas yang akan menghasilkan aliran kapiler yang baik untuk menembus struktur kayu, saat pemindahan dan absorpsi udara, air dan zat di permukaan sirekat (Vick, 1999).

Referensi Adhesion Theory. www.specialchem4adhesives.com/resources/adhesionguide/ index.aspx?id=theory4. Blomquist, R.F. 1983. Fundamentals of Adhesion. In: Blomquist, R.F., Christiansen, A.W., Gillespie, R.H. and Myers, G.E. (Eds); Adhesive Bonding of Wood and Other Structural Materials. Forest Product Technology USDA Forest Service and The University of Wisconsin. Chap. 1. Gent, A.N. and R.M. Hamed. 1983. Fundamentals of Adhesion. In: Blomquist, R.F., Christiansen, A.W., Gillespie, R.H. and Myers, G.E. (Eds); Adhesive Bonding of Wood and Other Structural Materials. Forest Product Technology USDA Forest Service and The University of Wisconsin. Chap. 2. Marra, A.A. 1992. Technology of Wood Bonding: Principles in Practise. Van Nostrand Reinhold. New York. Packham, D.E. 2003. A Seventy Year Perspective and Its Current Status. School of Materials Science. University of Bath. UK. Pizzi, A. 1994. Advanced Wood Adhesives Technology. Marcel Dekker, Inc. New York. Tsoumis, G. 1991. Science and Tecnology of Wood; Structure, Properties, Utilization. Van Nostrand Reinhold. New York. Vick, C.B. 1999. Adhesive Bonding of Wood Material. In: Wood Handbook: Wood as an Engineering Material. Forest Product Technology. USDA Forest Service. Wisconsin.