Januari Kepada rekan-rekan yang terhormat,

dokumen-dokumen yang mirip
1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV), merupakan suatu virus yang

Pengertian Anak dan Pentingnya Mendefinisikan Anak Secara Konsisten dalam Sistem Hukum 1 Oleh: Adzkar Ahsinin

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS DAN IMS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Commonwealth Australia selanjutnya disebut sebagai 'Para Pihak';

BAB I PENDAHULUAN. commit to user. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency

Prinsip Dasar Peran Pengacara

1 DESEMBER HARI AIDS SE-DUNIA Stop AIDS: Akses untuk Semua! Mardiya. Kondisi tersebut jauh meningkat dibanding tahun 1994 lalu yang menurut WHO baru

BAB I PENDAHULUAN. Millennium Development Goals (MDGs), sebuah deklarasi global yang telah

Satiti Retno Pudjiati. Departemen Dermatologi dan Venereologi. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

BAB II VISI, MISI DAN LANDASAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA

2015 GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA SISWI KELAS XI TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DI SMA NEGERI 24 BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. Sebaliknya dengan yang negatif remaja dengan mudah terbawa ke hal yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang mengakibatkan

3740 kasus AIDS. Dari jumlah kasus ini proporsi terbesar yaitu 40% kasus dialami oleh golongan usia muda yaitu tahun (Depkes RI 2006).

Persoalan dan strategi penting

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lampiran 1. Lembar Persetujuan Menjadi Informan (Inform Concent)

BAB I PENDAHULUAN. Menurut DR. Nana Mulyana selaku Kepala Bidang Advokasi dan. Kemitraan Kementerian Kesehatan hasil Riset Kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome atau yang lebih dikenal dengan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodefficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang

HUKUMAN MATI NARAPIDANA NARKOBA DAN HAK ASASI MANUSIA Oleh : Nita Ariyulinda *

BAB I PENDAHULUAN. akan mempunyai hampir tiga kali jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS

PROSES PELAYANAN SOSIAL BAGI WARIA MANTAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL DI YAYASAN SRIKANDI SEJATI JAKARTA TIMUR

MODUL PEMBELAJARAN DAN PRAKTIKUM MANAJEMEN HIV AIDS DISUSUN OLEH TIM

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM,

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency

PENGETAHUAN SISWA TENTANG HIV/AIDS SEBELUM DAN SESUDAH PENYULUHAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PENANGGULANGAN HIV/AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

ESTIMASI ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) DI KABUPATEN/KOTA PROVINSI BALI TAHUN 2007

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena seseorang terinfeksi

BAB I PENDAHULUAN. menjadi prioritas dan menjadi isu global yaitu Infeksi HIV/AIDS.

Panduan Wawancara Mendalam dengan CSO/CBO. I. Panduan untuk Peneliti

BAB 1 PENDAHULUAN. Jumlah keseluruhan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau orang

Penjangkauan dalam penggulangan AIDS di kelompok Penasun

Kegiatan Penanggulangan HIV/AIDS Melalui Serosurvey Di Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Sitti Fatimah 1, Hilmiyah 2

BAB I PENDAHULUAN. pada sejarah, United National HIV/AIDS (UNAIDS) & Word Health. diperkirakan sebanyak 1.6 juta orang diseluruh dunia.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan karena

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah perempuan yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dari tahun

BAB 1 : PENDAHULUAN. dibutuhkan oleh manusia. Menurut World Health Organization (WHO) sehat itu

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah HIV-AIDS, mulai dari penularan, dampak dan sampai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

ANGGOTA GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN

Jangan cuma Ragu? Ikut VCT, hidup lebih a p sti

Institute for Criminal Justice Reform

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama sel T CD-4

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG

BAB I PENDAHULUAN. (2004), pelacuran bukan saja masalah kualitas moral, melainkan juga

BAB I PENDAHULUAN. (HIV/AIDS) merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. World Health

Sejarah AusAID di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

KERANGKA ACUAN KLINIK MS DAN VCT PENDAHULUAN

Anti-Suap dan Korupsi (ABC) Prosedur ini tidak boleh diubah tanpa persetujuan dari kantor Penasihat Umum dan Sekretaris Perusahaan Vesuvius plc.

BAB I PENDAHULUAN. sistem imun dan menghancurkannya (Kurniawati, 2007). Acquired

2016, No Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2003 tentang Pengesahan ILO Convention Nomor 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce

BAB I PENDAHULUAN. dan diduga akan berkepanjangan karena masih terdapat faktor-faktor yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV)/ Accuired Immune Deficiency Syndrome (AIDS)

PEMERINTAH KABUPATEN MIMIKA KOMISI PENANGGULANGAN AIDS Jl. KARTINI TIMIKA, PAPUA TELP. (0901) ,

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tubuh manusia dan akan menyerang sel-sel yang bekerja sebagai sistem kekebalan

PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA SEHUBUNGAN DENGAN PERDAGANGAN MANUSIA (ANAK)

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Indonesia tahun , BPS, BAPPENAS, UNFPA, 2005).

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

Lampiran 1. Informed Consent. Penjelasan prosedur

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Napza Suntik, HIV, & Harm Reduction

PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA SEHUBUNGAN DENGAN PERDAGANGAN MANUSIA (ANAK)

BAB I PENDAHULUAN. yang mengakomodasi kesehatan seksual, setiap negara diharuskan untuk

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Masalah

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Kepolisian Nasional Philipina (PNP), selanjutnya disebut sebagal "Para Pihak";

Transkripsi:

Januari 2015 Kepada rekan-rekan yang terhormat, Saya menulis surat ini karena ingin memperkenalkan organisasi Law Enforcement and HIV Network (LEAHN) atau Jaringan Penegak Hukum dan HIV, dan juga untuk memberitahukan tentang prakarsa kami yang terbaru yaitu Surat Pernyataan Dukungan oleh polisi untuk mengurangi bahaya HIV. LEAHN adalah pemrakarsa sekelompok polisi yang masih aktif dan sudah tidak aktif dan juga para penegak hukum, yang bertujuan untuk mendukung badan kepolisian secara global dalam kerjasamanya dengan komunitas yang terancam infeksi HIV, dan dengan lembaga kesehatan dan kesejahteraan yang bekerja dengan mereka dalam upaya mencegah HIV. LEAHN mempunyai sebuah situs web tempat dipasangnya berita, sumbersumber informasi dan bahasan tentang kemitraan kerja dengan komunitaskomunitas itu dan dengan lembaga-lembaga kesehatan dan kesejahteraan. Situs web itu bisa dibaca dalam bahasa Inggris di http://www.leahn.org/ dan dalam bahasa Russia di http://www.leahn.ru/. Kami mengajak Anda untuk melihat-lihat situs web kami dan berbagai sumber informasi yang ada, dan untuk berlangganan supaya Anda bisa mendapatkan berita terbaru dan bisa ikut serta dalam berbagai aktivitas LEAHN. Saya adalah ketua Grup Penasihat Kepolisian Internasional LEAHN. Seperti anggota-anggota grup lainnya, saya adalah seorang perwira senior; sekarang saya sudah pensiun. LEAHN telah mulai mendirikan Country Focal Points (Pusat-pusat di Dalam Negeri), Jaringan Penegak Hukum dan HIV nasional, dan laman web berbagai negara yang ditulis dalam bahasanya masingmasing. Kami berharap nantinya jaringan ini bisa meluas ke seluruh dunia. LEAHN baru-baru ini telah mengeluarkan Surat Pernyataan Dukungan yang ditandatangani oleh Lembaga Penegak Hukum dalam Pengurangan Bahaya dan Kebijakan yang berhubungan dengan Pencegahan HIV; dokumen ini dilampirkan di bawah dan bisa ditemukan di situs web LEAHN. Anda akan segera bisa menandatangani Pernyataan tersebut di situs web LEAHN

(www.eahn.org ). Untuk sementara ini, mohon kirimkan pernyataan yang telah Anda tandatangani lewat email ditujukan kepada Nick crofts, Koordinator LEAHN, di leahn@leahn.org. Pernyataan yang sama dalam bahasa Russia juga bisa ditemukan di situs web bahasa Russia kami (www.leahn.ru), dan Anda bisa menghubungi ko-ordinator LEAHN bahasa Russia kami, Alex Zelitchenko di zelitchenko@yahoo.com. Jika Anda tertarik akan masalah penanggulangan HIV di kalangan komunitas orang pinggiran, dan dalam menjaga komunitas tersebut, mohon kunjungi situs web LEAHN kami dan ikut berlangganan. Jika Anda adalah seorang penegak hukum yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, dan Anda ingin ikut menandatangani Surat Pernyataan Dukungan, mohon lakukan itu lewat situs web kami. Jika ada pertanyaan, komentar, ide atau saran, mohon jangan ragu-ragu menghubungi saya, Nicole atau Alex. Kami adalah Polisi. Kami merasa kerja sama antara Polisi dan Para Penegak Hukum adalah langkah yang penting dalam menanggapi masalah wabah HIV suatu unsur yang sudah terlalu lama diterlantarkan. LEAHN diadakan untuk mendorong upaya kebersamaan tersebut. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih. [Frank s signature] Frank Hansen (Superintendan, Kepolisian NSW, Purnawirawan ) Ketua Grup Penasihat Kepolisian Internasional, LEAHN LEAHN ditempatkan dan didukung oleh Cerntre for Law Enforcement and Public Health in Melbourne, dan Central Asia Drug Action Programme (Program Kerja anti Narkoba Asia Tengah).

The International Police Advisory Group (IPAG) of the Law Enforcement and HIV Network (LEAHN) Grup Penasihat Kepolisian Internasional dari Jaringan Penegak Hukum dan HIV Surat Pernyataan Dukungan oleh Lembaga Penegak Hukum dalam Pengurangan Dampak Buruk dan Kebijakan yang berhubungan dengan Pencegahan HIV Surat Pernyataan Dukungan ini ditandatangani oleh Para Penegak Hukum yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif dalam mendukung kebijakan dan penerapan pertolongan yang efektif untuk membantu komunitas dalam pengontrolan wabah HIV di kalangan orang-orang yang rentan terkena HIV dan juga secara keseluruhan, mengurangi dampak buruk akibat penerapan hukum administrasi dan hukum pidana yang tidak tepat, diskriminasi dan pencemaran nama baik yang dialami oleh orang-orang yang rentan terkena HIV. Peranan lembaga penegak hukum yang berhubungan dengan HIV 1. Dalam sejarahnya, lembaga penegak hukum selalu mempunyai peran penting dalam melindungi dan menjaga kesehatan masyarakat. Belakangan ini, pencegahan wabah HIV adalah tantangan kesehatan umum yang utama di mana penegak hukum mempunyai peran yang sangat penting. Sebagai bagian dari tanggapan, kebijakan dalam pengurangan dampak buruk dan penerapannya adalah sesuatu yang pragmatis dan pendekatan kebijakan yang lengkap dan berdasarkan bukti/fakta telah terbukti berhasil dalam mengurangi penyebaran virus HIV di seluruh dunia (lihat Lampiran Data 3). 2. Pencegahan dan pengurangan kejahatan dan peningkatan keamanan komunitas adalah tujuan yang penting dan hasil positif dari program pengurangan bahaya HIV. Bahkan, ketika terjadi tindakan yang ilegal, lembaga penegak hukum tetap bisa menghasilkan dampak positif yang berarti dalam menciptakan lingkungan di mana penduduk setempat sanggup melindungi diri mereka sendiri dan komunitas mereka dari bahaya, termasuk HIV. 3. Lembaga penegak hukum sebagai mitra utama dalam pelaksanaan program-program ini berada dalam posisi yang baik untuk mempermudah akses layanan pencegahan dan pengobatan HIV. Lembaga penegak hukum (terutama polisi dan layanan penjara atau Lapas) dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam perbaikan kesehatan umum dengan cara mendukung dan berpartisipasi secara aktif dalam program-program ini.

4. Penegak hukum dan bidang kesehatan harus bekerja sama dalam kemitraan untuk membangun dan mendukung pembuatan undang-undang, kebijakan dan penerapan yang memudahkan tujuan bersama pencegahan HIV melalui peningkatan keamanan komunitas dan pengurangan kejahatan. Secara langsung dan melalui pembagian sumber daya yang lebih tepat dalam bidang kesehatan dan penegakan hukum, semua itu akan meningkatkan kemampuan lembaga-lembaga penegak hukum dalam upayanya untuk mencapai tujuan mereka dalam hal pencegahan kejahatan, pengurangan kejahatan dan pengamanan komunitas. Kaidah Dasar Untuk Dukungan Yang bertandatangan di bawah ini percaya bahwa kaidah dasar berikut ini sangatlah penting dalam menjaga komunitas yang rentan terkena HIV: 1. Dukungan untuk intervensi dalam pencegahan HIV di kalangan dan dari orang-orang yang menggunakan narkoba, pekerja seks komersial (PSK), pria yang berhubungan seksual dengan pria lain dan komunitas utama lainnya. 2. Dukungan untuk semua layanan masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi bahaya akibat penggunaan narkoba (misalnya, pencegahan kematian yang disebabkan oleh overdosis). 3. Dukungan untuk pendekatan kebijakan yang mengutamakan kesehatan dan hak-hak manusia terhadap pekerjaan dalam bidang seks, dan semua layanan yang bertujuan untuk mengurangi bahaya yang dialami oleh para pekerja seks komersial (PSK) (misalnya, kekerasan dan penularan penyakit menular seksual) 4. Dukungan untuk penggunaan hukum administratif atau hukum pidana yang tepat yang tidak merugikan program pencegahan HIV dalam komunitas utama. 5. Mempermudah akses untuk pencegahan, pengobatan dan layanan perawatan HIV/narkoba/penyakit menular seksual, termasuk yang disalurkan lewat lembaga rujukan remaja dan orang dewasa. 6. Mengidentifikasikan dan menerapkan cara yang berbeda selain dari penangkapan dan penuntutan dalam kasus-kasus yang sesuai, mengurangi biaya yang ditanggung oleh mereka dan lembaga peradilan pidana, mengurangi tingkat penahanan dan mengalihkan orang-orang yang rentan terkena HIV dari konsekuensi berbahaya lainnya yang tidak diinginkan hasil dari sistem peradilan pidana.

7. Dukungan untuk pelatihan penegakan hukum dan strategi pendidikan yang lengkap, pengembangan kebijakan dan penunjuk atau pengukur kinerja yang realistis untuk memastikan setiap orang bisa mendapatkan akses ke layanan HIV yang penting. Nama: Jabatan/Posisi: Keanggotaan/Lembaga (tidak harus ditulis ): Tanda tangan: Tanggal:

APPENDIX (LAMPIRAN DATA) 1. Pengurangan bahaya Pengurangan bahaya secara garis besarnya mempunyai arti Hukum, kebijakan, program dan penerapan yang tujuan utamanya adalah untuk mengurangi bahaya-bahaya yang merugikan dalam hal kesehatan, sosial dan ekonomi yang dialami oleh orang-orang yang menggunakan narkoba, pekerja seks komersial (PSK), dan komunitas lainnya, keluarga mereka dan lingkungan masyarakat di mana mereka menetap. 2. Komunitas utama Komunitas utama termasuk (tergantung pada letak geografisnya) orang-orang yang menggunakan narkoba dengan suntikan, pekerja seks komersial (PSK) dan langganan mereka, transgender atau waria, pria yang berhubungan seksual dengan pria lain, pencari suaka, lingkungan masyarakat yang terancam pelanggaran HAM dan mereka yang berada atau sudah pernah di penjara. 3. Cara-cara pencegahan HIV yang lengkap dan berdasarkan bukti/fakta a. Paket lengkap pencegahan HIV di kalangan dan dari orang-orang yang menggunakan narkoba dengan suntikan. Sumber-sumber informasi: WHO, UNODC, UNAIDS Panduan Teknis untuk berbagai Negara dalam Menetapkan Target untuk 100 % Akses (atau Akses Universal) dalam hal Pencegahan HIV, Pengobatan dan Perawatan bagi para Pengguna Narkoba dengan Suntikan (World Health Organisation, Jenewa, 2009) b. Pencegahan dan Pengobatan HIV dan Penyakit Menular Seksual (PMS) lainnya di kalangan MSM dan Transgender atau Waria (Rekomendasi untuk pendekatan kebijakan kesehatan umum) (WHO/UNDP/MSMGF/UNAIDS/GIZ) 2011. c. Pencegahan dan pengobatan HIV dan Penyakit Menular Seksual (PMS) lainnya untuk para pekerja seks komersial di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (UNFPA, WHO, UNAIDS, akan diterbitkan 2012). dalam menjaga ketertiban dan kebijakan untuk mengurangi dampak buruk.