Manual Keterampilan Pemeriksaan Apendisitis dan Hernia

dokumen-dokumen yang mirip
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

APPENDICITIS (ICD X : K35.0)

A. Pemeriksaan Fisik

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. H DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN: POST APPENDIKTOMY DI RUANG MELATI I RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

MODUL KEPANITERAAN KLINIK BEDAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

diafragma lembut melalui dinding abdomen yang lemah disekitar 4) Omfalokel : Protrusi visera intra abdominal kedasa korda umbilical

PRESENTASI KASUS HERNIA SKROTALIS

dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Yusuf Hakan Çavusoglu. Acute scrotum : Etiology and Management. Ind J Pediatrics 2005;72(3):201-4

SAKIT PERUT PADA ANAK

BAB I PENDAHULUAN. melalui struktur yang secara normal berisi (Ester, 2001).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Blok Gastroenterohepatologi Manual Keterampilan Prosedur Enema

BAB I KONSEP DASAR. dapat dilewati (Sabiston, 1997: 228). Sedangkan pengertian hernia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Apendisitis akut merupakan radang akut pada apendiks vermiformis, yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : POST OP HERNIA INGUINALIS DI BANGSAL ANGGREK RSUD WONOGIRI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. dengan dokter, hal ini menyebabkan kesulitan mendiagnosis apendisitis anak sehingga 30

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Apendisitis adalah suatu peradangan pada apendiks, suatu organ

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dokter Pembimbing : dr. Evo Elidar Harahap, Sp.Rad dr. Yolanda Maria Sitompul, Sp.Rad

K35-K38 Diseases of Appendix

Anamnesis (History Taking)

PANDUAN MAHASISWA CLINICAL SKILL LAB (CSL) SISTEM GASTROENTEROHEPATOLOGI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. kehamilan ektopik yang berakhir dengan keadaan ruptur atau abortus. 12 Kehamilan

BAB I PENDAHULUAN. dimana pada pria membentuk sebuah kantong tertutup sedangkan pada wanita berhubungan

CHECKLIST KELUHAN UROGENITAL. Nama mahasiswa : Penguji : Tanggal : Nilai :

CHECKLIST UJIAN SKILLS LAB GENITALIA PEREMPUAN. Nama mahasiswa : Penguji : Tanggal : Nilai :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeuretik dinding perut, secara

Bahan Ajar DR.dr. Warsinggih, Sp.B-KBD APPENDISITIS AKUT BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiforis, biasanya

BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

POLA HERNIA INGUINALIS LATERALIS DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE AGUSTUS 2012 JULI 2014

BAB I PENDAHULUAN. 2006). Infeksi bakteri sebagai salah satu pencetus apendisitis dan berbagai hal

BAB 1 PENDAHULUAN. priyanto,2008). Apendisitis merupakan peradangan akibat infeksi pada usus

BAB I PENDAHULUAN. lokal di perut bagian kanan bawah (Anderson, 2002). Apendisitis

Akut Abdomen. Fk unmul

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

HERNIA INGUINOSKROTAL DAN HIDROKEL SKROTALIS

PENUNTUN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN KLINIK SISTEM UROGENITAL

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian. Apendisitis akut adalah penyebab paling sering dari nyeri abdomen akut yang

DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : PRE DAN POST HERNIORAPHY LATERALIS (DEKSTRA) DI RUANG FLAMBOYAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PANDANARANG BOYOLALI

PENUNTUN CSL Keterampilan Interpretasi Foto Thorax

ALAT DAN BAHAN. 2 buah penggaris / mistar. Pulpen. Kapas dan alkohol SKENARIO SESAK NAFAS

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. walaupun pemeriksaan untuk apendisitis semakin canggih namun masih sering terjadi

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu tempat terjadinya inflamasi primer akut. 3. yang akhirnya dapat menyebabkan apendisitis. 1

BAB II TINJAUAN TEORI. penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer, 1999).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

AHMAD SAHRANI ISSA INA JARINI MUHAMMAD WILDANI SRIWATI

1.2. Batasan Masalah Case ini membahas tentang etiologi, patogenesis, diagnosis, dan penatalaksanaan apendisitis.

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

Insidens Dislokasi sendi panggul umumnya ditemukan pada umur di bawah usia 5 tahun. Lebih banyak pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

riwayat personal-sosial

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

BAB I PENDAHULUAN. banyak timbul penyakit yang ditimbulkan salah satu hernia, penyakit ini

REFERAT APPENDICITIS

LAPORAN KASUS BEDAH SEORANG PRIA 34 TAHUN DENGAN TUMOR REGIO COLLI DEXTRA ET SINISTRA DAN TUMOR REGIO THORAX ANTERIOR

REPAIR PERFORASI SEDERHANA (No. ICOPIM: 5-467)

BAB 8 SISTEMA RESPIRATORIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Apendisitis akut merupakan penyebab terbanyak dari suatu akut abdomen.

Anatomi Dasar Panggul : Dibuat Mudah dan Sederhana. Dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K)

Keterampilan Klinis PEMERIKSAAN FISIS SISTIM RESPIRASI

TEKNIK PERAWATAN METODE KANGURU. Tim Penyusun

MANUAL KETERAMPILAN KLINIK KEDOKTERAN KOMUNITAS PENGISIAN REKAM MEDIS

KETERAMPILAN PEMERIKSAAN OBSTETRI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Modul 9. (No. ICOPIM: 5-461)

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. J POST APPENDIKTOMY DI BANGSAL MAWAR RSUD Dr SOEDIRAN MANGUN SUMARSO WONOGIRI

BAB I PENDAHULUAN. sebagai apendisitis, sehingga menjadi kasus gawat darurat bedah pada anak yang paling

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

LAPORAN PENDAHULUAN (Hernia Irreponibilis) Oleh:M. Syaiful Islam, S. Kep.

BAB I PENDAHULUAN. darah tersebut melintas kelipatan paha (Oswari, 2000). penurunan fungsi organ (Oswari, 2000).

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Appendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BUKU PANDUAN PESERTA CSL 2 ANAMNESIS KARDIOVASKULAR

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SISTEM UROGENITALIA PENUNTUN PEMBELAJARAN TEHNIK PEMERIKSAAN PROSTAT DENGAN COLOK DUBUR

Modul 5. (No. ICOPIM: 5-530)

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis paling sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda. Insidens

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Apendisitis akut adalah peradangan/inflamasi dari apendiks vermiformis

BAB II KONSEP DASAR. pada sekum tepat dibawah katup ileocecal (Smeltzer, 2001). Apendisitis

APPENDICITIS AKUT (ICD 10: K35.9)

BAB I PENDAHULUAN. sampai 6 gram. Ovarium terletak dalam kavum peritonei. Kedua ovarium melekat

Morfologi dan Anatomi Dasar Kelinci

BUKU ACUAN PESERTA CSL 2 PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH DAN TEKANAN VENA JUGULAR

PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN PADA LEHER ( ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan

Transkripsi:

Manual Keterampilan Pemeriksaan Apendisitis dan Hernia I. Pendahuluan Manual ini merupakan panduan pelatihan keterampilan klinis pemeriksaan apendisitis dan Hernia bagi Instruktur dan Mahasiswa kalangan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Manual ini terbagi atas 2 bagian, bagian pertama membahas tentang pemeriksaan apendisitis dan bagian kedua tentang pemeriksaan hernia. Manual ini disajikan pada Blok Pelatihan Ketarampilan Klinik 3 (semester 4) bersamaan dengan berjalannya Blok Gastroenterohepatologi (GEH) sebanyak 1 pertemuan yang merupakan salah satu dari 12 keterampilan yang dilatihkan terkait system GEH. Kompetensi: Petunjuk Bagi Mahasiswa: Dalam mengikuti pelatihan keterampilan ini, mahasiswa diwajibkan untuk: 1. Membaca manual sebelumnya 2. Mempelajari teori terkait appendicitis dan hernia, antara lain: a. Anatomi terkait b. Patofisiologi timbulnya appendicitis dan hernia c. Manifestasi klinis yang tampak d. Cara mendiagnosis 3. Membawa serta manual dalam sesi pelatihan Di dalam pelatihan ini mahasiswa akan didampingi oleh satu orang instruktur, yang akan memberikan penjelasan dan mendemonstrasikan keterampilan pemeriksaan apendisitis dan hernia. Mahasiswa kemudian akan melakukan keterampilan tersebut satu per satu dengan diamati oleh instruktur dan teman sekelompok yang selanjutnya akan memberikan umpan balik. Setiap mahasiswa diharapkan melakukan keterampilan ini minimal satu kali, dan memberikan umpan balik bagi mahasiswa lain yang mendemonstrasikan.

Tujuan Setelah melakukan pelatihan keterampilan ini mahasiswa diharapkan mampu melakukan: 1. Informed consent terkait pemeriksaan App dan Hernia 2. Pemeriksaan App: a. McBurney Sign b. Blumberg sign c. Rovsing sign d. Psoas sign e. Obturator sign 3. Pemeriksaan hernia dengan benar 4. Penegakan diagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan Alat dan Bahan 1. Manekin satu badan 2. Handscoen

Bagian I: Pemeriksaan Apendisitis Dasar Teori Appendix berasal dari midgut bersama ileum dan colon ascendens. Appendix awalnya berasal dari caecum, tapi basis appendix secara bertahap berotasi kea rah medial menuju valvula ileocaecalis. Selama proses perkembangan, usus menjalani serangkaian rotasi dengan ujung caecum akan selalu berakhir pada kuadran kanan bawah abdomen, dan lokasi akhir appendix ditentukan oleh lokasi caecum. Appendix umumnya terletak retrocaecal tapi dalam cavum peritoneum, tapi juga dapat terletak retroperitoneal atau pelvic. Ujung appendix juga dapat ditemukan preileal atau post ileal. Posisi appendix dapat memberikan pengaruh terhadap manifestasi klinis appendicitis. Patofisiologi Fungsi appendix masih belum diketahui tapi tampaknya berhubungan dengan proses imunologi. Penyebab utama appendicitis akut adalah obstruksi lumen yang dapat disebabkan oleh fecalith, benda asing, tumor, atau parasit namun juga dapat disebabkan oleh hyperplasia folikel limfoid, iskemia mukosa, dan infeksi. Appendicitis akut dapar berlangsung 12-24 jam kemudian dapat mengakibatkan gangrene dan perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan peritonitis atau abses hepar.. Diagnosis 1. Manifestasi klinis Appendisitis awalnya ditandai dengan keluhan nyeri di bagian epigastrium, yang berpindah ke umbilicus, yang tidak berkurang setelah defekasi atau flatus, kemudian berpindah ke perut kanan bawah setelah 4 6 jam. Nyeri bertambah

jika batuk atau memfleksikan tungkai bawah kanan. Dapat disertai dengan keluhan mual, muntah, dan diare. 2. Pemeriksaan fisis a. Demam dan takikardi b. Nyeri perut kanan bawah c. Pemeriksaan khusus: i. McBurney ii. Blumberg sign iii. Psoas sign iv. Obturator sign v. Pemeriksaan rectum (CSL tersendiri) vi. Pemeriksaan pelvis pada wanita: untuk menyingkirkan penyebab nyeri akibat organ reproduksi 3. Pemeriksaan laboratorium a. Darah rutin: leukositosis, peningkatan presentasi neutrofil, shift to the left b. Urinalisis biasanya normal, dapat membedakan dengan penyebab nyeri akibat gangguan saluran kemih c. Pemeriksaan serum βhcg pada wanita, untuk menyingkirkan kemungkinan Kehamilan Ektopik Terganggu 4. Pemeriksaan radiologi Foto polos abdomen tidak menjadi rekomendasi pemeriksaan rutin. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) merupakan salah satu penunjang diagnosis appendicitis. Penegakan diagnosis appendicitis akut utamanya dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis, dengan tambahan informasi pemeriksaan laboratorium dan radiologi, untuk membedakannya dengan diagnosis banding lainnya: a. Gangguan Gastrointestinal: Gastroenteritis Meckel s diverticulitis Ulkus peptic Diverticulitis Cholecystitis b. Gangguan Urogenital: Pyelonephritis Kolik ureteral c. Gangguan ginekologi: Penyakit radang panggul Kehamilan ektopik Kista ovarium Torsio ovarium

PENUNTUN PEMBELAJARAN PEMERIKSAAN APPENDISITIS Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan : langkah-langkah tidak dilakukan dengan benar atau tidak sesuai dengan urutannya 2. Mampu : langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan urutannya tapi tidak efisien 3. Mahir : langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan urutannya dan efisien TS : Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan NO LANGKAH KLINIK NILAI Persiapan Pasien Menjelaskan jenis pemeriksaan: pemeriksaan appendicitis Menjelaskan alasan pemeriksaan: kecurigaan adanya app dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis umum, untuk menegakkan diagnosis untuk penentuan langkah selajutnya Menjelaskan langkah-langkah pemeriksaan: Pasien akan berbaring, membuka pakaian bagian perut McBurney: menekan perut bagian kanan, Psoas sign: Obturator sign: Menjamin kerahasiaan pemeriksaan Meminta persetujuan pasien McBurney Sign Meminta pasien berbaring dan membuka pakaian bagian abdomen Menghangatkan suhu telapak tangan Memberikan penekanan dengan ujung jari II, III, IV, dan V secara perlahan-lahan pada titik Mcburney sambil melihat ekspresi pasien dan meminta pasien memebri tahu jika terasa nyeri. HATI-HATI: lakukan dengan sangat hati-hati, jika positif app pasien akan merasa sangat nyeri

Positif: Pasien merasakan nyeri pada region kana bawah abdomen Blumberg sign Melakukan penekanan secara perlahan-lahan dengan menggunakan jari II, III, IV, dan V pada kuadran kiri bawah abdomen, kemudian menarik jari secara tibatiba, sambil melihat ekspresi pasien dan meminta pasien memberi tahu jika terasa nyeri Positif: Pasien merasakan nyeri pada region kanan bawah abdomen Psoas sign Meminta pasien berbaring ke sebelah kiri Melakukan Ekstensi tungkai bawah kanan pasien sambil melihat ekspresi pasien dan meminta pasien member tahu jika terasa nyeri Positif: Pasien merasakan nyeri pada region kana bawah abdomen Obturator sign Meminta pasien berbaring pada posisi supine (telentang) Melakukan memfleksikan paha kanan sambil melakukan rotasi dan melihat ekspresi pasien dan meminta pasien member tahu jika terasa nyeri Positif: Pasien merasakan nyeri pada region kana bawah abdomen

Bagian 2: PEMERIKSAAN HERNIA Dasar Teori Anatomi dinding abdomen dan daerah inguinal Dinding abdomen terdiri atas kulit, fascia subcutaneous, dan fascia Scarpa yang melapisi otot. Dari superficial ke profunda, lapisan dinding otot abdomen terdiri atas musculus oblique externus abdominis, musculus oblique internus abdominis, dan musculus transverses abdominis. Di bagian medial terdapat musculus rectus abdominis dextra dan sinistra bertemu membentuk linea alba. Musculus transverses abdominis berakhir pada linea semilunaris dan berlanjut menjadi fascia transversalis. Fascia transversalis memanjang ke bawah hinggah inguinal. Bagian terdalam dinding abdomen yaitu peritoneum selanjutnya menutumi semua visceral abdominalis. Pad embrio laki-laki, peritoneum dapat memproyeksikan kantung melalui processus vaginalis pada bagian dalam cincin ingunal. Cincin ingunal eksterna merupakan lubang berbentuk oval pada aponeurosis oblique externa, di lateral tuberculum pubicum. Cincin inguinal interna merupakan lubang pada fascia transversalis sekitar 1 inci di atas titik midinguinalis, pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan tuberculum pubicum. Ruang oblique yng meluas dari superior dan lateral cincin interna hingga medial dan inferior cincin externa membentuk canalis ingunalis. Chorda spermatica pada laki-laki dan round ligament pada wanita melewati canalis ini yang dibatasi di bagian anterior oleh aponeurosis oblique externa, superior oleh aponeurosis oblique interna dan transverses abdominis, dan inferior oleh ligamentum inguinale dan ligamentum lacuna. Fascia transversalis membentuk lantai (dinding posterior) dari canalis inguinalis. Cincin femoral dibentuk di bagian anterior oleh ligamentum inginale, lateral oleh vena femoralis, posterior oleh fascia pectinea, dan medial oleh ligamentum lacunar (Gimbernat s Ligament). Terdapat 3 jenis hernia yang umum ditemukan: Hernia inguinalis indirek, hernia inguinalis direk, dan hernia femoralis. Hernia inguinalis indirek berhubungan dengan kantung peritoneum yang masuk melalui cincin internal ke dalam canalis inguinalis dan terletak anteromedial dari chorda spermatica atau round ligament. Kantung tersebut beserta isinya (omentum, usus halus, dll) dapat masuk hingga mencapai scrotum (heria scrotalis).

Hernia direk inguinalis terjadi jika kantung memasuki trigonum Hesselbach akibat lemahnya dinding posterior canalis inguinalis. Hernia femoralis terjadi ketika bagian peritoneum memasuki cincin femoralis. Kantung tersebut biasanya kecil dan memiliki leher yang sempit yang memungkinkan omentum atau sebagian dari dinding usus halus berherniasi. Pasien biasanya dating dengan keluhan benjolan pada daerah inguinal, femoral, atau scrotal, yang hilang timbul, utamanya muncul jika buang air besar, batuk, atau setelah bangun dan berktivitas, dan menghilang jika berbaring atau dimasukkan sendiri.

PENUNTUN PEMBELAJARAN PEMERIKSAAN HERNIA Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan : langkah-langkah tidak dilakukan dengan benar atau tidak sesuai dengan urutannya 2. Mampu : langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan urutannya tapi tidak efisien 3. Mahir : langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan urutannya dan efisien TS : Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan NO LANGKAH KLINIK NILAI Persiapan Pasien Persiapan Menjelaskan jenis pemeriksaan: pemeriksaan hernia Menjelaskan alasan pemeriksaan: kecurigaan adanya hernia dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis umum, untuk menegakkan diagnosis untuk penentuan langkah selajutnya Menjelaskan langkah-langkah pemeriksaan: Pasien akan berdiri dan berbaring, membuka pakaian dan celana dalam (jelaskan dengan hati-hati) pastikan bahwa pemeriksaan ini aman, dan menjadi rahasia antara dokter pasien, dan menanyakan agar ada anggota keluarga yang dapat menemani. Jika perlu memanggil perawat untuk mendampingi dokter. Meminta persetujuan pasien, jika pasien menolak, minta pasien menandatangani lembar penolakan tindakan. Mencuci tangan Memakai handscoen Pemeriksaan Inspeksi Meminta pasien berdiri Menginspeksi daerah inguinal, femoral, mencari adanya tanda-tanda benjolan. Jika benjolan tidak tampak, meminta pasien melakukan maneuver valsalva, dengan meminta pesien meniup tetapi menutup mulut dan hidungnya,

sambil mengamati apakah muncul benjolan pada daerah inguinal dan femoral atau tidak. Jika benjolan tampak, minta pasien untuk mendorng kembali benjolan itu dan lihat apakah benjolan dapat dimasukkan atau tidak. Jika tidak dapat dimasukkan, minta pasien berbaring, dan ulangi kembali. Interpretasi: Jika tampak benjolan yang bergerak dari lateral ke medial di dalam canalis inguinalis: Hernia inguinalis indirek Jika tampak benjolan dari profunda ke superficial melalui lantai inguinal: Hernia inguinalis direk Jika tampak benjolan di bawah ligamentum inguinal: hernia femoralis Jika tampak benjolan pada scrotum: Hernia scrotalis Pemeriksaan palpasi Meminta pasien berbaring, meletakkan jari kedua pada canalis inguinalis dan minta pasien untuk mengedan atau batuk. Positif hernia indirek inguinalis jika terasa massa lunak yang menyentuh jari. KASUS EMERGENCY: HERNIA INKARSERATA: Jika terdapat nyeri dan benjolan yang menetap, disertai demam, mual, muntah, takikardi, dan distensi abdomen: segera rujuk/ konsultasi untuk bedah emergency REFERENSI Lowry SF (2005). Learning Surgery. Springer, USA. Debas HT (2004). Gastrointestinal Surgery: Patophysiology and Management. Springer: New York. Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, and Mattor KL (2004). Sabiston Textbook of Surgery. Elsevier Saunders: Philadelphia. Wilson SE (2006). Current Clinical Strategy : Surgery. University of California: Irvine.